31
Okt
10

Konser Review: Vampire Weekend – Bengkel Night Park, Jakarta 24 Oktober 2010

Vampire Weekend

Bengkel Night Park, Jakarta

24 Oktober 2010

Band Pembuka: Monkey To Millionaire

Setlist:

Holiday, White Sky, Cape Cod Kwassa Kwassa, I Stand Corrected, M79, Bryn, California English, Cousins, Run, A-Punk, One (Blake’s Got A New Face), The Kids Don’t Stand A Chance, Diplomat’s Son, Giving Up The Gun, Campus, Oxford Comma

Encore: Horchata, Mansard Roof, Walcott

Review:

Secara garis besar ada 5 tipe konser. Yang pertama adalah stadion rock ala U2, di mana segala sesuatunya serba gigantik, didorong untuk menjadi spektakel massal luar biasa. Yang kedua adalah konser di mana penontonnya hanya terpaku oleh satu sosok kharismatik dan inspiratif seperti seorang Liam Gallagher dan Ian Brown. Yang ketiga adalah konser yang membawakan suasana damai seperti konser Travis. Yang keempat tipe konser di mana konsep musikalis dan visual dipersembahkan secara sempurna seperti yang bisa disaksikan dalam konser Radiohead, dan yang terakhir adalah tipe konser di mana baik penonton dan bandnya merasakan bahwa pertunjukkan musik yang sedang mereka nikmati bersama, adalah waktu di mana semua orang memiliki waktu untuk bersenang-senang, tanpa satu pikiran haram terbersit di kepala. Minggu lalu, waktu Vampire Weekend mempersembahkan musik dan diri mereka di hadiran penonton yang berserak dalam Bengkel Night Park, adalah tipe konser yang disebut terakhir.

Memecah malam dengan “Holiday”, Ezra Koenig, Rostam Batmanglij, Chris Baio, dan  Chris Tomson menyampaikan pesan bahwa malam itu adalah milik Vampire Weekend dan semua fansnya yang hadir di arena konser tersebut. Seketika setiap jiwa seperti meninggalkan sementara apa yang terdapat di luar area Bengkel Night Park, melarikan diri ke tempat berliburnya masing-masing, dihanyutkan dalam musik lagu tersebut.

Dari lagu pertama tersebut, keempat personil Vampire Weekend tampak seperti sedang dalam modus terbaiknya. Dimulai dari Rostam di sebelah kanan panggung yang terkadang tampak seperti mengawang sendirian menikmati lagu, seperti mengatakan di atas panggung itu adalah tempat terbaik di dunia, dan di sana ia ingin berada. Ezra, mengenakan kaus coklat bercorak tradisional Indonesia yang senada dengan gitar semi-hollow andalannya sesekali berjingkat ke depan panggung untuk menganimasikan penonton ikut berdansa dengan dirinya. Baio di sebelah kiri panggung, ikut berdansa dengan basnya sendiri, dan sosok penampilannya malam itu seperti salah satu tokoh dari sitkom “How I Met Your Mother” sosok komedi-nerdie dengan sentuhan artistik yang tidak berlebihan. Sedangkan di belakang, mengenakan seragam basket New Jersey, Tomson menggebuk drumnya dengan penuh efektifitas dan mendorong beat malam itu.

Di pertengahan set mereka memainkan secara berturut-turut tiga lagu pamungkas yang menjadi puncak malam itu “Cousins”, “Run” dan “A-Punk”. Perasaan sensasional penuh ekstase membumbung tinggi area konser dengan ketiga lagu tersebut. “Cousins” adalah langkah berani Vampire Weekend, karena lagu tersebut adalah lagu Vampire Weekend yang paling mendekati punk-rock, kalau kalian mau mendefinisikannya demikian, tapi lihat semua orang berdansa dengan lagu tersebut. “Run” adalah nostalgia pelarian manusia-manusia yang sudah terlalu penat dengan pekerjaan, dan dibawakan langsung oleh Vampire Weekend lagu itu terdengar sangat fantastis, terutama di bagian terakhirnya, di mana di bawah siraman tata cahaya panggung yang menyilaukan, keempat anggota Vampire Weekend berkolaborasi membikin sebuah dinding suara menakjubkan, diawali oleh manisnya suara bas Baio yang menggelitik, lalu diterjang dengan synth Batmanglij dan distorsi aneh dari gitar Koenig. Memperkenalkan “A-Punk” sebagai the easiest song to dance to, suara gitar Koenig lalu benar-benar memerintahkan setiap pasang kaki yang ada di ruangan itu bergerak tidak teratur mengikuti iringan melodi lagu tersebut.

Pada “Giving Up The Gun”, dengan cantiknya beberapa penonton di barisan depan mengangkat tinggi-tinggi kertas bertuliskan “Go On” mengiringi nyanyian yang sama di bagian belakang lagu itu. Sekali lagi atmosfir bersenang-senang bahagia terpancar di setiap wajah orang yang hadir waktu lagu itu dinyanyikan. Vampire Weekend menutup set utama mereka dengan “Campus” yang dimainkan secara medley dengan “Oxford Comma”, sebelum kembali untuk melakukan encore 3 lagu: “Horchata”, “Mansard Roof” dan “Walcott”.

Malam itu terbukti, bahwa Vampire Weekend bukanlah band yang menpolarisasi, mereka adalah band yang menyatukan. Dengan musik unik menyegarkan mereka dicintai para fans musik indie, dan juga untuk alasan tertentu mereka juga digemari oleh anak-anak muda yang sebenarnya lebih cocok menjadi fans musik jenis lain daripada jenis musik yang dibawakan Vampire Weekend. Tapi diberkatilah Vampire Weekend karena semua hal itu, karena mereka telah menyuguhkan mimpi singkat yang akan membekas lama, bagi orang-orang yang telah menyaksikan mereka di Bengkel Night Park 24 Oktober 2010 lalu.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Konser Review: Vampire Weekend – Bengkel Night Park, Jakarta 24 Oktober 2010”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: