Archive for the 'Konser' Category

13
Nov
16

Impresi 2 hari di Soundrenaline Festival 2016

Di awal September lalu, tepatnya pada 3 & 4 September 2016, melalui sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Rolling Stone Indonesia tentang konser terbaik yang pernah disaksikan, saya berkesempatan menyaksikan Soundrenaline Festival setelah terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi tersebut. Pemenang lainnya adalah: Tantan Rahmatullah (https://konstelasikata.wordpress.com/) & Adam Muslihat Santika Putra (https://sayabercengkerama.wordpress.com/).

Kami bertiga diberangkatkan oleh Rolling Stone Indonesia dan selama dua hari memiliki pengalaman tak terlupakan menyaksikan festival terbesar negeri ini sekaligus berkenalan sedikit tentang sisi jurnalisme musik dari teman-teman Rolling Stone Indonesia yang menemani kami. Sebagai “reporter tamu” kami pun diberikan pekerjaan rumah untuk menulis liputan dari Soundrenaline 2016. Di bawah ini adalah impresi saya dari dua hari menghadiri festival terbesar Indonesia itu.

kolase-soundrenaline

Liputan saya tentang Soundrenaline 2016 yang dimuat di situs rollingstone.co.id :

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/26/140509678/1093/binar-hidup-bergelora-dalam-balutan-adrenalin-suara-soundrenaline-2016

rolling-stone-indonesia-binar-hidup-bergelora

Liputan dari Adam dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509679/1093/soundrenaline-2016-gagasan-bersejarah-kancah-musik-indonesia

Liputan dari Tantan dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509680/1093/di-bawah-bendera-musik

Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 yang menampilkan kami bertiga sebagai pemenang kompetisi menulis tersebut:

rsi-oktober-2016-soundrenaline-2016

David Wahyu Hidayat

31
Okt
16

Impresi dari 3 hari di Synchronize Festival 2016

Rhoma Irama: Kharisma tanpa batas atas kecintaan tanah air dengan musik yang mampu menggoyangkan semua pecinta musik tanpa terkecuali.

Barasuara: Masih tidak tergoyahkan posisinya sebagai band paling menggemparkan saat ini.

The Trees & The Wild: Magis & monumental, momen favorit pribadi 3 hari kemarin.

Efek Rumah Kaca: Tiap konser ERK dengan formasi lengkap adalah sesuatu yang istimewa.

The Milo dan Heals: 2 band ini meneruskan tradisi dan persepsi bahwa band shoegaze terbaik Indonesia adalah dari Bandung.

The Upstairs: Jimi Multhazam adalah pencerita handal dan bandnya selalu berhasil membuat anak indie disko darurat di manapun kapanpun.

Scaller: Apalagi yang mau dikatakan tentang band ini? Mereka adalah masa kini dan masa depan! 

Pure Saturday: Menutup Jumat malam dan memulai hari Sabtu dengan bahagia adalah esensi Pure Saturday.

Payung Teduh dan Float: Di tengah hingar bingar Festival, musik dari 2 band ini bagai oase yang sejuk dan menenangkan.

Elephant Kind: Terkendala gangguan teknis pada gitar utama mereka, membuat penampilannya di minggu sore sedikit tersendat. Untungnya mereka punya lagu yang membuat penonton berinteraksi seru khas generasi milenial yang membuat penampilan itu berkesan.

Kelompok Penerbang Roket: Liar dan gas penuh tanpa rem, seperti yang selalu diharapkan dari mereka. 

The SIGIT: Rok n’ Rol bukanlah hanya sebuah konsep, The SIGIT itu perwujudannya.

The Brandals dan The Adams: Banyak hal yang menjadi ciri khas Jakarta, dari yang baik maupun buruk. Entah kenapa 2 band ini selalu identik dengan kebaikan ibukota di kepala saya, tidak terkecuali waktu mereka tampil pada hari kedua di Synchronize Festival.

FSTVLST: Barely art, almost rock. Impresif sesuai dengan slogan mereka. 
Rock n’ Roll Mafia: Band ini tidak pernah benar-benar ada di radar saya, dan ini akan berubah sejak penampilan mereka di hari ketiga.

90’s Hiphop All Star: Siapa yang menyangka beat dan rentetan lirik dari para rapper paruh baya mampu mengguncang Kemayoran dengan hebat.

Terlepas dari kendala teknis yang dialami beberapa band di panggung utama, ini festival yang seru di mana seluruh genre melebur dalam atmosfir menyenangkan. Mudah-mudahan pergerakan ini berlanjut di tahun mendatang.

David Wahyu Hidayat 

01
Mei
16

Ulasan Konser – Tame Impala, Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016

Tame Impala

Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016

 

Band Pembuka: Barasuara

 

Setlist:

Intro, Let It Happen, Mind Mischief, Why Won’t They Talk To Me, It Is Not Meant To Be, The Moment, Elephant, Yes I’m Changing, The Less I Know The Better, Eventually, Alter Ego, Oscilly, Why Won’t You Make Up Your Mind, Apocalypse Dreams. Encore: Feels Like We Only Go Backwards, New Person Same Old Mistakes

 

Tame Impala - Jakarta 2016

 

Jakarta. Jumat malam di akhir bulan April. Hujan mengguyur sebagian ibukota menjelang jam usai bekerja. Seakan tidak rela membiarkan warganya bersenang-senang, lalu-lintas mengunci, menhancurkan harapan akan kejayaan Jumat malam. Namun segelintir manusia dengan persistensi tahap pecandu, nekat menembus semuanya itu menuju Senayan. Sebagian dari mereka adalah pemburu tiket murah pameran perjalanan sebuah maskapai, sebagian lainnya adalah pemadat musik yang mengharapkan ekstasenya pada sebuah band bernama Tame Impala.

Di atas sebuah area yang sehari-harinya merupakan lahan parkir beraspal, perjalanan menggapai ekstase itu dimulai. Sekitar setengah delapan malam, dalam nuansa merah, band terbaik nusantara saat ini, Barasuara menguasai panggung yang dibangun di atas lapangan parkir itu. Dengan memainkan lagu-lagu seperti Menunggang Badai, Api dan Lentera serta dituntaskan dengan Bahas Bahasa, mereka tidak hanya sekedar memanaskan suasana tapi memainkan musik laksana timnas PSSI sedang bermain di final piala dunia: enerjik, mempesona dan majestik. Barasuara memang sudah ditakdirkan untuk bermain di arena konser megah dan besar, bahkan Kevin Parker kemudian mengatakan dengan jujur bahwa sebuah pekerjaan yang sulit memainkan konsernya setelah band hebat seperti Barasuara.

Usai Barasuara, para penonton dibiarkan menunggu agak lama, sampai akhirnya menjelang pukul sembilan sang jenius Kevin Parker bersama Tame Impala menyapa langit Senayan yang sudah hampir memuncak kegelisahannya menunggu agar dahaga mereka dipuaskan. Dari sejak Intro kita semua tahu bahwa ini akan menjadi malam luar biasa, dan sejak Let It Happen dimainkan, semua yang ada di parkir selatan Senayan tahu bahwa mereka telah memenangkan peperangan terhadap jahanamnya kekacauan ibukota di hari Jumat. Tempat parkir itu berubah menjadi sebuah perayaan akan sebuah kehidupan yang memang patut dirayakan, jiwa seakan melayang meninggalkan tubuh yang penat. Di atas panggung, Tame Impala membius dengan musik mereka dan visualisasi yang membuat mimpi psikedelia kita menjadi nyata.

Masih dihujani konfeti yang disebarkan menjelang akhir Let It Happen, kita pun dihajar dengan Mind Mischief. Entah apa yang lebih memabukkan kita saat itu, musik Tame Impala dengan tata suara yang nyaris sempurna atau tayangan visual di panggung yang menari-nari indah menggoda khayalan kita. Pada pertengahan set ketika Elephant dihantarkan, euforia itu sudah tidak terbendung, dahaga selama 5 tahun akan tampilnya kembali Tame Impala di atas panggung Jakarta terbayar sudah, dan kita ikut berpesta bersama mereka yang memainkan musik di atas panggung.

Elephant disusul dengan Yes, I’m Changing, dan visualisasi di panggung untuk kali ini berubah dari psikedelia menjadi pemandangan menyejukkan seorang gadis mengenakan gaun musim panas mengendarai sepeda menelusuri pedesaan. Sejuk, menyaksikan lagu itu dibawakan di dalam area konser terbuka yang sudah seperti area sauna massal sejak lagu pertama. Namun, kita tidak dibiarkan terlena berlama-lama, karena kemudian Tame Impala membawakan The Less I Know The Better. Di sinilah momen itu datang, momen ketika aspal Senayan berubah menjadi lantai dansa dan langitnya menjadi luminasi psikedelia yang paling menghipnotis.

Why Won’t You Make Up Your Mind dan Apocalypse Dreams menutup mimpi kita di set utama Tame Impala malam itu. Tak lama berselang, mereka kembali ke panggung dan mengatakan bahwa ini adalah rangkaian konser terakhir mereka di Asia dan berterima kasih untuk publik Jakarta, sambil mengajak kita semua berpesta untuk terakhir kalinya. Feels Like We Only Go Backwards pun dikumandangkan di Senayan menjadi sebuah himne, balutan konfeti kembali beterbangan bagaikan kunang-kunang mimpi kita, seperti sebersit cahaya pencerahan yang kali ini datang dalam musik Tame Impala dan kita pun berdansa menyerahkan diri dalam balutan musik tersebut.

Malam itu pun berakhir dengan New Person, Same Old Mistakes, dan para pecandu musik yang sorenya berjuang melawan kekacauan Jakarta telah berada di puncak ekstasenya. Mereka tahu, malam itu adalah sebuah perjalanan istimewa yang tidak dapat didefinisikan secara jelas. Yang jelas musik mendapatkan kemenangannya, seperti yang selalu terjadi. Sebut ini sebuah pengalaman psikedelia, sebut ini sebuah pengalaman pop berbalutkan disko, semua itu tidak berarti. Yang berarti adalah Tame Impala telah datang dan memainkan konser mereka pada 29 April 2016 di bawah langit Senayan, dan kamu berada di sana untuk menyaksikan keajaiban itu.

David Wahyu Hidayat

 

 

22
Mei
13

Ulasan Konser: Blur – Lapangan D Senayan, 15 Mei 2013

BlurJKT

Blur

Lapangan D Senayan, Jakarta

15 Mei 2013

Setlist:

Girls & Boys, Popscene, There’s No Other Way, Badhead, Beetlebum, Out Of Time, Trimm Trabb, Caramel, Coffee & TV, Tender, Country House, Parklife, End Of A Century, Death Of A Party, This Is A Low

Encore:

Under The Westway, For Tomorrow, The Universal, Song 2

 

Ulasan:

Generasi 90 sudah menjadi mesin nostalgia, dijadikan bahan skripsi lalu dijual sebagai buku yang mengundang tawa nostalgik, bahkan sebuah stasiun radio mendedikasikan 1 hari dalam seminggu untuk memutar lagu-lagu khusus dari rentang masa tersebut. Mereka yang mengalami tahun-tahun tersebut di usia belasan atau awal 20annya sekarang sudah memiliki permasalahannya sendiri; KPR yang harus dibayar, tagihan bersalin istri masing-masing, atau tangga karir yang dengan ambisius didaki entah untuk tujuan apa, mungkin hanya ingin memenuhi rasa ego komunitas sosial yang tak kenal kata gagal. Sesaat, hanya sesaat, ingin rasanya kembali ke tahun-tahun itu lagi di mana persoalan satu-satunya adalah hanya dilema untuk memilih apakah harus memakai Docmart atau Adidas.

Selama hampir 2 jam lamanya, di bawah jembatan layang TVRI, di atas rumput lapangan D Senayan yang terbebas dari lumpur, pada hari Rabu 15 Mei 2013 kita semua dibawa kembali ke era keemasan tahun 90an atau singkatnya ke masa di mana kerajaan itu masih bernama Britpop dan Blur adalah rajanya.

Mau Adidas atau Docmart, jaket training ataupun kemeja/batik setelan kantoran, lokal atau ekspatriat, semuanya tumpah untuk satu hal dan satu hal semata, menyaksikan Damon Albarn, Graham Coxon, Alex James dan Dave Rowntree menegaskan sebersit kebahagiaan yang sebenarnya tidak pernah hilang di dalam hati ini. Dan mereka tidak main-main melakukannya. Tepat pukul 21:00 kita semua seperti kembali berada di tahun 95, tersenyum, menengadah ke udara, berlompatan seperti pasien rumah sakit jiwa yang baru kabur, diiringi synth yang mengawali “Girls & Boys”. Waktu tidak berlaku lagi sejak saat itu, 2013 bukanlah tempat di mana kita berada waktu itu, di lapangan D, kita kembali ke tahun 90an.

Dari lagu tersebut, mereka mundur sejenak di lini masa mereka dengan memainkan “Popscene” dan “There’s No Other Way”, dengan raungan gitar Coxon yang menjadikannya pahlawan gitar 90an. “Badhead” menyempurnakan suasana malam itu dengan alunan melodik sejuk. Selanjutnya, mereka dengan mengejutkan banyak orang dengan memainkan lagu-lagu dari album “13” dan “Blur” seperti “Trimm Trabb” dan “Caramel” maupun “Beetlebum” dan “Death Of Party” yang dimainkan di penghujung set utama. Ini adalah tesis antibritpop yang dipertunjukkan Blur secara brilian, dengan serum psikedelia dan nada-nada miring penuh eksperimental yang terkadang juga diinfus oleh ketukan dub.

Tapi bukanlah Blur jika mereka tidak menghibur massa di lapangan D. Dengan lagu-lagu yang mengukuhkan mereka sebagai pionir Britpop seperti “Country House”, “Parklife”, “Tender” dan “Coffee & TV” mereka membuat lapangan D menjadi pusat kebudayaan britpop nomor satu di dunia pada malam itu. Satu hal menarik, sepop apapun lagu-lagu tersebut, mereka terutama Coxon, selalu ingin memisahkan diri mereka dari kata britpop, misalnya dengan memasukkan lick seperti jet yang sedang menjatuhkan bomb di sela-sela “Coffee & TV” ketika ia dan Albarn bernyanyi bersahut-sahutan. Ia selalu mencari celah improvisasi dan walaupun malam itu ia sesekali terpeleset memainkan nada yang ia mainkan, namun itu adalah keindahan dirinya sebagai seorang gitaris jenius.

Usai memainkan set utama mereka yang ditutup dengan kemanisan melankoli “This Is A Low”, mereka memulai encore dengan “Under The Westway” yang dimainkan dengan sangat indah di bawah langit Jakarta. Kain layar besar yang menghiasi panggung mereka bergambarkan sebuah jembatan layang, yang seakan menyatu dengan jembatan layang TVRI yang berada tepat di belakang lapangan D. Dan kita pun yang berada di lapangan tersebut menyatu dalam kebahagiaan sangat.

“For Tomorrow” dimainkan setelahnya, yang lalu disambung dengan “The Universal”. Ini adalah puncak dari malam itu. Mereka yang sudah menunggu sekian lama untuk saat ini, seperti tidak percaya bahwa mereka akan mendengarkan lagu itu di Senayan. Tangan kita dilemparkan ke langit, penuh dengan rasa syukur, air mata menetes penuh dengan kebahagiaan tanpa tanding, majestik dan epik pada saat yang bersamaan.

Kebahagiaan malam itu ditutup dengan lagu yang paling dikenal orang dari Blur di luar Britania Raya, “Song 2”. Sekali lagi, manusia beterbangan di lapangan D, sekali lagi teriakan khas itu diteriakkan oleh ribuan orang, sekali lagi kita mencapai ekstase. Blur memberikan sesuatu yang sangat istimewa malam itu, dan itu bukanlah faktor nostalgia belaka akan tahun 90an. Musik mereka menyentuh dan menggugah kita semua malam itu, dan kita merasakan kebahagiaan universal di bawah jembatan layang itu, di atas lapangan D Senayan, Jakarta.

David Wahyu Hidayat

24
Mar
13

Ulasan Konser: Bloc Party – Tennis Indoor Senayan Jakarta, 20 Maret 2013

Bloc Party

Tennis Indoor Senayan, Jakarta

20 Maret 2013

 

Setlist:

So He Begins To Lie, Trojan Horse, Hunting For Witches, Positive Tension, Real Talk, Waiting For The 7.18, Song For Clay (Disappear Here), Banquet, Coliseum, Day Four, One More Chance, Octopus, We Are Not Good People

Encore 1:

Kreuzberg, Ares, This Modern Love, Flux

Encore 2:

Sunday, Like Eating Glass, Helicopter

Bloc Party JKT

Ulasan:

Hari berganti hari, hal-hal di sekitar kita digantikan dengan modernisme fana. Sejak 2005; kita menunggu bahwa segala kemegahan yang ada di “Silent Alarm” boleh disaksikan di hadapan mata kita, menantikan soundtrack kenihilan kehidupan urban dekade “00” di “A Weekend In The City” didengarkan langsung dengan telinga sendiri, merasakan intimasi dalam balutan lagu-lagu “Intimacy” dengan jarak tidak kurang lebih dari 5 meter. Semuanya itu kita tunggu dari tahun 2005, untuk menyaksikan Bloc Party langsung di kota kita sendiri, bersama ribuan fans lainnya. Hiatus yang terjadi sejak akhir 2009 tidak menolong itu semua akan menjadi kenyataan. Tapi puji pada pencipta langit, darat dan lautan, band tersebut menelurkan “Four” tahun lalu, dan penantian 8 tahun itu berakhir pada 20 Maret 2013.

The Adams live at BlocPartyJKT

Pakaian yang kita kenakan masih terasa lembab akibat hujan yang mengguyur Senayan malam itu, ketika kita mendapatkan perlakuan menyenangkan lainnya, sebelum Bloc Party mengambil alih panggung Tennis Indoor Senayan. The Adams, band yang hampir mengukuhkan dirinya sebagai band mitos, tampil malam itu sebagai band pembuka. Lupakan sejenak kalau mereka terasa kaku setelah lama tidak mencicipi panggung ibukota, atau bentuk ruangan Tennis Indoor yang terkutuk untuk selalu menghadirkan suara yang tidak maksimal. The Adams yang malam itu membawakan lagu-lagu indie favorit seperti “Waiting”, “Konservatif” dan “Hallo Beni” adalah sesuatu yang menghangatkan udara sejuk Jakarta malam itu. Senang melihat mereka kembali ke atas panggung setelah sekian lama.

Lepas pukul 22:00, diiringi lagu yang terdengar seperti soundtrack “The Dark Knight Rises”, hadirlah 4 sosok yang dinantikan itu: Matt Tong, Gordon Moakes, Russell Lissack dan Kele yang malam itu berbalutkan kaus hitam bertuliskan “Support Your Local Artist”. Dengan instan, berakhir pulalah penantian 8 tahun di bawah riuh rendah suara penonton di Tennis Indoor. Set mereka diawali dengan gebrakan sunyi “So He Begins To Lie”, yang berubah menjadi liar ketika gitar Russell, bas Gordy dan gebukan maha dashyat Matt  meledakkan erupsi di akhir lagu. Lagu berikutnya adalah sesuatu yang tidak diduga, karena mereka kemudian memainkan “Trojan Horse”. Dengan tempo yang sedikit lebih lambat dari versi studionya, lagu ini mulai menunjukkan supremasi gitar seorang Russell Lissack.

Bloc Party Live At Tennis Indoor Senayan Jakarta - 1

Dari situ suasana pesta menguasai Tennis Indoor Senayan, karena Bloc Party kemudian memainkan “Hunting For Witches” dan “Positive Tension”. Didukung pencahayaan yang sempurna dan suara yang brilian mereka memborbardir kita dengan ketajaman sonik suara gitar, bas dan drum yang berpadu secara epik di “Hunting For Witches”, dan tanpa sempat membiarkan kita bernafas mereka menyambungnya dengan “Positive Tension”, diawali dengan teriakan Kele yang hari itu ada dalam penampilan vokal terbaiknya. Ketika ia meneriakkan “Something Glorious Is About To Happen” tidak ada orang yang di ruangan itu yang tidak percaya kepadanya, karena malam itu sebuah keagungan berjaya untuk selama-lamanya.

Selang mereka memainkan “Real Talk” yang menurunkan suhu sedikit saja di Tennis Indoor malam itu, Gordy memainkan glockenspiel-nya yang menjadi tanda dari intro “Waiting For 7.18”. Lagu ini kemudian diteruskan dengan “Song For Clay (Disappear Here)”, lagu ini adalah pelepasan mereka yang resah terhadap generasi orangtuanya yang hidup di tahun 80-an, dan orang-orang yang merindukan korupsi di jaman keemasaannya yang disimbolkan dengan Kele waktu menyanyikan “Live the dreams like the eighties never happened…how we longed for corruption in these golden years”. “Banquet” kemudian menyambung tanpa jeda, dan lagu generasi “00” ini meledak, membuat Tennis Indoor bagaikan terkena gempa bumi lokal karena keseluruhan manusia di dalamnya baik yang berada di atas tribun dan di arena festival, melompat naik turun berdansa dengan Bloc Party.

Tidak hanya nomor-nomor lama yang disambut dengan gegap-gempita oleh hadirin Jakarta, lagu-lagu dari album “Four” yang mereka mainkan malam itu juga dapat direspon dengan baik. Dimulai dari “Coliseum” yang diawali Russell dengan ritem gitar americana dari Gibson SG putihnya, yang lalu berubah menjadi ganas di akhir lagu, “Day Four” yang menobatkan Bloc Party sebagai salah satu band yang selalu handal bermain dengan perasaan kecintaan akan kota yang kita tinggali, ataupun “Octopus” yang diterjemahkan dengan baik malam itu, terlebih ketika jari-jari Russell memainkan solo lagu tersebut seperti layaknya seorang virtuso gitar sejati.

Setelah lagu tersebut Russell kembali mengambil Gibson SG putihnya, lalu mereka meluncurkan “We Are Not Good  People”, dan Bloc Party pun berubah bagaikan band metal yang terlepas dari kendalinya, ditambah lagi dengan gebukan drum Matt yang bertubi-tubi seperti gelombang tsunami indie terhebat yang pernah menghantam Jakarta. Lagu itu pula yang menandakan berakhirnya set utama mereka malam itu.

“Kreuzberg” mengawali encore pertama mereka malam itu. Dengan versi yang boleh dibilang melucuti versi aslinya, lagu itu terdengar menyejukkan, menghanyutkan setelah dibanjiri dengan ekstase di set utama Bloc Party. Tetapi hanya sampai lagu tersebut saja ketenangan itu dapat dinikmati. Karena “Ares” menyusulnya dan lagu itu seperti sebuah panggilan perang, dengan serangan gitar Russell yang merobek keheningan dan teriakan Kele untuk berdansa di bawah iringan sirene bernama “Ares” dan publik Tennis Indoor pun mengikutinya dengan taat.

Bloc Party Live At Tennis Indoor Senayan Jakarta - 2

Lalu, momen yang mungkin paling ditunggu-tunggu fans Bloc Party selama 8 tahun pun tiba, ketika Kele mengganti gitarnya dengan sebuah Gretsch Tenesse Rose berwarna merah cherry. Dengan gitar itu ia mengawali intro “This Modern Love” dan penonton pun kembali meledakkan emosinya. Ini adalah bukti mengapa Bloc Party menjadi band indie paling hebat selama 10 tahun terakhir, karena mereka bukan hanya dapat memainkan lagu-lagu penuh ekstase tapi dapat juga menampilkan sisi popnya dalam lagu seperti “This Modern Love”. Sisi pop itu ditampilkan kembali dalam “Flux”. Diawali dengan intro yang diambil dari lagu Rihanna “We Found Love”, lagu tersebut berhasil membuat koor massal orang-orang di Tennis Indoor, dan membuat “Flux” menjadi sebuah nomor klasik Bloc Party, dan itu menjadikannya lagu terakhir yang mereka mainkan di encore pertama.

Kemudian, kita publik Jakarta yang beruntung ini, dihadiahi sebuah kejutan ketika Bloc Party memasuki encore-nya yang kedua. Dalam setlist asli mereka tertera “Ratchet” dan “Truth” sebagai lagu yang seharusnya dimainkan. Tetapi begitu Kele kembali di atas panggung, ia mengatakan “This one is for your hangover tomorrow morning”, dan dimulailah “Sunday”. Di tengah dentuman drum Matt, permainan gitar Russell yang menusuk pelan tapi pasti, Rabu malam itu berubah menjadi Minggu pagi yang menenangkan dikelilingi orang yang kita cintai. Lalu, ketika lagu itu usai, satu persatu seperti berbaris kejutan kedua datang. Diawali dengan delay gitar Kele dan Russell, lalu gebukan drum Matt yang bermain seperti monster, dan bas Gordy yang membuat semuanya menjadi solid, “Like Eating Glass” pun dimainkan. Dan itu adalah sebuah prelude dari klimaks sebuah malam yang fantastik. Malam yang luar biasa itu diakhiri dengan luapan kebahagiaan semua orang di gedung Tennis Indoor Senayan; yang lupa diri melompat atas-bawah, kiri-kanan, bermain dengan 2 kubus plastik raksasa yang dilemparkan dari atas panggung, muka tersenyum puas, mulut berteriak berbalasan dengan lagu yang dinyanyikan, hati diliputi kebahagiaan tanpa batas. Dan dari atas panggung, dengan penuh kemajestikan, Matt, Gordy, Russell dan Kele memainkan lagu yang paling mendefinisikan karir mereka, “Helicopter”. Tuhan memberkati mereka, Tuhan memberkati Bloc Party.

David Wahyu Hidayat

24
Feb
13

Ulasan konser: The Stone Roses – Lapangan D Senayan Jakarta, 23 Februari 2013

The Stone Roses

Lapangan D Senayan, Jakarta

23 Februari 2013

Setlist:

I Wanna Be Adored, Mersey Paradise, (Song For My) Sugar Spun Sister, Sally Cinnamon, Ten Storey Love Song, Where Angels Play, Shoot You Down, Fools Gold, Something Burning, Waterfall, Don’t Stop, Made Of Stone, This Is The One, Love Spreads, She Bangs The Drums, I Am The Resurrection

IMAG0129

Ulasan:

Hari Sabtu, 23 Februari 2013 seharusnya tidak pernah terjadi. Segala artefak peninggalan tahun 90-an itu: topi pancing, parka, jaket adidas; seharusnya tidak layak lagi dikenakan di umur yang sudah bertambah 2 dekade dari usia belasan. Namun seperti seorang pahlawan sebuah legenda yang turun dari langit untuk memberikan arti bagi kaumnya yang menunggu datangnya mesias, apa yang terjadi di Lapangan D Senayan pada hari di atas adalah bagian dari legenda hidup The Stone Roses dan rakyat britpop tanah air tercinta ini.

Mereka yang beruntung menyaksikan Roses di Singapura 22 Juli 2012 lalu, sudah menganggap hal itu sebuah kemagisan yang tiada ditandingi. Siapa yang menyangka kalau Ian, John, Reni dan Mani akhirnya menginjakkan kaki mereka di atas panggung Lapangan D Senayan pada 23 Februari 2013. Live resurrection adalah label yang diberikan Ian untuk tur reuni mereka ini. Untuk kita semua di Indonesia yang menyaksikan mereka di Lapangan D, itu bukanlah sekedar kebangkitan, itu adalah surga britpop yang hadir senyata-nyatanya dalam 90 menit di Senayan.

Persetan dengan setlist yang sama dengan tahun lalu, bahkan minus satu lagu dikurangi “Bye Bye Badman”; Peduli apa kita dengan sound dan permainan mereka yang terkadang terasa kurang solid (Gig di Jakarta ini adalah yang kedua tahun ini setelah jeda di akhir 2012); Siapa yang takut dengan genangan lumpur yang menggenangi sebagian area panggung; The Stone Roses telah hadir di negara ini, dan kita semua adalah orang paling bahagia di dunia kemarin, di lapangan D Senayan. Bertahun-tahun kita membaca tentang konser legendaris mereka di Spike Island, sekarang kita boleh berbangga dan bercerita ke semua orang, bahwa kita punya Lapangan D Senayan, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil itu dari kita.

Tidak akan yang dapat merenggut kebahagiaan ketika “I Wanna Be Adored” dikumandangkan dengan kegagahan mancunian, ketika barisan paling depan penonton kehilangan kontrol saat mendengar riff pertama dari “Waterfall” atau ketika dengan gemilangnya John memainkan solo “Made Of Stone”. Tidak akan terlupakan momen di mana Ian dengan gayanya yang khas menari-nari saat “Fools Gold” dimainkan, sementara John memainkan peranannya sebagai pahlawan gitar yang kita agungkan selama masa remaja kita. Dan saat mereka menuntaskannya dengan “I Am The Resurrection” semua nadi yang selama ini mengekang kebahagiaan kita, meledak di bawah langit Jakarta.

Sabtu, 23 Februari 2013 seharusnya adalah hari yang tidak pernah terjadi. Tetapi kenyataannya adalah, itu adalah hari ketika The Stone Roses band yang kita puja itu memahat monumen di dalam hati kita, di kota yang kita cintai.

David Wahyu Hidayat

04
Agu
12

Konser Review: The Stone Roses – Singapore Indoor Stadium, 22 Juli 2012

The Stone Roses

Singapore Indoor Stadium

22 Juli 2012

 

Setlist:

I Wanna Be Adored, Mersey Paradise, (Song For My) Sugar Spun Sister, Sally Cinnamon, Bye Bye Badman, Ten Storey Love Song, Where Angels Play, Shoot You Down, Fools Gold, Something Burning, Waterfall, Don’t Stop, Love Spreads, Made Of Stone, This Is The One, She Bangs The Drums, I Am The Resurrection

Review:

 

Dari sekian banyak band yang berkeliaran di semesta pop ini, hanya sedikit yang dengan menyebutkan namanya terkonotasikan sebuah fabel/mitos. Sebuah nama yang hanya terekam dalam kepingan album-album mahakarya, terlebih jika mahakarya tersebut hanya berupa dua album: Yang satu kesempurnaan pop-psikedelik, yang satu lagi kemegahan gitar dalam balutan riff ala Jimmy Page; dan sekumpulan b-sides lainnya yang dipelajari satu persatu, karena band tersebut telah tiada, terkubur dalam keabadian pop dengan sempurnya.

Namun semuanya berubah sejak tanggal 18 Oktober 2011. Band tersebut, The Stone Roses, memutuskan untuk bangkit dari kuburnya, menghapus segala dendam pribadi di antara anggotanya, dan kembali aktif sebagai band yang kita cintai dan sudah terlanjur terpatri sebagai sebuah cerita legenda pop 90-an. Sampai saat itu pun, tidak akan terbersit pikiran sekecil apapun, kalau kedua mata dan sepasang telinga ini akan menyaksikan kebangkitan mereka secara langsung, sampai sebuah berita di awal bulan April 2012 mengubah semuanya, dengan mengatakan kalau tur reuni mereka akan singgah di Singapura pada tanggal 22 Juli 2012.

Setelah euforia berbulan-bulan, ketika malam tersebut datang, dan badan mortal ini memasuki arena konser di Singapura Indoor Stadium, dan menyaksikan lemon double drum bas milik Reni terpampang dengan kidungnya di atas panggung, pelukan sudah terbagi antara kedua sahabat yang menunggu konser ini sejak 2 dekade lebih, senyum sudah terbersit tanpa batas, jantung sudah berdegup kencang, seakan semua ini terlalu sempurna untuk hadir dalam ruang realita waktu kehidupan ini.

Pukul 20:30 waktu Singapura, dengan diiringi beat “Stoned Love” dari The Supremes, keempat sosok itu: Ian dengan training jaket berwarna ungu, John yang mengenakan kemeja putih lengan panjang, Reni dengan jersey sepakbola berwarna kuning, dan Mani yang memakai kemeja bercorak paisley memasuki panggung dengan penuh elegan, dan dimulailah konser impian itu dengan dentuman bas “I Wanna Be Adored”. Keempatnya bagaikan pahlawan perang yang baru pulang dari medan perang, magis, memberikan arti, seperti sebuah kemenangan terhadap sesuatu yang kita sendiri sebenarnya tidak tahu apa, tapi momen itu tampak seperti mengecap obat penawar yang memberikan kesembuhan ultimatif.

Atmosfir konser tersebut sangat mengalir, dengan permainan gitar John yang sering memberikan riff-riff tambahan di setiap lagunya, rasanya seperti berada dalam dejavu mimpi terindah kita. “Mersey Paradise”, “Sugar Spun Sister”, “Sally Cinamon” mengalun satu persatu menyusul “Adored”, dan semuanya seperti dalam sebuah film. Melihat sosok seorang John Squire memainkan melodi-melodi yang telah menjadi musik latar belakang masa remaja penuh kenaifan dan optimisme, ia adalah seorang pahlawan gitar, dan malam itu seharusnya semua yang hadir di sana menyadari sepenuhnya akan hal itu.

Peneguhan seorang John Squire sebagai seorang pahlawan gitar terlihat jelas pada, “Fools Gold”. Seharusnya ini adalah lagu di mana Reni dan Mani menjadi bintangnya dengan beat dansa-psikedelik yang menjadi tandatangan lagu ini, tetapi John seperti mencuri kilat mereka di lagu ini, di bagian belakang lagu ini, di mana ia memainkan riff-riff ala Zeppelin, bahkan sempat menyelipkan “Daytripper” membuatnya sebagai seorang dewa gitar pendiam yang berbicara hanya melalui 6 senar di gitarnya. Sebuah momen yang akan dikenang sepanjang masa, karena malam itu John Squire benar-benar sebuah wujud nyata seorang legenda yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan dari footage-footage terbatas The Stone Roses selama 20 tahun terakhir.

Semenjak “Fools Gold”, The Stone Roses tidak membiarkan suasana di Singapore Indoor Stadium turun, mereka menghantam dengan nomor klasik satu disusul nomor klasik lainnya. “Waterfall/Don’t Stop” dibawakan dengan sangat psikedelik, “Made Of Stone” adalah perwujudan akan kemajestikan band tersebut, “Love Spreads” dibawakan dengan sangat solid, ditambah kejutan dari Ian Brown yang melakukan rap di akhir lagu tersebut, kemudian “She Bangs The Drums” membuat arena itu menjadi arena pesta indie terbesar Asia Tenggara untuk malam itu. Sampai akhirnya kita semua sampai pada klimaks mimpi indah itu. “I Am The Resurrection” menebus semua kerinduan akan pahlawan musik yang sesungguhnya, yang memberikan sebuah arti dalam musik yang kita dengarkan. Hampir 20 tahun lamanya kita menyanyikan lagu itu, menemani dalam setiap fase kehidupan, lalu ketika kita mendengarkannya secara langsung lagu itu dibawakan oleh Ian, John, Reni & Mani meledaklah setiap sumbu kebahagiaan dalam hati kita, kedua tangan terkepal ke atas, penuh senyum merayakan kebangkitan musik bersama mereka.

Awal saya mencintai The Stone Roses adalah ketika menemukan dan memutar berulang-ulang album kompilasi “The Complete Stone Roses” di walkman butut warisan orang tua. Seorang musik jurnalis asal Inggris bernama John Harris menulis sleeve note di album kompilasi tersebut, dan saya akan mengutip 2 paragraf terakhirnya. Begini bunyinya:

“So, when those funeral catalogues that pass for music magazines talk about Dylan at the Albert Hall, and Jimi at the Monterey, and the Velvets playing the Exploding Plastic Inevitable, and The Pistols at the Screen On The Green, aching to convince us that rock music last shot its bolt several hundred years ago and we should all go home and resign ourselves to historical defeat. Think again.

The Stone Roses created as much magic as any of them. Tell your grandchildren”.

Dan saya akan melakukan hal itu. Saya akan menceritakan sampai ke anak-cucu saya, bahwa pada malam 22 Juli 2012 di Singapore Indoor Stadium, saya menyaksikan sesuatu yang magis, sesuatu yang berarti untuk sebuah momen kehidupan. Sebuah momen di mana musik menemukan bentuk terbaiknya. Sebuah momen di mana saya hidup dan hadir untuk menyaksikan keajaiban yang diciptakan The Stone Roses. Itu semua adalah sebuah kebangkitan.

David Wahyu Hidayat   

 

 




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,056 hits