07
Nov
07

Album Review: Bloc Party – A Weekend In The City

bloc-party-a-weekend-in-the-city.jpg

Bloc Party
A Weekend In The City
Wichita/Vice/V2/Indosemar Sakti – 2007


1995, Britpop adalah sebuah kerajaan yang memerintah di dunia musik sebagian besar mereka yang merasakan puncak umur belasannya di tahun itu. Perasaan positif penuh keoptimisan menghiasi pikiran kita saat itu. Seperti hendak tahu, bahwa sebentar lagi, waktu millenium baru datang, segala macam tehnologi yang ditawarkannya akan membuat kehidupan kita menjadi lebih baik, lebih megah dan mengagumkan.

Satu dasawarsa kemudian, yang terjadi adalah kebalikannya. Dimulai ketika sepasang burung besi menabrakkan tubuhnya ke menara kembar di ibu kota dunia, kehidupan manusia menurun standarnya. Tehnologi tidak dapat lagi menyelamatkan kita, hanya membuat kita terjerat dalam kerutinitasan dan menjadi bentuk lain dari candu yang kita butuhkan dalam kehidupan kita.

Untungnya, musik selalu memberikan kita ruang untuk melarikan diri. Sebuah penyelamat di hari – hari menyedihkan yang kita alami. Di tahun 2005, sebuah band bernama Bloc Party memberikan kita “Anthem” untuk merayakan kehidupan yang kita punya, walaupun kita merasa kehidupan itu bukanlah sesuatu yang mudah. “Banquet” menghiasi malam – malam yang terhilang di atas lantai disko dengan tangan meraih ke langit. Seakan harapan dan optimisme itu hadir kembali. Seakan.

2 tahun kemudian, mereka kembali hadir di kosmos kehidupan kita. Kali ini bukan sebagai pelarian di kepenatan kita, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa keoptimisan yang pernah kita miliki di tahun 90-an telah lenyap, sirna dimakan waktu yang semakin mendewasakan kita.

“A Weekend In The City” adalah album yang ditulis oleh Kele Okereke, Russell Lissack, Gordon Moakes dan Matt Tong untuk kehidupan mereka dalam jaman modern, terutama di London. Bagi kita yang tidak tinggal di kota tersebut, rumusan album ini berlaku di tempat mana saja yang kita diami saat ini.

“Song For Clay (Dissappear Here)” mengawali album ini sangat menyesatkan dengan vokal Kele yang terdengar terlalu lembut untuk pembuka sebuah album. Memasuki pertengahan lagu di menit 02:19, didengarkan dengan seksama, kita akan mendengarkan sentuhan – sentuhan hasil karya Russell Lissack di gitarnya, yang memimpin lagu itu menanjak menuju klimaksnya. Menit 03:42 Kele berteriak “East London is a vampire, it sucks the joy right out of me”. Ganti “East London” dengan Jakarta, atau kota apapun di manapun kalian tinggal. Dengan segala kemacetan dan rutinitas pekerjaan kita, lagu ini dengan sempurna menggambarkan keresahan seorang muda di kota yang ia tinggali.

Suara sample mengawali “Hunting For Witches” disusul dengan lick “Helicopter”-esk dari gitar Lissack. Lagu yang menggambarkan kekuasaan media dan dunia yang kita tinggali, meracuni kita untuk tidak lagi berpikir secara liberal, di lagu ini Kele bernyanyi “Kill your middle class indecision, now is not the time for liberal thought….1990’s optimistic as a teen, but now it’s terror, airplanes crash into towers”. Tidak usah berpikir jauh tentang London dengan serangan bom 07 Juli 2005 ataupun New York pada 9 September 2001. Disadari atau tidak, hal yang sama terjadi di kota kita tinggali. Pola pikir liberal kita diputarbalikkan oleh media dan buku yang kita baca. Kita lebih senang mengurusi majalah berlambang kepala kelinci daripada menghadapi bahaya lain yang menyerang kita. Kita membiarkan “Mein Kampf” dijual bebas, padahal kita sangat merindukan sebuah kehidupan yang harmonis di tengah – tengah masyarakat majemuk ini. Apakah yang sebenarnya kita buru? Nenek sihir manakah yang sebenarnya hendak kita perangi? Kebebasan untuk berekspresi dan berpikir? Atau hal – hal tidak penting seperti cara berpakaian seseorang?

Pada masa pembuatan album ini, Kele mengakui “Busta Rhymes” adalah salah satu inspirasi mereka dalam proses penciptaan sebuah lagu. Lagu itu tidak lain adalah “The Prayer”. Memang pertama kali didengar, lagu ini sanggup mengernyitkan dahi, dan melontarkan pertanyaan “inikah Bloc Party sekarang?”. Tapi seperti lagu – lagu lainnya di album ini, “The Prayer” memiliki waktu paruh yang lebih lama dari banyak lagu yang sedang berseliweran saat ini di planet musik, dan dari situlah setelah didengarkan berulangkali, lagu ini dan album ini secara keseluruhan memunculkan efek “A…haa…menarik”-nya. Dibandingkan dengan nomor seperti “She’s Hearing Voices”, gitar di lagu ini seperti terlalu sederhana, tetapi diselidiki lebih lanjut, di sinilah letak keindahan “The Prayer”. Untuk sesaat di menit 02:54 Lissack menyeret gitarnya dengan efek seperti dari sebuah pistol laser, hasilnya adalah sebuah seni untuk telinga.

Melewati seperempat abad di umur kita, banyak pertanyaan yang hendak kita tanyakan ke diri sendiri dan generasi muda saat ini. “All the young people look the same” nyanyi Kele dengan pelan di awal dan akhir lagu ini. Cukup pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, kita akan mengiyakan hal ini. Diakui sebagai sentral album kedua mereka, “Uniform” mencoba menjawab pertanyaan mereka yang sedang mengalami “mid-20 crisis”. Lagu ini mencoba menjelaskan untuk hidup lebih sederhana, dan tidak memikirkan hal – hal yang tidak harus dipikirkan (“So why do you picking fights that you will lose? When you have entertainment, when you have things to pass the time. So why do you have to go thinking thoughts that are above you, you can be happy just play dumb”).

Di paruh kedua album ini Bloc Party mengurangi sedikit unsur eksperimentalnya kecuali di “Where Is Home” di mana gitar pada salah satu bagian di lagu tersebut, gitarnya terdengar seperti sebuah senapan mesin. “Kreuzberg” adalah lagu manis yang akan membuat kita melayang, sedangkan “Sunday” adalah lagu indah untuk sebuah Minggu pagi bersama yang kita cintai. Di tengah – tengah kebenciannya terhadap kehidupan modern, di lagu tersebut, kita akan menemukan sisi romantisme lain dari seorang Kele Okereke, “There might be ones who are smarter than you, that have the right answers, that wear better shoes. Forget about those melting ice caps, we’re doing the best with what we’ve got”. Kata – kata ini hanya mendeskripsikan satu hal, indah.

Secara pesan, album ini adalah teriakan kesesakan Bloc Party akan kehidupan modern, akan keseragaman mereka yang menganggap dirinya muda, akan keresahan untuk mendapatkan sesuatu yang selalu diinginkan. Musikalis, di album ini Bloc Party berani menantang fansnya sendiri untuk mendengarkan musik yang sedikit lebih sulit untuk dicerna daripada yang mereka sodorkan di “Silent Alarm”. Tetapi setelah menginvestasikan waktu sedikit untuk mengeksplorasi album ini, mutiaranya akan terungkap, dan kita akan terkagum akan usaha mereka memberikan kita album seperti “A Weekend In The City”.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Bloc Party – A Weekend In The City”


  1. 1 bese
    Agustus 20, 2008 pukul 10:35 pm

    simpel aja… band nomer wahid saat ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: