Archive for the 'Pure Saturday' Category

31
Okt
16

Impresi dari 3 hari di Synchronize Festival 2016

Rhoma Irama: Kharisma tanpa batas atas kecintaan tanah air dengan musik yang mampu menggoyangkan semua pecinta musik tanpa terkecuali.

Barasuara: Masih tidak tergoyahkan posisinya sebagai band paling menggemparkan saat ini.

The Trees & The Wild: Magis & monumental, momen favorit pribadi 3 hari kemarin.

Efek Rumah Kaca: Tiap konser ERK dengan formasi lengkap adalah sesuatu yang istimewa.

The Milo dan Heals: 2 band ini meneruskan tradisi dan persepsi bahwa band shoegaze terbaik Indonesia adalah dari Bandung.

The Upstairs: Jimi Multhazam adalah pencerita handal dan bandnya selalu berhasil membuat anak indie disko darurat di manapun kapanpun.

Scaller: Apalagi yang mau dikatakan tentang band ini? Mereka adalah masa kini dan masa depan! 

Pure Saturday: Menutup Jumat malam dan memulai hari Sabtu dengan bahagia adalah esensi Pure Saturday.

Payung Teduh dan Float: Di tengah hingar bingar Festival, musik dari 2 band ini bagai oase yang sejuk dan menenangkan.

Elephant Kind: Terkendala gangguan teknis pada gitar utama mereka, membuat penampilannya di minggu sore sedikit tersendat. Untungnya mereka punya lagu yang membuat penonton berinteraksi seru khas generasi milenial yang membuat penampilan itu berkesan.

Kelompok Penerbang Roket: Liar dan gas penuh tanpa rem, seperti yang selalu diharapkan dari mereka. 

The SIGIT: Rok n’ Rol bukanlah hanya sebuah konsep, The SIGIT itu perwujudannya.

The Brandals dan The Adams: Banyak hal yang menjadi ciri khas Jakarta, dari yang baik maupun buruk. Entah kenapa 2 band ini selalu identik dengan kebaikan ibukota di kepala saya, tidak terkecuali waktu mereka tampil pada hari kedua di Synchronize Festival.

FSTVLST: Barely art, almost rock. Impresif sesuai dengan slogan mereka. 
Rock n’ Roll Mafia: Band ini tidak pernah benar-benar ada di radar saya, dan ini akan berubah sejak penampilan mereka di hari ketiga.

90’s Hiphop All Star: Siapa yang menyangka beat dan rentetan lirik dari para rapper paruh baya mampu mengguncang Kemayoran dengan hebat.

Terlepas dari kendala teknis yang dialami beberapa band di panggung utama, ini festival yang seru di mana seluruh genre melebur dalam atmosfir menyenangkan. Mudah-mudahan pergerakan ini berlanjut di tahun mendatang.

David Wahyu Hidayat 

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

27
Mei
12

Konser Review: Pure Saturday – Gedung Kesenian Jakarta, 15 Mei 2012

Pure Saturday

The Grey Concert

Gedung Kesenian Jakarta

15 Mei 2012

 

Setlist:

Sesi 1: Intro – Centenial Waltzes, The Horsemen, Lighthouse, Musim Berakhir, Starlight, Utopian Dreams, The Air The Empty Sky, Passepartout, To The Edge, Albatross Part I – III

 

Sesi 2: Elora, Spoken, Nyala, Pagi, Coklat, Enough, Simple, Desire, Cinta Hitam, Labirin

 

Encore: Kosong, Buka

 

Review:

 

 

 

Pionir tetaplah akan menjadi pionir, sebuah titel yang akan tetap melekat walaupun dimakan lamanya waktu dan perubahan zaman. Pure Saturday adalah pionir, lagunya “Kosong” merubah apa yang kita kenal tentang indie musik di negeri ini. Ia menggerakkan sampai akhirnya tercipta banyak musik-musik hebat yang datang dan sangat patut diapresiasi di negeri ini.

 

Selasa malam 15 Mei 2012 adalah malam di mana kita merayakan sebuah pionir dalam wujud sebuah konser yang dinamakan “The Grey Concert” untuk menyambut dirilisnya album terbaru Pure Saturday.

 

Lokasi dan persyaratan pra konser tersebut sudah dipenuhi dengan Gedung Kesenian Jakarta sebagai tempat konser dan dirilisnya sebuah album baru yang mengakhiri penantian selama 7 tahun. Dan dikatakan juga, album ini akan menampilkan sebuah Pure Saturday baru.

 

Ketika lampu gedung kesenian era kolonial itu digelapkan, ratusan pasang mata penasaran menyaksikan sebuah mata mendelik ke kanan ke kiri di layar video panggung yang sudah gelap, hati berdebar menunggu apa yang akan terjadi diiringi lantunan musik klasik dari Strauss yang memenuhi tata suara gedung tersebut. Lalu satu persatu masuklah keeempat personil Pure Saturday dalam siluet kegelapan panggung, ketika lampu menyala dan video berubah menjadi seekor kuda yang dipacu berlari sekencang angin, Satrio NB sang vokalis muncul. Penonton pun terkejut. Karena 2 hal. Yang pertama adalah ketidakpercayaan akan musik yang dimainkan, lagu pertama berjudul “The Horsemen” itu penuh dengan efek yang menggaung ditambah keagungan permainan kibor, synthesizer Yockie Suryo Prayogo jauh dari irama jingle jangle khas Pure Saturday. Yang kedua adalah penampilan Satrio yang serba hitam, dengan muka dipoles putih seperti seorang artis pantomim.

 

Penampilan Pure Saturday malam itu memang sangat teatrikal di sesi pertama yang khusus membawakan lagu-lagu dari album “Grey” dengan urutan setia seperti yang di album. Menyusul “The Horsemen” adalah “Lighthouse” yang mungkin paling dekat dengan repertoir standar Pure Saturday. Menambah sesi teatrikal sesi pertama itu, Satrio membacakan puisi – puisi di antara lagu-lagu yang dimainkan. Puisinya menghibur, terkadang serius tetapi juga menyentil seperti ujarannya akan krisis idola yang dimiliki negeri ini.

 

 

“Starlight” dimainkan dengan dilatarbelakangi tarian balerina yang dengan gemulai mengitari para personil Pure Saturday. Bila ada yang sebelumnya meragukan arah musikalis yang diambil Pure Saturday, setidaknya dalam lagu ini keraguan itu deitampik dengan tempo lagu yang sedang, kemudian memuncak seperti protes sunyi diiringi letupan drum yang berbaris menghentak menuju puncak.

“Passepartout” walaupun bukan seperti lagu biasa yang dimainkan Pure Saturday juga sangat perlu diperhitungkan, bukan tidak mungkin ke depannya lagu ini adalah lagu yang akan diminta untuk dimainkan oleh Pure People dalam setiap konser Pure Saturday. Konser sesi pertama itu ditutup dengan keagungan syahdu “Albatross” yang terbagi dalam 3 bagian, sesaat aroma rock klasik muncul di sana tapi itu semua dipadukan dengan kecerdasan Pure Saturday meramu sebuah lagu.

 

Dalam sesi kedua, Pure Saturday tampil dengan setelan standarnya. Satrio tampil dengan tidak lagi berteatrikal. Lagu yang dimainkan pun merupakan campuran nomor-nomor klasik mereka. Dibuka dengan “Elora” baik Pure Saturday maupun penonton nampak lebih bisa menikmati konser tersebut. Satrio sesekali membaur di antara penonton seperti sebelum menyanyikan “Coklat” bersama Rekti dari The SIGIT.

 

 

Mendengarkan nomor-nomor seperti “Enough”, “Simple” dan “Desire” dalam suasana seperti itu dan di bawah tempat yang menakjubkan seperti Gedung Kesenian Jakarta memberikan suasana yang sangat intim dalam lagu-lagu tersebut. “Labirin” dibawakan dengan dinyanyikan paduan suara SMA 78 yang membuat berdirinya bulu kuduk. Didengarkan di album, lagu itu sendiri sudah luar biasa, tetapi dinyanyikan dalam konser tersebut, lagu tersebut menjadi sangat epik dan merupakan salah satu pemuncak konser malam itu.

 

Pure Saturday menutup konser intim sepanjang 2 jam tersebut dengan encore “Kosong” yang dinyanyikan Cholil dari Efek Rumah Kaca, dan sebagai nomor pamungkas mereka membawakan “Buka”. Luar biasa adalah kata yang terlalu sederhana untuk mendeskripsikan konser tersebut. Malam itu penuh dengan kejutan, penuh dengan momen-momen intim yang sangat sempurna yang harus terjadi malam itu di Gedung Kesenian Jakarta. Pure Saturday adalah pionir, dan dengan “Grey” mereka akan meneruskan titel tersebut, tanpa dimakan waktu menuju keabadian.

 

David Wahyu Hidayat

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

26
Jan
09

Konser Review: Pure Saturday – Bandung, 25 Januari 2009

photo-0060

Pure Saturday

Time For A Change – Time To Move On

The Gig

GSG Itenas Bandung, 25 Januari 2009

Setlist: Pathetic Waltz, Awan, Sajak Melawan Waktu, Silence, Di Bangku Taman, Belati, Di Sana, Nyala (feat. Rekti, The SIGIT), Latter The Saddest World Down (feat. Rekti, The SIGIT), Whole Lotta Love (feat. Rekti, The SIGIT), Sirkus, Kaca, A Song. BREAK. Labirin (feat. Agung, Burgerkill), Elora (feat. Agung, Burgerkill), Coklat, Desire, Pagi, Spoken, Pulang. ENCORE: Buka, Kosong, Enough, Vapour Trail, Boys Don’t Cry

Bagaimana sepotong musik, diartikan sebagai sesuatu yang abadi? Bertahan dalam ujian waktu, di tengah – tengah banyaknya jutaan musik baru yang sekarang tidak lagi hanya hadir dalam bentuk piringan cakram dan pita kaset tapi juga nada dering pribadi di ponsel paling modern yang kita miliki.

Musik yang akan menembus keabadian adalah serangkaian nada yang setelah melewati semua kejadian yang kita alami; pertemanan, akhir persahabatan, rujuknya kembali sebuah persahabatan, ataupun kematian dan perkawinan, tetap memberikan kita perasaan yang sama ketika kita pertama kali mendengarkan musik tersebut. Perasaan penuh bahagia yang tidak dapat dijelaskan selain oleh musik itu sendiri.

Tahun 1996 adalah tahun di mana waktu dan tempat melebur menuju kesempurnaan. Mereka yang muda optimis berada dalam sebuah keadaan eufori dipenuhi oleh musik dari Britania Raya. Hilang sudah kegalauan generasi grunge, lalu piala Eropa dihelat di Inggris seperti hendak memberikan visualisasi yang pantas terhadap musik yang kita dengar. Di negeri ini, sebuah band bernama Pure Saturday memberikan kita sesuatu yang patut dikagumi, karena akhirnya ada band yang berani menampilkan sebuah keindahan yang tidak pernah didengar selama ini, sebuah musik yang dengan manis mencuat keluar dari hati, di luar dari apa yang pernah kita dengar selama ini dalam band yang pada waktu itu pun sudah terlalu banyak mengumbar kekosongan kata cinta tanpa arti. Pure Saturday menghiasi mulut dengan senyuman tanpa henti, melukis hati dengan rona kebahagiaan tanpa batas.

Seiring dengan waktu, dengan kewajiban kita yang juga bertambah, ketika jaket jeans itu diganti dengan setelan kemeja licin, sepatu adidas kita berubah menjadi sepatu pantofel yang siap untuk menghadiri pesentasi paling penting untuk klien kita, dan walkman itu telah berubah menjadi alat pemutar musik digital, kita sesekali masih sempat menjenguk ulang musik yang menjadikan semua yang telah berlalu menjadi begitu berarti, musik dari Pure Saturday.

photo-0066


Lalu, tanggal 25 Januari 2009, di tengah hujan yang mengguyur Bandung, kita semua, yang masih percaya akan keabadian itu, yang masih percaya kalau musik Pure Saturday adalah sesuatu dari sekian banyak yang telah mendefinisikan masa muda kita, menemukan dirinya di gedung serba guna Itenas Bandung. Yang membawa kita ke sana adalah sebuah bentuk kesetiaan, dan malam itu kita siap untuk mendengar semua yang telah kita pernah dengar, dan berharap akan sebuah harapan yang selalu kita punya sejak pertama kali mendengarkan musik mereka.

Yang kita saksikan selama lebih dari dua jam menyaksikan Pure Saturday malam itu, adalah sebuah keabadian. Di gedung yang seperti hendak ditakdirkan menjadi sebuah set paling sempurna untuk sebuah konser tunggal Pure Saturday, musik mereka masih tetap berfungsi sama ketika kita mendengarkannya untuk pertama kali. Mungkin ada beberapa hal yang masih dapat dibuat lebih sempurna lagi di malam itu, tapi pada akhirnya yang terpenting adalah musik, dan yang mereka mainkan di sana masih menggugah hati kita untuk menyanyikan senandung keceriaan masa yang telah dan akan kita lewati.

Penampilan Pure Saturday malam itu, memberikan justifikasi untuk band sekelas mereka. Seharusnya band-band bagus di negeri ini, lebih banyak diberikan kesempatan berdiri di atas panggung seperti yang dimiliki Pure Saturday malam itu. Sebuah gig dengan set berdurasi lebih dari 2 jam, dan memainkan lebih dari 20 lagu termasuk cover version dari “Vapour Trail” oleh Ride, “Boys Don’t Cry” dari The Cure, dan secuplik “Whole Lotta Love” dari Led Zeppelin yang menfiturkan Rekti dari The S.I.G.I.T.

photo-0071


Gig Pure Saturday itu tidak hanya memberikan kita suasana intim, tapi juga dengan suguhan lagu-lagu klasik seperti “Desire” dan “Coklat” yang diiringi dengan dansa ekstase hampir seluruh penonton yang hadir di sana, penampilan Pure Saturday kemarin juga memberikan arti baru dalam lagu yang memperkenalkan mereka pada dunia. “Kosong” yang diaransemen ulang, terdengar seperti doa paling tulus yang pernah dipanjatkan masyarakat Indie negeri ini. Begitu juga dengan “Kaca” yang dibawakan dengan diiringi oleh cuplikan demonstrasi mahasiswa tahun 1998, meredefinisi ulang lagu yang liriknya saja telah terdengar sebagai lagu demonstrasi paling manis yang pernah ada di tanah air. Bahkan lagu “baru” mereka, “Pagi” dan “Spoken” yang dinyanyikan berdua oleh Satria dan Suar, yang berada di atas panggung lebih dari ¾ konser tersebut, seperti diberikan kesegaran baru malam itu.

Pure Saturday di gig tersebut, membenarkan atribut legendaris pada diri mereka. Lagu-lagu itu adalah lagu magis yang akan selalu mengiringi kita ke manapun kita pergi. Di atas lagu-lagu itu, terpondasi hampir semua yang ada di dalam diri kita. Dan seperti satu dekade lebih lagu itu telah bekerja untuk diri kita, bukan tidak mungkin malam itu, di bawah kelamnya langit Bandung yang masih tersiram hujan, kita menemukan persahabatan, cinta dan sebuah perasan optimis baru, dalam waktu yang entah akan membawa apa lagi ke dalam kehidupan ini.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Pure Saturday – Time For A Change, Time To Move On

pure-saturday-time-for-a-change-time-to-move-on.jpg

Pure Saturday
Time For A Change, Time To Move On
Lil’Fish Records – 2007


Satu dekade lamanya kita telah mendengarkan musik yang membolehkan kita kembali untuk bermimpi. Sebuah musik yang akan selalu mendefinisikan suatu rentang waktu, di mana kita pernah tersenyum menikmati segala kemudaan kita yang naif tanpa keresahan sekejap pun.

Masih teringat ketika pertama kali mendengarkan musik band yang tidak bisa lain selain disebutkan dengan kata legendaris bernama Pure Saturday itu. Hati seakan tidak tertahan membendung luapan perasaan euphoria optimismus dan seperti yang sudah disebutkan di atas, akan perasaan untuk mengejar impian masa muda. Hari-hari itu, di mobil dalam perjalanan menembus Jakarta, di rumah, dan setiap langkah kehidupan kita, melodi dari band asal Bandung itu selalu setia menyertai.

Pure Saturday adalah legenda. Tidak akan ada perdebatan lagi tentang hal itu. Tanpa Pure Saturday, band-band indie negara tercinta ini, yang sekarang banyak hadir di pemutar musik portabel kita dan dijual CD-nya oleh toko buku barometer hip kalangan tertentu anak muda Jakarta, tidak akan pernah terbentuk.

Bagi banyak orang, mereka sebegitu berpengaruhnya dalam kehidupan, sampai ketika pita kaset album pertama dan kedua mereka tidak lagi dalam kondisi layak dengar, usaha melestarikan musik penyelamat masa 90-an itu dilakukan, sehingga walaupun dengan suara mengendap musik mereka pun akhirnya masih bisa dinikmati dalam format mp3. Tidak terbayangkan harus melewati satu dekade tanpa musik mereka.

Tapi dengan dirilisnya album “Time For A Change, Time To Move On”, kita tidak perlu lagi mendengarkan file-file mp3 itu, yang terkadang tidak seimbang suaranya antara speaker headphone kiri dan kanan. Dengan berisikan 10 lagu yang diambil dari ketiga album mereka ditambah 2 lagu baru, album ini berfungsi sebagai sebuah retrospektif. Bagi mereka yang mencintai band tersebut, lagu-lagu yang ada di situ tidak perlu diceritakan lagi. Semuanya bermakna, semuanya menceritakan kisah tertentu dalam 11 tahun yang telah berlalu sejak dirilisnya debut album mereka. Untuk mereka fans-fans baru Pure Saturday, album ini adalah sebuah dokumentasi penting akan sebuah era. Akan sebuah keajaiban melodi dari Bandung.

Desember 1996. Di sebuah hari Sabtu, hujan deras mengguyur Jakarta sejak pagi. Tapi itu tidak menghalangi pagelaran sebuah pensi sekolah homogen di kawasan Kebayoran Baru. Menjelang malam, hujan berhenti. Rumput masih basah tergenang air. Band yang dijadwalkan menutup pensi hari itu, tidak lain adalah Pure Saturday. Panitia dan pengunjung lelah, seakan sudah tidak semangat lagi melihat aksi band apapun, yang diidamkan hanyalah hangatnya tempat tidur. Tetapi ketika suara nyaring gitar akustik Suar menyapa dinginnya malam itu, orang –orang berlarian secara serentak ke arah panggung. Tanpa terkecuali. Kepenatan tiba-tiba sirna. Malam tampak bersahabat diiringi oleh musik Pure Saturday. Senyum terkembang di bibir. Di sekellilingmu, teman-teman terdekatmu, pengunjung, orang-orang yang tak dikenal, semua hanya menunjukkan satu hal di muka mereka. Kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kebahagiaan murninya sebuah Sabtu.

Malam itu Pure Saturday telah mengantarkan sesuatu yang akan selalu diingat, dan album restrospektif ini mengembalikan semua kenangan itu. Mungkin bila boleh meminjam, kata-kata John Harris tentang “The Stone Roses”, adalah sesuatu yang paling tepat untuk mendeskripsikannya. “(Pure Saturday) created as much magic as any of them. Tell your grandchildren”.

David Wahyu Hidayat




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,056 hits