07
Nov
07

Album Review: Arctic Monkeys – Favourite Worst Nightmare

arctic-monkeys-favourite-worst-nightmare.jpg

Arctic Monkeys
Favourite Worst Nightmare
Domino – 2007

Setahun yang lalu, di blog yang sama yang sedang kalian baca ini, tertulis ulasan tentang sebuah debut album dari sebuah band yang kita kenal sekarang dengan nama Arctic Monkeys. Album itu begitu mempesonakan banyak orang dengan serangan rok n’ rol bercampur funk yang kurang ajar, membuat mulut pendengarnya tercengang, adrenalin di darahnya terpacu dan menghantarkannya pada sebuah ekstase.

Waktu itu, di blog ini tertulis demikian mengenai album yang berjudul “Whatever People Say I am, That’s What I’m not” itu:

“…mendengarkan debut album “Arctic Monkeys” kita akan dibawa meledak ke sebuah luapan perasan yang tidak akan kita bayangkan. Mereka yang berumur 17 tahun …. akan menemukan sesuatu yang berarti di hidupnya mendengarkan suara gitar di album ini. Mereka yang berusia 27 tahun, akan secara tidak sadar menghentakkan kakinya … sambil tersenyum puas di depan layar komputer di tempat bekerja mereka, karena album inilah yang mengantarkan perasaan mereka kembali ke 10 tahun yang silam …. album ini adalah kemenangan kita, saatnya untuk berpesta!”

Saat ini, hanya terpaut 14 bulan kemudian semuanya itu terasa seperti sebuah mimpi di siang bolong. Terlalu cepat berlalu, seakan pesta itu telah berakhir yang ada hanya sebuah perasaan “hangover” yang tidak pernah ingin dimiliki. Setahun yang lalu Arctic Monkeys datang di saat yang tepat, ketika generasi ini sedang gila-gilanya terpukau dengan dunia maya bernama MySpace, sehingga tak heran fenomena itu pulalah yang mengantarkan album tersebut menjadi debut album yang paling banyak terjual di minggu pertama setelah perilisannya di Inggris. Hari ini kita hanya dapat bertanya, apakah semuanya semegah yang kita rasakan saat itu?

Untuk kasus “Whatever…” lagu – lagu yang ada di sana memang memberikan “anthem” baru di awal abad 21 ini. Tapi untuk menindaklanjuti semua mimpi indah itu hanya dalam kurun waktu setahun, kita hanya dapat berperasaan was – was kalau album kedua Arctic Monkeys tidak akan sebrilian debut mereka.

Dan kesan pertama yang timbul membawa album itu terpuruk dalam jurang kekecewaan. Tidak ada lagi lick gitar se-groovy “Fake Tales San Fransisco” atau hook – hook manis seperti dalam “A Certain Romance”, bahkan dibanding dengan “I Bet You Look Good On The Dance Floor”, “Brianstorm” seperti sebuah usaha mengumbarkan kemegahan fana.

Di situlah berakhir sejarah sebuah album yang dinobatkan NME, sebagai album kedua yang paling diantisipasi publik Inggris sejak “Second Coming”-nya The Stone Roses.

Benarkah demikian?

Seperti layaknya dua orang kakak – beradik yang dilahirkan hanya terpaut satu tahun, kedua album itu mempunyai kekuatannya masing – masing. Jika “Whatever…” memukul K.O pendengarnya dengan seketika, “Favourite Worst Nightmare” akan menyengat seperti lebah, tidak akan menyakitkan pertama kalinya, tetapi dengan frekuensi berulang – ulang yang intensif, kita akan takluk padanya.

“Brianstorm” memang bukan sebuah lagu seperti “I Bet You Look Good On The Dance Floor”, tapi simak serangan drum Matt Helders di awal lagu tersebut, begitu memekakkan telinga. Di lagu ini terasa arahan produser James Ford yang juga memproduksi album perdana Klaxons. Dengan teliti ia mengolah setiap instrumen dalam lagu itu, suara Alex Turner di lagu itu mencerminkan sebuah kemisteriusan yang optimis, serangan gitarnya dan Jamie Cook akan menusuk telinga kita dengan tajam, menjadikan lagu ini sebuah pengalaman “sonic” yang menakjubkan.

“Balaclava” dimulai hanya dengan vokal Turner dan permainan bas dari Nick O’Malley. Di lagu ini Arctic Monkeys banyak menfiturkan permainan “stop ‘n go”, perpaduan antara lick – lick gitar yang terdengar hampir seperti sebuah humor yang menggelitik atau hanya permainan bas dan drum/perkusi. Mereka kemudian melangkah lebih jauh lagi dalam “Fluorescent Adolescent”. Lagu ini menggemaskan telinga pendengarnya, membawa kita pada sebuah mimpi ketika Turner menyanyikan “Oh that’s boy a slag, the best you ever had, is just a memory and those dreams, not as daft as they seem. My love when you dream them up..”.

“Only Ones Who Know” adalah lanjutan “Riot Van” dari album pertama. Begitu tenang dan menghanyutkan. Pembuktian kalau Arctic Monkeys tidak hanya dapat memberikan kita lagu – lagu untuk berdansa di tengah malam yang glamour, sesungguhnya lagu ini memberikan harapan akan masa depan Arctic Monkeys.

Bila album ini memiliki sebuah lagu yang menjadikannya “center piece” untuk lagu – lagu lainnya, maka lagu itu adalah “Do Me A Favour”. Jika kita hanya tahu lagu – lagu dari “Whatever…” kita tidak akan pernah berani mempertaruhkan kalau Arctic Monkeys akan menulis lagu seperti ini. Lagu itu menghipnotis kita seperti layaknya berada di bawah siraman matahari hangat Kuta dengan suara gitarnya yang menyeret malas. Sebuah ilusi tidak ingin berlari dari benak kita, terutama ketika Turner menyanyikan “Do me a favour, stop asking questions!….curiosity becomes a heavy load, too heavy to hold, too heavy to hold…how to tear apart the ties that bind? Perhaps fuck off, might be too kind”.

Album ini ditutup dengan “Old Yellow Bricks” dan “505”. Di lagu yang disebutkan pertama Turner melantunkan “Who wants to sleep in the city that never wakes up? Blinded by Nostalgia, who wants to sleep in the city that never wakes up?” Ditemani suara gitar yang akan menghantui kita, seakan mengajak kita untuk mencari arti dari sesuatu di kota yang kita tinggali. “505” adalah permata yang tepat untuk menuntaskan “Favourite Worst Nightmare”. Dimulai dengan sangat pelan dan nyaman, lagu ini kemudian berbalik menjadi sesuatu yang akan selalu kita puja dari Arctic Monkeys di tahun 2007. Ia menenggelamkan kita ke dalam perasaan menerawang, mengetahui sesuatu yang menakjubkan akan terjadi. Ia memanjakan kita dengan segala melodinya yang terlalu menarik untuk ditolak.

Setelah 37:34 menit dibuai oleh Arctic Monkeys, ternyata mimpi buruk itu tidaklah separah yang kita bayangkan. “Favourite Worst Nightmare” telah menyengat kita berulang – ulang, sehingga kita pun tidak bisa melakukan hal lain selain takluk padanya. Ini adalah karya sebuah band yang mencintai musik mereka dan tidak peduli akan media di sekelilingnya. Untuk itu kita pun menghapus skeptis dari muka kita, dan mengangkat topi untuk mereka.

David Wahyu Hidayat


3 Responses to “Album Review: Arctic Monkeys – Favourite Worst Nightmare”


  1. Juni 8, 2008 pukul 6:46 pm

    beda album ini dengan yang pertama adalah… soul.

    Arctic Monkeys kayaknya masukin banyak unsur di sini…

  2. 2 aisahamini
    September 11, 2008 pukul 3:13 pm

    they`re just different from the others, mate!

    ..just love listening to their songs.
    *ngga sadar membuat kaki kita bergerak-gerak sendiri mengikuti musik mereka.*

    thanks banged buat review-nya.

  3. 3 anton_baadillaa
    Desember 21, 2008 pukul 8:50 pm

    Arctic Monkeys emang idola gue banget dah….
    musik nya bisa bikin kita masuk ke dalam imajinasi yang penuh perasaan …….
    musik album 1 mang bersemangat abis….. full power n soul….
    album 2 ga kalah nge-soul nya….. lebih expresif dan imajinatif…..
    bikin kita terkagaet-kaget di setiap lagunya yang sangat mewakili perasaan anak muda……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: