Archive for the 'The National' Category

14
Apr
17

Playlist: Favourite Tracks From The Year 1997/2007

 

 

Dalam setiap dekade ada setidaknya satu tahun yang pivotal keberadaannya secara musikalis, karena menghantarkan karya demi karya yang terdengar majestik dan membentuk momen-momen yang mendefinisikan kehidupan. 1997 dan 2007 adalah tahun-tahun yang masuk dalam kategori di atas.

 

Di tahun 1997, orde baru memasuki penghujung hidupnya, begitu juga dengan kerajaan lain bernama Britpop. Album ketiga Oasis Be Here Now memastikan kematiannya secara gemilang, di sisi lain Radiohead melalui OK Computer dengan akurat memprediksi kehidupan setelah Britpop dan abad 21 dengan cara hidup paranoid di sebuah ekosistem bernama Android ataupun sistem operasi lainnya yang mengikat manusia dalam kefanaan dunia maya. Sebelumnya, Blur sudah lebih dulu memilih jalan keluarnya dari skena itu dengan merilis album brilian mereka di awal tahun, serta karya-karya elektronika fenomenal dari The Chemical Brothers dan Prodigy yang membuka jalan bagi artis-artis bergenre elektronik lainnya.

 

10 tahun berikutnya tantanan kehidupan dunia telah berubah, dengan peristiwa 09/11 di tahun 2001 yang mendikte kehidupan di millennium baru. Dalam dunia musik, sekali lagi Radiohead berperan melalui perilisan album In Rainbows dengan metode pembayaran suka-suka. Ketika perilisan fisik di ambang kematiannya digantikan dengan digitalisasi, mereka memilih untuk tidak didikte dengan itu, dan di luar semuanya album tersebut adalah sesuatu yang sangat brilian. Pahlawan-pahlawan baru pun muncul dalam bentuk album-album yang dirilis LCD Soundsystem, Efek Rumah Kaca maupun Bloc Party di tahun itu.

 

Playlist ini adalah sebuah perayaan akan keindahan musik di 2 tahun tersebut yang terpisahkan 1 dasawarsa dan bagaimana momen-momen yang mengitarinya adalah sebuah bersitan kehidupan yang akan selalu tergores dalam pita memori alam pikiran saya.

 

Beetlebum – Blur (dari album Blur)

 

Dirilis sebagai single nomor satu dari album yang berjudul sama dengan band mereka, album ini adalah sebuah awal baru bagi Blur. Perlahan tapi pasti mereka mulai melepaskan ciri khas british ladism yang melekat pada mereka di album-album sebelumnya, digantikan dengan nuansa psikedelia dan americana pada karya-karya di album ini. Jujur saya menyukai perubahan arah ini.

 

Kirana – Dewa 19 (dari album Pandawa Lima)

 

Jika band ini meneruskan arahan yang terdengar pada lagu dan album ini, serta tidak tenggelam dalam godaan lain di luar musik, mungkin Dewa 19 akan menjadi band Indonesia yang paling saya gilai sepanjang masa. Bagaimana tidak, siapapun yang mendengarkan lagu ini di tahun 1997 akan mengakuinya sebagai sebuah mahakarya. Vokal Ari Lasso, permainan gitar Andra, dan nuansa magis yang membungkus lagu itu, semuanya adalah kesempurnaan. Sekali lagi kesempurnaan.

 

Discotheque – U2 (dari album Pop)

 

Siapapun yang pernah hidup dan merasakan tumbuh besar di tahun 90an tidak akan pernah bisa memungkiri, bahwa U2 adalah band terbesar di masa itu. Tidak ada yang bisa menyentuh U2, bahkan ketika merilis Pop dan merilis sebuah nomor discorock seperti Discotheque kita menyorakinya dan menyebutnya sebuah progres luar biasa dalam arahan musik mereka. (Betapa kita sesungguhnya salah besar), namun jika kita mengalaminya di masa itu, kita akan memuja Bono, The Edge, Larry dan Adam dengan sepenuh jiwa kita.

 

Monkey Wrench – Foo Fighters (dari album The Colour And The Shape)

 

Kita masih tenggelam dalam duka akibat wafatnya Kurt Cobain, ketika Dave Grohl memasuki dunia musikalis kita melalui Foo Fighters. Skeptis adalah kata yang tepat karena curiga ia hanya mendompleng nama besar Nirvana. Namun nomor seperti Monkey Wrench di tahun 1997 merasuki jiwa dan telinga kita, dan kita pun dengan cepat menyadari bahwa ia memiliki bakat tersendiri yang berbeda dengan pemimpin band legendaris asal Seattle itu. Pelan-pelan Foo Fighters pun menemukan tempatnya tersendiri di hati kita.

 

Around The World – Daft Punk (dari album Homework)

 

1997, MTV tengah malam di bulan Juni. Sebuah video klip dengan latar belakang warna-warni technicolor dalam bentuk bundaran-bundaran, serta manusia-manusia yang tanpa henti berjalan naik-turun dalam piramida tangga yang berdiri di depannya, diputar di malam yang seakan tak lekas henti itu. Musik yang mengiringinya adalah sebuah pencerahan. Apakah ini, pikir saya waktu itu, kata-katanya hanya terdiri dari “Around The World” yang diucapkan berkali-kali dengan logat eropa, musiknya terdiri dari bits-bits elektronik seperti R2D2 dan C3P0 sedang menyanyi dengan bahasa droid dalam pesta mereka di Millenium Falcon. Ketika video klip itu hendak usai terpampanglah nama artis yang memiliki karya tersebut. Daft Punk. Dan itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan mereka.

 

Block Rockin’ Beats – The Chemical Brothers (dari album Dig Your Own Hole)

 

Jika tidak karena The Chemical Brothers mungkin saya tidak akan pernah menghormati karya-karya musik elektronik maupun artis-artis yang saya gilai di kemudian hari seperti LCD Soundsystem. Block Rockin’ Beats adalah pembuka jalan dari semua itu. Bagi saya The Chemical Brothers adalah pionir, dan saya berterima kasih karena mereka telah membuka mata saya.

 

Smack My Bitch Up – The Prodigy (dari album The Fat Of The Land)

 

The Prodigy sesuai dengan nama bandnya adalah komplotan jenius. Mendengarkan Smack My Bitch Up, kita disodorkan sesuatu yang terlalu nyeleneh untuk sebuah musik elektronik, tetapi di sisi lainnya terlalu digital untuk dikatakan punk. Jika elektropunk mempunyai sebuah embrio, lagu ini adalah hal tersebut.

 

Paranoid Android – Radiohead (dari album OK Computer)

 

Paranoid Android akan selalu melekat dalam diri Radiohead, sebagai lagu yang mendefinisikan karir mereka sebagai band paling jenius di generasinya. Ditulis dan dihantarkan sebagai sebuah rock opera multi fragmen, lagu ini akan membuai kalian, lalu menusuk telinga dan raga dari seluruh penjuru, seperti sebuah perjalanan roller coaster yang akan menjungkirbalikkan daya gravitasi, membuat mual tetapi pada momen ketika kita akan meluncur bebas, kita akan merasakan keindahannya. Itulah kejeniusan Paranoid Android.

 

Don’t Go Away – Oasis (dari album Be Here Now)

 

Sejujurnya secara pribadi saya menyukai Be Here Now. Walau sekarang dikecam oleh banyak orang, namun album itu selalu mendapatkan tempatnya di hati saya. Bagaimana tidak, album ini memiliki kekuatan dengan lagu seperti Don’t Go Away yang merupakan salah satu lagu ballad terbaik yang pernah diciptakan Noel (lebih baik dari Stand By Me yang dirilis sebagai single). Be Here Now mungkin merupakan stempel resmi kehancuran Britpop, tetapi bagi saya ini merupakan album solid lainnya yang pernah dihasilkan Oasis. Akhir dari diskusi.

 

The Drugs Don’t Work – The Verve (dari album Urban Hymns)

 

Lagu ini adalah lagu after party dari Britpop, dari segala kegilaan tahun 90an, dari hedonisme masa SMA kalian. Mengalun dengan manis, dengan suara khas Richard Ashcroft yang pasti akan membawa kalian ke alam sadar setelah segala sesuatunya. Lagu ini juga menjadi cetak biru tipikal lagu ballad band dari Britania yang datang setelahnya seperti Travis dan Coldplay. Jika segala sesuatu terasa berat dalam kehidupan, dengarkan saja lagu ini, pejamkan mata, dan semuanya akan baik-baik saja.

 

Fake Empire – The National (dari album Boxer)

 

Ditulis dengan inspirasi Amerika di bawah pemerintahan Bush, lagu ini masih tetap relevan sampai detik ini di tengah segala kegilaan politik populisme dunia. Pada akhirnya memang politik tidak bisa dipercaya, apakah kehidupan yang kita jalani kita hidupi untuk diri kita sendiri, atau untuk kemajuan mereka yang duduk di atas singgasana dalam kerajaan semu? Daripada memikirkan semua itu lebih baik menikmati keindahan lagu ini, sambil ikut melantunkan liriknya “Turn the light out say goodnight, no thinking for a little while

Let’s not try to figure out everything at once….”

 

We’ll Live and Die In These Towns – The Enemy (dari album We’ll Live and Die In These Towns)      

 

Kota yang kita tinggali seringkali keji sekaligus brutal. Ia mengharuskan kita bekerja 12 jam sehari, ditambah dengan pergulatan menempuh kekejaman lalu lintas ketika berangkat dan dalam perjalanan pulang yang dapat memakan waktu tempuh tidak masuk akal. Namun kota yang sama memberikan kita orang-orang yang kita cintai, senyuman dalam diri orang asing yang masih mau membantu kita ketika putus asa karena ban kendaraan kalian tertancap paku. Setiap kali mengingat semua kebaikan tersebut, saya teringat lagu ini, dan saya selalu tersenyum karena di kota ini saya tinggal dan hidup.

 

Bodysnatchers – Radiohead (dari album In Rainbows)

 

In Rainbows adalah album yang nyaris sempurna. Jika Radiohead tidak pernah merilis Kid A, mungkin ini adalah album terfavorit saya dari mereka. Dirilis dengan metode pembayaran sesuka konsumernya, In Rainbows mendobrak pakem-pakem distribusi musik konvensional. Dari sisi musik, ini adalah karya paling menarik yang pernah dihasilkan Radiohead, dengan lagu ini sebagai salah satu contohnya, melalui serangkaian efek gitar yang meledakkan amplifier dan merobek telinga.

 

Hunting For Witches – Bloc Party (dari album A Weekend In The City)

 

Merilis album keduanya di tahun 2007, Bloc Party mengukuhkan diri mereka sebagai band penting asal Inggris penting di generasi mereka. Mengambil tema kegalauan kehidupan generasi milenial, album ini masih menemukan relevansinya sampai sekarang, begitu juga dengan lagu ini yang mempertanyakan versi kebenaran yang kita kejar. Russell Lissack menfiturkan permainan lick-lick gitar menarik yang membuat lagu ini masih menjadi nomor favorit yang dimainkan Bloc Party sampai sekarang.

 

Jacqueline – The Coral (dari album Roots & Echoes)

 

Tidak banyak band seperti The Coral yang dengan keindahan jingle-jangle gitar mereka berfungsi sebagai mesin waktu ke masa-masa di mana dunia tidaklah serumit sekarang. Jacqueline adalah lagu musim semi di mana kegalauan musim dingin telah berlalu, dan yang ada di depan hanyalah hangatnya sang Surya yang menerpa wajah kita ditemani manusia yang kita cintai.

 

True Love Way – Kings of Leon (dari album Because of The Times)

 

“I want in, like a substitute…” sejak awal lagu ini adalah sebuah pernyataan. Jika cinta hanya bisa sekali dinyatakan maka lirik tersebut merupakan sebuah pernyataan yang sangat dasyhat. Karena tidak ada yang lebih tinggi, daripada hasrat sebuah pemain pengganti yang ingin memasuki arena pertandingan. Di album ini Kings of Leon mengukuhkan diri bahwa mereka bukan sekedar pengikut tren yang diawali oleh The Strokes dengan memainkan garage rock, tetapi mereka membuktikan bahwa mereka adalah sebuah kuartet solid yang dapat memainkan musik untuk memukau jutaan orang.

 

Di Udara – Efek Rumah Kaca (dari album Efek Rumah Kaca)

 

Tahun 2007 adalah tahun di mana Yang Mahakuasa menganugerahkan sebuah band bernama Efek Rumah Kaca ke tanah air ini. Dengan lirik yang penuh arti, musik yang mengusik sanubari, band tersebut benar-benar merupakan anugerah dalam kehidupan kita. Di Udara adalah lagu yang didedikasikan untuk almarhum Munir, aktifis maupun pasifis, siapapun yang pernah menyaksikan lagu ini dimainkan langsung akan merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekuat itulah kuasa lagu ini.

 

All My Friends – LCD Soundsystem (dari album Sound of Silver)

 

Dengan dentingan piano tanpa henti dan sentakan drum seperti senapan mesin yang menyemburkan pelurunya bertubi-tubi, serta lirik penuh elegi terhadap sebuah pertemanan “…You spent the first five years trying to get with the plan, And the next five years trying to be with your friends again…” James Murphy melalui lagu ini menumpahkan isi hatinya tentang menjadi dewasa. Sesungguhnya mendengarkan lagu ini, tidak ada yang lebih indah menemukan fakta bawah kita tidak lagi di umur belia kita, dan kehidupan sesungguhnya baru saja dimulai.

 

To The Sky – Maps (dari album We Can Create)

 

Maps alias James Chapman adalah semacam tips rahasia balik di tahun 2007. We Can Create adalah sebuah album elektronik pop yang sempurna, mendefinisikan suasana etereal yang lugas, dan To The Sky adalah salah satu permatanya. Mendengarkannya kita akan benar-benar mengambang, menatap langit penuh keindahan tidak peduli apakah hari itu cerah atau dipenuhi kegelapan, karena lagu itu akan mencerahkan segalanya.

 

505 – Arctic Monkeys (dari album Favourite Worst Nightmare)

 

Melalui album keduanya Favourite Worst Nightmare, Arctic Monkeys membuktikan bahwa mereka bukan hanya sensasi semalam saja. Album kedua mereka seperti seorang adik kandung yang lebih misterius namun penuh daya tarik jika dibandingkan dengan album pertama mereka yang sensasional itu. 505 nomor penutup album kedua tersebut, merupakan pembuktian bahwa Alex Turner adalah penulis lagu terbaik di generasinya dan Arctic Monkeys adalah band yang tidak takut untuk memasuki teritori yang baru.

 

David Wahyu Hidayat

25
Jul
10

Album Review: The National – High Violet

The National

High Violet

4AD – 2010

Kenestapaan adalah sesuatu yang mampu membuat seorang manusia terserak di jurang paling dalam sebuah kehidupan yang tak bermakna. Luluh lantak hancur dalam kesia-siaan seperti usaha menjaring angin di bawah satu Matahari yang menyinari kita semua. Namun, semuanya itu dapat dilawan. Sedikit sinar saja terbersit di ujung sana akan mengubah kenestapaan itu menjadi suatu titik harapan, yang menjanjikan sesuatu, sebuah awal dan kehidupan baru.

