Archive for the 'Album Klasik' Category

11
Mei
14

Album Review: Oasis – Definitely Maybe

Definitely Maybe Collection

Oasis
Definitely Maybe
Creation Records – 1994

Keith Cameron, mantan editor senior NME menulis demikian di akhir ulasannya tentang Definitely Maybe 20 tahun silam: “With Definitely Maybe, Oasis have encapsulated the most triumphant feeling. It’s like opening your bedroom curtains one morning and discovering…the Taj Mahal in your back garden.”

Pernyataan itu di tengah-tengah puncak kebanggaan, perasaan congkak, sekaligus naif tanpa ketakutan tahun 90-an adalah benar adanya, karena di tahun itu tidak ada yang lebih besar dari usaha kolektif lima pemuda bernama Liam, Noel, Bonehead, Guigsy dan Tony. Definitely Maybe mengubur dalam-dalam lubang kefanaan grunge yang ditinggalkan oleh kematian Kurt Cobain, bukan hanya mengisi keabsenan tapi mendefinisikan baru kecongkakan penuh ambisi yang pernah diperlihatkan Ian Brown bersama The Stone Roses, dan album itu adalah salah satu pilar terbesar sebuah kerajaan yang bertahun-tahun dan dekade setelahnya dikenal dengan nama Britpop.

Memuja Definitely Maybe, yang berarti juga memuja Oasis adalah perihal sederhana. Seperti hal paling mendasar yang bisa didefinisikan seseorang terhadap orang lain, menyukai debut album band asal Manchester itu hanya didasarkan satu hal. Perasaan. Dan perasaan adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan atau direnggut orang lain. Apakah kamu dan saya memilikinya, terpujilah langit dan alam semesta jika memilikinya, atau tidak. Sebab Noel bukanlah gitaris terbaik yang pernah dilahirkan Inggris, Liam bukanlah vokalis jelmaan John Lennon atau Johnny Rotten seperti yang sering diklaim dirinya, terlebih lagi ketiga personil pengiring kakak-beradik Gallagher itu, mereka lebih cocok sebagai tukang kayu atau kurir pos dibanding menjadi anggota band terbaik dunia.

Ekstase dan murni ekstase itulah yang disampaikan Definitely Maybe. Sejak menit pertama gitar itu melengking, dihajar dengan dentuman drum ekstatik McCarroll, dan suara parau Liam menyanyikan “I need some time in the sun shiiiiinnneee…” yang kemudian menjadi ciri khas dirinya, album itu dan Oasis mendefinisikan generasi 90-an, seperti awal distorsi A Hard Day’s Night telah mendefinisikan tahun 60-an.

Mendengarkan Definitely Maybe bak mendengarkan suara pembebasan. Bahwa yang terpenting adalah apa yang dapat dilakukan dengan diri kita jika kita percaya, bukan perkataan orang lain. Noel bukan seorang pembuat lagu yang dikenal dengan rangkaian liriknya, namun kesederhanaan liriknya justru membangkitkan inspirasi di antara pendengarnya. Dengarkan saja penggalannya di Rock ‘n’ Roll Star “In my mind my dreams are real…tonight I’m a rock ‘n’ roll star”, atau pada Cigarettes and Alcohol “You could wait for a lifetime to spend your life in the sunshine…you gotta make it happen” atau usaha pengimortalisasi diri yang dapat kita dengar dalam Live Forever “Maybe you’re the same as me, we see thing they’ll never see, you and I we’re gonna live forever”. Jika ini semua bukan suara pembebasan, musik apalagi yang dapat membebaskan kita semua?

Jika musik grunge mengedepankan suasana “Kami melawan sisa dunia”, Definitely Maybe justru mensuarakan suasana sebaliknya. Dengan musik yang sederhana, sesederhana orang baru belajar gitar, Definitely Maybe menciptakan suasana opstimisme penuh matahari yang menjadi ciri khas Britpop. Dalam lingkaran musik tak berujung yang dihantarkan Columbia, Oasis menciptakan arti psikedelik untuk generasi 90. Dalam ledakan drum dan distorsi berbahaya Bring It On Down, rock ‘n’ roll diberikan nyawanya kembali. Dalam kemanisan poptastik Slide Away Oasis memberikan soundtrack lagu romantis tanpa asa untuk para britpoper. Lalu di tengah-tengah album itu berdiri dengan megah Supersonic dengan segala kejayaannya, yang akan membuat kedua tangan kita mengepal ke udara, meninju langit biru dengan secercah matahari musim panas, dan membuat perasaaan kita seperti sehabis memenangkan Champions League melawan Barcelona dengan skor 4-3.

Definitely Maybe terdengar seperti sebuah kemenangan di tahun 1994. 20 tahun setelahnya, kita menghidupi kejayaan album itu. Definitely Maybe telah mengiringi masa adolesen saya, dan tetap terus menginspirasikan saya dan saya yakin banyak orang lainnya yang telah membeli album tersebut, untuk tetap membangun Taj Mahal definisi dirinya masing-masing. Entah itu keinginan menjadi band terbaik di negaranya, menjadi pesepakbola yang membawa negerinya meraih trofi pertamanya setelah seperempat abad, menciptakan mobile app paling digemari sedunia, atau hanya sekedar menjadi kepala keluarga terhebat untuk anak-istrinya. Yang jelas, inspirasi itu hanya sejauh sentuhan play di pemutar musik kita, dan Definitely Maybe akan kembali menjadi suara pembebasan kita. “You need to be yourself, you can’t be no one else”.

David Wahyu Hidayat

 

Definitely Maybe versi master ulang dapat diperoleh di iTunes sejak 12 Mei 2014

05
Mei
09

Album Review: Doves – Kingdom Of Rust

kingdom_of_rust

Doves

Kingdom Of Rust

Heavenly Records/Warner Music Indonesia – 2009

Apa yang ingin dicapai sebuah band jika mereka selama 4 tahun seperti lenyap ditelan bumi, setelah mengantarkan sebuah debut album yang epik melankolis, kemudian membuat album kedua dan ketiganya menjadi yang terlaris di Inggris pada saat dirilis? Apakah mereka telah kehilangan ide sehingga melakukan tidur musim dingin yang berkepanjangan? Atau mereka mengkonstruksi sebuah album yang akan menjadi yang terbaik dalam perjalanan karir mereka sampai saat ini?

Bila band itu bernama Doves, maka jawabannya adalah yang kedua. Hiatus 4 tahun yang mereka lakukan sejak merilis “Some Cities” adalah sesuatu yang patut untuk dinanti, karena sensasi yang diberikan “Kingdom Of Rust”, album keempat mereka, sama seperti ketika mendengarkan “In Rainbows” untuk pertama kalinya. Cerdas, inovatif, sebuah penerangan yang memberikan ikatan emosional untuk para pendengarnya dan bukan sepotong musik yang diproduksi berlebihan hanya untuk terkesan intelek.

Sejak lagu pertama, Doves seperti hendak membuat pernyataan, kalau mereka akan membuktikan sesuatu di album ini. Sesuatu yang akan membuat kita ingin menangis mengagumi kemegahan musik mereka. Terinspirasi oleh krautrock dan dinyanyikan oleh sang gitaris Jez Williams “Jetstream” adalah lagu yang menandakan kembalinya Doves dari pertapaan musikalis mereka. Ini adalah perjalanan sonik menuju masa depan, dengan efek mesin jet yang terus mengawal lagu ini sampai pada akhirnya.

Disusul oleh album track “Kingdom of Rust”, Doves memasuki ranah Enio Morricone dengan nuansa lagu seperti pada film “The Good, The Bad, and The Ugly”, namun tetap pada ciri khas gitar Doves dan vokal Jimi Goodwin yang melankolis, parau, putus asa tapi memberikan asa sekaligus. Lagu sesudahnya adalah sebuah perputaran 180 derajat. Jika mereka mencoba untuk menembus masa depan dalam “Jetstream”, untuk kemudian melakukan pendaratan paling sempurna dalam “Kingdom Of Rust”, lagu ketiga album ini, “The Outsiders”, adalah perjalanan lanjutan mereka menuju ruang angkasa. Ini seperti sebuah lagu New Order yang sedang berbaku hantam dengan Primal Scream, sebuah spacerock lanjutan dari karya lama mereka “Spaceface”. Euforik.

Rantai melodi khas ala Doves seperti dalam “Words” dan “There Goes The Fear” dihembuskan dengan sangat menyegarkan dalam “Winter Hill”. Di lagu yang diproduseri oleh John Leckie (The Stone Roses, Radiohead, Muse) ini, Doves mengantarkan jiwa kita menyentuh atap, menembus, menyapa langit. Perjalanan itu tidak berhenti di situ. “10:03” diawali dengan melankoli epik khas Doves, sebelum kemudian gempuran bas, drum dan gitar menerabas kekelaman hati memasuki ¾ lagu ini. Memuncak, melepaskan emosi, sebelum pada akhir lagu, kembali menuju kedamaian. “10:03” adalah pusat gempa dari album ini, yang akan meruntuhkan keputusasaan kita terhadap sebuah musik yang benar-benar berarti. “The Greatest Denier” yang diiringi percikan drum Andy Williams dan dan dipenuhi oleh lanskap gitar memukau dari saudara kembarnya Jez terdengar seperti sebuah lagu soul ala Manchester, memukau, berbicara langsung kepada letupan – letupan kecil di jiwa kita.

Setelah dipuaskan dengan pencerahan jiwa di tiga lagu sebelumnya, “Birds Flew Backwards” adalah sebuah kesunyian agung, sedangkan “Spellbound” adalah lagu untuk menari di tengah – tengah mimpi siang hari kita, terbuai akan impian dalam alunan melodi yang menjuntai di sanubari kita. Mendengarkan “Compulsion” yang berada di urutan kesembilan lagu ini seperti mendengarkan sebuah lagu dari The Clash dengan Jimi Goodwin yang memainkan basnya seperti seorang Paul Simonon.

Di album ini, Doves tidak berhenti memberikan keterpanaan akan lagu – lagu mereka. Dalam “House Of Mirrors” sebuah siraman hujan ketukan magis disambut dengan serangan gitar yang kembali terdengar bagaikan tata suara sebuah film italowestern. Akhirnya perjalanan itu mencapai tujuannya dalam “Lifelines”. Lagu ini adalah pura melodi emosional yang menjulang megah menuju sesuatu yang mendekati sempurna, tak tersentuh dan tidak dapat diabaikan.

Mereka di luar sana boleh berdebat panjang lebar tentang musik apa yang lebih mengagumkan untuk dirinya masing – masing, tapi satu yang pasti “Kingdom Of Rust” adalah salah satu rilisan esensial tahun ini. Bila di luar sana, masih ada yang  memungkiri hal ini, sepertinya mereka terlalu ignoran untuk mengerti atau dengan kata lain selera mereka terlalu buruk untuk mengalami keajaiban yang telah terjadi di sini.

David Wahyu Hidayat

23
Mar
08

Album Review: The Smiths – The Queen Is Dead

the-queen-is-dead-cover.png

The Smiths

The Queen Is Dead

Rough Trade – 1986

Suatu subuh di musim semi 1999. Seorang jiwa muda, dengan enggan menyibakkan selimutnya, beranjak dari tempat tidur untuk memulai pekerjaannya hari itu, di sebuah kota bernama Dortmund yang telah menjadi kampung halaman barunya sejak setahun. Pagi masih sunyi, belum terdengar suara keramaian yang akan membangunkan hari, hanya sebuah suara mendayu-dayu dari stereo set mininya memecah keheningan di pagi itu. Suara dari sebuah album bersampulkan Alain Delon dari filmnya di tahun 1964 L’insoumis, yang baru dipinjamnya dari salah seorang teman. Di pagi-pagi buta tersebut, suara itu begitu menghinoptisnya, mengharmonisasikan suasana pagi yang belum ternodai apapun. Sejak momen tersebut, jiwa muda itu memutuskan untuk mencintai suara yang didengarnya itu. Album yang menfiturkan lagu “There Is A Light That Never Goes Out” yang didengarnya di subuh itu adalah The Queen Is Dead dari The Smiths.

Jiwa muda tersebut masih terlalu muda di tahun 1986 untuk mempedulikan siapakah The Smiths, dan untuk mengetahui kalau Morrissey dan Marr adalah penulis lagu paling berbakat yang dipunyai Inggris sejak Lennon/McCartney. Namun sejak subuh menentukan di tahun 1999 itu, semuanya berubah. Dimulai dari hari itu The Smiths menyusul band asal Manchester lainnya The Stone Roses dan Oasis untuk menjadi ikon penting dalam kehidupannya. Album ketiga mereka, “The Queen Is Dead”, yang dirilis di tahun yang sama ketika “tangan Tuhan” dan kejeniusan Maradona memenangkan piala dunia untuk kedua kalinya bagi Argentina, menjadi salah satu sumbu putar kecintaannya akan musik.

Dibuka dengan lagu yang bertitel sama dengan album tersebut, “The Queen Is Dead” diawali dengan nyanyian “Take Me Back to Dear Old Blighty” yang disusul oleh distorsi gitar Johnnny Marr dan dentuman gemuruh drum Mike Joyce. Lagu pembuka ini adalah pendobrak yang tepat untuk sebuah album yang dipenuhi dengan nada – nada yang kadang memukau, kadang menikam perasaan dengan dalam seperti pada “I Know It’s Over” yang diakui oleh banyak orang sebagai lagu putus cinta terhebat yang pernah dinyanyikan. Di situ, Morrissey menyanyikan kepedihannya dengan lirik “I know it’s over, and it never really began, but in my heart it was so real..’Cause tonight is just like any other night, that’s why’re on your own tonight, with your triumphs and your charms, while thy’re in each other’s arms..It’s easy to laugh, it’s easy to hate, it takes strength to be gentle and kind, over, over, over”. Semenjak itu, Morrissey tanpa alunan menyayat gitar Johnny Marr tidak pernah lagi menyatakan kepedihannya sepilu ini.

Cemetry Gates” adalah hujatan Morrissey terhadap segala aksi plagiat sekaligus lagu pujaan akan sastrawan kebanggaannya Oscar Wilde. Kenarsisan Morrissey sebagai seorang artis adalah hasil dari kata – kata yang pernah ditulis oleh Wilde, siapapun yang pernah membaca satu-satunya novel Oscar Wilde “The Picture Of Dorian Gray” akan mengerti apa yang coba diutarakan Morrissey dalam karyanya. Terlepas dari itu semua, lagu tersebut adalah pop dalam bentuk terbaiknya yang dibentangkan hanya dalam 2:41 menit.

Kedua lagu yang mengikutinya “Bigmouth Strikes Again” dan “The Boy With The Thorn In His Side” melanjuti apa yang telah dimulai “Cemetry Gates”. Sebegitu kuatnya kekuatan pop yang meliputinya, bahkan lagu yang disebutkan pertama pun masih mendapat perhatian publik yang besar ketika dirilis ulang oleh Mark Ronson dalam album remixnya tahun lalu. Johnny Marr menembakkan semua amunisi terbaiknya dalam lagu tersebut dengan serangan ritem gitar yang nyaring dan melodi gitarnya yang menumpaskan segala keraguan akan pop bergitar yang dihadirkan The Smiths.

Jika ada karya kunci dalam album ini, maka “There Is A Light That Never Goes Out” akan menempati posisi tersebut tanpa keraguan sebersit pun. Liriknya yang terkesan konyol, penggambaran ironi seorang yang cinta mati terhadap seseorang sehingga rela mati tertabrak bis tingkat di sisi sosok yang dicintai tersebut, sesaat menampilkan dagelan seorang Morrissey terhadap kehidupan, tapi seperti yang ia tampilkan di banyak lagu, ironi seperti itu menggambarkan kehidupan kita dengan sangat tepat, bukan metaforsa yang ia ingin tunjukkan tapi kegamblangan hidup seorang manusia. Lagu ini beserta dengan “Some Girls Are Bigger Than Others” yang menyudahi “The Queen Is Dead” seperti sepotong lolipop yang terus ingin dijilat untuk dinikmati kemanisannya. Kedua lagu tersebut menerawang di antara nalar dan kenyataan kita, mencoba menyentil kepatetikan kita terhadap kehidupan yang tidak pernah mencapai keidealannya.

Sampai hari ini “The Queen Is Dead” tetap berarti sama seperti waktu pertama kali jiwa penulis ini mendengarkannya di pagi subuh itu. Album itu memberikan ketenangan. Album yang akan selalu diambil untuk menenangkan malam yang terlalu hening, untuk kemudian memeluk pagi hari masih dengan perasaan gamang, tapi entah mengapa yakin kalau pada akhirnya akan ada selalu cahaya yang takkan pernah sirna.

David Wahyu Hidayat

03
Mar
08

Album Review: The Stone Roses – The Stone Roses

the-stone-roses-the-stone-roses.jpg

The Stone Roses
The Stone Roses
Silvertone Records – 1989

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk meraih sesuatu yang monumental. Sesuatu yang di masa setelahnya akan diingat manusia, karena arti yang diberikannya dan karena semangat yang dibakarnya. Seringkali, manusia – manusia seperti itu disebut sebagai pahlawan, dan nama mereka diabadikan di hati kita masing – masing sebagai seseorang yang mengubah jalan hidup kita untuk selamanya.

Keempat pemuda asal Manchester, Britannia Raya telah melakukan hal tersebut sewaktu mereka di tahun 1989 menghantarkan sebuah karya musik yang sampul depannya dipenuhi dengan garis coretan yang didominasi oleh warna hijau, bercorak seperti sebuah karya pelukis kontemporer Jackson Pollock. Di sebelah kiri sampul album tersebut tampak goretan 3 warna yang melambangkan bendera Perancis, dihiasi dengan 3 buah potongan jeruk, yang walaupun terkesan begitu menyejukkan adalah bentuk sebuah solidaritas akan gerakan mahasiswa di Paris tahun 1968. Di tengah – tengah sampul album itu, di atas semuanya, tertera nama yang bagi banyak orang adalah sebuah legenda, sebuah pahlawan musikalis. Nama itu adalah THE STONE ROSES.

Ian Brown (Vokal), John Squire (Gitar), Mani (Bass), dan Reni (Drum) sadar sepenuhnya bila album yang telah mereka ciptakan akan menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan orang banyak. Mereka tidak mempunyai keraguan sedikit pun akan hal ini, dan ini tercermin dari lagu – lagu di album tersebut. Dimulai dengan sebuah pernyataan yang tegas di lagu pembuka “I Wanna Be Adored”, The Stone Roses membuka kembali jalan agar musik bergitar akan dipuja kembali, setelah satu dekade penuh dipenuhi oleh musik artifisial yang datang dari synthesizer khas 80-an. Melodi psychedelic Squire dipadu dengan bas Mani mengusik nalar kita, menyadarkan kalau mesias yang kita nantikan itu telah datang.

Kemisteriusan nada “I Wanna Be Adored” dilanjutkan dengan sebuah lagu yang terdengar seperti sapaan mentari pagi paling hangat yang pernah dirasakan umat manusia. “She Bangs The Drums” dengan liriknya “Kiss me where the sun don’t shine, the past was yours, the future is mine” adalah sebuah lagu inspiratif yang mengajak kita untuk menggenggam segala sesuatu yang terhampar di depan kita dan berhenti untuk menoleh ke belakang. Kembali, di lagu ini bas Mani yang membuka intronya, menyampaikan misinya sangat baik, dengan tempo yang membuat kita tidak berhenti mengayunkan kaki kita secara tidak sadar.

“Waterfall” dimulai dengan sebuah riff gitar yang nantinya akan dikenal sebagai salah satu ciri khas permainan gitar John Squire. Diinspirasikan dari lagu The Beatles favoritnya “Rain” Ia memulai lagu ini dengan sebuah permainan gitar yang terdengar seperti suara sebuah hari Minggu pagi yang belum ternoda. Suara Ian Brown menghipnotis kita untuk berhayal akan sebuah mimpi yang akan segera terwujud, dibalut oleh bas Mani yang melodis dan drum Reni yang menyetir dinamika ritme lagu ini.

Dalam “Made Of Stone” John Squire mengukuhkan dirinya sebagai gitaris terbaik generasinya. Lagu ini adalah cerminan musik Britannia Raya selama 30 tahun terakhir, terlalu manis untuk hanya sekedar dicintai para indie nerd, di satu sisi memberikan penegasan bahwa musik pop tidak hanya terdiri dari lantunan manis tanpa arti. Solo gitarnya di lagu ini memberikan sebuah prelude akan kemampuannya memainkan instrumen 6 senar itu, seperti yang kemudian diperlihatkannya dalam album kedua mereka “Second Coming”. Tapi itu adalah bab lain lagi dari sebuah legenda bernama The Stone Roses. Di album ini mereka sedang memulai langkah mereka untuk berdiri di puncak olimpia musik Britannia Raya.

Album ini menemukan klimaksnya dalam “I Am The Resurrection”. Lagu dengan durasi 08:12 menit ini, menampilkan semua yang menjadikan The Stone Roses sebuah legenda hidup. Lirik yang menantang dan mengedepankan kepercayaan diri seorang muda, dan kemampuan keempat personilnya bermain musik dalam outro sebuah lagu, tanpa harus takut kehilangan identitas mereka sebagai sebuah band indie yang berusaha dan berhasil menanamkan imaji ke sanubari setiap orang yang mendengarnya, bahwa ini adalah musik bergitar yang paling menakjubkan yang pernah kalian dengar.

Tahun 1989, seperti sebuah pertanda bahwa sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, adalah tahun di mana tembok Berlin runtuh. Tak lama setelah itu perang dingin berakhir, dan dekade 90-an yang penuh keoptimisan pun dimulai. Di sekitar waktu itu Liam Gallagher muda melihat sosok Ian Brown yang penuh karisma dalam salah satu konser The Stone Roses, dan ia segera memutuskan untuk membuat sebuah band. Seperti yang telah kita kenal, band yang dibentuknya itu bernama Oasis, dan itu adalah awal dari sebuah kerajaan bernama Britpop. Oasis, dan semua yang datang setelahnya, di mana musik band Indie tiba-tiba dapat merajai mainstream tidak akan dapat terjadi bila The Stone Roses tidak merilis debut album mereka. Ian, John, Mani, dan Reni telah mengembalikan musik bergitar ke tempat yang semestinya, yaitu di dalam universum musik kita masing – masing. Untuk itu mereka layak menjadi legenda.

