Archive for the 'The S.I.G.I.T' Category

13
Nov
16

Impresi 2 hari di Soundrenaline Festival 2016

Di awal September lalu, tepatnya pada 3 & 4 September 2016, melalui sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Rolling Stone Indonesia tentang konser terbaik yang pernah disaksikan, saya berkesempatan menyaksikan Soundrenaline Festival setelah terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi tersebut. Pemenang lainnya adalah: Tantan Rahmatullah (https://konstelasikata.wordpress.com/) & Adam Muslihat Santika Putra (https://sayabercengkerama.wordpress.com/).

Kami bertiga diberangkatkan oleh Rolling Stone Indonesia dan selama dua hari memiliki pengalaman tak terlupakan menyaksikan festival terbesar negeri ini sekaligus berkenalan sedikit tentang sisi jurnalisme musik dari teman-teman Rolling Stone Indonesia yang menemani kami. Sebagai “reporter tamu” kami pun diberikan pekerjaan rumah untuk menulis liputan dari Soundrenaline 2016. Di bawah ini adalah impresi saya dari dua hari menghadiri festival terbesar Indonesia itu.

kolase-soundrenaline

Liputan saya tentang Soundrenaline 2016 yang dimuat di situs rollingstone.co.id :

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/26/140509678/1093/binar-hidup-bergelora-dalam-balutan-adrenalin-suara-soundrenaline-2016

rolling-stone-indonesia-binar-hidup-bergelora

Liputan dari Adam dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509679/1093/soundrenaline-2016-gagasan-bersejarah-kancah-musik-indonesia

Liputan dari Tantan dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509680/1093/di-bawah-bendera-musik

Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 yang menampilkan kami bertiga sebagai pemenang kompetisi menulis tersebut:

rsi-oktober-2016-soundrenaline-2016

David Wahyu Hidayat

31
Okt
16

Impresi dari 3 hari di Synchronize Festival 2016

Rhoma Irama: Kharisma tanpa batas atas kecintaan tanah air dengan musik yang mampu menggoyangkan semua pecinta musik tanpa terkecuali.

Barasuara: Masih tidak tergoyahkan posisinya sebagai band paling menggemparkan saat ini.

The Trees & The Wild: Magis & monumental, momen favorit pribadi 3 hari kemarin.

Efek Rumah Kaca: Tiap konser ERK dengan formasi lengkap adalah sesuatu yang istimewa.

The Milo dan Heals: 2 band ini meneruskan tradisi dan persepsi bahwa band shoegaze terbaik Indonesia adalah dari Bandung.

The Upstairs: Jimi Multhazam adalah pencerita handal dan bandnya selalu berhasil membuat anak indie disko darurat di manapun kapanpun.

Scaller: Apalagi yang mau dikatakan tentang band ini? Mereka adalah masa kini dan masa depan! 

Pure Saturday: Menutup Jumat malam dan memulai hari Sabtu dengan bahagia adalah esensi Pure Saturday.

Payung Teduh dan Float: Di tengah hingar bingar Festival, musik dari 2 band ini bagai oase yang sejuk dan menenangkan.

Elephant Kind: Terkendala gangguan teknis pada gitar utama mereka, membuat penampilannya di minggu sore sedikit tersendat. Untungnya mereka punya lagu yang membuat penonton berinteraksi seru khas generasi milenial yang membuat penampilan itu berkesan.

Kelompok Penerbang Roket: Liar dan gas penuh tanpa rem, seperti yang selalu diharapkan dari mereka. 

The SIGIT: Rok n’ Rol bukanlah hanya sebuah konsep, The SIGIT itu perwujudannya.

The Brandals dan The Adams: Banyak hal yang menjadi ciri khas Jakarta, dari yang baik maupun buruk. Entah kenapa 2 band ini selalu identik dengan kebaikan ibukota di kepala saya, tidak terkecuali waktu mereka tampil pada hari kedua di Synchronize Festival.

FSTVLST: Barely art, almost rock. Impresif sesuai dengan slogan mereka. 
Rock n’ Roll Mafia: Band ini tidak pernah benar-benar ada di radar saya, dan ini akan berubah sejak penampilan mereka di hari ketiga.

90’s Hiphop All Star: Siapa yang menyangka beat dan rentetan lirik dari para rapper paruh baya mampu mengguncang Kemayoran dengan hebat.

Terlepas dari kendala teknis yang dialami beberapa band di panggung utama, ini festival yang seru di mana seluruh genre melebur dalam atmosfir menyenangkan. Mudah-mudahan pergerakan ini berlanjut di tahun mendatang.

David Wahyu Hidayat 

07
Agu
13

Ulasan Album 2013 – Bagian 2: Peace, The S.I.G.I.T, Pandai Besi, Phoenix, Vampire Weekend

Inlovepeacealbum

Peace – In Love

Rilis: 25 Maret 2013

 

Dari sekian banyak band baru yang bermunculan di Inggris, mungkin Peace adalah salah satu band yang dapat membuat gebrakan dalam panjang gelombang yang sama seperti Two Door Cinema Club di tahun 2010 lalu. Fakta pendukungnya dapat kita otopsi dalam album pertama mereka “In Love”. Dengan berbekal kenaifan “Tomorrow Never Knows”, album tersebut dibuka dengan “Higher Than The Sun” sebagai pertanda hal-hal baik akan mengikuti setelahnya. Album ini menampilkan banyak sisi yang dapat dieksplorasi seperti jiwa funkadelic pada “Waste Of Point” atau melodi bak pop evergreen membawa perasaan damai pada “California Daze”. Benar sebenar-benarnya, masa depan nampak cerah untuk band asal Worcester ini.

Track esensial: Higher Than The Sun, Waste Of Paint, California Daze

 

 

 

TheSigit_Detourn

The S.I.G.I.T – Detourn

Rilis: 15 April 2013

Ke mana perginya semua band Indonesia yang masih dengan sejatinya dapat menunjukkan kedigdayaan rock ‘n’ roll negeri ini? Apakah mereka semua termakan potret diri narsisisme dengan kiblat pop timur jauh, sampai-sampai Rekti dkk, harus kembali turun gunung untuk menampilkan keberbahayaan rock ‘n’ roll ? “Detourn” adalah album yang dikemas dengan berani dan padat dengan riff-riff solid sebagai pembuktian diri bahwa mereka bukanlah hanya sensasi sesaat.

 

Track esensial: Let The Right One In, Tired Eyes, Black Summer

Pandai Besi

Pandai Besi – Daur Baur

Rilis: 19 April 2013

 

Menjelang record store day tahun ini, saya mendapatkan paket bukti sejarah hasil sebuah sebuah projek crowdfunding. Paket itu adalah sekeping CD Efek Rumah Kaca, atau dalam projek ini dengan tambahan beberapa musisi lain menamakan dirinya Pandai Besi; yang merekam ulang 9 lagu mereka di studio rekaman legendaris Lokananta, Solo. Di dalamnya adalah sebuah cetak biru generasi tanah air saat ini, dan tentu saja kesembilan lagu tersebut adalah kisah mengagumkan yang berpotensi menjadi klasik di masa mendatang. Album ini adalah usaha melawan lupa, usaha memelihara sejarah dan menjadi Indonesia sesungguhnya.

 

Track esensial: Menjadi Indonesia, Laki-laki pemalu, Jalang

 

 

Phoenix_-_Bankrupt!_cover

Phoenix – Bankrupt

Rilis: 19 April 2013

 

Kehidupan versi Phoenix seperti tidak pernah mengalami kepanikan atau hari kelabu. Kehidupan versi Phoenix selalu disajikan dengan penuh warna dan keceriaan. Semua tercermin dari keseluruhan rilisan album mereka maupun konsernya. Tidak terkecuali “Bankrupt”. Tetap dengan pola setia yang mereka usung memadukan synth dan gitar dalam irama-irama semi upbeat yang akan mengubah hari paling mendung menjadi musim semi di Paris. Untuk itu mereka ada dalam kehidupan kita, dan untuk itu kita mencintai band ini.

 

Track esensial: S.O.S In Bel Air, Trying To Be Cool, Drakkar Noir

 

 

Vampire_Weekend_-_Modern_Vampires_of_the_City

Vampire Weekend – Modern Vampires Of The City

Rilis: 14 Mei 2013

 

Salah satu konser yang dapat saya nikmati dalam 5 tahun terakhir adalah konser Vampire Weekend tahun 2010 lalu. Mendengarkan Vampire Weekend otomatis memicu semua hormon endorphine untuk rileks dan melupakan segala sesuatu yang mengusik kita. “Modern Vampires Of The City” meneruskan tradisi tersebut. Masih dengan bunyi-bunyian pop-etnik mereka, ditambah dengan seruan unik (“Ya Hey”), ini adalah album yang akan kita dengarkan 10.000 kaki di atas permukaan bumi, menuju destinasi liburan kita, dan berharap tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di kota yang kita tinggali, yang sudah terlalu penuh dengan vampir-vampir yang menggerogoti kehidupan urban kita.

 

Track esensial: Step, Diane Young, Ya Hey

 

16
Agu
09

Album Review: The S.I.G.I.T – Hertz Dyslexia

Hertz Dyslexia

The S.I.G.I.T

Hertz Dyslexia

FFWD Records – 2009

Salah satu majalah musik terbesar negeri ini, mendeskripsikan “Bhang”, salah satu lagu yang terdapat di EP “Hertz Dyslexia” dari The S.I.G.I.T sebagai sebuah komedi dan tidak terdengar seksi. Mungkin mereka lupa, kalau rock ‘n’ roll bukanlah sesuatu yang bisa dianalisa tingkat kecerdasannya. Rock ‘n’ roll berarti, apakah musik yang kita dengar akan menggerakkan kita atau tidak, menginspirasikan atau tidak. Bukan untuk diteliti nada per nada apakah semuanya akan menjadi kesatuan atau tidak, sesederhana itu.

Karena yang sebenarnya terjadi, “Hertz Dyslexia” adalah EP yang mengispirasikan dan akan menggerakkan kita waktu mendengarkan 7 lagu yang ada di dalamnya. Semua yang melihat konser Dyslexia 20 Juni lalu akan setuju dengan hal ini. Dimulai dengan “Money Making” yang menggebrak dan disusul dengan “Bhang” yang menggoda naluri liar kita, The S.I.G.I.T menampilkan wujud rock ‘n’ roll murni yang akan membuat kita bangga terlahir di negara ini. Mungkin bila majalah tersebut tidak terlalu sibuk menganalisa seruling yang dipakai Rekti di “Bhang”, mereka akan menyadari hal tersebut.

Sebuah nomor dari Neil Young “Only Love Can Break Your Heart” diikutsertakan di EP ini, dan hampir-hampir kita dapat merasakan kepiluan melodi lagu itu, mendengarkan jernihnya gitar akustik yang dimainkan di sana. Sebuah cover version yang sangat berhasil. Keheningan dalam lagu ini kemudian dipecahkan dengan “Verge Of Puberty” dan “The Party” yang kembali mengguncang kita dengan pembombardiran riff-riff dasyhat dalam kedua lagu tersebut.

“Midnite Mosque Song” yang dalam beberapa penampilan live The S.I.G.I.T menfiturkan Farri memainkan tungkai gesek biola dan riff yang terdengar seperti “Babe I’m Gonna Leave You” Led Zeppelin, terdengar sedikit berbeda dalam versi rekamannya. Dengan atmosfir sendu dan misterius, lagu ini menutup EP tersebut dengan perlahan dan gemilang. “Hertz Dyslexia” adalah bukti rekaman band paling ambisius Indonesia pada saat ini. Mereka telah membuktikannya dalam penampilan yang selalu optimal dalam rangkaian konser mereka, dan EP ini juga menjadi pembuktian lainnya, sebelum kita dihempaskan lagi dengan langkah dan sepak terjang mereka selanjutnya.

David Wahyu Hidayat

21
Jun
09

Konser Review: The SIGIT – The Dyslexia Concert – Bandung, The Venue Eldorado, 20 Juni 2009

The S.I.G.I.T

The Dyslexia Concert

Bandung – The Venue, Eldorado

20 Juni 2009

Band Pembuka: Jack & Four Men, Monkey To Millionaire, Speaker 1st

IMG00026-20090620-2112 - Copy

Sabtu Malam, 20 Juni 2009. Langit Bandung bertaburkan bintang, udara sejuk menembus kulit dan tulang sekitar 3000 orang yang berbalutkan kaos dan aksesoris lain, memproklamirkan diri mereka sendiri untuk melakukan sebuah pemujaan kepada suatu wujud bernama rock ‘n’ roll. Di dalam gedung The Venue, Eldorado Bandung, sebuah panggung besar telah siap untuk penyembahan tersebut, lengkap dengan kain latar belakang raksasa yang menjadi sentral dari pemujaan yang akan terjadi selama 2 jam berikutnya. Kain itu bergambarkan sebuah lingkaran yang dikelilingi dengan sambaran petir, di dalamnya tertera rangkaian kata yang bertuliskan The Super Insurgent Group Of Intemperance Talent. 2 buah kata di bawahnya tertulis alasan mengapa kita semua berada di sana malam itu: “The Dyslexia” merujuk kepada kepingan musik bernama “Hertz Dyslexia” yang dirilis pada malam konser tersebut. Semuanya terasa benar, seakan tidak ada plot yang lebih tepat lagi untuk mengungkapkan ambisi. Untuk The SIGIT, malam itu adalah saatnya. Di The Venue, Eldorado Bandung malam itu mereka menunjukkan ambisi untuk menampilkan visualisasi dari kesempurnaan ide mereka. Ide itu tidak lain dan tidak bukan bernama: Rock ‘n’ Roll.

Perayaan malam itu dibuka dengan “Black Amplifier”, dan lihat 3000 orang di ruangan tersebut menyembah kepada titisan rock ‘n’ roll dalam wujud Acil, Adit, Farri dan Rekti. Sejak menit pertama The SIGIT menampilkan sebuah kesempurnaan. Kalau kita membutuhkan musik yang akan menghempaskan kita berulang kali setiap kali kita mendengarnya, dengarkan mereka malam itu, dan kita semua tidak memerlukan apa-apa lagi di dunia selain musik mereka. Dengan sebuah blitzkrieg, set mereka malam itu diteruskan dengan “Let It Go”, “Horse” dan “Damned Woman” di mana di antara lagu – lagu tersebut, Rekti menyapa semua pasukannya malam itu dengan seruan “Malam ini, di tempat ini, politik dan uang tidak ada artinya”. Dan kita pun menyambutnya, dengan kepalan tangan di udara, berteriak histeris sambil berdansa liar seakan kita telah menjadi pahlawan-pahlawan baru bangsa ini.

Memasuki pertengahan konser Rekti mengganti gitar Gibson SG-nya dengan sebuah gitar akustik, dan mulai memainkan “Provocateur” seperti sebuah kidung untuk jiwa-jiwa yang terselamatkan di The Venue malam itu. Dibantu dengan permainan kibor oleh Sidiq dari Polyester Embassy dalam “Live In New York”, rangkaian nomor akustik itu dilanjutkan. Dengan gedung konser yang lalu dipenuhi cahaya bintang artifisial berwarna putih dan biru merefleksikan langit Bandung malam itu, lagu tersebut terdengar lebih dari hanya sekedar impian fana. Mendengarnya malam itu, kita dibuat untuk percaya bahwa sesuatu yang magis akan terjadi bila kita cukup percaya untuk meyakininya dan membuatnya terjadi. The SIGIT lalu melanjutkannya dengan sebuah nomor dari Neil Young berjudul “Only Love Can Break Your Heart” yang juga terdapat di “Hertz Dyslexia” EP.

IMG00032-20090620-2114

Puas dengan ekskursinya malam itu ke area akustik, The SIGIT menggebrak lagi dengan “Alright” dan “The Party”, di mana di lagu yang disebutkan terakhir Acil seperti kesetanan menggebuk perangkat drumnya, bertarung tanpa henti dengan perangkat yang ada di depannya seperti hendak meruntuhkan dinding The Venue. Sebuah lagu lain dari “Hertz Dyslexia” berjudul “Bhang” menampilkan sisi kecermatan The SIGIT dalam mengusung rock ‘n’ roll. Di tengah teriakan Rekti dan raungan gitar Farri, Rekti memainkan suling/rekorder, menimbulkan sisi kejutan dalam dinamika lagu tersebut.

Akhir dari set utama The SIGIT malam itu diawali dengan “Did I Ask Your Opinion” yang dipenuhi dengan seruan massal pasukan The SIGIT untuk menjual jiwanya kepada rock ‘n’ roll. Setelah lagu itu, dengan dibagikannya puluhan tamburin kecil, Rekti mengajak penonton untuk melakukan jamming raksasa pada lagu terakhir di set utama tersebut “Nowhere End”. Kita semua tidak tertahankan lagi menjadikan malam itu sebagai sebuah perayaan tanpa henti. Di atas panggung seluruh anggota band pembuka malam itu, Jack & Four Men, Monkey To Millionaire, Speaker 1st serta Sidiq juga ikut berpartisipasi dalam perayaan itu, dengan menabuh perkusi dan segala sesuatu yang bisa dipukul, menjadikan lagu itu sebagai pamungkas yang layak untuk set utama mereka.

Dengan tak dibiarkan menunggu lama, The SIGIT kembali ke panggung untuk menusuk kembali jiwa kita dengan “Clove Doper” dan “Soul Sister”. Rekti dan Farri kembali berduel gitar, masing-masing berusaha menaklukkan yang lainnya, tapi yang terdengar oleh kita adalah keduanya keluar sebagai pemenang yang menaklukkan telinga dan hati kita. Dihabisi dengan “Money Making”, mata uang The SIGIT menghujani penonton dari langit-langit The Venue. Selesai sudah dua jam penuh ambisi dan kemagisan. Sebuah kesempurnaan yang seperti datang dari negara lain. Kita hanya tersungkur kagum terkesima akan keajaiban yang baru saja dialami.

Di luar, langit Bandung masih terhiasi dengan kumpulan bintang yang menyinari kita semua, orang – orang beruntung yang telah menjadi bagian dari sesuatu yang spektakuler. The SIGIT membuktikan, tidak akan pernah ada kata terlalu kecil untuk memenuhi sebuah ambisi. Mereka telah membuat diri mereka sendiri menjadi besar melalui konser tersebut, dalam skala pertunjukkan itu diadakan, dengan kesempurnaan dalam musik yang mereka mainkan. Kita semua adalah saksi mereka malam itu. Sebarkan ini ke semua orang di luar sana.

David Wahyu Hidayat

10
Mei
09

Konser Review: The S.I.G.I.T – Jakarta, 09 Mei 2009

The S.I.G.I.T

Jakarta – Kamasutra, Crowne Plaza Hotel

Sabtu, 09 Mei 2009

IMG00131-20090509-2216


Bila dibandingkan dengan Ricky Hatton, Manny Pacquiao terlihat terlalu religius untuk ukuran seorang pembunuh di atas ring tinju. Tapi sengatannya membuat “The Hitman” asal Manchester itu terkapar setelah 2 ronde. Menusuk tajam bagai kilat yang tak terdeteksi. Dalam analogi yang sama, mungkin tidak akan pernah ada yang menyangka kalau dengan kepercayaan 4 orang terhadap sesuatu bernama rock ‘n’ roll, sebuah grup pemberontak super dengan intemperasi talen asal Bandung bisa sampai ke Amerika Serikat untuk memainkan musik yang datang dari sudut paling dalam jiwa mereka. The SIGIT telah menjadi sebuah fenomena dalam artiannya sendiri, sebelum ada orang yang sempat mengira bahwa mereka sebenarnya sudah terlalu kecil untuk bermain di kolam musik yang sama dengan band – band lokal lainnya.

Sabtu malam itu, tanggal 09 Mei 2009, jauh dari kehingarbingaran SXSW di Texas, dalam sebuah acara yang diusung oleh FHUI untuk mendukung penyelamatan hutan tropis, di sebuah hotel di jantung Ibukota yang mungkin terlalu steril untuk menunjukkan keganasan rock ‘n’ roll, The SIGIT melakukan pembuktian akan label fenomena yang dilekatkan ke diri mereka. Dalam sebuah set yang terlalu pendek sepanjang 40 menit, The SIGIT menunjukkan mengapa mereka adalah Manny Pacquaio di dunia rock ‘n’ roll ini. Lupakan Jet, Mando Diao, dan band – band sekunder lainnya di dunia ini. Mengapa harus mengacu ke mereka, kalau kita dapat memuja The SIGIT dalam segala kebesaran mereka?

Mengawali set malam itu dengan “Clove Doper”, The SIGIT langsung menggebrak, tidak peduli akan sekitar, raungan gitar mereka memenuhi setiap sudut gelap Kamasutra. Dari awal mereka sudah menunjukkan totalitas, Rekti menyanyi seakan ia esok akan lenyap dari muka bumi ini, diculik oleh manusia Mars untuk melakukan pertunjukkan rock ‘n’ roll di planet merah itu. Di ujung sebelah kanan panggung, Farri berbaku hantam dengan kapak enam senarnya yang berwujud sebuah Gibson Les Paul berwarna emas, mengeluarkan rif – rif maut. Di sebelah kiri, kita menemukan seorang rock star sejati dalam diri Aditya Bagja Mulyana, sang pemain bas. Di belakang, Donar menggempur drumnya tanpa ampun. Serangan penuh hasrat itu dilanjutkan dalam lagu – lagu selanjutnya seperti “Alright” dan “The Party”.

Memasuki “Soul Sister” The SIGIT mencoba membuat manusia-manusia muda yang hadir di Kamasutra untuk menaikkan temperatur emosionalnya menuju titik didih, dengan vokal Rekti yang melengking tinggi dan koor “La la la la la la..La la la la la la la”, seakan merobek kebuntuan sonik yang sebelumnya tercipta sebelum mereka naik ke panggung. Di gig malam itu, mereka juga memainkan beberapa lagu baru dari album kedua yang akan segera dirilis, salah satunya adalah “Money Making” dengan rif pembunuh serial yang menikam pendengaran dengan belati suara bermata dua dari suara gitar Farri dan Rekti.

The SIGIT menyudahi set mereka dengan “Black Amplifier”. Malam yang terlalu pendek untuk sebuah pesta rock ‘n’ roll, tapi seperti layaknya seorang Manny Pacquiao yang hanya butuh 2 ronde, The SIGIT hanya butuh 40 menit lebih atau kurang untuk mengkanvaskan kita semua ke dalam impian menuju surga rock ‘n’ roll. Malam itu kita menyaksikan kemenangan rock ‘n’ roll terhadap kebosanan skena musik lokal. KNOCK OUT!!!

David Wahyu Hidayat

27
Jan
08

Album Review: The S.I.G.I.T – Visible Idea Of Perfection

the-sigit-visible-idea-of-perfection.jpg

The S.I.G.I.T

Visible Idea Of Perfection

FFCuts Records – 2006

Di tahun 2005 NME mendeskripsikan musik The S.I.G.I.T sebagai “Scorching Gonzo Zep Rock”, di tahun 2007 mereka menandatangani kontrak dengan salah satu perusahaan rekaman Australia bernama Caveman! untuk pendistribusian “Visible Idea Of Perfection” di negara kanguru tersebut, yang disusul dengan tur Australia. Di tahun 2008, mereka akan manggung di SXSW Festival di Austin, Texas, Amerika Serikat. Sebuah perhelatan yang terkenal menjadi barometer untuk band – band baru yang nantinya akan memenuhi ruang semesta musik di kepala kita. Masih adakah sesuatu yang dapat mengerem sepak terjang The S.I.G.I.T?

Sekilas memang perjalanan karir band asal Bandung ini terlalu mulus untuk ukuran sebuah band yang pada awal karirnya sering membawakan lagu – lagu The Stone Roses dan The Seahorses di bawah nama The Cinnamons. Tapi disimak sekali lagi dengan cermat, perjalanan impian The S.I.G.I.T ini didukung oleh sebuah album yang solid dan penuh dengan permainan gitar virtuoso yang memang dalam setiap momennya terdengar mega, baik dalam suara maupun perasaan yang hadir waktu mendengarkannya.

Tak bisa dipungkiri lagi riff – riff bombastis yang ada di “Visible Idea Of Perfection” dipengaruhi oleh tandatangan Jimmy Page. Dimulai dengan “Black Amplifier” yang menendang nafsu, The S.I.G.I.T seperti tidak mempedulikan kalau musik mereka mungkin terlalu retro, di saat di mana setiap manusia sudah tidak peduli lagi akan sesuatu yang bernama Garage Rock. Tapi mereka tidak ambil pusing. Liukan gitar dan teriakan dalam “Black Amplifier” mengawali album ini dengan tempo yang tepat, mencoba untuk mengambil komando akan apa yang akan didengar di lagu-lagu setelahnya.

Horse” diisi dengan perpaduan dinamis keempat personil The S.I.G.I.T (Rektiviaton Yoewono – Vox & Gitar, Aditya Bagja Mulyana – Bas & Vox, Farri Icksan Wibisana – Gitar & Vox, Donar Armando Ekana – Drums) mengundang pendengarnya untuk berdansa seliar yang pernah mereka kenal. “No Hook” yang ditulis berdasarkan kefrustasian mereka waktu belum mendapatkan kontrak rekaman, mencerminkan keempat pemuda tersebut sedang mencumbu satu sama lain dengan instrumen mereka masing – masing. Sedangkan “Live In New York” adalah sebuah nomor akustik tentang impian akan kehidupan yang lebih baik di sebuah kota dunia bernama New York.

Lagu tersebut dilanjutkan dengan sebuah nomor berjudul “Clove Doper” yang membahayakan jiwa, seperti lusifer yang menghasut kita untuk tenggelam dalam kehidupan hedonisme tiada henti. Diselingi dengan sebuah lagu tentang pengalaman teman mereka dengan seorang waria yang diberi judul “Soul Sister” The S.I.G.I.T lanjut menghantam kita dengan “Save Me” yang penuh dengan teriakan berisikan hook. Mereka tidak berhenti di situ saja, serangan terhadap hormon ekstase kita dilanjutkan dalam “Let It Go”. Dengarkan solo gitar lagu ini yang dimulai pada menit 02:30 dan siap-siaplah untuk terkesima.

All The Time” adalah sebuah proklamasi untuk hidup selamanya yang bersanding sangat pantas dengan lagu yang mengikutinya “Alright”, karena di lagu ini The S.I.G.I.T memberikan kita sebuah format kepercayaan baru bernama Rok ‘N Rol, seperti mengantarkan pesan kalau tidak ada yang lebih penting dari hidup ini selain percaya bahwa semuanya menuju ke sesuatu yang lebih baik.

The S.I.G.I.T telah berhasil memberikan sinyal kedashyatan sepak terjang mereka melalui “Visible Idea Of Perfection”. Cepat atau lambat, musik mereka akan menginfeksi bukan hanya orang – orang di negara tecinta ini, tetapi juga mereka yang di luar sana, seperti sebuah epidemi yang tak terelakkan. Apalagi yang ditunggu dunia?

David Wahyu Hidayat




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,070 hits