07
Nov
07

Album Review: Radiohead – In Rainbows

radiohead-in-rainbows.jpg

Radiohead
In Rainbows
Tanpa Label – 2007

Belasan, puluhan, ratusan band mempertaruhkan apa yang mereka miliki, menggali inspirasi terdalam untuk menjadi yang terbaik. Untuk mendapatkan pengakuan massa dan kritikus kalau mereka adalah band terbaik sepanjang masa, dan musik mereka diakui sebagai sesuatu yang mendefinisikan sebuah generasi. Banyak dari band – band tersebut gagal memenuhi ekspektasinya sendiri. Mereka yang bernasib sial itu lalu lenyap begitu saja ditelan waktu.

Tetapi sebuah band, pernah mengantarkan album yang diakui sebagai yang terbaik sepanjang masa di tahun 1997. Album tersebut dinamakan “OK Computer”, mendefinisikan bahwa kekompleksan sebuah musik dengan gitar ternyata mampu menjamah massa. Album itu menjatuhkan kerajaan bernama “Britpop” dan tetap menjadi salah satu karya musik paling diakui kejeniusannya sampai sekarang. Tanpa ciri khas alunan vokalisnya di album itu dan album sebelumnya, kita tidak akan pernah mengenal Coldplay atau bahkan James Blunt sekalipun.

Di awal millenium, mereka sekali lagi mengantarkan sebuah mahakarya. Dipenuhi dengan berbagai efek, suara band tersebut seperti datang dari luar angkasa, vokalisnya tidak lagi melantunkan falsetto yang menjadi ciri khasnya. Di album berjudul “Kid A” tersebut, ia seperti seorang robot yang diculik oleh alien. Album itu merupakan penegasan Radiohead kepada dunia, bahwa mereka tidak akan berhenti berkarya hanya pada sebuah pola saja. Album itu mengejutkan, dan di sisi lain sangat optimis dan penuh keajaiban.

7 tahun setelahnya. Industri musik berubah. Web 2.0 adalah kata kunci tidak hanya di kehidupan dunia maya kita, tetapi juga untuk industri musik dan dunia artistik lainnya. Masih kental di ingatan kita, bagaimana sepak terjang Arctic Monkeys diawali dengan sejumlah fans yang mengunggah lagu mereka di MySpace. Dan bukan Radiohead namanya, bila mereka berhenti untuk melawan batasan dan paradigma yang ada.

Dengan tidak didukung oleh satu label rekaman satu pun (paling tidak untuk saat ini) mereka merilis album terbaru mereka “In Rainbows” melalui internet dalam situs ofisial album tersebut www.inrainbows.com. Uniknya mereka yang akan mengkonsumsi album tersebut dapat memilih harga yang akan mereka bayarkan, bahkan gratis sekalipun. Album yang terdiri dari 10 file MP3 dengan 160 Kbps itu, juga tidak disertai dengan DRM, yang berarti sang pemilik file bebas mendistribusikannya ke orang lain, sehingga mengunduhnya di luar dari situs ofisial tersebut, bukanlah perbuatan yang ilegal. Tindakan ini seperti mengantisipasi kejadian seringnya album – album musik yang bocor duluan kepada para pembajak, sebelum dirilis secara resmi. Dengan keputusan Radiohead memberikan kebebasan kepada para fansnya, apakah mereka akan membayar untuk “bocoran” tersebut atau tidak, seperti memberikan sebuah sinyal kepada industri musik yang panik dan bingung menghadapi hal ini. Radiohead membuktikan bahwa tehnologi bukanlah musuh, tetapi sebuah fasilitas untuk memperluas audiens musik mereka.

Cukup berbicara tentang web 2.0 dan kenistaan kehidupan modern, bagaimana dengan musik yang disodorkan “In Rainbows” sendiri? Seperti yang disebutkan di awal tulisan ini. Banyak band boleh mencoba untuk mengklaim sebagai yang terbaik, tapi cukup dengan 42:34 menit yang disodorkan Radiohead dalam album ini, mereka semua yang mencoba, hanya akan dapat bermimpi untuk dapat mengantarkan sebuah karya sesempurna ini.

Kita berpikir setelah “Kid A” mereka tidak akan dapat mengejutkan kita lagi. Tetapi begitu mendengar suara pertama dalam “15 Step” kita hanya dapat ternganga dan berkata “Sial, bagaimana mungkin mereka selalu dapat melakukannya lagi?”. Lagu kedua “Bodysnatchers” diawali dengan suara gitar yang sangat berat seperti hendak meledakkan amplifier yang dipakai oleh kedua gitaris mereka Ed O’Brien dan Johnny Greenwood. Walaupun tidak pernah ditinggalkan, Radiohead seperti menekankan di lagu ini, kalau mereka selalu mencintai gitar, seperti yang pernah mereka lakukan di “The Bends” dan “OK Computer”. Track selanjutnya, “Nude” adalah tipikal lagu Radiohead yang akan selalu mencekam menghantui kita, tapi di satu sisi memberikan perasaan optimis yang sangat aneh. Seperti keluar dari dalam cengkraman alien, Thom Yorke dengan sangat pilu bernyanyi “Now that you’ve found it’s gone/Now that you feel it, you don’t”. Sebuah keindahan dalam kepiluan.

“Reckoner” didasari oleh suara gitar lembut yang terus berputar tanpa lelah merasuki alam bawah sadar kita. Suara drum Phil Selway di latar belakang bak seperti air hujan yang memecah kesunyian, vokal Thom Yorke melengkapi semuanya itu, mendesak menyadarkan kita, sambil berkata “You’re not asleep/You’re not dreaming”. Di lagu berikutnya “House Of Cards”, Radiohead memberikan kita sebuah perasaan yang jarang kita temukan dalam lagu mereka. “I don’t want to be your friend/I just want to be your lover” lirih Yorke di lagu tersebut. Entah mengapa, untuk satu alasan tertentu, lagu itu terkesan seperti datangnya sebuah musim gugur di dalam sendunya bulan Oktober. Setelah lagu tersebut, album ini ditutup dengan perpaduan kontras antara “Jigsaw Falling Into Pieces” yang bertempo cepat sambil meleburkan semua elemen musik Radiohead yang memukau telinga dan “Videotape” yang dentingan pianonya lambat laun mengantarkan kita kepada akhir yang tak mau kita temui, diiringi suara Yorke yang menyanyikan “This is my way of saying goodbye/Because I can’t do it face to face/I’m talking to you after it’s too late”.

Ini adalah album di mana Radiohead dengan cerdas dan cermat memadukan semua elemen musik yang mereka punyai, sambil mencoba menemukan jalan baru untuk menemukan tempat yang belum mereka singgahi. Semua band lain boleh saja mencoba, tapi album ini tanpa dapat ditantang dan ditandingi adalah album terbaik 2007. Sekali lagi, seperti yang sudah lalu, mereka kembali berhasil menghadirkan sebuah kejeniusan. Dengarkan dan biarkan kalian terpana karenanya.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Album Review: Radiohead – In Rainbows”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: