01
Mei
16

Ulasan Konser – Tame Impala, Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016

Tame Impala

Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016

 

Band Pembuka: Barasuara

 

Setlist:

Intro, Let It Happen, Mind Mischief, Why Won’t They Talk To Me, It Is Not Meant To Be, The Moment, Elephant, Yes I’m Changing, The Less I Know The Better, Eventually, Alter Ego, Oscilly, Why Won’t You Make Up Your Mind, Apocalypse Dreams. Encore: Feels Like We Only Go Backwards, New Person Same Old Mistakes

 

Tame Impala - Jakarta 2016

 

Jakarta. Jumat malam di akhir bulan April. Hujan mengguyur sebagian ibukota menjelang jam usai bekerja. Seakan tidak rela membiarkan warganya bersenang-senang, lalu-lintas mengunci, menhancurkan harapan akan kejayaan Jumat malam. Namun segelintir manusia dengan persistensi tahap pecandu, nekat menembus semuanya itu menuju Senayan. Sebagian dari mereka adalah pemburu tiket murah pameran perjalanan sebuah maskapai, sebagian lainnya adalah pemadat musik yang mengharapkan ekstasenya pada sebuah band bernama Tame Impala.

Di atas sebuah area yang sehari-harinya merupakan lahan parkir beraspal, perjalanan menggapai ekstase itu dimulai. Sekitar setengah delapan malam, dalam nuansa merah, band terbaik nusantara saat ini, Barasuara menguasai panggung yang dibangun di atas lapangan parkir itu. Dengan memainkan lagu-lagu seperti Menunggang Badai, Api dan Lentera serta dituntaskan dengan Bahas Bahasa, mereka tidak hanya sekedar memanaskan suasana tapi memainkan musik laksana timnas PSSI sedang bermain di final piala dunia: enerjik, mempesona dan majestik. Barasuara memang sudah ditakdirkan untuk bermain di arena konser megah dan besar, bahkan Kevin Parker kemudian mengatakan dengan jujur bahwa sebuah pekerjaan yang sulit memainkan konsernya setelah band hebat seperti Barasuara.

Usai Barasuara, para penonton dibiarkan menunggu agak lama, sampai akhirnya menjelang pukul sembilan sang jenius Kevin Parker bersama Tame Impala menyapa langit Senayan yang sudah hampir memuncak kegelisahannya menunggu agar dahaga mereka dipuaskan. Dari sejak Intro kita semua tahu bahwa ini akan menjadi malam luar biasa, dan sejak Let It Happen dimainkan, semua yang ada di parkir selatan Senayan tahu bahwa mereka telah memenangkan peperangan terhadap jahanamnya kekacauan ibukota di hari Jumat. Tempat parkir itu berubah menjadi sebuah perayaan akan sebuah kehidupan yang memang patut dirayakan, jiwa seakan melayang meninggalkan tubuh yang penat. Di atas panggung, Tame Impala membius dengan musik mereka dan visualisasi yang membuat mimpi psikedelia kita menjadi nyata.

Masih dihujani konfeti yang disebarkan menjelang akhir Let It Happen, kita pun dihajar dengan Mind Mischief. Entah apa yang lebih memabukkan kita saat itu, musik Tame Impala dengan tata suara yang nyaris sempurna atau tayangan visual di panggung yang menari-nari indah menggoda khayalan kita. Pada pertengahan set ketika Elephant dihantarkan, euforia itu sudah tidak terbendung, dahaga selama 5 tahun akan tampilnya kembali Tame Impala di atas panggung Jakarta terbayar sudah, dan kita ikut berpesta bersama mereka yang memainkan musik di atas panggung.

Elephant disusul dengan Yes, I’m Changing, dan visualisasi di panggung untuk kali ini berubah dari psikedelia menjadi pemandangan menyejukkan seorang gadis mengenakan gaun musim panas mengendarai sepeda menelusuri pedesaan. Sejuk, menyaksikan lagu itu dibawakan di dalam area konser terbuka yang sudah seperti area sauna massal sejak lagu pertama. Namun, kita tidak dibiarkan terlena berlama-lama, karena kemudian Tame Impala membawakan The Less I Know The Better. Di sinilah momen itu datang, momen ketika aspal Senayan berubah menjadi lantai dansa dan langitnya menjadi luminasi psikedelia yang paling menghipnotis.

Why Won’t You Make Up Your Mind dan Apocalypse Dreams menutup mimpi kita di set utama Tame Impala malam itu. Tak lama berselang, mereka kembali ke panggung dan mengatakan bahwa ini adalah rangkaian konser terakhir mereka di Asia dan berterima kasih untuk publik Jakarta, sambil mengajak kita semua berpesta untuk terakhir kalinya. Feels Like We Only Go Backwards pun dikumandangkan di Senayan menjadi sebuah himne, balutan konfeti kembali beterbangan bagaikan kunang-kunang mimpi kita, seperti sebersit cahaya pencerahan yang kali ini datang dalam musik Tame Impala dan kita pun berdansa menyerahkan diri dalam balutan musik tersebut.

Malam itu pun berakhir dengan New Person, Same Old Mistakes, dan para pecandu musik yang sorenya berjuang melawan kekacauan Jakarta telah berada di puncak ekstasenya. Mereka tahu, malam itu adalah sebuah perjalanan istimewa yang tidak dapat didefinisikan secara jelas. Yang jelas musik mendapatkan kemenangannya, seperti yang selalu terjadi. Sebut ini sebuah pengalaman psikedelia, sebut ini sebuah pengalaman pop berbalutkan disko, semua itu tidak berarti. Yang berarti adalah Tame Impala telah datang dan memainkan konser mereka pada 29 April 2016 di bawah langit Senayan, dan kamu berada di sana untuk menyaksikan keajaiban itu.

David Wahyu Hidayat

 

 

30
Des
15

Favorit2015

Favorit2015

 

 

playlist:

https://8tracks.com/supersonicsounds/favorite-tracks-2015

 

 

2015 adalah tahun penuh gairah secara musikalis, terutama dalam skena musik lokal. Kita mengalami hadirnya band-band baru penuh geliat dalam wujud Barasuara, Kelompok Penerbang Roket dan Stars And Rabbit. Lalu jawara-jawara indie negeri ini seperti tidak mau kalah dengan penerus tongkat estafetnya. Mereka pun mengeluarkan album solid penuh kejutan seperti yang dapat terdengar dalam karya terbaru Rumahsakit, Sore dan album majestik yang dirilis Efek Rumah Kaca di akhir tahun.

 

Di luar batas perairan Nusantara, dedengkot Britpop Blur dan Noel Gallagher juga ikut mengeluarkan album terbaru mereka yang penuh daya tarik unik. Sedangkan Chris Martin, setelah berhasil mengatasi rumah tangganya yang karam, bersama Coldplay merilis album baru penuh warna-warni kehidupan seperti yang kita kenal dari mereka sebelumnya. Puncak semuanya itu adalah si jenius Kevin Parker, yang dengan album terbaru Tame Impala, Currents mengeluarkan sebuah album penuh kesempurnaan.

 

Sudah sejak lama saya tidak mendengarkan musik segempar tahun ini, dan di bawah ini adalah lagu dan album favorit saya. Seperti halnya terhadap kehidupan, kita pun patut bersyukur atas segala musik yang telah menemani kita dan hal lainnya yang telah terjadi tahun ini. Saatnya merayakan kehidupan, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

 

Lagu:

 

Take You Down – Daniel Pemberton, OST The Man From U.N.C.L.E

Tom Meighan dan Sergio Pizzorno dari Kasabian akan iri mendengarkan lagu ini, karena ia memiliki semua tandatangan antem stadion yang biasanya dimiliki oleh lagu-lagu Kasabian. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Daniel Pemberton ketika mengaransir OST untuk film ini, tetapi melalui lagu ini ia telah memberikan atmosfir sempurna kepada sebuah film espionase yang paling menghibur tahun ini.

 

Djakarta City Sound – Kelompok Penerbang Roket

Dalam mimpi basah musikalis kita yang paling vulgar, Jakarta masih ditulis dengan menggunakan huruf besar “D” di depannya. Ia bukanlah ibukota yang penuh kemacetan dan pelan-pelan membunuh warganya, tetapi sebuah nirvana yang seksi, di mana rock ‘n’ roll adalah agamanya dan Kelompok Penerbang Roket adalah dewa mereka.

 

I Tried and I’m Tried – The Young Liars

Muda dan berbahaya adalah sebuah kategori yang dapat disematkan kepada The Young Liars. Musik mereka langsung menampar telinga tanpa basa-basi, menggairahkan sekaligus menaikkan adrenalin di badan kita yang lelah penat ini. Jika ini bisa dipertahankan, mereka adalah masa depan.

