26
Jan
09

Konser Review: Pure Saturday – Bandung, 25 Januari 2009

photo-0060

Pure Saturday

Time For A Change – Time To Move On

The Gig

GSG Itenas Bandung, 25 Januari 2009

Setlist: Pathetic Waltz, Awan, Sajak Melawan Waktu, Silence, Di Bangku Taman, Belati, Di Sana, Nyala (feat. Rekti, The SIGIT), Latter The Saddest World Down (feat. Rekti, The SIGIT), Whole Lotta Love (feat. Rekti, The SIGIT), Sirkus, Kaca, A Song. BREAK. Labirin (feat. Agung, Burgerkill), Elora (feat. Agung, Burgerkill), Coklat, Desire, Pagi, Spoken, Pulang. ENCORE: Buka, Kosong, Enough, Vapour Trail, Boys Don’t Cry

Bagaimana sepotong musik, diartikan sebagai sesuatu yang abadi? Bertahan dalam ujian waktu, di tengah – tengah banyaknya jutaan musik baru yang sekarang tidak lagi hanya hadir dalam bentuk piringan cakram dan pita kaset tapi juga nada dering pribadi di ponsel paling modern yang kita miliki.

Musik yang akan menembus keabadian adalah serangkaian nada yang setelah melewati semua kejadian yang kita alami; pertemanan, akhir persahabatan, rujuknya kembali sebuah persahabatan, ataupun kematian dan perkawinan, tetap memberikan kita perasaan yang sama ketika kita pertama kali mendengarkan musik tersebut. Perasaan penuh bahagia yang tidak dapat dijelaskan selain oleh musik itu sendiri.

Tahun 1996 adalah tahun di mana waktu dan tempat melebur menuju kesempurnaan. Mereka yang muda optimis berada dalam sebuah keadaan eufori dipenuhi oleh musik dari Britania Raya. Hilang sudah kegalauan generasi grunge, lalu piala Eropa dihelat di Inggris seperti hendak memberikan visualisasi yang pantas terhadap musik yang kita dengar. Di negeri ini, sebuah band bernama Pure Saturday memberikan kita sesuatu yang patut dikagumi, karena akhirnya ada band yang berani menampilkan sebuah keindahan yang tidak pernah didengar selama ini, sebuah musik yang dengan manis mencuat keluar dari hati, di luar dari apa yang pernah kita dengar selama ini dalam band yang pada waktu itu pun sudah terlalu banyak mengumbar kekosongan kata cinta tanpa arti. Pure Saturday menghiasi mulut dengan senyuman tanpa henti, melukis hati dengan rona kebahagiaan tanpa batas.

Seiring dengan waktu, dengan kewajiban kita yang juga bertambah, ketika jaket jeans itu diganti dengan setelan kemeja licin, sepatu adidas kita berubah menjadi sepatu pantofel yang siap untuk menghadiri pesentasi paling penting untuk klien kita, dan walkman itu telah berubah menjadi alat pemutar musik digital, kita sesekali masih sempat menjenguk ulang musik yang menjadikan semua yang telah berlalu menjadi begitu berarti, musik dari Pure Saturday.

photo-0066


Lalu, tanggal 25 Januari 2009, di tengah hujan yang mengguyur Bandung, kita semua, yang masih percaya akan keabadian itu, yang masih percaya kalau musik Pure Saturday adalah sesuatu dari sekian banyak yang telah mendefinisikan masa muda kita, menemukan dirinya di gedung serba guna Itenas Bandung. Yang membawa kita ke sana adalah sebuah bentuk kesetiaan, dan malam itu kita siap untuk mendengar semua yang telah kita pernah dengar, dan berharap akan sebuah harapan yang selalu kita punya sejak pertama kali mendengarkan musik mereka.

Yang kita saksikan selama lebih dari dua jam menyaksikan Pure Saturday malam itu, adalah sebuah keabadian. Di gedung yang seperti hendak ditakdirkan menjadi sebuah set paling sempurna untuk sebuah konser tunggal Pure Saturday, musik mereka masih tetap berfungsi sama ketika kita mendengarkannya untuk pertama kali. Mungkin ada beberapa hal yang masih dapat dibuat lebih sempurna lagi di malam itu, tapi pada akhirnya yang terpenting adalah musik, dan yang mereka mainkan di sana masih menggugah hati kita untuk menyanyikan senandung keceriaan masa yang telah dan akan kita lewati.

Penampilan Pure Saturday malam itu, memberikan justifikasi untuk band sekelas mereka. Seharusnya band-band bagus di negeri ini, lebih banyak diberikan kesempatan berdiri di atas panggung seperti yang dimiliki Pure Saturday malam itu. Sebuah gig dengan set berdurasi lebih dari 2 jam, dan memainkan lebih dari 20 lagu termasuk cover version dari “Vapour Trail” oleh Ride, “Boys Don’t Cry” dari The Cure, dan secuplik “Whole Lotta Love” dari Led Zeppelin yang menfiturkan Rekti dari The S.I.G.I.T.

photo-0071


Gig Pure Saturday itu tidak hanya memberikan kita suasana intim, tapi juga dengan suguhan lagu-lagu klasik seperti “Desire” dan “Coklat” yang diiringi dengan dansa ekstase hampir seluruh penonton yang hadir di sana, penampilan Pure Saturday kemarin juga memberikan arti baru dalam lagu yang memperkenalkan mereka pada dunia. “Kosong” yang diaransemen ulang, terdengar seperti doa paling tulus yang pernah dipanjatkan masyarakat Indie negeri ini. Begitu juga dengan “Kaca” yang dibawakan dengan diiringi oleh cuplikan demonstrasi mahasiswa tahun 1998, meredefinisi ulang lagu yang liriknya saja telah terdengar sebagai lagu demonstrasi paling manis yang pernah ada di tanah air. Bahkan lagu “baru” mereka, “Pagi” dan “Spoken” yang dinyanyikan berdua oleh Satria dan Suar, yang berada di atas panggung lebih dari ¾ konser tersebut, seperti diberikan kesegaran baru malam itu.

Pure Saturday di gig tersebut, membenarkan atribut legendaris pada diri mereka. Lagu-lagu itu adalah lagu magis yang akan selalu mengiringi kita ke manapun kita pergi. Di atas lagu-lagu itu, terpondasi hampir semua yang ada di dalam diri kita. Dan seperti satu dekade lebih lagu itu telah bekerja untuk diri kita, bukan tidak mungkin malam itu, di bawah kelamnya langit Bandung yang masih tersiram hujan, kita menemukan persahabatan, cinta dan sebuah perasan optimis baru, dalam waktu yang entah akan membawa apa lagi ke dalam kehidupan ini.

David Wahyu Hidayat


5 Responses to “Konser Review: Pure Saturday – Bandung, 25 Januari 2009”


  1. Januari 26, 2009 pukul 6:06 pm

    emang konser pure saturday yang satu ini keren pisan..edan lah, two thumbs up, puas aing!

  2. 2 satria.nb
    Februari 1, 2009 pukul 10:50 am

    terima kasih untuk kehadirannya pada malam itu, apresiasi, dan review berharga ini. band ini tidak akan pernah sehidup ini tanpa kontribusi dari anda semua. terima kasih banyak.

  3. 3 Indra
    Mei 4, 2009 pukul 9:16 am

    David , review lu mengena banget vid ,
    lagu pure saturday adalah pelarian gw untuk mengingat masa-masa 94-98 (jaman SMA-Kuliah).
    ditengah kesibukan nyari duit , menembus kemacetan jakarta, nganter istri dan anak-anak hehehe.

    Kalau mendengar lagunya ps , gw pribadi kayak ada diruang waktu , waktu bandung masih dingin , belon banyak FO , BIP doang mallnya di bandung. Bandung-Jakarta masih jauuhhh banget (naik bis gw pernah 6 jam ).Belon ada MP3 ,kaset doang. Ah kok jadi curhat kiyeu euyy….

    Well at least something never change in this live….

    Thank you PS for give me the something to remember.

  4. 4 David Wahyu Hidayat
    Mei 5, 2009 pukul 9:22 am

    @Indra, memang selalu akan ada musik tertentu untuk mengenang masa-masa tertentu dalam hidup ini, dan Pure Saturday salah satunya buat masa-masa di pertengahan taun 90-an itu, mudah – mudahan musik mereka tetap akan terus memberikan kita sesuatu di masa – masa mendatang.

    Cheers!

  5. 5 r1baca1
    Mei 6, 2009 pukul 1:53 am

    r1baca1@yahoo.com
    add gw di mana ajj
    gw mo nanya seputar wordpres!
    oiya fb ajj ya
    pliesssss


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: