Archive for the 'The Coral' Category

26
Des
16

Favorit 2016

photogrid_1482687460277

 

 

Kebahagiaan musikalis saya tahun ini berawal di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016, ketika saya menyaksikan megahnya Efek Rumah Kaca mengantarkan lagu-lagunya pada Konser Sinestesia. 3 bulan setelahnya di penghujung April, saya menjadi saksi di mana lapangan parkir Senayan diubah menjadi lantai dansa psikedelik masal oleh Tame Impala dalam kunjungannya ke Jakarta.

 

Di paruh kedua tahun ini, tanah air dibanjiri dengan banyak pertunjukkan musik, tak luput juga perhelatan festival. Saya beruntung dapat datang di 2 kesempatan yaitu Soundrenaline Festival di GWK, Bali dan Synchronize Festival di Kemayoran (Dengan menyaksikan Rhoma Irama sebagai salah satu momen paling berkesan yang saya rasakan tahun ini). Satu hal yang saya simpulkan dari mendatangi 2 festival itu adalah betapa kayanya negeri ini akan band/artis berkualitas, dan di tengah-tengah segala pertanyaan akan apa artinya menjadi Indonesia, musik yang dibawakan dari band-band tanah air itu yang membuat saya bangga menjadi warga negara Nusantara dan merasakan bersyukurnya menjadi bagian dari nasion yang sangat kaya dan beragam ini. Di dua festival itu, musik mempersatukan keragaman penonton tanpa memandang latar belakangnya, dan kita semua bisa merasakannya dalam atmosfir penuh kebahagiaan.

 

Dalam format trek dan album, tahun ini kembali dipenuhi dengan segala hingar bingar yang membuat kita terpana penuh keheranan, karena musik sekali lagi menyulap hari-hari kita menjadi sesuatu yang istimewa, tak peduli kita sedang berada di rumah, maupun sedang tenggelam dalam tuntutan pekerjaan, sedang sendiri atau bersama orang-orang yang kita kasihi. Di bawah ini, adalah para trek dan album favorit saya tahun ini yang mengubah dan memberi arti hari-hari saya di tahun 2016 ini.

 

 

Trek:

 

Beat The Ordinary – Elephant Kind

 

Lagu ini adalah sebuah pembuktian bahwa Elephant Kind adalah sebuah unit (indie) pop berbakat yang ada di Indonesia saat ini. Setiap hook-nya menyiratkan keoptimisan masa muda dan harapan bahwa dunia bisa ditaklukkan di bawah kaki mereka tanpa harus menaklukkan siapa pun.

 

 

Aviation – The Last Shadow Puppets

 

Ketika Arctic Monkeys sedang tidak menghibur kita dengan apapun yang mereka rilis, Alex Turner menyibukkan diri dengan sahabatnya Miles Kane sebagai The Last Shadow Puppets. Aviation adalah trek tipikal duo tersebut dengan gitar berefek retro serta lirik yang membuat para wanita turun berdansa dan para pria berdiri terpana mengaguminya.

 

Find Me – Kings of Leon

 

13 tahun sejak Youth & Young Manhood dirilis, Kings Of Leon tetap konsisten memainkan rock americana yang mampu diterima oleh masyarakat arus utama. Find Me adalah nomor yang punya daya tarik karena lick berkesinambungan Matthew Followill terlalu manis untuk dilewatkan dan suara vokal Caleb Followill masih tidak dapat ditolak oleh semua orang yang punya selera bagus dalam bermusik.

 

 

Gimme The Love – Jake Bugg

 

Ini adalah lagu paling terus terang dari Jake Bugg. Menyanyi seakan dirinya adalah rapper paling begundal dan dengan semangat seorang Mike Tyson, Gimme The Love adalah pernyataan seorang artis yang tidak kenal kata takut untuk berevolusi.

 

Like Kids – Suede

 

Salah satu kritikus musik menyebutkan Night Thoughts adalah album di mana Suede menemukan keseimbangan antara sisi gelap Dog Man Star dan keseksian Coming Up. Trek ini mencerminkan yang terakhir, ketika Brett Anderson menjadi androginous sejati diiringi binalnya suara gitar Richard Oakes.

 

Million Eyes – The Coral

 

Setiap kali The Coral mengeluarkan album, setiap kali itu pula saya terpana karenanya. Distance Inbetween adalah sebuah album ajaib, dan trek seperti Million Eyes adalah buktinya. Para sonic scouser itu menukar pop-folk mereka dengan psikedelia berat namun harmonis di lagu itu. Memasuki 14 tahun karir bermusik mereka hal itu adalah sebuah konsekuensi yang sangat logis untuk diambil, sekaligus patut diacungkan jempol sebagai tanda betapa briliannya mereka.

 

Serigala – Indische Party

 

Entah atas alasan apa, menurut saya Analog adalah album yang sangat identik dengan The Velvet Underground dengan Serigala sebagai trek andalannya. Trek  itu membakar semangat, seperti layaknya  seorang pemuda yang akan menerkam dan menaklukkan CBGB di malam menuju Minggu.

 

Threat Of Joy – The Strokes

 

Lagu ini adalah sebuah pertanda bahwa The Strokes masih dapat dengan mudah menciptakan lagu yang sangat melodis seandainya mereka mau sepakat untuk melakukannya. Tanda-tanda akan kecintaan mereka terhadap musik yang mudah dipasarkan seperti waktu mereka menghantarkan Is This It, terdengar dengan gamblang di lagu ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi barometer untuk lagu-lagu mendatang yang akan dikirimkan The Strokes ke planet ini.

 

Candu Baru – Zatkimia

 

Ketika mendengarkan Zatkimia pertama kali di Soundrenaline, saya terhenyak karena melihat sebuah band yang sangat menyegarkan dan tanpa rasa takut menguasai panggung di GWK waktu itu. Band ini adalah pahlawan baru pulau dewata, dengan musik yang kental akan aroma grunge dan rangkaian musik alternative yang kita kenal di tahun 90-an. Walaupun belum mengeluarkan album secara penuh, lagu yang bertemakan kecanduan manusia akan segala piranti digital ini, menjadi semacam pertanda bahwa semesta akan menyertai masa depan band ini.

 

The Journey Starts Tonight – Rumahsakit

 

Anak indie atau bukan, penggemar Rumahsakit atau bukan, lagu ini wajib menjadi soundtrack baru mereka yang sedang kasmaran serta mencintai kehidupan. Daya tarik pop lagu ini terlalu besar dengan lirik yang sangat optimis “’Cause you are so bright And now I’m blinded by The magic in your smile” dan riff gitar apik yang akan membuat kita bersiul bahagia setiap pagi. Jika semuanya tergantung kepada saya, lagu ini seharusnya berada di setiap siaran tv dan radio yang mempromosikan lagu Indonesia, karena ini adalah lagu bagus dan setiap orang harus mengetahuinya.

 

 

Wave – Heals

 

Tradisi bahwa Bandung selalu memproduksi band beraliran shoegaze yang tidak kalah kualitasnya dengan band yang berasal dari Oxford maupun Stockholm dilanjutkan dengan Heals. Merilis beberapa single di tahun ini, dengan Wave adalah salah satunya, Heals adalah badai suara yang tidak dapat dilewati. Kualitas band dan lagu ini terlalu baik, sehingga sudah seharusnya kerajaan shoegaze itu di kudeta, dan ibukotanya dipindahkan ke Bandung.

 

Stunt Queen – Bloc Party

 

Lagu ini adalah definisi Bloc Party MK II, di mana saat mereka bercumbu dengan aroma elektronika tidak menjadikan keluaran band ini menjadi janggal tetapi merupakan sesuatu yang patut dipeluk dan dinikmati. Saya beruntung menyaksikan Bloc Party dengan komposisi personil baru di Bali, September lalu. Yang saya saksikan adalah sebuah band yang kembali menikmati posisinya sebagai salah satu band berpengaruh di dekade lalu dan itu terasa dan terdengar dalam Stunt Queen.

 

Beautiful Thing – The Stone Roses

 

Tahun ini dua kali saya bangun dini hari bukan untuk sepakbola, tetapi untuk mendengarkan pemutaran perdana lagu terbaru dari The Stone Roses. Lagu yang dirilis kedua, seperti judulnya adalah sesuatu yang indah. Jika hiatus panjang itu tidak pernah terjadi, dengan wah-wah yang mendominasi dan hook-hook psikedelik dari John Squire serta vokal biblikal Ian Brown, lagu ini tidak bisa tidak merupakan penerus yang sah dari Fools Gold.

 

Finally First – Beyond The Wizard Sleeve

 

Hentakan drum repetitif itu sukses menghanyutkan kita ke dalam era di mana definisi musik elektronik adalah Chemical Brothers dan Everything But The Girl, serta acid house adalah musik yang kita cintai kala berpesta di pesisir Ibiza pada puncak dekade 90an.

 

Extra Mile – Kimokal

 

Sebenarnya ketukan-ketukan yang mengawali lagu ini terasa janggal ritmenya namun kaki tidak bisa diam untuk berdansa dengannya. Sementara itu vokal Kallula yang meramban otak kita membentuk sebuah halusinasi nyaman dalam alam pikiran. Sesaat kita lupa akan dunia nyata, dan memasuki kemayaan indah versi Kimokal.

 

Identikit – Radiohead

 

“Broken hearts make it rain” kata-kata itu diulang Thom Yorke di lagu ini seperti mantra. Apakah ini lagu patah hati Radiohead yang pertama? Sesungguhnya tidak peduli ini lagu patah hati atau bukan. Dengarkan musik yang mengiringinya; ketukan-ketukan ganjil itu, suara synth yang menghantui ketika Yorke menyanyikan kata-kata di atas dan rentetan gitar yang membentuk klimaks di akhir lagu. Mendengarkan semua itu, kita tahu bahwa Radiohead tetap dan masih sebuah band jenius yang tidak ada tandingannya di abad ini.

 

 

Monumen – The Trees and The Wild

 

The Trees and The Wild benar-benar membangun sebuah monumen yang dilapisi tembok-tembok suara menakjubkan di lagu ini. Ia seperti ledakan emosi paling hebat dalam tubuhmu dengan vokal yang menghantui, hentakan drum yang konsisten mendeterminasi jiwa dan serangan gitar penuh dengan efek yang menyeruak dan berkoloni di dalam alam pikiran.

 

Merdeka – Efek Rumah Kaca

 

Efek Rumah Kaca merilis single mereka ini menjelang hari kemerdekaan RI yang ke 71. Sungguh, saat mendengarkan Efek Rumah Kaca, salah satunya melalui lagu ini, kita selalu diingatkan terus menerus akan makna menjadi manusia seutuhnya dan menjadi Indonesia sepenuhnya. Lagu ini adalah sebuah harapan.  

 

Pekerja – Bangkutaman

 

Lagu latar buat para pekerja-pekerja di metropolis Nusantara. Memang perjalanan menuju dan dari tempat bekerja bisa saja berbuat kejam kepada kita. Tuntutan atasan dan pekerjaan bisa membuat lupa bahwa kita seorang manusia. Lagu dengan nuansa folk ini mengingatkan kita bahwa sesekali tidak ada salahnya menghela nafas sesaat dan menjadi rileks sejenak, sebelum meneruskan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

 

Modern Soul – James Blake

 

Menjelang tengah malam dan jam-jam setelahnya adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan musik James Blake, tak terkecuali lagu ini. Musiknya akan menyelimuti kita dengan kegundahan yang menyenangkan, ia akan mengambil porsi kekuatiran yang dibawa oleh kegelapan malam, sambil memberi sedikit nyawa kepada fajar yang sebentar lagi akan datang.

 

Cahaya – Tulus

 

“Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya, aku pastikan jalanmu terang”, begitulah janji Tulus kepada kita. Di tahun  2016 ini, bintang penyanyi yang satu ini masih bersinar terang benderang, dan turut bercahaya bersamanya adalah segenap planet pop tanah air.

 

 

Album:

 

Zaman, Zaman – The Trees & The Wild

 

Sesungguhnya dan secara instan album kedua The Trees & The Wild ini adalah sebuah candu yang takkan habis masa pengaruhnya setelah lama didengarkan. Siapapun yang beruntung pernah menyaksikan penampilan band ini secara langsung di tahun yang penting bagi mereka ini, akan merasa pengar musikalis untuk waktu yang berkepanjangan setelahnya. Karena seperti albumnya, mereka telah memberikan sesuatu yang terlalu atmosferik untuk dilepaskan, magis dan monumental sekaligus.

 

A Moon Shaped Pool – Radiohead

 

Album brilian dan menghantui sanubari yang mendeskripsikan Radiohead dalam fase terbaiknya. Mungkin mereka tidak lagi membuat sebuah opera rock seperti Paranoid Android, ataupun mengantarkan trek bernuansa Stanley Kubrick seperti Idioteque, namun silahkan dengarkan Daydreaming dan Identikit, keduanya adalah bagian dari keajaiban yang hanya dapat dihantarkan oleh Radiohead.

 

Analog  – Indische Party

 

Mendengarkan album ini, pikiran lantas teringat kepada New York, Velvet Underground serta musik latar mini seri HBO Vinyl, dan itu adalah sebuah komplimen! Mendengarkan Babe You Got A Hold On Me Somehow seperti mendengarkan Lou Reed sedang berkontemplasi, vokal Tika Pramesti di Ingin Dekatmu mengalun adem dan mengingatkan akan keseksian Nico, sedangkan Serigala mempersiapkanmu menerkam malam minggu paling liar di CBGB!!!

 

Distance Inbetween – The Coral

 

Tidak ada yang berani memperkirakan bahwa The Coral masih sanggup mengeluarkan album, dan betapa sungguh dasyhatnya gelombang yang dikirimkan oleh Distance Inbetween. Serangan-serangan psikedelia kelas berat bertubi-tubi dipancarkan album ini dalam lagu seperti Chasing The Tail Of A Dream maupun Million Eyes. Selayaknya pembaruan yang telah dilakukan oleh seorang Juergen Klopp dalam tubuh tim bola merah kota asal band tersebut, sudah saatnya pula kita balik percaya bahwa The Coral telah kembali dan merestorasi kejayaan mereka.

 

The Soft Bounce – Beyond The Wizard Sleeve

 

Beyond The Wizard Sleeve adalah sebuah kursus bagaimana membuat musik elektronik terdengar sangat organik, dengan mencampurkan elemen psikedelia dan acid house. Ada elemen nostalgia tahun 90-an di sana, mendengarkan album ini seperti mendengarkan The Chemical Brothers dicampur oleh Everything But The Girl yang sedang diet mayo. Jika tidak percaya dengarkan saja Diagram Girl, Creation ataupun hantaman drum penuh ekstase itu dalam Finally First.

 

O – Kimokal

 

Kimokal adalah bukti bahwa geliat musik (indie) Indonesia tidak melulu harus menampilkan gitar sebagai senjata utamanya. Dibalut dengan untaian bit elektronika dan sentuhan post-dubstep, album debut mereka O akan memberikan abstraksi multi warna ketika kita mendengarkannya. Kadang bayangan itu tentang kilau lampu ibukota yang mempesona, kadang tentang sebuah metropolis entah di mana yang memanggil kita untuk berdansa.

 

Walls – Kings Of Leon

 

Setelah album ini dirilis, segala perdebatan dan perbandingan tentang siapa yang lebih baik dan lebih besar antara Followill bersaudara dan lima pemuda dari New York yang menamakan dirinya The Strokes, sudah dan harus diakhiri untuk selamanya. Jika The Strokes seringkali kehilangan arah antara ingin meneruskan warisan Is This It atau membuka dimensi baru di album-album setelahnya, Kings Of Leon mendirikan dinasti yang dibangun dari setiap rilisannya. Walls adalah buktinya.

 

City J – Elephant Kind

 

Terlepas dari sumpah serapah yang bertebaran dengan joroknya di sudut-sudut album ini, dan lagu-lagu yang dipotong dengan janggal ketika kalian sedang asyik-asyiknya mendengarkan (itu mungkin disengaja demikian), City J adalah karya debut pop yang sangat sukses. Album itu diawali dengan Beat The Ordinary yang menebar harum keadaan indie pop Indonesia 2016, dan kemudian dituntaskan dengan pamungkas dengan trek seperti Montage dan The Saviour.

 

Hymns – Bloc Party

 

Sejujurnya setelah mencintai band ini dengan sangat semenjak pertengahan dekade lalu, saya sempat skeptis menyambut album pertama Bloc Party sepeninggalan Gordon Moakes dan Matt Tong yang digantikan dengan Justin Harris & Louise Bartle. Hymns bukanlah album yang menjatuhkan bom seperti Silent Alarm atau bahkan Four sekalipun, tetapi mendengarkannya seperti bertemu seorang teman lama yang selalu tahu cara mengusir kegundahan dengan cara yang lebih dewasa dan menenangkan. Euforia dekade lalu telah berakhir, dan di tengah waktu yang tak kenal arah ini, Hymns datang sebagai penyembuhan agar kita tetap waras.

 

Night Thoughts – Suede

 

Dengan banjirnya layanan streaming musik termasuk di tanah air ini, tahun ini adalah waktu yang dinyatakan sebagai tahun matinya format album. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Di genre yang lebih dekat dengan arus utama dikatakan Beyonce, Drake dan Kanye menjadi penyelamat format tersebut, sedangkan untuk kita yang terjebak dengan musik dari 2 dekade lalu, Suede menjadi penyelamat dengan merilis Night Thoughts yang dikemas dalam musik yang tidak terputus antar treknya dan bertautan dalam cerita satu sama lain serta didukung oleh sebuah film yang menjadi visualisasi musiknya. Night Thoughts adalah album matang dari Suede yang mengkombinasikan kegelapan Dog Man Star dan keseksian Coming Up dalam album ini. Jika semua band/artis yang reuni setelah bubar memproduksi karya seperti Suede, maka kita semua akan menjadi orang yang lebih bahagia di dunia ini.

 

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: The Coral – Roots & Echoes

the-coral-roots-and-echoes.jpg

The Coral
Roots & Echoes
Deltasonic – 2007


Anfield, di sebuah sabtu sore. 2 orang fans si merah mencoba membunuh waktu sebelum pertandingan dimulai dengan membicarakan betapa mereka mencintai salah satu lagu dari sebuah band lokal bernama The Coral. Sebegitu antusiasnya mereka menunggu wasit meniupkan peluit tanda dimulainya pertandingan, sebegitu berapi-apinya juga mereka memuja band tersebut. Seorang pemuda yang berdiri tepat di sebelah mereka, hanya tersenyum simpul sepanjang pembicaraan itu terjadi. Pemuda itu adalah James Skelly, vokalis dari band yang dibicarakan kedua fans tersebut.

Dengan 4 top 5 album dan 8 top 40 singles di Britannia Raya, James Skelly dan seluruh personil The Coral lainnya masih dapat menikmati luksus bernama keanoniman yang membolehkan mereka berlaku normal seperti orang lainnya, seperti menonton kesebelasan favoritnya tanpa harus takut dikenali dan diusik siapapun. Tapi keanoniman tidak membuat mereka berhenti dipuja secara diam-diam, bahkan dari seorang Noel Gallagher sekalipun. Sebegitu terkesimanya “The Godfather of Britpop” itu akan The Coral, sehingga ia rela meminjamkan studionya tanpa bayaran sepeser pun, agar keenam anak muda yang terlalu banyak mendengarkan koleksi rekaman dari era ayah mereka dengan asap ganja yang mengepul, untuk membuat album kelima mereka “Roots & Echoes”.

Dan hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. Kumpulan sebelas lagu yang ada di album tersebut, melanjutkan tradisi The Coral mengirimkan melodi – melodi “Sea Shanty” yang memabukkan tanpa batas waktu yang menghalangi. Album ini seperti juga album The Coral lainnya berfungsi seperti sebuah mesin waktu untuk kembali ke tahun 60-an, bahkan sampul depan album tersebut berkesan seperti sebuah kiriman dari masa lalu. Klasik.

“Who’s Gonna Find Me” yang dipilih sebagai single pertama dan pembuka album ini, memberikan warna “Northern Soul” yang cukup kental, dan bukan tidak mungkin suatu waktu nanti, lagu ini akan menjadi penghias “footage” gol-gol indah Liverpool di musim ini. “Put Your Sun Back” dan single kedua mereka “Jaqueline” adalah nomor-nomor khas The Coral dengan vokal indah James Skelly yang membius nalar. Di lagu yang disebutkan terakhir, The Coral seperti membuktikan diri mengapa band yang seperti berada di jaman yang salah, mampu menjual hasil rekaman sebanyak yang mereka jual. Karena “Jaqueline” adalah sebuah lagu pop sederhana berdurasi tiga setengah menit yang akan membuat kita bersenandung tanpa sengaja di pagi hari ketika kita akan berangkat ke kantor. Sesederhana itu. Pop dalam wujud yang seharusnya.

Beberapa lagu dalam “Roots & Echoes” seperti “Cobwebs” dengan gitarnya yang tertawa riang atau “Rebecca You” dengan melodinya yang menenangkan berfungsi seperti sebuah obat yang ampuh untuk keresahan jiwa. Sementara di lagu seperti “In The Rain” yang bertempo lebih cepat daripada kebanyakan lagu di album ini, yang terasa adalah kebalikannya. Dengan menyanyikan “I am stranger in this life, haunted by yesterday desires”, Skelly seperti memberikan suara kepada pendengarnya tentang kegusaran hidup yang dialaminya. Di tengah umurnya yang baru 26 itu, ia tidak berusaha memberikan jawaban, ia hanya melakukan apa yang terbaik ia lakukan, memberikan musik untuk mengusir kegalauannya itu.

The Coral tidak berusaha mendefinisikan baru musik mereka di “Roots & Echoes”. Mereka bermain dalam keabadian nada mereka, berusaha untuk menjadi seklasik mungkin tanpa harus meninggalkan sentuhan pop yang mereka miliki, dan disengaja atau tidak, seiring dengan seringnya kita mendengarkan album tersebut, nada-nada tersebut lambat laun akan berakar dan menggaung dalam diri kita, mencoba untuk berkata-kata, menembus jiwa.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: The Coral – The Invisible Invasion

theinvisibleinvasion.jpg

The Coral
The Invisible Invasion
Deltasonic – 2005

Musik terkadang dapat menyampaikan sebuah pesan pada seorang manusia, yang hanya berfungsi ketika seseorang berada dalam perasaan, situasi dan musim tertentu. Album terbaru “clique” asal Hoylake, Liverpool ini adalah salah satu musik yang dapat dimasukkan dalam kategori di atas. Musim yang dimaksud adalah musim panas, perasaan yang dimaksud adalah perasaan ditinggalkan seseorang dan meninggalkan sebuah tempat, situasi yang dimaksud adalah saatnya membuat perubahan untuk memulai sesuatu yang baru.

Sejak debut album mereka, The Coral telah berada di pop universum yang berbeda dibanding band-band lainnya. Mereka seperti selalu berada di tahun 60-an, selalu meminum kapsul mesin waktu yang membawa mereka berada terus di “summer of love”. Dan yang mengherankan, mereka melakukannya dengan sangat baik. Terlepas dari mini album mereka tahun lalu (“Nightfreaks and the sons of becker), The Coral selalu menghasilkan pop-nostalgie yang indah, yang membawa kita seperti seorang “scouse” yang sedang mendengarkan koleksi piringan hitam ayah kita sambil menikmati teh bersama Bill Shankly.

Dibuka dengan “She sings the mourning” dan dilanjutkan dengan “So long Ago”, “The Invisible Invasion” langsung mengantarkan kita kepada “vibe” tahun 60-an yang sangat authentik. Terutama dalam “So long ago” yang memadukan petikan gitar dengan melodi manis, menjadikan lagu ketiga di album ini sebagai salah satu nomor terbaik yang pernah dimainkan The Coral.

“A warning to the curious” adalah lagu untuk sesorang yang tidak percaya lagi akan cinta. James Skelly dengan malas menyanyi “Its better not to be in love, than to be in between…..If I never had you, than I wouldn’t feel the way I do now”. Alunan gitar yang mendayu-dayu mengiringi perasaan seseorang yang sedang muak dengan dicintai dan mencintai. Sebaliknya dalam “Something inside of me” Skelly seperti menemukan kembali indahnya sebuah cinta. Kemalasan dan kemuakan yang terdengar di “A warning to the curious” berubah menjadi sebuah lantunan optimismus, tentang seseorang ia inginkan, dan melupakan mereka yang telah berlalu “There’s something inside of me, feels like I’ll be wanting you forever….when there’s something inside of me, and now I can’t look back”.

Optimispus pula yang mereka ingin sampaikan dalam “In the morning”. Sebuah nomor pop indah dengan lantunan “glockenspiel” mengiringi Skelly yang sedang bernyanyi “Out of the dark into the light, when the morning comes I will be alright”. Percuma menyesalkan apa yang telah terjadi, karena itu semua sudah terjadi dan tidak dapat dirubah. Yang berarti adalah semua yang ada di depan kita, yang masih bisa diusahakan dengan tangan kita sendiri. Optimismus ini mengantarkan kita pada pesan ketiga di album ini yaitu pergi dan meninggalkan suatu tempat untuk memulai sesuatu yang baru. “I’m leaving today, to much time’s already wasted…they’re only sorrows until tomorrow, I’m leaving today” lantun Skelly di “Leaving today”, yang akan membuat kita tidak akan pernah menengok ke belakang, ketika kita mengendarai mobil kita meninggalkan sebuah kota menuju tujuan yang kita cintai, mengikuti cerahnya pancaran sinar mentari.

Ini adalah album untuk kembali menemukan kembali arti hidup di setiap orang, setelah mengalami kepenatan yang terjadi di masa lalu. Album untuk melupakan kesesalan dan menemukan kembali artinya cinta. Album untuk meninggalkan dan mendapatkan kembali kedamaian di hidup setiap orang. The Invisible Invasion.

David Wahyu Hidayat




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,056 hits