Archive for the 'Uncategorized' Category

01
Agu
17

Panduan Pemula: The Smiths

Menurut Rolling Stone, The Smiths bubar 30 tahun yang lalu di minggu ini, dan mereka pun mengeluarkan sebuah daftar seluruh 73 lagu dalam katalog band legendaris asal Manchester ini dari yang paling tidak disukai sampai yang paling pamungkas (http://www.rollingstone.com/music/lists/the-smiths-morrissey-marr-rob-sheffield-ranks-all-73-songs-w492371)

 

Di samping itu, sebuah film yang menceritakan asal muda Morrissey sang vokalis kharismatik namun penuh kontroversi akan segera dirilis

Kedua hal itu, menggugah saya untuk mengkompilasi 10 lagu favorit saya dari band ini, dengan harapan bisa menjerat kalian yang belum pernah mendengar mereka jatuh cinta pada mereka, dan bagi mereka yang memang sudah tahu semakin mencintai The Smiths.

Inilah lagu-lagu yang menurut bahasa mereka sendiri “the songs that saved your life”

This Charming Man (dari album The Smiths)

Inti dari The Smiths adalah permainan gitar Johnny Marr dengan melodi-melodi yang menggelitik manis dan lirik Morrissey yang meskipun terdengar nyeleneh tetapi terlalu dekat dengan realita kehidupan kita. Dengarkan intro gitar lagu ini, lalu dengar Morrissey menyanyikan “I would go out tonight, but I haven’t got a stitch to wear”. Jika seseorang tidak menjadi bahagia mendengar lagu ini, sesungguhnya dia telah terhilang.

 

Still Ill (dari album The Smiths)

Intro seperti suara kereta api, lirik mengagumkan tentang memiliki sebuah negara (dalam hal ini Inggris), dan pertanyaan “Does the body rule the mind, or does the mind rule the body” adalah sebuah keadaan yang sama relevannya dinyanyikan di tahun 1983, dan di tahun 2017, di tengah-tengah kegilaan politik populis dan kecanduan virtual kita.

 

William,  It Was Really Nothing (dari Hatful of Hollow)

Banyak gitaris datang dan pergi mencoba meniru apa yang dilakukan Johnny Marr dengan gitarnya, dan sedikit pun tidak ada yang pernah setidaknya mendekati hari terburuknya. Johnny Marr adalah legenda, dan lagu ini adalah salah satu legasinya.

 

Ask (dari Louder Than Bombs)

“Shyness is nice, and Shyness can stop you From doing all the things in life You’d like to… Because if it’s not Love Then it’s the Bomb, the Bomb, the Bomb, the Bomb, the Bomb, the Bomb, the Bomb That will bring us together”. Untuk para introvert, extrovert dan seluruh umat manusia di muka bumi ini.

 

Stop Me If You Think You’ve Heard This One Before (dari Strangeway, Here We Come)

Walau judulnya terdengar tengik dan mengumbar kesombongan, lagu ini punya hak untuk mengklaimnya, karena jika seorang seperti Mark Ronson, mencomot lagu ini dan mengkomposisi versinya sendiri, maka kita semua akan tahu kekuatan pop lagu-lagu The Smiths.

 

Half A Person (dari Louder Than Bombs)

Kita semua pernah berumur 16, kikuk, dan punya mimpi untuk meninggalkan kota kelahiran kita dan tinggal di tempat yang lebih baik. Dengan lirik ” Sixteen, clumsy and shy,  I went to London and I, I booked myself in at the Y… W.C.A. I said : “I like it here – can I stay?” lagu ini mengingatkan kita akan mimpi yang tak pernah sirna itu.

 

Heaven Knows I’m Miserable Know (dari Hatful Of Hollow)

Lagu ini adalah satir kehidupan awal 20an di mana kehidupan setelah kuliah tidak selalu indah, di mana bertutur kata manis dan tersenyum terhadap orang yang mencelakakan kita adalah norma palsu yang dijalani. Tetapi melodi lagu ini sangat manis mengalun sehingga kita hanya dapat tersenyum dan menjalankan kehidupan kembali, karena apapun yang terjadi, surga tahu bahwa kita sedang berantakan, tetapi yang di atas akan selalu menyertai.

 

Cemetery Gates (dari The Queen Is Dead)

Tidak pernah lagu yang bercerita tentang pertemuan di pintu kuburan dan para sastrawan (Oscar Wilde!!!) terdengar semelodik ini dan mampu membangkitkan endorfin ke tingkat maksimal seperti lagu ini.

 

There Is A Light That Never Goes Out (dari The Queen Is Dead)

Lagu ini yang membuat saya jatuh cinta pada The Smiths. Mendengarnya di sebuah fajar musim semi di pertengahan 20an, ketika udara pagi pertama kali menembus paru-paru dan sinar mentari menerpa wajahmu, seakan untuk pertama kalinya seluruh kehidupanmu menjadi masuk akal. Jika diteliti lebih lanjut lagu ini sangat depresi liriknya (tentang mati ditabrak bis tingkat di sebelah orang yang dikasihi), tetapi pagi itu saya percaya akan ada selalu cahaya yang tidak akan pernah sirna.

 

Asleep (dari Louder Than Bombs)

Jika waktu saya meninggalkan dunia ini kelak tiba, siapapun harus memutar lagu ini di pemakaman saya. Karena mendengarnya mendatangkan kedamaian. “Sing me to sleep, Sing me to sleep, I’m tired and I want to go to bed… I want you to know Deep in the cell of my heart I will feel so glad to go… There is another world, There is a better world, Well, there must be… Bye Bye…”

 

David Wahyu Hidayat

 

08
Jan
17

Ulasan Album: Scaller – Senses

scaller-album-cover-jpeg_orig

 

Scaller

Senses

Swarilis – 2017

 

01 Januari 2017, semua hingar bingar pergantian tahun sudah berlalu. Bersamanya terkubur juga segala kegaduhan dalam kehidupan kita di tahun yang telah silam. Bertepatan dengan datangnya fajar, terhantarkan sebersit harapan akan waktu-waktu yang masih akan dijalani di tahun yang masih perawan ini. Salah satu bentuk harapan baru itu datang dalam bentuk debut album Scaller, Senses.

 

Siapapun yang pernah menyaksikan penampilan Scaller secara langsung, akan tanpa ragu sepakat bahwa duo yang terdiri dari Stella Gareth & Reney Karamoy ini adalah sebuah band yang masuk dalam kategori muda dan berbahaya. Setiap gig mereka bagaikan erupsi-erupsi yang tidak dapat dihindarkan memompa adrenalin mereka yang menyaksikannya. Penampilan mereka ketat, penuh konsentrasi dan terasa seperti pompaan tenaga yang datang dari batang energi yang diasupkan ke badan di pagi hari. Sewaktu secara mengejutkan tanpa basa-basi mereka merilis debut album mereka pada hari pertama di tahun ini, tentu saja pertanyaan itu tidak dapat dielakkan, yaitu apakah debut album ini bisa mewakili bola api yang mereka pancarkan pada penampilan mereka?

 

Jawabannya terdapat dalam 9 lagu yang diproduksi nyaris sempurna oleh Scaller di debut album perdana itu. Mereka tidak sungkan menunjukkan bahwa memang mereka adalah masa depan, dan mengirimkan pesan bahwa 01 Januari 2017 menjadi istimewa bukan hanya itu adalah awal tahun yang baru, tetapi bahwa pada tanggal tersebut Scaller menancapkan tapal batunya dalam sejarah musik negeri ini.

 

Album itu diawali dengan alunan melotron yang dibayangi oleh suara vokal Stella yang setengah mendesah, setengah menyanyikan lirik The Alarms, sebagai lagu pertama album itu; “Always around me and you, that’s enough and in all the endless nights the collide”, seakan ini adalah sebuah kidung yang memulai keagungan versi Scaller. Tapi keheningan tersebut berakhir di lagu pertama itu. Perlahan, tempo dan suasana Senses menanjak dimulai dengan Flair, yang diawali oleh perpaduan petikan gitar akustik dan efek beruntun yang terdengar angular namun mengecoh dengan serangan efek gitar Reney menjelang akhir lagu.

 

Kekuatan vokal Stella yang kadang mengalun merdu membius, di lain waktu bertenaga seperti hendak merobek jiwanya sendiri dan kita sebagai pendengarnya serta keahlian Reney memainkan segala macam efek gitar sebagai peralatan tempurnya menjadi ciri khas dari Scaller sepanjang album ini. Selain itu mereka juga punya banyak kejutan lainnya, seperti alur lagu yang tiba-tiba berubah dari suara rock alternatif khas 90-an menjadi rentetan gitar yang menjadi ciri khas band asal Inggris Foals di lagu ketiga Move In Silence. Atau suara alat musik sentuh yang dimainkan Stella di awal lagu Senses yang pelan merasuk pikiran sebelum ia menaikkan doanya dalam lantunan nyanyian “I haven’t been alive enough when we gaze into the stars, do you sense the Divine? Everything is right” dibarengi serangan gitar Reney yang menghantarkan kita ke nirvana baru musik alternatif tanah air.

 

Memasuki paruh kedua album itu, Scaller menambahkan bahan bakar yang membakar adrenalin Senses dengan lagu seperti Three Thirty yang bertempo lebih cepat bagaikan sebuah jet yang sedang mengincar sasarannya. Sedangkan dalam A Song dan The Youth, Stella bernyanyi seperti hendak merobek jiwanya untuk menenangkan suara generasinya. Di lagu berikutnya, Upheaval yang merupakan sebuah nomor instrumental, giliran Reney yang mengambil alih Senses. Dengan permainan efek gitar yang saling bersahut-sahutan, Reney seperti sosok seorang master Jedi yang sedang bertarung dengan Sith lord memperebutkan supremasi dalam dirinya sendiri, sedangkan mereka yang melihat pertarungan itu, berdansa menikmati keindahannya.

 

Senses ditutup dengan Dawn Is Coming. Kita yang mendengarkan album ini memejamkan mata sekali lagi sementara mentari mulai memunculkan wajahnya diufuk sana diiringi oleh kelugasan lantunan suara Stella dan tajamnya efek gitar Reney yang memancarkan optimisme. Turut bersamanya adalah sebuah harapan baru bahwa Scaller adalah sebuah masa depan, dan harapan itu tidak mengecewakan melainkan bersinar dengan terangnya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

 

10
Des
16

Ulasan Film: Oasis – Supersonic

Ulasan saya mengenai film dokumenter Oasis yang berjudul Supersonic dan disutradai oleh Mat Whitecross dapat dibaca di rollingstone.co.id pada tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/12/08/140511016/1109/oasis-supersonic

rolling-stone-indonesia-oasis-supersonic

 

David Wahyu Hidayat

17
Sep
16

Ulasan Album: The Trees & The Wild – Zaman, Zaman

zaman-zaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Trees & The Wild

Zaman, Zaman

Blank Orb Recordings – 2016

 

Ekspektasi dan antisipasi cenderung menghancurkan segala yang kita harapkan dari sesuatu. Hal-hal paling magis terjadi ketika minimnya pengetahuan terhadap sesuatu yang akan datang, memanipulasi dan menguasai alam pikiran kita ketika hal-hal tersebut dihadapi. Itulah yang saya rasakan mendengarkan Zaman, Zaman; album terbaru The Trees & The Wild yang menggulung indera pendengaran saya dalam pertemuan pertamanya.

 

Sebelum album ini dikeluarkan, jujur saya bukanlah fans band ini. Pertama kali ingin mengoleksi musik mereka, ketika majalah Time menganjurkan bahwa ini adalah salah satu band yang harus didengar dari Asia Tenggara. Setelah membaca artikel itu, saya memutuskan membeli Rasuk, lalu untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan musik dari album itu jarang saya kunjungi kembali (mungkin itu salah satu yang harus berubah sejak Zaman, Zaman).

 

Tetapi Zaman, Zaman adalah monster yang berbeda. Jarak 7 tahun antara Rasuk dan album ini mentransformasi The Trees & The Wild menjadi sebuah band yang berbeda sama sekali (saya belum pernah melihat mereka secara langsung, jadi hanya dapat menilai dari kedua album itu). Ini adalah album dengan bentang suara yang melintang lebih jauh dari Sabang sampai Merauke, ia menghipnotis, ia mempesona dan ia adalah sosok yang majestik yang pernah diciptakan oleh sebuah band dari negara ini, dan untuk itu ia layak dipuja.

 

Dari titel treknya pada lagu pertama, album ini sudah memberikan pernyataannya. Waktu Empati Tamako merasuki telinga kita selama 14:35 menit pada lagu kedua, akal sehat kita akan mengalah dan yang ada di kepala hanyalah sebuah pikiran yang berkata “Ya, Tuhan, ini candu!!!”. Empatbelas setengah menit yang terlalui dalam lagu itu bukan merupakan menit-menit yang terbuang sia-sia, itu adalah epik tanpa batas diiringi mantra “Terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya” yang dinyanyikan menembus karsa.

 

Sesuatu yang monumental didirikan oleh The Trees & The Wild di lagu yang mereka beri nama Monumen. Jika Thom Yorke & Johnny Greenwood dari Radiohead pernah mendengarkan lagu ini, mereka akan bangga sekaligus iri terhadapnya, berharap band mereka yang menciptakan lagu ini. Tapal batu itu lalu dibangun lebih megah dalam Tuah/Sebak, 2 fragmen lagu yang dijadikan satu di mana emosi dicampuraduk tanpa henti dan mencapai klimaksnya secara paripurna.

 

Yang fantastis dari album ini adalah cara mereka mengemas lagu demi lagu sebagai sebuah kesatuan musikalis. Suara instrumen dikedepankan membentuk tembok suara yang agung, vokal berkesan tidak mendapatkan tempatnya sebagai pemain utama, tetapi ia menghipnotis perlahan, membuat pendengarnya menerka dan memberikan interpretasinya sendiri terhadap setiap lagu di Zaman, Zaman. 7 trek yang dikemas dalam 53:28 menit itu, dan diakhiri oleh lagu terakhir berjudul Saija, adalah sebuah perjalanan sonik yang penuh kejayaan.

 

Zaman, Zaman adalah sebuah candu yang sulit untuk diredakan efeknya. Ia tidak akan langsung membuat kalian melayang, namun perlahan tapi pasti dalam setiap pemutarannya di telinga kalian, musiknya akan merayap, merasuki jiwa, membuat kita layaknya seorang pemadat yang menemukan candu terbaiknya, tenggelam dalam sebuah ekstase suara sampai pada kesudahan zaman.

 

David Wahyu Hidayat

 

Zaman, Zaman tersedia secara digital di:

iTunes: https://itunes.apple.com/album/id1143213241

Spotify

 

The Trees & The Wild:

Twitter: @ttatw

Instagram: treeswild

 

17
Okt
15

Ulasan Album: Barasuara – Taifun

BArasuara Taifun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Barasuara

Taifun

Juni Suara Kreasi – 2015

 

Tersedia di iTunes: http://smarturl.it/BarasuaraTaifun

Sebelum kalian semua membaca lebih lanjut tulisan ini, beli dan unduh album ini dari tautan di atas, nyalakan di pemutar musik kalian, kencangkan suaranya ke level yang paling tinggi dan biarkan kalian terhanyut dengan semua keajaiban yang ada dari kesembilan lagu tersebut, karena sejujurnya kata-kata saya tidak akan cukup untuk menggambarkannya. Sesungguhnya Barasuara dengan “Taifun” telah menghadirkan sebuah kemagisan yang pada ranah album musik Indonesia terakhir saya dengar dari Efek Rumah Kaca.

Menggebrak sejak awal dengan “Nyala Suara”, album ini adalah testimoni dari kecerdasan Iga Massardi (vokal & gitar), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bas), Marco Steffiano (drum), Asteriska Widiantini (vokal), dan Puti Chitara (vokal); dalam mengemas aransemen musik dan alunan lirik Barasuara. Di saat kita merasa lagu ini sudah mencapai klimaksnya, mereka membelokkannya ke arah lain atau meningkatkan tahap kecanduan kita akan musik mereka seperti terjadi dalam duel gitar Iga dan TJ di menit 3:42 lagu ini. Jika kalian menganggap musik adalah candu maka lagu ini adalah candu pamungkas.

Satu hal yang dapat dikenali dari musik Barasuara adalah ia dipenuhi dengan permainan perkusi yang menarik dan mengajak kita semua ingin menari, seperti yang didengar pada awal “Sendu Melagu” ataupun “Bahas Bahasa”. Begitu juga dengan harmonisasi vokal yang dilakukan oleh Puti dan Asteriska, membuat band ini lebih dari hanya sekedar band rock 5 orang biasa.

Mendengarkan “Hagia” seperti menemukan sepupu jauh dari lagu “Jalang”-nya ERK yang telah lama menghilang. Lagu ini menyuarakan bahwa apapun perbedaan kita, semuanya itu bukan merupakan batasan ataupun halangan bagi kita untuk melebur, karena seperti yang mereka suarakan “Seperti kami pun mengampuni, yang bersalah kepada kami”. Ini adalah bayangan sangat indah tentang kehidupan, menggugah.

Adapun episentrum album ini bagi saya ada pada “Api dan Lentera”. Lagu ini menaikkan klimaks yang telah ada di lagu-lagu sebelumnya sebanyak tujuh tingkat. Layaknya seperti taifun, ia datang kembali, menghujam dengan drum, menggulung dengan detak bas, menusuk tajam dengan serangan gitar dari kanan dan kiri, mengajak kita semua menari dengan teriakan “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu” sampai akhirnya dengan penuh kedamaian kita semua terlena karena “Kita kan pulang, dengan waktu yang terbuang, dan kenangan yang berjalan bersama”.

Setiap lagu yang ada di “Taifun” seperti sebuah soundtrack entah itu pada fase pencarian jati diri, berusaha bangkit lagi dari kegagalan, atau meninggalkan masa lalu yang kelam. Dengarkan saja “Menunggang Badai”, “Tarintih” dan “Mengunci Ingatan” maka layar film kehidupan di otak kita masing-masing akan memiliki soundtrack terbarunya diiringi lagu-lagu Barasuara.

Album ini ditutup dengan indahnya oleh lagu yang diambil dari judul albumnya “Taifun”. Petikan gitar yang nyaman akan mempesona kita, sambil meresapi kata-kata yang melantun di dalamnya “Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu, kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu”.

Jika kalian tidak terhempas dari tempat kalian berpijak atau dari sofa tempat kalian duduk dengan nyaman setelah mendengarkan “Taifun”, maka ada kesalahan esensial pada telinga dan jiwa kalian. Karena Barasuara akan memporak-porandakan jiwa kalian dan memberikan telinga kalian sesuatu yang baru untuk didengar, yang akan memberikan kita semua sebuah awal baru di bawah langit yang sama. Seperti taifun.

 

David Wahyu Hidayat

Tautan lainnya:

Artikel Rolling Stone Indonesia: Menyalakan Barasuara Perjalanan panjang band baru paling memukau di Indonesia saat ini http://bit.ly/1R0xl6t

Sounds From The Corner: Session #13 Barasuara:

 

 

 

22
Mei
13

Ulasan Konser: Blur – Lapangan D Senayan, 15 Mei 2013

BlurJKT

Blur

Lapangan D Senayan, Jakarta

15 Mei 2013

Setlist:

Girls & Boys, Popscene, There’s No Other Way, Badhead, Beetlebum, Out Of Time, Trimm Trabb, Caramel, Coffee & TV, Tender, Country House, Parklife, End Of A Century, Death Of A Party, This Is A Low

Encore:

Under The Westway, For Tomorrow, The Universal, Song 2

 

Ulasan:

Generasi 90 sudah menjadi mesin nostalgia, dijadikan bahan skripsi lalu dijual sebagai buku yang mengundang tawa nostalgik, bahkan sebuah stasiun radio mendedikasikan 1 hari dalam seminggu untuk memutar lagu-lagu khusus dari rentang masa tersebut. Mereka yang mengalami tahun-tahun tersebut di usia belasan atau awal 20annya sekarang sudah memiliki permasalahannya sendiri; KPR yang harus dibayar, tagihan bersalin istri masing-masing, atau tangga karir yang dengan ambisius didaki entah untuk tujuan apa, mungkin hanya ingin memenuhi rasa ego komunitas sosial yang tak kenal kata gagal. Sesaat, hanya sesaat, ingin rasanya kembali ke tahun-tahun itu lagi di mana persoalan satu-satunya adalah hanya dilema untuk memilih apakah harus memakai Docmart atau Adidas.

Selama hampir 2 jam lamanya, di bawah jembatan layang TVRI, di atas rumput lapangan D Senayan yang terbebas dari lumpur, pada hari Rabu 15 Mei 2013 kita semua dibawa kembali ke era keemasan tahun 90an atau singkatnya ke masa di mana kerajaan itu masih bernama Britpop dan Blur adalah rajanya.

Mau Adidas atau Docmart, jaket training ataupun kemeja/batik setelan kantoran, lokal atau ekspatriat, semuanya tumpah untuk satu hal dan satu hal semata, menyaksikan Damon Albarn, Graham Coxon, Alex James dan Dave Rowntree menegaskan sebersit kebahagiaan yang sebenarnya tidak pernah hilang di dalam hati ini. Dan mereka tidak main-main melakukannya. Tepat pukul 21:00 kita semua seperti kembali berada di tahun 95, tersenyum, menengadah ke udara, berlompatan seperti pasien rumah sakit jiwa yang baru kabur, diiringi synth yang mengawali “Girls & Boys”. Waktu tidak berlaku lagi sejak saat itu, 2013 bukanlah tempat di mana kita berada waktu itu, di lapangan D, kita kembali ke tahun 90an.

Dari lagu tersebut, mereka mundur sejenak di lini masa mereka dengan memainkan “Popscene” dan “There’s No Other Way”, dengan raungan gitar Coxon yang menjadikannya pahlawan gitar 90an. “Badhead” menyempurnakan suasana malam itu dengan alunan melodik sejuk. Selanjutnya, mereka dengan mengejutkan banyak orang dengan memainkan lagu-lagu dari album “13” dan “Blur” seperti “Trimm Trabb” dan “Caramel” maupun “Beetlebum” dan “Death Of Party” yang dimainkan di penghujung set utama. Ini adalah tesis antibritpop yang dipertunjukkan Blur secara brilian, dengan serum psikedelia dan nada-nada miring penuh eksperimental yang terkadang juga diinfus oleh ketukan dub.

Tapi bukanlah Blur jika mereka tidak menghibur massa di lapangan D. Dengan lagu-lagu yang mengukuhkan mereka sebagai pionir Britpop seperti “Country House”, “Parklife”, “Tender” dan “Coffee & TV” mereka membuat lapangan D menjadi pusat kebudayaan britpop nomor satu di dunia pada malam itu. Satu hal menarik, sepop apapun lagu-lagu tersebut, mereka terutama Coxon, selalu ingin memisahkan diri mereka dari kata britpop, misalnya dengan memasukkan lick seperti jet yang sedang menjatuhkan bomb di sela-sela “Coffee & TV” ketika ia dan Albarn bernyanyi bersahut-sahutan. Ia selalu mencari celah improvisasi dan walaupun malam itu ia sesekali terpeleset memainkan nada yang ia mainkan, namun itu adalah keindahan dirinya sebagai seorang gitaris jenius.

Usai memainkan set utama mereka yang ditutup dengan kemanisan melankoli “This Is A Low”, mereka memulai encore dengan “Under The Westway” yang dimainkan dengan sangat indah di bawah langit Jakarta. Kain layar besar yang menghiasi panggung mereka bergambarkan sebuah jembatan layang, yang seakan menyatu dengan jembatan layang TVRI yang berada tepat di belakang lapangan D. Dan kita pun yang berada di lapangan tersebut menyatu dalam kebahagiaan sangat.

“For Tomorrow” dimainkan setelahnya, yang lalu disambung dengan “The Universal”. Ini adalah puncak dari malam itu. Mereka yang sudah menunggu sekian lama untuk saat ini, seperti tidak percaya bahwa mereka akan mendengarkan lagu itu di Senayan. Tangan kita dilemparkan ke langit, penuh dengan rasa syukur, air mata menetes penuh dengan kebahagiaan tanpa tanding, majestik dan epik pada saat yang bersamaan.

Kebahagiaan malam itu ditutup dengan lagu yang paling dikenal orang dari Blur di luar Britania Raya, “Song 2”. Sekali lagi, manusia beterbangan di lapangan D, sekali lagi teriakan khas itu diteriakkan oleh ribuan orang, sekali lagi kita mencapai ekstase. Blur memberikan sesuatu yang sangat istimewa malam itu, dan itu bukanlah faktor nostalgia belaka akan tahun 90an. Musik mereka menyentuh dan menggugah kita semua malam itu, dan kita merasakan kebahagiaan universal di bawah jembatan layang itu, di atas lapangan D Senayan, Jakarta.

David Wahyu Hidayat




Agustus 2017
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 140,775 hits