Posts Tagged ‘FSTVLST

31
Okt
16

Impresi dari 3 hari di Synchronize Festival 2016

Rhoma Irama: Kharisma tanpa batas atas kecintaan tanah air dengan musik yang mampu menggoyangkan semua pecinta musik tanpa terkecuali.

Barasuara: Masih tidak tergoyahkan posisinya sebagai band paling menggemparkan saat ini.

The Trees & The Wild: Magis & monumental, momen favorit pribadi 3 hari kemarin.

Efek Rumah Kaca: Tiap konser ERK dengan formasi lengkap adalah sesuatu yang istimewa.

The Milo dan Heals: 2 band ini meneruskan tradisi dan persepsi bahwa band shoegaze terbaik Indonesia adalah dari Bandung.

The Upstairs: Jimi Multhazam adalah pencerita handal dan bandnya selalu berhasil membuat anak indie disko darurat di manapun kapanpun.

Scaller: Apalagi yang mau dikatakan tentang band ini? Mereka adalah masa kini dan masa depan! 

Pure Saturday: Menutup Jumat malam dan memulai hari Sabtu dengan bahagia adalah esensi Pure Saturday.

Payung Teduh dan Float: Di tengah hingar bingar Festival, musik dari 2 band ini bagai oase yang sejuk dan menenangkan.

Elephant Kind: Terkendala gangguan teknis pada gitar utama mereka, membuat penampilannya di minggu sore sedikit tersendat. Untungnya mereka punya lagu yang membuat penonton berinteraksi seru khas generasi milenial yang membuat penampilan itu berkesan.

Kelompok Penerbang Roket: Liar dan gas penuh tanpa rem, seperti yang selalu diharapkan dari mereka. 

The SIGIT: Rok n’ Rol bukanlah hanya sebuah konsep, The SIGIT itu perwujudannya.

The Brandals dan The Adams: Banyak hal yang menjadi ciri khas Jakarta, dari yang baik maupun buruk. Entah kenapa 2 band ini selalu identik dengan kebaikan ibukota di kepala saya, tidak terkecuali waktu mereka tampil pada hari kedua di Synchronize Festival.

FSTVLST: Barely art, almost rock. Impresif sesuai dengan slogan mereka. 
Rock n’ Roll Mafia: Band ini tidak pernah benar-benar ada di radar saya, dan ini akan berubah sejak penampilan mereka di hari ketiga.

90’s Hiphop All Star: Siapa yang menyangka beat dan rentetan lirik dari para rapper paruh baya mampu mengguncang Kemayoran dengan hebat.

Terlepas dari kendala teknis yang dialami beberapa band di panggung utama, ini festival yang seru di mana seluruh genre melebur dalam atmosfir menyenangkan. Mudah-mudahan pergerakan ini berlanjut di tahun mendatang.

David Wahyu Hidayat 

Iklan
09
Agu
15

Menjadi Indonesia – Rilisan Musik Lokal Favorit Saya, edisi 2015

Rilisan musik lokal favorit 2015

Menjadi Indonesia – Rilisan musik lokal favorit saya edisi 2015

Sudah lewat beberapa tahun, untuk alasan tertentu (apakah itu kemalasan saya sendiri atau memang tidak ada rilisan yang menarik perhatian) saya tidak menemukan musik menarik yang dihasilkan negeri ini. Namun, semuanya berubah tahun 2014 silam. Semenjak akhir tahun lalu saya menemukan musik Indonesia, khususnya band-band indie baru atau reinkarnasi seperti halnya Rumahsakit, menggeliat kembali dalam sosok yang sangat menggairahkan.

Dibantu dengan era distribusi digital yang tidak lagi membatasi kelokalan sebuah rilisan, beberapa band menggebrak melalui dinamika suara dalam musik yang mereka bawakan. Album-album hebat dirilis yang tidak kalah kualitasnya dengan musik dari luar tanah air. Bahkan untuk pertamakalinya sejak entah berapa lama, tahun ini saya lebih banyak membeli musik rilisan band lokal daripada luar negeri.

Rilisan tersebut, meminjam judul single terbaru Efek Rumah Kaca, mengembalikan mosi bahwa pasar benar-benar bisa diciptakan. Kita akan mencintai musik tersebut karena yang kita dengar adalah penyegaran, pencerahan sekaligus ekstase. Album-album yang dirilis pada 2014-2015 di bawah ini (meminjam kembali kata-kata Efek Rumah Kaca) membuktikan memang masih banyak cara menjadi besar, dan musik adalah salah satu caranya. Rilisan musik di bawah ini adalah sebuah upaya mengembalikan jati diri dalam sebuah bangsa dan negara yang sangat membanggakan, yang melebur keragaman menjadi sesuatu yang majestik. Menjadi Indonesia. Dirgahayu.

FSTVLST – Hits Kitsch

Sudah lama saya tidak mendengar album seperti yang diusung band asal Yogyakarta ini. Menamakan konsep mereka almost rock, barely art, FSTVLST memberikan kebahagiaan dengan nuansa folk pada “Menantang Rasi Bintang”, menyuarakan kegelisahan negeri pada lagu pembuka “Orang-Orang Di Kerumunan” atau menebarkan kengerian pudarnya jati diri yang ditelan era yang dihidupinya dalam “Hal-hal Ini Terjadi”. Dan ketika mereka menutup album tersebut dengan sebuah riff gitar The Smiths/Morrissey-eske dalam “Ayun Buai Zaman”, tidak ada kata lain lagi yang patut disematkan pada album ini selain: BRILIAN!

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Ayun Buai Zaman

 

Elephant Kind – Scenarios, a short film by Elephant Kind

EP dari Elephant Kind ini adalah sesuatu yang unik. Sulit memetakan genre musik apakah ini, tetapi yang pasti mereka sangat senang bermain dan bereksperimen dengan komposisi musik di EP tersebut. Mendengarnya berulang-ulang seperti mendengarkan band yang berisikan anggota The Temper Trap dan Vampire Weekend. Ketukan dan bunyi-bunyian etnis yang keluar dari lagu-lagunya terdengar tidak logis tetapi menyenangkan. Sebuah EP yang akan mencerahkan hari-harimu sambil menerawang cerahnya langit ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Scenario III

The Marsh Kids – The Many failings of Bugsy Moonblood

Album ini akan membius dan membawa kalian ke alam mimpi sebelum kalian menyadarinya. Seperti anestesi yang pelan tapi pasti menumbangkan kesadaran, kita tidak akan pernah ingat 13 judul lagu yang ada di album ini, tetapi yang terjadi setelahnya adalah kita akan menyenadungkan nada-nada lagu di album sesaat setelah kita terjaga dari tidur tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika tidak percaya dengarkan saja lagu seperti: “Molly May”, “Fugly Holiday” dan yang paling berbahaya di antara semuanya: “Bentang Bintang”. Bugsy Moonblood akan menjadi mimpi indah kita, menjadi sebuah pelarian dari kenyataan yang terlalu manis.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Bentang Bintang

 

Rumahsakit – +imeless

Ketika tahu Rumahsakit akan mengeluarkan album baru, saya dan seorang kawan penasaran setengah mati akan seperti apa album baru Rumahsakit setelah ditinggalkan sang vokalis Andri Lemes. Setelah mendapatkan CD-nya, dengan sedikit berdebar saya menekan tombol play, dan kekuatiran saya langsung sirna mendengar ketukan pertama di album ini. +imeless adalah sebuah album yang sangat matang, penuh suasana optimisme yang hanya kita kenal dari tahun 90-an. Vokalis boleh saja baru, komposisi lagu boleh berbeda, tetapi Rumahsakit akan tetap selalu abadi.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Apa yang tak bisa

 

The Young Liars – Rue Massena

The Young Liars adalah sebuah gairah muda yang tidak dapat dikontrol adrenalinnya. Sejak dari detik pertama “I Tried and I’m Tried” mereka memberikan sebuah pernyataan di album mereka bahwa hal yang selalu mereka cita-citakan adalah Rock ‘n’ Roll. Letupan demi letupan mereka lontarkan dengan lagu-lagu seperti “One Eyed Jones” dan “Two Wild Ones”. Tetapi mereka juga punya sisi gelap sentimentil seperti yang dilantunkan dalam penutup “Rue Massena”. Jika mereka dapat mempertahankan dan terus menghasilkan karya seperti debut album ini, maka masa depan musik rock Indonesia ada di tangan yang baik.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: I Tried and I’m Tried

Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah/HAAI

Teriakan Bocah adalah sebuah ledakan berdurasi 23 menit dan HAAI adalah tribut untuk Panbers paling psikedelik yang pernah didengar telinga Nusantara. Kesamaan dari dua album tersebut, keduanya dihasilkan dari band paling berbahaya di tanah air saat ini bernama Kelompok Penerbang Roket. Jika ingin mendengar seperti apa suara musik rock Jakarta tahun 2015 dengarkan dan HANYA dengarkan Kelompok Penerbang Roket, suara-suara lainnya tidak relevan untuk saat ini. Kelompok Penerbang Rocket telah menyelamatkan mereka yang masih percaya pada rock ‘n’ roll. Misi itu telah diselesaikan.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Cekipe dari Teriakan Bocah dan Djakarta City Sound dari HAAI

Stars & Rabbit – Constellation

Salahkan televisi masa kini yang mengusik kopi minggu pagi saya ketika menampilkan sebuah duo dengan suara vokalis seperti Bjork yang berselingkuh dengan gitar akustik. Ketika vokal itu berpadu dengan ritem gitar yang renyah, hari Minggu itu terasa lebih damai dari biasanya, hari minggu itu menetramkan hati, menyejukkan jiwa. Bagaimana kemudian setelah saya gali informasinya bahwa duo yang bernama Stars & Rabbit itu pernah melakukan tur promosi album sampai ke negeri Tiongkok dan albumnya di-mastering oleh seorang John Davis yang terlibat dalam proses remaster dari album-album Led Zeppelin dan proyek rekaman band/artis seperti Primal Scream, Prodigy, Lana Del Rey dan Beady Eye; menimbulkan misteri tambahan dan rasa ingin tahu terhadap duo asal Yogyakarta ini. Selanjutnya ketika “Constellation” debut album mereka telah dimiliki, lagu-lagu yang di dalamnya tidak hanya menyejukkan sebuah minggu pagi tetapi juga melepas beban kepenatan hari-hari melelahkan di ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: The House

Polka Wars – Axis Mundi

Fakta bahwa Polka Wars merekam beberapa materi debut album mereka di New York memberikan beban tambahan yang tidak langsung mengatakan bahwa album ini harus istimewa. Kenyataannya Axis Mundi adalah album atmosferik yang pandai memainkan emosi pendengarnya. Mereka bereksperimen tidak hanya dari penulisan lagu tetapi juga dari sisi instrumen, dengarkan saja misalnya saxophone di akhir dari “Mokele” yang menambahkan kesan kelam tapi berkelas atau bunyi-bunyian alat tiup lainnya di “Coraline” yang menimbulkan kesan misterius pada lagu tersebut. Dengan Axis Mundi, Polka Wars telah meninggalkan jejak musikalis mereka, perlu dicermati ke mana lagi mereka akan melangkah setelah ini.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Mokele

David Wahyu Hidayat




Oktober 2017
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

Blog Stats

  • 141,585 hits