03
Mar
08

Album Review: The Stone Roses – The Stone Roses

the-stone-roses-the-stone-roses.jpg

The Stone Roses
The Stone Roses
Silvertone Records – 1989

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk meraih sesuatu yang monumental. Sesuatu yang di masa setelahnya akan diingat manusia, karena arti yang diberikannya dan karena semangat yang dibakarnya. Seringkali, manusia – manusia seperti itu disebut sebagai pahlawan, dan nama mereka diabadikan di hati kita masing – masing sebagai seseorang yang mengubah jalan hidup kita untuk selamanya.

Keempat pemuda asal Manchester, Britannia Raya telah melakukan hal tersebut sewaktu mereka di tahun 1989 menghantarkan sebuah karya musik yang sampul depannya dipenuhi dengan garis coretan yang didominasi oleh warna hijau, bercorak seperti sebuah karya pelukis kontemporer Jackson Pollock. Di sebelah kiri sampul album tersebut tampak goretan 3 warna yang melambangkan bendera Perancis, dihiasi dengan 3 buah potongan jeruk, yang walaupun terkesan begitu menyejukkan adalah bentuk sebuah solidaritas akan gerakan mahasiswa di Paris tahun 1968. Di tengah – tengah sampul album itu, di atas semuanya, tertera nama yang bagi banyak orang adalah sebuah legenda, sebuah pahlawan musikalis. Nama itu adalah THE STONE ROSES.

Ian Brown (Vokal), John Squire (Gitar), Mani (Bass), dan Reni (Drum) sadar sepenuhnya bila album yang telah mereka ciptakan akan menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan orang banyak. Mereka tidak mempunyai keraguan sedikit pun akan hal ini, dan ini tercermin dari lagu – lagu di album tersebut. Dimulai dengan sebuah pernyataan yang tegas di lagu pembuka “I Wanna Be Adored”, The Stone Roses membuka kembali jalan agar musik bergitar akan dipuja kembali, setelah satu dekade penuh dipenuhi oleh musik artifisial yang datang dari synthesizer khas 80-an. Melodi psychedelic Squire dipadu dengan bas Mani mengusik nalar kita, menyadarkan kalau mesias yang kita nantikan itu telah datang.

Kemisteriusan nada “I Wanna Be Adored” dilanjutkan dengan sebuah lagu yang terdengar seperti sapaan mentari pagi paling hangat yang pernah dirasakan umat manusia. “She Bangs The Drums” dengan liriknya “Kiss me where the sun don’t shine, the past was yours, the future is mine” adalah sebuah lagu inspiratif yang mengajak kita untuk menggenggam segala sesuatu yang terhampar di depan kita dan berhenti untuk menoleh ke belakang. Kembali, di lagu ini bas Mani yang membuka intronya, menyampaikan misinya sangat baik, dengan tempo yang membuat kita tidak berhenti mengayunkan kaki kita secara tidak sadar.

“Waterfall” dimulai dengan sebuah riff gitar yang nantinya akan dikenal sebagai salah satu ciri khas permainan gitar John Squire. Diinspirasikan dari lagu The Beatles favoritnya “Rain” Ia memulai lagu ini dengan sebuah permainan gitar yang terdengar seperti suara sebuah hari Minggu pagi yang belum ternoda. Suara Ian Brown menghipnotis kita untuk berhayal akan sebuah mimpi yang akan segera terwujud, dibalut oleh bas Mani yang melodis dan drum Reni yang menyetir dinamika ritme lagu ini.

Dalam “Made Of Stone” John Squire mengukuhkan dirinya sebagai gitaris terbaik generasinya. Lagu ini adalah cerminan musik Britannia Raya selama 30 tahun terakhir, terlalu manis untuk hanya sekedar dicintai para indie nerd, di satu sisi memberikan penegasan bahwa musik pop tidak hanya terdiri dari lantunan manis tanpa arti. Solo gitarnya di lagu ini memberikan sebuah prelude akan kemampuannya memainkan instrumen 6 senar itu, seperti yang kemudian diperlihatkannya dalam album kedua mereka “Second Coming”. Tapi itu adalah bab lain lagi dari sebuah legenda bernama The Stone Roses. Di album ini mereka sedang memulai langkah mereka untuk berdiri di puncak olimpia musik Britannia Raya.

Album ini menemukan klimaksnya dalam “I Am The Resurrection”. Lagu dengan durasi 08:12 menit ini, menampilkan semua yang menjadikan The Stone Roses sebuah legenda hidup. Lirik yang menantang dan mengedepankan kepercayaan diri seorang muda, dan kemampuan keempat personilnya bermain musik dalam outro sebuah lagu, tanpa harus takut kehilangan identitas mereka sebagai sebuah band indie yang berusaha dan berhasil menanamkan imaji ke sanubari setiap orang yang mendengarnya, bahwa ini adalah musik bergitar yang paling menakjubkan yang pernah kalian dengar.

Tahun 1989, seperti sebuah pertanda bahwa sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, adalah tahun di mana tembok Berlin runtuh. Tak lama setelah itu perang dingin berakhir, dan dekade 90-an yang penuh keoptimisan pun dimulai. Di sekitar waktu itu Liam Gallagher muda melihat sosok Ian Brown yang penuh karisma dalam salah satu konser The Stone Roses, dan ia segera memutuskan untuk membuat sebuah band. Seperti yang telah kita kenal, band yang dibentuknya itu bernama Oasis, dan itu adalah awal dari sebuah kerajaan bernama Britpop. Oasis, dan semua yang datang setelahnya, di mana musik band Indie tiba-tiba dapat merajai mainstream tidak akan dapat terjadi bila The Stone Roses tidak merilis debut album mereka. Ian, John, Mani, dan Reni telah mengembalikan musik bergitar ke tempat yang semestinya, yaitu di dalam universum musik kita masing – masing. Untuk itu mereka layak menjadi legenda.

David Wahyu Hidayat


4 Responses to “Album Review: The Stone Roses – The Stone Roses”


  1. 1 ayu
    Maret 5, 2008 pukul 2:46 am

    Pinjem donk CD nya… tapi kata Olla pasti gak dikasih😦

  2. 2 ijoen_pop
    Juli 9, 2009 pukul 2:25 pm

    true legends…

  3. 3 t3uku_britpop
    Agustus 13, 2011 pukul 12:55 am

    dmn ya bs dicari kaset or cdnya lg…dlu jaman SMA gw pnya 2 albumnya…smuanya punah entah kmn…:((

    • 4 David Wahyu Hidayat
      Agustus 14, 2011 pukul 2:28 pm

      mungkin bisa tanya/pesen ke musiklub (www.musiklub.co.id) musikplus (www.musik-plus.com). Mereka bisa melayani pesenan. Atau bisa tanya ke Duta Suara mungkin, karena sekitar 2 taun yang lalu, mereka punya stok debut albumnya versi yg 20th anniversary


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2008
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: