Archive for the 'The Stone Roses' Category

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

24
Feb
13

Ulasan konser: The Stone Roses – Lapangan D Senayan Jakarta, 23 Februari 2013

The Stone Roses

Lapangan D Senayan, Jakarta

23 Februari 2013

Setlist:

I Wanna Be Adored, Mersey Paradise, (Song For My) Sugar Spun Sister, Sally Cinnamon, Ten Storey Love Song, Where Angels Play, Shoot You Down, Fools Gold, Something Burning, Waterfall, Don’t Stop, Made Of Stone, This Is The One, Love Spreads, She Bangs The Drums, I Am The Resurrection

IMAG0129

Ulasan:

Hari Sabtu, 23 Februari 2013 seharusnya tidak pernah terjadi. Segala artefak peninggalan tahun 90-an itu: topi pancing, parka, jaket adidas; seharusnya tidak layak lagi dikenakan di umur yang sudah bertambah 2 dekade dari usia belasan. Namun seperti seorang pahlawan sebuah legenda yang turun dari langit untuk memberikan arti bagi kaumnya yang menunggu datangnya mesias, apa yang terjadi di Lapangan D Senayan pada hari di atas adalah bagian dari legenda hidup The Stone Roses dan rakyat britpop tanah air tercinta ini.

Mereka yang beruntung menyaksikan Roses di Singapura 22 Juli 2012 lalu, sudah menganggap hal itu sebuah kemagisan yang tiada ditandingi. Siapa yang menyangka kalau Ian, John, Reni dan Mani akhirnya menginjakkan kaki mereka di atas panggung Lapangan D Senayan pada 23 Februari 2013. Live resurrection adalah label yang diberikan Ian untuk tur reuni mereka ini. Untuk kita semua di Indonesia yang menyaksikan mereka di Lapangan D, itu bukanlah sekedar kebangkitan, itu adalah surga britpop yang hadir senyata-nyatanya dalam 90 menit di Senayan.

Persetan dengan setlist yang sama dengan tahun lalu, bahkan minus satu lagu dikurangi “Bye Bye Badman”; Peduli apa kita dengan sound dan permainan mereka yang terkadang terasa kurang solid (Gig di Jakarta ini adalah yang kedua tahun ini setelah jeda di akhir 2012); Siapa yang takut dengan genangan lumpur yang menggenangi sebagian area panggung; The Stone Roses telah hadir di negara ini, dan kita semua adalah orang paling bahagia di dunia kemarin, di lapangan D Senayan. Bertahun-tahun kita membaca tentang konser legendaris mereka di Spike Island, sekarang kita boleh berbangga dan bercerita ke semua orang, bahwa kita punya Lapangan D Senayan, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil itu dari kita.

Tidak akan yang dapat merenggut kebahagiaan ketika “I Wanna Be Adored” dikumandangkan dengan kegagahan mancunian, ketika barisan paling depan penonton kehilangan kontrol saat mendengar riff pertama dari “Waterfall” atau ketika dengan gemilangnya John memainkan solo “Made Of Stone”. Tidak akan terlupakan momen di mana Ian dengan gayanya yang khas menari-nari saat “Fools Gold” dimainkan, sementara John memainkan peranannya sebagai pahlawan gitar yang kita agungkan selama masa remaja kita. Dan saat mereka menuntaskannya dengan “I Am The Resurrection” semua nadi yang selama ini mengekang kebahagiaan kita, meledak di bawah langit Jakarta.

Sabtu, 23 Februari 2013 seharusnya adalah hari yang tidak pernah terjadi. Tetapi kenyataannya adalah, itu adalah hari ketika The Stone Roses band yang kita puja itu memahat monumen di dalam hati kita, di kota yang kita cintai.

David Wahyu Hidayat

04
Agu
12

Konser Review: The Stone Roses – Singapore Indoor Stadium, 22 Juli 2012

The Stone Roses

Singapore Indoor Stadium

22 Juli 2012

 

Setlist:

I Wanna Be Adored, Mersey Paradise, (Song For My) Sugar Spun Sister, Sally Cinnamon, Bye Bye Badman, Ten Storey Love Song, Where Angels Play, Shoot You Down, Fools Gold, Something Burning, Waterfall, Don’t Stop, Love Spreads, Made Of Stone, This Is The One, She Bangs The Drums, I Am The Resurrection

Review:

 

Dari sekian banyak band yang berkeliaran di semesta pop ini, hanya sedikit yang dengan menyebutkan namanya terkonotasikan sebuah fabel/mitos. Sebuah nama yang hanya terekam dalam kepingan album-album mahakarya, terlebih jika mahakarya tersebut hanya berupa dua album: Yang satu kesempurnaan pop-psikedelik, yang satu lagi kemegahan gitar dalam balutan riff ala Jimmy Page; dan sekumpulan b-sides lainnya yang dipelajari satu persatu, karena band tersebut telah tiada, terkubur dalam keabadian pop dengan sempurnya.

Namun semuanya berubah sejak tanggal 18 Oktober 2011. Band tersebut, The Stone Roses, memutuskan untuk bangkit dari kuburnya, menghapus segala dendam pribadi di antara anggotanya, dan kembali aktif sebagai band yang kita cintai dan sudah terlanjur terpatri sebagai sebuah cerita legenda pop 90-an. Sampai saat itu pun, tidak akan terbersit pikiran sekecil apapun, kalau kedua mata dan sepasang telinga ini akan menyaksikan kebangkitan mereka secara langsung, sampai sebuah berita di awal bulan April 2012 mengubah semuanya, dengan mengatakan kalau tur reuni mereka akan singgah di Singapura pada tanggal 22 Juli 2012.

Setelah euforia berbulan-bulan, ketika malam tersebut datang, dan badan mortal ini memasuki arena konser di Singapura Indoor Stadium, dan menyaksikan lemon double drum bas milik Reni terpampang dengan kidungnya di atas panggung, pelukan sudah terbagi antara kedua sahabat yang menunggu konser ini sejak 2 dekade lebih, senyum sudah terbersit tanpa batas, jantung sudah berdegup kencang, seakan semua ini terlalu sempurna untuk hadir dalam ruang realita waktu kehidupan ini.

Pukul 20:30 waktu Singapura, dengan diiringi beat “Stoned Love” dari The Supremes, keempat sosok itu: Ian dengan training jaket berwarna ungu, John yang mengenakan kemeja putih lengan panjang, Reni dengan jersey sepakbola berwarna kuning, dan Mani yang memakai kemeja bercorak paisley memasuki panggung dengan penuh elegan, dan dimulailah konser impian itu dengan dentuman bas “I Wanna Be Adored”. Keempatnya bagaikan pahlawan perang yang baru pulang dari medan perang, magis, memberikan arti, seperti sebuah kemenangan terhadap sesuatu yang kita sendiri sebenarnya tidak tahu apa, tapi momen itu tampak seperti mengecap obat penawar yang memberikan kesembuhan ultimatif.

Atmosfir konser tersebut sangat mengalir, dengan permainan gitar John yang sering memberikan riff-riff tambahan di setiap lagunya, rasanya seperti berada dalam dejavu mimpi terindah kita. “Mersey Paradise”, “Sugar Spun Sister”, “Sally Cinamon” mengalun satu persatu menyusul “Adored”, dan semuanya seperti dalam sebuah film. Melihat sosok seorang John Squire memainkan melodi-melodi yang telah menjadi musik latar belakang masa remaja penuh kenaifan dan optimisme, ia adalah seorang pahlawan gitar, dan malam itu seharusnya semua yang hadir di sana menyadari sepenuhnya akan hal itu.

Peneguhan seorang John Squire sebagai seorang pahlawan gitar terlihat jelas pada, “Fools Gold”. Seharusnya ini adalah lagu di mana Reni dan Mani menjadi bintangnya dengan beat dansa-psikedelik yang menjadi tandatangan lagu ini, tetapi John seperti mencuri kilat mereka di lagu ini, di bagian belakang lagu ini, di mana ia memainkan riff-riff ala Zeppelin, bahkan sempat menyelipkan “Daytripper” membuatnya sebagai seorang dewa gitar pendiam yang berbicara hanya melalui 6 senar di gitarnya. Sebuah momen yang akan dikenang sepanjang masa, karena malam itu John Squire benar-benar sebuah wujud nyata seorang legenda yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan dari footage-footage terbatas The Stone Roses selama 20 tahun terakhir.

Semenjak “Fools Gold”, The Stone Roses tidak membiarkan suasana di Singapore Indoor Stadium turun, mereka menghantam dengan nomor klasik satu disusul nomor klasik lainnya. “Waterfall/Don’t Stop” dibawakan dengan sangat psikedelik, “Made Of Stone” adalah perwujudan akan kemajestikan band tersebut, “Love Spreads” dibawakan dengan sangat solid, ditambah kejutan dari Ian Brown yang melakukan rap di akhir lagu tersebut, kemudian “She Bangs The Drums” membuat arena itu menjadi arena pesta indie terbesar Asia Tenggara untuk malam itu. Sampai akhirnya kita semua sampai pada klimaks mimpi indah itu. “I Am The Resurrection” menebus semua kerinduan akan pahlawan musik yang sesungguhnya, yang memberikan sebuah arti dalam musik yang kita dengarkan. Hampir 20 tahun lamanya kita menyanyikan lagu itu, menemani dalam setiap fase kehidupan, lalu ketika kita mendengarkannya secara langsung lagu itu dibawakan oleh Ian, John, Reni & Mani meledaklah setiap sumbu kebahagiaan dalam hati kita, kedua tangan terkepal ke atas, penuh senyum merayakan kebangkitan musik bersama mereka.

Awal saya mencintai The Stone Roses adalah ketika menemukan dan memutar berulang-ulang album kompilasi “The Complete Stone Roses” di walkman butut warisan orang tua. Seorang musik jurnalis asal Inggris bernama John Harris menulis sleeve note di album kompilasi tersebut, dan saya akan mengutip 2 paragraf terakhirnya. Begini bunyinya:

“So, when those funeral catalogues that pass for music magazines talk about Dylan at the Albert Hall, and Jimi at the Monterey, and the Velvets playing the Exploding Plastic Inevitable, and The Pistols at the Screen On The Green, aching to convince us that rock music last shot its bolt several hundred years ago and we should all go home and resign ourselves to historical defeat. Think again.

The Stone Roses created as much magic as any of them. Tell your grandchildren”.

Dan saya akan melakukan hal itu. Saya akan menceritakan sampai ke anak-cucu saya, bahwa pada malam 22 Juli 2012 di Singapore Indoor Stadium, saya menyaksikan sesuatu yang magis, sesuatu yang berarti untuk sebuah momen kehidupan. Sebuah momen di mana musik menemukan bentuk terbaiknya. Sebuah momen di mana saya hidup dan hadir untuk menyaksikan keajaiban yang diciptakan The Stone Roses. Itu semua adalah sebuah kebangkitan.

David Wahyu Hidayat   

 

 

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

11
Mei
09

Pencerahan Jiwa: Saya ingin dipuja dan saya adalah kebangkitan – 20 Tahun debut album The Stone Roses

The Stone Roses LP

Di sebuah pagi buta di tahun 1997, seorang muda menatap datangnya fajar dengan sebuah senyuman terbersit di bibir. Aroma optimisme terhirup di tengah-tengah pagi yang masih perawan itu. Ia baru saja menyelesaikan masa SMA-nya, hendak meninggalkan semua kenaifan di belakangnya, dan melangkah ke dalam ketakjuban kehidupan yang terbentang menunggu di depannya. Semuanya terasa sempurna, di tempat yang benar pada waktu yang tepat.

Sebuah suara menyentak kupingnya melalui walkman yang sedang didengarnya. Suara itu adalah suara dengan nada-nada penuh kebanggaan, seperti terlihat dengan jelas kalau yang bernyanyi adalah seorang yang penuh keyakinan, yang percaya bahwa bandnya akan menjadi band pertama yang akan menggelar konser di bulan. Suara yang ia dengar saat itu adalah suara Ian Brown, dan pagi itu untuk pertama kalinya ia memutuskan untuk jatuh cinta dengan The Stone Roses, dan tidak dapat berpaling lagi dari musik mereka yang menginspirasikan jejak langkah kehidupannya selanjutnya.

Tahun 1997 pra “Be Here Now” adalah masa di mana Britpop menghembuskan nafas kehidupan penuh kepercayaan diri kepada generasi muda waktu itu. Lalu seperti juga kebanyakan manusia lainnya, diri ini menemukan pahlawan abadinya dalam Oasis, sebuah band yang sampai sekarang menempati kosmos utama dirinya karena inspirasi yang telah mereka berikan. Beberapa minggu sebelum pagi yang sudah ditakdirkan itu, seorang teman berkata demikian “Vid, kalo lo segitu sukanya sama Oasis, lo harus dengerin The Stone Roses. Kalau ga ada The Stone Roses, ga bakalan ada Oasis”.

Penasaran dengan perkataan temannya tersebut, ia memberikan dirinya sendiri untuk membeli sebuah kaset dari band yang konon legendaris tersebut, sebuah kompilasi berjudul “The Complete Stone Roses”. Keesokan harinya, di pagi – pagi buta tersebut, ia mendapati dirinya sendiri terpana. Tidak percaya akan apa yang ia dengar sendiri, karena musik yang ia rasakan dalam hatinya dan didengar telinganya adalah sebuah keajaiban. Ia meneliti semua lagu-lagu yang ada di situ satu persatu, ia baca berulang-ulang sleeve note yang melengkapi kaset tersebut, yang ditulis oleh seorang jurnalis bernama John Harris, dan ia terus menerus merasakan keajaiban, tumpuk menumpuk seperti merasakan sebuah keajaiban dunia terjadi di hadapannya saat itu.

Dari saat itu, ia satu persatu mengumpulkan semua karya band tersebut, dan sampailah  saat di mana ia memegang debut album The Stone Roses untuk pertama kalinya. Saat itu, ia berada jauh di tengah – tengah eropa untuk melanjutkan studinya. Satu dekade telah lewat ketika The Stone Roses merilis debut album itu. Ia tidak menyalahkan dirinya. Tahun 1989, ia masih memikirkan hal lain dibanding mengagumi mahakarya sebuah band asal Manchester. Namun saat ia memiliki debut album itu, ia tidak bisa melepaskannya lagi dan berniat untuk selalu hidup dalam keajaiban suara itu.

Stone Roses

The Stone Roses performing at Granada in January 1989 © Ian Tilton / RetnaUK Credit all uses

Mendengarkan debut album itu untuk pertama kalinya, memberikan sensasi lain yang tidak ia dengar dalam “The Complete Stone Roses”. Dimulai dari intro gaib menuju psikedelia “I Wanna Be Adored”, ia menyadari di belakang suara agung Ian Brown ada kemagisan gitar John Squire. Di balik keajaiban gitar Squire ada perpaduan groove yang solid dari Mani dan Reni seperti yang terdengar dalam “She Bangs The Drums”. The Stone Roses adalah cetak biru sebuah band yang punya segalanya, yang tidak takut untuk bersanding dengan U2 dalam segala kebesarannya.

Sore demi sore, malam demi malam ia lewati dengan album mengagumkan itu. Duduk termenung, terpukau oleh setiap pencerahan yang ia dengar dalam “Made Of Stone”, kesempurnaan pop “(Song For My) Sugar Spun Sister”, atau pun arogansi tersembunyi dari “This Is The One”. Ribuan kopi ia habiskan bersama album itu, dengan mata berbinar-binar berusaha menjelaskan keajaiban yang ia alami waktu mendengarkan nada-nada tersebut. Beberapa orang dekatnya lalu mengakui keajaiban itu, beberapa orang lain, lalu begitu saja tanpa mengacuhkan.

Pada suatu kesempatan yang terpisah, di tempat ia tinggal waktu itu, masih di sentral Eropa, ia bertemu dengan seorang mahasiswa asal Inggris, dan mahasiswi asal Jepang. Kami, tiga orang yang berlatar belakang berbeda itu, menemukan titik temu di sebuah frekuensi yang sama, dan gelombang itu bernama “The Stone Roses”. Ia masih ingat menghabiskan seharian penuh waktunya dengan mereka membicarakan suara gitar Squire yang menggelitik nakal pada “Shoot You Down”, atau pun kedamaian minggu sore “Waterfall”. Bila mereka membicarakan “The Stone Roses”, mata mereka berbinar-binar, hati mereka meluap penuh kebahagiaan yang sulit untuk bisa dideskripsikan. Bila ia melihat wajah-wajah mereka, dan orang-orang lain yang punya perasaan yang sama tentang album itu, ia tahu bahwa “The Stone Roses” mempunyai arti yang sama dalam diri mereka.

Ia teringat ketika memutar debut album itu untuk pertama kalinya, dan urutan album itu menyentuh detik – detik pertama “I Am The Resurrection” ia mencoba untuk tidak mempercayai apa yang ia dengar. Itu adalah untuk pertama kalinya ia mendengar lagu itu dalam seluruh kepenuhannya. “I Am The Resurrection” adalah kesempurnaan. Ia memiliki nada yang melantun manis untuk disiulkan setiap pagi, ia mempunyai reff yang membuat kita melayang menembus atmosfir, dan yang menjadi pemungkas adalah keepikan outro lagu tersebut. Di sana, Ian, John, Reni dan Mani membuktikan kalau mereka adalah sebuah band yang solid. Sampai saat ia mendengar lagu itu, belum pernah ada lagu lain yang menyentuhnya seperti “I Am The Resurrection”. Lagu itu  membuatnya terharu akan kesempurnaannya. Diawali dengan bas melodik Mani yang memulai outro instrumental tersebut, disusul dengan ketajaman gitar Squire yang akhirnya memberikan kita pahlawan gitar yang selama ini kita tunggu – tunggu. Reni menyetir semuanya dengan permainan drumnya, sementara Ian dalam khayalan kita masing-masing, memainkan perkusinya seperti terlihat dalam rekaman konser legendaris di Blackpool, atau berdansa seperti seorang raja monyet yang kegilaan penuh bahagia. Lalu apakah yang kita rasakan? Kita tidak lagi merasakan apa – apa. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Apa yang namanya musik diawali dari akhir debut album The Stone Roses ini. Yang kita rasakan adalah nirwana, kesempurnaan sebuah band dan musik yang mereka mainkan.

kevin_cummins_roses_02

The Stone Roses, Pic by Kevin Cummins

20 tahun setelahnya, semua itu masih kita rasakan. Setiap detik warna-warni dari album tersebut, setiap alur nada yang mengajak kita untuk berdansa, kemajestikan suara Ian Brown dalam kepercayaan dirinya. Semua itu tidak akan pernah dapat dipadamkan. Di debut album itu The Stone Roses telah menciptakan sebuah mahakarya yang melewati batas tempat dan waktu, bahkan sepertinya bila album itu baru dirilis saat ini, ia akan terdengar sama ajaibnya seperti 20 tahun yang lalu. The Stone Roses adalah kebangkitan yang telah menciptakan sebuah keajaiban, dan debut album itu adalah monumen yang akan mengabadikan mereka dalam jejak langkah setiap legenda musik sebelum mereka.

David Wahyu Hidayat

03
Mar
08

Album Review: The Stone Roses – The Stone Roses

the-stone-roses-the-stone-roses.jpg

The Stone Roses
The Stone Roses
Silvertone Records – 1989

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk meraih sesuatu yang monumental. Sesuatu yang di masa setelahnya akan diingat manusia, karena arti yang diberikannya dan karena semangat yang dibakarnya. Seringkali, manusia – manusia seperti itu disebut sebagai pahlawan, dan nama mereka diabadikan di hati kita masing – masing sebagai seseorang yang mengubah jalan hidup kita untuk selamanya.

Keempat pemuda asal Manchester, Britannia Raya telah melakukan hal tersebut sewaktu mereka di tahun 1989 menghantarkan sebuah karya musik yang sampul depannya dipenuhi dengan garis coretan yang didominasi oleh warna hijau, bercorak seperti sebuah karya pelukis kontemporer Jackson Pollock. Di sebelah kiri sampul album tersebut tampak goretan 3 warna yang melambangkan bendera Perancis, dihiasi dengan 3 buah potongan jeruk, yang walaupun terkesan begitu menyejukkan adalah bentuk sebuah solidaritas akan gerakan mahasiswa di Paris tahun 1968. Di tengah – tengah sampul album itu, di atas semuanya, tertera nama yang bagi banyak orang adalah sebuah legenda, sebuah pahlawan musikalis. Nama itu adalah THE STONE ROSES.

Ian Brown (Vokal), John Squire (Gitar), Mani (Bass), dan Reni (Drum) sadar sepenuhnya bila album yang telah mereka ciptakan akan menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan orang banyak. Mereka tidak mempunyai keraguan sedikit pun akan hal ini, dan ini tercermin dari lagu – lagu di album tersebut. Dimulai dengan sebuah pernyataan yang tegas di lagu pembuka “I Wanna Be Adored”, The Stone Roses membuka kembali jalan agar musik bergitar akan dipuja kembali, setelah satu dekade penuh dipenuhi oleh musik artifisial yang datang dari synthesizer khas 80-an. Melodi psychedelic Squire dipadu dengan bas Mani mengusik nalar kita, menyadarkan kalau mesias yang kita nantikan itu telah datang.

Kemisteriusan nada “I Wanna Be Adored” dilanjutkan dengan sebuah lagu yang terdengar seperti sapaan mentari pagi paling hangat yang pernah dirasakan umat manusia. “She Bangs The Drums” dengan liriknya “Kiss me where the sun don’t shine, the past was yours, the future is mine” adalah sebuah lagu inspiratif yang mengajak kita untuk menggenggam segala sesuatu yang terhampar di depan kita dan berhenti untuk menoleh ke belakang. Kembali, di lagu ini bas Mani yang membuka intronya, menyampaikan misinya sangat baik, dengan tempo yang membuat kita tidak berhenti mengayunkan kaki kita secara tidak sadar.

“Waterfall” dimulai dengan sebuah riff gitar yang nantinya akan dikenal sebagai salah satu ciri khas permainan gitar John Squire. Diinspirasikan dari lagu The Beatles favoritnya “Rain” Ia memulai lagu ini dengan sebuah permainan gitar yang terdengar seperti suara sebuah hari Minggu pagi yang belum ternoda. Suara Ian Brown menghipnotis kita untuk berhayal akan sebuah mimpi yang akan segera terwujud, dibalut oleh bas Mani yang melodis dan drum Reni yang menyetir dinamika ritme lagu ini.

Dalam “Made Of Stone” John Squire mengukuhkan dirinya sebagai gitaris terbaik generasinya. Lagu ini adalah cerminan musik Britannia Raya selama 30 tahun terakhir, terlalu manis untuk hanya sekedar dicintai para indie nerd, di satu sisi memberikan penegasan bahwa musik pop tidak hanya terdiri dari lantunan manis tanpa arti. Solo gitarnya di lagu ini memberikan sebuah prelude akan kemampuannya memainkan instrumen 6 senar itu, seperti yang kemudian diperlihatkannya dalam album kedua mereka “Second Coming”. Tapi itu adalah bab lain lagi dari sebuah legenda bernama The Stone Roses. Di album ini mereka sedang memulai langkah mereka untuk berdiri di puncak olimpia musik Britannia Raya.

Album ini menemukan klimaksnya dalam “I Am The Resurrection”. Lagu dengan durasi 08:12 menit ini, menampilkan semua yang menjadikan The Stone Roses sebuah legenda hidup. Lirik yang menantang dan mengedepankan kepercayaan diri seorang muda, dan kemampuan keempat personilnya bermain musik dalam outro sebuah lagu, tanpa harus takut kehilangan identitas mereka sebagai sebuah band indie yang berusaha dan berhasil menanamkan imaji ke sanubari setiap orang yang mendengarnya, bahwa ini adalah musik bergitar yang paling menakjubkan yang pernah kalian dengar.

Tahun 1989, seperti sebuah pertanda bahwa sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, adalah tahun di mana tembok Berlin runtuh. Tak lama setelah itu perang dingin berakhir, dan dekade 90-an yang penuh keoptimisan pun dimulai. Di sekitar waktu itu Liam Gallagher muda melihat sosok Ian Brown yang penuh karisma dalam salah satu konser The Stone Roses, dan ia segera memutuskan untuk membuat sebuah band. Seperti yang telah kita kenal, band yang dibentuknya itu bernama Oasis, dan itu adalah awal dari sebuah kerajaan bernama Britpop. Oasis, dan semua yang datang setelahnya, di mana musik band Indie tiba-tiba dapat merajai mainstream tidak akan dapat terjadi bila The Stone Roses tidak merilis debut album mereka. Ian, John, Mani, dan Reni telah mengembalikan musik bergitar ke tempat yang semestinya, yaitu di dalam universum musik kita masing – masing. Untuk itu mereka layak menjadi legenda.

David Wahyu Hidayat




Maret 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 139,056 hits