23
Feb
11

Album Review: Radiohead – The King Of Limbs

Radiohead

The King Of Limbs

Digital Rilis Tanpa Label – 2011

Yang membedakan Radiohead dengan band – band lainnya yang bercokol di planet ini, adalah kemampuan mereka menciptakan sesuatu substansial yang melewati tempat dan jaman lewat musik mereka. Di tahun 1997, mereka menciptakan mahakarya yang kita kenal dengan “OK Computer”, sebuah orkestrasi musik rock yang pada waktu itu tampil mengejutkan di tengah – tengah banjirnya air bah britpop. Di awal abad baru, pada waktu manusia mulai gamang dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan sendiri, Radiohead mengantarkan “Kid A”, sebuah karya sentral penggambaran alienasi manusia terhadap kaumnya sendiri, dan entah mengapa tiap blips yang terdengar di sana menjadi suara latar belakang yang indah dalam menghadapi abad 21. Lalu di tahun 2007, ketika industri musik masih bertanya-tanya resep yang paling tepat untuk menghadapi tatanan yang sudah berubah karena pendigitalan musik, mereka mengeluarkan “In Rainbows” dengan konsep bayar sesuka hati, dengan tidak melupakan bahwa lagu – lagu yang ada di sana adalah lagu – lagu Radiohead yang paling jujur terdengar sejak era “The Bends”.

Lalu pada tanggal 18 Februari 2011, hanya dengan pemberitahuan 4 hari sebelumnya, mereka mengeluarkan “The King Of Limbs”, secara digital, dan dirilis sendiri, kali ini dengan harga yang sudah dipatok mereka sendiri. Jujur, melihat secara keseluruhan 8 lagu yang ada di album ini, bila dibandingkan dengan karya – karya Radiohead sebelumnya, lagu – lagu ini harus bersaing cukup keras untuk bisa duduk di singgasana yang sama. “Bloom” yang mengawali album ini, dimulai perlahan, dengan blips yang sekarang sudah memasuki teritori familiar di telinga kita lewat album – album Radiohead terdahulu ataupun lewat karya solo Thom Yorke, “The Eraser”. Memasuki “Morning Mr. Magpie” kita menaikkan alis mata kita sebelah, menandakan adanya sesuatu yang menarik di sini, dengan suara gitar yang irit menggoda dan bas yang pelan – pelan menggelitik gendang telinga kita untuk memperhatikan dengan seksama album ini, di tengah tengah suara elektronika yang menggaung menghantui.

Dalam “Little By Little” kita akan mendengarkan Phil Selway yang dengan piawai memainkan perrkusi dan drum yang menandakan bahwa di balik semua ritmus yang terdengar begitu robotik adalah seorang manusia yang menjadikan semuanya lebih bersuarakan elemen organik. “Feral” adalah sebuah nomor instrumental yang terdengar sebagai perjalanan melintasi terowongan bawah laut yang tiada kunjung habisnya, dengan sebuah kereta transatlantis. Perjalanan itu berhenti, dalam “Lotus Flower”, digantikan sebuah tarian rasuk digital diiringi tepukan tengan dan keagungan suara Yorke menyanyikan “Slowly we unfold as lotus flower…”, tak sadarkan diri, menari dan menari tanpa henti.

Diiringi lantunan piano yang membungkus kita dengan rasa kenyamanan yang kelam, “Codex” membalut kita dalam kidung yang bernafas sama dengan “Nude” dalam “In Rainbows”, menenangkan tapi memberikan kita sebuah insekuritas yang meresahkan. Perasaan yang sama kita dengar kembali dalam “Give Up The Ghost”, dengan suara gitar akustik, dan Yorke yang menyanyi lirih ditimpa versi majestik suaranya sendiri, sampai kita mendengar suaranya menyanyikan “I think I should give up the ghost, in your arms”, di momen itu kita tahu semuanya tidak akan berubah sekelam yang kita kira.

“The King Of Limbs” diakhiri dengan “Separator”. Untuk saat ini, album ini sudah berakhir, dengan kata – kata “If you think this is over, then you’re wrong”. Dengan Radiohead kita tidak akan pernah mengetahui apakah ini akan benar – benar berakhir, atau ini semua merupakan bagian dari lanjutan yang lebih mega daripada ini. Apakah akan ada “The King Of Limbs” kedua seperti “Kid A” dan “Amnesiac” yang berasal dari satu sesi rekaman? Kita tidak pernah mengetahuinya, yang kita tahu di tengah ritmus lagu itu yang melempar kita ke segala arah, dipandu oleh suara bas, dan gitar yang bersahut-sahutan itu, kita menari, menikmati musik yang telah diberikan oleh Radiohead kepada kita dan merasakan sesuatu yang substansial.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Radiohead – The King Of Limbs”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2011
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: