Archive for the 'Skena Lokal' Category

08
Jan
17

Ulasan Album: Scaller – Senses

scaller-album-cover-jpeg_orig

 

Scaller

Senses

Swarilis – 2017

 

01 Januari 2017, semua hingar bingar pergantian tahun sudah berlalu. Bersamanya terkubur juga segala kegaduhan dalam kehidupan kita di tahun yang telah silam. Bertepatan dengan datangnya fajar, terhantarkan sebersit harapan akan waktu-waktu yang masih akan dijalani di tahun yang masih perawan ini. Salah satu bentuk harapan baru itu datang dalam bentuk debut album Scaller, Senses.

 

Siapapun yang pernah menyaksikan penampilan Scaller secara langsung, akan tanpa ragu sepakat bahwa duo yang terdiri dari Stella Gareth & Reney Karamoy ini adalah sebuah band yang masuk dalam kategori muda dan berbahaya. Setiap gig mereka bagaikan erupsi-erupsi yang tidak dapat dihindarkan memompa adrenalin mereka yang menyaksikannya. Penampilan mereka ketat, penuh konsentrasi dan terasa seperti pompaan tenaga yang datang dari batang energi yang diasupkan ke badan di pagi hari. Sewaktu secara mengejutkan tanpa basa-basi mereka merilis debut album mereka pada hari pertama di tahun ini, tentu saja pertanyaan itu tidak dapat dielakkan, yaitu apakah debut album ini bisa mewakili bola api yang mereka pancarkan pada penampilan mereka?

 

Jawabannya terdapat dalam 9 lagu yang diproduksi nyaris sempurna oleh Scaller di debut album perdana itu. Mereka tidak sungkan menunjukkan bahwa memang mereka adalah masa depan, dan mengirimkan pesan bahwa 01 Januari 2017 menjadi istimewa bukan hanya itu adalah awal tahun yang baru, tetapi bahwa pada tanggal tersebut Scaller menancapkan tapal batunya dalam sejarah musik negeri ini.

 

Album itu diawali dengan alunan melotron yang dibayangi oleh suara vokal Stella yang setengah mendesah, setengah menyanyikan lirik The Alarms, sebagai lagu pertama album itu; “Always around me and you, that’s enough and in all the endless nights the collide”, seakan ini adalah sebuah kidung yang memulai keagungan versi Scaller. Tapi keheningan tersebut berakhir di lagu pertama itu. Perlahan, tempo dan suasana Senses menanjak dimulai dengan Flair, yang diawali oleh perpaduan petikan gitar akustik dan efek beruntun yang terdengar angular namun mengecoh dengan serangan efek gitar Reney menjelang akhir lagu.

 

Kekuatan vokal Stella yang kadang mengalun merdu membius, di lain waktu bertenaga seperti hendak merobek jiwanya sendiri dan kita sebagai pendengarnya serta keahlian Reney memainkan segala macam efek gitar sebagai peralatan tempurnya menjadi ciri khas dari Scaller sepanjang album ini. Selain itu mereka juga punya banyak kejutan lainnya, seperti alur lagu yang tiba-tiba berubah dari suara rock alternatif khas 90-an menjadi rentetan gitar yang menjadi ciri khas band asal Inggris Foals di lagu ketiga Move In Silence. Atau suara alat musik sentuh yang dimainkan Stella di awal lagu Senses yang pelan merasuk pikiran sebelum ia menaikkan doanya dalam lantunan nyanyian “I haven’t been alive enough when we gaze into the stars, do you sense the Divine? Everything is right” dibarengi serangan gitar Reney yang menghantarkan kita ke nirvana baru musik alternatif tanah air.

 

Memasuki paruh kedua album itu, Scaller menambahkan bahan bakar yang membakar adrenalin Senses dengan lagu seperti Three Thirty yang bertempo lebih cepat bagaikan sebuah jet yang sedang mengincar sasarannya. Sedangkan dalam A Song dan The Youth, Stella bernyanyi seperti hendak merobek jiwanya untuk menenangkan suara generasinya. Di lagu berikutnya, Upheaval yang merupakan sebuah nomor instrumental, giliran Reney yang mengambil alih Senses. Dengan permainan efek gitar yang saling bersahut-sahutan, Reney seperti sosok seorang master Jedi yang sedang bertarung dengan Sith lord memperebutkan supremasi dalam dirinya sendiri, sedangkan mereka yang melihat pertarungan itu, berdansa menikmati keindahannya.

 

Senses ditutup dengan Dawn Is Coming. Kita yang mendengarkan album ini memejamkan mata sekali lagi sementara mentari mulai memunculkan wajahnya diufuk sana diiringi oleh kelugasan lantunan suara Stella dan tajamnya efek gitar Reney yang memancarkan optimisme. Turut bersamanya adalah sebuah harapan baru bahwa Scaller adalah sebuah masa depan, dan harapan itu tidak mengecewakan melainkan bersinar dengan terangnya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

 

26
Des
16

Favorit 2016

photogrid_1482687460277

 

 

Kebahagiaan musikalis saya tahun ini berawal di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016, ketika saya menyaksikan megahnya Efek Rumah Kaca mengantarkan lagu-lagunya pada Konser Sinestesia. 3 bulan setelahnya di penghujung April, saya menjadi saksi di mana lapangan parkir Senayan diubah menjadi lantai dansa psikedelik masal oleh Tame Impala dalam kunjungannya ke Jakarta.

 

Di paruh kedua tahun ini, tanah air dibanjiri dengan banyak pertunjukkan musik, tak luput juga perhelatan festival. Saya beruntung dapat datang di 2 kesempatan yaitu Soundrenaline Festival di GWK, Bali dan Synchronize Festival di Kemayoran (Dengan menyaksikan Rhoma Irama sebagai salah satu momen paling berkesan yang saya rasakan tahun ini). Satu hal yang saya simpulkan dari mendatangi 2 festival itu adalah betapa kayanya negeri ini akan band/artis berkualitas, dan di tengah-tengah segala pertanyaan akan apa artinya menjadi Indonesia, musik yang dibawakan dari band-band tanah air itu yang membuat saya bangga menjadi warga negara Nusantara dan merasakan bersyukurnya menjadi bagian dari nasion yang sangat kaya dan beragam ini. Di dua festival itu, musik mempersatukan keragaman penonton tanpa memandang latar belakangnya, dan kita semua bisa merasakannya dalam atmosfir penuh kebahagiaan.

 

Dalam format trek dan album, tahun ini kembali dipenuhi dengan segala hingar bingar yang membuat kita terpana penuh keheranan, karena musik sekali lagi menyulap hari-hari kita menjadi sesuatu yang istimewa, tak peduli kita sedang berada di rumah, maupun sedang tenggelam dalam tuntutan pekerjaan, sedang sendiri atau bersama orang-orang yang kita kasihi. Di bawah ini, adalah para trek dan album favorit saya tahun ini yang mengubah dan memberi arti hari-hari saya di tahun 2016 ini.

 

 

Trek:

 

Beat The Ordinary – Elephant Kind

 

Lagu ini adalah sebuah pembuktian bahwa Elephant Kind adalah sebuah unit (indie) pop berbakat yang ada di Indonesia saat ini. Setiap hook-nya menyiratkan keoptimisan masa muda dan harapan bahwa dunia bisa ditaklukkan di bawah kaki mereka tanpa harus menaklukkan siapa pun.

 

 

Aviation – The Last Shadow Puppets

 

Ketika Arctic Monkeys sedang tidak menghibur kita dengan apapun yang mereka rilis, Alex Turner menyibukkan diri dengan sahabatnya Miles Kane sebagai The Last Shadow Puppets. Aviation adalah trek tipikal duo tersebut dengan gitar berefek retro serta lirik yang membuat para wanita turun berdansa dan para pria berdiri terpana mengaguminya.

 

Find Me – Kings of Leon

 

13 tahun sejak Youth & Young Manhood dirilis, Kings Of Leon tetap konsisten memainkan rock americana yang mampu diterima oleh masyarakat arus utama. Find Me adalah nomor yang punya daya tarik karena lick berkesinambungan Matthew Followill terlalu manis untuk dilewatkan dan suara vokal Caleb Followill masih tidak dapat ditolak oleh semua orang yang punya selera bagus dalam bermusik.

 

 

Gimme The Love – Jake Bugg

 

Ini adalah lagu paling terus terang dari Jake Bugg. Menyanyi seakan dirinya adalah rapper paling begundal dan dengan semangat seorang Mike Tyson, Gimme The Love adalah pernyataan seorang artis yang tidak kenal kata takut untuk berevolusi.

 

Like Kids – Suede

 

Salah satu kritikus musik menyebutkan Night Thoughts adalah album di mana Suede menemukan keseimbangan antara sisi gelap Dog Man Star dan keseksian Coming Up. Trek ini mencerminkan yang terakhir, ketika Brett Anderson menjadi androginous sejati diiringi binalnya suara gitar Richard Oakes.

 

Million Eyes – The Coral

 

Setiap kali The Coral mengeluarkan album, setiap kali itu pula saya terpana karenanya. Distance Inbetween adalah sebuah album ajaib, dan trek seperti Million Eyes adalah buktinya. Para sonic scouser itu menukar pop-folk mereka dengan psikedelia berat namun harmonis di lagu itu. Memasuki 14 tahun karir bermusik mereka hal itu adalah sebuah konsekuensi yang sangat logis untuk diambil, sekaligus patut diacungkan jempol sebagai tanda betapa briliannya mereka.

 

Serigala – Indische Party

 

Entah atas alasan apa, menurut saya Analog adalah album yang sangat identik dengan The Velvet Underground dengan Serigala sebagai trek andalannya. Trek  itu membakar semangat, seperti layaknya  seorang pemuda yang akan menerkam dan menaklukkan CBGB di malam menuju Minggu.

 

Threat Of Joy – The Strokes

 

Lagu ini adalah sebuah pertanda bahwa The Strokes masih dapat dengan mudah menciptakan lagu yang sangat melodis seandainya mereka mau sepakat untuk melakukannya. Tanda-tanda akan kecintaan mereka terhadap musik yang mudah dipasarkan seperti waktu mereka menghantarkan Is This It, terdengar dengan gamblang di lagu ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi barometer untuk lagu-lagu mendatang yang akan dikirimkan The Strokes ke planet ini.

 

Candu Baru – Zatkimia

 

Ketika mendengarkan Zatkimia pertama kali di Soundrenaline, saya terhenyak karena melihat sebuah band yang sangat menyegarkan dan tanpa rasa takut menguasai panggung di GWK waktu itu. Band ini adalah pahlawan baru pulau dewata, dengan musik yang kental akan aroma grunge dan rangkaian musik alternative yang kita kenal di tahun 90-an. Walaupun belum mengeluarkan album secara penuh, lagu yang bertemakan kecanduan manusia akan segala piranti digital ini, menjadi semacam pertanda bahwa semesta akan menyertai masa depan band ini.

 

The Journey Starts Tonight – Rumahsakit

 

Anak indie atau bukan, penggemar Rumahsakit atau bukan, lagu ini wajib menjadi soundtrack baru mereka yang sedang kasmaran serta mencintai kehidupan. Daya tarik pop lagu ini terlalu besar dengan lirik yang sangat optimis “’Cause you are so bright And now I’m blinded by The magic in your smile” dan riff gitar apik yang akan membuat kita bersiul bahagia setiap pagi. Jika semuanya tergantung kepada saya, lagu ini seharusnya berada di setiap siaran tv dan radio yang mempromosikan lagu Indonesia, karena ini adalah lagu bagus dan setiap orang harus mengetahuinya.

 

 

Wave – Heals

 

Tradisi bahwa Bandung selalu memproduksi band beraliran shoegaze yang tidak kalah kualitasnya dengan band yang berasal dari Oxford maupun Stockholm dilanjutkan dengan Heals. Merilis beberapa single di tahun ini, dengan Wave adalah salah satunya, Heals adalah badai suara yang tidak dapat dilewati. Kualitas band dan lagu ini terlalu baik, sehingga sudah seharusnya kerajaan shoegaze itu di kudeta, dan ibukotanya dipindahkan ke Bandung.

 

Stunt Queen – Bloc Party

 

Lagu ini adalah definisi Bloc Party MK II, di mana saat mereka bercumbu dengan aroma elektronika tidak menjadikan keluaran band ini menjadi janggal tetapi merupakan sesuatu yang patut dipeluk dan dinikmati. Saya beruntung menyaksikan Bloc Party dengan komposisi personil baru di Bali, September lalu. Yang saya saksikan adalah sebuah band yang kembali menikmati posisinya sebagai salah satu band berpengaruh di dekade lalu dan itu terasa dan terdengar dalam Stunt Queen.

 

Beautiful Thing – The Stone Roses

 

Tahun ini dua kali saya bangun dini hari bukan untuk sepakbola, tetapi untuk mendengarkan pemutaran perdana lagu terbaru dari The Stone Roses. Lagu yang dirilis kedua, seperti judulnya adalah sesuatu yang indah. Jika hiatus panjang itu tidak pernah terjadi, dengan wah-wah yang mendominasi dan hook-hook psikedelik dari John Squire serta vokal biblikal Ian Brown, lagu ini tidak bisa tidak merupakan penerus yang sah dari Fools Gold.

 

Finally First – Beyond The Wizard Sleeve

 

Hentakan drum repetitif itu sukses menghanyutkan kita ke dalam era di mana definisi musik elektronik adalah Chemical Brothers dan Everything But The Girl, serta acid house adalah musik yang kita cintai kala berpesta di pesisir Ibiza pada puncak dekade 90an.

 

Extra Mile – Kimokal

 

Sebenarnya ketukan-ketukan yang mengawali lagu ini terasa janggal ritmenya namun kaki tidak bisa diam untuk berdansa dengannya. Sementara itu vokal Kallula yang meramban otak kita membentuk sebuah halusinasi nyaman dalam alam pikiran. Sesaat kita lupa akan dunia nyata, dan memasuki kemayaan indah versi Kimokal.

 

Identikit – Radiohead

 

“Broken hearts make it rain” kata-kata itu diulang Thom Yorke di lagu ini seperti mantra. Apakah ini lagu patah hati Radiohead yang pertama? Sesungguhnya tidak peduli ini lagu patah hati atau bukan. Dengarkan musik yang mengiringinya; ketukan-ketukan ganjil itu, suara synth yang menghantui ketika Yorke menyanyikan kata-kata di atas dan rentetan gitar yang membentuk klimaks di akhir lagu. Mendengarkan semua itu, kita tahu bahwa Radiohead tetap dan masih sebuah band jenius yang tidak ada tandingannya di abad ini.

 

 

Monumen – The Trees and The Wild

 

The Trees and The Wild benar-benar membangun sebuah monumen yang dilapisi tembok-tembok suara menakjubkan di lagu ini. Ia seperti ledakan emosi paling hebat dalam tubuhmu dengan vokal yang menghantui, hentakan drum yang konsisten mendeterminasi jiwa dan serangan gitar penuh dengan efek yang menyeruak dan berkoloni di dalam alam pikiran.

 

Merdeka – Efek Rumah Kaca

 

Efek Rumah Kaca merilis single mereka ini menjelang hari kemerdekaan RI yang ke 71. Sungguh, saat mendengarkan Efek Rumah Kaca, salah satunya melalui lagu ini, kita selalu diingatkan terus menerus akan makna menjadi manusia seutuhnya dan menjadi Indonesia sepenuhnya. Lagu ini adalah sebuah harapan.  

 

Pekerja – Bangkutaman

 

Lagu latar buat para pekerja-pekerja di metropolis Nusantara. Memang perjalanan menuju dan dari tempat bekerja bisa saja berbuat kejam kepada kita. Tuntutan atasan dan pekerjaan bisa membuat lupa bahwa kita seorang manusia. Lagu dengan nuansa folk ini mengingatkan kita bahwa sesekali tidak ada salahnya menghela nafas sesaat dan menjadi rileks sejenak, sebelum meneruskan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

 

Modern Soul – James Blake

 

Menjelang tengah malam dan jam-jam setelahnya adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan musik James Blake, tak terkecuali lagu ini. Musiknya akan menyelimuti kita dengan kegundahan yang menyenangkan, ia akan mengambil porsi kekuatiran yang dibawa oleh kegelapan malam, sambil memberi sedikit nyawa kepada fajar yang sebentar lagi akan datang.

 

Cahaya – Tulus

 

“Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya, aku pastikan jalanmu terang”, begitulah janji Tulus kepada kita. Di tahun  2016 ini, bintang penyanyi yang satu ini masih bersinar terang benderang, dan turut bercahaya bersamanya adalah segenap planet pop tanah air.

 

 

Album:

 

Zaman, Zaman – The Trees & The Wild

 

Sesungguhnya dan secara instan album kedua The Trees & The Wild ini adalah sebuah candu yang takkan habis masa pengaruhnya setelah lama didengarkan. Siapapun yang beruntung pernah menyaksikan penampilan band ini secara langsung di tahun yang penting bagi mereka ini, akan merasa pengar musikalis untuk waktu yang berkepanjangan setelahnya. Karena seperti albumnya, mereka telah memberikan sesuatu yang terlalu atmosferik untuk dilepaskan, magis dan monumental sekaligus.

 

A Moon Shaped Pool – Radiohead

 

Album brilian dan menghantui sanubari yang mendeskripsikan Radiohead dalam fase terbaiknya. Mungkin mereka tidak lagi membuat sebuah opera rock seperti Paranoid Android, ataupun mengantarkan trek bernuansa Stanley Kubrick seperti Idioteque, namun silahkan dengarkan Daydreaming dan Identikit, keduanya adalah bagian dari keajaiban yang hanya dapat dihantarkan oleh Radiohead.

 

Analog  – Indische Party

 

Mendengarkan album ini, pikiran lantas teringat kepada New York, Velvet Underground serta musik latar mini seri HBO Vinyl, dan itu adalah sebuah komplimen! Mendengarkan Babe You Got A Hold On Me Somehow seperti mendengarkan Lou Reed sedang berkontemplasi, vokal Tika Pramesti di Ingin Dekatmu mengalun adem dan mengingatkan akan keseksian Nico, sedangkan Serigala mempersiapkanmu menerkam malam minggu paling liar di CBGB!!!

 

Distance Inbetween – The Coral

 

Tidak ada yang berani memperkirakan bahwa The Coral masih sanggup mengeluarkan album, dan betapa sungguh dasyhatnya gelombang yang dikirimkan oleh Distance Inbetween. Serangan-serangan psikedelia kelas berat bertubi-tubi dipancarkan album ini dalam lagu seperti Chasing The Tail Of A Dream maupun Million Eyes. Selayaknya pembaruan yang telah dilakukan oleh seorang Juergen Klopp dalam tubuh tim bola merah kota asal band tersebut, sudah saatnya pula kita balik percaya bahwa The Coral telah kembali dan merestorasi kejayaan mereka.

 

The Soft Bounce – Beyond The Wizard Sleeve

 

Beyond The Wizard Sleeve adalah sebuah kursus bagaimana membuat musik elektronik terdengar sangat organik, dengan mencampurkan elemen psikedelia dan acid house. Ada elemen nostalgia tahun 90-an di sana, mendengarkan album ini seperti mendengarkan The Chemical Brothers dicampur oleh Everything But The Girl yang sedang diet mayo. Jika tidak percaya dengarkan saja Diagram Girl, Creation ataupun hantaman drum penuh ekstase itu dalam Finally First.

 

O – Kimokal

 

Kimokal adalah bukti bahwa geliat musik (indie) Indonesia tidak melulu harus menampilkan gitar sebagai senjata utamanya. Dibalut dengan untaian bit elektronika dan sentuhan post-dubstep, album debut mereka O akan memberikan abstraksi multi warna ketika kita mendengarkannya. Kadang bayangan itu tentang kilau lampu ibukota yang mempesona, kadang tentang sebuah metropolis entah di mana yang memanggil kita untuk berdansa.

 

Walls – Kings Of Leon

 

Setelah album ini dirilis, segala perdebatan dan perbandingan tentang siapa yang lebih baik dan lebih besar antara Followill bersaudara dan lima pemuda dari New York yang menamakan dirinya The Strokes, sudah dan harus diakhiri untuk selamanya. Jika The Strokes seringkali kehilangan arah antara ingin meneruskan warisan Is This It atau membuka dimensi baru di album-album setelahnya, Kings Of Leon mendirikan dinasti yang dibangun dari setiap rilisannya. Walls adalah buktinya.

 

City J – Elephant Kind

 

Terlepas dari sumpah serapah yang bertebaran dengan joroknya di sudut-sudut album ini, dan lagu-lagu yang dipotong dengan janggal ketika kalian sedang asyik-asyiknya mendengarkan (itu mungkin disengaja demikian), City J adalah karya debut pop yang sangat sukses. Album itu diawali dengan Beat The Ordinary yang menebar harum keadaan indie pop Indonesia 2016, dan kemudian dituntaskan dengan pamungkas dengan trek seperti Montage dan The Saviour.

 

Hymns – Bloc Party

 

Sejujurnya setelah mencintai band ini dengan sangat semenjak pertengahan dekade lalu, saya sempat skeptis menyambut album pertama Bloc Party sepeninggalan Gordon Moakes dan Matt Tong yang digantikan dengan Justin Harris & Louise Bartle. Hymns bukanlah album yang menjatuhkan bom seperti Silent Alarm atau bahkan Four sekalipun, tetapi mendengarkannya seperti bertemu seorang teman lama yang selalu tahu cara mengusir kegundahan dengan cara yang lebih dewasa dan menenangkan. Euforia dekade lalu telah berakhir, dan di tengah waktu yang tak kenal arah ini, Hymns datang sebagai penyembuhan agar kita tetap waras.

 

Night Thoughts – Suede

 

Dengan banjirnya layanan streaming musik termasuk di tanah air ini, tahun ini adalah waktu yang dinyatakan sebagai tahun matinya format album. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Di genre yang lebih dekat dengan arus utama dikatakan Beyonce, Drake dan Kanye menjadi penyelamat format tersebut, sedangkan untuk kita yang terjebak dengan musik dari 2 dekade lalu, Suede menjadi penyelamat dengan merilis Night Thoughts yang dikemas dalam musik yang tidak terputus antar treknya dan bertautan dalam cerita satu sama lain serta didukung oleh sebuah film yang menjadi visualisasi musiknya. Night Thoughts adalah album matang dari Suede yang mengkombinasikan kegelapan Dog Man Star dan keseksian Coming Up dalam album ini. Jika semua band/artis yang reuni setelah bubar memproduksi karya seperti Suede, maka kita semua akan menjadi orang yang lebih bahagia di dunia ini.

 

David Wahyu Hidayat

13
Nov
16

Impresi 2 hari di Soundrenaline Festival 2016

Di awal September lalu, tepatnya pada 3 & 4 September 2016, melalui sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Rolling Stone Indonesia tentang konser terbaik yang pernah disaksikan, saya berkesempatan menyaksikan Soundrenaline Festival setelah terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi tersebut. Pemenang lainnya adalah: Tantan Rahmatullah (https://konstelasikata.wordpress.com/) & Adam Muslihat Santika Putra (https://sayabercengkerama.wordpress.com/).

Kami bertiga diberangkatkan oleh Rolling Stone Indonesia dan selama dua hari memiliki pengalaman tak terlupakan menyaksikan festival terbesar negeri ini sekaligus berkenalan sedikit tentang sisi jurnalisme musik dari teman-teman Rolling Stone Indonesia yang menemani kami. Sebagai “reporter tamu” kami pun diberikan pekerjaan rumah untuk menulis liputan dari Soundrenaline 2016. Di bawah ini adalah impresi saya dari dua hari menghadiri festival terbesar Indonesia itu.

kolase-soundrenaline

Liputan saya tentang Soundrenaline 2016 yang dimuat di situs rollingstone.co.id :

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/26/140509678/1093/binar-hidup-bergelora-dalam-balutan-adrenalin-suara-soundrenaline-2016

rolling-stone-indonesia-binar-hidup-bergelora

Liputan dari Adam dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509679/1093/soundrenaline-2016-gagasan-bersejarah-kancah-musik-indonesia

Liputan dari Tantan dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509680/1093/di-bawah-bendera-musik

Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 yang menampilkan kami bertiga sebagai pemenang kompetisi menulis tersebut:

rsi-oktober-2016-soundrenaline-2016

David Wahyu Hidayat

31
Okt
16

Impresi dari 3 hari di Synchronize Festival 2016

Rhoma Irama: Kharisma tanpa batas atas kecintaan tanah air dengan musik yang mampu menggoyangkan semua pecinta musik tanpa terkecuali.

Barasuara: Masih tidak tergoyahkan posisinya sebagai band paling menggemparkan saat ini.

The Trees & The Wild: Magis & monumental, momen favorit pribadi 3 hari kemarin.

Efek Rumah Kaca: Tiap konser ERK dengan formasi lengkap adalah sesuatu yang istimewa.

The Milo dan Heals: 2 band ini meneruskan tradisi dan persepsi bahwa band shoegaze terbaik Indonesia adalah dari Bandung.

The Upstairs: Jimi Multhazam adalah pencerita handal dan bandnya selalu berhasil membuat anak indie disko darurat di manapun kapanpun.

Scaller: Apalagi yang mau dikatakan tentang band ini? Mereka adalah masa kini dan masa depan! 

Pure Saturday: Menutup Jumat malam dan memulai hari Sabtu dengan bahagia adalah esensi Pure Saturday.

Payung Teduh dan Float: Di tengah hingar bingar Festival, musik dari 2 band ini bagai oase yang sejuk dan menenangkan.

Elephant Kind: Terkendala gangguan teknis pada gitar utama mereka, membuat penampilannya di minggu sore sedikit tersendat. Untungnya mereka punya lagu yang membuat penonton berinteraksi seru khas generasi milenial yang membuat penampilan itu berkesan.

Kelompok Penerbang Roket: Liar dan gas penuh tanpa rem, seperti yang selalu diharapkan dari mereka. 

The SIGIT: Rok n’ Rol bukanlah hanya sebuah konsep, The SIGIT itu perwujudannya.

The Brandals dan The Adams: Banyak hal yang menjadi ciri khas Jakarta, dari yang baik maupun buruk. Entah kenapa 2 band ini selalu identik dengan kebaikan ibukota di kepala saya, tidak terkecuali waktu mereka tampil pada hari kedua di Synchronize Festival.

FSTVLST: Barely art, almost rock. Impresif sesuai dengan slogan mereka. 
Rock n’ Roll Mafia: Band ini tidak pernah benar-benar ada di radar saya, dan ini akan berubah sejak penampilan mereka di hari ketiga.

90’s Hiphop All Star: Siapa yang menyangka beat dan rentetan lirik dari para rapper paruh baya mampu mengguncang Kemayoran dengan hebat.

Terlepas dari kendala teknis yang dialami beberapa band di panggung utama, ini festival yang seru di mana seluruh genre melebur dalam atmosfir menyenangkan. Mudah-mudahan pergerakan ini berlanjut di tahun mendatang.

David Wahyu Hidayat 

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

17
Sep
16

Ulasan Album: The Trees & The Wild – Zaman, Zaman

zaman-zaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Trees & The Wild

Zaman, Zaman

Blank Orb Recordings – 2016

 

Ekspektasi dan antisipasi cenderung menghancurkan segala yang kita harapkan dari sesuatu. Hal-hal paling magis terjadi ketika minimnya pengetahuan terhadap sesuatu yang akan datang, memanipulasi dan menguasai alam pikiran kita ketika hal-hal tersebut dihadapi. Itulah yang saya rasakan mendengarkan Zaman, Zaman; album terbaru The Trees & The Wild yang menggulung indera pendengaran saya dalam pertemuan pertamanya.

 

Sebelum album ini dikeluarkan, jujur saya bukanlah fans band ini. Pertama kali ingin mengoleksi musik mereka, ketika majalah Time menganjurkan bahwa ini adalah salah satu band yang harus didengar dari Asia Tenggara. Setelah membaca artikel itu, saya memutuskan membeli Rasuk, lalu untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan musik dari album itu jarang saya kunjungi kembali (mungkin itu salah satu yang harus berubah sejak Zaman, Zaman).

 

Tetapi Zaman, Zaman adalah monster yang berbeda. Jarak 7 tahun antara Rasuk dan album ini mentransformasi The Trees & The Wild menjadi sebuah band yang berbeda sama sekali (saya belum pernah melihat mereka secara langsung, jadi hanya dapat menilai dari kedua album itu). Ini adalah album dengan bentang suara yang melintang lebih jauh dari Sabang sampai Merauke, ia menghipnotis, ia mempesona dan ia adalah sosok yang majestik yang pernah diciptakan oleh sebuah band dari negara ini, dan untuk itu ia layak dipuja.

 

Dari titel treknya pada lagu pertama, album ini sudah memberikan pernyataannya. Waktu Empati Tamako merasuki telinga kita selama 14:35 menit pada lagu kedua, akal sehat kita akan mengalah dan yang ada di kepala hanyalah sebuah pikiran yang berkata “Ya, Tuhan, ini candu!!!”. Empatbelas setengah menit yang terlalui dalam lagu itu bukan merupakan menit-menit yang terbuang sia-sia, itu adalah epik tanpa batas diiringi mantra “Terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya” yang dinyanyikan menembus karsa.

 

Sesuatu yang monumental didirikan oleh The Trees & The Wild di lagu yang mereka beri nama Monumen. Jika Thom Yorke & Johnny Greenwood dari Radiohead pernah mendengarkan lagu ini, mereka akan bangga sekaligus iri terhadapnya, berharap band mereka yang menciptakan lagu ini. Tapal batu itu lalu dibangun lebih megah dalam Tuah/Sebak, 2 fragmen lagu yang dijadikan satu di mana emosi dicampuraduk tanpa henti dan mencapai klimaksnya secara paripurna.

 

Yang fantastis dari album ini adalah cara mereka mengemas lagu demi lagu sebagai sebuah kesatuan musikalis. Suara instrumen dikedepankan membentuk tembok suara yang agung, vokal berkesan tidak mendapatkan tempatnya sebagai pemain utama, tetapi ia menghipnotis perlahan, membuat pendengarnya menerka dan memberikan interpretasinya sendiri terhadap setiap lagu di Zaman, Zaman. 7 trek yang dikemas dalam 53:28 menit itu, dan diakhiri oleh lagu terakhir berjudul Saija, adalah sebuah perjalanan sonik yang penuh kejayaan.

 

Zaman, Zaman adalah sebuah candu yang sulit untuk diredakan efeknya. Ia tidak akan langsung membuat kalian melayang, namun perlahan tapi pasti dalam setiap pemutarannya di telinga kalian, musiknya akan merayap, merasuki jiwa, membuat kita layaknya seorang pemadat yang menemukan candu terbaiknya, tenggelam dalam sebuah ekstase suara sampai pada kesudahan zaman.

 

David Wahyu Hidayat

 

Zaman, Zaman tersedia secara digital di:

iTunes: https://itunes.apple.com/album/id1143213241

Spotify

 

The Trees & The Wild:

Twitter: @ttatw

Instagram: treeswild

 

30
Des
15

Favorit2015

Favorit2015

 

 

playlist:

https://8tracks.com/supersonicsounds/favorite-tracks-2015

 

 

2015 adalah tahun penuh gairah secara musikalis, terutama dalam skena musik lokal. Kita mengalami hadirnya band-band baru penuh geliat dalam wujud Barasuara, Kelompok Penerbang Roket dan Stars And Rabbit. Lalu jawara-jawara indie negeri ini seperti tidak mau kalah dengan penerus tongkat estafetnya. Mereka pun mengeluarkan album solid penuh kejutan seperti yang dapat terdengar dalam karya terbaru Rumahsakit, Sore dan album majestik yang dirilis Efek Rumah Kaca di akhir tahun.

 

Di luar batas perairan Nusantara, dedengkot Britpop Blur dan Noel Gallagher juga ikut mengeluarkan album terbaru mereka yang penuh daya tarik unik. Sedangkan Chris Martin, setelah berhasil mengatasi rumah tangganya yang karam, bersama Coldplay merilis album baru penuh warna-warni kehidupan seperti yang kita kenal dari mereka sebelumnya. Puncak semuanya itu adalah si jenius Kevin Parker, yang dengan album terbaru Tame Impala, Currents mengeluarkan sebuah album penuh kesempurnaan.

 

Sudah sejak lama saya tidak mendengarkan musik segempar tahun ini, dan di bawah ini adalah lagu dan album favorit saya. Seperti halnya terhadap kehidupan, kita pun patut bersyukur atas segala musik yang telah menemani kita dan hal lainnya yang telah terjadi tahun ini. Saatnya merayakan kehidupan, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

 

Lagu:

 

Take You Down – Daniel Pemberton, OST The Man From U.N.C.L.E

Tom Meighan dan Sergio Pizzorno dari Kasabian akan iri mendengarkan lagu ini, karena ia memiliki semua tandatangan antem stadion yang biasanya dimiliki oleh lagu-lagu Kasabian. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Daniel Pemberton ketika mengaransir OST untuk film ini, tetapi melalui lagu ini ia telah memberikan atmosfir sempurna kepada sebuah film espionase yang paling menghibur tahun ini.

 

Djakarta City Sound – Kelompok Penerbang Roket

Dalam mimpi basah musikalis kita yang paling vulgar, Jakarta masih ditulis dengan menggunakan huruf besar “D” di depannya. Ia bukanlah ibukota yang penuh kemacetan dan pelan-pelan membunuh warganya, tetapi sebuah nirvana yang seksi, di mana rock ‘n’ roll adalah agamanya dan Kelompok Penerbang Roket adalah dewa mereka.

 

I Tried and I’m Tried – The Young Liars

Muda dan berbahaya adalah sebuah kategori yang dapat disematkan kepada The Young Liars. Musik mereka langsung menampar telinga tanpa basa-basi, menggairahkan sekaligus menaikkan adrenalin di badan kita yang lelah penat ini. Jika ini bisa dipertahankan, mereka adalah masa depan.

 

Pasar Bisa Diciptakan – Efek Rumah Kaca

Setelah 7 tahun kita menunggu, akhirnya Efek Rumah Kaca datang kembali. Lagu ini dirilis oleh Efek Rumah Kaca sebagai pengantar mahakarya terbaru mereka Sinestesia. Gitar yang meraung tanpa henti itu, melakukan penetrasi tanpa lelah kepada kalbu pendengaran kita, sambil mendengarkan mantra teranyar dari Efek Rumah Kaca, bahwa pasar bisa diciptakan. Ini adalah sebuah perayaan!

 

Gesneriana – Sore

Dalam sebuah paralel universum yang tak pernah tercipta, The Smiths membagi ruang latihannya bersama Sore. Mereka berbicara tentang urbanisme kota industri di sela-sela latihan mereka, nge-jam tanpa henti sampai tidak pernah melihat sang surya terbit dan terbenam. Pada sesi-sesi itulah lahir sebuah lagu yang mendefinisikan Manchester sekaligus Jakarta, lagu itu berjudul Gesneriana.

T-Shirt Weather – Circa Waves

Lagu ini adalah suara musim panas yang riang, penuh asa tanpa adanya sedikit pun titik-titik kelabu yang akan mengecilkan optimisme kita. Sangat menyenangkan menemukan band seperti Circa Waves di tahun 2015 ini, di mana banyak band berlomba untuk mensample berbagai macam beat secara elektronik, mereka mengingatkan kita akan masa muda di mana keriangan itu ditemukan dalam melodi gitar.

The Less I Know The Better – Tame Impala

Jika semua orang mengalahkan patah hatinya dengan membuat lagu seperti ini, maka dunia ini akan menjadi lebih baik. Lagu ini adalah sentral dalam album luar biasa Tame Impala, Currents. Beat-nya adalah sebuah candu yang tidak ingin kita habiskan, setiap fase di lagu ini menghipnotis kita, membawa kita ke sebuah musim panas abadi, di mana yang kita rasakan hanyalah getaran kebahagiaan tanpa batas.

 

Adventure Of A Lifetime – Coldplay

Sejujurnya, saya membenci lagu ini dengan sangat ketika dirilis untuk mempromosikan album terbaru Coldplay, A Head Full Of Dreams. Ia terlalu pop dan berada di arus musik utama untuk dirilis oleh band seperti Coldplay. Pandangan itu berubah 180 derajat ketika albumnya sendiri dirilis. Semua dentuman bas dan petikan gitar tanpa henti itu tiba-tiba menjadi masuk akal adalam konteks sebuah album. Ini adalah perayaan kehidupan ala Coldplay, Viva La Vida!

 

The Right Stuff – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Dari 10 lagu yang ada di album Chasing Yesterday, lagu ini adalah lagu yang paling menarik. Bukan hanya ia diproduseri oleh Amourphous Androgynous, tetapi karena ini adalah bukti bahwa Noel Gallagher dapat menciptakan lagu di luar pagar Britpop dan skala pentatonik yang selama ini menjadi ciri khasnya. Dengan latar belakang vokal wanita yang lebih dominan dari suaranya sendiri, dan hembusan psikdelik dari musik yang mengiringinya ini adalah Noel Gallagher terbaik paska Oasis. Space Jazz, hadirin sekalian?

 

 

Thought I Was A Spaceman – Blur

Blur mungkin boleh mendapatkan inspirasinya dari malam-malam yang mereka lewati di Asia Timur, tetapi lagu ini berhasil menciptakan keintiman yang dalam. Suara vokal Damon Albarn memenuhi alam pikiran kita seperti anestesi membius seorang pasien bedah. Alunan melodi etnis dengan gaung yang memenuhi ruangan itu, untuk sesaat, sesuai dengan judulnya membuat percaya bahwa kita adalah astronaut yang sedang melayang tanpa tujuan di ruang angkasa.

 

The House – Stars And Rabbit

Saya jatuh cinta pada Stars And Rabbit, ketika menyaksikan mereka tampil membawakan lagu ini di sebuah stasiun televisi swasta pada suatu minggu siang. Saya takjub akan kesederhanaan mereka membawakan lagu ini. Kagum karena lagu tersebut berhasil mempesona saya, dengan petikan gitar yang renyah dan perselingkuhannya dengan suara vokal yang akan membuat Bjork bangga.

 

Apa Yang Tak Bisa – Rumahsakit

Sebenarnya banyak melodi menakjubkan yang menyenangkan hati terdapat di Timeless, album yang menandakan kembalinya Rumahsakit dari mati suri mereka. Tapi lagu ini yang paling berkesan buat saya. Nyaris seperti pesan religius, lagu ini dengan manis mengingatkan kita bahwa tidak segala sesuatu dapat diraih dan dimiliki, yang kita perlukan hanyalah menyerahkan segalanya kepada yang mahakuasa dan membiarkan hidup ini mengalir sambil tidak lupa untuk bersyukur.

 

The Rest Is Noise – Jamie xx

Ada sebuah perasaan metropolis etereal yang menghantui indra kita ketika mendengarkan lagu ini. Perasaan cinta sekaligus gamang akan kota yang kita tinggali. Ketika pekatnya malam terlalu indah untuk dilalui hanya dengan terlelap, sedangkan mentari pagi terlampau nyaman untuk membangunkan kita dari mimpi.

 

Lonely Hunter – Foals

Sesuatu di alam bawah sadar kita akan terusik mendengarkan lagu ini. Entah itu perasaan ingin memiliki seseorang yang sudah hilang dari kehidupan kita, atau dengan sangat parahnya ingin memperbaiki sesuatu terhadap orang yang kita cintai. Melodinya terlalu dahsyat untuk bisa dipungkiri dan ketika kita mendegarkan “Love is a gun in your hand” dinyatakan Yannis di lagu ini, jauh di dalam sana, kita mengerti apa yang dimaksud olehnya.

 

Api dan Lentera – Barasuara

Tidak ada yang lebih eksplosif di tahun ini selain “Api dan Lentera” dari Barasuara. Jika mereka sendiri memproklamirkan bahwa musik Barasuara dibuat untuk meledak, maka lagu ini adalah perwujudannya yang paling sempurna. Setiap bagian lagunya dirancang seperti bom, apakah itu teriakan “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu” atau hookhook maut dari riff gitar yang saling berduel di lagu ini, semuanya itu mengarah ke satu tujuan utama: Membuat indie anthem terbesar yang pernah didengarkan negeri ini.

 

Album:

 

Chasing Yesterday – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Dari seluruh karya yang pernah dihasilkan oleh Noel Gallagher, Chasing Yesterday adalah yang paling unik. Ia bukan hanya asal mengatakan bahwa album ini akan seperti Space Jazz, dengarkan Riverman maka kita akan tersenyum ketika mendengar Saxophone di sana. Mendengarkan The Right Stuff, maka lagu tersebut akan menjustifikasi bahwa jargon yang ia sebutkan itu bukan basa-basi. Dan jika kita kangen dengan Oasis, album ini memberikan Lock All The Doors. Dalam In The Heat Of The Moment dan Ballad Of The Mighty I, kita menemukan revolusi seorang Noel Gallagher dalam peforma terbaiknya. The Chief telah kembali, dan ia kembali dengan dahsyat.

