Archive for the 'MusikLokal' Category

08
Jan
17

Ulasan Album: Scaller – Senses

scaller-album-cover-jpeg_orig

 

Scaller

Senses

Swarilis – 2017

 

01 Januari 2017, semua hingar bingar pergantian tahun sudah berlalu. Bersamanya terkubur juga segala kegaduhan dalam kehidupan kita di tahun yang telah silam. Bertepatan dengan datangnya fajar, terhantarkan sebersit harapan akan waktu-waktu yang masih akan dijalani di tahun yang masih perawan ini. Salah satu bentuk harapan baru itu datang dalam bentuk debut album Scaller, Senses.

 

Siapapun yang pernah menyaksikan penampilan Scaller secara langsung, akan tanpa ragu sepakat bahwa duo yang terdiri dari Stella Gareth & Reney Karamoy ini adalah sebuah band yang masuk dalam kategori muda dan berbahaya. Setiap gig mereka bagaikan erupsi-erupsi yang tidak dapat dihindarkan memompa adrenalin mereka yang menyaksikannya. Penampilan mereka ketat, penuh konsentrasi dan terasa seperti pompaan tenaga yang datang dari batang energi yang diasupkan ke badan di pagi hari. Sewaktu secara mengejutkan tanpa basa-basi mereka merilis debut album mereka pada hari pertama di tahun ini, tentu saja pertanyaan itu tidak dapat dielakkan, yaitu apakah debut album ini bisa mewakili bola api yang mereka pancarkan pada penampilan mereka?

 

Jawabannya terdapat dalam 9 lagu yang diproduksi nyaris sempurna oleh Scaller di debut album perdana itu. Mereka tidak sungkan menunjukkan bahwa memang mereka adalah masa depan, dan mengirimkan pesan bahwa 01 Januari 2017 menjadi istimewa bukan hanya itu adalah awal tahun yang baru, tetapi bahwa pada tanggal tersebut Scaller menancapkan tapal batunya dalam sejarah musik negeri ini.

 

Album itu diawali dengan alunan melotron yang dibayangi oleh suara vokal Stella yang setengah mendesah, setengah menyanyikan lirik The Alarms, sebagai lagu pertama album itu; “Always around me and you, that’s enough and in all the endless nights the collide”, seakan ini adalah sebuah kidung yang memulai keagungan versi Scaller. Tapi keheningan tersebut berakhir di lagu pertama itu. Perlahan, tempo dan suasana Senses menanjak dimulai dengan Flair, yang diawali oleh perpaduan petikan gitar akustik dan efek beruntun yang terdengar angular namun mengecoh dengan serangan efek gitar Reney menjelang akhir lagu.

 

Kekuatan vokal Stella yang kadang mengalun merdu membius, di lain waktu bertenaga seperti hendak merobek jiwanya sendiri dan kita sebagai pendengarnya serta keahlian Reney memainkan segala macam efek gitar sebagai peralatan tempurnya menjadi ciri khas dari Scaller sepanjang album ini. Selain itu mereka juga punya banyak kejutan lainnya, seperti alur lagu yang tiba-tiba berubah dari suara rock alternatif khas 90-an menjadi rentetan gitar yang menjadi ciri khas band asal Inggris Foals di lagu ketiga Move In Silence. Atau suara alat musik sentuh yang dimainkan Stella di awal lagu Senses yang pelan merasuk pikiran sebelum ia menaikkan doanya dalam lantunan nyanyian “I haven’t been alive enough when we gaze into the stars, do you sense the Divine? Everything is right” dibarengi serangan gitar Reney yang menghantarkan kita ke nirvana baru musik alternatif tanah air.

 

Memasuki paruh kedua album itu, Scaller menambahkan bahan bakar yang membakar adrenalin Senses dengan lagu seperti Three Thirty yang bertempo lebih cepat bagaikan sebuah jet yang sedang mengincar sasarannya. Sedangkan dalam A Song dan The Youth, Stella bernyanyi seperti hendak merobek jiwanya untuk menenangkan suara generasinya. Di lagu berikutnya, Upheaval yang merupakan sebuah nomor instrumental, giliran Reney yang mengambil alih Senses. Dengan permainan efek gitar yang saling bersahut-sahutan, Reney seperti sosok seorang master Jedi yang sedang bertarung dengan Sith lord memperebutkan supremasi dalam dirinya sendiri, sedangkan mereka yang melihat pertarungan itu, berdansa menikmati keindahannya.

 

Senses ditutup dengan Dawn Is Coming. Kita yang mendengarkan album ini memejamkan mata sekali lagi sementara mentari mulai memunculkan wajahnya diufuk sana diiringi oleh kelugasan lantunan suara Stella dan tajamnya efek gitar Reney yang memancarkan optimisme. Turut bersamanya adalah sebuah harapan baru bahwa Scaller adalah sebuah masa depan, dan harapan itu tidak mengecewakan melainkan bersinar dengan terangnya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

 

26
Des
16

Favorit 2016

photogrid_1482687460277

 

 

Kebahagiaan musikalis saya tahun ini berawal di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016, ketika saya menyaksikan megahnya Efek Rumah Kaca mengantarkan lagu-lagunya pada Konser Sinestesia. 3 bulan setelahnya di penghujung April, saya menjadi saksi di mana lapangan parkir Senayan diubah menjadi lantai dansa psikedelik masal oleh Tame Impala dalam kunjungannya ke Jakarta.

 

Di paruh kedua tahun ini, tanah air dibanjiri dengan banyak pertunjukkan musik, tak luput juga perhelatan festival. Saya beruntung dapat datang di 2 kesempatan yaitu Soundrenaline Festival di GWK, Bali dan Synchronize Festival di Kemayoran (Dengan menyaksikan Rhoma Irama sebagai salah satu momen paling berkesan yang saya rasakan tahun ini). Satu hal yang saya simpulkan dari mendatangi 2 festival itu adalah betapa kayanya negeri ini akan band/artis berkualitas, dan di tengah-tengah segala pertanyaan akan apa artinya menjadi Indonesia, musik yang dibawakan dari band-band tanah air itu yang membuat saya bangga menjadi warga negara Nusantara dan merasakan bersyukurnya menjadi bagian dari nasion yang sangat kaya dan beragam ini. Di dua festival itu, musik mempersatukan keragaman penonton tanpa memandang latar belakangnya, dan kita semua bisa merasakannya dalam atmosfir penuh kebahagiaan.

 

Dalam format trek dan album, tahun ini kembali dipenuhi dengan segala hingar bingar yang membuat kita terpana penuh keheranan, karena musik sekali lagi menyulap hari-hari kita menjadi sesuatu yang istimewa, tak peduli kita sedang berada di rumah, maupun sedang tenggelam dalam tuntutan pekerjaan, sedang sendiri atau bersama orang-orang yang kita kasihi. Di bawah ini, adalah para trek dan album favorit saya tahun ini yang mengubah dan memberi arti hari-hari saya di tahun 2016 ini.

 

 

Trek:

 

Beat The Ordinary – Elephant Kind

 

Lagu ini adalah sebuah pembuktian bahwa Elephant Kind adalah sebuah unit (indie) pop berbakat yang ada di Indonesia saat ini. Setiap hook-nya menyiratkan keoptimisan masa muda dan harapan bahwa dunia bisa ditaklukkan di bawah kaki mereka tanpa harus menaklukkan siapa pun.

 

 

Aviation – The Last Shadow Puppets

 

Ketika Arctic Monkeys sedang tidak menghibur kita dengan apapun yang mereka rilis, Alex Turner menyibukkan diri dengan sahabatnya Miles Kane sebagai The Last Shadow Puppets. Aviation adalah trek tipikal duo tersebut dengan gitar berefek retro serta lirik yang membuat para wanita turun berdansa dan para pria berdiri terpana mengaguminya.

 

Find Me – Kings of Leon

 

13 tahun sejak Youth & Young Manhood dirilis, Kings Of Leon tetap konsisten memainkan rock americana yang mampu diterima oleh masyarakat arus utama. Find Me adalah nomor yang punya daya tarik karena lick berkesinambungan Matthew Followill terlalu manis untuk dilewatkan dan suara vokal Caleb Followill masih tidak dapat ditolak oleh semua orang yang punya selera bagus dalam bermusik.

 

 

Gimme The Love – Jake Bugg

 

Ini adalah lagu paling terus terang dari Jake Bugg. Menyanyi seakan dirinya adalah rapper paling begundal dan dengan semangat seorang Mike Tyson, Gimme The Love adalah pernyataan seorang artis yang tidak kenal kata takut untuk berevolusi.

 

Like Kids – Suede

 

Salah satu kritikus musik menyebutkan Night Thoughts adalah album di mana Suede menemukan keseimbangan antara sisi gelap Dog Man Star dan keseksian Coming Up. Trek ini mencerminkan yang terakhir, ketika Brett Anderson menjadi androginous sejati diiringi binalnya suara gitar Richard Oakes.

 

Million Eyes – The Coral

 

Setiap kali The Coral mengeluarkan album, setiap kali itu pula saya terpana karenanya. Distance Inbetween adalah sebuah album ajaib, dan trek seperti Million Eyes adalah buktinya. Para sonic scouser itu menukar pop-folk mereka dengan psikedelia berat namun harmonis di lagu itu. Memasuki 14 tahun karir bermusik mereka hal itu adalah sebuah konsekuensi yang sangat logis untuk diambil, sekaligus patut diacungkan jempol sebagai tanda betapa briliannya mereka.

 

Serigala – Indische Party

 

Entah atas alasan apa, menurut saya Analog adalah album yang sangat identik dengan The Velvet Underground dengan Serigala sebagai trek andalannya. Trek  itu membakar semangat, seperti layaknya  seorang pemuda yang akan menerkam dan menaklukkan CBGB di malam menuju Minggu.

 

Threat Of Joy – The Strokes

 

Lagu ini adalah sebuah pertanda bahwa The Strokes masih dapat dengan mudah menciptakan lagu yang sangat melodis seandainya mereka mau sepakat untuk melakukannya. Tanda-tanda akan kecintaan mereka terhadap musik yang mudah dipasarkan seperti waktu mereka menghantarkan Is This It, terdengar dengan gamblang di lagu ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi barometer untuk lagu-lagu mendatang yang akan dikirimkan The Strokes ke planet ini.

 

Candu Baru – Zatkimia

 

Ketika mendengarkan Zatkimia pertama kali di Soundrenaline, saya terhenyak karena melihat sebuah band yang sangat menyegarkan dan tanpa rasa takut menguasai panggung di GWK waktu itu. Band ini adalah pahlawan baru pulau dewata, dengan musik yang kental akan aroma grunge dan rangkaian musik alternative yang kita kenal di tahun 90-an. Walaupun belum mengeluarkan album secara penuh, lagu yang bertemakan kecanduan manusia akan segala piranti digital ini, menjadi semacam pertanda bahwa semesta akan menyertai masa depan band ini.

 

The Journey Starts Tonight – Rumahsakit

 

Anak indie atau bukan, penggemar Rumahsakit atau bukan, lagu ini wajib menjadi soundtrack baru mereka yang sedang kasmaran serta mencintai kehidupan. Daya tarik pop lagu ini terlalu besar dengan lirik yang sangat optimis “’Cause you are so bright And now I’m blinded by The magic in your smile” dan riff gitar apik yang akan membuat kita bersiul bahagia setiap pagi. Jika semuanya tergantung kepada saya, lagu ini seharusnya berada di setiap siaran tv dan radio yang mempromosikan lagu Indonesia, karena ini adalah lagu bagus dan setiap orang harus mengetahuinya.

 

 

Wave – Heals

 

Tradisi bahwa Bandung selalu memproduksi band beraliran shoegaze yang tidak kalah kualitasnya dengan band yang berasal dari Oxford maupun Stockholm dilanjutkan dengan Heals. Merilis beberapa single di tahun ini, dengan Wave adalah salah satunya, Heals adalah badai suara yang tidak dapat dilewati. Kualitas band dan lagu ini terlalu baik, sehingga sudah seharusnya kerajaan shoegaze itu di kudeta, dan ibukotanya dipindahkan ke Bandung.

 

Stunt Queen – Bloc Party

 

Lagu ini adalah definisi Bloc Party MK II, di mana saat mereka bercumbu dengan aroma elektronika tidak menjadikan keluaran band ini menjadi janggal tetapi merupakan sesuatu yang patut dipeluk dan dinikmati. Saya beruntung menyaksikan Bloc Party dengan komposisi personil baru di Bali, September lalu. Yang saya saksikan adalah sebuah band yang kembali menikmati posisinya sebagai salah satu band berpengaruh di dekade lalu dan itu terasa dan terdengar dalam Stunt Queen.

 

Beautiful Thing – The Stone Roses

 

Tahun ini dua kali saya bangun dini hari bukan untuk sepakbola, tetapi untuk mendengarkan pemutaran perdana lagu terbaru dari The Stone Roses. Lagu yang dirilis kedua, seperti judulnya adalah sesuatu yang indah. Jika hiatus panjang itu tidak pernah terjadi, dengan wah-wah yang mendominasi dan hook-hook psikedelik dari John Squire serta vokal biblikal Ian Brown, lagu ini tidak bisa tidak merupakan penerus yang sah dari Fools Gold.

 

Finally First – Beyond The Wizard Sleeve

 

Hentakan drum repetitif itu sukses menghanyutkan kita ke dalam era di mana definisi musik elektronik adalah Chemical Brothers dan Everything But The Girl, serta acid house adalah musik yang kita cintai kala berpesta di pesisir Ibiza pada puncak dekade 90an.

 

Extra Mile – Kimokal

 

Sebenarnya ketukan-ketukan yang mengawali lagu ini terasa janggal ritmenya namun kaki tidak bisa diam untuk berdansa dengannya. Sementara itu vokal Kallula yang meramban otak kita membentuk sebuah halusinasi nyaman dalam alam pikiran. Sesaat kita lupa akan dunia nyata, dan memasuki kemayaan indah versi Kimokal.

 

Identikit – Radiohead

 

“Broken hearts make it rain” kata-kata itu diulang Thom Yorke di lagu ini seperti mantra. Apakah ini lagu patah hati Radiohead yang pertama? Sesungguhnya tidak peduli ini lagu patah hati atau bukan. Dengarkan musik yang mengiringinya; ketukan-ketukan ganjil itu, suara synth yang menghantui ketika Yorke menyanyikan kata-kata di atas dan rentetan gitar yang membentuk klimaks di akhir lagu. Mendengarkan semua itu, kita tahu bahwa Radiohead tetap dan masih sebuah band jenius yang tidak ada tandingannya di abad ini.

 

 

Monumen – The Trees and The Wild

 

The Trees and The Wild benar-benar membangun sebuah monumen yang dilapisi tembok-tembok suara menakjubkan di lagu ini. Ia seperti ledakan emosi paling hebat dalam tubuhmu dengan vokal yang menghantui, hentakan drum yang konsisten mendeterminasi jiwa dan serangan gitar penuh dengan efek yang menyeruak dan berkoloni di dalam alam pikiran.

 

Merdeka – Efek Rumah Kaca

 

Efek Rumah Kaca merilis single mereka ini menjelang hari kemerdekaan RI yang ke 71. Sungguh, saat mendengarkan Efek Rumah Kaca, salah satunya melalui lagu ini, kita selalu diingatkan terus menerus akan makna menjadi manusia seutuhnya dan menjadi Indonesia sepenuhnya. Lagu ini adalah sebuah harapan.  

 

Pekerja – Bangkutaman

 

Lagu latar buat para pekerja-pekerja di metropolis Nusantara. Memang perjalanan menuju dan dari tempat bekerja bisa saja berbuat kejam kepada kita. Tuntutan atasan dan pekerjaan bisa membuat lupa bahwa kita seorang manusia. Lagu dengan nuansa folk ini mengingatkan kita bahwa sesekali tidak ada salahnya menghela nafas sesaat dan menjadi rileks sejenak, sebelum meneruskan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

 

Modern Soul – James Blake

 

Menjelang tengah malam dan jam-jam setelahnya adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan musik James Blake, tak terkecuali lagu ini. Musiknya akan menyelimuti kita dengan kegundahan yang menyenangkan, ia akan mengambil porsi kekuatiran yang dibawa oleh kegelapan malam, sambil memberi sedikit nyawa kepada fajar yang sebentar lagi akan datang.

 

Cahaya – Tulus

 

“Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya, aku pastikan jalanmu terang”, begitulah janji Tulus kepada kita. Di tahun  2016 ini, bintang penyanyi yang satu ini masih bersinar terang benderang, dan turut bercahaya bersamanya adalah segenap planet pop tanah air.

 

 

Album:

 

Zaman, Zaman – The Trees & The Wild

 

Sesungguhnya dan secara instan album kedua The Trees & The Wild ini adalah sebuah candu yang takkan habis masa pengaruhnya setelah lama didengarkan. Siapapun yang beruntung pernah menyaksikan penampilan band ini secara langsung di tahun yang penting bagi mereka ini, akan merasa pengar musikalis untuk waktu yang berkepanjangan setelahnya. Karena seperti albumnya, mereka telah memberikan sesuatu yang terlalu atmosferik untuk dilepaskan, magis dan monumental sekaligus.

 

A Moon Shaped Pool – Radiohead

 

Album brilian dan menghantui sanubari yang mendeskripsikan Radiohead dalam fase terbaiknya. Mungkin mereka tidak lagi membuat sebuah opera rock seperti Paranoid Android, ataupun mengantarkan trek bernuansa Stanley Kubrick seperti Idioteque, namun silahkan dengarkan Daydreaming dan Identikit, keduanya adalah bagian dari keajaiban yang hanya dapat dihantarkan oleh Radiohead.

 

Analog  – Indische Party

 

Mendengarkan album ini, pikiran lantas teringat kepada New York, Velvet Underground serta musik latar mini seri HBO Vinyl, dan itu adalah sebuah komplimen! Mendengarkan Babe You Got A Hold On Me Somehow seperti mendengarkan Lou Reed sedang berkontemplasi, vokal Tika Pramesti di Ingin Dekatmu mengalun adem dan mengingatkan akan keseksian Nico, sedangkan Serigala mempersiapkanmu menerkam malam minggu paling liar di CBGB!!!

 

Distance Inbetween – The Coral

 

Tidak ada yang berani memperkirakan bahwa The Coral masih sanggup mengeluarkan album, dan betapa sungguh dasyhatnya gelombang yang dikirimkan oleh Distance Inbetween. Serangan-serangan psikedelia kelas berat bertubi-tubi dipancarkan album ini dalam lagu seperti Chasing The Tail Of A Dream maupun Million Eyes. Selayaknya pembaruan yang telah dilakukan oleh seorang Juergen Klopp dalam tubuh tim bola merah kota asal band tersebut, sudah saatnya pula kita balik percaya bahwa The Coral telah kembali dan merestorasi kejayaan mereka.

 

The Soft Bounce – Beyond The Wizard Sleeve

 

Beyond The Wizard Sleeve adalah sebuah kursus bagaimana membuat musik elektronik terdengar sangat organik, dengan mencampurkan elemen psikedelia dan acid house. Ada elemen nostalgia tahun 90-an di sana, mendengarkan album ini seperti mendengarkan The Chemical Brothers dicampur oleh Everything But The Girl yang sedang diet mayo. Jika tidak percaya dengarkan saja Diagram Girl, Creation ataupun hantaman drum penuh ekstase itu dalam Finally First.

 

O – Kimokal

 

Kimokal adalah bukti bahwa geliat musik (indie) Indonesia tidak melulu harus menampilkan gitar sebagai senjata utamanya. Dibalut dengan untaian bit elektronika dan sentuhan post-dubstep, album debut mereka O akan memberikan abstraksi multi warna ketika kita mendengarkannya. Kadang bayangan itu tentang kilau lampu ibukota yang mempesona, kadang tentang sebuah metropolis entah di mana yang memanggil kita untuk berdansa.

 

Walls – Kings Of Leon

 

Setelah album ini dirilis, segala perdebatan dan perbandingan tentang siapa yang lebih baik dan lebih besar antara Followill bersaudara dan lima pemuda dari New York yang menamakan dirinya The Strokes, sudah dan harus diakhiri untuk selamanya. Jika The Strokes seringkali kehilangan arah antara ingin meneruskan warisan Is This It atau membuka dimensi baru di album-album setelahnya, Kings Of Leon mendirikan dinasti yang dibangun dari setiap rilisannya. Walls adalah buktinya.

 

City J – Elephant Kind

 

Terlepas dari sumpah serapah yang bertebaran dengan joroknya di sudut-sudut album ini, dan lagu-lagu yang dipotong dengan janggal ketika kalian sedang asyik-asyiknya mendengarkan (itu mungkin disengaja demikian), City J adalah karya debut pop yang sangat sukses. Album itu diawali dengan Beat The Ordinary yang menebar harum keadaan indie pop Indonesia 2016, dan kemudian dituntaskan dengan pamungkas dengan trek seperti Montage dan The Saviour.

 

Hymns – Bloc Party

 

Sejujurnya setelah mencintai band ini dengan sangat semenjak pertengahan dekade lalu, saya sempat skeptis menyambut album pertama Bloc Party sepeninggalan Gordon Moakes dan Matt Tong yang digantikan dengan Justin Harris & Louise Bartle. Hymns bukanlah album yang menjatuhkan bom seperti Silent Alarm atau bahkan Four sekalipun, tetapi mendengarkannya seperti bertemu seorang teman lama yang selalu tahu cara mengusir kegundahan dengan cara yang lebih dewasa dan menenangkan. Euforia dekade lalu telah berakhir, dan di tengah waktu yang tak kenal arah ini, Hymns datang sebagai penyembuhan agar kita tetap waras.

 

Night Thoughts – Suede

 

Dengan banjirnya layanan streaming musik termasuk di tanah air ini, tahun ini adalah waktu yang dinyatakan sebagai tahun matinya format album. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Di genre yang lebih dekat dengan arus utama dikatakan Beyonce, Drake dan Kanye menjadi penyelamat format tersebut, sedangkan untuk kita yang terjebak dengan musik dari 2 dekade lalu, Suede menjadi penyelamat dengan merilis Night Thoughts yang dikemas dalam musik yang tidak terputus antar treknya dan bertautan dalam cerita satu sama lain serta didukung oleh sebuah film yang menjadi visualisasi musiknya. Night Thoughts adalah album matang dari Suede yang mengkombinasikan kegelapan Dog Man Star dan keseksian Coming Up dalam album ini. Jika semua band/artis yang reuni setelah bubar memproduksi karya seperti Suede, maka kita semua akan menjadi orang yang lebih bahagia di dunia ini.

 

David Wahyu Hidayat

13
Nov
16

Impresi 2 hari di Soundrenaline Festival 2016

Di awal September lalu, tepatnya pada 3 & 4 September 2016, melalui sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Rolling Stone Indonesia tentang konser terbaik yang pernah disaksikan, saya berkesempatan menyaksikan Soundrenaline Festival setelah terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi tersebut. Pemenang lainnya adalah: Tantan Rahmatullah (https://konstelasikata.wordpress.com/) & Adam Muslihat Santika Putra (https://sayabercengkerama.wordpress.com/).

Kami bertiga diberangkatkan oleh Rolling Stone Indonesia dan selama dua hari memiliki pengalaman tak terlupakan menyaksikan festival terbesar negeri ini sekaligus berkenalan sedikit tentang sisi jurnalisme musik dari teman-teman Rolling Stone Indonesia yang menemani kami. Sebagai “reporter tamu” kami pun diberikan pekerjaan rumah untuk menulis liputan dari Soundrenaline 2016. Di bawah ini adalah impresi saya dari dua hari menghadiri festival terbesar Indonesia itu.

kolase-soundrenaline

Liputan saya tentang Soundrenaline 2016 yang dimuat di situs rollingstone.co.id :

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/26/140509678/1093/binar-hidup-bergelora-dalam-balutan-adrenalin-suara-soundrenaline-2016

rolling-stone-indonesia-binar-hidup-bergelora

Liputan dari Adam dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509679/1093/soundrenaline-2016-gagasan-bersejarah-kancah-musik-indonesia

Liputan dari Tantan dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509680/1093/di-bawah-bendera-musik

Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 yang menampilkan kami bertiga sebagai pemenang kompetisi menulis tersebut:

rsi-oktober-2016-soundrenaline-2016

David Wahyu Hidayat

31
Okt
16

Impresi dari 3 hari di Synchronize Festival 2016

Rhoma Irama: Kharisma tanpa batas atas kecintaan tanah air dengan musik yang mampu menggoyangkan semua pecinta musik tanpa terkecuali.

Barasuara: Masih tidak tergoyahkan posisinya sebagai band paling menggemparkan saat ini.

The Trees & The Wild: Magis & monumental, momen favorit pribadi 3 hari kemarin.

Efek Rumah Kaca: Tiap konser ERK dengan formasi lengkap adalah sesuatu yang istimewa.

The Milo dan Heals: 2 band ini meneruskan tradisi dan persepsi bahwa band shoegaze terbaik Indonesia adalah dari Bandung.

The Upstairs: Jimi Multhazam adalah pencerita handal dan bandnya selalu berhasil membuat anak indie disko darurat di manapun kapanpun.

Scaller: Apalagi yang mau dikatakan tentang band ini? Mereka adalah masa kini dan masa depan! 

Pure Saturday: Menutup Jumat malam dan memulai hari Sabtu dengan bahagia adalah esensi Pure Saturday.

Payung Teduh dan Float: Di tengah hingar bingar Festival, musik dari 2 band ini bagai oase yang sejuk dan menenangkan.

Elephant Kind: Terkendala gangguan teknis pada gitar utama mereka, membuat penampilannya di minggu sore sedikit tersendat. Untungnya mereka punya lagu yang membuat penonton berinteraksi seru khas generasi milenial yang membuat penampilan itu berkesan.

Kelompok Penerbang Roket: Liar dan gas penuh tanpa rem, seperti yang selalu diharapkan dari mereka. 

The SIGIT: Rok n’ Rol bukanlah hanya sebuah konsep, The SIGIT itu perwujudannya.

The Brandals dan The Adams: Banyak hal yang menjadi ciri khas Jakarta, dari yang baik maupun buruk. Entah kenapa 2 band ini selalu identik dengan kebaikan ibukota di kepala saya, tidak terkecuali waktu mereka tampil pada hari kedua di Synchronize Festival.

FSTVLST: Barely art, almost rock. Impresif sesuai dengan slogan mereka. 
Rock n’ Roll Mafia: Band ini tidak pernah benar-benar ada di radar saya, dan ini akan berubah sejak penampilan mereka di hari ketiga.

90’s Hiphop All Star: Siapa yang menyangka beat dan rentetan lirik dari para rapper paruh baya mampu mengguncang Kemayoran dengan hebat.

Terlepas dari kendala teknis yang dialami beberapa band di panggung utama, ini festival yang seru di mana seluruh genre melebur dalam atmosfir menyenangkan. Mudah-mudahan pergerakan ini berlanjut di tahun mendatang.

David Wahyu Hidayat 

17
Sep
16

Ulasan Album: The Trees & The Wild – Zaman, Zaman

zaman-zaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Trees & The Wild

Zaman, Zaman

Blank Orb Recordings – 2016

 

Ekspektasi dan antisipasi cenderung menghancurkan segala yang kita harapkan dari sesuatu. Hal-hal paling magis terjadi ketika minimnya pengetahuan terhadap sesuatu yang akan datang, memanipulasi dan menguasai alam pikiran kita ketika hal-hal tersebut dihadapi. Itulah yang saya rasakan mendengarkan Zaman, Zaman; album terbaru The Trees & The Wild yang menggulung indera pendengaran saya dalam pertemuan pertamanya.

 

Sebelum album ini dikeluarkan, jujur saya bukanlah fans band ini. Pertama kali ingin mengoleksi musik mereka, ketika majalah Time menganjurkan bahwa ini adalah salah satu band yang harus didengar dari Asia Tenggara. Setelah membaca artikel itu, saya memutuskan membeli Rasuk, lalu untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan musik dari album itu jarang saya kunjungi kembali (mungkin itu salah satu yang harus berubah sejak Zaman, Zaman).

 

Tetapi Zaman, Zaman adalah monster yang berbeda. Jarak 7 tahun antara Rasuk dan album ini mentransformasi The Trees & The Wild menjadi sebuah band yang berbeda sama sekali (saya belum pernah melihat mereka secara langsung, jadi hanya dapat menilai dari kedua album itu). Ini adalah album dengan bentang suara yang melintang lebih jauh dari Sabang sampai Merauke, ia menghipnotis, ia mempesona dan ia adalah sosok yang majestik yang pernah diciptakan oleh sebuah band dari negara ini, dan untuk itu ia layak dipuja.

 

Dari titel treknya pada lagu pertama, album ini sudah memberikan pernyataannya. Waktu Empati Tamako merasuki telinga kita selama 14:35 menit pada lagu kedua, akal sehat kita akan mengalah dan yang ada di kepala hanyalah sebuah pikiran yang berkata “Ya, Tuhan, ini candu!!!”. Empatbelas setengah menit yang terlalui dalam lagu itu bukan merupakan menit-menit yang terbuang sia-sia, itu adalah epik tanpa batas diiringi mantra “Terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya” yang dinyanyikan menembus karsa.

 

Sesuatu yang monumental didirikan oleh The Trees & The Wild di lagu yang mereka beri nama Monumen. Jika Thom Yorke & Johnny Greenwood dari Radiohead pernah mendengarkan lagu ini, mereka akan bangga sekaligus iri terhadapnya, berharap band mereka yang menciptakan lagu ini. Tapal batu itu lalu dibangun lebih megah dalam Tuah/Sebak, 2 fragmen lagu yang dijadikan satu di mana emosi dicampuraduk tanpa henti dan mencapai klimaksnya secara paripurna.

 

Yang fantastis dari album ini adalah cara mereka mengemas lagu demi lagu sebagai sebuah kesatuan musikalis. Suara instrumen dikedepankan membentuk tembok suara yang agung, vokal berkesan tidak mendapatkan tempatnya sebagai pemain utama, tetapi ia menghipnotis perlahan, membuat pendengarnya menerka dan memberikan interpretasinya sendiri terhadap setiap lagu di Zaman, Zaman. 7 trek yang dikemas dalam 53:28 menit itu, dan diakhiri oleh lagu terakhir berjudul Saija, adalah sebuah perjalanan sonik yang penuh kejayaan.

 

Zaman, Zaman adalah sebuah candu yang sulit untuk diredakan efeknya. Ia tidak akan langsung membuat kalian melayang, namun perlahan tapi pasti dalam setiap pemutarannya di telinga kalian, musiknya akan merayap, merasuki jiwa, membuat kita layaknya seorang pemadat yang menemukan candu terbaiknya, tenggelam dalam sebuah ekstase suara sampai pada kesudahan zaman.

 

David Wahyu Hidayat

 

Zaman, Zaman tersedia secara digital di:

iTunes: https://itunes.apple.com/album/id1143213241

Spotify

 

The Trees & The Wild:

Twitter: @ttatw

Instagram: treeswild

 

17
Okt
15

Ulasan Album: Barasuara – Taifun

BArasuara Taifun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Barasuara

Taifun

Juni Suara Kreasi – 2015

 

Tersedia di iTunes: http://smarturl.it/BarasuaraTaifun

Sebelum kalian semua membaca lebih lanjut tulisan ini, beli dan unduh album ini dari tautan di atas, nyalakan di pemutar musik kalian, kencangkan suaranya ke level yang paling tinggi dan biarkan kalian terhanyut dengan semua keajaiban yang ada dari kesembilan lagu tersebut, karena sejujurnya kata-kata saya tidak akan cukup untuk menggambarkannya. Sesungguhnya Barasuara dengan “Taifun” telah menghadirkan sebuah kemagisan yang pada ranah album musik Indonesia terakhir saya dengar dari Efek Rumah Kaca.

Menggebrak sejak awal dengan “Nyala Suara”, album ini adalah testimoni dari kecerdasan Iga Massardi (vokal & gitar), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bas), Marco Steffiano (drum), Asteriska Widiantini (vokal), dan Puti Chitara (vokal); dalam mengemas aransemen musik dan alunan lirik Barasuara. Di saat kita merasa lagu ini sudah mencapai klimaksnya, mereka membelokkannya ke arah lain atau meningkatkan tahap kecanduan kita akan musik mereka seperti terjadi dalam duel gitar Iga dan TJ di menit 3:42 lagu ini. Jika kalian menganggap musik adalah candu maka lagu ini adalah candu pamungkas.

Satu hal yang dapat dikenali dari musik Barasuara adalah ia dipenuhi dengan permainan perkusi yang menarik dan mengajak kita semua ingin menari, seperti yang didengar pada awal “Sendu Melagu” ataupun “Bahas Bahasa”. Begitu juga dengan harmonisasi vokal yang dilakukan oleh Puti dan Asteriska, membuat band ini lebih dari hanya sekedar band rock 5 orang biasa.

Mendengarkan “Hagia” seperti menemukan sepupu jauh dari lagu “Jalang”-nya ERK yang telah lama menghilang. Lagu ini menyuarakan bahwa apapun perbedaan kita, semuanya itu bukan merupakan batasan ataupun halangan bagi kita untuk melebur, karena seperti yang mereka suarakan “Seperti kami pun mengampuni, yang bersalah kepada kami”. Ini adalah bayangan sangat indah tentang kehidupan, menggugah.

Adapun episentrum album ini bagi saya ada pada “Api dan Lentera”. Lagu ini menaikkan klimaks yang telah ada di lagu-lagu sebelumnya sebanyak tujuh tingkat. Layaknya seperti taifun, ia datang kembali, menghujam dengan drum, menggulung dengan detak bas, menusuk tajam dengan serangan gitar dari kanan dan kiri, mengajak kita semua menari dengan teriakan “Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan api dan lenteramu” sampai akhirnya dengan penuh kedamaian kita semua terlena karena “Kita kan pulang, dengan waktu yang terbuang, dan kenangan yang berjalan bersama”.

Setiap lagu yang ada di “Taifun” seperti sebuah soundtrack entah itu pada fase pencarian jati diri, berusaha bangkit lagi dari kegagalan, atau meninggalkan masa lalu yang kelam. Dengarkan saja “Menunggang Badai”, “Tarintih” dan “Mengunci Ingatan” maka layar film kehidupan di otak kita masing-masing akan memiliki soundtrack terbarunya diiringi lagu-lagu Barasuara.

Album ini ditutup dengan indahnya oleh lagu yang diambil dari judul albumnya “Taifun”. Petikan gitar yang nyaman akan mempesona kita, sambil meresapi kata-kata yang melantun di dalamnya “Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu, kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu”.

Jika kalian tidak terhempas dari tempat kalian berpijak atau dari sofa tempat kalian duduk dengan nyaman setelah mendengarkan “Taifun”, maka ada kesalahan esensial pada telinga dan jiwa kalian. Karena Barasuara akan memporak-porandakan jiwa kalian dan memberikan telinga kalian sesuatu yang baru untuk didengar, yang akan memberikan kita semua sebuah awal baru di bawah langit yang sama. Seperti taifun.

 

David Wahyu Hidayat

Tautan lainnya:

Artikel Rolling Stone Indonesia: Menyalakan Barasuara Perjalanan panjang band baru paling memukau di Indonesia saat ini http://bit.ly/1R0xl6t

Sounds From The Corner: Session #13 Barasuara:

 

 

 

09
Agu
15

Menjadi Indonesia – Rilisan Musik Lokal Favorit Saya, edisi 2015

Rilisan musik lokal favorit 2015

Menjadi Indonesia – Rilisan musik lokal favorit saya edisi 2015

Sudah lewat beberapa tahun, untuk alasan tertentu (apakah itu kemalasan saya sendiri atau memang tidak ada rilisan yang menarik perhatian) saya tidak menemukan musik menarik yang dihasilkan negeri ini. Namun, semuanya berubah tahun 2014 silam. Semenjak akhir tahun lalu saya menemukan musik Indonesia, khususnya band-band indie baru atau reinkarnasi seperti halnya Rumahsakit, menggeliat kembali dalam sosok yang sangat menggairahkan.

Dibantu dengan era distribusi digital yang tidak lagi membatasi kelokalan sebuah rilisan, beberapa band menggebrak melalui dinamika suara dalam musik yang mereka bawakan. Album-album hebat dirilis yang tidak kalah kualitasnya dengan musik dari luar tanah air. Bahkan untuk pertamakalinya sejak entah berapa lama, tahun ini saya lebih banyak membeli musik rilisan band lokal daripada luar negeri.

Rilisan tersebut, meminjam judul single terbaru Efek Rumah Kaca, mengembalikan mosi bahwa pasar benar-benar bisa diciptakan. Kita akan mencintai musik tersebut karena yang kita dengar adalah penyegaran, pencerahan sekaligus ekstase. Album-album yang dirilis pada 2014-2015 di bawah ini (meminjam kembali kata-kata Efek Rumah Kaca) membuktikan memang masih banyak cara menjadi besar, dan musik adalah salah satu caranya. Rilisan musik di bawah ini adalah sebuah upaya mengembalikan jati diri dalam sebuah bangsa dan negara yang sangat membanggakan, yang melebur keragaman menjadi sesuatu yang majestik. Menjadi Indonesia. Dirgahayu.

FSTVLST – Hits Kitsch

Sudah lama saya tidak mendengar album seperti yang diusung band asal Yogyakarta ini. Menamakan konsep mereka almost rock, barely art, FSTVLST memberikan kebahagiaan dengan nuansa folk pada “Menantang Rasi Bintang”, menyuarakan kegelisahan negeri pada lagu pembuka “Orang-Orang Di Kerumunan” atau menebarkan kengerian pudarnya jati diri yang ditelan era yang dihidupinya dalam “Hal-hal Ini Terjadi”. Dan ketika mereka menutup album tersebut dengan sebuah riff gitar The Smiths/Morrissey-eske dalam “Ayun Buai Zaman”, tidak ada kata lain lagi yang patut disematkan pada album ini selain: BRILIAN!

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Ayun Buai Zaman

 

Elephant Kind – Scenarios, a short film by Elephant Kind

EP dari Elephant Kind ini adalah sesuatu yang unik. Sulit memetakan genre musik apakah ini, tetapi yang pasti mereka sangat senang bermain dan bereksperimen dengan komposisi musik di EP tersebut. Mendengarnya berulang-ulang seperti mendengarkan band yang berisikan anggota The Temper Trap dan Vampire Weekend. Ketukan dan bunyi-bunyian etnis yang keluar dari lagu-lagunya terdengar tidak logis tetapi menyenangkan. Sebuah EP yang akan mencerahkan hari-harimu sambil menerawang cerahnya langit ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Scenario III

The Marsh Kids – The Many failings of Bugsy Moonblood

Album ini akan membius dan membawa kalian ke alam mimpi sebelum kalian menyadarinya. Seperti anestesi yang pelan tapi pasti menumbangkan kesadaran, kita tidak akan pernah ingat 13 judul lagu yang ada di album ini, tetapi yang terjadi setelahnya adalah kita akan menyenadungkan nada-nada lagu di album sesaat setelah kita terjaga dari tidur tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika tidak percaya dengarkan saja lagu seperti: “Molly May”, “Fugly Holiday” dan yang paling berbahaya di antara semuanya: “Bentang Bintang”. Bugsy Moonblood akan menjadi mimpi indah kita, menjadi sebuah pelarian dari kenyataan yang terlalu manis.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Bentang Bintang

 

Rumahsakit – +imeless

Ketika tahu Rumahsakit akan mengeluarkan album baru, saya dan seorang kawan penasaran setengah mati akan seperti apa album baru Rumahsakit setelah ditinggalkan sang vokalis Andri Lemes. Setelah mendapatkan CD-nya, dengan sedikit berdebar saya menekan tombol play, dan kekuatiran saya langsung sirna mendengar ketukan pertama di album ini. +imeless adalah sebuah album yang sangat matang, penuh suasana optimisme yang hanya kita kenal dari tahun 90-an. Vokalis boleh saja baru, komposisi lagu boleh berbeda, tetapi Rumahsakit akan tetap selalu abadi.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Apa yang tak bisa

 

The Young Liars – Rue Massena

The Young Liars adalah sebuah gairah muda yang tidak dapat dikontrol adrenalinnya. Sejak dari detik pertama “I Tried and I’m Tried” mereka memberikan sebuah pernyataan di album mereka bahwa hal yang selalu mereka cita-citakan adalah Rock ‘n’ Roll. Letupan demi letupan mereka lontarkan dengan lagu-lagu seperti “One Eyed Jones” dan “Two Wild Ones”. Tetapi mereka juga punya sisi gelap sentimentil seperti yang dilantunkan dalam penutup “Rue Massena”. Jika mereka dapat mempertahankan dan terus menghasilkan karya seperti debut album ini, maka masa depan musik rock Indonesia ada di tangan yang baik.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: I Tried and I’m Tried

Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah/HAAI

Teriakan Bocah adalah sebuah ledakan berdurasi 23 menit dan HAAI adalah tribut untuk Panbers paling psikedelik yang pernah didengar telinga Nusantara. Kesamaan dari dua album tersebut, keduanya dihasilkan dari band paling berbahaya di tanah air saat ini bernama Kelompok Penerbang Roket. Jika ingin mendengar seperti apa suara musik rock Jakarta tahun 2015 dengarkan dan HANYA dengarkan Kelompok Penerbang Roket, suara-suara lainnya tidak relevan untuk saat ini. Kelompok Penerbang Rocket telah menyelamatkan mereka yang masih percaya pada rock ‘n’ roll. Misi itu telah diselesaikan.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Cekipe dari Teriakan Bocah dan Djakarta City Sound dari HAAI

Stars & Rabbit – Constellation

Salahkan televisi masa kini yang mengusik kopi minggu pagi saya ketika menampilkan sebuah duo dengan suara vokalis seperti Bjork yang berselingkuh dengan gitar akustik. Ketika vokal itu berpadu dengan ritem gitar yang renyah, hari Minggu itu terasa lebih damai dari biasanya, hari minggu itu menetramkan hati, menyejukkan jiwa. Bagaimana kemudian setelah saya gali informasinya bahwa duo yang bernama Stars & Rabbit itu pernah melakukan tur promosi album sampai ke negeri Tiongkok dan albumnya di-mastering oleh seorang John Davis yang terlibat dalam proses remaster dari album-album Led Zeppelin dan proyek rekaman band/artis seperti Primal Scream, Prodigy, Lana Del Rey dan Beady Eye; menimbulkan misteri tambahan dan rasa ingin tahu terhadap duo asal Yogyakarta ini. Selanjutnya ketika “Constellation” debut album mereka telah dimiliki, lagu-lagu yang di dalamnya tidak hanya menyejukkan sebuah minggu pagi tetapi juga melepas beban kepenatan hari-hari melelahkan di ibukota.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: The House

Polka Wars – Axis Mundi

Fakta bahwa Polka Wars merekam beberapa materi debut album mereka di New York memberikan beban tambahan yang tidak langsung mengatakan bahwa album ini harus istimewa. Kenyataannya Axis Mundi adalah album atmosferik yang pandai memainkan emosi pendengarnya. Mereka bereksperimen tidak hanya dari penulisan lagu tetapi juga dari sisi instrumen, dengarkan saja misalnya saxophone di akhir dari “Mokele” yang menambahkan kesan kelam tapi berkelas atau bunyi-bunyian alat tiup lainnya di “Coraline” yang menimbulkan kesan misterius pada lagu tersebut. Dengan Axis Mundi, Polka Wars telah meninggalkan jejak musikalis mereka, perlu dicermati ke mana lagi mereka akan melangkah setelah ini.

Lagu untuk dicomot sebagai playlist: Mokele

David Wahyu Hidayat




April 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Categories

Blog Stats

  • 139,491 hits