Archive for the 'Efek Rumah Kaca' Category

14
Apr
17

Playlist: Favourite Tracks From The Year 1997/2007

 

 

Dalam setiap dekade ada setidaknya satu tahun yang pivotal keberadaannya secara musikalis, karena menghantarkan karya demi karya yang terdengar majestik dan membentuk momen-momen yang mendefinisikan kehidupan. 1997 dan 2007 adalah tahun-tahun yang masuk dalam kategori di atas.

 

Di tahun 1997, orde baru memasuki penghujung hidupnya, begitu juga dengan kerajaan lain bernama Britpop. Album ketiga Oasis Be Here Now memastikan kematiannya secara gemilang, di sisi lain Radiohead melalui OK Computer dengan akurat memprediksi kehidupan setelah Britpop dan abad 21 dengan cara hidup paranoid di sebuah ekosistem bernama Android ataupun sistem operasi lainnya yang mengikat manusia dalam kefanaan dunia maya. Sebelumnya, Blur sudah lebih dulu memilih jalan keluarnya dari skena itu dengan merilis album brilian mereka di awal tahun, serta karya-karya elektronika fenomenal dari The Chemical Brothers dan Prodigy yang membuka jalan bagi artis-artis bergenre elektronik lainnya.

 

10 tahun berikutnya tantanan kehidupan dunia telah berubah, dengan peristiwa 09/11 di tahun 2001 yang mendikte kehidupan di millennium baru. Dalam dunia musik, sekali lagi Radiohead berperan melalui perilisan album In Rainbows dengan metode pembayaran suka-suka. Ketika perilisan fisik di ambang kematiannya digantikan dengan digitalisasi, mereka memilih untuk tidak didikte dengan itu, dan di luar semuanya album tersebut adalah sesuatu yang sangat brilian. Pahlawan-pahlawan baru pun muncul dalam bentuk album-album yang dirilis LCD Soundsystem, Efek Rumah Kaca maupun Bloc Party di tahun itu.

 

Playlist ini adalah sebuah perayaan akan keindahan musik di 2 tahun tersebut yang terpisahkan 1 dasawarsa dan bagaimana momen-momen yang mengitarinya adalah sebuah bersitan kehidupan yang akan selalu tergores dalam pita memori alam pikiran saya.

 

Beetlebum – Blur (dari album Blur)

 

Dirilis sebagai single nomor satu dari album yang berjudul sama dengan band mereka, album ini adalah sebuah awal baru bagi Blur. Perlahan tapi pasti mereka mulai melepaskan ciri khas british ladism yang melekat pada mereka di album-album sebelumnya, digantikan dengan nuansa psikedelia dan americana pada karya-karya di album ini. Jujur saya menyukai perubahan arah ini.

 

Kirana – Dewa 19 (dari album Pandawa Lima)

 

Jika band ini meneruskan arahan yang terdengar pada lagu dan album ini, serta tidak tenggelam dalam godaan lain di luar musik, mungkin Dewa 19 akan menjadi band Indonesia yang paling saya gilai sepanjang masa. Bagaimana tidak, siapapun yang mendengarkan lagu ini di tahun 1997 akan mengakuinya sebagai sebuah mahakarya. Vokal Ari Lasso, permainan gitar Andra, dan nuansa magis yang membungkus lagu itu, semuanya adalah kesempurnaan. Sekali lagi kesempurnaan.

 

Discotheque – U2 (dari album Pop)

 

Siapapun yang pernah hidup dan merasakan tumbuh besar di tahun 90an tidak akan pernah bisa memungkiri, bahwa U2 adalah band terbesar di masa itu. Tidak ada yang bisa menyentuh U2, bahkan ketika merilis Pop dan merilis sebuah nomor discorock seperti Discotheque kita menyorakinya dan menyebutnya sebuah progres luar biasa dalam arahan musik mereka. (Betapa kita sesungguhnya salah besar), namun jika kita mengalaminya di masa itu, kita akan memuja Bono, The Edge, Larry dan Adam dengan sepenuh jiwa kita.

 

Monkey Wrench – Foo Fighters (dari album The Colour And The Shape)

 

Kita masih tenggelam dalam duka akibat wafatnya Kurt Cobain, ketika Dave Grohl memasuki dunia musikalis kita melalui Foo Fighters. Skeptis adalah kata yang tepat karena curiga ia hanya mendompleng nama besar Nirvana. Namun nomor seperti Monkey Wrench di tahun 1997 merasuki jiwa dan telinga kita, dan kita pun dengan cepat menyadari bahwa ia memiliki bakat tersendiri yang berbeda dengan pemimpin band legendaris asal Seattle itu. Pelan-pelan Foo Fighters pun menemukan tempatnya tersendiri di hati kita.

 

Around The World – Daft Punk (dari album Homework)

 

1997, MTV tengah malam di bulan Juni. Sebuah video klip dengan latar belakang warna-warni technicolor dalam bentuk bundaran-bundaran, serta manusia-manusia yang tanpa henti berjalan naik-turun dalam piramida tangga yang berdiri di depannya, diputar di malam yang seakan tak lekas henti itu. Musik yang mengiringinya adalah sebuah pencerahan. Apakah ini, pikir saya waktu itu, kata-katanya hanya terdiri dari “Around The World” yang diucapkan berkali-kali dengan logat eropa, musiknya terdiri dari bits-bits elektronik seperti R2D2 dan C3P0 sedang menyanyi dengan bahasa droid dalam pesta mereka di Millenium Falcon. Ketika video klip itu hendak usai terpampanglah nama artis yang memiliki karya tersebut. Daft Punk. Dan itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan mereka.

 

Block Rockin’ Beats – The Chemical Brothers (dari album Dig Your Own Hole)

 

Jika tidak karena The Chemical Brothers mungkin saya tidak akan pernah menghormati karya-karya musik elektronik maupun artis-artis yang saya gilai di kemudian hari seperti LCD Soundsystem. Block Rockin’ Beats adalah pembuka jalan dari semua itu. Bagi saya The Chemical Brothers adalah pionir, dan saya berterima kasih karena mereka telah membuka mata saya.

 

Smack My Bitch Up – The Prodigy (dari album The Fat Of The Land)

 

The Prodigy sesuai dengan nama bandnya adalah komplotan jenius. Mendengarkan Smack My Bitch Up, kita disodorkan sesuatu yang terlalu nyeleneh untuk sebuah musik elektronik, tetapi di sisi lainnya terlalu digital untuk dikatakan punk. Jika elektropunk mempunyai sebuah embrio, lagu ini adalah hal tersebut.

 

Paranoid Android – Radiohead (dari album OK Computer)

 

Paranoid Android akan selalu melekat dalam diri Radiohead, sebagai lagu yang mendefinisikan karir mereka sebagai band paling jenius di generasinya. Ditulis dan dihantarkan sebagai sebuah rock opera multi fragmen, lagu ini akan membuai kalian, lalu menusuk telinga dan raga dari seluruh penjuru, seperti sebuah perjalanan roller coaster yang akan menjungkirbalikkan daya gravitasi, membuat mual tetapi pada momen ketika kita akan meluncur bebas, kita akan merasakan keindahannya. Itulah kejeniusan Paranoid Android.

 

Don’t Go Away – Oasis (dari album Be Here Now)

 

Sejujurnya secara pribadi saya menyukai Be Here Now. Walau sekarang dikecam oleh banyak orang, namun album itu selalu mendapatkan tempatnya di hati saya. Bagaimana tidak, album ini memiliki kekuatan dengan lagu seperti Don’t Go Away yang merupakan salah satu lagu ballad terbaik yang pernah diciptakan Noel (lebih baik dari Stand By Me yang dirilis sebagai single). Be Here Now mungkin merupakan stempel resmi kehancuran Britpop, tetapi bagi saya ini merupakan album solid lainnya yang pernah dihasilkan Oasis. Akhir dari diskusi.

 

The Drugs Don’t Work – The Verve (dari album Urban Hymns)

 

Lagu ini adalah lagu after party dari Britpop, dari segala kegilaan tahun 90an, dari hedonisme masa SMA kalian. Mengalun dengan manis, dengan suara khas Richard Ashcroft yang pasti akan membawa kalian ke alam sadar setelah segala sesuatunya. Lagu ini juga menjadi cetak biru tipikal lagu ballad band dari Britania yang datang setelahnya seperti Travis dan Coldplay. Jika segala sesuatu terasa berat dalam kehidupan, dengarkan saja lagu ini, pejamkan mata, dan semuanya akan baik-baik saja.

 

Fake Empire – The National (dari album Boxer)

 

Ditulis dengan inspirasi Amerika di bawah pemerintahan Bush, lagu ini masih tetap relevan sampai detik ini di tengah segala kegilaan politik populisme dunia. Pada akhirnya memang politik tidak bisa dipercaya, apakah kehidupan yang kita jalani kita hidupi untuk diri kita sendiri, atau untuk kemajuan mereka yang duduk di atas singgasana dalam kerajaan semu? Daripada memikirkan semua itu lebih baik menikmati keindahan lagu ini, sambil ikut melantunkan liriknya “Turn the light out say goodnight, no thinking for a little while

Let’s not try to figure out everything at once….”

 

We’ll Live and Die In These Towns – The Enemy (dari album We’ll Live and Die In These Towns)      

 

Kota yang kita tinggali seringkali keji sekaligus brutal. Ia mengharuskan kita bekerja 12 jam sehari, ditambah dengan pergulatan menempuh kekejaman lalu lintas ketika berangkat dan dalam perjalanan pulang yang dapat memakan waktu tempuh tidak masuk akal. Namun kota yang sama memberikan kita orang-orang yang kita cintai, senyuman dalam diri orang asing yang masih mau membantu kita ketika putus asa karena ban kendaraan kalian tertancap paku. Setiap kali mengingat semua kebaikan tersebut, saya teringat lagu ini, dan saya selalu tersenyum karena di kota ini saya tinggal dan hidup.

 

Bodysnatchers – Radiohead (dari album In Rainbows)

 

In Rainbows adalah album yang nyaris sempurna. Jika Radiohead tidak pernah merilis Kid A, mungkin ini adalah album terfavorit saya dari mereka. Dirilis dengan metode pembayaran sesuka konsumernya, In Rainbows mendobrak pakem-pakem distribusi musik konvensional. Dari sisi musik, ini adalah karya paling menarik yang pernah dihasilkan Radiohead, dengan lagu ini sebagai salah satu contohnya, melalui serangkaian efek gitar yang meledakkan amplifier dan merobek telinga.

 

Hunting For Witches – Bloc Party (dari album A Weekend In The City)

 

Merilis album keduanya di tahun 2007, Bloc Party mengukuhkan diri mereka sebagai band penting asal Inggris penting di generasi mereka. Mengambil tema kegalauan kehidupan generasi milenial, album ini masih menemukan relevansinya sampai sekarang, begitu juga dengan lagu ini yang mempertanyakan versi kebenaran yang kita kejar. Russell Lissack menfiturkan permainan lick-lick gitar menarik yang membuat lagu ini masih menjadi nomor favorit yang dimainkan Bloc Party sampai sekarang.

 

Jacqueline – The Coral (dari album Roots & Echoes)

 

Tidak banyak band seperti The Coral yang dengan keindahan jingle-jangle gitar mereka berfungsi sebagai mesin waktu ke masa-masa di mana dunia tidaklah serumit sekarang. Jacqueline adalah lagu musim semi di mana kegalauan musim dingin telah berlalu, dan yang ada di depan hanyalah hangatnya sang Surya yang menerpa wajah kita ditemani manusia yang kita cintai.

 

True Love Way – Kings of Leon (dari album Because of The Times)

 

“I want in, like a substitute…” sejak awal lagu ini adalah sebuah pernyataan. Jika cinta hanya bisa sekali dinyatakan maka lirik tersebut merupakan sebuah pernyataan yang sangat dasyhat. Karena tidak ada yang lebih tinggi, daripada hasrat sebuah pemain pengganti yang ingin memasuki arena pertandingan. Di album ini Kings of Leon mengukuhkan diri bahwa mereka bukan sekedar pengikut tren yang diawali oleh The Strokes dengan memainkan garage rock, tetapi mereka membuktikan bahwa mereka adalah sebuah kuartet solid yang dapat memainkan musik untuk memukau jutaan orang.

 

Di Udara – Efek Rumah Kaca (dari album Efek Rumah Kaca)

 

Tahun 2007 adalah tahun di mana Yang Mahakuasa menganugerahkan sebuah band bernama Efek Rumah Kaca ke tanah air ini. Dengan lirik yang penuh arti, musik yang mengusik sanubari, band tersebut benar-benar merupakan anugerah dalam kehidupan kita. Di Udara adalah lagu yang didedikasikan untuk almarhum Munir, aktifis maupun pasifis, siapapun yang pernah menyaksikan lagu ini dimainkan langsung akan merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekuat itulah kuasa lagu ini.

 

All My Friends – LCD Soundsystem (dari album Sound of Silver)

 

Dengan dentingan piano tanpa henti dan sentakan drum seperti senapan mesin yang menyemburkan pelurunya bertubi-tubi, serta lirik penuh elegi terhadap sebuah pertemanan “…You spent the first five years trying to get with the plan, And the next five years trying to be with your friends again…” James Murphy melalui lagu ini menumpahkan isi hatinya tentang menjadi dewasa. Sesungguhnya mendengarkan lagu ini, tidak ada yang lebih indah menemukan fakta bawah kita tidak lagi di umur belia kita, dan kehidupan sesungguhnya baru saja dimulai.

 

To The Sky – Maps (dari album We Can Create)

 

Maps alias James Chapman adalah semacam tips rahasia balik di tahun 2007. We Can Create adalah sebuah album elektronik pop yang sempurna, mendefinisikan suasana etereal yang lugas, dan To The Sky adalah salah satu permatanya. Mendengarkannya kita akan benar-benar mengambang, menatap langit penuh keindahan tidak peduli apakah hari itu cerah atau dipenuhi kegelapan, karena lagu itu akan mencerahkan segalanya.

 

505 – Arctic Monkeys (dari album Favourite Worst Nightmare)

 

Melalui album keduanya Favourite Worst Nightmare, Arctic Monkeys membuktikan bahwa mereka bukan hanya sensasi semalam saja. Album kedua mereka seperti seorang adik kandung yang lebih misterius namun penuh daya tarik jika dibandingkan dengan album pertama mereka yang sensasional itu. 505 nomor penutup album kedua tersebut, merupakan pembuktian bahwa Alex Turner adalah penulis lagu terbaik di generasinya dan Arctic Monkeys adalah band yang tidak takut untuk memasuki teritori yang baru.

 

David Wahyu Hidayat

13
Nov
16

Impresi 2 hari di Soundrenaline Festival 2016

Di awal September lalu, tepatnya pada 3 & 4 September 2016, melalui sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Rolling Stone Indonesia tentang konser terbaik yang pernah disaksikan, saya berkesempatan menyaksikan Soundrenaline Festival setelah terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi tersebut. Pemenang lainnya adalah: Tantan Rahmatullah (https://konstelasikata.wordpress.com/) & Adam Muslihat Santika Putra (https://sayabercengkerama.wordpress.com/).

Kami bertiga diberangkatkan oleh Rolling Stone Indonesia dan selama dua hari memiliki pengalaman tak terlupakan menyaksikan festival terbesar negeri ini sekaligus berkenalan sedikit tentang sisi jurnalisme musik dari teman-teman Rolling Stone Indonesia yang menemani kami. Sebagai “reporter tamu” kami pun diberikan pekerjaan rumah untuk menulis liputan dari Soundrenaline 2016. Di bawah ini adalah impresi saya dari dua hari menghadiri festival terbesar Indonesia itu.

kolase-soundrenaline

Liputan saya tentang Soundrenaline 2016 yang dimuat di situs rollingstone.co.id :

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/26/140509678/1093/binar-hidup-bergelora-dalam-balutan-adrenalin-suara-soundrenaline-2016

rolling-stone-indonesia-binar-hidup-bergelora

Liputan dari Adam dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509679/1093/soundrenaline-2016-gagasan-bersejarah-kancah-musik-indonesia

Liputan dari Tantan dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509680/1093/di-bawah-bendera-musik

Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 yang menampilkan kami bertiga sebagai pemenang kompetisi menulis tersebut:

rsi-oktober-2016-soundrenaline-2016

David Wahyu Hidayat

31
Okt
16

Impresi dari 3 hari di Synchronize Festival 2016

Rhoma Irama: Kharisma tanpa batas atas kecintaan tanah air dengan musik yang mampu menggoyangkan semua pecinta musik tanpa terkecuali.

Barasuara: Masih tidak tergoyahkan posisinya sebagai band paling menggemparkan saat ini.

The Trees & The Wild: Magis & monumental, momen favorit pribadi 3 hari kemarin.

Efek Rumah Kaca: Tiap konser ERK dengan formasi lengkap adalah sesuatu yang istimewa.

The Milo dan Heals: 2 band ini meneruskan tradisi dan persepsi bahwa band shoegaze terbaik Indonesia adalah dari Bandung.

The Upstairs: Jimi Multhazam adalah pencerita handal dan bandnya selalu berhasil membuat anak indie disko darurat di manapun kapanpun.

Scaller: Apalagi yang mau dikatakan tentang band ini? Mereka adalah masa kini dan masa depan! 

Pure Saturday: Menutup Jumat malam dan memulai hari Sabtu dengan bahagia adalah esensi Pure Saturday.

Payung Teduh dan Float: Di tengah hingar bingar Festival, musik dari 2 band ini bagai oase yang sejuk dan menenangkan.

Elephant Kind: Terkendala gangguan teknis pada gitar utama mereka, membuat penampilannya di minggu sore sedikit tersendat. Untungnya mereka punya lagu yang membuat penonton berinteraksi seru khas generasi milenial yang membuat penampilan itu berkesan.

Kelompok Penerbang Roket: Liar dan gas penuh tanpa rem, seperti yang selalu diharapkan dari mereka. 

The SIGIT: Rok n’ Rol bukanlah hanya sebuah konsep, The SIGIT itu perwujudannya.

The Brandals dan The Adams: Banyak hal yang menjadi ciri khas Jakarta, dari yang baik maupun buruk. Entah kenapa 2 band ini selalu identik dengan kebaikan ibukota di kepala saya, tidak terkecuali waktu mereka tampil pada hari kedua di Synchronize Festival.

FSTVLST: Barely art, almost rock. Impresif sesuai dengan slogan mereka. 
Rock n’ Roll Mafia: Band ini tidak pernah benar-benar ada di radar saya, dan ini akan berubah sejak penampilan mereka di hari ketiga.

90’s Hiphop All Star: Siapa yang menyangka beat dan rentetan lirik dari para rapper paruh baya mampu mengguncang Kemayoran dengan hebat.

Terlepas dari kendala teknis yang dialami beberapa band di panggung utama, ini festival yang seru di mana seluruh genre melebur dalam atmosfir menyenangkan. Mudah-mudahan pergerakan ini berlanjut di tahun mendatang.

David Wahyu Hidayat 

07
Agu
13

Ulasan Album 2013 – Bagian 2: Peace, The S.I.G.I.T, Pandai Besi, Phoenix, Vampire Weekend

Inlovepeacealbum

Peace – In Love

Rilis: 25 Maret 2013

 

Dari sekian banyak band baru yang bermunculan di Inggris, mungkin Peace adalah salah satu band yang dapat membuat gebrakan dalam panjang gelombang yang sama seperti Two Door Cinema Club di tahun 2010 lalu. Fakta pendukungnya dapat kita otopsi dalam album pertama mereka “In Love”. Dengan berbekal kenaifan “Tomorrow Never Knows”, album tersebut dibuka dengan “Higher Than The Sun” sebagai pertanda hal-hal baik akan mengikuti setelahnya. Album ini menampilkan banyak sisi yang dapat dieksplorasi seperti jiwa funkadelic pada “Waste Of Point” atau melodi bak pop evergreen membawa perasaan damai pada “California Daze”. Benar sebenar-benarnya, masa depan nampak cerah untuk band asal Worcester ini.

Track esensial: Higher Than The Sun, Waste Of Paint, California Daze

 

 

 

TheSigit_Detourn

The S.I.G.I.T – Detourn

Rilis: 15 April 2013

Ke mana perginya semua band Indonesia yang masih dengan sejatinya dapat menunjukkan kedigdayaan rock ‘n’ roll negeri ini? Apakah mereka semua termakan potret diri narsisisme dengan kiblat pop timur jauh, sampai-sampai Rekti dkk, harus kembali turun gunung untuk menampilkan keberbahayaan rock ‘n’ roll ? “Detourn” adalah album yang dikemas dengan berani dan padat dengan riff-riff solid sebagai pembuktian diri bahwa mereka bukanlah hanya sensasi sesaat.

 

Track esensial: Let The Right One In, Tired Eyes, Black Summer

Pandai Besi

Pandai Besi – Daur Baur

Rilis: 19 April 2013

 

Menjelang record store day tahun ini, saya mendapatkan paket bukti sejarah hasil sebuah sebuah projek crowdfunding. Paket itu adalah sekeping CD Efek Rumah Kaca, atau dalam projek ini dengan tambahan beberapa musisi lain menamakan dirinya Pandai Besi; yang merekam ulang 9 lagu mereka di studio rekaman legendaris Lokananta, Solo. Di dalamnya adalah sebuah cetak biru generasi tanah air saat ini, dan tentu saja kesembilan lagu tersebut adalah kisah mengagumkan yang berpotensi menjadi klasik di masa mendatang. Album ini adalah usaha melawan lupa, usaha memelihara sejarah dan menjadi Indonesia sesungguhnya.

 

Track esensial: Menjadi Indonesia, Laki-laki pemalu, Jalang

 

 

Phoenix_-_Bankrupt!_cover

Phoenix – Bankrupt

Rilis: 19 April 2013

 

Kehidupan versi Phoenix seperti tidak pernah mengalami kepanikan atau hari kelabu. Kehidupan versi Phoenix selalu disajikan dengan penuh warna dan keceriaan. Semua tercermin dari keseluruhan rilisan album mereka maupun konsernya. Tidak terkecuali “Bankrupt”. Tetap dengan pola setia yang mereka usung memadukan synth dan gitar dalam irama-irama semi upbeat yang akan mengubah hari paling mendung menjadi musim semi di Paris. Untuk itu mereka ada dalam kehidupan kita, dan untuk itu kita mencintai band ini.

 

Track esensial: S.O.S In Bel Air, Trying To Be Cool, Drakkar Noir

 

 

Vampire_Weekend_-_Modern_Vampires_of_the_City

Vampire Weekend – Modern Vampires Of The City

Rilis: 14 Mei 2013

 

Salah satu konser yang dapat saya nikmati dalam 5 tahun terakhir adalah konser Vampire Weekend tahun 2010 lalu. Mendengarkan Vampire Weekend otomatis memicu semua hormon endorphine untuk rileks dan melupakan segala sesuatu yang mengusik kita. “Modern Vampires Of The City” meneruskan tradisi tersebut. Masih dengan bunyi-bunyian pop-etnik mereka, ditambah dengan seruan unik (“Ya Hey”), ini adalah album yang akan kita dengarkan 10.000 kaki di atas permukaan bumi, menuju destinasi liburan kita, dan berharap tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di kota yang kita tinggali, yang sudah terlalu penuh dengan vampir-vampir yang menggerogoti kehidupan urban kita.

 

Track esensial: Step, Diane Young, Ya Hey

 

25
Okt
09

Konser Review: Efek Rumah Kaca & Polyester Embassy – Urban Fest 2009, 24 Oktober 2009

Sabtu siang yang cerah, mereka yang ingin melarikan diri dari jebakan penuh godaan mal-mal Jakarta, menemukan dirinya di Pasar Seni, Ancol. Di sana, di bawah teriknya Matahari Ancol, dan tiupan angin lemah Laut Jawa, Urban Fest 2009 digelar. Sebuah acara yang menggabungkan pertunjukkan band dan pameran seni lainnya, serta kreatifitas kehidupan Urban.

Di hari pertama acara tersebut, 2 band yang bisa dibilang masuk dalam salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini, mengisi panggung yang berada di Urban Fest 2009. Band yang pertama adalah Efek Rumah Kaca. Mengisi panggung utama di waktu yang kelewat dini pada pukul 15:30, mereka berhasil menarik pengunjung awal yang berkeliaran di Urban Fest kemarin. Dengan materi yang dipadukan dari album pertama dan kedua, mereka terdengar sangat berbahaya, didukung dengan tata suara cukup baik yang menjadikan suara Cholil terdengar agung dan penuh misteri, terutama di nomor yang dijadikan penutup set mereka waktu itu, “Jalang”. Lagu – lagu seperti “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa” terdengar mengagumkan, sosok Cholil seperti seorang seniman yang mendalami musiknya dengan sangat dan itu dirasakan mereka yang melihatnya. Dalam “Di Udara”, “Mosi Tidak Percaya” dan “Menjadi Indonesia” mereka tidak hanya memainkan sebuah karya yang menunjukkan kepedulian terhadap apa yang terjadi dengan negeri ini, tetapi juga menujukkan kalau mereka berada di kelasnya tersendiri. Efek Rumah Kaca telah membuka Urban Fest 2009 dengan penampilan yang dashyat.

Memasuki malam, udara lembab masih menguasai pasar seni waktu Polyester Embassy menaiki panggung Prambors. Seperti biasa mereka terdengar solid, memulai dengan sebuah instrumentalia, yang disusul oleh “Orange Is Yellow”. Sebuah nomor baru “Later On” mengalir dengan melodik di tengah perpaduan bas Tomo dan gitar Sidik, yang lalu di bagian akhirnya disambung dengan permainan kibor Elang, dan respon tepuk tangan penonton yang mengiringi seperti instrumen ritmus tambahan. Lagu – Lagu lama seperti “Good Feeling” dan “Polypanic Rooms” memberikan atmosfir sebuah gig yang intim di tengah-tengah kehingarbingaran Urban Fest malam itu. Set mereka malam itu ditutup dengan Fake/Faker, masih dalam balutan suara ethereal yang menghanyutkan, di bawah langit Ancol yang memberikan kita pelarian dari kehidupan urban malam itu.

David Wahyu Hidayat

Efek Rumah Kaca memainkan: Banyak Asap Di Sana, Balerina, Sebelah Mata, Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa, Mosi Tidak Di Percaya, Di Udara, Menjadi Indonesia, Jalang

Polyester Embassy memainkan di antara lain: Orange Is Yellow, Later On, Good Feeling, Polypanic Rooms, Fake/Faker.

Foto-foto dari penampilan mereka bisa dilihat di bawah ini:

IMG00226-20091024-1531

IMG00227-20091024-1531

IMG00228-20091024-1532

IMG00228-20091024-1532

IMG00229-20091024-1532

IMG00230-20091024-1538

IMG00231-20091024-1538

IMG00233-20091024-1845

IMG00235-20091024-1845

IMG00236-20091024-1846

IMG00238-20091024-1847

IMG00239-20091024-1847

IMG00240-20091024-1851

IMG00241-20091024-1852

22
Des
08

Album Review: Efek Rumah Kaca – Kamar Gelap

efek-rumah-kaca-kamar-gelap

Efek Rumah Kaca

Kamar Gelap

Aksara Records – 2008

Delapan belas bulan yang lalu, bila kita menyebutkan istilah “Efek Rumah Kaca”, yang terlintas di kepala adalah usaha menyelamatkan dunia dari pemanasan global. Setahun yang lalu Cholil, Adrian dan Akbar adalah sebuah nama anonim yang terdengar seperti nama-nama jutaan orang lainnya di tanah air tercinta ini. Dalam sekejap, semuanya berubah ketika sebuah lagu yang mempropagandakan kebencian akan musik melayu yang mendayu-dayu menjadi radio hit, dan dicintai oleh semua orang, bahkan mereka yang mencintai musik mendayu-dayu itu sendiri. Saat ini, nama Efek Rumah Kaca, adalah nama yang kita kenal sebagai sebuah band paling genial yang mendefinisikan bahwa musik bertemakan cinta bukanlah satu-satunya jalan untuk menjadi besar. Masih banyak cara menjadi besar, seperti bermusik dengan pakem dan idealitas sendiri, menciptakan sebuah kualitas yang akhirnya mampu menunujukkan taringnya sendiri dan menyelamatkan telinga kita yang telah penat akan rayuan gombal musik cinta tidak berkelas.

Saat ini ketika kita disuguhkan dengan “Kamar Gelap”, album kedua Cholil, Adrian dan Akbar (masih tetap anonim tapi mampu menginsipirasikan orang banyak), kita hanya terpana kagum, betapa kualitas musik yang disuguhkan mampu dibuat hanya dalam kurun waktu setahun setelah debut album itu dirilis.

“Tubuhmu Membiru…Tragis” menebarkan kebahayaan album ini dengan menyelinap ke otak kita, seperti obat bius paling legal yang pernah kita nikmati. Dengan irama jazzy yang mengawalinya, suara gitar Cholil yang monoton tapi tidak dapat ditolak kenikmatannya membuat lagu ini menciptakan sebuah atmosfir yang misterius, galau tapi menenangkan sekaligus. Di lagu kedua “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa” mereka yang masih meragukan kalau Efek Rumah Kaca tidak dapat memainkan musik ‘rok’, harus dikirim ke Nusakambangan dan diekseskusi secepatnya, bagian akhir lagu ini adalah sebuah klimaks dengan Cholil yang menduplikasikan dirinya sendiri dalam vokal, distorsi gitar dan lantunan teriakan di latar belakang, sementara itu Akbar menghajar drumnya seperti esok adalah hari di mana apokalips akan datang.

Lagu ketiga di “Kamar Gelap” adalah lagu yang akan menempatkan Efek Rumah Kaca di jajaran band terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini sepanjang masa. “Mosi Tidak Percaya” diawali dengan sebuah riff gitar dan bas seperti sebuah lagu ‘rok’ yang akan menjadi bahan pembicaraan abadi, belum lagi suara tepukan tangan dan vokal Cholil yang mendekati kesempurnaan dalam lagu itu. Suaranya di situ adalah suara kepenatan akan janji yang tidak pernah dipenuhi, sebuah teriakan rakyat yang tak mau lagi dikelabui oleh janji-janji palsu “Kamu ciderai janji, luka belum terobati, kami tak mau dibeli, kami tidak bisa dibeli, janjimu pelan-pelan akan menelanmu”. Bila “Di Udara” adalah sebuah anthem melawan kefrustasian penegakan HAM yang tidak becus ditangani, “Mosi Tidak Dipercaya” adalah lagu yang ingin menusuk mereka yang menjadi pusat ketidakbecusan itu. Lagu itu diakhiri dengan teriakan “Oiii…Oii…Oiiii” seperti teriakan ultimatum menuntut keadilan, teriakan menuntut kejujuran, teriakan menuntut perubahan. Dan di atas teriakan putus asa tersebut, Cholil bernyanyi “Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya. Ini mosi tidak percaya, kami tidak mau lagi diperdaya”. Nyanyian itu memberikan harapan, bahwa semuanya masih akan berubah, dan kita akan kembali lagi percaya. Untuk itu, Efek Rumah Kaca akan menjadi abadi.

“Lagu Kesepian” dan “Hujan Jangan Marah” adalah antitesis dari lagu balada tipikal negara ini. Keduanya menyampaikan maksudnya, tanpa harus bermain dengan kebancian lagu balada yang dengan khas mengumbar rangkaian kata-kata manis sampai menghilangkan maknanya sendiri. Kedua lagu itu disusul dengan “Kenakalan Remaja Di Era Informatika” yang mungkin lagu paling pop di album ini. Lagu ini menyinggung mereka yang selalu membiarkan birahi menjadi juara dalam kehidupan. Di situ dengan lugas Cholil bernyanyi “Apakah kita tersesat arah? Mengapa kita tak bisa dewasa?”. Kita lupa, masih banyak yang harus ditindaklanjuti di negara ini, dari hanya mengurusi kenakalan remaja tersebut. Sekali lagi, Efek Rumah Kaca berhasil menyentil kenaifan kita menghadapi diri kita sendiri dalam mengatur diri.

Dengan suara vokal jernih dan terkesan agung, Cholil membuka “Menjadi Indonesia”. Ia mengajak kita untuk “Lekas bangun tidur berkepanjangan, menyatakan mimpimu … masih ada cara menjadi besar … menjelma dan menjadi Indonesia”. Mereka tidak menjargonkan arti nasionalis dengan berlebihan, tapi dengan cerdas dan masuk akal. Ini adalah kidung Efek Rumah Kaca, tentang sebuah impian akan Indonesia yang akan dikagumi kembali, dan tentang masing-masing dari kita yang akan kembali bangga akan hal tersebut.

Melalui caranya sendiri Efek Rumah Kaca mengungkapkan rintihan mereka akan sesuatu yang tidak pada semestinya, seperti titel track album ini “Kamar Gelap” yang dapat diinterpretasikan sebagai kerinduan agar semua masa lalu bangsa ini direkam dan diungkap, tidak dijadikan sebuah buku pelajaran sejarah saja tapi lebih dari sebuah riwayat bangsa di mana itu semua adalah hal yang kekal melekat dalam diri kita, yang harus diingat dan dipelajari dari itu. Lalu dalam “Jangan Bakar Buku” diselingi oleh sebuah tembok suara distorsi yang tiada habisnya memasuki akhir lagu tersebut, Cholil menyanyi dengan kekuatiran yang tenang tentang kebiadaban pembakaran buku yang pernah dilakukan oleh pemerintah masa lampau “Kata-kata demi kata mengantarkan fantasi, habis sudah, habis sudah. Bait demi bait pemicu anestesi, hangus sudah, hangus sudah”.

Campuran gitar jingle-jangle sederhana namun efektif yang pelan-pelan bisa menjadi ciri khas musik Efek Rumah Kaca dicampur dengan ritem gitar terpatah-patah, terbalut dengan tema harapan semu untuk kehidupan lebih baik di kota besar/ibu kota adalah tema dari “Banyak Asap Di Sana”. Setelah diselingi dengan irama musik sirkus di “Laki-Laki Pemalu” album mengagumkan ini ditutup dengan “Balerina”. Dalam lagu terakhir ini, Efek Rumah Kaca kembali menampilkan nada-nada riang, terkilas seperti sebuah lagu yang terhilang dari The Smiths, namun dengan Cholil sebagai vokalis tamu, karena Morrissey tidak peduli akan apapun yang berhubungan dengan band lamanya itu. Terlalu mengiritasikan untuk diabaikan, lagu terakhir ini sangat membius kita untuk menjadi bahagia, mencari keseimbangan mengisi ketiadaan seperti yang dilanturkan oleh Cholil sendiri di lagu itu.

“Kamar Gelap” akan mengukuhkan status Efek Rumah Kaca sebagai pahlawan musikalis negeri ini. Mereka dengan konstan meneruskan apa yang telah mereka lakukan di album pertama mereka, dan mungkin bila kita berterus terang, mereka melakukannya dengan lebih baik di sini. Bila setiap sanubari kita tidak hanya ingin dibuai oleh kata-kata fana tentang kegombalan sebuah cinta yang diumbar band arus utama negara ini pada umumnya, bila kita masih haus untuk mencari lagu dengan lirik Indonesia yang cerdas, bila kita masih ingin mencari nada-nada ultimatum dan anthem yang mengembalikan kecintaan dan kepedulian kita terhadap negara ini, tanpa harus memamerkan kenasionalisasian yang hanya penuh slogan kosong, maka Efek Rumah Kaca adalah band yang kita akan kita percaya untuk semua hal itu. Mereka menginspirasikan dan memberikan harapan kepada kita semua. Mari kita merapikan wajah kita, memudakan tua kita, mencari cara untuk menjadi besar, menjelma dan menjadi Indonesia. Terima kasih Efek Rumah Kaca untuk musik dan untuk harapan tersebut.

David Wahyu Hidayat

03
Des
07

Album Review: Efek Rumah Kaca – Efek Rumah Kaca

efek-rumah-kaca.jpg

Efek Rumah Kaca
Efek Rumah Kaca
Paviliun Records – 2007


Dunia abad 21. Kegalauan menghantui sebuah generasi. Jiwa – jiwa lelah digerogoti kebanalan kehidupan yang berkesan plastik artifisial. Semu. Musik tidak lagi menghibur, hanya dayuan pengumbar cinta yang kehilangan artinya. Semua musik? Tidak semua musik. Untuk tenggelam dalam kegundahan jiwa dan menikmatinya, datang sebuah penyelamat dari musik yang disuguhkan Efek Rumah Kaca.

Debut album yang diberi judul sama dengan nama band mereka ini, menyuarakan sebuah perasaan desperasi akan sekitar yang makin lama merontokkan keesensialan jiwa sebuah generasi. Album ini berkomunikasi dalam bahasa keputusasaan yang makin dihayati merubah perasaan tanpa harapan itu menjadi sebuah perasaan akan sesuatu memegahkan yang akan terjadi. Perasaan akan sebuah kemenangan tanpa harus menjadi sama dengan penghuni planet ini yang makin lama terperosok dalam dunia mayanya.

“Jalang” memulai album ini dengan suasana kegalauan itu. Lirik “Siapa yang berani bernyanyi, nanti akan dikebiri/Siapa yang berani menari, nanti akan diesekusi” menguak ruang jiwa diiringi dengan suara gitar yang menderteminasi alam pikiran kita.

Melodi manis memulai “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” seperti hendak menyapa 2 insan yang tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan mereka masing – masing. Ini adalah definisi Efek Rumah Kaca akan lagu cinta mereka. Akan lagu cinta yang tidak murah dan mengumbar kata manis hasil daur ulang dari sampah. Sesuatu yang hendak mereka sindir, seperti dalam lagu “Cinta Melulu” di track ke 8 album ini. Masih tentang hubungan 2 insan manusia, Efek Rumah Kaca menyorot sebuah hubungan homoerotis dalam “Bukan Lawan Jenis” dengan penggambaran dan suasana yang indah menyesatkan.

Debut album ini sarat dengan pesan – pesan yang berhasil disampaikan Efek Rumah Kaca tanpa terkesan harus menggurui. Seperti dalam “Belanja Terus Sampai Mati” yang menggambarkan budaya konsumerisme yang tak tertahankan dengan tawaran yang bertebaran di mal – mal ibukota. “Duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban” nyanyi mereka di lagu tersebut terhadap sosok kita yang tak bisa lepas dari budaya mematikan itu. Sebuah ode manis tentang spirit pejuang HAM Munir mereka nyanyikan dari hati di “Di Udara”.

“Insomnia” dan “Melankolia” seperti sebuah kakak – beradik yang menyiratkan kecemasan akan sesuatu yang menghantui kehidupan. Sesuatu yang tak pernah tergambarkan. Keindahan Efek Rumah Kaca di kedua lagu tersebut adalah kecerdasan mereka menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Mendengarkannya seperti menemukan jawaban untuk sesuatu yang selama ini dicari. Simak saja lirik “Ku rindu untuk bercumbu mesra alam bawah sadarku/Ku nanti dan ku cari seserpih mimpi” di “Insomnia” atau lirik “Murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah/Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi/Kelesuan ini jangan lekas pergi, aku menyelami sampai lelah hati” dalam “Melankolia.

Secara musikalis Efek Rumah Kaca menfiturkan sebuah kejeniusan yang jarang kita temui dalam dunia musik lokal. Walaupun tidak bisa dipungkiri, aroma musik Radiohead era The Bends sangat kental ketara di sini, tapi paling tidak mereka melakukannya dengan sangat baik sehingga yang tercerna bukanlah sebuah kopi tapi sebuah keorisinalan unik dalam scene musik lokal kita.

Ditutup dengan “Desember” album ini memberikan jiwa – jiwa yang galau sebutir obat penenang, untuk kemudian tenggelam dalam kepiluan. Tapi kemudian mereka menyadari kepiluan itu membuat mereka menghargai setiap langkah yang mereka lewati. Di luar sana, langit hitam bulan Desember masih bergelayut, hujan pun pelan – pelan membasahi bumi dan diri kita, membuat diri kita basah kuyup, dan saat itu, momen itu, adalah di mana kita menyadari indahnya kehidupan.

David Wahyu Hidayat




April 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Categories

Blog Stats

  • 139,491 hits