Archive for the 'Bangkutaman' Category

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

27
Mei
12

Album Review: Bangkutaman – Love Among The Ruins (Re-Release)

 

Bangkutaman

Love Among The Ruins (Re-release)

Blossom Records – 2012

 

Rekaman musik seringkali merupakan pembatas waktu yang sangat akurat untuk menandai sebuah rentang waktu. Sebuah rentang waktu yang seringkali bermakna berbeda untuk setiap orang.

 

Beberapa waktu lalu, Bangkutaman merilis ulang album pertama mereka “Love Among The Ruins” dalam bentuk CD. Bagi banyak orang yang mengikuti band ini sejak awal mungkin ini merupakan mesin waktu untuk nostalgia ke waktu di mana album tersebut pertama kali dirilis, bagi saya pribadi, dirilis ulangnya album ini merupakan kesempatan untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi ketika album ini dikeluarkan melalui musik mereka.

 

Akhir dekade 90-an dan paruh pertama dekade 00-an saya habiskan di luar tanah air, dikarenakan studi saya. Ingatan pribadi saya tentang album indie hebat dari tanah air waktu itu, berhenti sampai dengan album pertama Pure Saturday dan In (No) Sensation dari Pas. Setelahnya lagu-lagu hebat dari Indonesia saya dengar dari cerita-cerita teman atau paket kiriman kaset/CD yang dikirimkan oleh saudara saya/salah seorang teman saya. Sekembalinya ke tanah air tahun 2005, teman saya menyarankan saya untuk membeli “Garage Of The Soul” EP dari Bangkutaman, dia menambahkan kalau band ini adalah “Stone Roses-nya Indonesia”.

 

Bergegas saya membeli album itu dan sekejap menyenangi apa yang saya dengar. Terutama “Satelit” yang menurut saya seperti “I Am The Resurrection”-nya versi Bangkutaman. Ketika mereka menelurkan “Ode Buat Kota” tahun 2010 saya pun salut, karena mereka tidak lagi melulu berpakem kepada nada-nada Roses-eske tapi dapat mengeksplorasi genre musik lain, kadang terdengar Dylan-eske kadang terdengar tetap sangat Britpop. Album itu kemudian menjadi salah satu favorit saya di tahun itu.

 

Mendengar mereka akan merilisi ulang album pertama mereka, saya sangat antusias untuk memilikinya, karena ini akan membuat rasa penasaran terpuaskan terhadap cikal bakal band ini. Sejak mendengarkan “Kera” sebagai lagu pertama album ini, saya langsung menyadari bahwa ini adalah sebuah pernyataan. Tidak terbayangkan apa rasanya jika saya tetap berada di tanah air kalau saya pertama kali mendengarkan lagu ini di dekade 00 yang lalu. Mungkin antusiasme tiada batas.

 

Nada-nada Roses-eske sangat kental di album itu. Jika saya pada waktu itu membayangkan sebagai seorang pecinta The Stone Roses, dan tidak punya bayangan sama sekali kapan saya akan menyaksikan mereka, saya akan merasa sangat bangga bahwa ada band dari negeri sendiri yang setidaknya berusaha untuk meraih semua yang pernah diraih The Stone Roses.

 

“Kabut” menerbangkan kita dengan efek wah-wah dan sapaan melodik “Pa..Paaa.. Pa..Paaa..Pa..Paaa..Paaa” sebelum kita diberikan suguhan melodik lainnya. Salah satu puncak di album ini menurut pandangan pribadi saya adalah mendengarkan “Soul Of A Shoemaker”. Permainan gitar J.Irwin yang berat dan kasar bukanlah bertujuan untuk mengkopi permainan John Squire tetapi seperti hendak berkata, kalau kalian mau dan berusaha seorang pemain gitar dari band indie kecil dapat menjadi seorang pahlawan gitar baru kalian. Dan ia melakukannya persis seperti itu tanpa cela sedikitpun.

 

“Bunga Matahari” dengan nada optimismenya membangkitkan perasaan yang nyaman sekali rasanya. Istimewa sekali mendengarkan lagu seperti itu dari band dalam negeri. Lalu ketika nada-nada riang “Catch Me When I Fall” menangkap kesederhanaan hari kita semua, kita hanya tersenyum membayangkan akan keadaan sempurna tanpa sedikitpun rasa kuatir di mana mentari bersinar untuk kita semua.

 

“Love Among The Ruins” bukan sekedar rekaman musik pemuas nostalgia saja, namun  seperti tulisan Felix Dass di sleeve note album rilis ulang itu, memang merupakan sebuah penanda jaman. Sebuah tapal batu yang hanya dapat terjadi pada waktunya ketika itu, dan sekarang kita yang menjadi saksinya langsung maupun tidak langsung hanya dapat tersenyum bahagia mendengarkan semua nada-nada di dalamnya yang selalu menghiasi hidup ini.

 

David Wahyu Hidayat




Juni 2017
S S R K J S M
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 140,187 hits