 

Pasar Bisa Diciptakan – Efek Rumah Kaca

Setelah 7 tahun kita menunggu, akhirnya Efek Rumah Kaca datang kembali. Lagu ini dirilis oleh Efek Rumah Kaca sebagai pengantar mahakarya terbaru mereka Sinestesia. Gitar yang meraung tanpa henti itu, melakukan penetrasi tanpa lelah kepada kalbu pendengaran kita, sambil mendengarkan mantra teranyar dari Efek Rumah Kaca, bahwa pasar bisa diciptakan. Ini adalah sebuah perayaan!

 

Gesneriana – Sore

Dalam sebuah paralel universum yang tak pernah tercipta, The Smiths membagi ruang latihannya bersama Sore. Mereka berbicara tentang urbanisme kota industri di sela-sela latihan mereka, nge-jam tanpa henti sampai tidak pernah melihat sang surya terbit dan terbenam. Pada sesi-sesi itulah lahir sebuah lagu yang mendefinisikan Manchester sekaligus Jakarta, lagu itu berjudul Gesneriana.

T-Shirt Weather – Circa Waves

Lagu ini adalah suara musim panas yang riang, penuh asa tanpa adanya sedikit pun titik-titik kelabu yang akan mengecilkan optimisme kita. Sangat menyenangkan menemukan band seperti Circa Waves di tahun 2015 ini, di mana banyak band berlomba untuk mensample berbagai macam beat secara elektronik, mereka mengingatkan kita akan masa muda di mana keriangan itu ditemukan dalam melodi gitar.

The Less I Know The Better – Tame Impala

Jika semua orang mengalahkan patah hatinya dengan membuat lagu seperti ini, maka dunia ini akan menjadi lebih baik. Lagu ini adalah sentral dalam album luar biasa Tame Impala, Currents. Beat-nya adalah sebuah candu yang tidak ingin kita habiskan, setiap fase di lagu ini menghipnotis kita, membawa kita ke sebuah musim panas abadi, di mana yang kita rasakan hanyalah getaran kebahagiaan tanpa batas.

 

Adventure Of A Lifetime – Coldplay

Sejujurnya, saya membenci lagu ini dengan sangat ketika dirilis untuk mempromosikan album terbaru Coldplay, A Head Full Of Dreams. Ia terlalu pop dan berada di arus musik utama untuk dirilis oleh band seperti Coldplay. Pandangan itu berubah 180 derajat ketika albumnya sendiri dirilis. Semua dentuman bas dan petikan gitar tanpa henti itu tiba-tiba menjadi masuk akal adalam konteks sebuah album. Ini adalah perayaan kehidupan ala Coldplay, Viva La Vida!

 

The Right Stuff – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Dari 10 lagu yang ada di album Chasing Yesterday, lagu ini adalah lagu yang paling menarik. Bukan hanya ia diproduseri oleh Amourphous Androgynous, tetapi karena ini adalah bukti bahwa Noel Gallagher dapat menciptakan lagu di luar pagar Britpop dan skala pentatonik yang selama ini menjadi ciri khasnya. Dengan latar belakang vokal wanita yang lebih dominan dari suaranya sendiri, dan hembusan psikdelik dari musik yang mengiringinya ini adalah Noel Gallagher terbaik paska Oasis. Space Jazz, hadirin sekalian?

 

 

Thought I Was A Spaceman – Blur

Blur mungkin boleh mendapatkan inspirasinya dari malam-malam yang mereka lewati di Asia Timur, tetapi lagu ini berhasil menciptakan keintiman yang dalam. Suara vokal Damon Albarn memenuhi alam pikiran kita seperti anestesi membius seorang pasien bedah. Alunan melodi etnis dengan gaung yang memenuhi ruangan itu, untuk sesaat, sesuai dengan judulnya membuat percaya bahwa kita adalah astronaut yang sedang melayang tanpa tujuan di ruang angkasa.

 

The House – Stars And Rabbit

Saya jatuh cinta pada Stars And Rabbit, ketika menyaksikan mereka tampil membawakan lagu ini di sebuah stasiun televisi swasta pada suatu minggu siang. Saya takjub akan kesederhanaan mereka membawakan lagu ini. Kagum karena lagu tersebut berhasil mempesona saya, dengan petikan gitar yang renyah dan perselingkuhannya dengan suara vokal yang akan membuat Bjork bangga.

 

Apa Yang Tak Bisa – Rumahsakit

Sebenarnya banyak melodi menakjubkan yang menyenangkan hati terdapat di Timeless, album yang menandakan kembalinya Rumahsakit dari mati suri mereka. Tapi lagu ini yang paling berkesan buat saya. Nyaris seperti pesan religius, lagu ini dengan manis mengingatkan kita bahwa tidak segala sesuatu dapat diraih dan dimiliki, yang kita perlukan hanyalah menyerahkan segalanya kepada yang mahakuasa dan membiarkan hidup ini mengalir sambil tidak lupa untuk bersyukur.

 

The Rest Is Noise – Jamie xx

Ada sebuah perasaan metropolis etereal yang menghantui indra kita ketika mendengarkan lagu ini. Perasaan cinta sekaligus gamang akan kota yang kita tinggali. Ketika pekatnya malam terlalu indah untuk dilalui hanya dengan terlelap, sedangkan mentari pagi terlampau nyaman untuk membangunkan kita dari mimpi.

 

Lonely Hunter – Foals

Sesuatu di alam bawah sadar kita akan terusik mendengarkan lagu ini. Entah itu perasaan ingin memiliki seseorang yang sudah hilang dari kehidupan kita, atau dengan sangat parahnya ingin memperbaiki sesuatu terhadap orang yang kita cintai. Melodinya terlalu dahsyat untuk bisa dipungkiri dan ketika kita mendegarkan “Love is a gun in your hand” dinyatakan Yannis di lagu ini, jauh di dalam sana, kita mengerti apa yang dimaksud olehnya.

 

Api dan Lentera – Barasuara

Tidak ada yang lebih eksplosif di tahun ini selain “Api dan Lentera” dari Barasuara. Jika mereka sendiri memproklamirkan bahwa musik Barasuara dibuat untuk meledak, maka lagu ini adalah perwujudannya yang paling sempurna. Setiap bagian lagunya dirancang seperti bom, apakah itu teriakan “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu” atau hookhook maut dari riff gitar yang saling berduel di lagu ini, semuanya itu mengarah ke satu tujuan utama: Membuat indie anthem terbesar yang pernah didengarkan negeri ini.

 

Album:

 

Chasing Yesterday – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Dari seluruh karya yang pernah dihasilkan oleh Noel Gallagher, Chasing Yesterday adalah yang paling unik. Ia bukan hanya asal mengatakan bahwa album ini akan seperti Space Jazz, dengarkan Riverman maka kita akan tersenyum ketika mendengar Saxophone di sana. Mendengarkan The Right Stuff, maka lagu tersebut akan menjustifikasi bahwa jargon yang ia sebutkan itu bukan basa-basi. Dan jika kita kangen dengan Oasis, album ini memberikan Lock All The Doors. Dalam In The Heat Of The Moment dan Ballad Of The Mighty I, kita menemukan revolusi seorang Noel Gallagher dalam peforma terbaiknya. The Chief telah kembali, dan ia kembali dengan dahsyat.

 

Currents – Tame Impala

Tidak ada album yang membuat saya tersenyum lebih bahagia di tahun ini daripada Currents dari Tame Impala. Beruntung Kevin Parker meninggalkan aura psikedelik pada 2 album sebelumnya dan menemukan kecintaannya pada pop. Mendengarkan Currents seperti menemukan mata air pop tanpa batas, lagu-lagu di dalamnya seperti perpaduan antara MGMT, Daft Punk, dan…Tame Impala sendiri. Album ini akan membuat hari-hari kita sepanjang tahun menjadi sebuah musim panas, di mana yang ada hanya kebahagiaan dan sinar matahari.

 

In Colour – Jamie xx

Salah satu album paling menghantui saya dalam relevansi yang baik adalah In Colour dari Jamie xx. Seperti yang sudah ia lakukan dengan The xx, album ini berhasil membuat saya dalam suasana etereal tanpa batas, menikmati malam-malam di ibukota yang takkan pernah henti. Saat dikepung oleh batas waktu pekerjaan dan kacaunya kota ini, album ini seperti sebuah anestesia yang menenangkan.

 

Los Skut Leboys – Sore

Sampai tahun ini, sejujurnya saya tidak pernah menaruh perhatian khusus kepada Sore. Lalu di sebuah malam, perjalanan saya di Youtube terhenti pada lagu 8 dan R14, dan perasaan gembira saya terkait oleh melodi-melodi yang ada di situ. Ada perasaan nostalgik yang tidak dapat dijelaskan, dan juga rasa girang yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kemudian saya membeli albumnya, mendengarkan seluruh lagunya, terutama Gesneriana yang sukses membawa saya ke langit ketujuh pop Indonesia.

 

Sinestesia – Efek Rumah Kaca

Sebenarnya sejak Pasar Bisa Diciptakan dapat diunduh gratis kita tahu bahwa Efek Rumah Kaca akan merilis album baru mereka. Kita gusar, karena lagu yang menjadi prolog itu menjanjikan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Lalu Desember tiba dan harapan itu hampir pupus, karena tidak ada tanda-tanda album tersebut akan dirilis. Kemudian tanpa pemberitaan bombastis, Sinestesia dapat dibeli di iTunes. Secepat kilat album tersebut dibayar dan disedot secara digital. Secepat kilat juga di tengah malam pertengahan Desember, album itu dimainkan pada pemutar musik digital saya. Ketika lantunan “Aaaaaaa…” mengawali Merah, saya sadar sesuatu yang majestik telah terjadi. Sisanya adalah kekaguman tanpa batas kepada sebuah album yang dirilis 7 tahun setelah Kamar Gelap. Salut saya sampaikan kepada Efek Rumah Kaca.

 

Taifun – Barasuara

Barasuara punya satu tujuan ketika merilis Taifun. Mereka ingin musik mereka meledak di negeri ini. Target itu bukan hanya berhasil dicapai, tetapi mereka melakukannya dengan dengan karakter dan kelas yang sulit untuk bisa disamai band-band lain. Walaupun musik mereka penuh dengan konsep, tetapi ia berbicara dengan langsung dan memberikan ekstase kepada kita semua. Mulai dari Nyala Suara, Bahas Bahasa, Api dan Lentera, semua lagu itu memberikan kita sebuah antem yang baru. Mungkin bukan kebetulan mereka menamakan debut album ini Taifun, karena Barasuara telah menerjang kita semua dan membuat kita takluk tanpa syarat dalam terpaan musiknya.

 

 

Teriakan Bocah/Haai – Kelompok Penerbang Roket

Kelompok Penerbang Roket telah membuat sebuah pernyataan bombastis tahun ini dengan merilis 2 mini album sekaligus. Yang pertama, Teriakan Bocah adalah rock ‘n’ roll liar yang dipacu secepat 200 km/jam di jalan protokol ibukota. Yang kedua, adalah sebuah karya paling psikedelik yang pernah didengar tanah air terhadap lagu-lagu Panbers. Mungkin mereka berpikir hidup terlalu singkat untuk diam dan tidak berarti apa-apa. Yang jelas mereka tidak perlu takut lagi terhadap kematian tanpa nama, karena 2 album tersebut akan terus mengingatkan kita untuk hidup liar, penuh risiko mengatasnamakan rock ‘n’ roll.

 

The Magic Whip – Blur

Kabar kembalinya Blur patut dirayakan seperti kita merayakan sekuel sebuah film blockbuster yang mendefinisikan masa kecil kita. Memang, seperti kita, mereka pun sudah memasuki usia paruh baya, tidak ada lagi Girls & Boys atau Song 2, tetapi lagu seperti Thought I Was A Spaceman, Lonesome Street, maupun Go Out adalah lagu tipikal Blur yang selalu dekat dengan hati kita. Album ini seperti kembalinya paman yang kita kagumi waktu kecil, ia datang bukan dengan nostalgia cerita masa lalu, tetapi tentang pengalaman-pengalaman baru yang tidak harus selalu eksplosif tetapi selalu menarik untuk disimak.

 

Timeless – Rumahsakit

Pahlawan indie Jakarta, Rumahsakit telah kembali tahun ini dengan merilis album Timeless. Dengan berbekal vokalis dan komposisi musik baru, mereka tetap menghembuskan optimisme tahun 90-an yang tidak pernah padam. Dari bunyi drum yang mengawali Tak Ada Yang Selamanya sampai nada terakhir Shout Now, semuanya menunjukkan kedewasaan Rumahsakit dalam bermusik, dan seperti judul albumnya sendiri semoga mereka akan selalu abadi.

 

What Went Down – Foals

Memasuki albumnya yang keempat, Foals semakin solid dan eksplosif dalam musik mereka. Diawali dengan titel track yang menampilkan nada-nada penuh urgensi dan determinasi, mereka menebarkan serangan – serangan berbahaya sejak awal. Lalu ada Mountain At My Gates dan Albatross yang mengalir seru merasuki pembuluh darah kita. Pamungkasnya ada dalam Lonely Hunter yang menggulung dahsyat seperti gelombang tanpa henti. What Went Down adalah Foals dalam semua kemegahan yang mereka miliki.

 

David Wahyu Hidayat

17
Okt
15

Ulasan Album: Barasuara – Taifun

BArasuara Taifun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Barasuara

Taifun

Juni Suara Kreasi – 2015

 

Tersedia di iTunes: http://smarturl.it/BarasuaraTaifun

Sebelum kalian semua membaca lebih lanjut tulisan ini, beli dan unduh album ini dari tautan di atas, nyalakan di pemutar musik kalian, kencangkan suaranya ke level yang paling tinggi dan biarkan kalian terhanyut dengan semua keajaiban yang ada dari kesembilan lagu tersebut, karena sejujurnya kata-kata saya tidak akan cukup untuk menggambarkannya. Sesungguhnya Barasuara dengan “Taifun” telah menghadirkan sebuah kemagisan yang pada ranah album musik Indonesia terakhir saya dengar dari Efek Rumah Kaca.

Menggebrak sejak awal dengan “Nyala Suara”, album ini adalah testimoni dari kecerdasan Iga Massardi (vokal & gitar), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bas), Marco Steffiano (drum), Asteriska Widiantini (vokal), dan Puti Chitara (vokal); dalam mengemas aransemen musik dan alunan lirik Barasuara. Di saat kita merasa lagu ini sudah mencapai klimaksnya, mereka membelokkannya ke arah lain atau meningkatkan tahap kecanduan kita akan musik mereka seperti terjadi dalam duel gitar Iga dan TJ di menit 3:42 lagu ini. Jika kalian menganggap musik adalah candu maka lagu ini adalah candu pamungkas.

Satu hal yang dapat dikenali dari musik Barasuara adalah ia dipenuhi dengan permainan perkusi yang menarik dan mengajak kita semua ingin menari, seperti yang didengar pada awal “Sendu Melagu” ataupun “Bahas Bahasa”. Begitu juga dengan harmonisasi vokal yang dilakukan oleh Puti dan Asteriska, membuat band ini lebih dari hanya sekedar band rock 5 orang biasa.

Mendengarkan “Hagia” seperti menemukan sepupu jauh dari lagu “Jalang”-nya ERK yang telah lama menghilang. Lagu ini menyuarakan bahwa apapun perbedaan kita, semuanya itu bukan merupakan batasan ataupun halangan bagi kita untuk melebur, karena seperti yang mereka suarakan “Seperti kami pun mengampuni, yang bersalah kepada kami”. Ini adalah bayangan sangat indah tentang kehidupan, menggugah.

Adapun episentrum album ini bagi saya ada pada “Api dan Lentera”. Lagu ini menaikkan klimaks yang telah ada di lagu-lagu sebelumnya sebanyak tujuh tingkat. Layaknya seperti taifun, ia datang kembali, menghujam dengan drum, menggulung dengan detak bas, menusuk tajam dengan serangan gitar dari kanan dan kiri, mengajak kita semua menari dengan teriakan “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu” sampai akhirnya dengan penuh kedamaian kita semua terlena karena “Kita kan pulang, dengan waktu yang terbuang, dan kenangan yang berjalan bersama”.

Setiap lagu yang ada di “Taifun” seperti sebuah soundtrack entah itu pada fase pencarian jati diri, berusaha bangkit lagi dari kegagalan, atau meninggalkan masa lalu yang kelam. Dengarkan saja “Menunggang Badai”, “Tarintih” dan “Mengunci Ingatan” maka layar film kehidupan di otak kita masing-masing akan memiliki soundtrack terbarunya diiringi lagu-lagu Barasuara.

Album ini ditutup dengan indahnya oleh lagu yang diambil dari judul albumnya “Taifun”. Petikan gitar yang nyaman akan mempesona kita, sambil meresapi kata-kata yang melantun di dalamnya “Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu, kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu”.

Jika kalian tidak terhempas dari tempat kalian berpijak atau dari sofa tempat kalian duduk dengan nyaman setelah mendengarkan “Taifun”, maka ada kesalahan esensial pada telinga dan jiwa kalian. Karena Barasuara akan memporak-porandakan jiwa kalian dan memberikan telinga kalian sesuatu yang baru untuk didengar, yang akan memberikan kita semua sebuah awal baru di bawah langit yang sama. Seperti taifun.

 

David Wahyu Hidayat

Tautan lainnya:

Artikel Rolling Stone Indonesia: Menyalakan Barasuara Perjalanan panjang band baru paling memukau di Indonesia saat ini http://bit.ly/1R0xl6t

Sounds From The Corner: Session #13 Barasuara:

 

 

 

09
Agu
15

Menjadi Indonesia – Rilisan Musik Lokal Favorit Saya, edisi 2015

Rilisan musik lokal favorit 2015

Menjadi Indonesia – Rilisan musik lokal favorit saya edisi 2015

Sudah lewat beberapa tahun, untuk alasan tertentu (apakah itu kemalasan saya sendiri atau memang tidak ada rilisan yang menarik perhatian) saya tidak menemukan musik menarik yang dihasilkan negeri ini. Namun, semuanya berubah tahun 2014 silam. Semenjak akhir tahun lalu saya menemukan musik Indonesia, khususnya band-band indie baru atau reinkarnasi seperti halnya Rumahsakit, menggeliat kembali dalam sosok yang sangat menggairahkan.

Dibantu dengan era distribusi digital yang tidak lagi membatasi kelokalan sebuah rilisan, beberapa band menggebrak melalui dinamika suara dalam musik yang mereka bawakan. Album-album hebat dirilis yang tidak kalah kualitasnya dengan musik dari luar tanah air. Bahkan untuk pertamakalinya sejak entah berapa lama, tahun ini saya lebih banyak membeli musik rilisan band lokal daripada luar negeri.

Rilisan tersebut, meminjam judul single terbaru Efek Rumah Kaca, mengembalikan mosi bahwa pasar benar-benar bisa diciptakan. Kita akan mencintai musik tersebut karena yang kita dengar adalah penyegaran, pencerahan sekaligus ekstase. Album-album yang dirilis pada 2014-2015 di bawah ini (meminjam kembali kata-kata Efek Rumah Kaca) membuktikan memang masih banyak cara menjadi besar, dan musik adalah salah satu caranya. Rilisan musik di bawah ini adalah sebuah upaya mengembalikan jati diri dalam sebuah bangsa dan negara yang sangat membanggakan, yang melebur keragaman menjadi sesuatu yang majestik. Menjadi Indonesia. Dirgahayu.

FSTVLST – Hits Kitsch

Sudah lama saya tidak mendengar album seperti yang diusung band asal Yogyakarta ini. Menamakan konsep mereka almost rock, barely art, FSTVLST memberikan kebahagiaan dengan nuansa folk pada “Menantang Rasi Bintang”, menyuarakan kegelisahan negeri pada lagu pembuka “Orang-Orang Di Kerumunan” atau menebarkan kengerian pudarnya jati diri yang ditelan era yang dihidupinya dalam “Hal-hal Ini Terjadi”. Dan ketika mereka menutup album tersebut dengan sebuah riff gitar The Smiths/Morrissey-eske dalam “Ayun Buai Zaman”, tidak ada kata lain lagi yang patut disematkan pada album ini selain: BRILIAN!

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Ayun Buai Zaman

 

Elephant Kind – Scenarios, a short film by Elephant Kind

EP dari Elephant Kind ini adalah sesuatu yang unik. Sulit memetakan genre musik apakah ini, tetapi yang pasti mereka sangat senang bermain dan bereksperimen dengan komposisi musik di EP tersebut. Mendengarnya berulang-ulang seperti mendengarkan band yang berisikan anggota The Temper Trap dan Vampire Weekend. Ketukan dan bunyi-bunyian etnis yang keluar dari lagu-lagunya terdengar tidak logis tetapi menyenangkan. Sebuah EP yang akan mencerahkan hari-harimu sambil menerawang cerahnya langit ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Scenario III

The Marsh Kids – The Many failings of Bugsy Moonblood

Album ini akan membius dan membawa kalian ke alam mimpi sebelum kalian menyadarinya. Seperti anestesi yang pelan tapi pasti menumbangkan kesadaran, kita tidak akan pernah ingat 13 judul lagu yang ada di album ini, tetapi yang terjadi setelahnya adalah kita akan menyenadungkan nada-nada lagu di album sesaat setelah kita terjaga dari tidur tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika tidak percaya dengarkan saja lagu seperti: “Molly May”, “Fugly Holiday” dan yang paling berbahaya di antara semuanya: “Bentang Bintang”. Bugsy Moonblood akan menjadi mimpi indah kita, menjadi sebuah pelarian dari kenyataan yang terlalu manis.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Bentang Bintang

 

Rumahsakit – +imeless

Ketika tahu Rumahsakit akan mengeluarkan album baru, saya dan seorang kawan penasaran setengah mati akan seperti apa album baru Rumahsakit setelah ditinggalkan sang vokalis Andri Lemes. Setelah mendapatkan CD-nya, dengan sedikit berdebar saya menekan tombol play, dan kekuatiran saya langsung sirna mendengar ketukan pertama di album ini. +imeless adalah sebuah album yang sangat matang, penuh suasana optimisme yang hanya kita kenal dari tahun 90-an. Vokalis boleh saja baru, komposisi lagu boleh berbeda, tetapi Rumahsakit akan tetap selalu abadi.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Apa yang tak bisa

 

The Young Liars – Rue Massena

The Young Liars adalah sebuah gairah muda yang tidak dapat dikontrol adrenalinnya. Sejak dari detik pertama “I Tried and I’m Tried” mereka memberikan sebuah pernyataan di album mereka bahwa hal yang selalu mereka cita-citakan adalah Rock ‘n’ Roll. Letupan demi letupan mereka lontarkan dengan lagu-lagu seperti “One Eyed Jones” dan “Two Wild Ones”. Tetapi mereka juga punya sisi gelap sentimentil seperti yang dilantunkan dalam penutup “Rue Massena”. Jika mereka dapat mempertahankan dan terus menghasilkan karya seperti debut album ini, maka masa depan musik rock Indonesia ada di tangan yang baik.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: I Tried and I’m Tried

Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah/HAAI

Teriakan Bocah adalah sebuah ledakan berdurasi 23 menit dan HAAI adalah tribut untuk Panbers paling psikedelik yang pernah didengar telinga Nusantara. Kesamaan dari dua album tersebut, keduanya dihasilkan dari band paling berbahaya di tanah air saat ini bernama Kelompok Penerbang Roket. Jika ingin mendengar seperti apa suara musik rock Jakarta tahun 2015 dengarkan dan HANYA dengarkan Kelompok Penerbang Roket, suara-suara lainnya tidak relevan untuk saat ini. Kelompok Penerbang Rocket telah menyelamatkan mereka yang masih percaya pada rock ‘n’ roll. Misi itu telah diselesaikan.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Cekipe dari Teriakan Bocah dan Djakarta City Sound dari HAAI

Stars & Rabbit – Constellation

Salahkan televisi masa kini yang mengusik kopi minggu pagi saya ketika menampilkan sebuah duo dengan suara vokalis seperti Bjork yang berselingkuh dengan gitar akustik. Ketika vokal itu berpadu dengan ritem gitar yang renyah, hari Minggu itu terasa lebih damai dari biasanya, hari minggu itu menetramkan hati, menyejukkan jiwa. Bagaimana kemudian setelah saya gali informasinya bahwa duo yang bernama Stars & Rabbit itu pernah melakukan tur promosi album sampai ke negeri Tiongkok dan albumnya di-mastering oleh seorang John Davis yang terlibat dalam proses remaster dari album-album Led Zeppelin dan proyek rekaman band/artis seperti Primal Scream, Prodigy, Lana Del Rey dan Beady Eye; menimbulkan misteri tambahan dan rasa ingin tahu terhadap duo asal Yogyakarta ini. Selanjutnya ketika “Constellation” debut album mereka telah dimiliki, lagu-lagu yang di dalamnya tidak hanya menyejukkan sebuah minggu pagi tetapi juga melepas beban kepenatan hari-hari melelahkan di ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: The House

Polka Wars – Axis Mundi

Fakta bahwa Polka Wars merekam beberapa materi debut album mereka di New York memberikan beban tambahan yang tidak langsung mengatakan bahwa album ini harus istimewa. Kenyataannya Axis Mundi adalah album atmosferik yang pandai memainkan emosi pendengarnya. Mereka bereksperimen tidak hanya dari penulisan lagu tetapi juga dari sisi instrumen, dengarkan saja misalnya saxophone di akhir dari “Mokele” yang menambahkan kesan kelam tapi berkelas atau bunyi-bunyian alat tiup lainnya di “Coraline” yang menimbulkan kesan misterius pada lagu tersebut. Dengan Axis Mundi, Polka Wars telah meninggalkan jejak musikalis mereka, perlu dicermati ke mana lagi mereka akan melangkah setelah ini.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Mokele

David Wahyu Hidayat

19
Apr
15

SupersonicSounds’ MixTape Series: The Songs That Saved Our Lives

https://8tracks.com/supersonicsounds/songs-that-saved-our-lives

Supersonic Sounds’ MixTape Series: Songs That Saved Our Lives

Selain kepercayaan yang kita anut masing-masing, kita semua diselamatkan dari kepenatan kehidupan ini dengan cara-cara lain yang unik. Bagi saya hal itu adalah musik. Ketika merasa bahwa tidak ada lagi yang akan berfungsi di kehidupan ini, atau saat kita merasa paling bahagia, musik selalu ada di sana untuk mengiringi kita.

Berbagai cara dilakukan manusia untuk menikmati musik. Beberapa orang cukup dengan koleksi digital bagaimanapun cara mereka memperolehnya. Sebagian orang lagi mengoleksi rilisan fisik tanpa mempedulikan biayanya. Sebagian besar dari kita mengikuti band favorit kita dan menyaksikannya jika waktu dan tempat mengijinkan.

Dalam langkah kehidupan saya, saya cukup beruntung dapat menyaksikan pahlawan-pahlawan musikalis saya. Ketika menyaksikan band-band tersebut seringkali saya terkesima, seringkali saya kagum, tetapi setiap saat saya bersyukur. Bersyukur karena mereka boleh hadir dalam kehidupan kita, dan saya boleh diberikan kesempatan sang empunya langit untuk menikmati mereka secara langsung.

Tulisan ini, sekedar membagi pengalaman saya tersebut. Mixtape yang mengiringi tulisan ini diharapkan mampu menjustifikasi bayangan latar belakang di kepala kalian ketika membacanya. Mixtape ini diambil dari beberap bootleg band-band tersebut. Lokasi di mana bootleg tersebut direkam, ada di keterangan dalam tanda kurung setelah judul lagu, di bawahnya adalah keterangan di mana saya boleh menyaksikan mereka. Di beberapa kesempatan saya cukup beruntung, karena konser yang saya lihat juga terdapat bootlegnya dari konser yang sama (Pearl Jam, Kasabian, Kings of Convenience). Jika kualitas bootlegnya beragam, karena tidak semua didapatkan dalam kualitas soundboard tetapi mudah-mudahan itu semua tidak terlalu mengganggu.

Selamat mendengarkan dan membaca, tidak lupa saya ucapkan Happy Record Store Day!

1. Phoenix – Funky Squaredance (Live at Rockefeller, Oslo 2004)

Disaksikan di: Cologne Tanzbrunnen 2004 – 2 kesempatan, Bengkel Jakarta 2009

Saya mau membuat pengakuan. Jika pacar saya waktu itu tidak memaksa saya untuk menemaninya nonton Dido, mungkin saya tidak akan pernah menonton Phoenix. Karena entah untuk alasan aneh yang tidak bisa dimengerti, band asal Perancis tersebut didaulat menjadi band pembuka perempuan manis asal London tersebut. Menyaksikan Phoenix adalah sebuah pencerahan, mereka adalah band yang sangat kompak dan solid, sepertinya komunikasi antara anggota band tersebut terjadi melalui instrumennya dan tanpa kata-kata. Terlebih Thomas Mars adalah seorang vokalis yang bukan hanya memukau kaum hawa tetapi juga membuat kagum pria-pria yang menyaksikannya. Setelah konser tersebut untungnya saya masih dua kali lagi berkesempatan berdansa bersama Phoenix: sekali di Koeln di tempat yang sama, sekali di Jakarta; kalau tidak mungkin saya akan selalu mengasosiasikan Phoenix dengan Dido.

2. Doves – Pounding (Live at Eden Session, 2010)

Disaksikan di: Stahlwerk Duesseldorf 2002

Sepopuler apapun Doves di tanah Inggris, di belahan dunia lainnya mereka tetap adalah underdog. Saya beruntung sempat menyaksikan mereka di sebuah malam musim gugur yang lembab dan dingin di Duesseldorf pada 2002. Mereka sangat eksplosif dan dengan nada-nada eterealnya sanggup mengangkat kaki kita menjauhi lantai arena konser itu. Yang mengagumkan dari hal tersebut, suara-suara itu hanya dihasilkan oleh 3 orang anggota band: Si kembar Williams dan Jimi Goodwin ditambah dengan satu kibordis. Mendengarkan keseluruhan karya Doves adalah sebuah pelepasan, dan musik mereka adalah bagian penting dari kehidupan saya di dekade yang silam.

3. Kasabian – LSF (Live at Prime Club, Cologne 2005)

Disaksikan di: Rex Theatre Wuppertal 2005, Prime Club Cologne 2005

Adalah sebuah hal menyenangkan menyaksikan sebuah band baru yang datang dengan musik penuh gairah dan pernyataan. Saya 2 kali berkesempatan menyaksikan Kasabian di 2 buah klub kecil pada tur yang mempromosikan debut album mereka. Melihat Tom Meighan dalam tur tersebut seperti melihat perpaduan antara kharisma Richard Ashcroft dan swagger seorang Ian Brown muda. Dalam 2 konser yang kapasitasnya tidak lebih dari 200 orang itu, saya menyaksikan sebuah band penuh ambisi, dan itu semua kemudian menjadi kenyataan ketika Kasabian selalu membuat penuh stadion dan arena Eropa dalam setiap konser mereka.

4. Suede – Metal Mickey (Live at Brixton Academy, 2011)

Disaksikan di: Koenig-Pilsener Arena Oberhausen 1998, Stahlwerk Duesseldorf 2002, JIEXPO Jakarta 2011

Keterkaguman saya terhadap Suede sebenarnya cukup absurd, tidak peduli di tahun berapa Suede melakukan konser, entah itu di tengah-tengah kegilaan sesuatu bertajuk britpop, ataupun bertahun-tahun setelahnya, dalam konser mereka saya selalu merasakan bahwa mereka merupakan simbolisasi hedonisme seksi yang tertuang dalam dansa Brett Anderson dan raungan gitar Richard Oakes yang mencakar tiap penonton di pinggiran panggung. Suede adalah kontra dari budaya ladism Oasis dan pop intelek dari Blur, dan mungkin karena itu saya selalu menyukai mereka.

5. Bloc Party – She’s Hearing Voices (Live at Bristol Academy, 2007)

Disaksikan di: Live Music Hall Cologne 2005, EinsLive Koenigstreffen Herzogenrath 2005, Tennis Indoor Jakarta 2013

Waktu pertama kali mendengarkan Kasabian, saya pikir inilah jawaban musik saya di dekade ’00. Lalu saya mendengarkan Bloc Party dan itu mengubah segalanya. Saya pertama kali menyaksikan Bloc Party dalam tur Silent Alarm. Bloc Party yang saya saksikan waktu itu adalah band yang penuh dengan trik pada pedal efek mereka, angular art rock yang seperti ombak menggulung akal pikiran kita. Sejak album dan konser pertama itu, Bloc Party adalah soundtrack dekade yang telah lalu. 8 tahun berikutnya, dikelilingi oleh orang-orang seperti istri dan sahabat saya yang saya racuni dengan sadar musik dari Bloc Party, saya menyaksikan mereka lagi di atas panggung ibukota. Dan tidak ada yang lebih baik dari perasaan mendengarkan gulungan ombak itu kembali di tengah-tengah dekapan kota kita sendiri.

6. Muse – Plug In Baby (Live at Glastonbury Festival, 2004)

Disaksikan di: Westfallenhalle Dortmund 2000, Rock am Ring 2000, Istora Jakarta 2007

Masih ingat hujan lebat yang mengiringi perjalanan ke Istora untuk menghadiri konser Muse di tahun 2007 itu? Masih ingat ketika Matt Bellamy seperti seorang profesor gila menyayat gitarnya dengan penuh keyakinan pada setiap lagunya malam itu? Masih ingat ketika semua orang yang menghadiri konser itu histeris menyaksikan penampilan Muse lagu demi lagu? Masih ingat hentakan drum dan detail pada piano yang membuat konser itu adalah konser terbaik yang pernah didengar Jakarta dari segi tata suara sampai pada saat itu? Di Istora, tahun 2007 kita menyaksikan salah satu penampilan Muse yang terbaik. Menurut saya, entah kalian semua mau berpendapat apa.

7. Pearl Jam – Alive (Live at Rock am Ring, 2000)

Disaksikan di: Rock am Ring 2000

Sejak saya mendapatkan sebuah mixtape berisikan lagu-lagu Pearl Jam di pertengahan tahun 90-an, adalah sebuah impian untuk menyaksikan band tersebut secara langsung. Ketika diumumkan bahwa mereka akan main di Rock am Ring tahun 2000, saya yang waktu itu berkesempatan kuliah di Jerman tanpa ragu-ragu membeli tiketnya pada kesempatan pertama. Walaupun teman yang berjanji menemani saya ke festival itu membatalkan niatnya, saya tidak pantang mundur. Berbekal tenda pinjaman, tiket di tangan dan sejuta harapan akan menyaksikan Pearl Jam langsung, saya pergi ke festival itu seorang diri. Pearl Jam memuncaki festival itu di hari pertama, dan betapa panjangnya hari itu terasa. Sore pun lalu, Oasis yang sedang dalam fase tanpa Noel, tampil sebelum mereka. Aneh menyaksikan Oasis tanpa Noel, dan lebih aneh lagi 85.000 orang yang ada di sana seperti tidak peduli, hanya saya dan sepasang orang Jepang di depan saya yang loncat-loncat seperti orang gila diiringi Roll With It. Sisanya berteriak “Pearl Jam, Pearl Jam” mendaulat band tersebut untuk muncul di atas panggung. Lalu penantian itu berakhir. Diiringi kilat dan guntur di belakang kita, mereka pun berdiri di atas panggung: Ed, Jeff, Mike, Stone dan Matt. Ketika Alive dimainkan, rasanya seperti ingin menangis terharu. Bagi saya lagu tersebut dimainkan dengan penuh kesempurnaan malam itu, Mike bahkan memainkan solonya dengan mengangkat gitar ke balik kepalanya. Pearl Jam kemudian merilisi seri bootleg mereka pada tur itu, dan saya pun memiliki dokumenter ofisial dari sebuah salah satu konser terbaik yang pernah saya hadiri.

8. Morrissey – First Of The Gang To Die (Live at Earls Court, 2005)

Disaksikan di: Tennis Indoor Jakarta 2012

Jika Morrissey tidak pernah konser di Jakarta, mungkin saya tidak pernah akan memaafkan diri saya karena melewatkan kesempatan menyaksikan dirinya ketika memiliki kesempatan itu pada masa kuliah saya di Jerman. Untungnya, ia lalu datang ke Jakarta, dan selamatlah saya dari penyesalan itu. Tidak peduli, banyak yang bilang kondisinya sudah tidak lagi seperti dulu, bahwa ia sudah menjadi seorang yang penuh kesinisan dan kepahitan akan dunia sekeliling, bahwa setlist yang dibawakan di Jakarta malam itu tidak sesolid yang diinginkan banyak orang. Tetapi Morrissey adalah Morrissey, yang menyelamatkan diri dari kekikukan masa muda dan pada sebuah malam tahun 2012 di Tennis Indoor, ia kembali menyelamatkan saya.

9. Kings Of Convenience – I’d Rather Dance With You (Live at Collegium Leoninum, Bonn, 2004)

Disaksikan di: Collegium Leoninum Bonn 2004, Zakk Duesseldorf 2004, Upper Room Jakarta 2006, Pacific Place Jakarta 2010

Mengapa saya bisa sampai empat kali menyaksikan Kings of Convenience sampai hari ini tetap merupakan misteri bagi diri saya. Tetapi yang jelas, tiap kali menyaksikan mereka kita masuk ke dalam dunia ketenangan yang diciptakan Eirik dan Erlend. Paling berkesan adalah ketika saya menyaksikan mereka untuk pertama kalinya di dalam rangkaian tur mempromosikan album kedua mereka. Konser itu direkam langsung oleh sebuah radio regional. Tempat konsernya adalah sebuah gereja yang dialihfungsikan menjadi tempat pelaksanaan budaya. Menyaksikan Eirik dan Erlend malam itu sambil duduk termenung di gereja semi modern itu menimbulkan kesan intim. Dan entah karena pengaruh ruangan gereja, atau pengaruh lainnya, kedua gitar akustik itu begitu merasuk ke dalam jiwa dan pikiran, memberikan kesejukan.

10. Vampire Weekend – Giving Up the Gun (Live at Bonnaroo Festival, 2014)

Disaksikan di: Bengkel Jakarta 2010

Menyaksikan Vampire Weekend di Bengkel, Jakarta pada tahun 2010 adalah bukti bahwa tempat itu sebenarnya bisa menjadi tempat konser ideal untuk ibukota ini: dengan ruang yang lapang, lokasi mudah dicapai dari setiap sudut Jakarta, dan yang terpenting adalah tata suara yang baik di tempat tersebut. Saya hanya mengingat konser yang menyenangkan jika mengingat konser Vampire Weekend malam itu. Tidak melulu konser itu harus selalu dipenuhi euforia tanpa batas, sebuah suasana seperti yang dibawakan musik Vampire Weekend yang memberikan efek pelarian dari sumpeknya kota, dan membawa kita masuk ke dalam alam liburan bawah sadar, juga adalah sebuah pengalaman konser yang membahagiakan jiwa.

11. The Stone Roses – She Bangs The Drums (Live at Fuji Rock Festival, 2012)

Disaksikan di: Singapore Indoor Stadium 2012, Lapangan D Senayan Jakarta 2013

Sejak saya menyukai band ini, saya selalu berpikir hari di mana saya menyaksikan The Stone Roses tidak akan pernah menjadi kenyataan. Konser Ian Brown di tahun 2010 seperti menjadi obat atas luka yang tidak pernah sembuh itu. Tetapi reuni mereka di tahun 2012 mengubah segalanya. Di sebuah malam pertengahan tahun yang hangat di tahun 2012, di negeri singa, mimpi itu menjadi kenyataan. Melihat Ian, Mani, Reni, dan John memainkan musik bersama dalam panggung yang sama adalah kemagisan tiada tara. Seperti berada dalam wonderland-nya Alice, memukau sekaligus absurd, nyata sekaligus maya. Sampai saat itu, saya cukup beruntung bisa menonton hampir semua pahlawan musikalis saya, tetapi hanya setelah malam itu saya bisa berkata pada diri saya sendiri “Kalau saya sewaktu-waktu meninggal, saya bisa meninggal dengan tenang karena sudah pernah menyaksikan The Stone Roses dengan mata kepala sendiri”. PS: Sehari setelah konser tersebut, saya terjangkit demam berdarah, mungkin bukan pengalaman yang paling mendekati kematian, tetapi nampaknya memang kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan.

12. Oasis – Morning Glory (Live at River Plate Stadium, 2009)

Disaksikan di: Haus Auensee Leipzig 2000, Rock am Ring 2000, Phillipshalle Duesseldorf 2003, Singapore Indoor Stadium 2009

Keempat konser Oasis yang saya saksikan merupakan momen – momen penting dalam kehidupan saya. Bukan hanya musik mereka membentuk kehidupan masa muda saya, tetapi karena setiap kali menyaksikan mereka langsung, saya merasakan kebebasan. 2 kesempatan pertama menyaksikan Oasis adalah 2 kesempatan aneh, karena Noel absen dalam tur tersebut. Tetapi pada konser yang pertama, mengertilah saya akan arti euforia, sewaktu terhimpit testoterone pria-pria kaukasus yang kehilangan kontrol saat mendengar F*ckin In The Bushes. Dan untuk pertama kalinya saya benar-benar starstruck ketika melihat seorang rockstar tepat berjalan hanya 30 cm dari diri saya. Bukan, bukan Liam Gallagher yang saya lihat, tetapi seorang Johnny Marr yang malam itu membuka konser Oasis. Konser ketiga dengan formasi lengkap dan Alan White masih pada drum, adalah formasi Oasis paling ideal dalam definisi saya. Highlight malam itu adalah mendengarkan lagu-lagu seperti Bring It On Down dan Columbia yang merupakan reinkarnasi dari Oasis era 94, semangat yang dirasakan hampir seperti punk rock. Terakhir kali menyaksikan Oasis juga adalah pengalaman berkesan, karena berkesempatan melihat keseluruhan band di hotel mereka semalam sebelum konser. Konsernya sendiri, yang tidak akan pernah kita sadari sebagai tur perpisahan Oasis dari dunia musik karena mereka lalu bubar beberapa bulan sesudahnya, secara setlist merupakan konser Oasis terbaik yang pernah saya saksikan, walaupun mereka tidak memainkan Live Forever malam itu. Oasis akan selalu menjadi bagian dalam kehidupan saya, sebuah bagian yang memberikan kebebasan dan harapan tanpa batas.

13. The Strokes – New York City Cop (Live at Carling Academy, Birmingham, 2002)

Disaksikan di: E-Werk Cologne 2002

The Strokes digadangkan menjadi penyelamat rock ‘n’ roll ketika mereka muncul di akhir tahun 2001. Debut album mereka Is This It menjustifikasi hal itu. Menyaksikan mereka di Cologne pada musim dingin 2002 lebih dari sekedar menjustifikasi tetapi mengukuhkan status mereka sebagai mesias. Seingat saya konsernya sendiri berdurasi tidak lebih dari satu jam, tetapi belum pernah saya berada dalam konser lebih intens dari malam itu. Musik, aksi panggung dan imaji mereka pada periode itu adalah sempurna, tidak ada band yang lebih cool dari The Strokes pada masa itu, dan saya beruntung pernah menyaksikannya.

14. REM – Losing My Religion (Live at Roncalliplatz, Cologne 2001)

Disaksikan di: Koenig-Pilsener Arena Oberhausen 1998, Roncalliplatz Cologne 2001

Epik adalah ingatan saya ketika menyaksikan REM untuk kedua kalinya di Cologne. Bagaimana tidak, di panggung Michael Stipe menyampaikan eleginya dengan menyanyikan Losing My Religion, di belakangnya Katedral Cologne berdiri dengan megahnya seperti menyaksikan bahwa band yang sedang tampil di depannya itu menyiratkan keagungan yang sama dengan dirinya sendiri. Ketika itu, musim panas segera tiba, 09/11 belum terjadi dan dunia menikmati sisa-sisa terakhir kemurnian kenaifannya yang telah berlangsung sejak tahun 90-an.

15. U2 – The Fly (Live at Spartan Stadium, Michigan, 2011)

Disaksikan di: Cologne Arena 2001

Pada waktu saya SMA, ada 3 band terbesar pada masa itu: U2, Radiohead, dan REM. Di antara ketiganya yang paling dipuja oleh siswa sekolah khusus pria di kawasan Kebayoran Baru itu adalah U2. Setiap pensi diadakan ada saja band dari sekolah tersebut yang dengan sangat religius membawakan lagu-lagu U2, lengkap dengan kacamata the fly ala Bono. Sadar atau tidak, U2 lalu menjadi penting dalam kehidupan saya. Waktu menyaksikan panggung berbentuk hati, dan mendengar suara Bono bertarung dengan raungan gitar The Edge diiringi drum dan bas Larry Mullern Jr dan Adam Clayton dalam Elevation tur yang digelar U2 di Eropa pada tahun 2001, nostalgia akan masa sekolah di Kebayoran Baru itu kembali seperti film yang menghiasi latar belakang konser yang saya saksikan. Ketika semua indra kita dikelilingi oleh hal-hal seperti itu, dikuasai oleh band terbesar dari generasi kita, hanya satu yang dapat dilakukan, tersenyum tenang menyaksikan kesempurnaan di depan kita.

 

16. Radiohead – Idioteque (Live in Oxford, 2001)

Disaksikan di: (Koenig-Pilsener Arena Oberhausen 2003

The Bends adalah album yang memenangkan hati saya untuk menyukai Radiohead. Namun album Kid A yang mensemenkan band tersebut untuk menjadi salah satu band favorit saya sepanjang masa. Momen di mana saya dapat menyaksikan mereka tiba di sebuah malam bulan November tahun 2003. Khususnya ketika mereka memainkan Idioteque, saya terpukau akan kelima personil Radiohead, tentang bagaimana mereka dapat membuat musik yang menghempaskan kepala saya ke bulan dan kembali lagi, tidak hanya dengan alat musik band tradisional (gitar, drum,dll) tetapi dengan instrumen-instrumen aneh, yang entah apa namanya. Johnny Greenwood bahkan hanya memindah-mindahkan kabel dari satu lobang ke lobang lainnya pada awal lagu ini seperti layaknya operator telefon dari tahun 50-an. Malam itu di Oberhausen saya menyaksikan keajaiban bernama Radiohead.

17. Polyester Embassy – Polypanic Rooms (Live at Rock The Region, Singapore 2013)

Disaksikan di: Dago Tea House Bandung 2011

Sejak pertama kali menemukan Polyester Embassy dalam album Tragicomedy, saya hanya menemukan kesempurnaan dalam musik mereka. Dan wujud kesempurnaan itu saya saksikan sendiri ketika mereka menggelar Silent Yellow Ensemble konser di Dago Tea House pada Oktober 2011. Malam itu kesempurnaan mereka dihantarkan bukan hanya dengan musik yang mereka mainkan tetapi juga dalam tata cahaya panggung yang menghipnotis mata. 4 tahun setelahnya jika mengingat konser itu, seperti layaknya menjalani perjalanan antar ruang dan waktu dalam film Interstellar, cahaya dibalut dengan suara, suara menembus ruang dan waktu, dan kita kembali ke awal segala sesuatu sebelum semuanya diciptakan, sebuah kesempurnaan.

 

18. Two Door Cinema Club – Something Good Can Work (Live at Brixton Academy, 2012)

Disaksikan di: EX Park Jakarta 2011

Dari pertengahan tahun 2000-an sampai dengan sekarang, ketika konser tidak lagi menjadi barang langka di negeri tercinta ini, puluhan mungkin ratusan konser digelar setiap tahunnya. Dari artis indie, elektronik, popstar sampai band-band kadaluarsa semua didatangkan untuk memenuhi kehausan kita akan hiburan. Konser pun menjadi lebih dari hanya sekedar konser. Konser menjadi tempat bertemunya individu-individu berpikiran sama, pencipta ruang kreatif dan awal baru sebuah skena. Konser Two Door Cinema Club di awal 2011 lalu, unik karena berlangsung di sebuah tempat parkir pusat perbelanjaan di jantung ibukota. Ketika band itu memainkan suara gitar yang bersahut-sahutan, kita pun berdansa bebas di lapangan parkir tersebut, di sekeliling kita gedung-gedung pencakar langit, simbol prestise Jakarta tersenyum bangga melihatnya.

19. Coldplay – Yellow (Live in Sydney, 2003)

Disaksikasn di: Palladium Cologne 2002

Coldplay yang saya saksikan di Cologne tahun 2002, adalah Coldplay sebelum Gwyneth Paltrow, sebelum stardom dan stadion tur menjadi bagian alami dalam diri mereka. Coldplay yang saya saksikan waktu itu adalah Coldplay yang hanya ingin membuktikan bahwa mereka bisa melanjutkan album pertama mereka dengan lebih hebat. Saya beruntung menyaksikan Coldplay pada masa transisi itu. Palladium adalah sebuah tempat konser yang berada di bekas tempat industri Cologne dan berkapasitas “hanya” 4000 orang. Coldplay berhasil menjalankan misinya di konser itu, mereka membuktikan bahwa mereka adalah band yang hebat dan bisa mengantarkan melodi yang membuat lebih banyak orang lagi menggumamkannya. Saya beruntung menyaksikan masa-masa naif terakhir dari Coldplay. Karena sesudahnya, konser mereka akan dipindahkan ke stadion, bis tur diganti dengan jet pribadi, dan nama mereka dibicarakan di dalam setiap rumah tangga planet ini.

 

20. Blur – The Universal (Live at Hyde Park, London 2012)

Disaksikan di: Palladium Cologne 2003, Lapangan D Senayan Jakarta 2013

Setiap konser yang saya saksikan di lapangan D Senayan selalu berkesan. Entah itu konser penuh lumpur The Lightning Seeds, magisnya The Stone Roses, atau bahagianya ribuan orang menyaksikan Blur di sana. Siapa yang menyangka kalau band yang disebut terakhir itu akan reuni dan mengunjungi negara paling selatan dari Asia ini? Ketika konser itu diakhiri dengan The Universal, saya mengadah ke langit, kedua tangan di atas, tidak percaya kalau semua ini bisa terjadi. Sementara di atas panggung sana, Damon bernyanyi “It really, really, really could happen…..just let them go”. Di atas lapangan D itu, di bawah jembatan layang Senayan itu, kita semua tersenyum, begitu juga dengan langit Jakarta.

David Wahyu Hidayat

14
Feb
15

Panduan Pemula: Bloc Party

Panduan Pemula - Bloc Party

 

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca artikel-artikel lama di Guardian di mana tajuk artikel tersebut adalah Beginner’s Guide to [Nama artis/band]. Saya tertarik dengan ide artikel tersebut yang memperkenalkan sebuah band untuk khalayak yang mungkin belum mengenal atau sangat minim mengetahui karya-karya band tersebut dengan membuat daftar 10 lagu dari keseluruhan karya mereka. Terinspirasi dari artikel tersebut, saya mencoba untuk membuat artikel yang sama, dimulai dengan Bloc Party.

 

Band asal London tersebut merilis debut album mereka Silent Alarm tepat 10 tahun yang lalu. Album tersebut kemudian menjadi salah satu album penting di dekade ’00. Sulit memang menjustifikasi keseluruhan karir sebuah band dengan hanya 10 lagu, tetapi saya mencoba memilih lagu dari setiap album ditambah 1 atau 2 b-side. Jika kalian tidak menemukan Banquet atau Helicopter di daftar ini, tidak perlu kuatir karena dengan 10 lagu yang ada di sini, menyukai Banquet atau Helicopter adalah konsekuensi logis yang datang setelahnya. Jika bertanya mengapa setengah dari lagu-lagunya datang dari Silent Alarm, jawabannya adalah karena setelah 10 tahun album tersebut masih tetap relevan dan tapal batu dekade yang lalu. Dan Silent Alarm adalah sebuah perayaan.

 

Panduan Pemula: Bloc Party

So Here We Are (dari album Silent Alarm):
Gema yg datang dari petikan gitar itu terlalu mengawang untuk ditolak oleh telinga kita. Kita tidak bisa mendefinisikan band ini, terlalu di luar arus untuk menjadi U2, terlalu sederhana untuk menjadi Coldplay. Inilah pelajaran pertama indie pop ala Bloc party

 

The Marshals Are Dead (dari single She’s Hearing Voices/Bloc Party EP/So Here We Are):
Attention/Unbelievers/Fashion Victims/Opportunities/Blood Sport/Cop Killer/Don’t Trust Art/Don’t Trust Culture. Jika bukan pernyataan seni, tidak tahu lagi definisi apa yang harus diberikan untuk lagu ini.

 

She’s Hearing Voices (dari album Silent Alarm):
Sumbu yang meledakkan Bloc Party di awal karirnya ada di lagu ini. Eklektik, eksplosif dan menggairahkan, semuanya bercampur satu di sini. Dan dengar solo gitar Russell di akhir lagu ini; seperti ledakan orgasme yang memuaskan telinga kita.

 

The Prayer (dari album A Weekend In The City):
Pertama kalinya Bloc Party membelokkan arah mereka dengan memasukkan elemen R ‘n’ B dan gegap gempita hip-hop ke lagu ini. Namun mereka menyisakan sebersit solo gitar mumpuni yang menyayat bagai sebersit laser.

 

Ares (dari album Intimacy):
Apakah kita mendengar The Chemical Brothers di awal lagu ini, atau Bloc Party yg sedang menuangkan amarahnya di lagu perang antara music electronic dan gitar indie yang saling berusaha menerkam satu sama lain? Yang jelas lagu ini membuat kita semua menyerah untuk berdansa di bawah raungan sirene.

 

We Are Not Good People (dari album Four):
Salah satu keahlian Bloc Party adalah memainkan riff-riff yang membahayakan jiwa. Hanya saja kali ini tidak dipenuhi alunan delay dan reverb tapi hanya riff-riff yang menghujam ganas, beringas tanpa ampun.

 

Like Eating Glass (dari album Silent Alarm):
Matt Tong adalah seorang monster di balik perangkat drum. Lagu ini mengawali Silent Alarm, dan menghempaskan kita kepada sebuah band brilian yang mendefinisikan dekade ‘00.

 

The Present (dari album amal Help!: A Day In The Life – War Child):
Lapisan lapisan melodi itu, menggulung bagai ombak yang akan membawa kita ke tepian. Di atasnya adalah suara Kele setengah berteriak setengah berkontemplasi dengan nyanyian penuh harapan “.. time is a healer, time will look after you..”

 

This Modern Love (dari album Silent Alarm):
Selain Banquet dan Helicopter, mungkin ini adalah lagu Bloc Party yang paling dikenal massa. Salah satu alasannya mungkin karena lagu ini pernah melatarbelakangi satu skena sebuah sitkom yang juga mendefinisikan dekade ‘00, mengenai sebuah clique di NY dan pencarian seorang istri yang penuh dengan intrik kehidupan modern. Lagu yang tepat untuk era yang tepat, yang mendasari sekian banyak hal untuk diawali dan diakhiri: persahabatan, cinta, kehidupan.

 

Pioneers (dari album Silent Alarm):
Segala tensi positif dari Bloc Party memuncak di lagu ini. Tidak hanya memuncaki Silent Alarm, tapi lagu ini memuncaki awal karir Bloc Party. Dimulai dengan delay gitar yang bersahutan, harmonisasi vokal dilatarbelakangi drum yang mendentum, lagu ini mencapai klimaksnya dengan teriakan “We will not be the last”. Epik.

 

David Wahyu Hidayat

11
Mei
14

Album Review: Oasis – Definitely Maybe

Definitely Maybe Collection

Oasis
Definitely Maybe
Creation Records – 1994

Keith Cameron, mantan editor senior NME menulis demikian di akhir ulasannya tentang Definitely Maybe 20 tahun silam: “With Definitely Maybe, Oasis have encapsulated the most triumphant feeling. It’s like opening your bedroom curtains one morning and discovering…the Taj Mahal in your back garden.”

Pernyataan itu di tengah-tengah puncak kebanggaan, perasaan congkak, sekaligus naif tanpa ketakutan tahun 90-an adalah benar adanya, karena di tahun itu tidak ada yang lebih besar dari usaha kolektif lima pemuda bernama Liam, Noel, Bonehead, Guigsy dan Tony. Definitely Maybe mengubur dalam-dalam lubang kefanaan grunge yang ditinggalkan oleh kematian Kurt Cobain, bukan hanya mengisi keabsenan tapi mendefinisikan baru kecongkakan penuh ambisi yang pernah diperlihatkan Ian Brown bersama The Stone Roses, dan album itu adalah salah satu pilar terbesar sebuah kerajaan yang bertahun-tahun dan dekade setelahnya dikenal dengan nama Britpop.

Memuja Definitely Maybe, yang berarti juga memuja Oasis adalah perihal sederhana. Seperti hal paling mendasar yang bisa didefinisikan seseorang terhadap orang lain, menyukai debut album band asal Manchester itu hanya didasarkan satu hal. Perasaan. Dan perasaan adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan atau direnggut orang lain. Apakah kamu dan saya memilikinya, terpujilah langit dan alam semesta jika memilikinya, atau tidak. Sebab Noel bukanlah gitaris terbaik yang pernah dilahirkan Inggris, Liam bukanlah vokalis jelmaan John Lennon atau Johnny Rotten seperti yang sering diklaim dirinya, terlebih lagi ketiga personil pengiring kakak-beradik Gallagher itu, mereka lebih cocok sebagai tukang kayu atau kurir pos dibanding menjadi anggota band terbaik dunia.

Ekstase dan murni ekstase itulah yang disampaikan Definitely Maybe. Sejak menit pertama gitar itu melengking, dihajar dengan dentuman drum ekstatik McCarroll, dan suara parau Liam menyanyikan “I need some time in the sun shiiiiinnneee…” yang kemudian menjadi ciri khas dirinya, album itu dan Oasis mendefinisikan generasi 90-an, seperti awal distorsi A Hard Day’s Night telah mendefinisikan tahun 60-an.

Mendengarkan Definitely Maybe bak mendengarkan suara pembebasan. Bahwa yang terpenting adalah apa yang dapat dilakukan dengan diri kita jika kita percaya, bukan perkataan orang lain. Noel bukan seorang pembuat lagu yang dikenal dengan rangkaian liriknya, namun kesederhanaan liriknya justru membangkitkan inspirasi di antara pendengarnya. Dengarkan saja penggalannya di Rock ‘n’ Roll Star “In my mind my dreams are real…tonight I’m a rock ‘n’ roll star”, atau pada Cigarettes and Alcohol “You could wait for a lifetime to spend your life in the sunshine…you gotta make it happen” atau usaha pengimortalisasi diri yang dapat kita dengar dalam Live Forever “Maybe you’re the same as me, we see thing they’ll never see, you and I we’re gonna live forever”. Jika ini semua bukan suara pembebasan, musik apalagi yang dapat membebaskan kita semua?

Jika musik grunge mengedepankan suasana “Kami melawan sisa dunia”, Definitely Maybe justru mensuarakan suasana sebaliknya. Dengan musik yang sederhana, sesederhana orang baru belajar gitar, Definitely Maybe menciptakan suasana opstimisme penuh matahari yang menjadi ciri khas Britpop. Dalam lingkaran musik tak berujung yang dihantarkan Columbia, Oasis menciptakan arti psikedelik untuk generasi 90. Dalam ledakan drum dan distorsi berbahaya Bring It On Down, rock ‘n’ roll diberikan nyawanya kembali. Dalam kemanisan poptastik Slide Away Oasis memberikan soundtrack lagu romantis tanpa asa untuk para britpoper. Lalu di tengah-tengah album itu berdiri dengan megah Supersonic dengan segala kejayaannya, yang akan membuat kedua tangan kita mengepal ke udara, meninju langit biru dengan secercah matahari musim panas, dan membuat perasaaan kita seperti sehabis memenangkan Champions League melawan Barcelona dengan skor 4-3.

Definitely Maybe terdengar seperti sebuah kemenangan di tahun 1994. 20 tahun setelahnya, kita menghidupi kejayaan album itu. Definitely Maybe telah mengiringi masa adolesen saya, dan tetap terus menginspirasikan saya dan saya yakin banyak orang lainnya yang telah membeli album tersebut, untuk tetap membangun Taj Mahal definisi dirinya masing-masing. Entah itu keinginan menjadi band terbaik di negaranya, menjadi pesepakbola yang membawa negerinya meraih trofi pertamanya setelah seperempat abad, menciptakan mobile app paling digemari sedunia, atau hanya sekedar menjadi kepala keluarga terhebat untuk anak-istrinya. Yang jelas, inspirasi itu hanya sejauh sentuhan play di pemutar musik kita, dan Definitely Maybe akan kembali menjadi suara pembebasan kita. “You need to be yourself, you can’t be no one else”.

David Wahyu Hidayat

 

Definitely Maybe versi master ulang dapat diperoleh di iTunes sejak 12 Mei 2014




Agustus 2016
S S R K J S M
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Blog Stats

  • 135,047 hits

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.