27
Mei
12

Konser Review: Pure Saturday – Gedung Kesenian Jakarta, 15 Mei 2012

Pure Saturday

The Grey Concert

Gedung Kesenian Jakarta

15 Mei 2012

 

Setlist:

Sesi 1: Intro – Centenial Waltzes, The Horsemen, Lighthouse, Musim Berakhir, Starlight, Utopian Dreams, The Air The Empty Sky, Passepartout, To The Edge, Albatross Part I – III

 

Sesi 2: Elora, Spoken, Nyala, Pagi, Coklat, Enough, Simple, Desire, Cinta Hitam, Labirin

 

Encore: Kosong, Buka

 

Review:

 

 

 

Pionir tetaplah akan menjadi pionir, sebuah titel yang akan tetap melekat walaupun dimakan lamanya waktu dan perubahan zaman. Pure Saturday adalah pionir, lagunya “Kosong” merubah apa yang kita kenal tentang indie musik di negeri ini. Ia menggerakkan sampai akhirnya tercipta banyak musik-musik hebat yang datang dan sangat patut diapresiasi di negeri ini.

 

Selasa malam 15 Mei 2012 adalah malam di mana kita merayakan sebuah pionir dalam wujud sebuah konser yang dinamakan “The Grey Concert” untuk menyambut dirilisnya album terbaru Pure Saturday.

 

Lokasi dan persyaratan pra konser tersebut sudah dipenuhi dengan Gedung Kesenian Jakarta sebagai tempat konser dan dirilisnya sebuah album baru yang mengakhiri penantian selama 7 tahun. Dan dikatakan juga, album ini akan menampilkan sebuah Pure Saturday baru.

 

Ketika lampu gedung kesenian era kolonial itu digelapkan, ratusan pasang mata penasaran menyaksikan sebuah mata mendelik ke kanan ke kiri di layar video panggung yang sudah gelap, hati berdebar menunggu apa yang akan terjadi diiringi lantunan musik klasik dari Strauss yang memenuhi tata suara gedung tersebut. Lalu satu persatu masuklah keeempat personil Pure Saturday dalam siluet kegelapan panggung, ketika lampu menyala dan video berubah menjadi seekor kuda yang dipacu berlari sekencang angin, Satrio NB sang vokalis muncul. Penonton pun terkejut. Karena 2 hal. Yang pertama adalah ketidakpercayaan akan musik yang dimainkan, lagu pertama berjudul “The Horsemen” itu penuh dengan efek yang menggaung ditambah keagungan permainan kibor, synthesizer Yockie Suryo Prayogo jauh dari irama jingle jangle khas Pure Saturday. Yang kedua adalah penampilan Satrio yang serba hitam, dengan muka dipoles putih seperti seorang artis pantomim.

 

Penampilan Pure Saturday malam itu memang sangat teatrikal di sesi pertama yang khusus membawakan lagu-lagu dari album “Grey” dengan urutan setia seperti yang di album. Menyusul “The Horsemen” adalah “Lighthouse” yang mungkin paling dekat dengan repertoir standar Pure Saturday. Menambah sesi teatrikal sesi pertama itu, Satrio membacakan puisi – puisi di antara lagu-lagu yang dimainkan. Puisinya menghibur, terkadang serius tetapi juga menyentil seperti ujarannya akan krisis idola yang dimiliki negeri ini.

 

 

“Starlight” dimainkan dengan dilatarbelakangi tarian balerina yang dengan gemulai mengitari para personil Pure Saturday. Bila ada yang sebelumnya meragukan arah musikalis yang diambil Pure Saturday, setidaknya dalam lagu ini keraguan itu deitampik dengan tempo lagu yang sedang, kemudian memuncak seperti protes sunyi diiringi letupan drum yang berbaris menghentak menuju puncak.

“Passepartout” walaupun bukan seperti lagu biasa yang dimainkan Pure Saturday juga sangat perlu diperhitungkan, bukan tidak mungkin ke depannya lagu ini adalah lagu yang akan diminta untuk dimainkan oleh Pure People dalam setiap konser Pure Saturday. Konser sesi pertama itu ditutup dengan keagungan syahdu “Albatross” yang terbagi dalam 3 bagian, sesaat aroma rock klasik muncul di sana tapi itu semua dipadukan dengan kecerdasan Pure Saturday meramu sebuah lagu.

 

Dalam sesi kedua, Pure Saturday tampil dengan setelan standarnya. Satrio tampil dengan tidak lagi berteatrikal. Lagu yang dimainkan pun merupakan campuran nomor-nomor klasik mereka. Dibuka dengan “Elora” baik Pure Saturday maupun penonton nampak lebih bisa menikmati konser tersebut. Satrio sesekali membaur di antara penonton seperti sebelum menyanyikan “Coklat” bersama Rekti dari The SIGIT.

 

 

Mendengarkan nomor-nomor seperti “Enough”, “Simple” dan “Desire” dalam suasana seperti itu dan di bawah tempat yang menakjubkan seperti Gedung Kesenian Jakarta memberikan suasana yang sangat intim dalam lagu-lagu tersebut. “Labirin” dibawakan dengan dinyanyikan paduan suara SMA 78 yang membuat berdirinya bulu kuduk. Didengarkan di album, lagu itu sendiri sudah luar biasa, tetapi dinyanyikan dalam konser tersebut, lagu tersebut menjadi sangat epik dan merupakan salah satu pemuncak konser malam itu.

 

Pure Saturday menutup konser intim sepanjang 2 jam tersebut dengan encore “Kosong” yang dinyanyikan Cholil dari Efek Rumah Kaca, dan sebagai nomor pamungkas mereka membawakan “Buka”. Luar biasa adalah kata yang terlalu sederhana untuk mendeskripsikan konser tersebut. Malam itu penuh dengan kejutan, penuh dengan momen-momen intim yang sangat sempurna yang harus terjadi malam itu di Gedung Kesenian Jakarta. Pure Saturday adalah pionir, dan dengan “Grey” mereka akan meneruskan titel tersebut, tanpa dimakan waktu menuju keabadian.

 

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Konser Review: Pure Saturday – Gedung Kesenian Jakarta, 15 Mei 2012”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2012
S S R K J S M
« Des   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: