Archive for the 'Coldplay' Category

30
Des
15

Favorit2015

Favorit2015

 

 

playlist:

https://8tracks.com/supersonicsounds/favorite-tracks-2015

 

 

2015 adalah tahun penuh gairah secara musikalis, terutama dalam skena musik lokal. Kita mengalami hadirnya band-band baru penuh geliat dalam wujud Barasuara, Kelompok Penerbang Roket dan Stars And Rabbit. Lalu jawara-jawara indie negeri ini seperti tidak mau kalah dengan penerus tongkat estafetnya. Mereka pun mengeluarkan album solid penuh kejutan seperti yang dapat terdengar dalam karya terbaru Rumahsakit, Sore dan album majestik yang dirilis Efek Rumah Kaca di akhir tahun.

 

Di luar batas perairan Nusantara, dedengkot Britpop Blur dan Noel Gallagher juga ikut mengeluarkan album terbaru mereka yang penuh daya tarik unik. Sedangkan Chris Martin, setelah berhasil mengatasi rumah tangganya yang karam, bersama Coldplay merilis album baru penuh warna-warni kehidupan seperti yang kita kenal dari mereka sebelumnya. Puncak semuanya itu adalah si jenius Kevin Parker, yang dengan album terbaru Tame Impala, Currents mengeluarkan sebuah album penuh kesempurnaan.

 

Sudah sejak lama saya tidak mendengarkan musik segempar tahun ini, dan di bawah ini adalah lagu dan album favorit saya. Seperti halnya terhadap kehidupan, kita pun patut bersyukur atas segala musik yang telah menemani kita dan hal lainnya yang telah terjadi tahun ini. Saatnya merayakan kehidupan, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

 

Lagu:

 

Take You Down – Daniel Pemberton, OST The Man From U.N.C.L.E

Tom Meighan dan Sergio Pizzorno dari Kasabian akan iri mendengarkan lagu ini, karena ia memiliki semua tandatangan antem stadion yang biasanya dimiliki oleh lagu-lagu Kasabian. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Daniel Pemberton ketika mengaransir OST untuk film ini, tetapi melalui lagu ini ia telah memberikan atmosfir sempurna kepada sebuah film espionase yang paling menghibur tahun ini.

 

Djakarta City Sound – Kelompok Penerbang Roket

Dalam mimpi basah musikalis kita yang paling vulgar, Jakarta masih ditulis dengan menggunakan huruf besar “D” di depannya. Ia bukanlah ibukota yang penuh kemacetan dan pelan-pelan membunuh warganya, tetapi sebuah nirvana yang seksi, di mana rock ‘n’ roll adalah agamanya dan Kelompok Penerbang Roket adalah dewa mereka.

 

I Tried and I’m Tried – The Young Liars

Muda dan berbahaya adalah sebuah kategori yang dapat disematkan kepada The Young Liars. Musik mereka langsung menampar telinga tanpa basa-basi, menggairahkan sekaligus menaikkan adrenalin di badan kita yang lelah penat ini. Jika ini bisa dipertahankan, mereka adalah masa depan.

 

Pasar Bisa Diciptakan – Efek Rumah Kaca

Setelah 7 tahun kita menunggu, akhirnya Efek Rumah Kaca datang kembali. Lagu ini dirilis oleh Efek Rumah Kaca sebagai pengantar mahakarya terbaru mereka Sinestesia. Gitar yang meraung tanpa henti itu, melakukan penetrasi tanpa lelah kepada kalbu pendengaran kita, sambil mendengarkan mantra teranyar dari Efek Rumah Kaca, bahwa pasar bisa diciptakan. Ini adalah sebuah perayaan!

 

Gesneriana – Sore

Dalam sebuah paralel universum yang tak pernah tercipta, The Smiths membagi ruang latihannya bersama Sore. Mereka berbicara tentang urbanisme kota industri di sela-sela latihan mereka, nge-jam tanpa henti sampai tidak pernah melihat sang surya terbit dan terbenam. Pada sesi-sesi itulah lahir sebuah lagu yang mendefinisikan Manchester sekaligus Jakarta, lagu itu berjudul Gesneriana.

T-Shirt Weather – Circa Waves

Lagu ini adalah suara musim panas yang riang, penuh asa tanpa adanya sedikit pun titik-titik kelabu yang akan mengecilkan optimisme kita. Sangat menyenangkan menemukan band seperti Circa Waves di tahun 2015 ini, di mana banyak band berlomba untuk mensample berbagai macam beat secara elektronik, mereka mengingatkan kita akan masa muda di mana keriangan itu ditemukan dalam melodi gitar.

The Less I Know The Better – Tame Impala

Jika semua orang mengalahkan patah hatinya dengan membuat lagu seperti ini, maka dunia ini akan menjadi lebih baik. Lagu ini adalah sentral dalam album luar biasa Tame Impala, Currents. Beat-nya adalah sebuah candu yang tidak ingin kita habiskan, setiap fase di lagu ini menghipnotis kita, membawa kita ke sebuah musim panas abadi, di mana yang kita rasakan hanyalah getaran kebahagiaan tanpa batas.

 

Adventure Of A Lifetime – Coldplay

Sejujurnya, saya membenci lagu ini dengan sangat ketika dirilis untuk mempromosikan album terbaru Coldplay, A Head Full Of Dreams. Ia terlalu pop dan berada di arus musik utama untuk dirilis oleh band seperti Coldplay. Pandangan itu berubah 180 derajat ketika albumnya sendiri dirilis. Semua dentuman bas dan petikan gitar tanpa henti itu tiba-tiba menjadi masuk akal adalam konteks sebuah album. Ini adalah perayaan kehidupan ala Coldplay, Viva La Vida!

 

The Right Stuff – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Dari 10 lagu yang ada di album Chasing Yesterday, lagu ini adalah lagu yang paling menarik. Bukan hanya ia diproduseri oleh Amourphous Androgynous, tetapi karena ini adalah bukti bahwa Noel Gallagher dapat menciptakan lagu di luar pagar Britpop dan skala pentatonik yang selama ini menjadi ciri khasnya. Dengan latar belakang vokal wanita yang lebih dominan dari suaranya sendiri, dan hembusan psikdelik dari musik yang mengiringinya ini adalah Noel Gallagher terbaik paska Oasis. Space Jazz, hadirin sekalian?

 

 

Thought I Was A Spaceman – Blur

Blur mungkin boleh mendapatkan inspirasinya dari malam-malam yang mereka lewati di Asia Timur, tetapi lagu ini berhasil menciptakan keintiman yang dalam. Suara vokal Damon Albarn memenuhi alam pikiran kita seperti anestesi membius seorang pasien bedah. Alunan melodi etnis dengan gaung yang memenuhi ruangan itu, untuk sesaat, sesuai dengan judulnya membuat percaya bahwa kita adalah astronaut yang sedang melayang tanpa tujuan di ruang angkasa.

 

The House – Stars And Rabbit

Saya jatuh cinta pada Stars And Rabbit, ketika menyaksikan mereka tampil membawakan lagu ini di sebuah stasiun televisi swasta pada suatu minggu siang. Saya takjub akan kesederhanaan mereka membawakan lagu ini. Kagum karena lagu tersebut berhasil mempesona saya, dengan petikan gitar yang renyah dan perselingkuhannya dengan suara vokal yang akan membuat Bjork bangga.

 

Apa Yang Tak Bisa – Rumahsakit

Sebenarnya banyak melodi menakjubkan yang menyenangkan hati terdapat di Timeless, album yang menandakan kembalinya Rumahsakit dari mati suri mereka. Tapi lagu ini yang paling berkesan buat saya. Nyaris seperti pesan religius, lagu ini dengan manis mengingatkan kita bahwa tidak segala sesuatu dapat diraih dan dimiliki, yang kita perlukan hanyalah menyerahkan segalanya kepada yang mahakuasa dan membiarkan hidup ini mengalir sambil tidak lupa untuk bersyukur.

 

The Rest Is Noise – Jamie xx

Ada sebuah perasaan metropolis etereal yang menghantui indra kita ketika mendengarkan lagu ini. Perasaan cinta sekaligus gamang akan kota yang kita tinggali. Ketika pekatnya malam terlalu indah untuk dilalui hanya dengan terlelap, sedangkan mentari pagi terlampau nyaman untuk membangunkan kita dari mimpi.

 

Lonely Hunter – Foals

Sesuatu di alam bawah sadar kita akan terusik mendengarkan lagu ini. Entah itu perasaan ingin memiliki seseorang yang sudah hilang dari kehidupan kita, atau dengan sangat parahnya ingin memperbaiki sesuatu terhadap orang yang kita cintai. Melodinya terlalu dahsyat untuk bisa dipungkiri dan ketika kita mendegarkan “Love is a gun in your hand” dinyatakan Yannis di lagu ini, jauh di dalam sana, kita mengerti apa yang dimaksud olehnya.

 

Api dan Lentera – Barasuara

Tidak ada yang lebih eksplosif di tahun ini selain “Api dan Lentera” dari Barasuara. Jika mereka sendiri memproklamirkan bahwa musik Barasuara dibuat untuk meledak, maka lagu ini adalah perwujudannya yang paling sempurna. Setiap bagian lagunya dirancang seperti bom, apakah itu teriakan “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu” atau hookhook maut dari riff gitar yang saling berduel di lagu ini, semuanya itu mengarah ke satu tujuan utama: Membuat indie anthem terbesar yang pernah didengarkan negeri ini.

 

Album:

 

Chasing Yesterday – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Dari seluruh karya yang pernah dihasilkan oleh Noel Gallagher, Chasing Yesterday adalah yang paling unik. Ia bukan hanya asal mengatakan bahwa album ini akan seperti Space Jazz, dengarkan Riverman maka kita akan tersenyum ketika mendengar Saxophone di sana. Mendengarkan The Right Stuff, maka lagu tersebut akan menjustifikasi bahwa jargon yang ia sebutkan itu bukan basa-basi. Dan jika kita kangen dengan Oasis, album ini memberikan Lock All The Doors. Dalam In The Heat Of The Moment dan Ballad Of The Mighty I, kita menemukan revolusi seorang Noel Gallagher dalam peforma terbaiknya. The Chief telah kembali, dan ia kembali dengan dahsyat.

 

Currents – Tame Impala

Tidak ada album yang membuat saya tersenyum lebih bahagia di tahun ini daripada Currents dari Tame Impala. Beruntung Kevin Parker meninggalkan aura psikedelik pada 2 album sebelumnya dan menemukan kecintaannya pada pop. Mendengarkan Currents seperti menemukan mata air pop tanpa batas, lagu-lagu di dalamnya seperti perpaduan antara MGMT, Daft Punk, dan…Tame Impala sendiri. Album ini akan membuat hari-hari kita sepanjang tahun menjadi sebuah musim panas, di mana yang ada hanya kebahagiaan dan sinar matahari.

 

In Colour – Jamie xx

Salah satu album paling menghantui saya dalam relevansi yang baik adalah In Colour dari Jamie xx. Seperti yang sudah ia lakukan dengan The xx, album ini berhasil membuat saya dalam suasana etereal tanpa batas, menikmati malam-malam di ibukota yang takkan pernah henti. Saat dikepung oleh batas waktu pekerjaan dan kacaunya kota ini, album ini seperti sebuah anestesia yang menenangkan.

 

Los Skut Leboys – Sore

Sampai tahun ini, sejujurnya saya tidak pernah menaruh perhatian khusus kepada Sore. Lalu di sebuah malam, perjalanan saya di Youtube terhenti pada lagu 8 dan R14, dan perasaan gembira saya terkait oleh melodi-melodi yang ada di situ. Ada perasaan nostalgik yang tidak dapat dijelaskan, dan juga rasa girang yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kemudian saya membeli albumnya, mendengarkan seluruh lagunya, terutama Gesneriana yang sukses membawa saya ke langit ketujuh pop Indonesia.

 

Sinestesia – Efek Rumah Kaca

Sebenarnya sejak Pasar Bisa Diciptakan dapat diunduh gratis kita tahu bahwa Efek Rumah Kaca akan merilis album baru mereka. Kita gusar, karena lagu yang menjadi prolog itu menjanjikan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Lalu Desember tiba dan harapan itu hampir pupus, karena tidak ada tanda-tanda album tersebut akan dirilis. Kemudian tanpa pemberitaan bombastis, Sinestesia dapat dibeli di iTunes. Secepat kilat album tersebut dibayar dan disedot secara digital. Secepat kilat juga di tengah malam pertengahan Desember, album itu dimainkan pada pemutar musik digital saya. Ketika lantunan “Aaaaaaa…” mengawali Merah, saya sadar sesuatu yang majestik telah terjadi. Sisanya adalah kekaguman tanpa batas kepada sebuah album yang dirilis 7 tahun setelah Kamar Gelap. Salut saya sampaikan kepada Efek Rumah Kaca.

 

Taifun – Barasuara

Barasuara punya satu tujuan ketika merilis Taifun. Mereka ingin musik mereka meledak di negeri ini. Target itu bukan hanya berhasil dicapai, tetapi mereka melakukannya dengan dengan karakter dan kelas yang sulit untuk bisa disamai band-band lain. Walaupun musik mereka penuh dengan konsep, tetapi ia berbicara dengan langsung dan memberikan ekstase kepada kita semua. Mulai dari Nyala Suara, Bahas Bahasa, Api dan Lentera, semua lagu itu memberikan kita sebuah antem yang baru. Mungkin bukan kebetulan mereka menamakan debut album ini Taifun, karena Barasuara telah menerjang kita semua dan membuat kita takluk tanpa syarat dalam terpaan musiknya.

 

 

Teriakan Bocah/Haai – Kelompok Penerbang Roket

Kelompok Penerbang Roket telah membuat sebuah pernyataan bombastis tahun ini dengan merilis 2 mini album sekaligus. Yang pertama, Teriakan Bocah adalah rock ‘n’ roll liar yang dipacu secepat 200 km/jam di jalan protokol ibukota. Yang kedua, adalah sebuah karya paling psikedelik yang pernah didengar tanah air terhadap lagu-lagu Panbers. Mungkin mereka berpikir hidup terlalu singkat untuk diam dan tidak berarti apa-apa. Yang jelas mereka tidak perlu takut lagi terhadap kematian tanpa nama, karena 2 album tersebut akan terus mengingatkan kita untuk hidup liar, penuh risiko mengatasnamakan rock ‘n’ roll.

 

The Magic Whip – Blur

Kabar kembalinya Blur patut dirayakan seperti kita merayakan sekuel sebuah film blockbuster yang mendefinisikan masa kecil kita. Memang, seperti kita, mereka pun sudah memasuki usia paruh baya, tidak ada lagi Girls & Boys atau Song 2, tetapi lagu seperti Thought I Was A Spaceman, Lonesome Street, maupun Go Out adalah lagu tipikal Blur yang selalu dekat dengan hati kita. Album ini seperti kembalinya paman yang kita kagumi waktu kecil, ia datang bukan dengan nostalgia cerita masa lalu, tetapi tentang pengalaman-pengalaman baru yang tidak harus selalu eksplosif tetapi selalu menarik untuk disimak.

 

Timeless – Rumahsakit

Pahlawan indie Jakarta, Rumahsakit telah kembali tahun ini dengan merilis album Timeless. Dengan berbekal vokalis dan komposisi musik baru, mereka tetap menghembuskan optimisme tahun 90-an yang tidak pernah padam. Dari bunyi drum yang mengawali Tak Ada Yang Selamanya sampai nada terakhir Shout Now, semuanya menunjukkan kedewasaan Rumahsakit dalam bermusik, dan seperti judul albumnya sendiri semoga mereka akan selalu abadi.

 

What Went Down – Foals

Memasuki albumnya yang keempat, Foals semakin solid dan eksplosif dalam musik mereka. Diawali dengan titel track yang menampilkan nada-nada penuh urgensi dan determinasi, mereka menebarkan serangan – serangan berbahaya sejak awal. Lalu ada Mountain At My Gates dan Albatross yang mengalir seru merasuki pembuluh darah kita. Pamungkasnya ada dalam Lonely Hunter yang menggulung dahsyat seperti gelombang tanpa henti. What Went Down adalah Foals dalam semua kemegahan yang mereka miliki.

 

David Wahyu Hidayat

17
Des
11

Album Review: Coldplay – Mylo Xyloto

Coldplay

Mylo Xyloto

Parlophone – 2011

 

Perjalanan karir Coldplay adalah perjalanan yang diimpikan oleh semua orang yang memimpikan menjadi terkenal melalui musik. Dimulai dengan “Parachutes” satu dekade silam, mereka mungkin masih menjadi favorit kaum indie yang menunggu datangnya sesuatu yang baru. Tapi 11 tahun setelahnya, semua orang, benar-benar semua orang dari semua kaum: indie, emo, orang-orang yang melakukan shufflin’ setiap hari, goth, hiphop, r’n’b, pecinta k-pop, penikmat dangdut, homo-, hetero-, biseksual, fashionista, semua mencintai Coldplay dengan tarafnya masing-masing. Untuk hal itu, Coldplay sebagai band bisa dibilang sangat-sangat berhasil. “Mylo Xyloto” album terbaru mereka adalah pembuktian akan dogma tersebut.

Diawali oleh titel track album tersebut yang merupakan snippet singkat dengan suara xylophone yang memberikan suasana damai album ini kemudian benar-benar dibuka dengan “Hurts Like Heaven”. Sama dengan judul yang diberikannya, lagu ini seperti suara yang datang dari Atas sana, dengan permainan gitar Jonny Buckland tercurah bagaikan melodi terindah yang pernah kita dengar. Suasana ini segera disambung dengan “Paradise”. Dari surga kita pun melangkah ke keindahan firdaus. Dengan nyanyian “Para..Para..Paradise” yang mau tidak mau mengingatkan kita pada irama “…Ella…Ella..Ella” dalam lagu “Umbrella” yang dinyanyikan Rihanna beberapa tahun silam, ini adalah bukti bahwa Coldplay adalah band poptunist sejati yang tahu bagaimana mengkomposisikan sebuah lagu pop dan memenangkan massa itu untuk mereka.

Kesamaan “Paradise” dengan lagu yang dinyanyikan perempuan yang bernama asli Robyn Rihanna Fenty itu bukanlah sebuah kebetulan belaka, karena nona Fenty menyumbangkan suaranya dalam “Princess Of China” dalam sebuah lagu yang dipenuhi dengan hantaman synthesizer yang akan memabukkan kita seperti setetes abisnth di tengah musim dingin. Ekspedisi pop Coldplay di album ini berlanjut dalam “Us Against The World” sebuah nomor syahdu yang hanya menampilkan suara Chris Martin, gitar dan alunan lembut organ.

Untung bagi mereka yang menyukai Coldplay seperti di dalam “Viva La Vida Or Death And All His Friends” terdapat lagu – lagu semacam “Charlie Brown”, “Major Minus” dan “Don’t It Let Break Your Heart” yang  merupakan Coldplay ketika mereka menjadi diri mereka yang terbaik. Suara falsetto optimistis Martin, bergabung dengan delay gitar Jonny Buckland yang di album ini nampak terdengar kalau ia meningkatkan satu tingkat lagi dalam mengeksplorasi gitarnya, adalah sesuatu yang sangat pintar dan layak disandingkan dengan karya – karya Coldplay terbaik sebelumnya.

“Mylo Xyloto” adalah pengukuhan bahwa Coldplay dimiliki oleh semua orang. Mereka tidak lagi memiliki genre. Melalui resep perambahan dunia pop dengan motto “Bila kita tidak dapat melawan, lebih baik kita bergabung dengan mereka” dipadukan dengan sentuhan enoxification yang tersebar di album ini, “Mylo Xyloto” penuh dengan percikan kembang api yang memuaskan semua kalangan di atas. Biarkan telinga dan jiwa kita berbinar dan berwarna seperti sampul album ini yang penuh dengan hingar bingar dan corak warna-warni. Biarkan keceriaan album ini menyelimuti kita.

 

David Wahyu Hidayat

06
Jul
08

Album Review: Coldplay – Viva La Vida Or Death And All His Friends

Coldplay

Viva La Vida Or Death And All Of His Friends

Parlophone – 2008

Delapan tahun yang lalu Chris Martin hanyalah seorang sosok terdepan sebuah band indie yang diharapkan memulai sebuah pembaruan yang menakjubkan sambil menyanyi dengan naif kalau kita hidup di dunia yang indah. Kini setelah menjual 32,5 juta album, perkawinan ideal seorang rockstar dengan artis papan atas Hollywood, memproposikan perdagangan yang adil lewat Make Trade Fair, menjadi band favorit sesama pemusik lainnya seperti Justin Timberlake, ia bersama Coldplay telah mencapai puncak gunung Olimpus dunia pop yang bersemayam di sanubari kita. Mereka telah melakukan yang harus dilakukan, dan sepertinya tidak ada lagi yang dapat ditawarkan mereka.

Tidak ada lagi? Di tahun 2008 ini, dengan menghantarkan “Viva La Vida Or Death And All His Friends” mereka memberikan pembuktian kalau Coldplay masih tetap haus untuk merambah satu area baru yang belum pernah mereka sentuh. Dibantu dengan Brian Eno yang sukses memberikan warna baru kepada U2 dan Markus Dravs yang berperan dalam pembentukan sound album terakhir Arcade Fire “Neon Bible”, album Coldplay yang satu ini memberikan sebuah sentuhan ultimatif untuk band sebesar Coldplay.

Setiap lagu diawali dengan sebuah ambiens yang kita kenal dari karya – karya Brian Eno, bahkan mereka dengan berani membuka album ini dengan sebuah nomor instrumental dalam “Life In Technicolor”. Harus diakui, setiap nomor pembuka album Coldplay adalah sebuah pernyataan seperti yang telah kita kenal dalam “Don’t Panic”, “Politik”, dan “Square One”. Mereka yang selama ini mengkritik Coldplay telah menjadi band yang terlalu komersial akan kembali jatuh cinta kepada band ini, setelah mendengarkan habis “Life In Technicolor”.

“Lost” yang konon diinspirasikan dari mendengar terlalu banyak lagu “Sing” oleh Blur dalam album “Leisure”, dalam tur terakhir mereka, diawali dengan bunyi orgel gereja, yang menambahkan kesan keagungan vokal Chris Martin. Kekhidmatan itu dilanjutkan ketika Martin dalam intro “42” menyanyikan “Those who are dead are not dead, they’re just living in my head”, sebelum semuanya di menit 01:35 berubah menanjak menuju sebuah lagu yang epik dan menemukan klimaksnya ketika Martin menyanyikan “You thought you might be a ghost…You didn’t get to heaven but you made it close”. Dan semua itu cukup dikemas dalam durasi sedikit di bawah empat menit.

Memasuki “Lovers In Japan/Reign Of Love” kita merambah ke teritorial kenyamanan Coldplay, yang membawa kita cepat melayang diiringi dengan permainan piano Martin dan pola reverb-distorsi ringan gitar Jonny Buckland di latar belakang pada lagu yang pertama, sedangkan “Reign Of Love” adalah salah satu alasan mengapa orang-orang yang tadinya tidak peduli terhadap musik di luar arus utama tiba-tiba sepakat untuk mencintai band seperti Coldplay.

Vokal falsetto Chris Martin adalah salah satu yang mengindetifikasikan musik Coldplay. Di “Yes” suami Gwyneth Paltrow itu tiba-tiba menyanyi dengan suara rendah yang sangat mengiritasikan sekaligus membawa efek kejutan menyenangkan, dengan suara orkestrasi yang menemaninya di lagu tersebut. Lagu itu mempunyai sebuah hidden track yang tak kalah menariknya berjudul “Chinese Sleep Chant”. Mendengarkan lagu itu, seperti mendengarkan Coldplay melakukan musik Shoegaze dengan gitar Buckland yang dominan di telinga kita dan suara Martin yang tidak jelas sedang menggumamkan kata-kata apa, yang jelas lagu tersebut terdengar mengagumkan.

Bila kita sampai saat ini masih mencari lagu musim panas tahun 2008, maka pencarian itu akan berhenti sewaktu mendengarkan titel track album ini. “Viva La Vida” adalah sebuah anthem, titik. Dengarkan suara lonceng gereja di lagu ini yang mengiringi refrainnya, kemudian ketika keempat personil Coldplay bernyanyi bersama waktu memasuki menit 03:00 lagu ini, mereka akan menyentuh titik kebahagiaan kita yang terdalam, dan melebur perasaan kita dalam hangatnya matahari.

Album ini akan membuat mereka yang telah kehilangan kepercayaannya kepada Coldplay setelah menjadi band semua umat, kembali mencintai musik yang dibuat Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman dan Will Champion. Ini adalah album terbaik Coldplay setelah “Parachutes”. Mereka seakan tidak mempedulikan pemuasan kuping pecintanya yang terbiasa dengan pop ala “Clocks”, yang mereka lakukan hanyalah merayakan kehidupan yang mereka cintai dalam musik yang mereka buat, agar dapat membuat kematian dan semua temannya menjadi sesuatu yang berarti, karena kita tidak menyia-nyiakan sesuatu yang terbesar yang pernah ada. …Kehidupan itu sendiri.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Coldplay – X & Y

xycoverbig.jpg

Coldplay
X & Y
Parlophone – 2005


“Make Trade Fair”. Setiap orang yang pernah melihat diri Chris Martin di konser atau layar kaca, pasti pernah melihat tulisan tersebut di tangannya. Sebuah slogan yang mengkampanyekan perdagangan yang lebih adil di dunia ini. Sebuah ide untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik. Tapi sejujurnya, pernahkah ada seorang di antara kita yang mencoba menerapkannya? Kita tetap saja membeli merk kopi yang biasa kita beli dibanding membeli kopi “fair handle”. Salut untuk mereka yang merubah cara berkonsumsi dirinya karena seorang Chris Martin.

Pernahkah kita tapi melihat arti slogan tersebut di dalam diri Chris Martin sendiri, atau Coldplay sebagai sebuah band, atau dari segi industri musik sekarang ini? Dengan harga tiket konser aktuel mereka sebesar 53 Euro, tidakkah semuanya itu patut dipertanyakan? Tidakkah mereka dapat memberikan “fair trade” untuk fans mereka sendiri? “Fair Trade” adalah ide yang baik, tapi butuh waktu bagi semua orang untuk meresapnya di otak dan menjalankannya di kehidupan masing-masing.

Tapi tulisan ini bukanlah tentang “Fair Trade”, artikel ini seharusnya menceritakan betapa indahnya album terbaru Coldplay. Benarkah semuanya begitu indah? “This album cannot fail” tulis NME di review album mereka. Dan memang ketika mendengar nomor pertama di “X & Y” semua ramalan itu seperti terpenuhi. “Square One” adalah lagu pertama Coldplay yang tercipta tidak berdasarkan komposisi Mr. Paltrow. Guy dan Will menemukan “groove” di lagu tersebut dengan sebuah drum-computer yang telah usang. Terdengar begitu menjanjikan.

Memasuki “What If” euphorie tersebut tapi tertahan. Karena lagu ini adalah lagu standard Coldplay yang akan membuat kita menyalakan korek masing-masing di tengah lautan manusia yang tidak kita kenal di sebuah stadion. Yang disayangkan dari “X & Y” adalah semua lagu – lagu yang berada di album tersebut terlalu mudah untuk diperkirakan. Mendengarkannya pertama kali, seperti mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang. Bahkan lantunan Martin pun seperti dinyanyikan dalam nada yang sama.

Steve Lamacq (moderator ternama BBC Radio One) mendapatkan kehormatan pertama menjadi orang pertama di dunia ini, yang dapat memutar “Speed Of Sound”. “I can feel laser” katanya waktu itu, dan bayangan kita langsung terbang melihat sinar-sinar laser hijau dalam “Clocks” di dalam live DVD mereka dari tahun 2003. Mereka yang tergila-gila akan “A Rush Of Blood To The Head” akan jatuh pingsan mendengar lagu ini, tapi sebagian lainnya mengharapkan sesuatu yang lebih dari Coldplay. Begitu juga dengan “Talk”. Lagu yang didasari sample dari Kraftwerk (Computer Love) ini, tidak dapat memenuhi harapan yang sudah terlanjur besar.

Memang “X & Y” tetap memiliki permatanya seperti dalam “Fix You” dan “Twisted Logic”, tapi masih terlalu dini untuk mengklaim album ini sebagai album terbaik yang pernah dibuat Coldplay. Beberapa orang di antara kita masih mengharapkan kenaivan sebuah album seperti “Parachutes”. Mungkin seperti “Make Fair Trade” album ini membutuhkan waktu untuk memberikan artinya masing-masing di kehidupan kita. “The lights will guide you home” lantun Martin di “Fix You”, dan mungkin itu pula yang akan menuntun kita untuk mencintai “X & Y”.

David Wahyu Hidayat

04
Nov
07

Album Review: Coldplay – Parachutes

coldplayparachutesalbumcover.jpg

Coldplay
Parachutes
Parlophone/EMI – 2000

The New Acoustic Movement atau Quiet is the new loud, ialah sebutan yang banyak diberikan kepada band seperti Travis, Coldplay, Elbow, dan Starsailor. Siapa yang sangka bila musik “mellow” seperti yang mereka bikin bakal digandrungi oleh orang banyak?

Tetapi walaupun dicap dengan label yang sama, masing-masing band tersebut mempunyai ciri khasnya masing-masing. Kuartet yang terdiri dari Chris Martin, Will Champion, Guy Berryman, dan Jon Buckland ini banyak menggunakan efek reverb dan delay di debut album mereka ini. Kedua efek tersebut seperti menjadi trademark mereka, dengar saja “Don´t Panic” dan “Shiver”. Suara Vokal Chris Martin mengingatkan pada Thom Yorke sebelum Radiohead merekam Kid A dan Amnesiac.

Dimulai dengan suara gitar akustik pada “Don´t Panic” yang kemudian dilanjutkan dengan “Spies”, “Yellow” dan “Trouble” Coldplay membawa kita ke perasaan bahwa saat ini seperti selalu berada di jam 4 dini hari. Damai, menunggu hari baru yang akan datang. Mendekati akhir dari album tersebut, matahari mulai memancarkan sinarnya di ufuk sana, dan kita pun tersadar dari lamunan kita. Hari baru telah dimulai, saatnya untuk memulai kembali kehidupan. Everything´s not lost.

David Wahyu Hidayat




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,056 hits