Posts Tagged ‘RilisanLokal

08
Jan
17

Ulasan Album: Scaller – Senses

scaller-album-cover-jpeg_orig

 

Scaller

Senses

Swarilis – 2017

 

01 Januari 2017, semua hingar bingar pergantian tahun sudah berlalu. Bersamanya terkubur juga segala kegaduhan dalam kehidupan kita di tahun yang telah silam. Bertepatan dengan datangnya fajar, terhantarkan sebersit harapan akan waktu-waktu yang masih akan dijalani di tahun yang masih perawan ini. Salah satu bentuk harapan baru itu datang dalam bentuk debut album Scaller, Senses.

 

Siapapun yang pernah menyaksikan penampilan Scaller secara langsung, akan tanpa ragu sepakat bahwa duo yang terdiri dari Stella Gareth & Reney Karamoy ini adalah sebuah band yang masuk dalam kategori muda dan berbahaya. Setiap gig mereka bagaikan erupsi-erupsi yang tidak dapat dihindarkan memompa adrenalin mereka yang menyaksikannya. Penampilan mereka ketat, penuh konsentrasi dan terasa seperti pompaan tenaga yang datang dari batang energi yang diasupkan ke badan di pagi hari. Sewaktu secara mengejutkan tanpa basa-basi mereka merilis debut album mereka pada hari pertama di tahun ini, tentu saja pertanyaan itu tidak dapat dielakkan, yaitu apakah debut album ini bisa mewakili bola api yang mereka pancarkan pada penampilan mereka?

 

Jawabannya terdapat dalam 9 lagu yang diproduksi nyaris sempurna oleh Scaller di debut album perdana itu. Mereka tidak sungkan menunjukkan bahwa memang mereka adalah masa depan, dan mengirimkan pesan bahwa 01 Januari 2017 menjadi istimewa bukan hanya itu adalah awal tahun yang baru, tetapi bahwa pada tanggal tersebut Scaller menancapkan tapal batunya dalam sejarah musik negeri ini.

 

Album itu diawali dengan alunan melotron yang dibayangi oleh suara vokal Stella yang setengah mendesah, setengah menyanyikan lirik The Alarms, sebagai lagu pertama album itu; “Always around me and you, that’s enough and in all the endless nights the collide”, seakan ini adalah sebuah kidung yang memulai keagungan versi Scaller. Tapi keheningan tersebut berakhir di lagu pertama itu. Perlahan, tempo dan suasana Senses menanjak dimulai dengan Flair, yang diawali oleh perpaduan petikan gitar akustik dan efek beruntun yang terdengar angular namun mengecoh dengan serangan efek gitar Reney menjelang akhir lagu.

 

Kekuatan vokal Stella yang kadang mengalun merdu membius, di lain waktu bertenaga seperti hendak merobek jiwanya sendiri dan kita sebagai pendengarnya serta keahlian Reney memainkan segala macam efek gitar sebagai peralatan tempurnya menjadi ciri khas dari Scaller sepanjang album ini. Selain itu mereka juga punya banyak kejutan lainnya, seperti alur lagu yang tiba-tiba berubah dari suara rock alternatif khas 90-an menjadi rentetan gitar yang menjadi ciri khas band asal Inggris Foals di lagu ketiga Move In Silence. Atau suara alat musik sentuh yang dimainkan Stella di awal lagu Senses yang pelan merasuk pikiran sebelum ia menaikkan doanya dalam lantunan nyanyian “I haven’t been alive enough when we gaze into the stars, do you sense the Divine? Everything is right” dibarengi serangan gitar Reney yang menghantarkan kita ke nirvana baru musik alternatif tanah air.

 

Memasuki paruh kedua album itu, Scaller menambahkan bahan bakar yang membakar adrenalin Senses dengan lagu seperti Three Thirty yang bertempo lebih cepat bagaikan sebuah jet yang sedang mengincar sasarannya. Sedangkan dalam A Song dan The Youth, Stella bernyanyi seperti hendak merobek jiwanya untuk menenangkan suara generasinya. Di lagu berikutnya, Upheaval yang merupakan sebuah nomor instrumental, giliran Reney yang mengambil alih Senses. Dengan permainan efek gitar yang saling bersahut-sahutan, Reney seperti sosok seorang master Jedi yang sedang bertarung dengan Sith lord memperebutkan supremasi dalam dirinya sendiri, sedangkan mereka yang melihat pertarungan itu, berdansa menikmati keindahannya.

 

Senses ditutup dengan Dawn Is Coming. Kita yang mendengarkan album ini memejamkan mata sekali lagi sementara mentari mulai memunculkan wajahnya diufuk sana diiringi oleh kelugasan lantunan suara Stella dan tajamnya efek gitar Reney yang memancarkan optimisme. Turut bersamanya adalah sebuah harapan baru bahwa Scaller adalah sebuah masa depan, dan harapan itu tidak mengecewakan melainkan bersinar dengan terangnya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

 

09
Agu
15

Menjadi Indonesia – Rilisan Musik Lokal Favorit Saya, edisi 2015

Rilisan musik lokal favorit 2015

Menjadi Indonesia – Rilisan musik lokal favorit saya edisi 2015

Sudah lewat beberapa tahun, untuk alasan tertentu (apakah itu kemalasan saya sendiri atau memang tidak ada rilisan yang menarik perhatian) saya tidak menemukan musik menarik yang dihasilkan negeri ini. Namun, semuanya berubah tahun 2014 silam. Semenjak akhir tahun lalu saya menemukan musik Indonesia, khususnya band-band indie baru atau reinkarnasi seperti halnya Rumahsakit, menggeliat kembali dalam sosok yang sangat menggairahkan.

Dibantu dengan era distribusi digital yang tidak lagi membatasi kelokalan sebuah rilisan, beberapa band menggebrak melalui dinamika suara dalam musik yang mereka bawakan. Album-album hebat dirilis yang tidak kalah kualitasnya dengan musik dari luar tanah air. Bahkan untuk pertamakalinya sejak entah berapa lama, tahun ini saya lebih banyak membeli musik rilisan band lokal daripada luar negeri.

Rilisan tersebut, meminjam judul single terbaru Efek Rumah Kaca, mengembalikan mosi bahwa pasar benar-benar bisa diciptakan. Kita akan mencintai musik tersebut karena yang kita dengar adalah penyegaran, pencerahan sekaligus ekstase. Album-album yang dirilis pada 2014-2015 di bawah ini (meminjam kembali kata-kata Efek Rumah Kaca) membuktikan memang masih banyak cara menjadi besar, dan musik adalah salah satu caranya. Rilisan musik di bawah ini adalah sebuah upaya mengembalikan jati diri dalam sebuah bangsa dan negara yang sangat membanggakan, yang melebur keragaman menjadi sesuatu yang majestik. Menjadi Indonesia. Dirgahayu.

FSTVLST – Hits Kitsch

Sudah lama saya tidak mendengar album seperti yang diusung band asal Yogyakarta ini. Menamakan konsep mereka almost rock, barely art, FSTVLST memberikan kebahagiaan dengan nuansa folk pada “Menantang Rasi Bintang”, menyuarakan kegelisahan negeri pada lagu pembuka “Orang-Orang Di Kerumunan” atau menebarkan kengerian pudarnya jati diri yang ditelan era yang dihidupinya dalam “Hal-hal Ini Terjadi”. Dan ketika mereka menutup album tersebut dengan sebuah riff gitar The Smiths/Morrissey-eske dalam “Ayun Buai Zaman”, tidak ada kata lain lagi yang patut disematkan pada album ini selain: BRILIAN!

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Ayun Buai Zaman

 

Elephant Kind – Scenarios, a short film by Elephant Kind

EP dari Elephant Kind ini adalah sesuatu yang unik. Sulit memetakan genre musik apakah ini, tetapi yang pasti mereka sangat senang bermain dan bereksperimen dengan komposisi musik di EP tersebut. Mendengarnya berulang-ulang seperti mendengarkan band yang berisikan anggota The Temper Trap dan Vampire Weekend. Ketukan dan bunyi-bunyian etnis yang keluar dari lagu-lagunya terdengar tidak logis tetapi menyenangkan. Sebuah EP yang akan mencerahkan hari-harimu sambil menerawang cerahnya langit ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Scenario III

The Marsh Kids – The Many failings of Bugsy Moonblood

Album ini akan membius dan membawa kalian ke alam mimpi sebelum kalian menyadarinya. Seperti anestesi yang pelan tapi pasti menumbangkan kesadaran, kita tidak akan pernah ingat 13 judul lagu yang ada di album ini, tetapi yang terjadi setelahnya adalah kita akan menyenadungkan nada-nada lagu di album sesaat setelah kita terjaga dari tidur tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika tidak percaya dengarkan saja lagu seperti: “Molly May”, “Fugly Holiday” dan yang paling berbahaya di antara semuanya: “Bentang Bintang”. Bugsy Moonblood akan menjadi mimpi indah kita, menjadi sebuah pelarian dari kenyataan yang terlalu manis.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Bentang Bintang

 

Rumahsakit – +imeless

Ketika tahu Rumahsakit akan mengeluarkan album baru, saya dan seorang kawan penasaran setengah mati akan seperti apa album baru Rumahsakit setelah ditinggalkan sang vokalis Andri Lemes. Setelah mendapatkan CD-nya, dengan sedikit berdebar saya menekan tombol play, dan kekuatiran saya langsung sirna mendengar ketukan pertama di album ini. +imeless adalah sebuah album yang sangat matang, penuh suasana optimisme yang hanya kita kenal dari tahun 90-an. Vokalis boleh saja baru, komposisi lagu boleh berbeda, tetapi Rumahsakit akan tetap selalu abadi.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Apa yang tak bisa

 

The Young Liars – Rue Massena

The Young Liars adalah sebuah gairah muda yang tidak dapat dikontrol adrenalinnya. Sejak dari detik pertama “I Tried and I’m Tried” mereka memberikan sebuah pernyataan di album mereka bahwa hal yang selalu mereka cita-citakan adalah Rock ‘n’ Roll. Letupan demi letupan mereka lontarkan dengan lagu-lagu seperti “One Eyed Jones” dan “Two Wild Ones”. Tetapi mereka juga punya sisi gelap sentimentil seperti yang dilantunkan dalam penutup “Rue Massena”. Jika mereka dapat mempertahankan dan terus menghasilkan karya seperti debut album ini, maka masa depan musik rock Indonesia ada di tangan yang baik.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: I Tried and I’m Tried

Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah/HAAI

Teriakan Bocah adalah sebuah ledakan berdurasi 23 menit dan HAAI adalah tribut untuk Panbers paling psikedelik yang pernah didengar telinga Nusantara. Kesamaan dari dua album tersebut, keduanya dihasilkan dari band paling berbahaya di tanah air saat ini bernama Kelompok Penerbang Roket. Jika ingin mendengar seperti apa suara musik rock Jakarta tahun 2015 dengarkan dan HANYA dengarkan Kelompok Penerbang Roket, suara-suara lainnya tidak relevan untuk saat ini. Kelompok Penerbang Rocket telah menyelamatkan mereka yang masih percaya pada rock ‘n’ roll. Misi itu telah diselesaikan.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Cekipe dari Teriakan Bocah dan Djakarta City Sound dari HAAI

Stars & Rabbit – Constellation

Salahkan televisi masa kini yang mengusik kopi minggu pagi saya ketika menampilkan sebuah duo dengan suara vokalis seperti Bjork yang berselingkuh dengan gitar akustik. Ketika vokal itu berpadu dengan ritem gitar yang renyah, hari Minggu itu terasa lebih damai dari biasanya, hari minggu itu menetramkan hati, menyejukkan jiwa. Bagaimana kemudian setelah saya gali informasinya bahwa duo yang bernama Stars & Rabbit itu pernah melakukan tur promosi album sampai ke negeri Tiongkok dan albumnya di-mastering oleh seorang John Davis yang terlibat dalam proses remaster dari album-album Led Zeppelin dan proyek rekaman band/artis seperti Primal Scream, Prodigy, Lana Del Rey dan Beady Eye; menimbulkan misteri tambahan dan rasa ingin tahu terhadap duo asal Yogyakarta ini. Selanjutnya ketika “Constellation” debut album mereka telah dimiliki, lagu-lagu yang di dalamnya tidak hanya menyejukkan sebuah minggu pagi tetapi juga melepas beban kepenatan hari-hari melelahkan di ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: The House

Polka Wars – Axis Mundi

Fakta bahwa Polka Wars merekam beberapa materi debut album mereka di New York memberikan beban tambahan yang tidak langsung mengatakan bahwa album ini harus istimewa. Kenyataannya Axis Mundi adalah album atmosferik yang pandai memainkan emosi pendengarnya. Mereka bereksperimen tidak hanya dari penulisan lagu tetapi juga dari sisi instrumen, dengarkan saja misalnya saxophone di akhir dari “Mokele” yang menambahkan kesan kelam tapi berkelas atau bunyi-bunyian alat tiup lainnya di “Coraline” yang menimbulkan kesan misterius pada lagu tersebut. Dengan Axis Mundi, Polka Wars telah meninggalkan jejak musikalis mereka, perlu dicermati ke mana lagi mereka akan melangkah setelah ini.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Mokele

David Wahyu Hidayat




Juni 2017
S S R K J S M
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 140,187 hits