David Wahyu Hidayat

27
Jan
08

Album Review: The S.I.G.I.T – Visible Idea Of Perfection

the-sigit-visible-idea-of-perfection.jpg

The S.I.G.I.T

Visible Idea Of Perfection

FFCuts Records – 2006

Di tahun 2005 NME mendeskripsikan musik The S.I.G.I.T sebagai “Scorching Gonzo Zep Rock”, di tahun 2007 mereka menandatangani kontrak dengan salah satu perusahaan rekaman Australia bernama Caveman! untuk pendistribusian “Visible Idea Of Perfection” di negara kanguru tersebut, yang disusul dengan tur Australia. Di tahun 2008, mereka akan manggung di SXSW Festival di Austin, Texas, Amerika Serikat. Sebuah perhelatan yang terkenal menjadi barometer untuk band – band baru yang nantinya akan memenuhi ruang semesta musik di kepala kita. Masih adakah sesuatu yang dapat mengerem sepak terjang The S.I.G.I.T?

Sekilas memang perjalanan karir band asal Bandung ini terlalu mulus untuk ukuran sebuah band yang pada awal karirnya sering membawakan lagu – lagu The Stone Roses dan The Seahorses di bawah nama The Cinnamons. Tapi disimak sekali lagi dengan cermat, perjalanan impian The S.I.G.I.T ini didukung oleh sebuah album yang solid dan penuh dengan permainan gitar virtuoso yang memang dalam setiap momennya terdengar mega, baik dalam suara maupun perasaan yang hadir waktu mendengarkannya.

Tak bisa dipungkiri lagi riff – riff bombastis yang ada di “Visible Idea Of Perfection” dipengaruhi oleh tandatangan Jimmy Page. Dimulai dengan “Black Amplifier” yang menendang nafsu, The S.I.G.I.T seperti tidak mempedulikan kalau musik mereka mungkin terlalu retro, di saat di mana setiap manusia sudah tidak peduli lagi akan sesuatu yang bernama Garage Rock. Tapi mereka tidak ambil pusing. Liukan gitar dan teriakan dalam “Black Amplifier” mengawali album ini dengan tempo yang tepat, mencoba untuk mengambil komando akan apa yang akan didengar di lagu-lagu setelahnya.

Horse” diisi dengan perpaduan dinamis keempat personil The S.I.G.I.T (Rektiviaton Yoewono – Vox & Gitar, Aditya Bagja Mulyana – Bas & Vox, Farri Icksan Wibisana – Gitar & Vox, Donar Armando Ekana – Drums) mengundang pendengarnya untuk berdansa seliar yang pernah mereka kenal. “No Hook” yang ditulis berdasarkan kefrustasian mereka waktu belum mendapatkan kontrak rekaman, mencerminkan keempat pemuda tersebut sedang mencumbu satu sama lain dengan instrumen mereka masing – masing. Sedangkan “Live In New York” adalah sebuah nomor akustik tentang impian akan kehidupan yang lebih baik di sebuah kota dunia bernama New York.

Lagu tersebut dilanjutkan dengan sebuah nomor berjudul “Clove Doper” yang membahayakan jiwa, seperti lusifer yang menghasut kita untuk tenggelam dalam kehidupan hedonisme tiada henti. Diselingi dengan sebuah lagu tentang pengalaman teman mereka dengan seorang waria yang diberi judul “Soul Sister” The S.I.G.I.T lanjut menghantam kita dengan “Save Me” yang penuh dengan teriakan berisikan hook. Mereka tidak berhenti di situ saja, serangan terhadap hormon ekstase kita dilanjutkan dalam “Let It Go”. Dengarkan solo gitar lagu ini yang dimulai pada menit 02:30 dan siap-siaplah untuk terkesima.

All The Time” adalah sebuah proklamasi untuk hidup selamanya yang bersanding sangat pantas dengan lagu yang mengikutinya “Alright”, karena di lagu ini The S.I.G.I.T memberikan kita sebuah format kepercayaan baru bernama Rok ‘N Rol, seperti mengantarkan pesan kalau tidak ada yang lebih penting dari hidup ini selain percaya bahwa semuanya menuju ke sesuatu yang lebih baik.

The S.I.G.I.T telah berhasil memberikan sinyal kedashyatan sepak terjang mereka melalui “Visible Idea Of Perfection”. Cepat atau lambat, musik mereka akan menginfeksi bukan hanya orang – orang di negara tecinta ini, tetapi juga mereka yang di luar sana, seperti sebuah epidemi yang tak terelakkan. Apalagi yang ditunggu dunia?

David Wahyu Hidayat

27
Jan
08

Album Review: Polyester Embassy – Tragicomedy

polyester-embassy-tragicomedy.jpg

Polyester Embassy

Tragicomedy

FFWD Records – 2006

Definisi kesempurnaan seringkali terlalu ditakuti untuk diakui kebenarannya. Kita bahkan terperangkap dalam sebuah dogma yang mengatakan bahwa sesuatu bernama kesempurnaan tidak pernah dan tidak akan eksis. Meskipun begitu manusia mencari sendiri bentuk kesempurnaannya masing – masing, melakukan perjalanan untuk menemukan format keidealan dalam segala sesuatu yang tidak sempurna ini.

“Tragicomedy” sebuah album yang dirilis tahun 2006 oleh ffwd records dari sebuah band bernama Polyester Embassy asal Parijs van Java adalah sebuah penampakan lain dari sebuah kesempurnaan. Album itu berisikan 9 lagu, menampilkan suasana ruang angkasa yang menvisualisasikan keabsurdan kehidupan manusia yang manis sekaligus indah. Mendengarkan album ini seperti melihat evolusi manusia dalam wujud lain, seperti yang coba dihantarkan Stanley Kubrick dalam filmnya “2001:Space Odyssey”.

Diawali dengan “Orange Is Yellow” yang menembus relung jiwa dengan determinasi gitar di intro lagu yang berdurasi sampai 7 menit ini, Polyester Embassy merebakkan pesan pertamanya akan sebuah musik yang mencoba mengatakan bahwa kesempurnaan itu dapat dicapai. Mereka tidak takut akan suara yang hendak mereka bentuk dan sampaikan. Efek gitar yang bergema mengiringi nada melodis dengan diiringi suara drum dan bas yang menancap pada alam pikiran bawah sadar kita, membuat lagu ini berfungsi sebagai pesan serius Polyester Embassy, bahwa mereka akan melakukan sesuatu yang mengagungkan di album ini.

Sikap inovatif ini mereka teruskan dalam “Blue Flashing Lights” yang diawali dengan raungan gitar seakan hendak merobek keterbatasan alam pikiran kita. Mereka tidak berhenti di situ saja, dengan dilatarbelakangi loop yang menghipnotis, Elang Eby sang vokalis band ini lalu bernyanyi dengan suara yang tidak kalah menghanyutkan dengan suara gitar mereka “Can’t you see, it’s shine on, it’s shine on” terus menerus sepanjang lagu. Secara tidak sadar kita pun tenggelam dalam pelukan musik mereka.

Lagu itu disambung dengan “The Answer Is No” yang juga tidak kalah membahayakan dalam memperkosa panca indera kita. Kita akan menghayal bersama mereka, dibawa terbang ke sebuah perasaan yang sulit untuk dikatakan apa yang sebenarnya kita rasakan. Ini adalah sebuah bentuk lain dari pencapaian keagungan yang tak akan pernah kita raih. “Ruins” memberikan kita ketenangan sejenak, dengan tempo yang relatif lebih lambat dibanding lagu-lagu lainnya di album ini. Di lagu ini Polyester Embassy membalut kita dalam suara melodis musik mereka yang penuh dengan perasaan kegembiraan yang aneh sekaligus menghenyakkan, nyaris berkesan religius. Pejamkan mata kalian dengarkan Elang Eby membisikkan “She turn on the light, she make my day so bright… Then now the light are off I surrounded by inky dark…Will she feed me when I’m drown or she killed me when I’m young, I’m just sit here to catch and take as much as you can throw, don’t you know it’s not so great in here. Wise one comes and than the ruin fall on me”. Lepaskan semua perasaan, dan kalian akan mengerti apa yang dimaksud.

Suara bas yang membuka jalan dalam kegalauan seorang mahluk hidup mengawali “Polypanic Rooms”, yang kemudian diisi cepat dengan kombinasi dua suara gitar, seakan hendak menggusur keluar kegalauan itu dari jalan hidup kita. Ini adalah puncak sebuah epik yang ditampilkan Polyester Embassy. Kemegahan tanpa tanding, sampai kita tiba di akhir lagu ini dan berteriak menyambut matahari “I love you like I love the sunrise in the morning”.

Ditutup dengan lantunan damai dalam “Home”, Polyester Embassy menampilkan sebuah bentuk kesempurnaan yang walaupun berbeda spektrum, tidak pernah ditemukan dalam band asal negara ini sejak debut album Pure Saturday. “Tragicomedy” adalah karya sebuah band yang tidak takut untuk memberikan keindahan dalam suara eksperimentasi mereka. 9 lagu yang membentuk album ini, mempunyai potensi untuk menjadi sesuatu yang akan selalu diingat sepanjang masa. “Tragicomedy” adalah langkah pertama di mana sebuah legenda akan terbentuk.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Arctic Monkeys – Whatever People Say I am, That’s What I’m Not

wpsiatwin.jpg

Arctic Monkeys
Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not
Domino – 2006


The fastest selling debut album in UK Album Chart. Bila sebuah band Indie, berhasil melakukannya, maka ini adalah sesuatu yang mengagumkan, dan percaya atau tidak ini hanya akan terjadi di Britannia Raya. Mungkin kita harus hidup di sana untuk mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Bahkan seorang Robbie Williams atau Gareth Gates pun tidak sanggup untuk melakukan hal ini.

Sebuah band asal Sheffield, bernama “Arctic Monkeys” telah berhasil melakukan hal yang menurut banyak orang tidak dapat dilakukan. Ingat terakhir kali ada band dari Sheffield yang pernah menembus ingatan dunia pop kita? Sejauh yang bisa teringat hanyalah “Pulp” dengan lirik mengagumkan dari seorang Jarvis Cocker. Sebuah band yang memainkan rok ‘n’ rol ala The Libertines menjual album lebih banyak dari Sugababes di minggu pertama penjualannya, apakah yang telah terjadi? Inikah saatnya di mana suara feedback gitar menjadi kembali lebih “cool” dari goyangan pantat seksi? Jika ini yang terjadi, maka inilah saatnya untuk berteriak “Hurra” dengan kedua kepalan tangan meraih langit, apapun status dan pekerjaanmu, tidak peduli apakah dirimu seorang pelajar sekolah berusia 17 tahun, atau seorang insinyur di perusahaan IT yang besar. Inilah saatnya kita kembali mendengarkan musik yang berati bagi diri kita.

Karena mendengarkan debut album “Arctic Monkeys” kita akan dibawa meledak ke sebuah luapan perasan yang tidak akan kita bayangkan. Mereka yang berumur 17 tahun, dan terlalu muda untuk mengenal seorang Liam Gallagher, Ian Brown, dan Stephen Patrick Morrissey, akan menemukan sesuatu yang berarti di hidupnya mendengarkan suara gitar di album ini. Mereka yang berusia 27 tahun, akan secara tidak sadar menghentakkan kakinya penuh ekstase, sambil tersenyum puas di depan layar komputer di tempat bekerja mereka, karena album inilah yang mengantarkan perasaan mereka kembali ke 10 tahun yang silam.

“Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” adalah sebuah album untuk berdansa. Lagu – lagu seperti “I Bet You Look Good On The Dancefloor”, “Fake Tales Of San Fransisco”, “Dacing Shoes” ataupun “Still Take You Home” adalah sebuah jaminan mutu pengisi lantai dansa di sebuah malam Indie di diskotek kesayangan kalian. Kuartet yang konon masih berusia 19 tahun ini, tidaklah mencoba memoles perasaan mereka dalam setiap lagunya, yang keluar hanyalah sebuah sensasi untuk terus menikmati kehidupan yang nyata.

“Arctic Monkeys” adalah sebuah fenomena di mana rockstar dihasilkan oleh sebuah acara televisi dan tidak membawa hasil. Dengan menyebarkan demo musik mereka melalui Internet, “Arctic Monkeys” berhasil menjual habis arena konser legendaris di London “Astoria”, sebelum mereka mengeluarkan album mereka. “Arctic Monkeys” telah mengembalikan arti “Music For The People”, seperti yang dilakukan Oasis dengan “Definitely Maybe” di tahun 1994. Ini adalah jawaban terbaik musik yang bisa diberikan kepada dunia industrinya yang panik terhadap kemajuan tehnologi.

Walaupun, ini bukanlah debut album terbaik sepanjang masa, tetapi ini adalah album yang akan mendefinisikan sebuah era baru, yang akan kembali memberikan inspirasi kepada generasi 17-an di saat ini. Paling tidak album ini akan membuat kita berdansa dengan tersenyum puas, dan sekali lagi merentangkan kepalan tangan kita ke langit. Apapun yang terjadi, ini adalah album yang harus dimiliki, karena album ini adalah kemenangan kita, saatnya untuk berpesta!

David Wahyu Hidayat




April 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Categories

Blog Stats

  • 139,513 hits