Posts Tagged ‘Liam Gallagher

17
Jan
18

Ulasan Konser – Liam Gallagher, Econvention Ancol Jakarta, 14 Januari 2018


Liam Gallagher

Econvention Ancol Jakarta, 14 Januari 2018


Setlist:

Fuckin’ In The Bushes (Tape), Rock ‘N’ Roll Star, Morning Glory, Greedy Soul, Wall Of Glass, Paper Crown, Bold, For What It’s Worth, Soul Love, Some Might Say, Slide Away, Come Back To Me, You Better Run, Be Here Now, Live Forever. Encore: Cigarettes & Alcohol, Wonderwall

Minggu, 14 Januari 2018 adalah hari yang istimewa. Di hari itu, Presiden Jokowi meresmikan ulang stadion kebanggaan nasion ini; Gelora Bung Karno yang telah direnovasi ulang dan sekarang berdiri dengan segala kemegahan tata cahayanya selayak mentari Nusantara. Di minggu yang megah itu pula, kedigdayaan 33 kali kemenangan berturut-turut dalam kompetisi domestik Manchester City dipatahkan dengan gemilang oleh Liverpool FC. Namun selain itu ada satu peristiwa yang terjadi di utara kota Jakarta yang membuat hari itu menjadi spesial. Hari itu, Jakarta kedatangan anak ternama Manchester, frontman terbaik terakhir dari generasinya, hari itu Liam Gallagher hadir di Jakarta.

Tepat pukul 21:00, saat hentakan terakhir I Am The Resurrection surut dari tata suara Econvention, lampu pun dipadamkan, secara sekejap gendang telinga kita lalu digempur oleh dentuman Fuckin In The Bushes. Dada mulai berdegup kencang, adrenalin mulai terpompa, lalu dengan penuh kebanggaan berdirilah Liam Gallagher bak seorang mesias di tengah riuh sorakan pengikutnya yang sudah lama menanti kedatangannya.

Ia langsung menggebrak dengan Rock N Roll Star, dan seperti air bah yang tidak dapat lagi dibendung, seluruh manusia mortal yang ada di ruangan konser itu meyakini bahwa mereka pun adalah rockstar, sambil mengagumi kharisma sang penyelamat yang berdiri di atas panggung, tangan di belakang, kepala mendongak, menyanyi sambil mempercayai bahwa momen itu adalah yang terpenting sepanjang hidupnya.

Morning Glory, melanjuti konser tersebut, dan lenyap sudah semua ingatan bahwa band yang memiliki lagu tersebut sudah bubar 9 tahun yang lalu. Noel tetap akan dirindukan kehadirannya, namun setidaknya malam itu publik Ancol menyaksikan sebersit kejayaan Oasis dalam Liam Gallagher.

Setelah 2 lagu klasik tersebut, Liam melanjuti malam itu dengan lagu-lagu dari solo albumnya. Greedy Soul, Wall Of Glass, Paper Crown, Bold, dan For What It’s Worth (yang ia dedikasikan untuk semua scouser di ruangan itu) terdengar berhasil memerdekakan dirinya sebagai seorang solo artis dan bukan hanya sebagai eks-vokalis Oasis. Dengan atau tanpa lagu Oasis, ia adalah seorang Liam Gallagher yang memiliki daya tarik, yang dipuja oleh massanya yang menganggapnya setengah dewa dan yang memberikan arti dalam kehidupan orang banyak. Dan hal ini dibuktikan oleh penonton yang ikut bernyanyi bersamanya sebagai sebuah pembuktian bahwa mereka mengakui semua itu.

Selepas Soul Love, sebuah karyanya bersama Beady Eye, Liam mempersembahkan Ancol dengan Some Might Say dan Slide Away, dan itu membawa Econvention ke pertengahan tahun 90-an di mana Britpop adalah sebuah kerajaan dengan segala optimisme dan harapan yang menyertainya.

 

Come Back To Me dan You Better Run dari As You Were bergulir menyusul 2 lagu klasik tersebut, dan Liam kembali meneruskan mode petarungnya, bernyanyi seperti layaknya Mike Tyson yang hendak menjungkalkan lawannya di atas ring. Malam itu Liam memberikan performa suara yang baik, bahkan bisa dibilang lebih baik dari hari-hari terakhirnya di Oasis, dan semua yang menyaksikannya malam itu beruntung mengalami Liam dalam versi tersebut.

Set utama malam itu menemukan pamungkasnya dalam Be Here Now dan Live Forever. Ketika lagu terakhir tersebut dibawakan secara akustik, kemortalan kita sekejap berubah menjadi keabadian ketika menyanyikan “you and I, we’re gonna live forever”, ketika kita turut bahagia akan seorang penonton yang berhasil naik ke panggung dan memeluk Liam seakan ia adalah kekasih idamannya, ketika kita menengadah ke langit sambil merentangkan tangan bersyukur bahwa keajaiban musikalis kita boleh terjadi malam itu.

Setelah jeda obligatoris, Liam kembali naik ke atas panggung diiringi nyanyian Champagne Supernova oleh penonton, yang selain kehadiran Liam sendiri merupakan keindahan lainnya dari konser malam itu. Kembali kita diberikan keistimewaan hanyut dalam Cigarettes & Alcohol, seakan kepenatan pekerjaan sehari-hari terlibas oleh suara rock ‘n’ roll yang membawa kembali ekstase kehidupan.

Rangkaian momen-momen kejayaan malam itu diakhiri dengan versi akustik Wonderwall. Lengkap sudah kebahagiaan mereka yang menghadiri konser tersebut, karena selama hampir satu setengah jam melalui lagu-lagu yang mendefinisikan masa muda dan memberikan makna dalam kehidupan, kita berasa seperti seorang rock ‘n’ roll star dan pada akhirnya menemukan keabadian yang tidak dapat diambil lagi dari diri kita. Kamu dan saya yang ada di Econvention malam itu akan hidup untuk selamanya.

David Wahyu Hidayat

Iklan
31
Des
17

Favorite Tracks & Albums 2017

Tracks:

Albums:

11
Mei
14

Album Review: Oasis – Definitely Maybe

Definitely Maybe Collection

Oasis
Definitely Maybe
Creation Records – 1994

Keith Cameron, mantan editor senior NME menulis demikian di akhir ulasannya tentang Definitely Maybe 20 tahun silam: “With Definitely Maybe, Oasis have encapsulated the most triumphant feeling. It’s like opening your bedroom curtains one morning and discovering…the Taj Mahal in your back garden.”

Pernyataan itu di tengah-tengah puncak kebanggaan, perasaan congkak, sekaligus naif tanpa ketakutan tahun 90-an adalah benar adanya, karena di tahun itu tidak ada yang lebih besar dari usaha kolektif lima pemuda bernama Liam, Noel, Bonehead, Guigsy dan Tony. Definitely Maybe mengubur dalam-dalam lubang kefanaan grunge yang ditinggalkan oleh kematian Kurt Cobain, bukan hanya mengisi keabsenan tapi mendefinisikan baru kecongkakan penuh ambisi yang pernah diperlihatkan Ian Brown bersama The Stone Roses, dan album itu adalah salah satu pilar terbesar sebuah kerajaan yang bertahun-tahun dan dekade setelahnya dikenal dengan nama Britpop.

Memuja Definitely Maybe, yang berarti juga memuja Oasis adalah perihal sederhana. Seperti hal paling mendasar yang bisa didefinisikan seseorang terhadap orang lain, menyukai debut album band asal Manchester itu hanya didasarkan satu hal. Perasaan. Dan perasaan adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan atau direnggut orang lain. Apakah kamu dan saya memilikinya, terpujilah langit dan alam semesta jika memilikinya, atau tidak. Sebab Noel bukanlah gitaris terbaik yang pernah dilahirkan Inggris, Liam bukanlah vokalis jelmaan John Lennon atau Johnny Rotten seperti yang sering diklaim dirinya, terlebih lagi ketiga personil pengiring kakak-beradik Gallagher itu, mereka lebih cocok sebagai tukang kayu atau kurir pos dibanding menjadi anggota band terbaik dunia.

Ekstase dan murni ekstase itulah yang disampaikan Definitely Maybe. Sejak menit pertama gitar itu melengking, dihajar dengan dentuman drum ekstatik McCarroll, dan suara parau Liam menyanyikan “I need some time in the sun shiiiiinnneee…” yang kemudian menjadi ciri khas dirinya, album itu dan Oasis mendefinisikan generasi 90-an, seperti awal distorsi A Hard Day’s Night telah mendefinisikan tahun 60-an.

Mendengarkan Definitely Maybe bak mendengarkan suara pembebasan. Bahwa yang terpenting adalah apa yang dapat dilakukan dengan diri kita jika kita percaya, bukan perkataan orang lain. Noel bukan seorang pembuat lagu yang dikenal dengan rangkaian liriknya, namun kesederhanaan liriknya justru membangkitkan inspirasi di antara pendengarnya. Dengarkan saja penggalannya di Rock ‘n’ Roll Star “In my mind my dreams are real…tonight I’m a rock ‘n’ roll star”, atau pada Cigarettes and Alcohol “You could wait for a lifetime to spend your life in the sunshine…you gotta make it happen” atau usaha pengimortalisasi diri yang dapat kita dengar dalam Live Forever “Maybe you’re the same as me, we see thing they’ll never see, you and I we’re gonna live forever”. Jika ini semua bukan suara pembebasan, musik apalagi yang dapat membebaskan kita semua?

Jika musik grunge mengedepankan suasana “Kami melawan sisa dunia”, Definitely Maybe justru mensuarakan suasana sebaliknya. Dengan musik yang sederhana, sesederhana orang baru belajar gitar, Definitely Maybe menciptakan suasana opstimisme penuh matahari yang menjadi ciri khas Britpop. Dalam lingkaran musik tak berujung yang dihantarkan Columbia, Oasis menciptakan arti psikedelik untuk generasi 90. Dalam ledakan drum dan distorsi berbahaya Bring It On Down, rock ‘n’ roll diberikan nyawanya kembali. Dalam kemanisan poptastik Slide Away Oasis memberikan soundtrack lagu romantis tanpa asa untuk para britpoper. Lalu di tengah-tengah album itu berdiri dengan megah Supersonic dengan segala kejayaannya, yang akan membuat kedua tangan kita mengepal ke udara, meninju langit biru dengan secercah matahari musim panas, dan membuat perasaaan kita seperti sehabis memenangkan Champions League melawan Barcelona dengan skor 4-3.

Definitely Maybe terdengar seperti sebuah kemenangan di tahun 1994. 20 tahun setelahnya, kita menghidupi kejayaan album itu. Definitely Maybe telah mengiringi masa adolesen saya, dan tetap terus menginspirasikan saya dan saya yakin banyak orang lainnya yang telah membeli album tersebut, untuk tetap membangun Taj Mahal definisi dirinya masing-masing. Entah itu keinginan menjadi band terbaik di negaranya, menjadi pesepakbola yang membawa negerinya meraih trofi pertamanya setelah seperempat abad, menciptakan mobile app paling digemari sedunia, atau hanya sekedar menjadi kepala keluarga terhebat untuk anak-istrinya. Yang jelas, inspirasi itu hanya sejauh sentuhan play di pemutar musik kita, dan Definitely Maybe akan kembali menjadi suara pembebasan kita. “You need to be yourself, you can’t be no one else”.

David Wahyu Hidayat

 

Definitely Maybe versi master ulang dapat diperoleh di iTunes sejak 12 Mei 2014




Januari 2018
S S R K J S M
« Des    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Blog Stats

  • 142,681 hits