 

Currents – Tame Impala

Tidak ada album yang membuat saya tersenyum lebih bahagia di tahun ini daripada Currents dari Tame Impala. Beruntung Kevin Parker meninggalkan aura psikedelik pada 2 album sebelumnya dan menemukan kecintaannya pada pop. Mendengarkan Currents seperti menemukan mata air pop tanpa batas, lagu-lagu di dalamnya seperti perpaduan antara MGMT, Daft Punk, dan…Tame Impala sendiri. Album ini akan membuat hari-hari kita sepanjang tahun menjadi sebuah musim panas, di mana yang ada hanya kebahagiaan dan sinar matahari.

 

In Colour – Jamie xx

Salah satu album paling menghantui saya dalam relevansi yang baik adalah In Colour dari Jamie xx. Seperti yang sudah ia lakukan dengan The xx, album ini berhasil membuat saya dalam suasana etereal tanpa batas, menikmati malam-malam di ibukota yang takkan pernah henti. Saat dikepung oleh batas waktu pekerjaan dan kacaunya kota ini, album ini seperti sebuah anestesia yang menenangkan.

 

Los Skut Leboys – Sore

Sampai tahun ini, sejujurnya saya tidak pernah menaruh perhatian khusus kepada Sore. Lalu di sebuah malam, perjalanan saya di Youtube terhenti pada lagu 8 dan R14, dan perasaan gembira saya terkait oleh melodi-melodi yang ada di situ. Ada perasaan nostalgik yang tidak dapat dijelaskan, dan juga rasa girang yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kemudian saya membeli albumnya, mendengarkan seluruh lagunya, terutama Gesneriana yang sukses membawa saya ke langit ketujuh pop Indonesia.

 

Sinestesia – Efek Rumah Kaca

Sebenarnya sejak Pasar Bisa Diciptakan dapat diunduh gratis kita tahu bahwa Efek Rumah Kaca akan merilis album baru mereka. Kita gusar, karena lagu yang menjadi prolog itu menjanjikan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Lalu Desember tiba dan harapan itu hampir pupus, karena tidak ada tanda-tanda album tersebut akan dirilis. Kemudian tanpa pemberitaan bombastis, Sinestesia dapat dibeli di iTunes. Secepat kilat album tersebut dibayar dan disedot secara digital. Secepat kilat juga di tengah malam pertengahan Desember, album itu dimainkan pada pemutar musik digital saya. Ketika lantunan “Aaaaaaa…” mengawali Merah, saya sadar sesuatu yang majestik telah terjadi. Sisanya adalah kekaguman tanpa batas kepada sebuah album yang dirilis 7 tahun setelah Kamar Gelap. Salut saya sampaikan kepada Efek Rumah Kaca.

 

Taifun – Barasuara

Barasuara punya satu tujuan ketika merilis Taifun. Mereka ingin musik mereka meledak di negeri ini. Target itu bukan hanya berhasil dicapai, tetapi mereka melakukannya dengan dengan karakter dan kelas yang sulit untuk bisa disamai band-band lain. Walaupun musik mereka penuh dengan konsep, tetapi ia berbicara dengan langsung dan memberikan ekstase kepada kita semua. Mulai dari Nyala Suara, Bahas Bahasa, Api dan Lentera, semua lagu itu memberikan kita sebuah antem yang baru. Mungkin bukan kebetulan mereka menamakan debut album ini Taifun, karena Barasuara telah menerjang kita semua dan membuat kita takluk tanpa syarat dalam terpaan musiknya.

 

 

Teriakan Bocah/Haai – Kelompok Penerbang Roket

Kelompok Penerbang Roket telah membuat sebuah pernyataan bombastis tahun ini dengan merilis 2 mini album sekaligus. Yang pertama, Teriakan Bocah adalah rock ‘n’ roll liar yang dipacu secepat 200 km/jam di jalan protokol ibukota. Yang kedua, adalah sebuah karya paling psikedelik yang pernah didengar tanah air terhadap lagu-lagu Panbers. Mungkin mereka berpikir hidup terlalu singkat untuk diam dan tidak berarti apa-apa. Yang jelas mereka tidak perlu takut lagi terhadap kematian tanpa nama, karena 2 album tersebut akan terus mengingatkan kita untuk hidup liar, penuh risiko mengatasnamakan rock ‘n’ roll.

 

The Magic Whip – Blur

Kabar kembalinya Blur patut dirayakan seperti kita merayakan sekuel sebuah film blockbuster yang mendefinisikan masa kecil kita. Memang, seperti kita, mereka pun sudah memasuki usia paruh baya, tidak ada lagi Girls & Boys atau Song 2, tetapi lagu seperti Thought I Was A Spaceman, Lonesome Street, maupun Go Out adalah lagu tipikal Blur yang selalu dekat dengan hati kita. Album ini seperti kembalinya paman yang kita kagumi waktu kecil, ia datang bukan dengan nostalgia cerita masa lalu, tetapi tentang pengalaman-pengalaman baru yang tidak harus selalu eksplosif tetapi selalu menarik untuk disimak.

 

Timeless – Rumahsakit

Pahlawan indie Jakarta, Rumahsakit telah kembali tahun ini dengan merilis album Timeless. Dengan berbekal vokalis dan komposisi musik baru, mereka tetap menghembuskan optimisme tahun 90-an yang tidak pernah padam. Dari bunyi drum yang mengawali Tak Ada Yang Selamanya sampai nada terakhir Shout Now, semuanya menunjukkan kedewasaan Rumahsakit dalam bermusik, dan seperti judul albumnya sendiri semoga mereka akan selalu abadi.

 

What Went Down – Foals

Memasuki albumnya yang keempat, Foals semakin solid dan eksplosif dalam musik mereka. Diawali dengan titel track yang menampilkan nada-nada penuh urgensi dan determinasi, mereka menebarkan serangan – serangan berbahaya sejak awal. Lalu ada Mountain At My Gates dan Albatross yang mengalir seru merasuki pembuluh darah kita. Pamungkasnya ada dalam Lonely Hunter yang menggulung dahsyat seperti gelombang tanpa henti. What Went Down adalah Foals dalam semua kemegahan yang mereka miliki.

 

David Wahyu Hidayat




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,056 hits