13
Nov
16

Impresi 2 hari di Soundrenaline Festival 2016

Di awal September lalu, tepatnya pada 3 & 4 September 2016, melalui sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Rolling Stone Indonesia tentang konser terbaik yang pernah disaksikan, saya berkesempatan menyaksikan Soundrenaline Festival setelah terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi tersebut. Pemenang lainnya adalah: Tantan Rahmatullah (https://konstelasikata.wordpress.com/) & Adam Muslihat Santika Putra (https://sayabercengkerama.wordpress.com/).

Kami bertiga diberangkatkan oleh Rolling Stone Indonesia dan selama dua hari memiliki pengalaman tak terlupakan menyaksikan festival terbesar negeri ini sekaligus berkenalan sedikit tentang sisi jurnalisme musik dari teman-teman Rolling Stone Indonesia yang menemani kami. Sebagai “reporter tamu” kami pun diberikan pekerjaan rumah untuk menulis liputan dari Soundrenaline 2016. Di bawah ini adalah impresi saya dari dua hari menghadiri festival terbesar Indonesia itu.

kolase-soundrenaline

Liputan saya tentang Soundrenaline 2016 yang dimuat di situs rollingstone.co.id :

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/26/140509678/1093/binar-hidup-bergelora-dalam-balutan-adrenalin-suara-soundrenaline-2016

rolling-stone-indonesia-binar-hidup-bergelora

Liputan dari Adam dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509679/1093/soundrenaline-2016-gagasan-bersejarah-kancah-musik-indonesia

Liputan dari Tantan dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509680/1093/di-bawah-bendera-musik

Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 yang menampilkan kami bertiga sebagai pemenang kompetisi menulis tersebut:

rsi-oktober-2016-soundrenaline-2016

David Wahyu Hidayat

31
Okt
16

Impresi dari 3 hari di Synchronize Festival 2016

Rhoma Irama: Kharisma tanpa batas atas kecintaan tanah air dengan musik yang mampu menggoyangkan semua pecinta musik tanpa terkecuali.

Barasuara: Masih tidak tergoyahkan posisinya sebagai band paling menggemparkan saat ini.

The Trees & The Wild: Magis & monumental, momen favorit pribadi 3 hari kemarin.

Efek Rumah Kaca: Tiap konser ERK dengan formasi lengkap adalah sesuatu yang istimewa.

The Milo dan Heals: 2 band ini meneruskan tradisi dan persepsi bahwa band shoegaze terbaik Indonesia adalah dari Bandung.

The Upstairs: Jimi Multhazam adalah pencerita handal dan bandnya selalu berhasil membuat anak indie disko darurat di manapun kapanpun.

Scaller: Apalagi yang mau dikatakan tentang band ini? Mereka adalah masa kini dan masa depan! 

Pure Saturday: Menutup Jumat malam dan memulai hari Sabtu dengan bahagia adalah esensi Pure Saturday.

Payung Teduh dan Float: Di tengah hingar bingar Festival, musik dari 2 band ini bagai oase yang sejuk dan menenangkan.

Elephant Kind: Terkendala gangguan teknis pada gitar utama mereka, membuat penampilannya di minggu sore sedikit tersendat. Untungnya mereka punya lagu yang membuat penonton berinteraksi seru khas generasi milenial yang membuat penampilan itu berkesan.

Kelompok Penerbang Roket: Liar dan gas penuh tanpa rem, seperti yang selalu diharapkan dari mereka. 

The SIGIT: Rok n’ Rol bukanlah hanya sebuah konsep, The SIGIT itu perwujudannya.

The Brandals dan The Adams: Banyak hal yang menjadi ciri khas Jakarta, dari yang baik maupun buruk. Entah kenapa 2 band ini selalu identik dengan kebaikan ibukota di kepala saya, tidak terkecuali waktu mereka tampil pada hari kedua di Synchronize Festival.

FSTVLST: Barely art, almost rock. Impresif sesuai dengan slogan mereka. 
Rock n’ Roll Mafia: Band ini tidak pernah benar-benar ada di radar saya, dan ini akan berubah sejak penampilan mereka di hari ketiga.

90’s Hiphop All Star: Siapa yang menyangka beat dan rentetan lirik dari para rapper paruh baya mampu mengguncang Kemayoran dengan hebat.

Terlepas dari kendala teknis yang dialami beberapa band di panggung utama, ini festival yang seru di mana seluruh genre melebur dalam atmosfir menyenangkan. Mudah-mudahan pergerakan ini berlanjut di tahun mendatang.

David Wahyu Hidayat 

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

17
Sep
16

Ulasan Album: The Trees & The Wild – Zaman, Zaman

zaman-zaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Trees & The Wild

Zaman, Zaman

Blank Orb Recordings – 2016

 

Ekspektasi dan antisipasi cenderung menghancurkan segala yang kita harapkan dari sesuatu. Hal-hal paling magis terjadi ketika minimnya pengetahuan terhadap sesuatu yang akan datang, memanipulasi dan menguasai alam pikiran kita ketika hal-hal tersebut dihadapi. Itulah yang saya rasakan mendengarkan Zaman, Zaman; album terbaru The Trees & The Wild yang menggulung indera pendengaran saya dalam pertemuan pertamanya.

 

Sebelum album ini dikeluarkan, jujur saya bukanlah fans band ini. Pertama kali ingin mengoleksi musik mereka, ketika majalah Time menganjurkan bahwa ini adalah salah satu band yang harus didengar dari Asia Tenggara. Setelah membaca artikel itu, saya memutuskan membeli Rasuk, lalu untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan musik dari album itu jarang saya kunjungi kembali (mungkin itu salah satu yang harus berubah sejak Zaman, Zaman).

 

Tetapi Zaman, Zaman adalah monster yang berbeda. Jarak 7 tahun antara Rasuk dan album ini mentransformasi The Trees & The Wild menjadi sebuah band yang berbeda sama sekali (saya belum pernah melihat mereka secara langsung, jadi hanya dapat menilai dari kedua album itu). Ini adalah album dengan bentang suara yang melintang lebih jauh dari Sabang sampai Merauke, ia menghipnotis, ia mempesona dan ia adalah sosok yang majestik yang pernah diciptakan oleh sebuah band dari negara ini, dan untuk itu ia layak dipuja.

 

Dari titel treknya pada lagu pertama, album ini sudah memberikan pernyataannya. Waktu Empati Tamako merasuki telinga kita selama 14:35 menit pada lagu kedua, akal sehat kita akan mengalah dan yang ada di kepala hanyalah sebuah pikiran yang berkata “Ya, Tuhan, ini candu!!!”. Empatbelas setengah menit yang terlalui dalam lagu itu bukan merupakan menit-menit yang terbuang sia-sia, itu adalah epik tanpa batas diiringi mantra “Terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya” yang dinyanyikan menembus karsa.

 

Sesuatu yang monumental didirikan oleh The Trees & The Wild di lagu yang mereka beri nama Monumen. Jika Thom Yorke & Johnny Greenwood dari Radiohead pernah mendengarkan lagu ini, mereka akan bangga sekaligus iri terhadapnya, berharap band mereka yang menciptakan lagu ini. Tapal batu itu lalu dibangun lebih megah dalam Tuah/Sebak, 2 fragmen lagu yang dijadikan satu di mana emosi dicampuraduk tanpa henti dan mencapai klimaksnya secara paripurna.

 

Yang fantastis dari album ini adalah cara mereka mengemas lagu demi lagu sebagai sebuah kesatuan musikalis. Suara instrumen dikedepankan membentuk tembok suara yang agung, vokal berkesan tidak mendapatkan tempatnya sebagai pemain utama, tetapi ia menghipnotis perlahan, membuat pendengarnya menerka dan memberikan interpretasinya sendiri terhadap setiap lagu di Zaman, Zaman. 7 trek yang dikemas dalam 53:28 menit itu, dan diakhiri oleh lagu terakhir berjudul Saija, adalah sebuah perjalanan sonik yang penuh kejayaan.

 

Zaman, Zaman adalah sebuah candu yang sulit untuk diredakan efeknya. Ia tidak akan langsung membuat kalian melayang, namun perlahan tapi pasti dalam setiap pemutarannya di telinga kalian, musiknya akan merayap, merasuki jiwa, membuat kita layaknya seorang pemadat yang menemukan candu terbaiknya, tenggelam dalam sebuah ekstase suara sampai pada kesudahan zaman.

 

David Wahyu Hidayat

 

Zaman, Zaman tersedia secara digital di:

iTunes: https://itunes.apple.com/album/id1143213241

Spotify

 

The Trees & The Wild:

Twitter: @ttatw

Instagram: treeswild

 

01
Mei
16

Ulasan Konser – Tame Impala, Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016

Tame Impala

Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016

 

Band Pembuka: Barasuara

 

Setlist:

Intro, Let It Happen, Mind Mischief, Why Won’t They Talk To Me, It Is Not Meant To Be, The Moment, Elephant, Yes I’m Changing, The Less I Know The Better, Eventually, Alter Ego, Oscilly, Why Won’t You Make Up Your Mind, Apocalypse Dreams. Encore: Feels Like We Only Go Backwards, New Person Same Old Mistakes

 

Tame Impala - Jakarta 2016

 

Jakarta. Jumat malam di akhir bulan April. Hujan mengguyur sebagian ibukota menjelang jam usai bekerja. Seakan tidak rela membiarkan warganya bersenang-senang, lalu-lintas mengunci, menhancurkan harapan akan kejayaan Jumat malam. Namun segelintir manusia dengan persistensi tahap pecandu, nekat menembus semuanya itu menuju Senayan. Sebagian dari mereka adalah pemburu tiket murah pameran perjalanan sebuah maskapai, sebagian lainnya adalah pemadat musik yang mengharapkan ekstasenya pada sebuah band bernama Tame Impala.

Di atas sebuah area yang sehari-harinya merupakan lahan parkir beraspal, perjalanan menggapai ekstase itu dimulai. Sekitar setengah delapan malam, dalam nuansa merah, band terbaik nusantara saat ini, Barasuara menguasai panggung yang dibangun di atas lapangan parkir itu. Dengan memainkan lagu-lagu seperti Menunggang Badai, Api dan Lentera serta dituntaskan dengan Bahas Bahasa, mereka tidak hanya sekedar memanaskan suasana tapi memainkan musik laksana timnas PSSI sedang bermain di final piala dunia: enerjik, mempesona dan majestik. Barasuara memang sudah ditakdirkan untuk bermain di arena konser megah dan besar, bahkan Kevin Parker kemudian mengatakan dengan jujur bahwa sebuah pekerjaan yang sulit memainkan konsernya setelah band hebat seperti Barasuara.

Usai Barasuara, para penonton dibiarkan menunggu agak lama, sampai akhirnya menjelang pukul sembilan sang jenius Kevin Parker bersama Tame Impala menyapa langit Senayan yang sudah hampir memuncak kegelisahannya menunggu agar dahaga mereka dipuaskan. Dari sejak Intro kita semua tahu bahwa ini akan menjadi malam luar biasa, dan sejak Let It Happen dimainkan, semua yang ada di parkir selatan Senayan tahu bahwa mereka telah memenangkan peperangan terhadap jahanamnya kekacauan ibukota di hari Jumat. Tempat parkir itu berubah menjadi sebuah perayaan akan sebuah kehidupan yang memang patut dirayakan, jiwa seakan melayang meninggalkan tubuh yang penat. Di atas panggung, Tame Impala membius dengan musik mereka dan visualisasi yang membuat mimpi psikedelia kita menjadi nyata.

Masih dihujani konfeti yang disebarkan menjelang akhir Let It Happen, kita pun dihajar dengan Mind Mischief. Entah apa yang lebih memabukkan kita saat itu, musik Tame Impala dengan tata suara yang nyaris sempurna atau tayangan visual di panggung yang menari-nari indah menggoda khayalan kita. Pada pertengahan set ketika Elephant dihantarkan, euforia itu sudah tidak terbendung, dahaga selama 5 tahun akan tampilnya kembali Tame Impala di atas panggung Jakarta terbayar sudah, dan kita ikut berpesta bersama mereka yang memainkan musik di atas panggung.

Elephant disusul dengan Yes, I’m Changing, dan visualisasi di panggung untuk kali ini berubah dari psikedelia menjadi pemandangan menyejukkan seorang gadis mengenakan gaun musim panas mengendarai sepeda menelusuri pedesaan. Sejuk, menyaksikan lagu itu dibawakan di dalam area konser terbuka yang sudah seperti area sauna massal sejak lagu pertama. Namun, kita tidak dibiarkan terlena berlama-lama, karena kemudian Tame Impala membawakan The Less I Know The Better. Di sinilah momen itu datang, momen ketika aspal Senayan berubah menjadi lantai dansa dan langitnya menjadi luminasi psikedelia yang paling menghipnotis.

Why Won’t You Make Up Your Mind dan Apocalypse Dreams menutup mimpi kita di set utama Tame Impala malam itu. Tak lama berselang, mereka kembali ke panggung dan mengatakan bahwa ini adalah rangkaian konser terakhir mereka di Asia dan berterima kasih untuk publik Jakarta, sambil mengajak kita semua berpesta untuk terakhir kalinya. Feels Like We Only Go Backwards pun dikumandangkan di Senayan menjadi sebuah himne, balutan konfeti kembali beterbangan bagaikan kunang-kunang mimpi kita, seperti sebersit cahaya pencerahan yang kali ini datang dalam musik Tame Impala dan kita pun berdansa menyerahkan diri dalam balutan musik tersebut.

Malam itu pun berakhir dengan New Person, Same Old Mistakes, dan para pecandu musik yang sorenya berjuang melawan kekacauan Jakarta telah berada di puncak ekstasenya. Mereka tahu, malam itu adalah sebuah perjalanan istimewa yang tidak dapat didefinisikan secara jelas. Yang jelas musik mendapatkan kemenangannya, seperti yang selalu terjadi. Sebut ini sebuah pengalaman psikedelia, sebut ini sebuah pengalaman pop berbalutkan disko, semua itu tidak berarti. Yang berarti adalah Tame Impala telah datang dan memainkan konser mereka pada 29 April 2016 di bawah langit Senayan, dan kamu berada di sana untuk menyaksikan keajaiban itu.

David Wahyu Hidayat

 

 

30
Des
15

Favorit2015

Favorit2015

 

 

playlist:

https://8tracks.com/supersonicsounds/favorite-tracks-2015

 

 

2015 adalah tahun penuh gairah secara musikalis, terutama dalam skena musik lokal. Kita mengalami hadirnya band-band baru penuh geliat dalam wujud Barasuara, Kelompok Penerbang Roket dan Stars And Rabbit. Lalu jawara-jawara indie negeri ini seperti tidak mau kalah dengan penerus tongkat estafetnya. Mereka pun mengeluarkan album solid penuh kejutan seperti yang dapat terdengar dalam karya terbaru Rumahsakit, Sore dan album majestik yang dirilis Efek Rumah Kaca di akhir tahun.

 

Di luar batas perairan Nusantara, dedengkot Britpop Blur dan Noel Gallagher juga ikut mengeluarkan album terbaru mereka yang penuh daya tarik unik. Sedangkan Chris Martin, setelah berhasil mengatasi rumah tangganya yang karam, bersama Coldplay merilis album baru penuh warna-warni kehidupan seperti yang kita kenal dari mereka sebelumnya. Puncak semuanya itu adalah si jenius Kevin Parker, yang dengan album terbaru Tame Impala, Currents mengeluarkan sebuah album penuh kesempurnaan.

 

Sudah sejak lama saya tidak mendengarkan musik segempar tahun ini, dan di bawah ini adalah lagu dan album favorit saya. Seperti halnya terhadap kehidupan, kita pun patut bersyukur atas segala musik yang telah menemani kita dan hal lainnya yang telah terjadi tahun ini. Saatnya merayakan kehidupan, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

 

Lagu:

 

Take You Down – Daniel Pemberton, OST The Man From U.N.C.L.E

Tom Meighan dan Sergio Pizzorno dari Kasabian akan iri mendengarkan lagu ini, karena ia memiliki semua tandatangan antem stadion yang biasanya dimiliki oleh lagu-lagu Kasabian. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Daniel Pemberton ketika mengaransir OST untuk film ini, tetapi melalui lagu ini ia telah memberikan atmosfir sempurna kepada sebuah film espionase yang paling menghibur tahun ini.

 

Djakarta City Sound – Kelompok Penerbang Roket

Dalam mimpi basah musikalis kita yang paling vulgar, Jakarta masih ditulis dengan menggunakan huruf besar “D” di depannya. Ia bukanlah ibukota yang penuh kemacetan dan pelan-pelan membunuh warganya, tetapi sebuah nirvana yang seksi, di mana rock ‘n’ roll adalah agamanya dan Kelompok Penerbang Roket adalah dewa mereka.

 

I Tried and I’m Tried – The Young Liars

Muda dan berbahaya adalah sebuah kategori yang dapat disematkan kepada The Young Liars. Musik mereka langsung menampar telinga tanpa basa-basi, menggairahkan sekaligus menaikkan adrenalin di badan kita yang lelah penat ini. Jika ini bisa dipertahankan, mereka adalah masa depan.

 

Pasar Bisa Diciptakan – Efek Rumah Kaca

Setelah 7 tahun kita menunggu, akhirnya Efek Rumah Kaca datang kembali. Lagu ini dirilis oleh Efek Rumah Kaca sebagai pengantar mahakarya terbaru mereka Sinestesia. Gitar yang meraung tanpa henti itu, melakukan penetrasi tanpa lelah kepada kalbu pendengaran kita, sambil mendengarkan mantra teranyar dari Efek Rumah Kaca, bahwa pasar bisa diciptakan. Ini adalah sebuah perayaan!

 

Gesneriana – Sore

Dalam sebuah paralel universum yang tak pernah tercipta, The Smiths membagi ruang latihannya bersama Sore. Mereka berbicara tentang urbanisme kota industri di sela-sela latihan mereka, nge-jam tanpa henti sampai tidak pernah melihat sang surya terbit dan terbenam. Pada sesi-sesi itulah lahir sebuah lagu yang mendefinisikan Manchester sekaligus Jakarta, lagu itu berjudul Gesneriana.

T-Shirt Weather – Circa Waves

Lagu ini adalah suara musim panas yang riang, penuh asa tanpa adanya sedikit pun titik-titik kelabu yang akan mengecilkan optimisme kita. Sangat menyenangkan menemukan band seperti Circa Waves di tahun 2015 ini, di mana banyak band berlomba untuk mensample berbagai macam beat secara elektronik, mereka mengingatkan kita akan masa muda di mana keriangan itu ditemukan dalam melodi gitar.

The Less I Know The Better – Tame Impala

Jika semua orang mengalahkan patah hatinya dengan membuat lagu seperti ini, maka dunia ini akan menjadi lebih baik. Lagu ini adalah sentral dalam album luar biasa Tame Impala, Currents. Beat-nya adalah sebuah candu yang tidak ingin kita habiskan, setiap fase di lagu ini menghipnotis kita, membawa kita ke sebuah musim panas abadi, di mana yang kita rasakan hanyalah getaran kebahagiaan tanpa batas.

 

Adventure Of A Lifetime – Coldplay

Sejujurnya, saya membenci lagu ini dengan sangat ketika dirilis untuk mempromosikan album terbaru Coldplay, A Head Full Of Dreams. Ia terlalu pop dan berada di arus musik utama untuk dirilis oleh band seperti Coldplay. Pandangan itu berubah 180 derajat ketika albumnya sendiri dirilis. Semua dentuman bas dan petikan gitar tanpa henti itu tiba-tiba menjadi masuk akal adalam konteks sebuah album. Ini adalah perayaan kehidupan ala Coldplay, Viva La Vida!

 

The Right Stuff – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Dari 10 lagu yang ada di album Chasing Yesterday, lagu ini adalah lagu yang paling menarik. Bukan hanya ia diproduseri oleh Amourphous Androgynous, tetapi karena ini adalah bukti bahwa Noel Gallagher dapat menciptakan lagu di luar pagar Britpop dan skala pentatonik yang selama ini menjadi ciri khasnya. Dengan latar belakang vokal wanita yang lebih dominan dari suaranya sendiri, dan hembusan psikdelik dari musik yang mengiringinya ini adalah Noel Gallagher terbaik paska Oasis. Space Jazz, hadirin sekalian?

 

 

Thought I Was A Spaceman – Blur

Blur mungkin boleh mendapatkan inspirasinya dari malam-malam yang mereka lewati di Asia Timur, tetapi lagu ini berhasil menciptakan keintiman yang dalam. Suara vokal Damon Albarn memenuhi alam pikiran kita seperti anestesi membius seorang pasien bedah. Alunan melodi etnis dengan gaung yang memenuhi ruangan itu, untuk sesaat, sesuai dengan judulnya membuat percaya bahwa kita adalah astronaut yang sedang melayang tanpa tujuan di ruang angkasa.

 

The House – Stars And Rabbit

Saya jatuh cinta pada Stars And Rabbit, ketika menyaksikan mereka tampil membawakan lagu ini di sebuah stasiun televisi swasta pada suatu minggu siang. Saya takjub akan kesederhanaan mereka membawakan lagu ini. Kagum karena lagu tersebut berhasil mempesona saya, dengan petikan gitar yang renyah dan perselingkuhannya dengan suara vokal yang akan membuat Bjork bangga.

 

Apa Yang Tak Bisa – Rumahsakit

Sebenarnya banyak melodi menakjubkan yang menyenangkan hati terdapat di Timeless, album yang menandakan kembalinya Rumahsakit dari mati suri mereka. Tapi lagu ini yang paling berkesan buat saya. Nyaris seperti pesan religius, lagu ini dengan manis mengingatkan kita bahwa tidak segala sesuatu dapat diraih dan dimiliki, yang kita perlukan hanyalah menyerahkan segalanya kepada yang mahakuasa dan membiarkan hidup ini mengalir sambil tidak lupa untuk bersyukur.

 

The Rest Is Noise – Jamie xx

Ada sebuah perasaan metropolis etereal yang menghantui indra kita ketika mendengarkan lagu ini. Perasaan cinta sekaligus gamang akan kota yang kita tinggali. Ketika pekatnya malam terlalu indah untuk dilalui hanya dengan terlelap, sedangkan mentari pagi terlampau nyaman untuk membangunkan kita dari mimpi.

 

Lonely Hunter – Foals

Sesuatu di alam bawah sadar kita akan terusik mendengarkan lagu ini. Entah itu perasaan ingin memiliki seseorang yang sudah hilang dari kehidupan kita, atau dengan sangat parahnya ingin memperbaiki sesuatu terhadap orang yang kita cintai. Melodinya terlalu dahsyat untuk bisa dipungkiri dan ketika kita mendegarkan “Love is a gun in your hand” dinyatakan Yannis di lagu ini, jauh di dalam sana, kita mengerti apa yang dimaksud olehnya.

 

Api dan Lentera – Barasuara

Tidak ada yang lebih eksplosif di tahun ini selain “Api dan Lentera” dari Barasuara. Jika mereka sendiri memproklamirkan bahwa musik Barasuara dibuat untuk meledak, maka lagu ini adalah perwujudannya yang paling sempurna. Setiap bagian lagunya dirancang seperti bom, apakah itu teriakan “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu” atau hookhook maut dari riff gitar yang saling berduel di lagu ini, semuanya itu mengarah ke satu tujuan utama: Membuat indie anthem terbesar yang pernah didengarkan negeri ini.

 

Album:

 

Chasing Yesterday – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Dari seluruh karya yang pernah dihasilkan oleh Noel Gallagher, Chasing Yesterday adalah yang paling unik. Ia bukan hanya asal mengatakan bahwa album ini akan seperti Space Jazz, dengarkan Riverman maka kita akan tersenyum ketika mendengar Saxophone di sana. Mendengarkan The Right Stuff, maka lagu tersebut akan menjustifikasi bahwa jargon yang ia sebutkan itu bukan basa-basi. Dan jika kita kangen dengan Oasis, album ini memberikan Lock All The Doors. Dalam In The Heat Of The Moment dan Ballad Of The Mighty I, kita menemukan revolusi seorang Noel Gallagher dalam peforma terbaiknya. The Chief telah kembali, dan ia kembali dengan dahsyat.

 

Currents – Tame Impala

Tidak ada album yang membuat saya tersenyum lebih bahagia di tahun ini daripada Currents dari Tame Impala. Beruntung Kevin Parker meninggalkan aura psikedelik pada 2 album sebelumnya dan menemukan kecintaannya pada pop. Mendengarkan Currents seperti menemukan mata air pop tanpa batas, lagu-lagu di dalamnya seperti perpaduan antara MGMT, Daft Punk, dan…Tame Impala sendiri. Album ini akan membuat hari-hari kita sepanjang tahun menjadi sebuah musim panas, di mana yang ada hanya kebahagiaan dan sinar matahari.

 

In Colour – Jamie xx

Salah satu album paling menghantui saya dalam relevansi yang baik adalah In Colour dari Jamie xx. Seperti yang sudah ia lakukan dengan The xx, album ini berhasil membuat saya dalam suasana etereal tanpa batas, menikmati malam-malam di ibukota yang takkan pernah henti. Saat dikepung oleh batas waktu pekerjaan dan kacaunya kota ini, album ini seperti sebuah anestesia yang menenangkan.

 

Los Skut Leboys – Sore

Sampai tahun ini, sejujurnya saya tidak pernah menaruh perhatian khusus kepada Sore. Lalu di sebuah malam, perjalanan saya di Youtube terhenti pada lagu 8 dan R14, dan perasaan gembira saya terkait oleh melodi-melodi yang ada di situ. Ada perasaan nostalgik yang tidak dapat dijelaskan, dan juga rasa girang yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kemudian saya membeli albumnya, mendengarkan seluruh lagunya, terutama Gesneriana yang sukses membawa saya ke langit ketujuh pop Indonesia.

 

Sinestesia – Efek Rumah Kaca

Sebenarnya sejak Pasar Bisa Diciptakan dapat diunduh gratis kita tahu bahwa Efek Rumah Kaca akan merilis album baru mereka. Kita gusar, karena lagu yang menjadi prolog itu menjanjikan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Lalu Desember tiba dan harapan itu hampir pupus, karena tidak ada tanda-tanda album tersebut akan dirilis. Kemudian tanpa pemberitaan bombastis, Sinestesia dapat dibeli di iTunes. Secepat kilat album tersebut dibayar dan disedot secara digital. Secepat kilat juga di tengah malam pertengahan Desember, album itu dimainkan pada pemutar musik digital saya. Ketika lantunan “Aaaaaaa…” mengawali Merah, saya sadar sesuatu yang majestik telah terjadi. Sisanya adalah kekaguman tanpa batas kepada sebuah album yang dirilis 7 tahun setelah Kamar Gelap. Salut saya sampaikan kepada Efek Rumah Kaca.

 

Taifun – Barasuara

Barasuara punya satu tujuan ketika merilis Taifun. Mereka ingin musik mereka meledak di negeri ini. Target itu bukan hanya berhasil dicapai, tetapi mereka melakukannya dengan dengan karakter dan kelas yang sulit untuk bisa disamai band-band lain. Walaupun musik mereka penuh dengan konsep, tetapi ia berbicara dengan langsung dan memberikan ekstase kepada kita semua. Mulai dari Nyala Suara, Bahas Bahasa, Api dan Lentera, semua lagu itu memberikan kita sebuah antem yang baru. Mungkin bukan kebetulan mereka menamakan debut album ini Taifun, karena Barasuara telah menerjang kita semua dan membuat kita takluk tanpa syarat dalam terpaan musiknya.

 

 

Teriakan Bocah/Haai – Kelompok Penerbang Roket

Kelompok Penerbang Roket telah membuat sebuah pernyataan bombastis tahun ini dengan merilis 2 mini album sekaligus. Yang pertama, Teriakan Bocah adalah rock ‘n’ roll liar yang dipacu secepat 200 km/jam di jalan protokol ibukota. Yang kedua, adalah sebuah karya paling psikedelik yang pernah didengar tanah air terhadap lagu-lagu Panbers. Mungkin mereka berpikir hidup terlalu singkat untuk diam dan tidak berarti apa-apa. Yang jelas mereka tidak perlu takut lagi terhadap kematian tanpa nama, karena 2 album tersebut akan terus mengingatkan kita untuk hidup liar, penuh risiko mengatasnamakan rock ‘n’ roll.

 

The Magic Whip – Blur

Kabar kembalinya Blur patut dirayakan seperti kita merayakan sekuel sebuah film blockbuster yang mendefinisikan masa kecil kita. Memang, seperti kita, mereka pun sudah memasuki usia paruh baya, tidak ada lagi Girls & Boys atau Song 2, tetapi lagu seperti Thought I Was A Spaceman, Lonesome Street, maupun Go Out adalah lagu tipikal Blur yang selalu dekat dengan hati kita. Album ini seperti kembalinya paman yang kita kagumi waktu kecil, ia datang bukan dengan nostalgia cerita masa lalu, tetapi tentang pengalaman-pengalaman baru yang tidak harus selalu eksplosif tetapi selalu menarik untuk disimak.

 

Timeless – Rumahsakit

Pahlawan indie Jakarta, Rumahsakit telah kembali tahun ini dengan merilis album Timeless. Dengan berbekal vokalis dan komposisi musik baru, mereka tetap menghembuskan optimisme tahun 90-an yang tidak pernah padam. Dari bunyi drum yang mengawali Tak Ada Yang Selamanya sampai nada terakhir Shout Now, semuanya menunjukkan kedewasaan Rumahsakit dalam bermusik, dan seperti judul albumnya sendiri semoga mereka akan selalu abadi.

 

What Went Down – Foals

Memasuki albumnya yang keempat, Foals semakin solid dan eksplosif dalam musik mereka. Diawali dengan titel track yang menampilkan nada-nada penuh urgensi dan determinasi, mereka menebarkan serangan – serangan berbahaya sejak awal. Lalu ada Mountain At My Gates dan Albatross yang mengalir seru merasuki pembuluh darah kita. Pamungkasnya ada dalam Lonely Hunter yang menggulung dahsyat seperti gelombang tanpa henti. What Went Down adalah Foals dalam semua kemegahan yang mereka miliki.

 

David Wahyu Hidayat

17
Okt
15

Ulasan Album: Barasuara – Taifun

BArasuara Taifun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Barasuara

Taifun

Juni Suara Kreasi – 2015

 

Tersedia di iTunes: http://smarturl.it/BarasuaraTaifun

Sebelum kalian semua membaca lebih lanjut tulisan ini, beli dan unduh album ini dari tautan di atas, nyalakan di pemutar musik kalian, kencangkan suaranya ke level yang paling tinggi dan biarkan kalian terhanyut dengan semua keajaiban yang ada dari kesembilan lagu tersebut, karena sejujurnya kata-kata saya tidak akan cukup untuk menggambarkannya. Sesungguhnya Barasuara dengan “Taifun” telah menghadirkan sebuah kemagisan yang pada ranah album musik Indonesia terakhir saya dengar dari Efek Rumah Kaca.

Menggebrak sejak awal dengan “Nyala Suara”, album ini adalah testimoni dari kecerdasan Iga Massardi (vokal & gitar), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bas), Marco Steffiano (drum), Asteriska Widiantini (vokal), dan Puti Chitara (vokal); dalam mengemas aransemen musik dan alunan lirik Barasuara. Di saat kita merasa lagu ini sudah mencapai klimaksnya, mereka membelokkannya ke arah lain atau meningkatkan tahap kecanduan kita akan musik mereka seperti terjadi dalam duel gitar Iga dan TJ di menit 3:42 lagu ini. Jika kalian menganggap musik adalah candu maka lagu ini adalah candu pamungkas.

Satu hal yang dapat dikenali dari musik Barasuara adalah ia dipenuhi dengan permainan perkusi yang menarik dan mengajak kita semua ingin menari, seperti yang didengar pada awal “Sendu Melagu” ataupun “Bahas Bahasa”. Begitu juga dengan harmonisasi vokal yang dilakukan oleh Puti dan Asteriska, membuat band ini lebih dari hanya sekedar band rock 5 orang biasa.

Mendengarkan “Hagia” seperti menemukan sepupu jauh dari lagu “Jalang”-nya ERK yang telah lama menghilang. Lagu ini menyuarakan bahwa apapun perbedaan kita, semuanya itu bukan merupakan batasan ataupun halangan bagi kita untuk melebur, karena seperti yang mereka suarakan “Seperti kami pun mengampuni, yang bersalah kepada kami”. Ini adalah bayangan sangat indah tentang kehidupan, menggugah.

Adapun episentrum album ini bagi saya ada pada “Api dan Lentera”. Lagu ini menaikkan klimaks yang telah ada di lagu-lagu sebelumnya sebanyak tujuh tingkat. Layaknya seperti taifun, ia datang kembali, menghujam dengan drum, menggulung dengan detak bas, menusuk tajam dengan serangan gitar dari kanan dan kiri, mengajak kita semua menari dengan teriakan “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu” sampai akhirnya dengan penuh kedamaian kita semua terlena karena “Kita kan pulang, dengan waktu yang terbuang, dan kenangan yang berjalan bersama”.

Setiap lagu yang ada di “Taifun” seperti sebuah soundtrack entah itu pada fase pencarian jati diri, berusaha bangkit lagi dari kegagalan, atau meninggalkan masa lalu yang kelam. Dengarkan saja “Menunggang Badai”, “Tarintih” dan “Mengunci Ingatan” maka layar film kehidupan di otak kita masing-masing akan memiliki soundtrack terbarunya diiringi lagu-lagu Barasuara.

Album ini ditutup dengan indahnya oleh lagu yang diambil dari judul albumnya “Taifun”. Petikan gitar yang nyaman akan mempesona kita, sambil meresapi kata-kata yang melantun di dalamnya “Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu, kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu”.

Jika kalian tidak terhempas dari tempat kalian berpijak atau dari sofa tempat kalian duduk dengan nyaman setelah mendengarkan “Taifun”, maka ada kesalahan esensial pada telinga dan jiwa kalian. Karena Barasuara akan memporak-porandakan jiwa kalian dan memberikan telinga kalian sesuatu yang baru untuk didengar, yang akan memberikan kita semua sebuah awal baru di bawah langit yang sama. Seperti taifun.

 

David Wahyu Hidayat

Tautan lainnya:

Artikel Rolling Stone Indonesia: Menyalakan Barasuara Perjalanan panjang band baru paling memukau di Indonesia saat ini http://bit.ly/1R0xl6t

Sounds From The Corner: Session #13 Barasuara:

 

 

 




Desember 2016
S S R K J S M
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits