Author Archive for David Wahyu Hidayat

31
Des
18

Favorite Tracks & Albums 2018

Tracks:

Album:

Screenshot_20181231-130156_PhotoGrid

Iklan
19
Okt
18

Ulasan Konser – Arctic Monkeys, O2 Arena London, 10 September 2018

Monkeys

Arctic Monkeys
O2 Arena, London – 10 September 2018
Band Pembuka: Lemon Twigs
Penonton: 20.000 (kapasitas maksimal)

Setlist:
Star Treatment, Brianstorm, Snap Out Of It, Crying Lightning, Teddy Picker, 505, Tranquility Hotel Base & Casino, Do Me A Favour, Don’t Sit Down Cause I’ve Moved Your Chair, From The Ritz To The Rubble, One Point Perspective, American Sports, Cornerstone, Why’d You Only Call Me When You’re High, Knee Socks, Do I Wanna Know, Pretty Visitors, Four Out Of Five. Encore: I Bet You Look Good On The Dance Floor, Arabella, R U Mine
Ulasan:
Tranquility Base, Bulan 20 Juli 1969. Manusia mendarat di sana, menjejakkan kakinya lalu melangkah, berharap langkahnya merupakan langkah raksasa yang mendefinisikan kaumnya di masa datang, masa depan termegah yang pernah ada dalam dimensi waktu.

Bumi, 11 May 2018 Arctic Monkeys merilis album keenam mereka yang judulnya terinspirasi dari satu-satunya permukaan bulan yang pernah dijejaki manusia. Tranquility Base Hotel & Casino. Jelas memberikan jarak dengan AM yang berdetak kencang, berbahan bakar rock dan bit yang bercumbu dengan R&B, album keenam ini kerap dimisinterpretasikan sebagai projek tanpa arah Alex Turner sang vokalis. Dalam kemisteriusannya, album ini menemukan keindahannya sendiri dalam aroma soundtrack layaknya film Perancis, dalam space jazz yang penuh anestesi dan keharmonisan melodi seperti album Beach Boys.

London, O2 Arena 10 September 2018. Hari itu adalah yang kedua dari jadwal 4 malam konser Arctic Monkeys di ibukota Britania. 20 ribu orang memenuhi kapasitas maksimal arena yang letaknya tidak jauh dari garis meridien penanda waktu planet ini. Mereka menunggu penuh harap ketika band Lemon Twigs membuka malam itu, seperti roket yang hendak melesat, menunggu dilayangkan ke bulan ke sebuah landasan yang memberikan harapan dalam keharmonisan musik rock.

20.45 Waktu Meridian Greenwich. Itu adalah waktu di mana Star Treatment mengalun, membawa kita ke awal perjalanan menuju Tranquility Base versi 4 pemuda asal Sheffield. Kita melayang menuju bulan, dengan pencahayaan panggung bertaburkan nuansa kuning, menambah misteri Arctic Monkeys yang sedang mencoba membuktikan bahwa mereka adalah band terbaik dari dekade silam.

Ketulusan lagu pertama tersebut dirobek ketika Brianstorm seketika menghantam sebagai lagu kedua. Serentak tidak ada lagi yang berdiam diri, dari mereka yang di bawah panggung sampai yang berada di lingkaran teratas O2, semuanya berdiri, menari, berteriak mengikuti riff lagu tersebut. Dalam sekejap badai menyapu arena tersebut.

Dalam format sebuah konser, kejeniusan Arctic Monkeys, khususnya album Tranquility Base terlihat jelas. Karena tidak ada lagi kecanggungan bahwa lagu – lagu dari album tersebut terlalu kelam untuk ukuran Arctic Monkeys. Nomor-nomor album tersebut seperti One Point Perspective, American Sports dan Four Out Of Five melebur menjadi satu dipadukan dengan rangkaian lagu dari album-album sebelumnya seperti Teddy Picker, Crying Lightning, Do Me A Favour maupun Don’t Sit Down Cause I’ve Moved Your Chair. Bahkan ketika mereka membawakan 505 yang langsung disambung dengan Tranquility Base Hotel & Casino, suasana O2 sangat intens dengan atmosfir seperti layaknya menonton The Shining dan 2001:Space Odyssey dari Stanley Kubrick secara sekuensial.

Set utama mereka malam itu dipamungkasi dengan Four Out Of Five. Saat mereka kembali, di atas panggung nampak rangkaian huruf dengan warna kuning menyilaukan, terbaca di sana dengan sangat jelas Monkeys. Diiringi riuhan warga London/Britania pada desibel tertingginya I Bet You Look Good On The Dance Floor dilepaskan, dan tak pelak lagi seluruh amunisi adrenalin diledakkan semua orang yang merayakan band tersebut seperti bagian dari budaya identifikasi yang tidak bisa lagi dilepaskan.

R U Mine? meletakkan Arctic Monkeys pada garis finis konser malam itu, dengan sebuah pertanyaan obligatoris sekaligus proklamasi bahwa mereka adalah yang terbaik. Ketika sampai pada lirik “She’s a silver lining lone ranger riding through an open space…” Arctic Monkeys berhenti bermain, yang terdengar hanya suara Alex melantunkannya, yang terlihat hanyalah siluet bayangannya disinari cahaya kuning di atas panggung. Itu adalah momen di mana Alex Turner menjadi sebuah ikon rock ‘n’ roll, di mana Arctic Monkeys mengukuhkan dirinya sebagai band terbesar generasinya.

Argumen dapat berputar, ada band lain yang lebih besar dari mereka, tapi malam itu jika mereka hanya mengetuk-ngetukkan dua buah batu diiringi suara angin, 20 ribu orang yang memenuhi arena tersebut masih akan memuja mereka seperti ketika mereka memainkan R U Mine? Terserah kalian akan mengatakan apa, Arctic Monkeys bukanlah yang kalian maksud karena mereka adalah band yang akan membuat kalian selalu penuh ekstase di atas lantai dengan sepatu dansa tersemat di kaki kalian, sambil memainkan musik paling dashyat yang pernah kalian dengar dari atas panteon rock kita.

David Wahyu Hidayat.

17
Jan
18

Ulasan Konser – Liam Gallagher, Econvention Ancol Jakarta, 14 Januari 2018


Liam Gallagher

Econvention Ancol Jakarta, 14 Januari 2018


Setlist:

Fuckin’ In The Bushes (Tape), Rock ‘N’ Roll Star, Morning Glory, Greedy Soul, Wall Of Glass, Paper Crown, Bold, For What It’s Worth, Soul Love, Some Might Say, Slide Away, Come Back To Me, You Better Run, Be Here Now, Live Forever. Encore: Cigarettes & Alcohol, Wonderwall

Minggu, 14 Januari 2018 adalah hari yang istimewa. Di hari itu, Presiden Jokowi meresmikan ulang stadion kebanggaan nasion ini; Gelora Bung Karno yang telah direnovasi ulang dan sekarang berdiri dengan segala kemegahan tata cahayanya selayak mentari Nusantara. Di minggu yang megah itu pula, kedigdayaan 33 kali kemenangan berturut-turut dalam kompetisi domestik Manchester City dipatahkan dengan gemilang oleh Liverpool FC. Namun selain itu ada satu peristiwa yang terjadi di utara kota Jakarta yang membuat hari itu menjadi spesial. Hari itu, Jakarta kedatangan anak ternama Manchester, frontman terbaik terakhir dari generasinya, hari itu Liam Gallagher hadir di Jakarta.

Tepat pukul 21:00, saat hentakan terakhir I Am The Resurrection surut dari tata suara Econvention, lampu pun dipadamkan, secara sekejap gendang telinga kita lalu digempur oleh dentuman Fuckin In The Bushes. Dada mulai berdegup kencang, adrenalin mulai terpompa, lalu dengan penuh kebanggaan berdirilah Liam Gallagher bak seorang mesias di tengah riuh sorakan pengikutnya yang sudah lama menanti kedatangannya.

Ia langsung menggebrak dengan Rock N Roll Star, dan seperti air bah yang tidak dapat lagi dibendung, seluruh manusia mortal yang ada di ruangan konser itu meyakini bahwa mereka pun adalah rockstar, sambil mengagumi kharisma sang penyelamat yang berdiri di atas panggung, tangan di belakang, kepala mendongak, menyanyi sambil mempercayai bahwa momen itu adalah yang terpenting sepanjang hidupnya.

Morning Glory, melanjuti konser tersebut, dan lenyap sudah semua ingatan bahwa band yang memiliki lagu tersebut sudah bubar 9 tahun yang lalu. Noel tetap akan dirindukan kehadirannya, namun setidaknya malam itu publik Ancol menyaksikan sebersit kejayaan Oasis dalam Liam Gallagher.

Setelah 2 lagu klasik tersebut, Liam melanjuti malam itu dengan lagu-lagu dari solo albumnya. Greedy Soul, Wall Of Glass, Paper Crown, Bold, dan For What It’s Worth (yang ia dedikasikan untuk semua scouser di ruangan itu) terdengar berhasil memerdekakan dirinya sebagai seorang solo artis dan bukan hanya sebagai eks-vokalis Oasis. Dengan atau tanpa lagu Oasis, ia adalah seorang Liam Gallagher yang memiliki daya tarik, yang dipuja oleh massanya yang menganggapnya setengah dewa dan yang memberikan arti dalam kehidupan orang banyak. Dan hal ini dibuktikan oleh penonton yang ikut bernyanyi bersamanya sebagai sebuah pembuktian bahwa mereka mengakui semua itu.

Selepas Soul Love, sebuah karyanya bersama Beady Eye, Liam mempersembahkan Ancol dengan Some Might Say dan Slide Away, dan itu membawa Econvention ke pertengahan tahun 90-an di mana Britpop adalah sebuah kerajaan dengan segala optimisme dan harapan yang menyertainya.

 

Come Back To Me dan You Better Run dari As You Were bergulir menyusul 2 lagu klasik tersebut, dan Liam kembali meneruskan mode petarungnya, bernyanyi seperti layaknya Mike Tyson yang hendak menjungkalkan lawannya di atas ring. Malam itu Liam memberikan performa suara yang baik, bahkan bisa dibilang lebih baik dari hari-hari terakhirnya di Oasis, dan semua yang menyaksikannya malam itu beruntung mengalami Liam dalam versi tersebut.

Set utama malam itu menemukan pamungkasnya dalam Be Here Now dan Live Forever. Ketika lagu terakhir tersebut dibawakan secara akustik, kemortalan kita sekejap berubah menjadi keabadian ketika menyanyikan “you and I, we’re gonna live forever”, ketika kita turut bahagia akan seorang penonton yang berhasil naik ke panggung dan memeluk Liam seakan ia adalah kekasih idamannya, ketika kita menengadah ke langit sambil merentangkan tangan bersyukur bahwa keajaiban musikalis kita boleh terjadi malam itu.

Setelah jeda obligatoris, Liam kembali naik ke atas panggung diiringi nyanyian Champagne Supernova oleh penonton, yang selain kehadiran Liam sendiri merupakan keindahan lainnya dari konser malam itu. Kembali kita diberikan keistimewaan hanyut dalam Cigarettes & Alcohol, seakan kepenatan pekerjaan sehari-hari terlibas oleh suara rock ‘n’ roll yang membawa kembali ekstase kehidupan.

Rangkaian momen-momen kejayaan malam itu diakhiri dengan versi akustik Wonderwall. Lengkap sudah kebahagiaan mereka yang menghadiri konser tersebut, karena selama hampir satu setengah jam melalui lagu-lagu yang mendefinisikan masa muda dan memberikan makna dalam kehidupan, kita berasa seperti seorang rock ‘n’ roll star dan pada akhirnya menemukan keabadian yang tidak dapat diambil lagi dari diri kita. Kamu dan saya yang ada di Econvention malam itu akan hidup untuk selamanya.

David Wahyu Hidayat

03
Jan
18

Ulasan Album: Gypsea – Chameleon Delight 

Gypsea

Chameleon Delight

Buatan Records 2017

Gypsea adalah Jeffry Kartika, dan singer/songwriter asal Jakarta ini memiliki sebuah misi melalui debut albumnya Chameleon Delight. Bangkit dari puing-puing Gunver, sebuah band indie dari Jakarta yang pernah menelurkan album berjudul “Wonders of Enlightenment” di tahun 2010; Jeffry Kartika menghasilkan debut album yang inspiratif, penuh variasi serta eksplorasi dari berbagai macam genre seperti pop-rock, vibrasi Jazz, dan elemen-elemen world music; yang membuatnya seperti sebuah kumpulan musik untuk menikmati keindahan milenial dan melawan kegaduhan dystopia yang menyertainya.

Album ini diawali oleh Clouded By Mermaids yang menghanyutkan dengan efek suara orkestrasi yang megah, membuat yang mendengarkannya seperti dibawa ke pesisir pantai yang indah pada saat matahari terbenam. Suasana menyenangkan tersebut dilanjutkan dengan Feet Wet, yang juga merupakan salah satu single dari Gypsea. Pada lagu inilah kejeniusan Jeffry Kartika sebagai seorang penulis lagu mulai ditunjukkan. Karena lagu ini adalah definisi indie-pop yang akan dicintai generasi 90an dan para milenial bersamaan, dengarkan break gitar pada menit 02:06 dan kita semua akan berdansa penuh endorfin diiringi lagu ini.

Setelah diselingi Floriene yang membiuskan, groove itu dilanjutkan pada Passion for The Pacific yang dapat dijadikan sebuah soundtrack musim semi menyenangkan di mana matahari bersinar hangat dan semuanya terasa benar pada tempatnya. Permainan emosi antara lagu tenang dan menghentak penuh semangat dilanjutkan pada dua lagu berikutnya, yaitu Rattle The Stars dan Bias. Yang pertama dengan alunan Piano manis seperti sebuah mimpi indah yang kekal, yang kedua adalah definisi optimisme rock dari Gypsea yang dihantarkan tanpa basa-basi dan menghujam seperti jab Muhammad Ali, sambil meluapkan inti jiwa yang meledakkan langit.

Bias seperti memulai bagian kedua di dalam Chameleon Delight, jika 5 lagu pertama menampilkan keindahan milenial dengan segala optimismenya, paruh kedua album ini layaknya adalah bayangan zaman ini dengan segala kecemasan, kegilaan namun di antara semua itu terdapat harapan yang belum sirna. Forever Beautiful adalah sebuah pyschedelic rock menyambut dystopia yang akan datang dan mendengarkannya seperti mendengar perpaduan Unkle, The Chemical Brothers dan Kasabian dalam satu lagu. Lagu tersebut disusul dengan War Is Spiritual yang dibalut permainan synth seperti hendak memanipulasi alam pikiran. Trilogi dystopia pada album ini ditutup oleh Lick the Paint dengan pola bas yang mendeterminasi pendengaran kita, meresahkan namun menyuntikkan adrenalin sekaligus.

Dengan ritem gitar yang renyah dan melodi menggoda, Sunny Youth adalah Gypsea dalam wujud paling pop yang ditampilkan album ini. Mendengarkannya seperti mendengarkan harapan dan hal-hal baik yang akan menyertainya. Chameleon Delight lalu ditutup dengan Let Me Go yang mengalun lembut dan mengembalikan optimisme seperti ketika kita mendengar lagu pertama album ini.

Jeffry Kartika aka Gypsea menghantarkan sebuah debut album yang solid dengan Chameleon Delight. Seperti dianjurkan nama album itu sendiri, ini adalah album yang penuh dengan elemen-elemen membahagiakan. Mendengarkannya seperti sebuah perjalanan indah yang tidak pernah hambar, kadang ia membuai, kadang ia menerjang, dan sering ia membuat kita menari dan tersenyum di sebuah kota metropolis yang kita cintai. Album ini adalah sebuah permulaan.

David Wahyu Hidayat

Stream Gypsea (Chameleon Delight) Full Album:

Apple Music: https://itunes.apple.com/id/artist/gypsea/id1275629792

Social media:

Youtube: http://www.youtube.com/gypseaband

Soundcloud: http://www.soundcloud.com/gypseaband

Instagram: http://www.instagram.com/gypseaband

Twitter: http://www.twitter.com/gypseaband

Facebook: http://www.facebook.com/gypseaband

31
Des
17

Favorite Tracks & Albums 2017

Tracks:

Albums:

28
Agu
17

Ulasan Album: Zat Kimia – Candu Baru

​Zat Kimia

Candu Baru

Hampir setahun berlalu sejak saya menyaksikan band menjanjkkan asal Bali ini di panggung Amphitheater, Soundrenaline Festival. Kemarin (27.08.17) band ini, Zat Kimia menelurkan album mereka yg bertajuk Candu Baru.

 
Segala ingatan saya akan impresifnya band ini dikonfirmasi oleh album tersebut. Dengan lagu-lagu yg mengingatkan akan kesolidan alternatif rock era 90-an, Zat Kimia menebarkan substans berbahaya terutama dalam lagu seperti Ennui, Frekuensi dan tentunya lagu yang juga menjadi judul album mereka: Candu Baru.

 
Dibandingkan dengan demo yang telah berotasi di dunia maya sebelumnya, lagu Candu Baru terdengar lebih ganas dengan hentakan drum yang menggulung bertubi-tubi dan serangan gitar seperti datang dari arena perang. Dan dengan tema dunia virtual yang membawa kita menjadi pemadat maya, lagu ini adalah pernyataan zaman yang paling relevan saat ini.

 
Sebuah debut solid dari band hebat, selamat datang Zat Kimia.

David Wahyu Hidayat

#CanduBaru

#ZatKimia

01
Agu
17

Panduan Pemula: The Smiths

Menurut Rolling Stone, The Smiths bubar 30 tahun yang lalu di minggu ini, dan mereka pun mengeluarkan sebuah daftar seluruh 73 lagu dalam katalog band legendaris asal Manchester ini dari yang paling tidak disukai sampai yang paling pamungkas (http://www.rollingstone.com/music/lists/the-smiths-morrissey-marr-rob-sheffield-ranks-all-73-songs-w492371)

 

Di samping itu, sebuah film yang menceritakan asal muda Morrissey sang vokalis kharismatik namun penuh kontroversi akan segera dirilis

Kedua hal itu, menggugah saya untuk mengkompilasi 10 lagu favorit saya dari band ini, dengan harapan bisa menjerat kalian yang belum pernah mendengar mereka jatuh cinta pada mereka, dan bagi mereka yang memang sudah tahu semakin mencintai The Smiths.

Inilah lagu-lagu yang menurut bahasa mereka sendiri “the songs that saved your life”

This Charming Man (dari album The Smiths)

Inti dari The Smiths adalah permainan gitar Johnny Marr dengan melodi-melodi yang menggelitik manis dan lirik Morrissey yang meskipun terdengar nyeleneh tetapi terlalu dekat dengan realita kehidupan kita. Dengarkan intro gitar lagu ini, lalu dengar Morrissey menyanyikan “I would go out tonight, but I haven’t got a stitch to wear”. Jika seseorang tidak menjadi bahagia mendengar lagu ini, sesungguhnya dia telah terhilang.

 

Still Ill (dari album The Smiths)

Intro seperti suara kereta api, lirik mengagumkan tentang memiliki sebuah negara (dalam hal ini Inggris), dan pertanyaan “Does the body rule the mind, or does the mind rule the body” adalah sebuah keadaan yang sama relevannya dinyanyikan di tahun 1983, dan di tahun 2017, di tengah-tengah kegilaan politik populis dan kecanduan virtual kita.

 

William,  It Was Really Nothing (dari Hatful of Hollow)

Banyak gitaris datang dan pergi mencoba meniru apa yang dilakukan Johnny Marr dengan gitarnya, dan sedikit pun tidak ada yang pernah setidaknya mendekati hari terburuknya. Johnny Marr adalah legenda, dan lagu ini adalah salah satu legasinya.

 

Ask (dari Louder Than Bombs)

“Shyness is nice, and Shyness can stop you From doing all the things in life You’d like to… Because if it’s not Love Then it’s the Bomb, the Bomb, the Bomb, the Bomb, the Bomb, the Bomb, the Bomb That will bring us together”. Untuk para introvert, extrovert dan seluruh umat manusia di muka bumi ini.

 

Stop Me If You Think You’ve Heard This One Before (dari Strangeway, Here We Come)

Walau judulnya terdengar tengik dan mengumbar kesombongan, lagu ini punya hak untuk mengklaimnya, karena jika seorang seperti Mark Ronson, mencomot lagu ini dan mengkomposisi versinya sendiri, maka kita semua akan tahu kekuatan pop lagu-lagu The Smiths.

 

Half A Person (dari Louder Than Bombs)

Kita semua pernah berumur 16, kikuk, dan punya mimpi untuk meninggalkan kota kelahiran kita dan tinggal di tempat yang lebih baik. Dengan lirik ” Sixteen, clumsy and shy,  I went to London and I, I booked myself in at the Y… W.C.A. I said : “I like it here – can I stay?” lagu ini mengingatkan kita akan mimpi yang tak pernah sirna itu.

 

Heaven Knows I’m Miserable Know (dari Hatful Of Hollow)

Lagu ini adalah satir kehidupan awal 20an di mana kehidupan setelah kuliah tidak selalu indah, di mana bertutur kata manis dan tersenyum terhadap orang yang mencelakakan kita adalah norma palsu yang dijalani. Tetapi melodi lagu ini sangat manis mengalun sehingga kita hanya dapat tersenyum dan menjalankan kehidupan kembali, karena apapun yang terjadi, surga tahu bahwa kita sedang berantakan, tetapi yang di atas akan selalu menyertai.

 

Cemetery Gates (dari The Queen Is Dead)

Tidak pernah lagu yang bercerita tentang pertemuan di pintu kuburan dan para sastrawan (Oscar Wilde!!!) terdengar semelodik ini dan mampu membangkitkan endorfin ke tingkat maksimal seperti lagu ini.

 

There Is A Light That Never Goes Out (dari The Queen Is Dead)

Lagu ini yang membuat saya jatuh cinta pada The Smiths. Mendengarnya di sebuah fajar musim semi di pertengahan 20an, ketika udara pagi pertama kali menembus paru-paru dan sinar mentari menerpa wajahmu, seakan untuk pertama kalinya seluruh kehidupanmu menjadi masuk akal. Jika diteliti lebih lanjut lagu ini sangat depresi liriknya (tentang mati ditabrak bis tingkat di sebelah orang yang dikasihi), tetapi pagi itu saya percaya akan ada selalu cahaya yang tidak akan pernah sirna.

 

Asleep (dari Louder Than Bombs)

Jika waktu saya meninggalkan dunia ini kelak tiba, siapapun harus memutar lagu ini di pemakaman saya. Karena mendengarnya mendatangkan kedamaian. “Sing me to sleep, Sing me to sleep, I’m tired and I want to go to bed… I want you to know Deep in the cell of my heart I will feel so glad to go… There is another world, There is a better world, Well, there must be… Bye Bye…”

 

David Wahyu Hidayat

 




Februari 2019
S S R K J S M
« Des    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Categories

Blog Stats

  • 150.258 hits
Iklan