15
Sep
09

Album Review: Arctic Monkeys – Humbug

Arcticmonkeys-humbug

Arctic Monkeys

Humbug

Domino Records – 2009

Mereka telah dewasa. Potongan rambut yang berkesan seperti imagi seorang anak indie dari foto profile di myspace, berubah sudah, digantikan dengan rambut panjang yang menutupi sebuah tatapan misterius. Tiga tahun yang lalu mereka masih bernyanyi tentang sepatu dansa dan berjoget seperti sebuah robot dari tahun 1984 diiringi sebuah musik elektropop. Sekarang, mereka memasuki teritorial musik yang lebih dalam, gelap dan misterius. Terlalu kelam mungkin untuk ukuran Arctic Monkeys yang terbiasa dengan sebuah bentuk musik indieblitzkrieg. Tapi mau suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, inilah Arctic Monkeys tahun 2009, dan sejujurnya ini adalah sebuah perubahan yang menggairahkan, seperti sebuah makeup sex yang tak pernah diperkirakan dan di luar kendali.

Gairah itu dimulai dengan rentetan drum Matt Helders yang menyerang seperti sebuah senapan mesin panas yang hendak menumbangkan musuhnya di lagu pembuka album ini “My Propeller”. Dikombinasikan dengan suara Alex Turner yang lebih lirih dari biasanya, dari awal kita langsung menyadari bahwa sesi rekaman di Joshua Tree bersama Josh Homme telah membawa hal-hal baik bagi Arctic Monkeys. Mereka menjadi dewasa dalam bermusik tanpa berusaha membuat segalanya menjadi memusingkan, hanya kesederhanaan yang menghitam mengakar di setiap nada yang kita dengar.

Bunyi bas yang berat dan menyeret membuka “Crying Lightning”. Kalau mereka datang 3 tahun yang lalu dengan lagu seperti ini, kita akan mengernyitkan dahi, dan bertanya apa yang dilakukan 4 orang muda di umurnya yang masih berusia 20-an dengan lagu seperti ini? Tapi untungnya mereka menunggu saat yang tepat. Karena “Crying Lightning” adalah senjata pamungkas Arctic Monkeys yang sempurna untuk mengalahkan rasa pesimis kita terhadap mereka yang berkata, kalau tidak ada band yang akan pernah berarti lagi pada saat ini. Lagu ini adalah suatu serpihan klasik dalam wujud yang pada pendengaran pertamanya tidak terkesan bombastis, tapi pelan-pelan akan membuat jiwa kita menangis karena kebesarannya.

Merekam album ini bersama Josh Homme, adalah keputusan terbaik yang pernah dilakukan oleh Arctic Monkeys dalam album ini. Karena bila mereka membuat kembali lanjutan dari “Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” dan “Favourite Worst Nightmare” mereka akan terjebak kepada pola album ketiga yang mengharuskan semuanya terdengar lebih megah dari yang sudah-sudah hanya untuk memenuhi kebutuhan industri musik saja. Sebagai sebuah album, “Humbug” adalah jalan keluar Arctic Monkeys dari jebakan tersebut.

“Secret Door” diawali dengan intro yang mengecohkan kita dengan alunan rhodes berpadu dengan gitar yang membius pelan, sebelum Helders dan O’Malley kembali sebagai suatu kesatuan yang kompak memberikan pola ritem yang memberikan lagu ini sebuah dimensi lain, mendorong kita seperti berada di pinggir jurang, hanya untuk terjun bebas dalam kenikmatan. “Cornerstone” memberikan kedamaian dalam suara Alex Turner yang sedikit demi sedikit sudah mulai menghilangkan aksen kentalnya, tapi ia tetap mempunyai ide-ide romantisme yang hanya bisa datang dari dalam dirinya, sebagai seorang Alex Turner yang memberikan lukisan sederhana tentang kehidupan yang dapat menjadi sesuatu yang mengagumkan, dan herannya juga merupakan gambaran kehidupan kamu dan saya.

Kepiluan adalah yang dirasakan waktu mendengarkan “Dance Little Liar”, nadanya menyentuh kita seperti kegelapan yang menguasai malam, dan solo gitar yang dimainkan di sana, bukanlah solo gitar penuh ekstase seperti dalam “Take You Home” dari album pertama, tapi solo gitar yang terdengar bagaikan sebuah jiwa rapuh yang dilepaskan dari kegamangan yang mengelilinginya.

Satu-satunya lagu yang berada di jalur jejak tempo album pertama dan kedua adalah “Pretty Visitors”. Di sini Arctic Monkeys terdengar seperti empat sekawan lusuh yang siap merampok kelinglungan jiwa kita dan membawanya ke sarang gerombolan yang sarat dengan nada-nada yang dapat menumbangkan keraguan kita akan musik mereka. Dan di sarang gerombolan tersebut, Alex Turner melantunkan lagu yang memungkasi album mereka “The Jeweller’s Hand”, dengan nada yang mengaung-ngaung di dalam kepala “If you’ve a lesson to teach me, I’m listening, ready to learn. There’s no one here to police me, I’m sinking in until you return. If you’ve lesson to teach me, don’t deviate, don’t be afraid”. Pelan-pelan gerombolan bernama Arctic Monkeys itu memadamkan cahaya di sarangnya. Tapi kita yang berada di luarnya, masih menatapnya mencoba meresapi apa yang telah kita dengarkan di album ini. Mencoba untuk bersatu dalam kekelamannya, dalam kemisteriusan dan dalam kegelapannya. Arctic Monkeys? Mereka telah dewasa, tinggalkan sepatu dansa kalian di lantai dansa itu.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Arctic Monkeys – Humbug”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: