Posts Tagged ‘Oasis

14
Apr
17

Playlist: Favourite Tracks From The Year 1997/2007

 

 

Dalam setiap dekade ada setidaknya satu tahun yang pivotal keberadaannya secara musikalis, karena menghantarkan karya demi karya yang terdengar majestik dan membentuk momen-momen yang mendefinisikan kehidupan. 1997 dan 2007 adalah tahun-tahun yang masuk dalam kategori di atas.

 

Di tahun 1997, orde baru memasuki penghujung hidupnya, begitu juga dengan kerajaan lain bernama Britpop. Album ketiga Oasis Be Here Now memastikan kematiannya secara gemilang, di sisi lain Radiohead melalui OK Computer dengan akurat memprediksi kehidupan setelah Britpop dan abad 21 dengan cara hidup paranoid di sebuah ekosistem bernama Android ataupun sistem operasi lainnya yang mengikat manusia dalam kefanaan dunia maya. Sebelumnya, Blur sudah lebih dulu memilih jalan keluarnya dari skena itu dengan merilis album brilian mereka di awal tahun, serta karya-karya elektronika fenomenal dari The Chemical Brothers dan Prodigy yang membuka jalan bagi artis-artis bergenre elektronik lainnya.

 

10 tahun berikutnya tantanan kehidupan dunia telah berubah, dengan peristiwa 09/11 di tahun 2001 yang mendikte kehidupan di millennium baru. Dalam dunia musik, sekali lagi Radiohead berperan melalui perilisan album In Rainbows dengan metode pembayaran suka-suka. Ketika perilisan fisik di ambang kematiannya digantikan dengan digitalisasi, mereka memilih untuk tidak didikte dengan itu, dan di luar semuanya album tersebut adalah sesuatu yang sangat brilian. Pahlawan-pahlawan baru pun muncul dalam bentuk album-album yang dirilis LCD Soundsystem, Efek Rumah Kaca maupun Bloc Party di tahun itu.

 

Playlist ini adalah sebuah perayaan akan keindahan musik di 2 tahun tersebut yang terpisahkan 1 dasawarsa dan bagaimana momen-momen yang mengitarinya adalah sebuah bersitan kehidupan yang akan selalu tergores dalam pita memori alam pikiran saya.

 

Beetlebum – Blur (dari album Blur)

 

Dirilis sebagai single nomor satu dari album yang berjudul sama dengan band mereka, album ini adalah sebuah awal baru bagi Blur. Perlahan tapi pasti mereka mulai melepaskan ciri khas british ladism yang melekat pada mereka di album-album sebelumnya, digantikan dengan nuansa psikedelia dan americana pada karya-karya di album ini. Jujur saya menyukai perubahan arah ini.

 

Kirana – Dewa 19 (dari album Pandawa Lima)

 

Jika band ini meneruskan arahan yang terdengar pada lagu dan album ini, serta tidak tenggelam dalam godaan lain di luar musik, mungkin Dewa 19 akan menjadi band Indonesia yang paling saya gilai sepanjang masa. Bagaimana tidak, siapapun yang mendengarkan lagu ini di tahun 1997 akan mengakuinya sebagai sebuah mahakarya. Vokal Ari Lasso, permainan gitar Andra, dan nuansa magis yang membungkus lagu itu, semuanya adalah kesempurnaan. Sekali lagi kesempurnaan.

 

Discotheque – U2 (dari album Pop)

 

Siapapun yang pernah hidup dan merasakan tumbuh besar di tahun 90an tidak akan pernah bisa memungkiri, bahwa U2 adalah band terbesar di masa itu. Tidak ada yang bisa menyentuh U2, bahkan ketika merilis Pop dan merilis sebuah nomor discorock seperti Discotheque kita menyorakinya dan menyebutnya sebuah progres luar biasa dalam arahan musik mereka. (Betapa kita sesungguhnya salah besar), namun jika kita mengalaminya di masa itu, kita akan memuja Bono, The Edge, Larry dan Adam dengan sepenuh jiwa kita.

 

Monkey Wrench – Foo Fighters (dari album The Colour And The Shape)

 

Kita masih tenggelam dalam duka akibat wafatnya Kurt Cobain, ketika Dave Grohl memasuki dunia musikalis kita melalui Foo Fighters. Skeptis adalah kata yang tepat karena curiga ia hanya mendompleng nama besar Nirvana. Namun nomor seperti Monkey Wrench di tahun 1997 merasuki jiwa dan telinga kita, dan kita pun dengan cepat menyadari bahwa ia memiliki bakat tersendiri yang berbeda dengan pemimpin band legendaris asal Seattle itu. Pelan-pelan Foo Fighters pun menemukan tempatnya tersendiri di hati kita.

 

Around The World – Daft Punk (dari album Homework)

 

1997, MTV tengah malam di bulan Juni. Sebuah video klip dengan latar belakang warna-warni technicolor dalam bentuk bundaran-bundaran, serta manusia-manusia yang tanpa henti berjalan naik-turun dalam piramida tangga yang berdiri di depannya, diputar di malam yang seakan tak lekas henti itu. Musik yang mengiringinya adalah sebuah pencerahan. Apakah ini, pikir saya waktu itu, kata-katanya hanya terdiri dari “Around The World” yang diucapkan berkali-kali dengan logat eropa, musiknya terdiri dari bits-bits elektronik seperti R2D2 dan C3P0 sedang menyanyi dengan bahasa droid dalam pesta mereka di Millenium Falcon. Ketika video klip itu hendak usai terpampanglah nama artis yang memiliki karya tersebut. Daft Punk. Dan itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan mereka.

 

Block Rockin’ Beats – The Chemical Brothers (dari album Dig Your Own Hole)

 

Jika tidak karena The Chemical Brothers mungkin saya tidak akan pernah menghormati karya-karya musik elektronik maupun artis-artis yang saya gilai di kemudian hari seperti LCD Soundsystem. Block Rockin’ Beats adalah pembuka jalan dari semua itu. Bagi saya The Chemical Brothers adalah pionir, dan saya berterima kasih karena mereka telah membuka mata saya.

 

Smack My Bitch Up – The Prodigy (dari album The Fat Of The Land)

 

The Prodigy sesuai dengan nama bandnya adalah komplotan jenius. Mendengarkan Smack My Bitch Up, kita disodorkan sesuatu yang terlalu nyeleneh untuk sebuah musik elektronik, tetapi di sisi lainnya terlalu digital untuk dikatakan punk. Jika elektropunk mempunyai sebuah embrio, lagu ini adalah hal tersebut.

 

Paranoid Android – Radiohead (dari album OK Computer)

 

Paranoid Android akan selalu melekat dalam diri Radiohead, sebagai lagu yang mendefinisikan karir mereka sebagai band paling jenius di generasinya. Ditulis dan dihantarkan sebagai sebuah rock opera multi fragmen, lagu ini akan membuai kalian, lalu menusuk telinga dan raga dari seluruh penjuru, seperti sebuah perjalanan roller coaster yang akan menjungkirbalikkan daya gravitasi, membuat mual tetapi pada momen ketika kita akan meluncur bebas, kita akan merasakan keindahannya. Itulah kejeniusan Paranoid Android.

 

Don’t Go Away – Oasis (dari album Be Here Now)

 

Sejujurnya secara pribadi saya menyukai Be Here Now. Walau sekarang dikecam oleh banyak orang, namun album itu selalu mendapatkan tempatnya di hati saya. Bagaimana tidak, album ini memiliki kekuatan dengan lagu seperti Don’t Go Away yang merupakan salah satu lagu ballad terbaik yang pernah diciptakan Noel (lebih baik dari Stand By Me yang dirilis sebagai single). Be Here Now mungkin merupakan stempel resmi kehancuran Britpop, tetapi bagi saya ini merupakan album solid lainnya yang pernah dihasilkan Oasis. Akhir dari diskusi.

 

The Drugs Don’t Work – The Verve (dari album Urban Hymns)

 

Lagu ini adalah lagu after party dari Britpop, dari segala kegilaan tahun 90an, dari hedonisme masa SMA kalian. Mengalun dengan manis, dengan suara khas Richard Ashcroft yang pasti akan membawa kalian ke alam sadar setelah segala sesuatunya. Lagu ini juga menjadi cetak biru tipikal lagu ballad band dari Britania yang datang setelahnya seperti Travis dan Coldplay. Jika segala sesuatu terasa berat dalam kehidupan, dengarkan saja lagu ini, pejamkan mata, dan semuanya akan baik-baik saja.

 

Fake Empire – The National (dari album Boxer)

 

Ditulis dengan inspirasi Amerika di bawah pemerintahan Bush, lagu ini masih tetap relevan sampai detik ini di tengah segala kegilaan politik populisme dunia. Pada akhirnya memang politik tidak bisa dipercaya, apakah kehidupan yang kita jalani kita hidupi untuk diri kita sendiri, atau untuk kemajuan mereka yang duduk di atas singgasana dalam kerajaan semu? Daripada memikirkan semua itu lebih baik menikmati keindahan lagu ini, sambil ikut melantunkan liriknya “Turn the light out say goodnight, no thinking for a little while

Let’s not try to figure out everything at once….”

 

We’ll Live and Die In These Towns – The Enemy (dari album We’ll Live and Die In These Towns)      

 

Kota yang kita tinggali seringkali keji sekaligus brutal. Ia mengharuskan kita bekerja 12 jam sehari, ditambah dengan pergulatan menempuh kekejaman lalu lintas ketika berangkat dan dalam perjalanan pulang yang dapat memakan waktu tempuh tidak masuk akal. Namun kota yang sama memberikan kita orang-orang yang kita cintai, senyuman dalam diri orang asing yang masih mau membantu kita ketika putus asa karena ban kendaraan kalian tertancap paku. Setiap kali mengingat semua kebaikan tersebut, saya teringat lagu ini, dan saya selalu tersenyum karena di kota ini saya tinggal dan hidup.

 

Bodysnatchers – Radiohead (dari album In Rainbows)

 

In Rainbows adalah album yang nyaris sempurna. Jika Radiohead tidak pernah merilis Kid A, mungkin ini adalah album terfavorit saya dari mereka. Dirilis dengan metode pembayaran sesuka konsumernya, In Rainbows mendobrak pakem-pakem distribusi musik konvensional. Dari sisi musik, ini adalah karya paling menarik yang pernah dihasilkan Radiohead, dengan lagu ini sebagai salah satu contohnya, melalui serangkaian efek gitar yang meledakkan amplifier dan merobek telinga.

 

Hunting For Witches – Bloc Party (dari album A Weekend In The City)

 

Merilis album keduanya di tahun 2007, Bloc Party mengukuhkan diri mereka sebagai band penting asal Inggris penting di generasi mereka. Mengambil tema kegalauan kehidupan generasi milenial, album ini masih menemukan relevansinya sampai sekarang, begitu juga dengan lagu ini yang mempertanyakan versi kebenaran yang kita kejar. Russell Lissack menfiturkan permainan lick-lick gitar menarik yang membuat lagu ini masih menjadi nomor favorit yang dimainkan Bloc Party sampai sekarang.

 

Jacqueline – The Coral (dari album Roots & Echoes)

 

Tidak banyak band seperti The Coral yang dengan keindahan jingle-jangle gitar mereka berfungsi sebagai mesin waktu ke masa-masa di mana dunia tidaklah serumit sekarang. Jacqueline adalah lagu musim semi di mana kegalauan musim dingin telah berlalu, dan yang ada di depan hanyalah hangatnya sang Surya yang menerpa wajah kita ditemani manusia yang kita cintai.

 

True Love Way – Kings of Leon (dari album Because of The Times)

 

“I want in, like a substitute…” sejak awal lagu ini adalah sebuah pernyataan. Jika cinta hanya bisa sekali dinyatakan maka lirik tersebut merupakan sebuah pernyataan yang sangat dasyhat. Karena tidak ada yang lebih tinggi, daripada hasrat sebuah pemain pengganti yang ingin memasuki arena pertandingan. Di album ini Kings of Leon mengukuhkan diri bahwa mereka bukan sekedar pengikut tren yang diawali oleh The Strokes dengan memainkan garage rock, tetapi mereka membuktikan bahwa mereka adalah sebuah kuartet solid yang dapat memainkan musik untuk memukau jutaan orang.

 

Di Udara – Efek Rumah Kaca (dari album Efek Rumah Kaca)

 

Tahun 2007 adalah tahun di mana Yang Mahakuasa menganugerahkan sebuah band bernama Efek Rumah Kaca ke tanah air ini. Dengan lirik yang penuh arti, musik yang mengusik sanubari, band tersebut benar-benar merupakan anugerah dalam kehidupan kita. Di Udara adalah lagu yang didedikasikan untuk almarhum Munir, aktifis maupun pasifis, siapapun yang pernah menyaksikan lagu ini dimainkan langsung akan merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekuat itulah kuasa lagu ini.

 

All My Friends – LCD Soundsystem (dari album Sound of Silver)

 

Dengan dentingan piano tanpa henti dan sentakan drum seperti senapan mesin yang menyemburkan pelurunya bertubi-tubi, serta lirik penuh elegi terhadap sebuah pertemanan “…You spent the first five years trying to get with the plan, And the next five years trying to be with your friends again…” James Murphy melalui lagu ini menumpahkan isi hatinya tentang menjadi dewasa. Sesungguhnya mendengarkan lagu ini, tidak ada yang lebih indah menemukan fakta bawah kita tidak lagi di umur belia kita, dan kehidupan sesungguhnya baru saja dimulai.

 

To The Sky – Maps (dari album We Can Create)

 

Maps alias James Chapman adalah semacam tips rahasia balik di tahun 2007. We Can Create adalah sebuah album elektronik pop yang sempurna, mendefinisikan suasana etereal yang lugas, dan To The Sky adalah salah satu permatanya. Mendengarkannya kita akan benar-benar mengambang, menatap langit penuh keindahan tidak peduli apakah hari itu cerah atau dipenuhi kegelapan, karena lagu itu akan mencerahkan segalanya.

 

505 – Arctic Monkeys (dari album Favourite Worst Nightmare)

 

Melalui album keduanya Favourite Worst Nightmare, Arctic Monkeys membuktikan bahwa mereka bukan hanya sensasi semalam saja. Album kedua mereka seperti seorang adik kandung yang lebih misterius namun penuh daya tarik jika dibandingkan dengan album pertama mereka yang sensasional itu. 505 nomor penutup album kedua tersebut, merupakan pembuktian bahwa Alex Turner adalah penulis lagu terbaik di generasinya dan Arctic Monkeys adalah band yang tidak takut untuk memasuki teritori yang baru.

 

David Wahyu Hidayat

Iklan
10
Des
16

Ulasan Film: Oasis – Supersonic

Ulasan saya mengenai film dokumenter Oasis yang berjudul Supersonic dan disutradai oleh Mat Whitecross dapat dibaca di rollingstone.co.id pada tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/12/08/140511016/1109/oasis-supersonic

rolling-stone-indonesia-oasis-supersonic

 

David Wahyu Hidayat

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

11
Mei
14

Album Review: Oasis – Definitely Maybe

Definitely Maybe Collection

Oasis
Definitely Maybe
Creation Records – 1994

Keith Cameron, mantan editor senior NME menulis demikian di akhir ulasannya tentang Definitely Maybe 20 tahun silam: “With Definitely Maybe, Oasis have encapsulated the most triumphant feeling. It’s like opening your bedroom curtains one morning and discovering…the Taj Mahal in your back garden.”

Pernyataan itu di tengah-tengah puncak kebanggaan, perasaan congkak, sekaligus naif tanpa ketakutan tahun 90-an adalah benar adanya, karena di tahun itu tidak ada yang lebih besar dari usaha kolektif lima pemuda bernama Liam, Noel, Bonehead, Guigsy dan Tony. Definitely Maybe mengubur dalam-dalam lubang kefanaan grunge yang ditinggalkan oleh kematian Kurt Cobain, bukan hanya mengisi keabsenan tapi mendefinisikan baru kecongkakan penuh ambisi yang pernah diperlihatkan Ian Brown bersama The Stone Roses, dan album itu adalah salah satu pilar terbesar sebuah kerajaan yang bertahun-tahun dan dekade setelahnya dikenal dengan nama Britpop.

Memuja Definitely Maybe, yang berarti juga memuja Oasis adalah perihal sederhana. Seperti hal paling mendasar yang bisa didefinisikan seseorang terhadap orang lain, menyukai debut album band asal Manchester itu hanya didasarkan satu hal. Perasaan. Dan perasaan adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan atau direnggut orang lain. Apakah kamu dan saya memilikinya, terpujilah langit dan alam semesta jika memilikinya, atau tidak. Sebab Noel bukanlah gitaris terbaik yang pernah dilahirkan Inggris, Liam bukanlah vokalis jelmaan John Lennon atau Johnny Rotten seperti yang sering diklaim dirinya, terlebih lagi ketiga personil pengiring kakak-beradik Gallagher itu, mereka lebih cocok sebagai tukang kayu atau kurir pos dibanding menjadi anggota band terbaik dunia.

Ekstase dan murni ekstase itulah yang disampaikan Definitely Maybe. Sejak menit pertama gitar itu melengking, dihajar dengan dentuman drum ekstatik McCarroll, dan suara parau Liam menyanyikan “I need some time in the sun shiiiiinnneee…” yang kemudian menjadi ciri khas dirinya, album itu dan Oasis mendefinisikan generasi 90-an, seperti awal distorsi A Hard Day’s Night telah mendefinisikan tahun 60-an.

Mendengarkan Definitely Maybe bak mendengarkan suara pembebasan. Bahwa yang terpenting adalah apa yang dapat dilakukan dengan diri kita jika kita percaya, bukan perkataan orang lain. Noel bukan seorang pembuat lagu yang dikenal dengan rangkaian liriknya, namun kesederhanaan liriknya justru membangkitkan inspirasi di antara pendengarnya. Dengarkan saja penggalannya di Rock ‘n’ Roll Star “In my mind my dreams are real…tonight I’m a rock ‘n’ roll star”, atau pada Cigarettes and Alcohol “You could wait for a lifetime to spend your life in the sunshine…you gotta make it happen” atau usaha pengimortalisasi diri yang dapat kita dengar dalam Live Forever “Maybe you’re the same as me, we see thing they’ll never see, you and I we’re gonna live forever”. Jika ini semua bukan suara pembebasan, musik apalagi yang dapat membebaskan kita semua?

Jika musik grunge mengedepankan suasana “Kami melawan sisa dunia”, Definitely Maybe justru mensuarakan suasana sebaliknya. Dengan musik yang sederhana, sesederhana orang baru belajar gitar, Definitely Maybe menciptakan suasana opstimisme penuh matahari yang menjadi ciri khas Britpop. Dalam lingkaran musik tak berujung yang dihantarkan Columbia, Oasis menciptakan arti psikedelik untuk generasi 90. Dalam ledakan drum dan distorsi berbahaya Bring It On Down, rock ‘n’ roll diberikan nyawanya kembali. Dalam kemanisan poptastik Slide Away Oasis memberikan soundtrack lagu romantis tanpa asa untuk para britpoper. Lalu di tengah-tengah album itu berdiri dengan megah Supersonic dengan segala kejayaannya, yang akan membuat kedua tangan kita mengepal ke udara, meninju langit biru dengan secercah matahari musim panas, dan membuat perasaaan kita seperti sehabis memenangkan Champions League melawan Barcelona dengan skor 4-3.

Definitely Maybe terdengar seperti sebuah kemenangan di tahun 1994. 20 tahun setelahnya, kita menghidupi kejayaan album itu. Definitely Maybe telah mengiringi masa adolesen saya, dan tetap terus menginspirasikan saya dan saya yakin banyak orang lainnya yang telah membeli album tersebut, untuk tetap membangun Taj Mahal definisi dirinya masing-masing. Entah itu keinginan menjadi band terbaik di negaranya, menjadi pesepakbola yang membawa negerinya meraih trofi pertamanya setelah seperempat abad, menciptakan mobile app paling digemari sedunia, atau hanya sekedar menjadi kepala keluarga terhebat untuk anak-istrinya. Yang jelas, inspirasi itu hanya sejauh sentuhan play di pemutar musik kita, dan Definitely Maybe akan kembali menjadi suara pembebasan kita. “You need to be yourself, you can’t be no one else”.

David Wahyu Hidayat

 

Definitely Maybe versi master ulang dapat diperoleh di iTunes sejak 12 Mei 2014




Desember 2017
S S R K J S M
« Agu    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categories

Blog Stats

  • 142,182 hits