Posts Tagged ‘Rumahsakit

26
Des
16

Favorit 2016

photogrid_1482687460277

 

 

Kebahagiaan musikalis saya tahun ini berawal di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016, ketika saya menyaksikan megahnya Efek Rumah Kaca mengantarkan lagu-lagunya pada Konser Sinestesia. 3 bulan setelahnya di penghujung April, saya menjadi saksi di mana lapangan parkir Senayan diubah menjadi lantai dansa psikedelik masal oleh Tame Impala dalam kunjungannya ke Jakarta.

 

Di paruh kedua tahun ini, tanah air dibanjiri dengan banyak pertunjukkan musik, tak luput juga perhelatan festival. Saya beruntung dapat datang di 2 kesempatan yaitu Soundrenaline Festival di GWK, Bali dan Synchronize Festival di Kemayoran (Dengan menyaksikan Rhoma Irama sebagai salah satu momen paling berkesan yang saya rasakan tahun ini). Satu hal yang saya simpulkan dari mendatangi 2 festival itu adalah betapa kayanya negeri ini akan band/artis berkualitas, dan di tengah-tengah segala pertanyaan akan apa artinya menjadi Indonesia, musik yang dibawakan dari band-band tanah air itu yang membuat saya bangga menjadi warga negara Nusantara dan merasakan bersyukurnya menjadi bagian dari nasion yang sangat kaya dan beragam ini. Di dua festival itu, musik mempersatukan keragaman penonton tanpa memandang latar belakangnya, dan kita semua bisa merasakannya dalam atmosfir penuh kebahagiaan.

 

Dalam format trek dan album, tahun ini kembali dipenuhi dengan segala hingar bingar yang membuat kita terpana penuh keheranan, karena musik sekali lagi menyulap hari-hari kita menjadi sesuatu yang istimewa, tak peduli kita sedang berada di rumah, maupun sedang tenggelam dalam tuntutan pekerjaan, sedang sendiri atau bersama orang-orang yang kita kasihi. Di bawah ini, adalah para trek dan album favorit saya tahun ini yang mengubah dan memberi arti hari-hari saya di tahun 2016 ini.

 

 

Trek:

 

Beat The Ordinary – Elephant Kind

 

Lagu ini adalah sebuah pembuktian bahwa Elephant Kind adalah sebuah unit (indie) pop berbakat yang ada di Indonesia saat ini. Setiap hook-nya menyiratkan keoptimisan masa muda dan harapan bahwa dunia bisa ditaklukkan di bawah kaki mereka tanpa harus menaklukkan siapa pun.

 

 

Aviation – The Last Shadow Puppets

 

Ketika Arctic Monkeys sedang tidak menghibur kita dengan apapun yang mereka rilis, Alex Turner menyibukkan diri dengan sahabatnya Miles Kane sebagai The Last Shadow Puppets. Aviation adalah trek tipikal duo tersebut dengan gitar berefek retro serta lirik yang membuat para wanita turun berdansa dan para pria berdiri terpana mengaguminya.

 

Find Me – Kings of Leon

 

13 tahun sejak Youth & Young Manhood dirilis, Kings Of Leon tetap konsisten memainkan rock americana yang mampu diterima oleh masyarakat arus utama. Find Me adalah nomor yang punya daya tarik karena lick berkesinambungan Matthew Followill terlalu manis untuk dilewatkan dan suara vokal Caleb Followill masih tidak dapat ditolak oleh semua orang yang punya selera bagus dalam bermusik.

 

 

Gimme The Love – Jake Bugg

 

Ini adalah lagu paling terus terang dari Jake Bugg. Menyanyi seakan dirinya adalah rapper paling begundal dan dengan semangat seorang Mike Tyson, Gimme The Love adalah pernyataan seorang artis yang tidak kenal kata takut untuk berevolusi.

 

Like Kids – Suede

 

Salah satu kritikus musik menyebutkan Night Thoughts adalah album di mana Suede menemukan keseimbangan antara sisi gelap Dog Man Star dan keseksian Coming Up. Trek ini mencerminkan yang terakhir, ketika Brett Anderson menjadi androginous sejati diiringi binalnya suara gitar Richard Oakes.

 

Million Eyes – The Coral

 

Setiap kali The Coral mengeluarkan album, setiap kali itu pula saya terpana karenanya. Distance Inbetween adalah sebuah album ajaib, dan trek seperti Million Eyes adalah buktinya. Para sonic scouser itu menukar pop-folk mereka dengan psikedelia berat namun harmonis di lagu itu. Memasuki 14 tahun karir bermusik mereka hal itu adalah sebuah konsekuensi yang sangat logis untuk diambil, sekaligus patut diacungkan jempol sebagai tanda betapa briliannya mereka.

 

Serigala – Indische Party

 

Entah atas alasan apa, menurut saya Analog adalah album yang sangat identik dengan The Velvet Underground dengan Serigala sebagai trek andalannya. Trek  itu membakar semangat, seperti layaknya  seorang pemuda yang akan menerkam dan menaklukkan CBGB di malam menuju Minggu.

 

Threat Of Joy – The Strokes

 

Lagu ini adalah sebuah pertanda bahwa The Strokes masih dapat dengan mudah menciptakan lagu yang sangat melodis seandainya mereka mau sepakat untuk melakukannya. Tanda-tanda akan kecintaan mereka terhadap musik yang mudah dipasarkan seperti waktu mereka menghantarkan Is This It, terdengar dengan gamblang di lagu ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi barometer untuk lagu-lagu mendatang yang akan dikirimkan The Strokes ke planet ini.

 

Candu Baru – Zatkimia

 

Ketika mendengarkan Zatkimia pertama kali di Soundrenaline, saya terhenyak karena melihat sebuah band yang sangat menyegarkan dan tanpa rasa takut menguasai panggung di GWK waktu itu. Band ini adalah pahlawan baru pulau dewata, dengan musik yang kental akan aroma grunge dan rangkaian musik alternative yang kita kenal di tahun 90-an. Walaupun belum mengeluarkan album secara penuh, lagu yang bertemakan kecanduan manusia akan segala piranti digital ini, menjadi semacam pertanda bahwa semesta akan menyertai masa depan band ini.

 

The Journey Starts Tonight – Rumahsakit

 

Anak indie atau bukan, penggemar Rumahsakit atau bukan, lagu ini wajib menjadi soundtrack baru mereka yang sedang kasmaran serta mencintai kehidupan. Daya tarik pop lagu ini terlalu besar dengan lirik yang sangat optimis “’Cause you are so bright And now I’m blinded by The magic in your smile” dan riff gitar apik yang akan membuat kita bersiul bahagia setiap pagi. Jika semuanya tergantung kepada saya, lagu ini seharusnya berada di setiap siaran tv dan radio yang mempromosikan lagu Indonesia, karena ini adalah lagu bagus dan setiap orang harus mengetahuinya.

 

 

Wave – Heals

 

Tradisi bahwa Bandung selalu memproduksi band beraliran shoegaze yang tidak kalah kualitasnya dengan band yang berasal dari Oxford maupun Stockholm dilanjutkan dengan Heals. Merilis beberapa single di tahun ini, dengan Wave adalah salah satunya, Heals adalah badai suara yang tidak dapat dilewati. Kualitas band dan lagu ini terlalu baik, sehingga sudah seharusnya kerajaan shoegaze itu di kudeta, dan ibukotanya dipindahkan ke Bandung.

 

Stunt Queen – Bloc Party

 

Lagu ini adalah definisi Bloc Party MK II, di mana saat mereka bercumbu dengan aroma elektronika tidak menjadikan keluaran band ini menjadi janggal tetapi merupakan sesuatu yang patut dipeluk dan dinikmati. Saya beruntung menyaksikan Bloc Party dengan komposisi personil baru di Bali, September lalu. Yang saya saksikan adalah sebuah band yang kembali menikmati posisinya sebagai salah satu band berpengaruh di dekade lalu dan itu terasa dan terdengar dalam Stunt Queen.

 

Beautiful Thing – The Stone Roses

 

Tahun ini dua kali saya bangun dini hari bukan untuk sepakbola, tetapi untuk mendengarkan pemutaran perdana lagu terbaru dari The Stone Roses. Lagu yang dirilis kedua, seperti judulnya adalah sesuatu yang indah. Jika hiatus panjang itu tidak pernah terjadi, dengan wah-wah yang mendominasi dan hook-hook psikedelik dari John Squire serta vokal biblikal Ian Brown, lagu ini tidak bisa tidak merupakan penerus yang sah dari Fools Gold.

 

Finally First – Beyond The Wizard Sleeve

 

Hentakan drum repetitif itu sukses menghanyutkan kita ke dalam era di mana definisi musik elektronik adalah Chemical Brothers dan Everything But The Girl, serta acid house adalah musik yang kita cintai kala berpesta di pesisir Ibiza pada puncak dekade 90an.

 

Extra Mile – Kimokal

 

Sebenarnya ketukan-ketukan yang mengawali lagu ini terasa janggal ritmenya namun kaki tidak bisa diam untuk berdansa dengannya. Sementara itu vokal Kallula yang meramban otak kita membentuk sebuah halusinasi nyaman dalam alam pikiran. Sesaat kita lupa akan dunia nyata, dan memasuki kemayaan indah versi Kimokal.

 

Identikit – Radiohead

 

“Broken hearts make it rain” kata-kata itu diulang Thom Yorke di lagu ini seperti mantra. Apakah ini lagu patah hati Radiohead yang pertama? Sesungguhnya tidak peduli ini lagu patah hati atau bukan. Dengarkan musik yang mengiringinya; ketukan-ketukan ganjil itu, suara synth yang menghantui ketika Yorke menyanyikan kata-kata di atas dan rentetan gitar yang membentuk klimaks di akhir lagu. Mendengarkan semua itu, kita tahu bahwa Radiohead tetap dan masih sebuah band jenius yang tidak ada tandingannya di abad ini.

 

 

Monumen – The Trees and The Wild

 

The Trees and The Wild benar-benar membangun sebuah monumen yang dilapisi tembok-tembok suara menakjubkan di lagu ini. Ia seperti ledakan emosi paling hebat dalam tubuhmu dengan vokal yang menghantui, hentakan drum yang konsisten mendeterminasi jiwa dan serangan gitar penuh dengan efek yang menyeruak dan berkoloni di dalam alam pikiran.

 

Merdeka – Efek Rumah Kaca

 

Efek Rumah Kaca merilis single mereka ini menjelang hari kemerdekaan RI yang ke 71. Sungguh, saat mendengarkan Efek Rumah Kaca, salah satunya melalui lagu ini, kita selalu diingatkan terus menerus akan makna menjadi manusia seutuhnya dan menjadi Indonesia sepenuhnya. Lagu ini adalah sebuah harapan.  

 

Pekerja – Bangkutaman

 

Lagu latar buat para pekerja-pekerja di metropolis Nusantara. Memang perjalanan menuju dan dari tempat bekerja bisa saja berbuat kejam kepada kita. Tuntutan atasan dan pekerjaan bisa membuat lupa bahwa kita seorang manusia. Lagu dengan nuansa folk ini mengingatkan kita bahwa sesekali tidak ada salahnya menghela nafas sesaat dan menjadi rileks sejenak, sebelum meneruskan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

 

Modern Soul – James Blake

 

Menjelang tengah malam dan jam-jam setelahnya adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan musik James Blake, tak terkecuali lagu ini. Musiknya akan menyelimuti kita dengan kegundahan yang menyenangkan, ia akan mengambil porsi kekuatiran yang dibawa oleh kegelapan malam, sambil memberi sedikit nyawa kepada fajar yang sebentar lagi akan datang.

 

Cahaya – Tulus

 

“Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya, aku pastikan jalanmu terang”, begitulah janji Tulus kepada kita. Di tahun  2016 ini, bintang penyanyi yang satu ini masih bersinar terang benderang, dan turut bercahaya bersamanya adalah segenap planet pop tanah air.

 

 

Album:

 

Zaman, Zaman – The Trees & The Wild

 

Sesungguhnya dan secara instan album kedua The Trees & The Wild ini adalah sebuah candu yang takkan habis masa pengaruhnya setelah lama didengarkan. Siapapun yang beruntung pernah menyaksikan penampilan band ini secara langsung di tahun yang penting bagi mereka ini, akan merasa pengar musikalis untuk waktu yang berkepanjangan setelahnya. Karena seperti albumnya, mereka telah memberikan sesuatu yang terlalu atmosferik untuk dilepaskan, magis dan monumental sekaligus.

 

A Moon Shaped Pool – Radiohead

 

Album brilian dan menghantui sanubari yang mendeskripsikan Radiohead dalam fase terbaiknya. Mungkin mereka tidak lagi membuat sebuah opera rock seperti Paranoid Android, ataupun mengantarkan trek bernuansa Stanley Kubrick seperti Idioteque, namun silahkan dengarkan Daydreaming dan Identikit, keduanya adalah bagian dari keajaiban yang hanya dapat dihantarkan oleh Radiohead.

 

Analog  – Indische Party

 

Mendengarkan album ini, pikiran lantas teringat kepada New York, Velvet Underground serta musik latar mini seri HBO Vinyl, dan itu adalah sebuah komplimen! Mendengarkan Babe You Got A Hold On Me Somehow seperti mendengarkan Lou Reed sedang berkontemplasi, vokal Tika Pramesti di Ingin Dekatmu mengalun adem dan mengingatkan akan keseksian Nico, sedangkan Serigala mempersiapkanmu menerkam malam minggu paling liar di CBGB!!!

 

Distance Inbetween – The Coral

 

Tidak ada yang berani memperkirakan bahwa The Coral masih sanggup mengeluarkan album, dan betapa sungguh dasyhatnya gelombang yang dikirimkan oleh Distance Inbetween. Serangan-serangan psikedelia kelas berat bertubi-tubi dipancarkan album ini dalam lagu seperti Chasing The Tail Of A Dream maupun Million Eyes. Selayaknya pembaruan yang telah dilakukan oleh seorang Juergen Klopp dalam tubuh tim bola merah kota asal band tersebut, sudah saatnya pula kita balik percaya bahwa The Coral telah kembali dan merestorasi kejayaan mereka.

 

The Soft Bounce – Beyond The Wizard Sleeve

 

Beyond The Wizard Sleeve adalah sebuah kursus bagaimana membuat musik elektronik terdengar sangat organik, dengan mencampurkan elemen psikedelia dan acid house. Ada elemen nostalgia tahun 90-an di sana, mendengarkan album ini seperti mendengarkan The Chemical Brothers dicampur oleh Everything But The Girl yang sedang diet mayo. Jika tidak percaya dengarkan saja Diagram Girl, Creation ataupun hantaman drum penuh ekstase itu dalam Finally First.

 

O – Kimokal

 

Kimokal adalah bukti bahwa geliat musik (indie) Indonesia tidak melulu harus menampilkan gitar sebagai senjata utamanya. Dibalut dengan untaian bit elektronika dan sentuhan post-dubstep, album debut mereka O akan memberikan abstraksi multi warna ketika kita mendengarkannya. Kadang bayangan itu tentang kilau lampu ibukota yang mempesona, kadang tentang sebuah metropolis entah di mana yang memanggil kita untuk berdansa.

 

Walls – Kings Of Leon

 

Setelah album ini dirilis, segala perdebatan dan perbandingan tentang siapa yang lebih baik dan lebih besar antara Followill bersaudara dan lima pemuda dari New York yang menamakan dirinya The Strokes, sudah dan harus diakhiri untuk selamanya. Jika The Strokes seringkali kehilangan arah antara ingin meneruskan warisan Is This It atau membuka dimensi baru di album-album setelahnya, Kings Of Leon mendirikan dinasti yang dibangun dari setiap rilisannya. Walls adalah buktinya.

 

City J – Elephant Kind

 

Terlepas dari sumpah serapah yang bertebaran dengan joroknya di sudut-sudut album ini, dan lagu-lagu yang dipotong dengan janggal ketika kalian sedang asyik-asyiknya mendengarkan (itu mungkin disengaja demikian), City J adalah karya debut pop yang sangat sukses. Album itu diawali dengan Beat The Ordinary yang menebar harum keadaan indie pop Indonesia 2016, dan kemudian dituntaskan dengan pamungkas dengan trek seperti Montage dan The Saviour.

 

Hymns – Bloc Party

 

Sejujurnya setelah mencintai band ini dengan sangat semenjak pertengahan dekade lalu, saya sempat skeptis menyambut album pertama Bloc Party sepeninggalan Gordon Moakes dan Matt Tong yang digantikan dengan Justin Harris & Louise Bartle. Hymns bukanlah album yang menjatuhkan bom seperti Silent Alarm atau bahkan Four sekalipun, tetapi mendengarkannya seperti bertemu seorang teman lama yang selalu tahu cara mengusir kegundahan dengan cara yang lebih dewasa dan menenangkan. Euforia dekade lalu telah berakhir, dan di tengah waktu yang tak kenal arah ini, Hymns datang sebagai penyembuhan agar kita tetap waras.

 

Night Thoughts – Suede

 

Dengan banjirnya layanan streaming musik termasuk di tanah air ini, tahun ini adalah waktu yang dinyatakan sebagai tahun matinya format album. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Di genre yang lebih dekat dengan arus utama dikatakan Beyonce, Drake dan Kanye menjadi penyelamat format tersebut, sedangkan untuk kita yang terjebak dengan musik dari 2 dekade lalu, Suede menjadi penyelamat dengan merilis Night Thoughts yang dikemas dalam musik yang tidak terputus antar treknya dan bertautan dalam cerita satu sama lain serta didukung oleh sebuah film yang menjadi visualisasi musiknya. Night Thoughts adalah album matang dari Suede yang mengkombinasikan kegelapan Dog Man Star dan keseksian Coming Up dalam album ini. Jika semua band/artis yang reuni setelah bubar memproduksi karya seperti Suede, maka kita semua akan menjadi orang yang lebih bahagia di dunia ini.

 

David Wahyu Hidayat

09
Agu
15

Menjadi Indonesia – Rilisan Musik Lokal Favorit Saya, edisi 2015

Rilisan musik lokal favorit 2015

Menjadi Indonesia – Rilisan musik lokal favorit saya edisi 2015

Sudah lewat beberapa tahun, untuk alasan tertentu (apakah itu kemalasan saya sendiri atau memang tidak ada rilisan yang menarik perhatian) saya tidak menemukan musik menarik yang dihasilkan negeri ini. Namun, semuanya berubah tahun 2014 silam. Semenjak akhir tahun lalu saya menemukan musik Indonesia, khususnya band-band indie baru atau reinkarnasi seperti halnya Rumahsakit, menggeliat kembali dalam sosok yang sangat menggairahkan.

Dibantu dengan era distribusi digital yang tidak lagi membatasi kelokalan sebuah rilisan, beberapa band menggebrak melalui dinamika suara dalam musik yang mereka bawakan. Album-album hebat dirilis yang tidak kalah kualitasnya dengan musik dari luar tanah air. Bahkan untuk pertamakalinya sejak entah berapa lama, tahun ini saya lebih banyak membeli musik rilisan band lokal daripada luar negeri.

Rilisan tersebut, meminjam judul single terbaru Efek Rumah Kaca, mengembalikan mosi bahwa pasar benar-benar bisa diciptakan. Kita akan mencintai musik tersebut karena yang kita dengar adalah penyegaran, pencerahan sekaligus ekstase. Album-album yang dirilis pada 2014-2015 di bawah ini (meminjam kembali kata-kata Efek Rumah Kaca) membuktikan memang masih banyak cara menjadi besar, dan musik adalah salah satu caranya. Rilisan musik di bawah ini adalah sebuah upaya mengembalikan jati diri dalam sebuah bangsa dan negara yang sangat membanggakan, yang melebur keragaman menjadi sesuatu yang majestik. Menjadi Indonesia. Dirgahayu.

FSTVLST – Hits Kitsch

Sudah lama saya tidak mendengar album seperti yang diusung band asal Yogyakarta ini. Menamakan konsep mereka almost rock, barely art, FSTVLST memberikan kebahagiaan dengan nuansa folk pada “Menantang Rasi Bintang”, menyuarakan kegelisahan negeri pada lagu pembuka “Orang-Orang Di Kerumunan” atau menebarkan kengerian pudarnya jati diri yang ditelan era yang dihidupinya dalam “Hal-hal Ini Terjadi”. Dan ketika mereka menutup album tersebut dengan sebuah riff gitar The Smiths/Morrissey-eske dalam “Ayun Buai Zaman”, tidak ada kata lain lagi yang patut disematkan pada album ini selain: BRILIAN!

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Ayun Buai Zaman

 

Elephant Kind – Scenarios, a short film by Elephant Kind

EP dari Elephant Kind ini adalah sesuatu yang unik. Sulit memetakan genre musik apakah ini, tetapi yang pasti mereka sangat senang bermain dan bereksperimen dengan komposisi musik di EP tersebut. Mendengarnya berulang-ulang seperti mendengarkan band yang berisikan anggota The Temper Trap dan Vampire Weekend. Ketukan dan bunyi-bunyian etnis yang keluar dari lagu-lagunya terdengar tidak logis tetapi menyenangkan. Sebuah EP yang akan mencerahkan hari-harimu sambil menerawang cerahnya langit ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Scenario III

The Marsh Kids – The Many failings of Bugsy Moonblood

Album ini akan membius dan membawa kalian ke alam mimpi sebelum kalian menyadarinya. Seperti anestesi yang pelan tapi pasti menumbangkan kesadaran, kita tidak akan pernah ingat 13 judul lagu yang ada di album ini, tetapi yang terjadi setelahnya adalah kita akan menyenadungkan nada-nada lagu di album sesaat setelah kita terjaga dari tidur tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika tidak percaya dengarkan saja lagu seperti: “Molly May”, “Fugly Holiday” dan yang paling berbahaya di antara semuanya: “Bentang Bintang”. Bugsy Moonblood akan menjadi mimpi indah kita, menjadi sebuah pelarian dari kenyataan yang terlalu manis.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Bentang Bintang

 

Rumahsakit – +imeless

Ketika tahu Rumahsakit akan mengeluarkan album baru, saya dan seorang kawan penasaran setengah mati akan seperti apa album baru Rumahsakit setelah ditinggalkan sang vokalis Andri Lemes. Setelah mendapatkan CD-nya, dengan sedikit berdebar saya menekan tombol play, dan kekuatiran saya langsung sirna mendengar ketukan pertama di album ini. +imeless adalah sebuah album yang sangat matang, penuh suasana optimisme yang hanya kita kenal dari tahun 90-an. Vokalis boleh saja baru, komposisi lagu boleh berbeda, tetapi Rumahsakit akan tetap selalu abadi.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Apa yang tak bisa

 

The Young Liars – Rue Massena

The Young Liars adalah sebuah gairah muda yang tidak dapat dikontrol adrenalinnya. Sejak dari detik pertama “I Tried and I’m Tried” mereka memberikan sebuah pernyataan di album mereka bahwa hal yang selalu mereka cita-citakan adalah Rock ‘n’ Roll. Letupan demi letupan mereka lontarkan dengan lagu-lagu seperti “One Eyed Jones” dan “Two Wild Ones”. Tetapi mereka juga punya sisi gelap sentimentil seperti yang dilantunkan dalam penutup “Rue Massena”. Jika mereka dapat mempertahankan dan terus menghasilkan karya seperti debut album ini, maka masa depan musik rock Indonesia ada di tangan yang baik.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: I Tried and I’m Tried

Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah/HAAI

Teriakan Bocah adalah sebuah ledakan berdurasi 23 menit dan HAAI adalah tribut untuk Panbers paling psikedelik yang pernah didengar telinga Nusantara. Kesamaan dari dua album tersebut, keduanya dihasilkan dari band paling berbahaya di tanah air saat ini bernama Kelompok Penerbang Roket. Jika ingin mendengar seperti apa suara musik rock Jakarta tahun 2015 dengarkan dan HANYA dengarkan Kelompok Penerbang Roket, suara-suara lainnya tidak relevan untuk saat ini. Kelompok Penerbang Rocket telah menyelamatkan mereka yang masih percaya pada rock ‘n’ roll. Misi itu telah diselesaikan.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Cekipe dari Teriakan Bocah dan Djakarta City Sound dari HAAI

Stars & Rabbit – Constellation

Salahkan televisi masa kini yang mengusik kopi minggu pagi saya ketika menampilkan sebuah duo dengan suara vokalis seperti Bjork yang berselingkuh dengan gitar akustik. Ketika vokal itu berpadu dengan ritem gitar yang renyah, hari Minggu itu terasa lebih damai dari biasanya, hari minggu itu menetramkan hati, menyejukkan jiwa. Bagaimana kemudian setelah saya gali informasinya bahwa duo yang bernama Stars & Rabbit itu pernah melakukan tur promosi album sampai ke negeri Tiongkok dan albumnya di-mastering oleh seorang John Davis yang terlibat dalam proses remaster dari album-album Led Zeppelin dan proyek rekaman band/artis seperti Primal Scream, Prodigy, Lana Del Rey dan Beady Eye; menimbulkan misteri tambahan dan rasa ingin tahu terhadap duo asal Yogyakarta ini. Selanjutnya ketika “Constellation” debut album mereka telah dimiliki, lagu-lagu yang di dalamnya tidak hanya menyejukkan sebuah minggu pagi tetapi juga melepas beban kepenatan hari-hari melelahkan di ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: The House

Polka Wars – Axis Mundi

Fakta bahwa Polka Wars merekam beberapa materi debut album mereka di New York memberikan beban tambahan yang tidak langsung mengatakan bahwa album ini harus istimewa. Kenyataannya Axis Mundi adalah album atmosferik yang pandai memainkan emosi pendengarnya. Mereka bereksperimen tidak hanya dari penulisan lagu tetapi juga dari sisi instrumen, dengarkan saja misalnya saxophone di akhir dari “Mokele” yang menambahkan kesan kelam tapi berkelas atau bunyi-bunyian alat tiup lainnya di “Coraline” yang menimbulkan kesan misterius pada lagu tersebut. Dengan Axis Mundi, Polka Wars telah meninggalkan jejak musikalis mereka, perlu dicermati ke mana lagi mereka akan melangkah setelah ini.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Mokele

David Wahyu Hidayat




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,056 hits