Archive for the 'The Strokes' Category

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

07
Agu
13

Ulasan Album 2013 – Bagian 1: MBV, Atoms For Peace, Johnny Marr, Suede, The Strokes

My_Bloody_Valentine_-_MBV

My Bloody Valentine – mbv

Rilis: 02 Februari 2013

 

Setelah 22 tahun, akhirnya band yang ditukangi oleh Kevin Shields ini keluar dari eksilnya. Mereka menelurkan sebuah album yang dengan sederhana diberikan nama “mbv”. Hasilnya adalah sebuah album tipikal My Bloody Valentine, masih pekat dalam keajaiban suara-suara ethereal yang dihasilkan dari sekian banyak pedal dan tombol efek yang diinjak dan diputar, dan pemerkosaan gitar di keseluruhan album itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita semua dimanjakan dengan suara-suara itu, selamat datang kembali My Bloody Valentine.

Track esensial: Only Tomorrow, New You, In Another Way

 

 

 Atomsforamok

Atoms For Peace – Amok

Rilis: 25 Februari 2013

 

Katakan dengan lantang Atoms For Peace adalah sebuah SUPERGRUP dengan huruf kapital, beranggotakan Thom Yorke (Radiohead), Flea (RHCP), Nigel Godrich (Jenius di belakang album-album Radiohead), Joey Waronker (Beck, REM); ini adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Tetapi sejak detik pertama album ini bergulir, seperti pastinya kemacetan ibukota, jelas sudah bahwa ini adalah lanjutan dari solo album Thom Yorke, “The Eraser” 2006 silam. Blips robotik yang mengiringi suara hipnotik Yorke, membangun sebuah ruang dansa absurd, seakan ini adalah lagu yang akan kita renggut kenikmatannya ketika berdansa merayakan kemenangan kita atas serangan robot dari masa depan.

Track esensial: Before Your Very Eyes, Ingenue, Reverse Running

 

 

Johnny_Marr_-_The_Messenger

Johnny Marr – The Messenger

Rilis: 25 Februari 2013

 

Jika seseorang sudah berhasil membangun legasi dirinya ketika berumur 17 tahun, apa yang akan dilakukannya sepanjang sisa hidupnya? Kemungkinan besar menikmati hidupnya tanpa harus berbuat apa-apa lagi. Tapi tidak, jika orang itu bernama Johnny Marr. Selepas The Smiths, ia membentuk Electronic bersama Bernard Sumner, menjadi musisi tamu di album-album Pet Shop Boys, dan Oasis; bergabung bersama Modest Mouse dan The Cribs, sampai akhirnya ia merasa, legasi yang ia tinggalkan harus menempatkan namanya sendiri di sampul depan albumnya. Selain album Johnny Marr & The Healers yang pernah ia rilis di tahun 2003, ini adalah album solo penuhnya yang pertama. Pada The Messenger ia mencoba kembali ke suara klasik sebuah musik rock ‘n’ roll ala Britania Raya. Walaupun akhirnya di beberapa lagu ia terdengar atau berusaha menjadi versi antimod-nya Paul Weller, track seperti “New Town Velocity” menyadarkan kita mengapa Johnny Marr sudah menjadi legenda ketika ia masih berusia 17 tahun.

 Track esensial: Upstarts, The Messenger, New Town Velocity

 

Bloodsports_album_cover 

Suede – Bloodsports

Rilis: 18 Maret 2013

 

Titel comeback terbaik tahun ini sudah selayaknya diberikan kepada Suede. Jika kalian mencari keceriaan seperti pada “Coming Up”, ketajaman seperti pada debut album mereka dan melankoli penenang seperti di album “Dog Man Star”, maka semuanya itu ada pada “Bloodsports”. Cukup mendengar “It Starts And Ends With You” dan kita akan kembali ke tahun 1996, atau dengarkan “Sometimes I Feel, I’ll Float Away” dan kita akan merasakan kekuatan Suede merangkum keresahan dan harapan sekaligus dalam hanya 4 menit. 11 tahun kita menunggu untuk album ini, dan penantian itu membuahkan sebuah kemegahan.

Track esensial: Snowblind, It Starts And Ends With You, Sometimes I Feel, I’ll Float Away

 

 

The_Strokes_-_Comedown_Machine

The Strokes – Comedown Machine

Rilis: 26 Maret 2013

 

Banyak orang beranggapan, The Strokes seharusnya berhenti setelah merilis “Room On Fire” di tahun 2003. Karena apa yang mereka hasilkan sesudahnya tidak lain adalah karya sebuah band yang lelah dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap status band mereka yang sudah terlanjur melegenda karena mereka merilis “Is This It” di tahun 2001. Lalu apa yang kita harapkan dari “Comedown Machine”? Untuk mereka yang tidak mengharapkan apa-apa, album ini akan penuh kejutan-kejutan positif. Suara Nintendo dan vibrasi pop 80-an menghias kental album ini, tapi itu semua hanyalah non-faktor. Karena ini adalah album The Strokes yang paling mengalir sejak album legenda di tahun 2001 tersebut. Saya tergoda berulang kali untuk mencoret The Strokes dari daftar band favorit saya, tapi berulang kali saya gagal, dan “Comedown Machine” adalah salah satu penyebabnya.

 Track esensial: All The Time, Welcome To Japan, Slow Animals

22
Apr
11

Album Review: The Strokes – Angles

The Strokes

Angles

Sony Music Indonesia – 2011

“Are you alright? What’s the matter, are you alright?” tanya sang host master David Letterman kepada Julian Casablancas ketika The Strokes tampil di acaranya membawakan “Taken For A Fool” dalam rangka mempromosikan album terbaru mereka “Angles”. The Strokes dalam acara tersebut adalah cerminan The Strokes 2011. Hilang sudah mentalitas gang yang ada pada mereka satu dekade yang lalu. Julian, bukan hanya di penampilan itu, tapi juga di penampilan-penampilan lainnya yang dapat dilihat di dunia maya untuk promosi “Angles”, terlihat penuh frustasi, terputus dengan rekan-rekan lainnya, yang masih tampak berusaha untuk membawa musik The Strokes maju, paling tidak itu yang terlihat dalam diri Nikolai & Nick. Albert terlihat seperti tenggelam dalam nostalgia era “Is This It”, sedangkan Fab berpenampilan paling flamboyan, nampak paling menikmati kembalinya band ini.

Disintegrasi bukanlah kata yang positif untuk mempromosikan sebuah band. Dengan proses rekaman yang sulit, di mana Julian hanya mengirimkan rekaman vokalnya melalui e-mail dan sesi-sesi individual seperti yang diakui oleh Nick, apa yang masih tersisa dari “Angles” dan The Strokes?

Jika 10 tahun yang lalu The Strokes memberikan kita sebuah pertanyaan “Is This It” maka jawabannya adalah YA dengan huruf sebesar Empire State Building. Setelah mendengarkan “Angles” jawaban pertanyaan itu adalah sebuah tanda tanya besar. Seperti terseraknya 5 anggota The Strokes dalam proses rekaman album ini, seperti itulah rasanya mendengarkan 10 lagu yang tersimpan di dalamnya. Ada beberapa jejak kegemilangan di sana, namun itu tidak cukup untuk mengembalikan hari-hari besar yang terhampar dari 2001 sampai dirilisnya “Room On Fire”. Walaupun harus diakui secara pengalaman sonik, album ini adalah karya yang lebih baik dari “First Impressions Of Earth”.

Single pertama “Under Cover Of Darkness” adalah melodi tipikal kejayaan The Strokes, dengan kedewasaan Nick & Albert dalam memainkan gitar, dan suara Julian yang akhirnya tidak terdengar seperti dinyanyikan melalui megafon, bahkan berani bermain dengan vocal layering, ini adalah benar-benar sesuatu yang kita harapkan setelah menunggu keluaran musikalis band ini selama 5 tahun. Bahkan di dalam kejayaan itu pun mereka masih terdengar seperti band yang sudah terserak namun entah apapun substansnya tetap dapat mempertahankan kesolidannya. “Machu Picchu” pun merupakan sebuah lagu yang sangat menarik, kental dengan geliat new wave seperti mengumandangkan, menjadi 80-an saat ini adalah sesuatu yang cool.

 “Taken For A Fool” dan “Games” adalah segelintir lagu yang dapat diberikan perhatiannya di album ini. Yang pertama adalah nomor stop-start dengan nyanyian yang akan mengusik lidah kita untuk beberapa lama, yang kedua adalah tron atari rock ‘n’ roll dengan hembusan synthesizer steril. Sulit membayangkan The Strokes akan pernah membuat lagu seperti ini balik di tahun 2001. Sementara “Gratisfaction” kembali menyegarkan kita akan sentuhan gitar pop 80-an dalam artiannya sendiri, sebelum “Angles” mengakhiri durasinya dengan “Life Is Simple In The Moonlight” yang terdengar seperti sebuah soundtrack acara televisi di akhir 80-an/awal 90-an.

The Strokes 2011, bukanlah The Strokes dengan dampak yang instan seperti di 2001. Tidak ada lagi yang harus diselamatkan kali ini, tidak ada topi merah bodoh Fred Durst yang harus dibasmi. Yang harus mereka selamatkan adalah diri mereka sendiri. Album ini mempunyai paruh waktu yang lama, butuh pendengaran beberapa kali untuk menyadari bahwa ini adalah usaha yang relatif bagus mencengangkan dari sebuah band paling berpengaruh dekade lalu. Paling tidak untuk saat ini kita berterima kasih karena mereka telah kembali, entah untuk berapa lama lagi. Hanya mereka sendiri sepertinya yang bisa menjawab.

David Wahyu Hidayat  

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

07
Nov
07

Album Review: The Strokes – First Impressions Of Earth

fioestrokes.jpg

The Strokes
First Impressions Of Earth
Sony/BMG, RCA – 2006

5 tahun sudah berlalu ketika sebuah album, begitu naif dengan segala kesederhanaannya mengguncang dunia dan memberikan para “post britpop syndrome” sesuatu yang bisa dinikmati. Mereka yang di tahun 2001 mencari sebuah sosok dan arti “coolness” baru pun, menemukannya dalam band tersebut. Album itu berjudul “Is This It”, band itu bernama “The Strokes”.

Dan kita pun bertumbuh dewasa, melewati era “The Band” yang sempat memenuhi nuansa Rok ‘n’ Rol kita di awal milenium baru. Kebanyakan band tersebut hanyalah hembusan udara nafas sejenak di tengah – tengah sesaknya asap diskotek plastik pop dunia kita.

Tetapi The Strokes tetap bertahan, dan mengantarkan karya mereka ketiga dalam wujud sebuah album yang mereka namakan “First Impressions Of Earth”. Apakah semuanya itu masih begitu naif, seperti kita pertama kembali melihat dunia pasca 11 September, saat di mana “Is This It” memberikan sesuatu tendangan kepada hidup kita?

Yang pasti, mereka tumbuh dewasa. Kesederhaan gitar Nick Valensi dan Albert Hammond Jr. Telah berubah menjadi sebuah permainan gitar virtuoso yang bila didengar hampir menyerupai sebuah album heavy metal. Yupe, heavy metal, ini bukanlah sebuah kesalahan tulisan.

Dimulai dengan “You only live once” album ini dibuka dengan baik. Irama pop yang dicampur dengan melodi khas The Strokes, lagu ini adalah versi baru dari “Under Control” pada album “Room On Fire”. Single pertama mereka dari album ini “Juicebox” menyusul lagu tersebut. Bas ala soundtrack Batman di tahun 50-an memberikan unsur kesegaran pada lagu ini. Beitu juga dengan permainan gitar Valensi dan Hammond Jr. yang bersahut-sahutan, memberikan kesan, bahwa mereka adalah nyata band paling “cool” di era 2000-an ini.

Sentuhan heavy metal yang tertulis di atas, terdengar jelas dalam “Heart In Cage”. Mungkin inilah perkembangan The Strokes yang paling pantas diacungkan jempol. Karena kedua gitaris mereka, bukanlah tipe seorang Johnny Greenwood atau seorang Russel Lissack yang banyak bereksperimen dengan tombol-tombol di efek mereka, tetapi berani untuk melangkah lebih jauh lagi sampai batas jari mereka tidak dapat bermain lagi.

Sayangnya sejauh apapun The Strokes berani melangkah, hanya Julian Casablanca yang tidak menemukan perkembangan. Ia cenderung mengulang – ulang lirik yang ia nyanyikan untuk menyampaikan pesan yang hendak ia katakan. Parahnya ia lakukan hal tersebut di 3 lagu berturut – turut dalam album tersebut: “On The Other Side”, “Vision Of Divison” , dan “Ask Me Anything”. Dengarkan album ini dengan menggunakan headphone, dan itu akan menjadi suatu hal yang tidak menyenangkan.

Sejauh apapun The Strokes mencoba mengembangkan dirinya, kenaifan dari “Is This It” telah terhilang di album ini. Bukanlah sesuatu yang salah untuk mencoba merambah ke suatu sound yang baru, tetapi The Strokes melupakan menulis “tunes” dalam keindahan tehnik permainan mereka di album ini. Untung saja lagu seperti “Razorblade” dan “Electriscityscape” yang mencuri melodi dari “Blondie” masih menyelamatkan mereka.

“First Impressions Of Earth” bukanlah tipe album yang akan mensuarakan sebuah “hurra” di malam minggu. Ini adalah tipe sebuah album minggu siang, ketika kita menyadari puncaknya telah lewat, dan melihat dunia kita seperti impresi kita pertama kali melihatnya. Dilihat dari sudut pandang ini, album ini menemukan keindahannya.

David Wahyu Hidayat

04
Nov
07

Album Review: The Strokes – Is This It

is-this-it-cover.jpg

The Strokes
Is This It
RCA/BMG/Rough Trade – 2001


Saat banyak orang menantikan “The Next Limp Bizkit”, datanglah sebuah alternatif yang menyegarkan dunia Rock and Roll. The Strokes, dengan 11 lagu di debut album mereka “Is this it”, mungkin tidak menampilkan sesuatu yang baru, tapi retro sound yang mereka tawarkan seperti hendak menyadarkan generasi sekarang, bahwa Rock and Roll yang sebenernya tidak membutuhkan sosok vokalis seperti layaknya seorang rapper dan berteriak-teriak tidak karuan, atau suara “scratch” seorang DJ. Cukup hanya 2 buah gitar, bas, seperangkat drum dan kharisma seorang frontman seperti Julian Casablanca, yang dalam album tersebut seperti menyanyi lewat sebuah interkom.

Hanya 36 Menit dan 29 detik panjangnya album pertama mereka, dan yang mereka suguhkan mungkin bukan sebuah musik yang rumit dan membuat pusing tetapi sebaliknya. Permainan kedua gitaris (Albert Hammond Jr. dan Nick Valensi) dalam album tersebut, mungkin salah satu yang paling sederhana dalam beberapa tahun terakhir, tetapi efektif, dan justru itulah yang membuat album mereka memikat. “The Modern Age” dan “Hard To Explain” adalah buktinya sedangkan “Someday” sedikit mengingatkan mereka pada The Smiths.

Album tersebut begitu intens, mereka sanggup menghidupkan kembali jiwa Rock and Roll yang telah padam seperti dalam “Last Nite” dan “New York City Cops”. Penantian itu telah berakhir, akhirnya ada sesuatu yang lain di luar NuMetal. Take it or Leave it!

David Wahyu Hidayat




Februari 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Categories

Blog Stats

  • 138,718 hits