24
Mar
13

Ulasan Konser: Bloc Party – Tennis Indoor Senayan Jakarta, 20 Maret 2013

Bloc Party

Tennis Indoor Senayan, Jakarta

20 Maret 2013

 

Setlist:

So He Begins To Lie, Trojan Horse, Hunting For Witches, Positive Tension, Real Talk, Waiting For The 7.18, Song For Clay (Disappear Here), Banquet, Coliseum, Day Four, One More Chance, Octopus, We Are Not Good People

Encore 1:

Kreuzberg, Ares, This Modern Love, Flux

Encore 2:

Sunday, Like Eating Glass, Helicopter

Bloc Party JKT

Ulasan:

Hari berganti hari, hal-hal di sekitar kita digantikan dengan modernisme fana. Sejak 2005; kita menunggu bahwa segala kemegahan yang ada di “Silent Alarm” boleh disaksikan di hadapan mata kita, menantikan soundtrack kenihilan kehidupan urban dekade “00” di “A Weekend In The City” didengarkan langsung dengan telinga sendiri, merasakan intimasi dalam balutan lagu-lagu “Intimacy” dengan jarak tidak kurang lebih dari 5 meter. Semuanya itu kita tunggu dari tahun 2005, untuk menyaksikan Bloc Party langsung di kota kita sendiri, bersama ribuan fans lainnya. Hiatus yang terjadi sejak akhir 2009 tidak menolong itu semua akan menjadi kenyataan. Tapi puji pada pencipta langit, darat dan lautan, band tersebut menelurkan “Four” tahun lalu, dan penantian 8 tahun itu berakhir pada 20 Maret 2013.

The Adams live at BlocPartyJKT

Pakaian yang kita kenakan masih terasa lembab akibat hujan yang mengguyur Senayan malam itu, ketika kita mendapatkan perlakuan menyenangkan lainnya, sebelum Bloc Party mengambil alih panggung Tennis Indoor Senayan. The Adams, band yang hampir mengukuhkan dirinya sebagai band mitos, tampil malam itu sebagai band pembuka. Lupakan sejenak kalau mereka terasa kaku setelah lama tidak mencicipi panggung ibukota, atau bentuk ruangan Tennis Indoor yang terkutuk untuk selalu menghadirkan suara yang tidak maksimal. The Adams yang malam itu membawakan lagu-lagu indie favorit seperti “Waiting”, “Konservatif” dan “Hallo Beni” adalah sesuatu yang menghangatkan udara sejuk Jakarta malam itu. Senang melihat mereka kembali ke atas panggung setelah sekian lama.

Lepas pukul 22:00, diiringi lagu yang terdengar seperti soundtrack “The Dark Knight Rises”, hadirlah 4 sosok yang dinantikan itu: Matt Tong, Gordon Moakes, Russell Lissack dan Kele yang malam itu berbalutkan kaus hitam bertuliskan “Support Your Local Artist”. Dengan instan, berakhir pulalah penantian 8 tahun di bawah riuh rendah suara penonton di Tennis Indoor. Set mereka diawali dengan gebrakan sunyi “So He Begins To Lie”, yang berubah menjadi liar ketika gitar Russell, bas Gordy dan gebukan maha dashyat Matt  meledakkan erupsi di akhir lagu. Lagu berikutnya adalah sesuatu yang tidak diduga, karena mereka kemudian memainkan “Trojan Horse”. Dengan tempo yang sedikit lebih lambat dari versi studionya, lagu ini mulai menunjukkan supremasi gitar seorang Russell Lissack.

Bloc Party Live At Tennis Indoor Senayan Jakarta - 1

Dari situ suasana pesta menguasai Tennis Indoor Senayan, karena Bloc Party kemudian memainkan “Hunting For Witches” dan “Positive Tension”. Didukung pencahayaan yang sempurna dan suara yang brilian mereka memborbardir kita dengan ketajaman sonik suara gitar, bas dan drum yang berpadu secara epik di “Hunting For Witches”, dan tanpa sempat membiarkan kita bernafas mereka menyambungnya dengan “Positive Tension”, diawali dengan teriakan Kele yang hari itu ada dalam penampilan vokal terbaiknya. Ketika ia meneriakkan “Something Glorious Is About To Happen” tidak ada orang yang di ruangan itu yang tidak percaya kepadanya, karena malam itu sebuah keagungan berjaya untuk selama-lamanya.

Selang mereka memainkan “Real Talk” yang menurunkan suhu sedikit saja di Tennis Indoor malam itu, Gordy memainkan glockenspiel-nya yang menjadi tanda dari intro “Waiting For 7.18”. Lagu ini kemudian diteruskan dengan “Song For Clay (Disappear Here)”, lagu ini adalah pelepasan mereka yang resah terhadap generasi orangtuanya yang hidup di tahun 80-an, dan orang-orang yang merindukan korupsi di jaman keemasaannya yang disimbolkan dengan Kele waktu menyanyikan “Live the dreams like the eighties never happened…how we longed for corruption in these golden years”. “Banquet” kemudian menyambung tanpa jeda, dan lagu generasi “00” ini meledak, membuat Tennis Indoor bagaikan terkena gempa bumi lokal karena keseluruhan manusia di dalamnya baik yang berada di atas tribun dan di arena festival, melompat naik turun berdansa dengan Bloc Party.

Tidak hanya nomor-nomor lama yang disambut dengan gegap-gempita oleh hadirin Jakarta, lagu-lagu dari album “Four” yang mereka mainkan malam itu juga dapat direspon dengan baik. Dimulai dari “Coliseum” yang diawali Russell dengan ritem gitar americana dari Gibson SG putihnya, yang lalu berubah menjadi ganas di akhir lagu, “Day Four” yang menobatkan Bloc Party sebagai salah satu band yang selalu handal bermain dengan perasaan kecintaan akan kota yang kita tinggali, ataupun “Octopus” yang diterjemahkan dengan baik malam itu, terlebih ketika jari-jari Russell memainkan solo lagu tersebut seperti layaknya seorang virtuso gitar sejati.

Setelah lagu tersebut Russell kembali mengambil Gibson SG putihnya, lalu mereka meluncurkan “We Are Not Good  People”, dan Bloc Party pun berubah bagaikan band metal yang terlepas dari kendalinya, ditambah lagi dengan gebukan drum Matt yang bertubi-tubi seperti gelombang tsunami indie terhebat yang pernah menghantam Jakarta. Lagu itu pula yang menandakan berakhirnya set utama mereka malam itu.

“Kreuzberg” mengawali encore pertama mereka malam itu. Dengan versi yang boleh dibilang melucuti versi aslinya, lagu itu terdengar menyejukkan, menghanyutkan setelah dibanjiri dengan ekstase di set utama Bloc Party. Tetapi hanya sampai lagu tersebut saja ketenangan itu dapat dinikmati. Karena “Ares” menyusulnya dan lagu itu seperti sebuah panggilan perang, dengan serangan gitar Russell yang merobek keheningan dan teriakan Kele untuk berdansa di bawah iringan sirene bernama “Ares” dan publik Tennis Indoor pun mengikutinya dengan taat.

Bloc Party Live At Tennis Indoor Senayan Jakarta - 2

Lalu, momen yang mungkin paling ditunggu-tunggu fans Bloc Party selama 8 tahun pun tiba, ketika Kele mengganti gitarnya dengan sebuah Gretsch Tenesse Rose berwarna merah cherry. Dengan gitar itu ia mengawali intro “This Modern Love” dan penonton pun kembali meledakkan emosinya. Ini adalah bukti mengapa Bloc Party menjadi band indie paling hebat selama 10 tahun terakhir, karena mereka bukan hanya dapat memainkan lagu-lagu penuh ekstase tapi dapat juga menampilkan sisi popnya dalam lagu seperti “This Modern Love”. Sisi pop itu ditampilkan kembali dalam “Flux”. Diawali dengan intro yang diambil dari lagu Rihanna “We Found Love”, lagu tersebut berhasil membuat koor massal orang-orang di Tennis Indoor, dan membuat “Flux” menjadi sebuah nomor klasik Bloc Party, dan itu menjadikannya lagu terakhir yang mereka mainkan di encore pertama.

Kemudian, kita publik Jakarta yang beruntung ini, dihadiahi sebuah kejutan ketika Bloc Party memasuki encore-nya yang kedua. Dalam setlist asli mereka tertera “Ratchet” dan “Truth” sebagai lagu yang seharusnya dimainkan. Tetapi begitu Kele kembali di atas panggung, ia mengatakan “This one is for your hangover tomorrow morning”, dan dimulailah “Sunday”. Di tengah dentuman drum Matt, permainan gitar Russell yang menusuk pelan tapi pasti, Rabu malam itu berubah menjadi Minggu pagi yang menenangkan dikelilingi orang yang kita cintai. Lalu, ketika lagu itu usai, satu persatu seperti berbaris kejutan kedua datang. Diawali dengan delay gitar Kele dan Russell, lalu gebukan drum Matt yang bermain seperti monster, dan bas Gordy yang membuat semuanya menjadi solid, “Like Eating Glass” pun dimainkan. Dan itu adalah sebuah prelude dari klimaks sebuah malam yang fantastik. Malam yang luar biasa itu diakhiri dengan luapan kebahagiaan semua orang di gedung Tennis Indoor Senayan; yang lupa diri melompat atas-bawah, kiri-kanan, bermain dengan 2 kubus plastik raksasa yang dilemparkan dari atas panggung, muka tersenyum puas, mulut berteriak berbalasan dengan lagu yang dinyanyikan, hati diliputi kebahagiaan tanpa batas. Dan dari atas panggung, dengan penuh kemajestikan, Matt, Gordy, Russell dan Kele memainkan lagu yang paling mendefinisikan karir mereka, “Helicopter”. Tuhan memberkati mereka, Tuhan memberkati Bloc Party.

David Wahyu Hidayat


4 Responses to “Ulasan Konser: Bloc Party – Tennis Indoor Senayan Jakarta, 20 Maret 2013”


  1. 1 Danny
    April 18, 2013 pukul 10:53 am

    Mas, mau tanya donk
    Kalau mau beli album-album Oasis, Beady Eye, Noel HFB atau bahkan Stone Roses di Indonesia beli dimana ya? Khususnya Jakarta, hehe
    Balas ya mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2013
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: