Posts Tagged ‘Bloc Party

14
Apr
17

Playlist: Favourite Tracks From The Year 1997/2007

 

 

Dalam setiap dekade ada setidaknya satu tahun yang pivotal keberadaannya secara musikalis, karena menghantarkan karya demi karya yang terdengar majestik dan membentuk momen-momen yang mendefinisikan kehidupan. 1997 dan 2007 adalah tahun-tahun yang masuk dalam kategori di atas.

 

Di tahun 1997, orde baru memasuki penghujung hidupnya, begitu juga dengan kerajaan lain bernama Britpop. Album ketiga Oasis Be Here Now memastikan kematiannya secara gemilang, di sisi lain Radiohead melalui OK Computer dengan akurat memprediksi kehidupan setelah Britpop dan abad 21 dengan cara hidup paranoid di sebuah ekosistem bernama Android ataupun sistem operasi lainnya yang mengikat manusia dalam kefanaan dunia maya. Sebelumnya, Blur sudah lebih dulu memilih jalan keluarnya dari skena itu dengan merilis album brilian mereka di awal tahun, serta karya-karya elektronika fenomenal dari The Chemical Brothers dan Prodigy yang membuka jalan bagi artis-artis bergenre elektronik lainnya.

 

10 tahun berikutnya tantanan kehidupan dunia telah berubah, dengan peristiwa 09/11 di tahun 2001 yang mendikte kehidupan di millennium baru. Dalam dunia musik, sekali lagi Radiohead berperan melalui perilisan album In Rainbows dengan metode pembayaran suka-suka. Ketika perilisan fisik di ambang kematiannya digantikan dengan digitalisasi, mereka memilih untuk tidak didikte dengan itu, dan di luar semuanya album tersebut adalah sesuatu yang sangat brilian. Pahlawan-pahlawan baru pun muncul dalam bentuk album-album yang dirilis LCD Soundsystem, Efek Rumah Kaca maupun Bloc Party di tahun itu.

 

Playlist ini adalah sebuah perayaan akan keindahan musik di 2 tahun tersebut yang terpisahkan 1 dasawarsa dan bagaimana momen-momen yang mengitarinya adalah sebuah bersitan kehidupan yang akan selalu tergores dalam pita memori alam pikiran saya.

 

Beetlebum – Blur (dari album Blur)

 

Dirilis sebagai single nomor satu dari album yang berjudul sama dengan band mereka, album ini adalah sebuah awal baru bagi Blur. Perlahan tapi pasti mereka mulai melepaskan ciri khas british ladism yang melekat pada mereka di album-album sebelumnya, digantikan dengan nuansa psikedelia dan americana pada karya-karya di album ini. Jujur saya menyukai perubahan arah ini.

 

Kirana – Dewa 19 (dari album Pandawa Lima)

 

Jika band ini meneruskan arahan yang terdengar pada lagu dan album ini, serta tidak tenggelam dalam godaan lain di luar musik, mungkin Dewa 19 akan menjadi band Indonesia yang paling saya gilai sepanjang masa. Bagaimana tidak, siapapun yang mendengarkan lagu ini di tahun 1997 akan mengakuinya sebagai sebuah mahakarya. Vokal Ari Lasso, permainan gitar Andra, dan nuansa magis yang membungkus lagu itu, semuanya adalah kesempurnaan. Sekali lagi kesempurnaan.

 

Discotheque – U2 (dari album Pop)

 

Siapapun yang pernah hidup dan merasakan tumbuh besar di tahun 90an tidak akan pernah bisa memungkiri, bahwa U2 adalah band terbesar di masa itu. Tidak ada yang bisa menyentuh U2, bahkan ketika merilis Pop dan merilis sebuah nomor discorock seperti Discotheque kita menyorakinya dan menyebutnya sebuah progres luar biasa dalam arahan musik mereka. (Betapa kita sesungguhnya salah besar), namun jika kita mengalaminya di masa itu, kita akan memuja Bono, The Edge, Larry dan Adam dengan sepenuh jiwa kita.

 

Monkey Wrench – Foo Fighters (dari album The Colour And The Shape)

 

Kita masih tenggelam dalam duka akibat wafatnya Kurt Cobain, ketika Dave Grohl memasuki dunia musikalis kita melalui Foo Fighters. Skeptis adalah kata yang tepat karena curiga ia hanya mendompleng nama besar Nirvana. Namun nomor seperti Monkey Wrench di tahun 1997 merasuki jiwa dan telinga kita, dan kita pun dengan cepat menyadari bahwa ia memiliki bakat tersendiri yang berbeda dengan pemimpin band legendaris asal Seattle itu. Pelan-pelan Foo Fighters pun menemukan tempatnya tersendiri di hati kita.

 

Around The World – Daft Punk (dari album Homework)

 

1997, MTV tengah malam di bulan Juni. Sebuah video klip dengan latar belakang warna-warni technicolor dalam bentuk bundaran-bundaran, serta manusia-manusia yang tanpa henti berjalan naik-turun dalam piramida tangga yang berdiri di depannya, diputar di malam yang seakan tak lekas henti itu. Musik yang mengiringinya adalah sebuah pencerahan. Apakah ini, pikir saya waktu itu, kata-katanya hanya terdiri dari “Around The World” yang diucapkan berkali-kali dengan logat eropa, musiknya terdiri dari bits-bits elektronik seperti R2D2 dan C3P0 sedang menyanyi dengan bahasa droid dalam pesta mereka di Millenium Falcon. Ketika video klip itu hendak usai terpampanglah nama artis yang memiliki karya tersebut. Daft Punk. Dan itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan mereka.

 

Block Rockin’ Beats – The Chemical Brothers (dari album Dig Your Own Hole)

 

Jika tidak karena The Chemical Brothers mungkin saya tidak akan pernah menghormati karya-karya musik elektronik maupun artis-artis yang saya gilai di kemudian hari seperti LCD Soundsystem. Block Rockin’ Beats adalah pembuka jalan dari semua itu. Bagi saya The Chemical Brothers adalah pionir, dan saya berterima kasih karena mereka telah membuka mata saya.

 

Smack My Bitch Up – The Prodigy (dari album The Fat Of The Land)

 

The Prodigy sesuai dengan nama bandnya adalah komplotan jenius. Mendengarkan Smack My Bitch Up, kita disodorkan sesuatu yang terlalu nyeleneh untuk sebuah musik elektronik, tetapi di sisi lainnya terlalu digital untuk dikatakan punk. Jika elektropunk mempunyai sebuah embrio, lagu ini adalah hal tersebut.

 

Paranoid Android – Radiohead (dari album OK Computer)

 

Paranoid Android akan selalu melekat dalam diri Radiohead, sebagai lagu yang mendefinisikan karir mereka sebagai band paling jenius di generasinya. Ditulis dan dihantarkan sebagai sebuah rock opera multi fragmen, lagu ini akan membuai kalian, lalu menusuk telinga dan raga dari seluruh penjuru, seperti sebuah perjalanan roller coaster yang akan menjungkirbalikkan daya gravitasi, membuat mual tetapi pada momen ketika kita akan meluncur bebas, kita akan merasakan keindahannya. Itulah kejeniusan Paranoid Android.

 

Don’t Go Away – Oasis (dari album Be Here Now)

 

Sejujurnya secara pribadi saya menyukai Be Here Now. Walau sekarang dikecam oleh banyak orang, namun album itu selalu mendapatkan tempatnya di hati saya. Bagaimana tidak, album ini memiliki kekuatan dengan lagu seperti Don’t Go Away yang merupakan salah satu lagu ballad terbaik yang pernah diciptakan Noel (lebih baik dari Stand By Me yang dirilis sebagai single). Be Here Now mungkin merupakan stempel resmi kehancuran Britpop, tetapi bagi saya ini merupakan album solid lainnya yang pernah dihasilkan Oasis. Akhir dari diskusi.

 

The Drugs Don’t Work – The Verve (dari album Urban Hymns)

 

Lagu ini adalah lagu after party dari Britpop, dari segala kegilaan tahun 90an, dari hedonisme masa SMA kalian. Mengalun dengan manis, dengan suara khas Richard Ashcroft yang pasti akan membawa kalian ke alam sadar setelah segala sesuatunya. Lagu ini juga menjadi cetak biru tipikal lagu ballad band dari Britania yang datang setelahnya seperti Travis dan Coldplay. Jika segala sesuatu terasa berat dalam kehidupan, dengarkan saja lagu ini, pejamkan mata, dan semuanya akan baik-baik saja.

 

Fake Empire – The National (dari album Boxer)

 

Ditulis dengan inspirasi Amerika di bawah pemerintahan Bush, lagu ini masih tetap relevan sampai detik ini di tengah segala kegilaan politik populisme dunia. Pada akhirnya memang politik tidak bisa dipercaya, apakah kehidupan yang kita jalani kita hidupi untuk diri kita sendiri, atau untuk kemajuan mereka yang duduk di atas singgasana dalam kerajaan semu? Daripada memikirkan semua itu lebih baik menikmati keindahan lagu ini, sambil ikut melantunkan liriknya “Turn the light out say goodnight, no thinking for a little while

Let’s not try to figure out everything at once….”

 

We’ll Live and Die In These Towns – The Enemy (dari album We’ll Live and Die In These Towns)      

 

Kota yang kita tinggali seringkali keji sekaligus brutal. Ia mengharuskan kita bekerja 12 jam sehari, ditambah dengan pergulatan menempuh kekejaman lalu lintas ketika berangkat dan dalam perjalanan pulang yang dapat memakan waktu tempuh tidak masuk akal. Namun kota yang sama memberikan kita orang-orang yang kita cintai, senyuman dalam diri orang asing yang masih mau membantu kita ketika putus asa karena ban kendaraan kalian tertancap paku. Setiap kali mengingat semua kebaikan tersebut, saya teringat lagu ini, dan saya selalu tersenyum karena di kota ini saya tinggal dan hidup.

 

Bodysnatchers – Radiohead (dari album In Rainbows)

 

In Rainbows adalah album yang nyaris sempurna. Jika Radiohead tidak pernah merilis Kid A, mungkin ini adalah album terfavorit saya dari mereka. Dirilis dengan metode pembayaran sesuka konsumernya, In Rainbows mendobrak pakem-pakem distribusi musik konvensional. Dari sisi musik, ini adalah karya paling menarik yang pernah dihasilkan Radiohead, dengan lagu ini sebagai salah satu contohnya, melalui serangkaian efek gitar yang meledakkan amplifier dan merobek telinga.

 

Hunting For Witches – Bloc Party (dari album A Weekend In The City)

 

Merilis album keduanya di tahun 2007, Bloc Party mengukuhkan diri mereka sebagai band penting asal Inggris penting di generasi mereka. Mengambil tema kegalauan kehidupan generasi milenial, album ini masih menemukan relevansinya sampai sekarang, begitu juga dengan lagu ini yang mempertanyakan versi kebenaran yang kita kejar. Russell Lissack menfiturkan permainan lick-lick gitar menarik yang membuat lagu ini masih menjadi nomor favorit yang dimainkan Bloc Party sampai sekarang.

 

Jacqueline – The Coral (dari album Roots & Echoes)

 

Tidak banyak band seperti The Coral yang dengan keindahan jingle-jangle gitar mereka berfungsi sebagai mesin waktu ke masa-masa di mana dunia tidaklah serumit sekarang. Jacqueline adalah lagu musim semi di mana kegalauan musim dingin telah berlalu, dan yang ada di depan hanyalah hangatnya sang Surya yang menerpa wajah kita ditemani manusia yang kita cintai.

 

True Love Way – Kings of Leon (dari album Because of The Times)

 

“I want in, like a substitute…” sejak awal lagu ini adalah sebuah pernyataan. Jika cinta hanya bisa sekali dinyatakan maka lirik tersebut merupakan sebuah pernyataan yang sangat dasyhat. Karena tidak ada yang lebih tinggi, daripada hasrat sebuah pemain pengganti yang ingin memasuki arena pertandingan. Di album ini Kings of Leon mengukuhkan diri bahwa mereka bukan sekedar pengikut tren yang diawali oleh The Strokes dengan memainkan garage rock, tetapi mereka membuktikan bahwa mereka adalah sebuah kuartet solid yang dapat memainkan musik untuk memukau jutaan orang.

 

Di Udara – Efek Rumah Kaca (dari album Efek Rumah Kaca)

 

Tahun 2007 adalah tahun di mana Yang Mahakuasa menganugerahkan sebuah band bernama Efek Rumah Kaca ke tanah air ini. Dengan lirik yang penuh arti, musik yang mengusik sanubari, band tersebut benar-benar merupakan anugerah dalam kehidupan kita. Di Udara adalah lagu yang didedikasikan untuk almarhum Munir, aktifis maupun pasifis, siapapun yang pernah menyaksikan lagu ini dimainkan langsung akan merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekuat itulah kuasa lagu ini.

 

All My Friends – LCD Soundsystem (dari album Sound of Silver)

 

Dengan dentingan piano tanpa henti dan sentakan drum seperti senapan mesin yang menyemburkan pelurunya bertubi-tubi, serta lirik penuh elegi terhadap sebuah pertemanan “…You spent the first five years trying to get with the plan, And the next five years trying to be with your friends again…” James Murphy melalui lagu ini menumpahkan isi hatinya tentang menjadi dewasa. Sesungguhnya mendengarkan lagu ini, tidak ada yang lebih indah menemukan fakta bawah kita tidak lagi di umur belia kita, dan kehidupan sesungguhnya baru saja dimulai.

 

To The Sky – Maps (dari album We Can Create)

 

Maps alias James Chapman adalah semacam tips rahasia balik di tahun 2007. We Can Create adalah sebuah album elektronik pop yang sempurna, mendefinisikan suasana etereal yang lugas, dan To The Sky adalah salah satu permatanya. Mendengarkannya kita akan benar-benar mengambang, menatap langit penuh keindahan tidak peduli apakah hari itu cerah atau dipenuhi kegelapan, karena lagu itu akan mencerahkan segalanya.

 

505 – Arctic Monkeys (dari album Favourite Worst Nightmare)

 

Melalui album keduanya Favourite Worst Nightmare, Arctic Monkeys membuktikan bahwa mereka bukan hanya sensasi semalam saja. Album kedua mereka seperti seorang adik kandung yang lebih misterius namun penuh daya tarik jika dibandingkan dengan album pertama mereka yang sensasional itu. 505 nomor penutup album kedua tersebut, merupakan pembuktian bahwa Alex Turner adalah penulis lagu terbaik di generasinya dan Arctic Monkeys adalah band yang tidak takut untuk memasuki teritori yang baru.

 

David Wahyu Hidayat

26
Des
16

Favorit 2016

photogrid_1482687460277

 

 

Kebahagiaan musikalis saya tahun ini berawal di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016, ketika saya menyaksikan megahnya Efek Rumah Kaca mengantarkan lagu-lagunya pada Konser Sinestesia. 3 bulan setelahnya di penghujung April, saya menjadi saksi di mana lapangan parkir Senayan diubah menjadi lantai dansa psikedelik masal oleh Tame Impala dalam kunjungannya ke Jakarta.

 

Di paruh kedua tahun ini, tanah air dibanjiri dengan banyak pertunjukkan musik, tak luput juga perhelatan festival. Saya beruntung dapat datang di 2 kesempatan yaitu Soundrenaline Festival di GWK, Bali dan Synchronize Festival di Kemayoran (Dengan menyaksikan Rhoma Irama sebagai salah satu momen paling berkesan yang saya rasakan tahun ini). Satu hal yang saya simpulkan dari mendatangi 2 festival itu adalah betapa kayanya negeri ini akan band/artis berkualitas, dan di tengah-tengah segala pertanyaan akan apa artinya menjadi Indonesia, musik yang dibawakan dari band-band tanah air itu yang membuat saya bangga menjadi warga negara Nusantara dan merasakan bersyukurnya menjadi bagian dari nasion yang sangat kaya dan beragam ini. Di dua festival itu, musik mempersatukan keragaman penonton tanpa memandang latar belakangnya, dan kita semua bisa merasakannya dalam atmosfir penuh kebahagiaan.

 

Dalam format trek dan album, tahun ini kembali dipenuhi dengan segala hingar bingar yang membuat kita terpana penuh keheranan, karena musik sekali lagi menyulap hari-hari kita menjadi sesuatu yang istimewa, tak peduli kita sedang berada di rumah, maupun sedang tenggelam dalam tuntutan pekerjaan, sedang sendiri atau bersama orang-orang yang kita kasihi. Di bawah ini, adalah para trek dan album favorit saya tahun ini yang mengubah dan memberi arti hari-hari saya di tahun 2016 ini.

 

 

Trek:

 

Beat The Ordinary – Elephant Kind

 

Lagu ini adalah sebuah pembuktian bahwa Elephant Kind adalah sebuah unit (indie) pop berbakat yang ada di Indonesia saat ini. Setiap hook-nya menyiratkan keoptimisan masa muda dan harapan bahwa dunia bisa ditaklukkan di bawah kaki mereka tanpa harus menaklukkan siapa pun.

 

 

Aviation – The Last Shadow Puppets

 

Ketika Arctic Monkeys sedang tidak menghibur kita dengan apapun yang mereka rilis, Alex Turner menyibukkan diri dengan sahabatnya Miles Kane sebagai The Last Shadow Puppets. Aviation adalah trek tipikal duo tersebut dengan gitar berefek retro serta lirik yang membuat para wanita turun berdansa dan para pria berdiri terpana mengaguminya.

 

Find Me – Kings of Leon

 

13 tahun sejak Youth & Young Manhood dirilis, Kings Of Leon tetap konsisten memainkan rock americana yang mampu diterima oleh masyarakat arus utama. Find Me adalah nomor yang punya daya tarik karena lick berkesinambungan Matthew Followill terlalu manis untuk dilewatkan dan suara vokal Caleb Followill masih tidak dapat ditolak oleh semua orang yang punya selera bagus dalam bermusik.

 

 

Gimme The Love – Jake Bugg

 

Ini adalah lagu paling terus terang dari Jake Bugg. Menyanyi seakan dirinya adalah rapper paling begundal dan dengan semangat seorang Mike Tyson, Gimme The Love adalah pernyataan seorang artis yang tidak kenal kata takut untuk berevolusi.

 

Like Kids – Suede

 

Salah satu kritikus musik menyebutkan Night Thoughts adalah album di mana Suede menemukan keseimbangan antara sisi gelap Dog Man Star dan keseksian Coming Up. Trek ini mencerminkan yang terakhir, ketika Brett Anderson menjadi androginous sejati diiringi binalnya suara gitar Richard Oakes.

 

Million Eyes – The Coral

 

Setiap kali The Coral mengeluarkan album, setiap kali itu pula saya terpana karenanya. Distance Inbetween adalah sebuah album ajaib, dan trek seperti Million Eyes adalah buktinya. Para sonic scouser itu menukar pop-folk mereka dengan psikedelia berat namun harmonis di lagu itu. Memasuki 14 tahun karir bermusik mereka hal itu adalah sebuah konsekuensi yang sangat logis untuk diambil, sekaligus patut diacungkan jempol sebagai tanda betapa briliannya mereka.

 

Serigala – Indische Party

 

Entah atas alasan apa, menurut saya Analog adalah album yang sangat identik dengan The Velvet Underground dengan Serigala sebagai trek andalannya. Trek  itu membakar semangat, seperti layaknya  seorang pemuda yang akan menerkam dan menaklukkan CBGB di malam menuju Minggu.

 

Threat Of Joy – The Strokes

 

Lagu ini adalah sebuah pertanda bahwa The Strokes masih dapat dengan mudah menciptakan lagu yang sangat melodis seandainya mereka mau sepakat untuk melakukannya. Tanda-tanda akan kecintaan mereka terhadap musik yang mudah dipasarkan seperti waktu mereka menghantarkan Is This It, terdengar dengan gamblang di lagu ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi barometer untuk lagu-lagu mendatang yang akan dikirimkan The Strokes ke planet ini.

 

Candu Baru – Zatkimia

 

Ketika mendengarkan Zatkimia pertama kali di Soundrenaline, saya terhenyak karena melihat sebuah band yang sangat menyegarkan dan tanpa rasa takut menguasai panggung di GWK waktu itu. Band ini adalah pahlawan baru pulau dewata, dengan musik yang kental akan aroma grunge dan rangkaian musik alternative yang kita kenal di tahun 90-an. Walaupun belum mengeluarkan album secara penuh, lagu yang bertemakan kecanduan manusia akan segala piranti digital ini, menjadi semacam pertanda bahwa semesta akan menyertai masa depan band ini.

 

The Journey Starts Tonight – Rumahsakit

 

Anak indie atau bukan, penggemar Rumahsakit atau bukan, lagu ini wajib menjadi soundtrack baru mereka yang sedang kasmaran serta mencintai kehidupan. Daya tarik pop lagu ini terlalu besar dengan lirik yang sangat optimis “’Cause you are so bright And now I’m blinded by The magic in your smile” dan riff gitar apik yang akan membuat kita bersiul bahagia setiap pagi. Jika semuanya tergantung kepada saya, lagu ini seharusnya berada di setiap siaran tv dan radio yang mempromosikan lagu Indonesia, karena ini adalah lagu bagus dan setiap orang harus mengetahuinya.

 

 

Wave – Heals

 

Tradisi bahwa Bandung selalu memproduksi band beraliran shoegaze yang tidak kalah kualitasnya dengan band yang berasal dari Oxford maupun Stockholm dilanjutkan dengan Heals. Merilis beberapa single di tahun ini, dengan Wave adalah salah satunya, Heals adalah badai suara yang tidak dapat dilewati. Kualitas band dan lagu ini terlalu baik, sehingga sudah seharusnya kerajaan shoegaze itu di kudeta, dan ibukotanya dipindahkan ke Bandung.

 

Stunt Queen – Bloc Party

 

Lagu ini adalah definisi Bloc Party MK II, di mana saat mereka bercumbu dengan aroma elektronika tidak menjadikan keluaran band ini menjadi janggal tetapi merupakan sesuatu yang patut dipeluk dan dinikmati. Saya beruntung menyaksikan Bloc Party dengan komposisi personil baru di Bali, September lalu. Yang saya saksikan adalah sebuah band yang kembali menikmati posisinya sebagai salah satu band berpengaruh di dekade lalu dan itu terasa dan terdengar dalam Stunt Queen.

 

Beautiful Thing – The Stone Roses

 

Tahun ini dua kali saya bangun dini hari bukan untuk sepakbola, tetapi untuk mendengarkan pemutaran perdana lagu terbaru dari The Stone Roses. Lagu yang dirilis kedua, seperti judulnya adalah sesuatu yang indah. Jika hiatus panjang itu tidak pernah terjadi, dengan wah-wah yang mendominasi dan hook-hook psikedelik dari John Squire serta vokal biblikal Ian Brown, lagu ini tidak bisa tidak merupakan penerus yang sah dari Fools Gold.

 

Finally First – Beyond The Wizard Sleeve

 

Hentakan drum repetitif itu sukses menghanyutkan kita ke dalam era di mana definisi musik elektronik adalah Chemical Brothers dan Everything But The Girl, serta acid house adalah musik yang kita cintai kala berpesta di pesisir Ibiza pada puncak dekade 90an.

 

Extra Mile – Kimokal

 

Sebenarnya ketukan-ketukan yang mengawali lagu ini terasa janggal ritmenya namun kaki tidak bisa diam untuk berdansa dengannya. Sementara itu vokal Kallula yang meramban otak kita membentuk sebuah halusinasi nyaman dalam alam pikiran. Sesaat kita lupa akan dunia nyata, dan memasuki kemayaan indah versi Kimokal.

 

Identikit – Radiohead

 

“Broken hearts make it rain” kata-kata itu diulang Thom Yorke di lagu ini seperti mantra. Apakah ini lagu patah hati Radiohead yang pertama? Sesungguhnya tidak peduli ini lagu patah hati atau bukan. Dengarkan musik yang mengiringinya; ketukan-ketukan ganjil itu, suara synth yang menghantui ketika Yorke menyanyikan kata-kata di atas dan rentetan gitar yang membentuk klimaks di akhir lagu. Mendengarkan semua itu, kita tahu bahwa Radiohead tetap dan masih sebuah band jenius yang tidak ada tandingannya di abad ini.

 

 

Monumen – The Trees and The Wild

 

The Trees and The Wild benar-benar membangun sebuah monumen yang dilapisi tembok-tembok suara menakjubkan di lagu ini. Ia seperti ledakan emosi paling hebat dalam tubuhmu dengan vokal yang menghantui, hentakan drum yang konsisten mendeterminasi jiwa dan serangan gitar penuh dengan efek yang menyeruak dan berkoloni di dalam alam pikiran.

 

Merdeka – Efek Rumah Kaca

 

Efek Rumah Kaca merilis single mereka ini menjelang hari kemerdekaan RI yang ke 71. Sungguh, saat mendengarkan Efek Rumah Kaca, salah satunya melalui lagu ini, kita selalu diingatkan terus menerus akan makna menjadi manusia seutuhnya dan menjadi Indonesia sepenuhnya. Lagu ini adalah sebuah harapan.  

 

Pekerja – Bangkutaman

 

Lagu latar buat para pekerja-pekerja di metropolis Nusantara. Memang perjalanan menuju dan dari tempat bekerja bisa saja berbuat kejam kepada kita. Tuntutan atasan dan pekerjaan bisa membuat lupa bahwa kita seorang manusia. Lagu dengan nuansa folk ini mengingatkan kita bahwa sesekali tidak ada salahnya menghela nafas sesaat dan menjadi rileks sejenak, sebelum meneruskan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

 

Modern Soul – James Blake

 

Menjelang tengah malam dan jam-jam setelahnya adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan musik James Blake, tak terkecuali lagu ini. Musiknya akan menyelimuti kita dengan kegundahan yang menyenangkan, ia akan mengambil porsi kekuatiran yang dibawa oleh kegelapan malam, sambil memberi sedikit nyawa kepada fajar yang sebentar lagi akan datang.

 

Cahaya – Tulus

 

“Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya, aku pastikan jalanmu terang”, begitulah janji Tulus kepada kita. Di tahun  2016 ini, bintang penyanyi yang satu ini masih bersinar terang benderang, dan turut bercahaya bersamanya adalah segenap planet pop tanah air.

 

 

Album:

 

Zaman, Zaman – The Trees & The Wild

 

Sesungguhnya dan secara instan album kedua The Trees & The Wild ini adalah sebuah candu yang takkan habis masa pengaruhnya setelah lama didengarkan. Siapapun yang beruntung pernah menyaksikan penampilan band ini secara langsung di tahun yang penting bagi mereka ini, akan merasa pengar musikalis untuk waktu yang berkepanjangan setelahnya. Karena seperti albumnya, mereka telah memberikan sesuatu yang terlalu atmosferik untuk dilepaskan, magis dan monumental sekaligus.

 

A Moon Shaped Pool – Radiohead

 

Album brilian dan menghantui sanubari yang mendeskripsikan Radiohead dalam fase terbaiknya. Mungkin mereka tidak lagi membuat sebuah opera rock seperti Paranoid Android, ataupun mengantarkan trek bernuansa Stanley Kubrick seperti Idioteque, namun silahkan dengarkan Daydreaming dan Identikit, keduanya adalah bagian dari keajaiban yang hanya dapat dihantarkan oleh Radiohead.

 

Analog  – Indische Party

 

Mendengarkan album ini, pikiran lantas teringat kepada New York, Velvet Underground serta musik latar mini seri HBO Vinyl, dan itu adalah sebuah komplimen! Mendengarkan Babe You Got A Hold On Me Somehow seperti mendengarkan Lou Reed sedang berkontemplasi, vokal Tika Pramesti di Ingin Dekatmu mengalun adem dan mengingatkan akan keseksian Nico, sedangkan Serigala mempersiapkanmu menerkam malam minggu paling liar di CBGB!!!

 

Distance Inbetween – The Coral

 

Tidak ada yang berani memperkirakan bahwa The Coral masih sanggup mengeluarkan album, dan betapa sungguh dasyhatnya gelombang yang dikirimkan oleh Distance Inbetween. Serangan-serangan psikedelia kelas berat bertubi-tubi dipancarkan album ini dalam lagu seperti Chasing The Tail Of A Dream maupun Million Eyes. Selayaknya pembaruan yang telah dilakukan oleh seorang Juergen Klopp dalam tubuh tim bola merah kota asal band tersebut, sudah saatnya pula kita balik percaya bahwa The Coral telah kembali dan merestorasi kejayaan mereka.

 

The Soft Bounce – Beyond The Wizard Sleeve

 

Beyond The Wizard Sleeve adalah sebuah kursus bagaimana membuat musik elektronik terdengar sangat organik, dengan mencampurkan elemen psikedelia dan acid house. Ada elemen nostalgia tahun 90-an di sana, mendengarkan album ini seperti mendengarkan The Chemical Brothers dicampur oleh Everything But The Girl yang sedang diet mayo. Jika tidak percaya dengarkan saja Diagram Girl, Creation ataupun hantaman drum penuh ekstase itu dalam Finally First.

 

O – Kimokal

 

Kimokal adalah bukti bahwa geliat musik (indie) Indonesia tidak melulu harus menampilkan gitar sebagai senjata utamanya. Dibalut dengan untaian bit elektronika dan sentuhan post-dubstep, album debut mereka O akan memberikan abstraksi multi warna ketika kita mendengarkannya. Kadang bayangan itu tentang kilau lampu ibukota yang mempesona, kadang tentang sebuah metropolis entah di mana yang memanggil kita untuk berdansa.

 

Walls – Kings Of Leon

 

Setelah album ini dirilis, segala perdebatan dan perbandingan tentang siapa yang lebih baik dan lebih besar antara Followill bersaudara dan lima pemuda dari New York yang menamakan dirinya The Strokes, sudah dan harus diakhiri untuk selamanya. Jika The Strokes seringkali kehilangan arah antara ingin meneruskan warisan Is This It atau membuka dimensi baru di album-album setelahnya, Kings Of Leon mendirikan dinasti yang dibangun dari setiap rilisannya. Walls adalah buktinya.

 

City J – Elephant Kind

 

Terlepas dari sumpah serapah yang bertebaran dengan joroknya di sudut-sudut album ini, dan lagu-lagu yang dipotong dengan janggal ketika kalian sedang asyik-asyiknya mendengarkan (itu mungkin disengaja demikian), City J adalah karya debut pop yang sangat sukses. Album itu diawali dengan Beat The Ordinary yang menebar harum keadaan indie pop Indonesia 2016, dan kemudian dituntaskan dengan pamungkas dengan trek seperti Montage dan The Saviour.

 

Hymns – Bloc Party

 

Sejujurnya setelah mencintai band ini dengan sangat semenjak pertengahan dekade lalu, saya sempat skeptis menyambut album pertama Bloc Party sepeninggalan Gordon Moakes dan Matt Tong yang digantikan dengan Justin Harris & Louise Bartle. Hymns bukanlah album yang menjatuhkan bom seperti Silent Alarm atau bahkan Four sekalipun, tetapi mendengarkannya seperti bertemu seorang teman lama yang selalu tahu cara mengusir kegundahan dengan cara yang lebih dewasa dan menenangkan. Euforia dekade lalu telah berakhir, dan di tengah waktu yang tak kenal arah ini, Hymns datang sebagai penyembuhan agar kita tetap waras.

 

Night Thoughts – Suede

 

Dengan banjirnya layanan streaming musik termasuk di tanah air ini, tahun ini adalah waktu yang dinyatakan sebagai tahun matinya format album. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Di genre yang lebih dekat dengan arus utama dikatakan Beyonce, Drake dan Kanye menjadi penyelamat format tersebut, sedangkan untuk kita yang terjebak dengan musik dari 2 dekade lalu, Suede menjadi penyelamat dengan merilis Night Thoughts yang dikemas dalam musik yang tidak terputus antar treknya dan bertautan dalam cerita satu sama lain serta didukung oleh sebuah film yang menjadi visualisasi musiknya. Night Thoughts adalah album matang dari Suede yang mengkombinasikan kegelapan Dog Man Star dan keseksian Coming Up dalam album ini. Jika semua band/artis yang reuni setelah bubar memproduksi karya seperti Suede, maka kita semua akan menjadi orang yang lebih bahagia di dunia ini.

 

David Wahyu Hidayat

13
Nov
16

Impresi 2 hari di Soundrenaline Festival 2016

Di awal September lalu, tepatnya pada 3 & 4 September 2016, melalui sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Rolling Stone Indonesia tentang konser terbaik yang pernah disaksikan, saya berkesempatan menyaksikan Soundrenaline Festival setelah terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi tersebut. Pemenang lainnya adalah: Tantan Rahmatullah (https://konstelasikata.wordpress.com/) & Adam Muslihat Santika Putra (https://sayabercengkerama.wordpress.com/).

Kami bertiga diberangkatkan oleh Rolling Stone Indonesia dan selama dua hari memiliki pengalaman tak terlupakan menyaksikan festival terbesar negeri ini sekaligus berkenalan sedikit tentang sisi jurnalisme musik dari teman-teman Rolling Stone Indonesia yang menemani kami. Sebagai “reporter tamu” kami pun diberikan pekerjaan rumah untuk menulis liputan dari Soundrenaline 2016. Di bawah ini adalah impresi saya dari dua hari menghadiri festival terbesar Indonesia itu.

kolase-soundrenaline

Liputan saya tentang Soundrenaline 2016 yang dimuat di situs rollingstone.co.id :

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/26/140509678/1093/binar-hidup-bergelora-dalam-balutan-adrenalin-suara-soundrenaline-2016

rolling-stone-indonesia-binar-hidup-bergelora

Liputan dari Adam dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509679/1093/soundrenaline-2016-gagasan-bersejarah-kancah-musik-indonesia

Liputan dari Tantan dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509680/1093/di-bawah-bendera-musik

Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 yang menampilkan kami bertiga sebagai pemenang kompetisi menulis tersebut:

rsi-oktober-2016-soundrenaline-2016

David Wahyu Hidayat

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

14
Feb
15

Panduan Pemula: Bloc Party

Panduan Pemula - Bloc Party

 

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca artikel-artikel lama di Guardian di mana tajuk artikel tersebut adalah Beginner’s Guide to [Nama artis/band]. Saya tertarik dengan ide artikel tersebut yang memperkenalkan sebuah band untuk khalayak yang mungkin belum mengenal atau sangat minim mengetahui karya-karya band tersebut dengan membuat daftar 10 lagu dari keseluruhan karya mereka. Terinspirasi dari artikel tersebut, saya mencoba untuk membuat artikel yang sama, dimulai dengan Bloc Party.

 

Band asal London tersebut merilis debut album mereka Silent Alarm tepat 10 tahun yang lalu. Album tersebut kemudian menjadi salah satu album penting di dekade ’00. Sulit memang menjustifikasi keseluruhan karir sebuah band dengan hanya 10 lagu, tetapi saya mencoba memilih lagu dari setiap album ditambah 1 atau 2 b-side. Jika kalian tidak menemukan Banquet atau Helicopter di daftar ini, tidak perlu kuatir karena dengan 10 lagu yang ada di sini, menyukai Banquet atau Helicopter adalah konsekuensi logis yang datang setelahnya. Jika bertanya mengapa setengah dari lagu-lagunya datang dari Silent Alarm, jawabannya adalah karena setelah 10 tahun album tersebut masih tetap relevan dan tapal batu dekade yang lalu. Dan Silent Alarm adalah sebuah perayaan.

 

Panduan Pemula: Bloc Party

So Here We Are (dari album Silent Alarm):
Gema yg datang dari petikan gitar itu terlalu mengawang untuk ditolak oleh telinga kita. Kita tidak bisa mendefinisikan band ini, terlalu di luar arus untuk menjadi U2, terlalu sederhana untuk menjadi Coldplay. Inilah pelajaran pertama indie pop ala Bloc party

 

The Marshals Are Dead (dari single She’s Hearing Voices/Bloc Party EP/So Here We Are):
Attention/Unbelievers/Fashion Victims/Opportunities/Blood Sport/Cop Killer/Don’t Trust Art/Don’t Trust Culture. Jika bukan pernyataan seni, tidak tahu lagi definisi apa yang harus diberikan untuk lagu ini.

 

She’s Hearing Voices (dari album Silent Alarm):
Sumbu yang meledakkan Bloc Party di awal karirnya ada di lagu ini. Eklektik, eksplosif dan menggairahkan, semuanya bercampur satu di sini. Dan dengar solo gitar Russell di akhir lagu ini; seperti ledakan orgasme yang memuaskan telinga kita.

 

The Prayer (dari album A Weekend In The City):
Pertama kalinya Bloc Party membelokkan arah mereka dengan memasukkan elemen R ‘n’ B dan gegap gempita hip-hop ke lagu ini. Namun mereka menyisakan sebersit solo gitar mumpuni yang menyayat bagai sebersit laser.

 

Ares (dari album Intimacy):
Apakah kita mendengar The Chemical Brothers di awal lagu ini, atau Bloc Party yg sedang menuangkan amarahnya di lagu perang antara music electronic dan gitar indie yang saling berusaha menerkam satu sama lain? Yang jelas lagu ini membuat kita semua menyerah untuk berdansa di bawah raungan sirene.

 

We Are Not Good People (dari album Four):
Salah satu keahlian Bloc Party adalah memainkan riff-riff yang membahayakan jiwa. Hanya saja kali ini tidak dipenuhi alunan delay dan reverb tapi hanya riff-riff yang menghujam ganas, beringas tanpa ampun.

 

Like Eating Glass (dari album Silent Alarm):
Matt Tong adalah seorang monster di balik perangkat drum. Lagu ini mengawali Silent Alarm, dan menghempaskan kita kepada sebuah band brilian yang mendefinisikan dekade ‘00.

 

The Present (dari album amal Help!: A Day In The Life – War Child):
Lapisan lapisan melodi itu, menggulung bagai ombak yang akan membawa kita ke tepian. Di atasnya adalah suara Kele setengah berteriak setengah berkontemplasi dengan nyanyian penuh harapan “.. time is a healer, time will look after you..”

 

This Modern Love (dari album Silent Alarm):
Selain Banquet dan Helicopter, mungkin ini adalah lagu Bloc Party yang paling dikenal massa. Salah satu alasannya mungkin karena lagu ini pernah melatarbelakangi satu skena sebuah sitkom yang juga mendefinisikan dekade ‘00, mengenai sebuah clique di NY dan pencarian seorang istri yang penuh dengan intrik kehidupan modern. Lagu yang tepat untuk era yang tepat, yang mendasari sekian banyak hal untuk diawali dan diakhiri: persahabatan, cinta, kehidupan.

 

Pioneers (dari album Silent Alarm):
Segala tensi positif dari Bloc Party memuncak di lagu ini. Tidak hanya memuncaki Silent Alarm, tapi lagu ini memuncaki awal karir Bloc Party. Dimulai dengan delay gitar yang bersahutan, harmonisasi vokal dilatarbelakangi drum yang mendentum, lagu ini mencapai klimaksnya dengan teriakan “We will not be the last”. Epik.

 

David Wahyu Hidayat

24
Mar
13

Ulasan Konser: Bloc Party – Tennis Indoor Senayan Jakarta, 20 Maret 2013

Bloc Party

Tennis Indoor Senayan, Jakarta

20 Maret 2013

 

Setlist:

So He Begins To Lie, Trojan Horse, Hunting For Witches, Positive Tension, Real Talk, Waiting For The 7.18, Song For Clay (Disappear Here), Banquet, Coliseum, Day Four, One More Chance, Octopus, We Are Not Good People

Encore 1:

Kreuzberg, Ares, This Modern Love, Flux

Encore 2:

Sunday, Like Eating Glass, Helicopter

Bloc Party JKT

Ulasan:

Hari berganti hari, hal-hal di sekitar kita digantikan dengan modernisme fana. Sejak 2005; kita menunggu bahwa segala kemegahan yang ada di “Silent Alarm” boleh disaksikan di hadapan mata kita, menantikan soundtrack kenihilan kehidupan urban dekade “00” di “A Weekend In The City” didengarkan langsung dengan telinga sendiri, merasakan intimasi dalam balutan lagu-lagu “Intimacy” dengan jarak tidak kurang lebih dari 5 meter. Semuanya itu kita tunggu dari tahun 2005, untuk menyaksikan Bloc Party langsung di kota kita sendiri, bersama ribuan fans lainnya. Hiatus yang terjadi sejak akhir 2009 tidak menolong itu semua akan menjadi kenyataan. Tapi puji pada pencipta langit, darat dan lautan, band tersebut menelurkan “Four” tahun lalu, dan penantian 8 tahun itu berakhir pada 20 Maret 2013.

The Adams live at BlocPartyJKT

Pakaian yang kita kenakan masih terasa lembab akibat hujan yang mengguyur Senayan malam itu, ketika kita mendapatkan perlakuan menyenangkan lainnya, sebelum Bloc Party mengambil alih panggung Tennis Indoor Senayan. The Adams, band yang hampir mengukuhkan dirinya sebagai band mitos, tampil malam itu sebagai band pembuka. Lupakan sejenak kalau mereka terasa kaku setelah lama tidak mencicipi panggung ibukota, atau bentuk ruangan Tennis Indoor yang terkutuk untuk selalu menghadirkan suara yang tidak maksimal. The Adams yang malam itu membawakan lagu-lagu indie favorit seperti “Waiting”, “Konservatif” dan “Hallo Beni” adalah sesuatu yang menghangatkan udara sejuk Jakarta malam itu. Senang melihat mereka kembali ke atas panggung setelah sekian lama.

Lepas pukul 22:00, diiringi lagu yang terdengar seperti soundtrack “The Dark Knight Rises”, hadirlah 4 sosok yang dinantikan itu: Matt Tong, Gordon Moakes, Russell Lissack dan Kele yang malam itu berbalutkan kaus hitam bertuliskan “Support Your Local Artist”. Dengan instan, berakhir pulalah penantian 8 tahun di bawah riuh rendah suara penonton di Tennis Indoor. Set mereka diawali dengan gebrakan sunyi “So He Begins To Lie”, yang berubah menjadi liar ketika gitar Russell, bas Gordy dan gebukan maha dashyat Matt  meledakkan erupsi di akhir lagu. Lagu berikutnya adalah sesuatu yang tidak diduga, karena mereka kemudian memainkan “Trojan Horse”. Dengan tempo yang sedikit lebih lambat dari versi studionya, lagu ini mulai menunjukkan supremasi gitar seorang Russell Lissack.

Bloc Party Live At Tennis Indoor Senayan Jakarta - 1

Dari situ suasana pesta menguasai Tennis Indoor Senayan, karena Bloc Party kemudian memainkan “Hunting For Witches” dan “Positive Tension”. Didukung pencahayaan yang sempurna dan suara yang brilian mereka memborbardir kita dengan ketajaman sonik suara gitar, bas dan drum yang berpadu secara epik di “Hunting For Witches”, dan tanpa sempat membiarkan kita bernafas mereka menyambungnya dengan “Positive Tension”, diawali dengan teriakan Kele yang hari itu ada dalam penampilan vokal terbaiknya. Ketika ia meneriakkan “Something Glorious Is About To Happen” tidak ada orang yang di ruangan itu yang tidak percaya kepadanya, karena malam itu sebuah keagungan berjaya untuk selama-lamanya.

Selang mereka memainkan “Real Talk” yang menurunkan suhu sedikit saja di Tennis Indoor malam itu, Gordy memainkan glockenspiel-nya yang menjadi tanda dari intro “Waiting For 7.18”. Lagu ini kemudian diteruskan dengan “Song For Clay (Disappear Here)”, lagu ini adalah pelepasan mereka yang resah terhadap generasi orangtuanya yang hidup di tahun 80-an, dan orang-orang yang merindukan korupsi di jaman keemasaannya yang disimbolkan dengan Kele waktu menyanyikan “Live the dreams like the eighties never happened…how we longed for corruption in these golden years”. “Banquet” kemudian menyambung tanpa jeda, dan lagu generasi “00” ini meledak, membuat Tennis Indoor bagaikan terkena gempa bumi lokal karena keseluruhan manusia di dalamnya baik yang berada di atas tribun dan di arena festival, melompat naik turun berdansa dengan Bloc Party.

Tidak hanya nomor-nomor lama yang disambut dengan gegap-gempita oleh hadirin Jakarta, lagu-lagu dari album “Four” yang mereka mainkan malam itu juga dapat direspon dengan baik. Dimulai dari “Coliseum” yang diawali Russell dengan ritem gitar americana dari Gibson SG putihnya, yang lalu berubah menjadi ganas di akhir lagu, “Day Four” yang menobatkan Bloc Party sebagai salah satu band yang selalu handal bermain dengan perasaan kecintaan akan kota yang kita tinggali, ataupun “Octopus” yang diterjemahkan dengan baik malam itu, terlebih ketika jari-jari Russell memainkan solo lagu tersebut seperti layaknya seorang virtuso gitar sejati.

Setelah lagu tersebut Russell kembali mengambil Gibson SG putihnya, lalu mereka meluncurkan “We Are Not Good  People”, dan Bloc Party pun berubah bagaikan band metal yang terlepas dari kendalinya, ditambah lagi dengan gebukan drum Matt yang bertubi-tubi seperti gelombang tsunami indie terhebat yang pernah menghantam Jakarta. Lagu itu pula yang menandakan berakhirnya set utama mereka malam itu.

“Kreuzberg” mengawali encore pertama mereka malam itu. Dengan versi yang boleh dibilang melucuti versi aslinya, lagu itu terdengar menyejukkan, menghanyutkan setelah dibanjiri dengan ekstase di set utama Bloc Party. Tetapi hanya sampai lagu tersebut saja ketenangan itu dapat dinikmati. Karena “Ares” menyusulnya dan lagu itu seperti sebuah panggilan perang, dengan serangan gitar Russell yang merobek keheningan dan teriakan Kele untuk berdansa di bawah iringan sirene bernama “Ares” dan publik Tennis Indoor pun mengikutinya dengan taat.

Bloc Party Live At Tennis Indoor Senayan Jakarta - 2

Lalu, momen yang mungkin paling ditunggu-tunggu fans Bloc Party selama 8 tahun pun tiba, ketika Kele mengganti gitarnya dengan sebuah Gretsch Tenesse Rose berwarna merah cherry. Dengan gitar itu ia mengawali intro “This Modern Love” dan penonton pun kembali meledakkan emosinya. Ini adalah bukti mengapa Bloc Party menjadi band indie paling hebat selama 10 tahun terakhir, karena mereka bukan hanya dapat memainkan lagu-lagu penuh ekstase tapi dapat juga menampilkan sisi popnya dalam lagu seperti “This Modern Love”. Sisi pop itu ditampilkan kembali dalam “Flux”. Diawali dengan intro yang diambil dari lagu Rihanna “We Found Love”, lagu tersebut berhasil membuat koor massal orang-orang di Tennis Indoor, dan membuat “Flux” menjadi sebuah nomor klasik Bloc Party, dan itu menjadikannya lagu terakhir yang mereka mainkan di encore pertama.

Kemudian, kita publik Jakarta yang beruntung ini, dihadiahi sebuah kejutan ketika Bloc Party memasuki encore-nya yang kedua. Dalam setlist asli mereka tertera “Ratchet” dan “Truth” sebagai lagu yang seharusnya dimainkan. Tetapi begitu Kele kembali di atas panggung, ia mengatakan “This one is for your hangover tomorrow morning”, dan dimulailah “Sunday”. Di tengah dentuman drum Matt, permainan gitar Russell yang menusuk pelan tapi pasti, Rabu malam itu berubah menjadi Minggu pagi yang menenangkan dikelilingi orang yang kita cintai. Lalu, ketika lagu itu usai, satu persatu seperti berbaris kejutan kedua datang. Diawali dengan delay gitar Kele dan Russell, lalu gebukan drum Matt yang bermain seperti monster, dan bas Gordy yang membuat semuanya menjadi solid, “Like Eating Glass” pun dimainkan. Dan itu adalah sebuah prelude dari klimaks sebuah malam yang fantastik. Malam yang luar biasa itu diakhiri dengan luapan kebahagiaan semua orang di gedung Tennis Indoor Senayan; yang lupa diri melompat atas-bawah, kiri-kanan, bermain dengan 2 kubus plastik raksasa yang dilemparkan dari atas panggung, muka tersenyum puas, mulut berteriak berbalasan dengan lagu yang dinyanyikan, hati diliputi kebahagiaan tanpa batas. Dan dari atas panggung, dengan penuh kemajestikan, Matt, Gordy, Russell dan Kele memainkan lagu yang paling mendefinisikan karir mereka, “Helicopter”. Tuhan memberkati mereka, Tuhan memberkati Bloc Party.

David Wahyu Hidayat




Juni 2017
S S R K J S M
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 140,187 hits