24
Feb
13

Ulasan konser: The Stone Roses – Lapangan D Senayan Jakarta, 23 Februari 2013

The Stone Roses

Lapangan D Senayan, Jakarta

23 Februari 2013

Setlist:

I Wanna Be Adored, Mersey Paradise, (Song For My) Sugar Spun Sister, Sally Cinnamon, Ten Storey Love Song, Where Angels Play, Shoot You Down, Fools Gold, Something Burning, Waterfall, Don’t Stop, Made Of Stone, This Is The One, Love Spreads, She Bangs The Drums, I Am The Resurrection

IMAG0129

Ulasan:

Hari Sabtu, 23 Februari 2013 seharusnya tidak pernah terjadi. Segala artefak peninggalan tahun 90-an itu: topi pancing, parka, jaket adidas; seharusnya tidak layak lagi dikenakan di umur yang sudah bertambah 2 dekade dari usia belasan. Namun seperti seorang pahlawan sebuah legenda yang turun dari langit untuk memberikan arti bagi kaumnya yang menunggu datangnya mesias, apa yang terjadi di Lapangan D Senayan pada hari di atas adalah bagian dari legenda hidup The Stone Roses dan rakyat britpop tanah air tercinta ini.

Mereka yang beruntung menyaksikan Roses di Singapura 22 Juli 2012 lalu, sudah menganggap hal itu sebuah kemagisan yang tiada ditandingi. Siapa yang menyangka kalau Ian, John, Reni dan Mani akhirnya menginjakkan kaki mereka di atas panggung Lapangan D Senayan pada 23 Februari 2013. Live resurrection adalah label yang diberikan Ian untuk tur reuni mereka ini. Untuk kita semua di Indonesia yang menyaksikan mereka di Lapangan D, itu bukanlah sekedar kebangkitan, itu adalah surga britpop yang hadir senyata-nyatanya dalam 90 menit di Senayan.

Persetan dengan setlist yang sama dengan tahun lalu, bahkan minus satu lagu dikurangi “Bye Bye Badman”; Peduli apa kita dengan sound dan permainan mereka yang terkadang terasa kurang solid (Gig di Jakarta ini adalah yang kedua tahun ini setelah jeda di akhir 2012); Siapa yang takut dengan genangan lumpur yang menggenangi sebagian area panggung; The Stone Roses telah hadir di negara ini, dan kita semua adalah orang paling bahagia di dunia kemarin, di lapangan D Senayan. Bertahun-tahun kita membaca tentang konser legendaris mereka di Spike Island, sekarang kita boleh berbangga dan bercerita ke semua orang, bahwa kita punya Lapangan D Senayan, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil itu dari kita.

Tidak akan yang dapat merenggut kebahagiaan ketika “I Wanna Be Adored” dikumandangkan dengan kegagahan mancunian, ketika barisan paling depan penonton kehilangan kontrol saat mendengar riff pertama dari “Waterfall” atau ketika dengan gemilangnya John memainkan solo “Made Of Stone”. Tidak akan terlupakan momen di mana Ian dengan gayanya yang khas menari-nari saat “Fools Gold” dimainkan, sementara John memainkan peranannya sebagai pahlawan gitar yang kita agungkan selama masa remaja kita. Dan saat mereka menuntaskannya dengan “I Am The Resurrection” semua nadi yang selama ini mengekang kebahagiaan kita, meledak di bawah langit Jakarta.

Sabtu, 23 Februari 2013 seharusnya adalah hari yang tidak pernah terjadi. Tetapi kenyataannya adalah, itu adalah hari ketika The Stone Roses band yang kita puja itu memahat monumen di dalam hati kita, di kota yang kita cintai.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Ulasan konser: The Stone Roses – Lapangan D Senayan Jakarta, 23 Februari 2013”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2013
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: