Archive for the 'Arctic Monkeys' Category

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

14
Agu
11

Album Review: Arctic Monkeys – Suck It And See

Arctic Monkeys

Suck It And See

Domino Records – 2011

 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Mereka yang dahulu memberikan inspirasi pada kehidupan mortal yang penuh cobaan ini telah tiada. Mereka, adalah band yang memberikan sesuatu untuk dipercayai ketika tidak ada lagi yang jujur di kehidupan ini. Mereka telah hilang, bubar dalam perseteruan tiada henti dalam kebesaran, tenggelam dalam kemabukan rok ‘n’ rol fana, atau punah satu persatu dalam kekosongan budaya maya yang serba instan.

Namun harapan kita tidaklah hilang untuk selamanya, beberapa band tetap berada dalam jalur yang telah ditentukan sejak debut albumnya, kalau tidak menjadi lebih baik dari album ke album. Salah satu band yang masuk dalam kategori tersebut adalah Arctic Monkeys, yang dengan kecepatan konstan dan kualitas stabil telah melebihi band-band seangkatan mereka dengan merilis “Suck It And See”. Bila “Humbug” adalah momen di mana musik mereka berubah menjadi dewasa melalui musik psikedelia dengan riff yang tebal dan kasar, maka di album keempat ini adalah album yang akan memantapkan posisi mereka sebagai band papan atas Britania saat ini. Terlalu berkelas sentuhan pop yang ada di album ini untuk menjadikan mereka terperangkap ke dalam jeratan psikedelia, namun di sisi lain masa paruhnya terlalu lama untuk menjadikan album ini hanya sensasi musim panas 2011 semata.

Dentingan gitar pada “She’s Thunderstorms” dengan manisnya membuka album ini dengan sempurna. Suara Alex Turner beradu dengan riff gitar memasyukkan dari Jamie Cook. Buaian melodi itu diteruskan pada “Black Treacle” dengan liriknya “Now it’s getting dark, and the sky looks sticky….I feel like the sundance kid behind synthesiser…but it never seems to be there where you want it”.

Perjalanan penuh ayunan melodi itu disela oleh kepadatan riff “Brick By Brick” yang verse-nya dinyanyikan oleh sang drummer Matt Helders. Tetapi kita tidak lama-lama dipenuhi oleh ekstase psikedelia, karena pada lagu berikutnya “The Hellcat Spangled Shalalala” hormon kebahagiaan kita digoda dengan kepenuhan kebahagiaan musim panas dalam melodi-melodi lagu itu.

3 lagu yang mengikutinya “Don’t Sit Down ‘Cause I Moved Your Chair”, “Library Pictures” dan “All My Own Stunts” adalah rock ala Arctic Monkeys yang merupakan lanjutan dari psikedelia padang pasir Nevada tempat mereka membuat “Humbug” dengan distorsi yang menggema misterius dan efek gitar yang menyayat dalam ke lubuk hati.

Di album ini Arctic Monkeys seperti mempunyai sebuah saklar pengalih yang mengganti atmosfir lagu dari rock berat dan padat kepada gelombang pop lembut yang membuai kita kepada sebuah impian manis akan pancaran hangat masa muda yang tidak pernah akan berakhir seperti pada “Reckless Serenade”, “Piledriver Waltz” & “Love Is A Laserquest”.

Seperti sebuah pendekar yang menuntaskan lawannya dengan jurus pamungkas, Arctic Monkeys membiarkan kita menunggu 12 lagu, sampai kita mendengarkan lagu terakhir album ini “That’s Where You’re Wrong” yang definitif adalah lagu terbaik di album ini. Lagu ini memberikan obat bius untuk telinga kita, candu untuk hati, serta kesegaran dalam nalar ketika Alex Turner menyanyikan “Jealousy in technicolor, fear by name than love by numbers….she looks as if she’s blowing a kiss at me, and suddenly the sky is a scissor, dibalut dengan permainan gitar yang sederhana tetapi akan membuat kita bersiul mengikutinya tanpa sadar. Ini adalah akhir dari “Suck It And See”, tapi yang sebenarnya terjadi, ini semua adalah harapan baru, akan sebuah band yang masih dapat memberikan inspirasi dan arti dan patut disandingkan dengan band besar dari Britania yang telah ada sebelum mereka. Duduk santai, dengarkan album itu, serap dan lihat semuanya itu akan terjadi sesuai yang kita harapkan.

David Wahyu Hidayat

15
Sep
09

Album Review: Arctic Monkeys – Humbug

Arcticmonkeys-humbug

Arctic Monkeys

Humbug

Domino Records – 2009

Mereka telah dewasa. Potongan rambut yang berkesan seperti imagi seorang anak indie dari foto profile di myspace, berubah sudah, digantikan dengan rambut panjang yang menutupi sebuah tatapan misterius. Tiga tahun yang lalu mereka masih bernyanyi tentang sepatu dansa dan berjoget seperti sebuah robot dari tahun 1984 diiringi sebuah musik elektropop. Sekarang, mereka memasuki teritorial musik yang lebih dalam, gelap dan misterius. Terlalu kelam mungkin untuk ukuran Arctic Monkeys yang terbiasa dengan sebuah bentuk musik indieblitzkrieg. Tapi mau suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, inilah Arctic Monkeys tahun 2009, dan sejujurnya ini adalah sebuah perubahan yang menggairahkan, seperti sebuah makeup sex yang tak pernah diperkirakan dan di luar kendali.

Gairah itu dimulai dengan rentetan drum Matt Helders yang menyerang seperti sebuah senapan mesin panas yang hendak menumbangkan musuhnya di lagu pembuka album ini “My Propeller”. Dikombinasikan dengan suara Alex Turner yang lebih lirih dari biasanya, dari awal kita langsung menyadari bahwa sesi rekaman di Joshua Tree bersama Josh Homme telah membawa hal-hal baik bagi Arctic Monkeys. Mereka menjadi dewasa dalam bermusik tanpa berusaha membuat segalanya menjadi memusingkan, hanya kesederhanaan yang menghitam mengakar di setiap nada yang kita dengar.

Bunyi bas yang berat dan menyeret membuka “Crying Lightning”. Kalau mereka datang 3 tahun yang lalu dengan lagu seperti ini, kita akan mengernyitkan dahi, dan bertanya apa yang dilakukan 4 orang muda di umurnya yang masih berusia 20-an dengan lagu seperti ini? Tapi untungnya mereka menunggu saat yang tepat. Karena “Crying Lightning” adalah senjata pamungkas Arctic Monkeys yang sempurna untuk mengalahkan rasa pesimis kita terhadap mereka yang berkata, kalau tidak ada band yang akan pernah berarti lagi pada saat ini. Lagu ini adalah suatu serpihan klasik dalam wujud yang pada pendengaran pertamanya tidak terkesan bombastis, tapi pelan-pelan akan membuat jiwa kita menangis karena kebesarannya.

Merekam album ini bersama Josh Homme, adalah keputusan terbaik yang pernah dilakukan oleh Arctic Monkeys dalam album ini. Karena bila mereka membuat kembali lanjutan dari “Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” dan “Favourite Worst Nightmare” mereka akan terjebak kepada pola album ketiga yang mengharuskan semuanya terdengar lebih megah dari yang sudah-sudah hanya untuk memenuhi kebutuhan industri musik saja. Sebagai sebuah album, “Humbug” adalah jalan keluar Arctic Monkeys dari jebakan tersebut.

“Secret Door” diawali dengan intro yang mengecohkan kita dengan alunan rhodes berpadu dengan gitar yang membius pelan, sebelum Helders dan O’Malley kembali sebagai suatu kesatuan yang kompak memberikan pola ritem yang memberikan lagu ini sebuah dimensi lain, mendorong kita seperti berada di pinggir jurang, hanya untuk terjun bebas dalam kenikmatan. “Cornerstone” memberikan kedamaian dalam suara Alex Turner yang sedikit demi sedikit sudah mulai menghilangkan aksen kentalnya, tapi ia tetap mempunyai ide-ide romantisme yang hanya bisa datang dari dalam dirinya, sebagai seorang Alex Turner yang memberikan lukisan sederhana tentang kehidupan yang dapat menjadi sesuatu yang mengagumkan, dan herannya juga merupakan gambaran kehidupan kamu dan saya.

Kepiluan adalah yang dirasakan waktu mendengarkan “Dance Little Liar”, nadanya menyentuh kita seperti kegelapan yang menguasai malam, dan solo gitar yang dimainkan di sana, bukanlah solo gitar penuh ekstase seperti dalam “Take You Home” dari album pertama, tapi solo gitar yang terdengar bagaikan sebuah jiwa rapuh yang dilepaskan dari kegamangan yang mengelilinginya.

Satu-satunya lagu yang berada di jalur jejak tempo album pertama dan kedua adalah “Pretty Visitors”. Di sini Arctic Monkeys terdengar seperti empat sekawan lusuh yang siap merampok kelinglungan jiwa kita dan membawanya ke sarang gerombolan yang sarat dengan nada-nada yang dapat menumbangkan keraguan kita akan musik mereka. Dan di sarang gerombolan tersebut, Alex Turner melantunkan lagu yang memungkasi album mereka “The Jeweller’s Hand”, dengan nada yang mengaung-ngaung di dalam kepala “If you’ve a lesson to teach me, I’m listening, ready to learn. There’s no one here to police me, I’m sinking in until you return. If you’ve lesson to teach me, don’t deviate, don’t be afraid”. Pelan-pelan gerombolan bernama Arctic Monkeys itu memadamkan cahaya di sarangnya. Tapi kita yang berada di luarnya, masih menatapnya mencoba meresapi apa yang telah kita dengarkan di album ini. Mencoba untuk bersatu dalam kekelamannya, dalam kemisteriusan dan dalam kegelapannya. Arctic Monkeys? Mereka telah dewasa, tinggalkan sepatu dansa kalian di lantai dansa itu.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Arctic Monkeys – Favourite Worst Nightmare

arctic-monkeys-favourite-worst-nightmare.jpg

Arctic Monkeys
Favourite Worst Nightmare
Domino – 2007

Setahun yang lalu, di blog yang sama yang sedang kalian baca ini, tertulis ulasan tentang sebuah debut album dari sebuah band yang kita kenal sekarang dengan nama Arctic Monkeys. Album itu begitu mempesonakan banyak orang dengan serangan rok n’ rol bercampur funk yang kurang ajar, membuat mulut pendengarnya tercengang, adrenalin di darahnya terpacu dan menghantarkannya pada sebuah ekstase.

Waktu itu, di blog ini tertulis demikian mengenai album yang berjudul “Whatever People Say I am, That’s What I’m not” itu:

“…mendengarkan debut album “Arctic Monkeys” kita akan dibawa meledak ke sebuah luapan perasan yang tidak akan kita bayangkan. Mereka yang berumur 17 tahun …. akan menemukan sesuatu yang berarti di hidupnya mendengarkan suara gitar di album ini. Mereka yang berusia 27 tahun, akan secara tidak sadar menghentakkan kakinya … sambil tersenyum puas di depan layar komputer di tempat bekerja mereka, karena album inilah yang mengantarkan perasaan mereka kembali ke 10 tahun yang silam …. album ini adalah kemenangan kita, saatnya untuk berpesta!”

Saat ini, hanya terpaut 14 bulan kemudian semuanya itu terasa seperti sebuah mimpi di siang bolong. Terlalu cepat berlalu, seakan pesta itu telah berakhir yang ada hanya sebuah perasaan “hangover” yang tidak pernah ingin dimiliki. Setahun yang lalu Arctic Monkeys datang di saat yang tepat, ketika generasi ini sedang gila-gilanya terpukau dengan dunia maya bernama MySpace, sehingga tak heran fenomena itu pulalah yang mengantarkan album tersebut menjadi debut album yang paling banyak terjual di minggu pertama setelah perilisannya di Inggris. Hari ini kita hanya dapat bertanya, apakah semuanya semegah yang kita rasakan saat itu?

Untuk kasus “Whatever…” lagu – lagu yang ada di sana memang memberikan “anthem” baru di awal abad 21 ini. Tapi untuk menindaklanjuti semua mimpi indah itu hanya dalam kurun waktu setahun, kita hanya dapat berperasaan was – was kalau album kedua Arctic Monkeys tidak akan sebrilian debut mereka.

Dan kesan pertama yang timbul membawa album itu terpuruk dalam jurang kekecewaan. Tidak ada lagi lick gitar se-groovy “Fake Tales San Fransisco” atau hook – hook manis seperti dalam “A Certain Romance”, bahkan dibanding dengan “I Bet You Look Good On The Dance Floor”, “Brianstorm” seperti sebuah usaha mengumbarkan kemegahan fana.

Di situlah berakhir sejarah sebuah album yang dinobatkan NME, sebagai album kedua yang paling diantisipasi publik Inggris sejak “Second Coming”-nya The Stone Roses.

Benarkah demikian?

Seperti layaknya dua orang kakak – beradik yang dilahirkan hanya terpaut satu tahun, kedua album itu mempunyai kekuatannya masing – masing. Jika “Whatever…” memukul K.O pendengarnya dengan seketika, “Favourite Worst Nightmare” akan menyengat seperti lebah, tidak akan menyakitkan pertama kalinya, tetapi dengan frekuensi berulang – ulang yang intensif, kita akan takluk padanya.

“Brianstorm” memang bukan sebuah lagu seperti “I Bet You Look Good On The Dance Floor”, tapi simak serangan drum Matt Helders di awal lagu tersebut, begitu memekakkan telinga. Di lagu ini terasa arahan produser James Ford yang juga memproduksi album perdana Klaxons. Dengan teliti ia mengolah setiap instrumen dalam lagu itu, suara Alex Turner di lagu itu mencerminkan sebuah kemisteriusan yang optimis, serangan gitarnya dan Jamie Cook akan menusuk telinga kita dengan tajam, menjadikan lagu ini sebuah pengalaman “sonic” yang menakjubkan.

“Balaclava” dimulai hanya dengan vokal Turner dan permainan bas dari Nick O’Malley. Di lagu ini Arctic Monkeys banyak menfiturkan permainan “stop ‘n go”, perpaduan antara lick – lick gitar yang terdengar hampir seperti sebuah humor yang menggelitik atau hanya permainan bas dan drum/perkusi. Mereka kemudian melangkah lebih jauh lagi dalam “Fluorescent Adolescent”. Lagu ini menggemaskan telinga pendengarnya, membawa kita pada sebuah mimpi ketika Turner menyanyikan “Oh that’s boy a slag, the best you ever had, is just a memory and those dreams, not as daft as they seem. My love when you dream them up..”.

“Only Ones Who Know” adalah lanjutan “Riot Van” dari album pertama. Begitu tenang dan menghanyutkan. Pembuktian kalau Arctic Monkeys tidak hanya dapat memberikan kita lagu – lagu untuk berdansa di tengah malam yang glamour, sesungguhnya lagu ini memberikan harapan akan masa depan Arctic Monkeys.

Bila album ini memiliki sebuah lagu yang menjadikannya “center piece” untuk lagu – lagu lainnya, maka lagu itu adalah “Do Me A Favour”. Jika kita hanya tahu lagu – lagu dari “Whatever…” kita tidak akan pernah berani mempertaruhkan kalau Arctic Monkeys akan menulis lagu seperti ini. Lagu itu menghipnotis kita seperti layaknya berada di bawah siraman matahari hangat Kuta dengan suara gitarnya yang menyeret malas. Sebuah ilusi tidak ingin berlari dari benak kita, terutama ketika Turner menyanyikan “Do me a favour, stop asking questions!….curiosity becomes a heavy load, too heavy to hold, too heavy to hold…how to tear apart the ties that bind? Perhaps fuck off, might be too kind”.

Album ini ditutup dengan “Old Yellow Bricks” dan “505”. Di lagu yang disebutkan pertama Turner melantunkan “Who wants to sleep in the city that never wakes up? Blinded by Nostalgia, who wants to sleep in the city that never wakes up?” Ditemani suara gitar yang akan menghantui kita, seakan mengajak kita untuk mencari arti dari sesuatu di kota yang kita tinggali. “505” adalah permata yang tepat untuk menuntaskan “Favourite Worst Nightmare”. Dimulai dengan sangat pelan dan nyaman, lagu ini kemudian berbalik menjadi sesuatu yang akan selalu kita puja dari Arctic Monkeys di tahun 2007. Ia menenggelamkan kita ke dalam perasaan menerawang, mengetahui sesuatu yang menakjubkan akan terjadi. Ia memanjakan kita dengan segala melodinya yang terlalu menarik untuk ditolak.

Setelah 37:34 menit dibuai oleh Arctic Monkeys, ternyata mimpi buruk itu tidaklah separah yang kita bayangkan. “Favourite Worst Nightmare” telah menyengat kita berulang – ulang, sehingga kita pun tidak bisa melakukan hal lain selain takluk padanya. Ini adalah karya sebuah band yang mencintai musik mereka dan tidak peduli akan media di sekelilingnya. Untuk itu kita pun menghapus skeptis dari muka kita, dan mengangkat topi untuk mereka.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Arctic Monkeys – Whatever People Say I am, That’s What I’m Not

wpsiatwin.jpg

Arctic Monkeys
Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not
Domino – 2006


The fastest selling debut album in UK Album Chart. Bila sebuah band Indie, berhasil melakukannya, maka ini adalah sesuatu yang mengagumkan, dan percaya atau tidak ini hanya akan terjadi di Britannia Raya. Mungkin kita harus hidup di sana untuk mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Bahkan seorang Robbie Williams atau Gareth Gates pun tidak sanggup untuk melakukan hal ini.

Sebuah band asal Sheffield, bernama “Arctic Monkeys” telah berhasil melakukan hal yang menurut banyak orang tidak dapat dilakukan. Ingat terakhir kali ada band dari Sheffield yang pernah menembus ingatan dunia pop kita? Sejauh yang bisa teringat hanyalah “Pulp” dengan lirik mengagumkan dari seorang Jarvis Cocker. Sebuah band yang memainkan rok ‘n’ rol ala The Libertines menjual album lebih banyak dari Sugababes di minggu pertama penjualannya, apakah yang telah terjadi? Inikah saatnya di mana suara feedback gitar menjadi kembali lebih “cool” dari goyangan pantat seksi? Jika ini yang terjadi, maka inilah saatnya untuk berteriak “Hurra” dengan kedua kepalan tangan meraih langit, apapun status dan pekerjaanmu, tidak peduli apakah dirimu seorang pelajar sekolah berusia 17 tahun, atau seorang insinyur di perusahaan IT yang besar. Inilah saatnya kita kembali mendengarkan musik yang berati bagi diri kita.

Karena mendengarkan debut album “Arctic Monkeys” kita akan dibawa meledak ke sebuah luapan perasan yang tidak akan kita bayangkan. Mereka yang berumur 17 tahun, dan terlalu muda untuk mengenal seorang Liam Gallagher, Ian Brown, dan Stephen Patrick Morrissey, akan menemukan sesuatu yang berarti di hidupnya mendengarkan suara gitar di album ini. Mereka yang berusia 27 tahun, akan secara tidak sadar menghentakkan kakinya penuh ekstase, sambil tersenyum puas di depan layar komputer di tempat bekerja mereka, karena album inilah yang mengantarkan perasaan mereka kembali ke 10 tahun yang silam.

“Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” adalah sebuah album untuk berdansa. Lagu – lagu seperti “I Bet You Look Good On The Dancefloor”, “Fake Tales Of San Fransisco”, “Dacing Shoes” ataupun “Still Take You Home” adalah sebuah jaminan mutu pengisi lantai dansa di sebuah malam Indie di diskotek kesayangan kalian. Kuartet yang konon masih berusia 19 tahun ini, tidaklah mencoba memoles perasaan mereka dalam setiap lagunya, yang keluar hanyalah sebuah sensasi untuk terus menikmati kehidupan yang nyata.

“Arctic Monkeys” adalah sebuah fenomena di mana rockstar dihasilkan oleh sebuah acara televisi dan tidak membawa hasil. Dengan menyebarkan demo musik mereka melalui Internet, “Arctic Monkeys” berhasil menjual habis arena konser legendaris di London “Astoria”, sebelum mereka mengeluarkan album mereka. “Arctic Monkeys” telah mengembalikan arti “Music For The People”, seperti yang dilakukan Oasis dengan “Definitely Maybe” di tahun 1994. Ini adalah jawaban terbaik musik yang bisa diberikan kepada dunia industrinya yang panik terhadap kemajuan tehnologi.

Walaupun, ini bukanlah debut album terbaik sepanjang masa, tetapi ini adalah album yang akan mendefinisikan sebuah era baru, yang akan kembali memberikan inspirasi kepada generasi 17-an di saat ini. Paling tidak album ini akan membuat kita berdansa dengan tersenyum puas, dan sekali lagi merentangkan kepalan tangan kita ke langit. Apapun yang terjadi, ini adalah album yang harus dimiliki, karena album ini adalah kemenangan kita, saatnya untuk berpesta!

David Wahyu Hidayat




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,070 hits