22
Mei
13

Ulasan Konser: Blur – Lapangan D Senayan, 15 Mei 2013

BlurJKT

Blur

Lapangan D Senayan, Jakarta

15 Mei 2013

Setlist:

Girls & Boys, Popscene, There’s No Other Way, Badhead, Beetlebum, Out Of Time, Trimm Trabb, Caramel, Coffee & TV, Tender, Country House, Parklife, End Of A Century, Death Of A Party, This Is A Low

Encore:

Under The Westway, For Tomorrow, The Universal, Song 2

 

Ulasan:

Generasi 90 sudah menjadi mesin nostalgia, dijadikan bahan skripsi lalu dijual sebagai buku yang mengundang tawa nostalgik, bahkan sebuah stasiun radio mendedikasikan 1 hari dalam seminggu untuk memutar lagu-lagu khusus dari rentang masa tersebut. Mereka yang mengalami tahun-tahun tersebut di usia belasan atau awal 20annya sekarang sudah memiliki permasalahannya sendiri; KPR yang harus dibayar, tagihan bersalin istri masing-masing, atau tangga karir yang dengan ambisius didaki entah untuk tujuan apa, mungkin hanya ingin memenuhi rasa ego komunitas sosial yang tak kenal kata gagal. Sesaat, hanya sesaat, ingin rasanya kembali ke tahun-tahun itu lagi di mana persoalan satu-satunya adalah hanya dilema untuk memilih apakah harus memakai Docmart atau Adidas.

Selama hampir 2 jam lamanya, di bawah jembatan layang TVRI, di atas rumput lapangan D Senayan yang terbebas dari lumpur, pada hari Rabu 15 Mei 2013 kita semua dibawa kembali ke era keemasan tahun 90an atau singkatnya ke masa di mana kerajaan itu masih bernama Britpop dan Blur adalah rajanya.

Mau Adidas atau Docmart, jaket training ataupun kemeja/batik setelan kantoran, lokal atau ekspatriat, semuanya tumpah untuk satu hal dan satu hal semata, menyaksikan Damon Albarn, Graham Coxon, Alex James dan Dave Rowntree menegaskan sebersit kebahagiaan yang sebenarnya tidak pernah hilang di dalam hati ini. Dan mereka tidak main-main melakukannya. Tepat pukul 21:00 kita semua seperti kembali berada di tahun 95, tersenyum, menengadah ke udara, berlompatan seperti pasien rumah sakit jiwa yang baru kabur, diiringi synth yang mengawali “Girls & Boys”. Waktu tidak berlaku lagi sejak saat itu, 2013 bukanlah tempat di mana kita berada waktu itu, di lapangan D, kita kembali ke tahun 90an.

Dari lagu tersebut, mereka mundur sejenak di lini masa mereka dengan memainkan “Popscene” dan “There’s No Other Way”, dengan raungan gitar Coxon yang menjadikannya pahlawan gitar 90an. “Badhead” menyempurnakan suasana malam itu dengan alunan melodik sejuk. Selanjutnya, mereka dengan mengejutkan banyak orang dengan memainkan lagu-lagu dari album “13” dan “Blur” seperti “Trimm Trabb” dan “Caramel” maupun “Beetlebum” dan “Death Of Party” yang dimainkan di penghujung set utama. Ini adalah tesis antibritpop yang dipertunjukkan Blur secara brilian, dengan serum psikedelia dan nada-nada miring penuh eksperimental yang terkadang juga diinfus oleh ketukan dub.

Tapi bukanlah Blur jika mereka tidak menghibur massa di lapangan D. Dengan lagu-lagu yang mengukuhkan mereka sebagai pionir Britpop seperti “Country House”, “Parklife”, “Tender” dan “Coffee & TV” mereka membuat lapangan D menjadi pusat kebudayaan britpop nomor satu di dunia pada malam itu. Satu hal menarik, sepop apapun lagu-lagu tersebut, mereka terutama Coxon, selalu ingin memisahkan diri mereka dari kata britpop, misalnya dengan memasukkan lick seperti jet yang sedang menjatuhkan bomb di sela-sela “Coffee & TV” ketika ia dan Albarn bernyanyi bersahut-sahutan. Ia selalu mencari celah improvisasi dan walaupun malam itu ia sesekali terpeleset memainkan nada yang ia mainkan, namun itu adalah keindahan dirinya sebagai seorang gitaris jenius.

Usai memainkan set utama mereka yang ditutup dengan kemanisan melankoli “This Is A Low”, mereka memulai encore dengan “Under The Westway” yang dimainkan dengan sangat indah di bawah langit Jakarta. Kain layar besar yang menghiasi panggung mereka bergambarkan sebuah jembatan layang, yang seakan menyatu dengan jembatan layang TVRI yang berada tepat di belakang lapangan D. Dan kita pun yang berada di lapangan tersebut menyatu dalam kebahagiaan sangat.

“For Tomorrow” dimainkan setelahnya, yang lalu disambung dengan “The Universal”. Ini adalah puncak dari malam itu. Mereka yang sudah menunggu sekian lama untuk saat ini, seperti tidak percaya bahwa mereka akan mendengarkan lagu itu di Senayan. Tangan kita dilemparkan ke langit, penuh dengan rasa syukur, air mata menetes penuh dengan kebahagiaan tanpa tanding, majestik dan epik pada saat yang bersamaan.

Kebahagiaan malam itu ditutup dengan lagu yang paling dikenal orang dari Blur di luar Britania Raya, “Song 2”. Sekali lagi, manusia beterbangan di lapangan D, sekali lagi teriakan khas itu diteriakkan oleh ribuan orang, sekali lagi kita mencapai ekstase. Blur memberikan sesuatu yang sangat istimewa malam itu, dan itu bukanlah faktor nostalgia belaka akan tahun 90an. Musik mereka menyentuh dan menggugah kita semua malam itu, dan kita merasakan kebahagiaan universal di bawah jembatan layang itu, di atas lapangan D Senayan, Jakarta.

David Wahyu Hidayat


2 Responses to “Ulasan Konser: Blur – Lapangan D Senayan, 15 Mei 2013”


  1. 1 Danny
    Mei 30, 2013 pukul 9:19 pm

    Mas David, tanya lagi donk soalnya masih baru di Jakarta
    Kalo mau beli album2 indie Indonesia kayak E.R.K atau Polyester Embassy dimana ya?

    Thanks before😀

    • 2 David Wahyu Hidayat
      Mei 30, 2013 pukul 10:54 pm

      Hallo, mungkin bisa cari ke hey folks di daerah mayestik jaksel. Di aksara jg jual musik2 indie. Kl polyester embassy coba tanya/email ke ffwd records, mrk ngelayanin mail order jg setau saya. Semoga membantu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2013
S S R K J S M
« Mar   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: