Archive for the 'Radiohead' Category

26
Des
16

Favorit 2016

photogrid_1482687460277

 

 

Kebahagiaan musikalis saya tahun ini berawal di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016, ketika saya menyaksikan megahnya Efek Rumah Kaca mengantarkan lagu-lagunya pada Konser Sinestesia. 3 bulan setelahnya di penghujung April, saya menjadi saksi di mana lapangan parkir Senayan diubah menjadi lantai dansa psikedelik masal oleh Tame Impala dalam kunjungannya ke Jakarta.

 

Di paruh kedua tahun ini, tanah air dibanjiri dengan banyak pertunjukkan musik, tak luput juga perhelatan festival. Saya beruntung dapat datang di 2 kesempatan yaitu Soundrenaline Festival di GWK, Bali dan Synchronize Festival di Kemayoran (Dengan menyaksikan Rhoma Irama sebagai salah satu momen paling berkesan yang saya rasakan tahun ini). Satu hal yang saya simpulkan dari mendatangi 2 festival itu adalah betapa kayanya negeri ini akan band/artis berkualitas, dan di tengah-tengah segala pertanyaan akan apa artinya menjadi Indonesia, musik yang dibawakan dari band-band tanah air itu yang membuat saya bangga menjadi warga negara Nusantara dan merasakan bersyukurnya menjadi bagian dari nasion yang sangat kaya dan beragam ini. Di dua festival itu, musik mempersatukan keragaman penonton tanpa memandang latar belakangnya, dan kita semua bisa merasakannya dalam atmosfir penuh kebahagiaan.

 

Dalam format trek dan album, tahun ini kembali dipenuhi dengan segala hingar bingar yang membuat kita terpana penuh keheranan, karena musik sekali lagi menyulap hari-hari kita menjadi sesuatu yang istimewa, tak peduli kita sedang berada di rumah, maupun sedang tenggelam dalam tuntutan pekerjaan, sedang sendiri atau bersama orang-orang yang kita kasihi. Di bawah ini, adalah para trek dan album favorit saya tahun ini yang mengubah dan memberi arti hari-hari saya di tahun 2016 ini.

 

 

Trek:

 

Beat The Ordinary – Elephant Kind

 

Lagu ini adalah sebuah pembuktian bahwa Elephant Kind adalah sebuah unit (indie) pop berbakat yang ada di Indonesia saat ini. Setiap hook-nya menyiratkan keoptimisan masa muda dan harapan bahwa dunia bisa ditaklukkan di bawah kaki mereka tanpa harus menaklukkan siapa pun.

 

 

Aviation – The Last Shadow Puppets

 

Ketika Arctic Monkeys sedang tidak menghibur kita dengan apapun yang mereka rilis, Alex Turner menyibukkan diri dengan sahabatnya Miles Kane sebagai The Last Shadow Puppets. Aviation adalah trek tipikal duo tersebut dengan gitar berefek retro serta lirik yang membuat para wanita turun berdansa dan para pria berdiri terpana mengaguminya.

 

Find Me – Kings of Leon

 

13 tahun sejak Youth & Young Manhood dirilis, Kings Of Leon tetap konsisten memainkan rock americana yang mampu diterima oleh masyarakat arus utama. Find Me adalah nomor yang punya daya tarik karena lick berkesinambungan Matthew Followill terlalu manis untuk dilewatkan dan suara vokal Caleb Followill masih tidak dapat ditolak oleh semua orang yang punya selera bagus dalam bermusik.

 

 

Gimme The Love – Jake Bugg

 

Ini adalah lagu paling terus terang dari Jake Bugg. Menyanyi seakan dirinya adalah rapper paling begundal dan dengan semangat seorang Mike Tyson, Gimme The Love adalah pernyataan seorang artis yang tidak kenal kata takut untuk berevolusi.

 

Like Kids – Suede

 

Salah satu kritikus musik menyebutkan Night Thoughts adalah album di mana Suede menemukan keseimbangan antara sisi gelap Dog Man Star dan keseksian Coming Up. Trek ini mencerminkan yang terakhir, ketika Brett Anderson menjadi androginous sejati diiringi binalnya suara gitar Richard Oakes.

 

Million Eyes – The Coral

 

Setiap kali The Coral mengeluarkan album, setiap kali itu pula saya terpana karenanya. Distance Inbetween adalah sebuah album ajaib, dan trek seperti Million Eyes adalah buktinya. Para sonic scouser itu menukar pop-folk mereka dengan psikedelia berat namun harmonis di lagu itu. Memasuki 14 tahun karir bermusik mereka hal itu adalah sebuah konsekuensi yang sangat logis untuk diambil, sekaligus patut diacungkan jempol sebagai tanda betapa briliannya mereka.

 

Serigala – Indische Party

 

Entah atas alasan apa, menurut saya Analog adalah album yang sangat identik dengan The Velvet Underground dengan Serigala sebagai trek andalannya. Trek  itu membakar semangat, seperti layaknya  seorang pemuda yang akan menerkam dan menaklukkan CBGB di malam menuju Minggu.

 

Threat Of Joy – The Strokes

 

Lagu ini adalah sebuah pertanda bahwa The Strokes masih dapat dengan mudah menciptakan lagu yang sangat melodis seandainya mereka mau sepakat untuk melakukannya. Tanda-tanda akan kecintaan mereka terhadap musik yang mudah dipasarkan seperti waktu mereka menghantarkan Is This It, terdengar dengan gamblang di lagu ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi barometer untuk lagu-lagu mendatang yang akan dikirimkan The Strokes ke planet ini.

 

Candu Baru – Zatkimia

 

Ketika mendengarkan Zatkimia pertama kali di Soundrenaline, saya terhenyak karena melihat sebuah band yang sangat menyegarkan dan tanpa rasa takut menguasai panggung di GWK waktu itu. Band ini adalah pahlawan baru pulau dewata, dengan musik yang kental akan aroma grunge dan rangkaian musik alternative yang kita kenal di tahun 90-an. Walaupun belum mengeluarkan album secara penuh, lagu yang bertemakan kecanduan manusia akan segala piranti digital ini, menjadi semacam pertanda bahwa semesta akan menyertai masa depan band ini.

 

The Journey Starts Tonight – Rumahsakit

 

Anak indie atau bukan, penggemar Rumahsakit atau bukan, lagu ini wajib menjadi soundtrack baru mereka yang sedang kasmaran serta mencintai kehidupan. Daya tarik pop lagu ini terlalu besar dengan lirik yang sangat optimis “’Cause you are so bright And now I’m blinded by The magic in your smile” dan riff gitar apik yang akan membuat kita bersiul bahagia setiap pagi. Jika semuanya tergantung kepada saya, lagu ini seharusnya berada di setiap siaran tv dan radio yang mempromosikan lagu Indonesia, karena ini adalah lagu bagus dan setiap orang harus mengetahuinya.

 

 

Wave – Heals

 

Tradisi bahwa Bandung selalu memproduksi band beraliran shoegaze yang tidak kalah kualitasnya dengan band yang berasal dari Oxford maupun Stockholm dilanjutkan dengan Heals. Merilis beberapa single di tahun ini, dengan Wave adalah salah satunya, Heals adalah badai suara yang tidak dapat dilewati. Kualitas band dan lagu ini terlalu baik, sehingga sudah seharusnya kerajaan shoegaze itu di kudeta, dan ibukotanya dipindahkan ke Bandung.

 

Stunt Queen – Bloc Party

 

Lagu ini adalah definisi Bloc Party MK II, di mana saat mereka bercumbu dengan aroma elektronika tidak menjadikan keluaran band ini menjadi janggal tetapi merupakan sesuatu yang patut dipeluk dan dinikmati. Saya beruntung menyaksikan Bloc Party dengan komposisi personil baru di Bali, September lalu. Yang saya saksikan adalah sebuah band yang kembali menikmati posisinya sebagai salah satu band berpengaruh di dekade lalu dan itu terasa dan terdengar dalam Stunt Queen.

 

Beautiful Thing – The Stone Roses

 

Tahun ini dua kali saya bangun dini hari bukan untuk sepakbola, tetapi untuk mendengarkan pemutaran perdana lagu terbaru dari The Stone Roses. Lagu yang dirilis kedua, seperti judulnya adalah sesuatu yang indah. Jika hiatus panjang itu tidak pernah terjadi, dengan wah-wah yang mendominasi dan hook-hook psikedelik dari John Squire serta vokal biblikal Ian Brown, lagu ini tidak bisa tidak merupakan penerus yang sah dari Fools Gold.

 

Finally First – Beyond The Wizard Sleeve

 

Hentakan drum repetitif itu sukses menghanyutkan kita ke dalam era di mana definisi musik elektronik adalah Chemical Brothers dan Everything But The Girl, serta acid house adalah musik yang kita cintai kala berpesta di pesisir Ibiza pada puncak dekade 90an.

 

Extra Mile – Kimokal

 

Sebenarnya ketukan-ketukan yang mengawali lagu ini terasa janggal ritmenya namun kaki tidak bisa diam untuk berdansa dengannya. Sementara itu vokal Kallula yang meramban otak kita membentuk sebuah halusinasi nyaman dalam alam pikiran. Sesaat kita lupa akan dunia nyata, dan memasuki kemayaan indah versi Kimokal.

 

Identikit – Radiohead

 

“Broken hearts make it rain” kata-kata itu diulang Thom Yorke di lagu ini seperti mantra. Apakah ini lagu patah hati Radiohead yang pertama? Sesungguhnya tidak peduli ini lagu patah hati atau bukan. Dengarkan musik yang mengiringinya; ketukan-ketukan ganjil itu, suara synth yang menghantui ketika Yorke menyanyikan kata-kata di atas dan rentetan gitar yang membentuk klimaks di akhir lagu. Mendengarkan semua itu, kita tahu bahwa Radiohead tetap dan masih sebuah band jenius yang tidak ada tandingannya di abad ini.

 

 

Monumen – The Trees and The Wild

 

The Trees and The Wild benar-benar membangun sebuah monumen yang dilapisi tembok-tembok suara menakjubkan di lagu ini. Ia seperti ledakan emosi paling hebat dalam tubuhmu dengan vokal yang menghantui, hentakan drum yang konsisten mendeterminasi jiwa dan serangan gitar penuh dengan efek yang menyeruak dan berkoloni di dalam alam pikiran.

 

Merdeka – Efek Rumah Kaca

 

Efek Rumah Kaca merilis single mereka ini menjelang hari kemerdekaan RI yang ke 71. Sungguh, saat mendengarkan Efek Rumah Kaca, salah satunya melalui lagu ini, kita selalu diingatkan terus menerus akan makna menjadi manusia seutuhnya dan menjadi Indonesia sepenuhnya. Lagu ini adalah sebuah harapan.  

 

Pekerja – Bangkutaman

 

Lagu latar buat para pekerja-pekerja di metropolis Nusantara. Memang perjalanan menuju dan dari tempat bekerja bisa saja berbuat kejam kepada kita. Tuntutan atasan dan pekerjaan bisa membuat lupa bahwa kita seorang manusia. Lagu dengan nuansa folk ini mengingatkan kita bahwa sesekali tidak ada salahnya menghela nafas sesaat dan menjadi rileks sejenak, sebelum meneruskan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

 

Modern Soul – James Blake

 

Menjelang tengah malam dan jam-jam setelahnya adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan musik James Blake, tak terkecuali lagu ini. Musiknya akan menyelimuti kita dengan kegundahan yang menyenangkan, ia akan mengambil porsi kekuatiran yang dibawa oleh kegelapan malam, sambil memberi sedikit nyawa kepada fajar yang sebentar lagi akan datang.

 

Cahaya – Tulus

 

“Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya, aku pastikan jalanmu terang”, begitulah janji Tulus kepada kita. Di tahun  2016 ini, bintang penyanyi yang satu ini masih bersinar terang benderang, dan turut bercahaya bersamanya adalah segenap planet pop tanah air.

 

 

Album:

 

Zaman, Zaman – The Trees & The Wild

 

Sesungguhnya dan secara instan album kedua The Trees & The Wild ini adalah sebuah candu yang takkan habis masa pengaruhnya setelah lama didengarkan. Siapapun yang beruntung pernah menyaksikan penampilan band ini secara langsung di tahun yang penting bagi mereka ini, akan merasa pengar musikalis untuk waktu yang berkepanjangan setelahnya. Karena seperti albumnya, mereka telah memberikan sesuatu yang terlalu atmosferik untuk dilepaskan, magis dan monumental sekaligus.

 

A Moon Shaped Pool – Radiohead

 

Album brilian dan menghantui sanubari yang mendeskripsikan Radiohead dalam fase terbaiknya. Mungkin mereka tidak lagi membuat sebuah opera rock seperti Paranoid Android, ataupun mengantarkan trek bernuansa Stanley Kubrick seperti Idioteque, namun silahkan dengarkan Daydreaming dan Identikit, keduanya adalah bagian dari keajaiban yang hanya dapat dihantarkan oleh Radiohead.

 

Analog  – Indische Party

 

Mendengarkan album ini, pikiran lantas teringat kepada New York, Velvet Underground serta musik latar mini seri HBO Vinyl, dan itu adalah sebuah komplimen! Mendengarkan Babe You Got A Hold On Me Somehow seperti mendengarkan Lou Reed sedang berkontemplasi, vokal Tika Pramesti di Ingin Dekatmu mengalun adem dan mengingatkan akan keseksian Nico, sedangkan Serigala mempersiapkanmu menerkam malam minggu paling liar di CBGB!!!

 

Distance Inbetween – The Coral

 

Tidak ada yang berani memperkirakan bahwa The Coral masih sanggup mengeluarkan album, dan betapa sungguh dasyhatnya gelombang yang dikirimkan oleh Distance Inbetween. Serangan-serangan psikedelia kelas berat bertubi-tubi dipancarkan album ini dalam lagu seperti Chasing The Tail Of A Dream maupun Million Eyes. Selayaknya pembaruan yang telah dilakukan oleh seorang Juergen Klopp dalam tubuh tim bola merah kota asal band tersebut, sudah saatnya pula kita balik percaya bahwa The Coral telah kembali dan merestorasi kejayaan mereka.

 

The Soft Bounce – Beyond The Wizard Sleeve

 

Beyond The Wizard Sleeve adalah sebuah kursus bagaimana membuat musik elektronik terdengar sangat organik, dengan mencampurkan elemen psikedelia dan acid house. Ada elemen nostalgia tahun 90-an di sana, mendengarkan album ini seperti mendengarkan The Chemical Brothers dicampur oleh Everything But The Girl yang sedang diet mayo. Jika tidak percaya dengarkan saja Diagram Girl, Creation ataupun hantaman drum penuh ekstase itu dalam Finally First.

 

O – Kimokal

 

Kimokal adalah bukti bahwa geliat musik (indie) Indonesia tidak melulu harus menampilkan gitar sebagai senjata utamanya. Dibalut dengan untaian bit elektronika dan sentuhan post-dubstep, album debut mereka O akan memberikan abstraksi multi warna ketika kita mendengarkannya. Kadang bayangan itu tentang kilau lampu ibukota yang mempesona, kadang tentang sebuah metropolis entah di mana yang memanggil kita untuk berdansa.

 

Walls – Kings Of Leon

 

Setelah album ini dirilis, segala perdebatan dan perbandingan tentang siapa yang lebih baik dan lebih besar antara Followill bersaudara dan lima pemuda dari New York yang menamakan dirinya The Strokes, sudah dan harus diakhiri untuk selamanya. Jika The Strokes seringkali kehilangan arah antara ingin meneruskan warisan Is This It atau membuka dimensi baru di album-album setelahnya, Kings Of Leon mendirikan dinasti yang dibangun dari setiap rilisannya. Walls adalah buktinya.

 

City J – Elephant Kind

 

Terlepas dari sumpah serapah yang bertebaran dengan joroknya di sudut-sudut album ini, dan lagu-lagu yang dipotong dengan janggal ketika kalian sedang asyik-asyiknya mendengarkan (itu mungkin disengaja demikian), City J adalah karya debut pop yang sangat sukses. Album itu diawali dengan Beat The Ordinary yang menebar harum keadaan indie pop Indonesia 2016, dan kemudian dituntaskan dengan pamungkas dengan trek seperti Montage dan The Saviour.

 

Hymns – Bloc Party

 

Sejujurnya setelah mencintai band ini dengan sangat semenjak pertengahan dekade lalu, saya sempat skeptis menyambut album pertama Bloc Party sepeninggalan Gordon Moakes dan Matt Tong yang digantikan dengan Justin Harris & Louise Bartle. Hymns bukanlah album yang menjatuhkan bom seperti Silent Alarm atau bahkan Four sekalipun, tetapi mendengarkannya seperti bertemu seorang teman lama yang selalu tahu cara mengusir kegundahan dengan cara yang lebih dewasa dan menenangkan. Euforia dekade lalu telah berakhir, dan di tengah waktu yang tak kenal arah ini, Hymns datang sebagai penyembuhan agar kita tetap waras.

 

Night Thoughts – Suede

 

Dengan banjirnya layanan streaming musik termasuk di tanah air ini, tahun ini adalah waktu yang dinyatakan sebagai tahun matinya format album. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Di genre yang lebih dekat dengan arus utama dikatakan Beyonce, Drake dan Kanye menjadi penyelamat format tersebut, sedangkan untuk kita yang terjebak dengan musik dari 2 dekade lalu, Suede menjadi penyelamat dengan merilis Night Thoughts yang dikemas dalam musik yang tidak terputus antar treknya dan bertautan dalam cerita satu sama lain serta didukung oleh sebuah film yang menjadi visualisasi musiknya. Night Thoughts adalah album matang dari Suede yang mengkombinasikan kegelapan Dog Man Star dan keseksian Coming Up dalam album ini. Jika semua band/artis yang reuni setelah bubar memproduksi karya seperti Suede, maka kita semua akan menjadi orang yang lebih bahagia di dunia ini.

 

David Wahyu Hidayat

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

23
Feb
11

Album Review: Radiohead – The King Of Limbs

Radiohead

The King Of Limbs

Digital Rilis Tanpa Label – 2011

Yang membedakan Radiohead dengan band – band lainnya yang bercokol di planet ini, adalah kemampuan mereka menciptakan sesuatu substansial yang melewati tempat dan jaman lewat musik mereka. Di tahun 1997, mereka menciptakan mahakarya yang kita kenal dengan “OK Computer”, sebuah orkestrasi musik rock yang pada waktu itu tampil mengejutkan di tengah – tengah banjirnya air bah britpop. Di awal abad baru, pada waktu manusia mulai gamang dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan sendiri, Radiohead mengantarkan “Kid A”, sebuah karya sentral penggambaran alienasi manusia terhadap kaumnya sendiri, dan entah mengapa tiap blips yang terdengar di sana menjadi suara latar belakang yang indah dalam menghadapi abad 21. Lalu di tahun 2007, ketika industri musik masih bertanya-tanya resep yang paling tepat untuk menghadapi tatanan yang sudah berubah karena pendigitalan musik, mereka mengeluarkan “In Rainbows” dengan konsep bayar sesuka hati, dengan tidak melupakan bahwa lagu – lagu yang ada di sana adalah lagu – lagu Radiohead yang paling jujur terdengar sejak era “The Bends”.

Lalu pada tanggal 18 Februari 2011, hanya dengan pemberitahuan 4 hari sebelumnya, mereka mengeluarkan “The King Of Limbs”, secara digital, dan dirilis sendiri, kali ini dengan harga yang sudah dipatok mereka sendiri. Jujur, melihat secara keseluruhan 8 lagu yang ada di album ini, bila dibandingkan dengan karya – karya Radiohead sebelumnya, lagu – lagu ini harus bersaing cukup keras untuk bisa duduk di singgasana yang sama. “Bloom” yang mengawali album ini, dimulai perlahan, dengan blips yang sekarang sudah memasuki teritori familiar di telinga kita lewat album – album Radiohead terdahulu ataupun lewat karya solo Thom Yorke, “The Eraser”. Memasuki “Morning Mr. Magpie” kita menaikkan alis mata kita sebelah, menandakan adanya sesuatu yang menarik di sini, dengan suara gitar yang irit menggoda dan bas yang pelan – pelan menggelitik gendang telinga kita untuk memperhatikan dengan seksama album ini, di tengah tengah suara elektronika yang menggaung menghantui.

Dalam “Little By Little” kita akan mendengarkan Phil Selway yang dengan piawai memainkan perrkusi dan drum yang menandakan bahwa di balik semua ritmus yang terdengar begitu robotik adalah seorang manusia yang menjadikan semuanya lebih bersuarakan elemen organik. “Feral” adalah sebuah nomor instrumental yang terdengar sebagai perjalanan melintasi terowongan bawah laut yang tiada kunjung habisnya, dengan sebuah kereta transatlantis. Perjalanan itu berhenti, dalam “Lotus Flower”, digantikan sebuah tarian rasuk digital diiringi tepukan tengan dan keagungan suara Yorke menyanyikan “Slowly we unfold as lotus flower…”, tak sadarkan diri, menari dan menari tanpa henti.

Diiringi lantunan piano yang membungkus kita dengan rasa kenyamanan yang kelam, “Codex” membalut kita dalam kidung yang bernafas sama dengan “Nude” dalam “In Rainbows”, menenangkan tapi memberikan kita sebuah insekuritas yang meresahkan. Perasaan yang sama kita dengar kembali dalam “Give Up The Ghost”, dengan suara gitar akustik, dan Yorke yang menyanyi lirih ditimpa versi majestik suaranya sendiri, sampai kita mendengar suaranya menyanyikan “I think I should give up the ghost, in your arms”, di momen itu kita tahu semuanya tidak akan berubah sekelam yang kita kira.

“The King Of Limbs” diakhiri dengan “Separator”. Untuk saat ini, album ini sudah berakhir, dengan kata – kata “If you think this is over, then you’re wrong”. Dengan Radiohead kita tidak akan pernah mengetahui apakah ini akan benar – benar berakhir, atau ini semua merupakan bagian dari lanjutan yang lebih mega daripada ini. Apakah akan ada “The King Of Limbs” kedua seperti “Kid A” dan “Amnesiac” yang berasal dari satu sesi rekaman? Kita tidak pernah mengetahuinya, yang kita tahu di tengah ritmus lagu itu yang melempar kita ke segala arah, dipandu oleh suara bas, dan gitar yang bersahut-sahutan itu, kita menari, menikmati musik yang telah diberikan oleh Radiohead kepada kita dan merasakan sesuatu yang substansial.

David Wahyu Hidayat

06
Sep
10

DVD Review: Radiohead – Live At Výstavištĕ Holešovice Exhibition Hall, Praha, 23 Agustus 2009

Radiohead

Live At Výstavištĕ Holešovice Exhibition Hall, Praha, 23 Agustus 2009

Unduhan gratis dari: http://radiohead-prague.nataly.fr/Download.html

Kamis malam lalu saya tidak dapat menahan ekstase saya ketika membaca berita kalau konser Radiohead di Praha pada tanggal 23 Agustus 2009 dapat diunduh secara gratis. Film konser ini menjadi sangat menarik, karena bukan hanya bisa didapatkan dengan cuma-cuma, tetapi juga karena diinisiasikan dan dikesekusi sangat baik oleh lebih kurang 50 fans Radiohead yang merekam konser tersebut dari kamera genggam mereka masing-masing, bukan secara profesional, tetapi dari sudut pandang mereka sebagai penonton.

Projek ini lalu direstui oleh Radiohead dengan menyumbangkan rekaman soundboard konser tersebut, menjadikannya sebagai tontonan yang sangat unik, karena yang kita lihat bukanlah film konser tanpa cela seperti DVD konser umumnya, tapi sebuah konser film yang menghadirkan suasana seperti kita sendiri yang berdiri di sana, berjuang mendapati sudut pandang terbaik dari band yang kita puja itu, kadang terhalang oleh tangan penonton lainnya yang menggapai langit dan membagi kebahagiaan bersama  kita, kadang terhalang ponsel dan kamera genggam mereka yang berusaha merekam pemandangan sensasional itu secara digital. Semuanya dalam kualitas suara yang fantastis mengagumkan baiknya.

Dengan durasi sepanjang 2 jam dan 25 lagu, kita menyaksikan sebuah band yang berdiri di atas panggung seperti 5 orang Jedi Master yang menggantikan light sabre mereka dengan gitar, bas, drum dan rangkaian elektronika lainnya; menghempaskan kita ke alam penuh kekaguman akan inovasi mereka dalam bermain musik. Film konser ini menjadi sangat spesial dengan adanya nomor seperti “These Are Twisted Words” yang dirilis secara digital dan gratis tahun lalu dan “Bangers N Mash”, ekstra track dari “In Rainbows” yang dibawakan dengan sangat eksplosif.

Kita hanya bisa terpukau melihat Radiohead sekali lagi mendesak diri kepada batasan bermusik yang mungkin hanya bisa diciptakan oleh diri mereka sendiri. “Idioteque” sudah dipastikan adalah salah satu puncak konser tersebut, lalu kita dibuat tercengang bagaimana sebuah lagu seperti “The Gloaming” ketika ditampilkan di atas panggung begitu dasyhatnya, sesuatu yang tidak kita dapati sebelumnya bila didengarkan dalam format album. Atau “2+2 = 5” yang menggempur kita dengan rajaman suara yang akan mencederai kegalauan kita. Di awal konser tersebut, kita akan tersenyum mendengar teriakan suara para penonton dalam “15 Step” dikomandani oleh Ed O’Brien dari atas panggung, mencontoh koor anak sekolah di versi albumnya. Kemudian melihat “Bodysnatcher” dibawakan live adalah sebuah kesenangan tersendiri, di lagu itu dan juga di banyak skena dalam film konser ini kita akan melihat jejak kejeniusan seorang Jonny Greenwood sebagai seorang pahlawan gitar.

Disediakan dalam bentuk unduhan gratis untuk berbagai macam format, DVD ini adalah bukti, bahwa setelah “In Rainbows” Radiohead secara tidak langsung melakukan inovasi dan pemberontakan terhadap industri musik, dengan sebuah film konser berkualitas mendekati sempurna, yang dibuat oleh fans untuk fans dan dengan keintiman yang sangat, walau konser tersebut dilakukan dalam arena yang besar. Saya hanya menyarankan satu hal, segera perkosa jaringan internet rumah, sekolah, kampus, kantor, atau warnet terdekat, untuk mengunduh film konser ini, karena kalian akan mendapatkan sesuatu yang tidak pantas untuk dilewatkan dari salah satu band paling terdepan abad ini. Selamat berdansa bersama Radiohead melawan kegilaan jaman. Semua ini sedang terjadi sekarang!

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Radiohead – In Rainbows

radiohead-in-rainbows.jpg

Radiohead
In Rainbows
Tanpa Label – 2007

Belasan, puluhan, ratusan band mempertaruhkan apa yang mereka miliki, menggali inspirasi terdalam untuk menjadi yang terbaik. Untuk mendapatkan pengakuan massa dan kritikus kalau mereka adalah band terbaik sepanjang masa, dan musik mereka diakui sebagai sesuatu yang mendefinisikan sebuah generasi. Banyak dari band – band tersebut gagal memenuhi ekspektasinya sendiri. Mereka yang bernasib sial itu lalu lenyap begitu saja ditelan waktu.

Tetapi sebuah band, pernah mengantarkan album yang diakui sebagai yang terbaik sepanjang masa di tahun 1997. Album tersebut dinamakan “OK Computer”, mendefinisikan bahwa kekompleksan sebuah musik dengan gitar ternyata mampu menjamah massa. Album itu menjatuhkan kerajaan bernama “Britpop” dan tetap menjadi salah satu karya musik paling diakui kejeniusannya sampai sekarang. Tanpa ciri khas alunan vokalisnya di album itu dan album sebelumnya, kita tidak akan pernah mengenal Coldplay atau bahkan James Blunt sekalipun.

Di awal millenium, mereka sekali lagi mengantarkan sebuah mahakarya. Dipenuhi dengan berbagai efek, suara band tersebut seperti datang dari luar angkasa, vokalisnya tidak lagi melantunkan falsetto yang menjadi ciri khasnya. Di album berjudul “Kid A” tersebut, ia seperti seorang robot yang diculik oleh alien. Album itu merupakan penegasan Radiohead kepada dunia, bahwa mereka tidak akan berhenti berkarya hanya pada sebuah pola saja. Album itu mengejutkan, dan di sisi lain sangat optimis dan penuh keajaiban.

7 tahun setelahnya. Industri musik berubah. Web 2.0 adalah kata kunci tidak hanya di kehidupan dunia maya kita, tetapi juga untuk industri musik dan dunia artistik lainnya. Masih kental di ingatan kita, bagaimana sepak terjang Arctic Monkeys diawali dengan sejumlah fans yang mengunggah lagu mereka di MySpace. Dan bukan Radiohead namanya, bila mereka berhenti untuk melawan batasan dan paradigma yang ada.

Dengan tidak didukung oleh satu label rekaman satu pun (paling tidak untuk saat ini) mereka merilis album terbaru mereka “In Rainbows” melalui internet dalam situs ofisial album tersebut www.inrainbows.com. Uniknya mereka yang akan mengkonsumsi album tersebut dapat memilih harga yang akan mereka bayarkan, bahkan gratis sekalipun. Album yang terdiri dari 10 file MP3 dengan 160 Kbps itu, juga tidak disertai dengan DRM, yang berarti sang pemilik file bebas mendistribusikannya ke orang lain, sehingga mengunduhnya di luar dari situs ofisial tersebut, bukanlah perbuatan yang ilegal. Tindakan ini seperti mengantisipasi kejadian seringnya album – album musik yang bocor duluan kepada para pembajak, sebelum dirilis secara resmi. Dengan keputusan Radiohead memberikan kebebasan kepada para fansnya, apakah mereka akan membayar untuk “bocoran” tersebut atau tidak, seperti memberikan sebuah sinyal kepada industri musik yang panik dan bingung menghadapi hal ini. Radiohead membuktikan bahwa tehnologi bukanlah musuh, tetapi sebuah fasilitas untuk memperluas audiens musik mereka.

Cukup berbicara tentang web 2.0 dan kenistaan kehidupan modern, bagaimana dengan musik yang disodorkan “In Rainbows” sendiri? Seperti yang disebutkan di awal tulisan ini. Banyak band boleh mencoba untuk mengklaim sebagai yang terbaik, tapi cukup dengan 42:34 menit yang disodorkan Radiohead dalam album ini, mereka semua yang mencoba, hanya akan dapat bermimpi untuk dapat mengantarkan sebuah karya sesempurna ini.

Kita berpikir setelah “Kid A” mereka tidak akan dapat mengejutkan kita lagi. Tetapi begitu mendengar suara pertama dalam “15 Step” kita hanya dapat ternganga dan berkata “Sial, bagaimana mungkin mereka selalu dapat melakukannya lagi?”. Lagu kedua “Bodysnatchers” diawali dengan suara gitar yang sangat berat seperti hendak meledakkan amplifier yang dipakai oleh kedua gitaris mereka Ed O’Brien dan Johnny Greenwood. Walaupun tidak pernah ditinggalkan, Radiohead seperti menekankan di lagu ini, kalau mereka selalu mencintai gitar, seperti yang pernah mereka lakukan di “The Bends” dan “OK Computer”. Track selanjutnya, “Nude” adalah tipikal lagu Radiohead yang akan selalu mencekam menghantui kita, tapi di satu sisi memberikan perasaan optimis yang sangat aneh. Seperti keluar dari dalam cengkraman alien, Thom Yorke dengan sangat pilu bernyanyi “Now that you’ve found it’s gone/Now that you feel it, you don’t”. Sebuah keindahan dalam kepiluan.

“Reckoner” didasari oleh suara gitar lembut yang terus berputar tanpa lelah merasuki alam bawah sadar kita. Suara drum Phil Selway di latar belakang bak seperti air hujan yang memecah kesunyian, vokal Thom Yorke melengkapi semuanya itu, mendesak menyadarkan kita, sambil berkata “You’re not asleep/You’re not dreaming”. Di lagu berikutnya “House Of Cards”, Radiohead memberikan kita sebuah perasaan yang jarang kita temukan dalam lagu mereka. “I don’t want to be your friend/I just want to be your lover” lirih Yorke di lagu tersebut. Entah mengapa, untuk satu alasan tertentu, lagu itu terkesan seperti datangnya sebuah musim gugur di dalam sendunya bulan Oktober. Setelah lagu tersebut, album ini ditutup dengan perpaduan kontras antara “Jigsaw Falling Into Pieces” yang bertempo cepat sambil meleburkan semua elemen musik Radiohead yang memukau telinga dan “Videotape” yang dentingan pianonya lambat laun mengantarkan kita kepada akhir yang tak mau kita temui, diiringi suara Yorke yang menyanyikan “This is my way of saying goodbye/Because I can’t do it face to face/I’m talking to you after it’s too late”.

Ini adalah album di mana Radiohead dengan cerdas dan cermat memadukan semua elemen musik yang mereka punyai, sambil mencoba menemukan jalan baru untuk menemukan tempat yang belum mereka singgahi. Semua band lain boleh saja mencoba, tapi album ini tanpa dapat ditantang dan ditandingi adalah album terbaik 2007. Sekali lagi, seperti yang sudah lalu, mereka kembali berhasil menghadirkan sebuah kejeniusan. Dengarkan dan biarkan kalian terpana karenanya.

David Wahyu Hidayat

04
Nov
07

Album Review: Radiohead – I Might Be Wrong EP

radioheadimightbewrongalbumart.jpg

Radiohead
I Might Be Wrong EP (Live Recordings)
Parlophone/EMI – 2001


Radiohead seperti tidak berhenti memanjakan fansnya selama 2 tahun terakhir ini. Diawali dengan dirilisnya Kid A tahun 2000, disusul dengan Amnesiac setengah tahun sesudahnya, lalu, ini dia yang mungkin telah ditunggu-tunggu lama para fans Radiohead, Live Album.

Memang live album ini bukan merupakan live album dalam arti sesungguhnya. Sebenarnya ini adalah single “I Might Be Wrong”. Tapi bukan Radiohead namanya kalau tidak memberi kejutan. Sebagai ganti single biasa, mereka mengeluarkan Mini Live Album yang direkam di Oxford, Berlin, Oslo, dan Vaison La Romaine, terdiri dari 8 lagu, yang diambil dari kedua album mereka terakhir.

Live Recordings ini paling tidak dapat menjawab penasaran para fans yang tidak pernah punya kesempatan melihat Radiohead secara langsung, bagaimana kuintet dari Oxford itu mempresentasikan materi-materi dari Kid A, dan Amnesiac secara Live. “Like Spinning Plates” menjadi sebuah nomor yang tidak diduga, karena permainan piano Thom Yorke, membuat lagu tersebut mendapatkan sebuah atmosfir yang berbeda dari yang terdapat dalam Amnesiac.

Kemudian ketika di album ini mereka memainkan “Idioteque” secara live dengan sesempurna itu, kita hanya dibuat ternganga karena mereka sebagai sebuah band telah jauh mengembangkan musik mereka dari yang pernah kita perkirakan. Dan sebagai penutup sebuah nomor akustik yang sebelumnya belum pernah dirilis berjudul “True Love Waits”. Hanya Thom Yorke dan gitarnya yang terdengar di lagu terakhir tersebut, tapi meskipun begitu hanya satu perasaan yang terasa. Perasaan kesempurnaan.

David Wahyu Hidayat

04
Nov
07

Album Review: Radiohead – Amnesiac

radioheadamnesiacalbumart.jpg

Radiohead
Amnesiac
Parlophone/EMI – 2001

Direkam di session yang sama dengan Kid A, Amnesiac seperti hendak melengkapi apa yang sudah dirintisnya. Seperti yang Thom Yorke katakan, “Amnesiac seperti senjata rahasia yang orang lain tidak punya, mengejutkan, karena kita punya satu album lagi seperti ini”.

Hubungan antara kedua album ini begitu terasa. Lihat saja contohnya “Packt Like Sardines In A Crushd Tin Box” yang melengkapi “Idioteque” dari Kid A, atau percobaan mereka untuk merekam kembali “Morning Bell” dari sisi pandang yang lain. Walaupun begitu, fans Radiohead yang mendambakan kembali adanya sebuah album dengan sound gitar yang paling tidak sejak “The Bends” menjadi kekuatan mereka, boleh bernafas lega, karena di album ini ada “I might be wrong” yang paling tidak mengembalikan ingatan kita di masa sebelum Kid A.

Lalu ada “Knives Out” yang seperti diakui oleh Thom Yorke ialah tribute mereka kepada The Smiths. Ed O´ Brian (gitaris), memperdengarkan lagu itu kepada ex-gitaris The Smiths Johnny Marr, dan ia menyukainya. Nada-nada yang miring pada lagu itu, sengaja mereka lakukan untuk menimbulkan kebingungan di pihak pendengar.

Di album ini, Thom Yorke seperti sedang menemukan kesenangan barunya memainkan piano, seperti terdengar dalam “Pyramid Song” dan “You and Whose Army” yang berkesan gelap dan penuh misteri. Boleh penasaran apa yang akan dilakukan Radiohead di album selanjutnya, karena sejak Kid A mereka tidak dapat ditebak, dan selalu dapat menimbulkan kejutan yang menarik.

David Wahyu Hidayat




Februari 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Categories

Blog Stats

  • 138,718 hits