Posts Tagged ‘Oasis

10
Des
16

Ulasan Film: Oasis – Supersonic

Ulasan saya mengenai film dokumenter Oasis yang berjudul Supersonic dan disutradai oleh Mat Whitecross dapat dibaca di rollingstone.co.id pada tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/12/08/140511016/1109/oasis-supersonic

rolling-stone-indonesia-oasis-supersonic

 

David Wahyu Hidayat

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

11
Mei
14

Album Review: Oasis – Definitely Maybe

Definitely Maybe Collection

Oasis
Definitely Maybe
Creation Records – 1994

Keith Cameron, mantan editor senior NME menulis demikian di akhir ulasannya tentang Definitely Maybe 20 tahun silam: “With Definitely Maybe, Oasis have encapsulated the most triumphant feeling. It’s like opening your bedroom curtains one morning and discovering…the Taj Mahal in your back garden.”

Pernyataan itu di tengah-tengah puncak kebanggaan, perasaan congkak, sekaligus naif tanpa ketakutan tahun 90-an adalah benar adanya, karena di tahun itu tidak ada yang lebih besar dari usaha kolektif lima pemuda bernama Liam, Noel, Bonehead, Guigsy dan Tony. Definitely Maybe mengubur dalam-dalam lubang kefanaan grunge yang ditinggalkan oleh kematian Kurt Cobain, bukan hanya mengisi keabsenan tapi mendefinisikan baru kecongkakan penuh ambisi yang pernah diperlihatkan Ian Brown bersama The Stone Roses, dan album itu adalah salah satu pilar terbesar sebuah kerajaan yang bertahun-tahun dan dekade setelahnya dikenal dengan nama Britpop.

Memuja Definitely Maybe, yang berarti juga memuja Oasis adalah perihal sederhana. Seperti hal paling mendasar yang bisa didefinisikan seseorang terhadap orang lain, menyukai debut album band asal Manchester itu hanya didasarkan satu hal. Perasaan. Dan perasaan adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan atau direnggut orang lain. Apakah kamu dan saya memilikinya, terpujilah langit dan alam semesta jika memilikinya, atau tidak. Sebab Noel bukanlah gitaris terbaik yang pernah dilahirkan Inggris, Liam bukanlah vokalis jelmaan John Lennon atau Johnny Rotten seperti yang sering diklaim dirinya, terlebih lagi ketiga personil pengiring kakak-beradik Gallagher itu, mereka lebih cocok sebagai tukang kayu atau kurir pos dibanding menjadi anggota band terbaik dunia.

Ekstase dan murni ekstase itulah yang disampaikan Definitely Maybe. Sejak menit pertama gitar itu melengking, dihajar dengan dentuman drum ekstatik McCarroll, dan suara parau Liam menyanyikan “I need some time in the sun shiiiiinnneee…” yang kemudian menjadi ciri khas dirinya, album itu dan Oasis mendefinisikan generasi 90-an, seperti awal distorsi A Hard Day’s Night telah mendefinisikan tahun 60-an.

Mendengarkan Definitely Maybe bak mendengarkan suara pembebasan. Bahwa yang terpenting adalah apa yang dapat dilakukan dengan diri kita jika kita percaya, bukan perkataan orang lain. Noel bukan seorang pembuat lagu yang dikenal dengan rangkaian liriknya, namun kesederhanaan liriknya justru membangkitkan inspirasi di antara pendengarnya. Dengarkan saja penggalannya di Rock ‘n’ Roll Star “In my mind my dreams are real…tonight I’m a rock ‘n’ roll star”, atau pada Cigarettes and Alcohol “You could wait for a lifetime to spend your life in the sunshine…you gotta make it happen” atau usaha pengimortalisasi diri yang dapat kita dengar dalam Live Forever “Maybe you’re the same as me, we see thing they’ll never see, you and I we’re gonna live forever”. Jika ini semua bukan suara pembebasan, musik apalagi yang dapat membebaskan kita semua?

Jika musik grunge mengedepankan suasana “Kami melawan sisa dunia”, Definitely Maybe justru mensuarakan suasana sebaliknya. Dengan musik yang sederhana, sesederhana orang baru belajar gitar, Definitely Maybe menciptakan suasana opstimisme penuh matahari yang menjadi ciri khas Britpop. Dalam lingkaran musik tak berujung yang dihantarkan Columbia, Oasis menciptakan arti psikedelik untuk generasi 90. Dalam ledakan drum dan distorsi berbahaya Bring It On Down, rock ‘n’ roll diberikan nyawanya kembali. Dalam kemanisan poptastik Slide Away Oasis memberikan soundtrack lagu romantis tanpa asa untuk para britpoper. Lalu di tengah-tengah album itu berdiri dengan megah Supersonic dengan segala kejayaannya, yang akan membuat kedua tangan kita mengepal ke udara, meninju langit biru dengan secercah matahari musim panas, dan membuat perasaaan kita seperti sehabis memenangkan Champions League melawan Barcelona dengan skor 4-3.

Definitely Maybe terdengar seperti sebuah kemenangan di tahun 1994. 20 tahun setelahnya, kita menghidupi kejayaan album itu. Definitely Maybe telah mengiringi masa adolesen saya, dan tetap terus menginspirasikan saya dan saya yakin banyak orang lainnya yang telah membeli album tersebut, untuk tetap membangun Taj Mahal definisi dirinya masing-masing. Entah itu keinginan menjadi band terbaik di negaranya, menjadi pesepakbola yang membawa negerinya meraih trofi pertamanya setelah seperempat abad, menciptakan mobile app paling digemari sedunia, atau hanya sekedar menjadi kepala keluarga terhebat untuk anak-istrinya. Yang jelas, inspirasi itu hanya sejauh sentuhan play di pemutar musik kita, dan Definitely Maybe akan kembali menjadi suara pembebasan kita. “You need to be yourself, you can’t be no one else”.

David Wahyu Hidayat

 

Definitely Maybe versi master ulang dapat diperoleh di iTunes sejak 12 Mei 2014




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,070 hits