Dalam album barunya “High Violet” The National melukis kenestapaan itu menjadi sesuatu yang mendamaikan. Sejak nada pertamanya, “High Violet” adalah lukisan hamparan padang rumput di bawah awan paling mendung yang pernah dilihat manusia, namun di pojok kanan atas lukisan tersebut, sebuah sinar akan mengubah persepsi lukisan tersebut dari kelam menjadi awal sebuah asa.

Di balik penampilan personil The National yang lebih cocok sebagai pengangguran pemabuk yang frustasi mencari pekerjaan dibanding band indie favorit kalian, dua pasang kakak beradik Aaron & Bryce Dessner serta Scott & Bryan Devendorf dan sang vokalis Matt Berninger adalah maestro di bidangnya. “Terrible Love” yang mengawali album itu menset atmosfir album tersebut, penuh melankoli, pilu tetapi entah mengapa melegakan. “Sorrow” yang menyusul lagu pertama itu mengatakan kepada kita bahwa semua yang tidak mengenakkan tidak harus selalu berakhir dengan mengenaskan.

Suara bariton Berninger menghantui kita dengan sangat dalam “Anyone’s Ghost”, ditambah dengan efek gitar yang mendengung di latar belakang, dan iringan alat musik gesek membuat lagu ini akan membangkitkan bulu kuduk kita. Lalu di tengah-tengah album tersebut, kita dapati “Bloodbuzz Ohio”. Seperti yang telah mereka lakukan dalam “Mistaken For Strangers”, ketukan drum yang membawa lagu ini melaju, ditambah dengan dentingan pianonya membuat kita ingin berdansa sendirian dalam kegelapan, meluluhlantakkan segala kekuatiran, dan di tengah segala kekelaman itu kita akan menemukan kelegaan. Yang menjadikan The National sebuah band mengagumkan adalah lagu-lagu seperti itu, karena mereka membuat kita semua menemukan harapan dalam segala sesuatu yang inferior di dalam hidup kita.

Bagian akhir dari album ini, dengan “Lemonworld” dan “Conversation 16” sekali lagi mengoyakkan pikiran kita dan memberikan ketenangan dalam hidup yang seringkali terjebak dalam segala sesuatu yang menggerogotinya.

Album ini adalah pelipur lara kita dalam kehidupan absurd yang sudah lelah termakan segala macam ketamakan dunia ini. “High Violet” adalah lukisan yang akan selalu kita pandangi dan nikmati, karena suara-suara dalam album ini akan mengangkat kita dari  kenestapaan kita, dan pada akhirnya kita semua hanya akan tersenyum dan berterimakasih atas kehidupan ini.

David Wahyu Hidayat

13
Mei
10

Pencerahan Jiwa: The National

Agustus 2007. Saya sedang liburan bersama keluarga saya di HongKong. Setiap kali saya mendatangi sebuah tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, saya mempunyai kebiasaan yang mungkin sulit untuk dimengerti, kecuali oleh mereka yang juga seperti saya. Saya selalu berintensi untuk mengetahui di mana saya dapat menemukan toko CD yang dapat memenuhi kebutuhan akan musik yang tidak dapat saya temukan di tanah air. Terkadang tempat itu adalah rantai toko yang ternama seperti HMV, atau toko-toko musik kecil lainnya yang justru di sana kita menemukan sebuah permata yang selama ini dicari. Ya, saya masih membeli CD se-“Old Skol” apapun itu terdengarnya. Mengutip ucapan Penny Lane di Almost Famous “And if you ever get lonely, just go to the record store and visit your friends.”, itu adalah perasaan saya setiap kali mengunjungi sebuah record store.

Dalam liburan itu pulalah, ketika menjelajah rak-rak sebuah toko CD di pusat kota Hongkong, saya menemukan sebuah album, yang sampulnya berlatarbelakang hitam, di tengahnya terdapat sebuah band yang sedang bermain dalam sebuah pesta pernikahan. Di atasnya tertulis: The National Boxer. Saya tidak mengetahui album maupun band tersebut, tapi sampul albumnya telah menarik perhatian saya. Dengan cepat, tanpa diperalati oleh ponsel pintar yang pelan tapi pasti mengusik kehidupan saya saat ini, saya mengirim sebuah pesan singkat ke seorang teman saya, minta tolong untuk mengecek tentang band tersebut. Saya bahkan salah menafsirkan nama band tersebut, saya pikir band tersebut bernama The National Boxer, yang benar adalah band tersebut bernama The National, albumnya berjudul Boxer. Teman saya mengirimkan pesan singkat balik, mengatakan bahwa band tersebut adalah band asal Amerika, dan sedang naik daun dalam skena indie di sana. Entah atas alasan apa, saya tidak menindaklanjuti ketertarikan saya tersebut.

Di akhir tahun yang sama, di dalam kompilasi akhir tahun sebuah majalah musik yang saya beli, saya mendengarkan lagu mereka yang berjudul “Fake Empire”, lantunan piano dengan suara bariton penuh melankoli mengatakan kepada saya, bahwa ini adalah band yang patut diberikan perhatian. 3 tahun lamanya, pengetahuan saya tentang The National hanya sebatas “Fake Empire”, sampai minggu lalu.

Sambil mempromosikan album terbaru mereka “High Violet”, The National memberikan sebuah lagu secara cuma-cuma untuk diunduh dan diambil dari album tersebut. Lagu tersebut berjudul “Bloodbuzz Ohio”. Terus terang, saya terkesima dengan apa yang saya dengar. Apa yang diberikan The National bukanlah sesuatu yang baru, Interpol, Editors dan Joy Division, telah melakukannya sebelum mereka, tetapi ada sesuatu dalam suara bariton Matt Berninger dan dua pasang kakak beradik Aaron & Bryce Dessner serta Scott & Bryan Devendorf yang membuat saya tersentak mendengarkan musik mereka. Entah apa yang terjadi, tetapi segala melankoli dan keputusasaan yang tersirat dalam musik mereka, berubah menjadi sebersit sinar harapan dalam setiap nada yang dilantunkan.

Sejak minggu lalu, saya jadi mendengarkan tiga album mereka secara intensif “Alligator”, “Boxer”, dan “High Violet”. Dalam tiga album tersebut saya mendengar salah satu musik paling jujur yang mungkin pernah saya dengar selama beberapa tahun belakangan. Mereka tidak bernafsu untuk menaklukkan dunia atau berdandan seperti rockstar paling hip di planet ini, mereka hanya berkata bahwa musik akan menyembuhkan luka kita semua. “Alligator” dengan “Lit Up”, “Friend Of Mine”, dan “Mr. November” adalah indie amerika yang ingin kita dengar, dengan lanskap musik luas yang menelusup ke alam pikiran kita sambil berkata bahwa saya ingin berada di sini dan menikmati setiap detik kehidupan walaupun kita tahu kehidupan tidak ingin memberikan kita harapan. “Boxer” adalah sebuah album mahakarya, yang saya sesali mengapa saya tidak membelinya tiga tahun yang lalu di Hongkong. Dengarkan drum yang mendominasi “Mistaken For Stranger” dan “Squalor Victoria”, dengan cepat kita akan tahu bahwa musik di album ini adalah pencerahan. “High Violet” seperti dikutip di beberapa media, adalah The National melakukan Elbow. Ini adalah album yang membuat jutaan orang lainnya mengikatkan hatinya kepada band tersebut, dengarkan “Anyone’s Ghost”, “Lemonworld” dan “Conversation 16” untuk pembaptisan hati kalian kepada keindahan dari melankoli.

Langit masih tetap mendung di luar sana, biarkan ia mendung untuk beberapa saat lagi. Saya masih termenung di sini, membasuh jiwa saya dengan musik dari The National, sampai denting terakhir yang saya dengar dan melihat ada secercah cahaya yang menembus kegelapan itu.

David Wahyu Hidayat




Agustus 2017
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 140,775 hits