Archive for the 'Phoenix' Category

07
Agu
13

Ulasan Album 2013 – Bagian 2: Peace, The S.I.G.I.T, Pandai Besi, Phoenix, Vampire Weekend

Inlovepeacealbum

Peace – In Love

Rilis: 25 Maret 2013

 

Dari sekian banyak band baru yang bermunculan di Inggris, mungkin Peace adalah salah satu band yang dapat membuat gebrakan dalam panjang gelombang yang sama seperti Two Door Cinema Club di tahun 2010 lalu. Fakta pendukungnya dapat kita otopsi dalam album pertama mereka “In Love”. Dengan berbekal kenaifan “Tomorrow Never Knows”, album tersebut dibuka dengan “Higher Than The Sun” sebagai pertanda hal-hal baik akan mengikuti setelahnya. Album ini menampilkan banyak sisi yang dapat dieksplorasi seperti jiwa funkadelic pada “Waste Of Point” atau melodi bak pop evergreen membawa perasaan damai pada “California Daze”. Benar sebenar-benarnya, masa depan nampak cerah untuk band asal Worcester ini.

Track esensial: Higher Than The Sun, Waste Of Paint, California Daze

 

 

 

TheSigit_Detourn

The S.I.G.I.T – Detourn

Rilis: 15 April 2013

Ke mana perginya semua band Indonesia yang masih dengan sejatinya dapat menunjukkan kedigdayaan rock ‘n’ roll negeri ini? Apakah mereka semua termakan potret diri narsisisme dengan kiblat pop timur jauh, sampai-sampai Rekti dkk, harus kembali turun gunung untuk menampilkan keberbahayaan rock ‘n’ roll ? “Detourn” adalah album yang dikemas dengan berani dan padat dengan riff-riff solid sebagai pembuktian diri bahwa mereka bukanlah hanya sensasi sesaat.

 

Track esensial: Let The Right One In, Tired Eyes, Black Summer

Pandai Besi

Pandai Besi – Daur Baur

Rilis: 19 April 2013

 

Menjelang record store day tahun ini, saya mendapatkan paket bukti sejarah hasil sebuah sebuah projek crowdfunding. Paket itu adalah sekeping CD Efek Rumah Kaca, atau dalam projek ini dengan tambahan beberapa musisi lain menamakan dirinya Pandai Besi; yang merekam ulang 9 lagu mereka di studio rekaman legendaris Lokananta, Solo. Di dalamnya adalah sebuah cetak biru generasi tanah air saat ini, dan tentu saja kesembilan lagu tersebut adalah kisah mengagumkan yang berpotensi menjadi klasik di masa mendatang. Album ini adalah usaha melawan lupa, usaha memelihara sejarah dan menjadi Indonesia sesungguhnya.

 

Track esensial: Menjadi Indonesia, Laki-laki pemalu, Jalang

 

 

Phoenix_-_Bankrupt!_cover

Phoenix – Bankrupt

Rilis: 19 April 2013

 

Kehidupan versi Phoenix seperti tidak pernah mengalami kepanikan atau hari kelabu. Kehidupan versi Phoenix selalu disajikan dengan penuh warna dan keceriaan. Semua tercermin dari keseluruhan rilisan album mereka maupun konsernya. Tidak terkecuali “Bankrupt”. Tetap dengan pola setia yang mereka usung memadukan synth dan gitar dalam irama-irama semi upbeat yang akan mengubah hari paling mendung menjadi musim semi di Paris. Untuk itu mereka ada dalam kehidupan kita, dan untuk itu kita mencintai band ini.

 

Track esensial: S.O.S In Bel Air, Trying To Be Cool, Drakkar Noir

 

 

Vampire_Weekend_-_Modern_Vampires_of_the_City

Vampire Weekend – Modern Vampires Of The City

Rilis: 14 Mei 2013

 

Salah satu konser yang dapat saya nikmati dalam 5 tahun terakhir adalah konser Vampire Weekend tahun 2010 lalu. Mendengarkan Vampire Weekend otomatis memicu semua hormon endorphine untuk rileks dan melupakan segala sesuatu yang mengusik kita. “Modern Vampires Of The City” meneruskan tradisi tersebut. Masih dengan bunyi-bunyian pop-etnik mereka, ditambah dengan seruan unik (“Ya Hey”), ini adalah album yang akan kita dengarkan 10.000 kaki di atas permukaan bumi, menuju destinasi liburan kita, dan berharap tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di kota yang kita tinggali, yang sudah terlalu penuh dengan vampir-vampir yang menggerogoti kehidupan urban kita.

 

Track esensial: Step, Diane Young, Ya Hey

 

Iklan
07
Agu
09

Konser Review: Phoenix – Bengkel Night Park Jakarta, 01 Agustus 2009

Phoenix

Beatfest 2009

Bengkel Night Park, Jakarta

01 Agustus 2009

Band Pembuka: Naif, The S.I.G.I.T, Rock ‘n’ Roll Mafia

Setlist:

Lisztomania, Long Distance Call, Consolation Prizes, Lasso, Napoleon Says, Funky Squaredance, Rally, Girlfriend, Armistice, Love Like A Sunset, Run Run Run, Sometimes In The Fall, Rome

Encore: Playground Love, If I Ever Feel Better, Too Young, 1901

IMG00087-20090801-2239

Review:

Kami tidak takut, kami ingin berpesta dan berdansa sampai malam, karena tidak ada yang dapat menghalangi kami menikmati hidup ini. Kalau ada slogan tidak ofisial dari pagelaran Beatfest 2009 di Bengkel Night Park, Jakarta 01 Agustus yang lalu, mungkin bunyinya akan seperti itu. Pasca pemboman Marriot-Ritz 2 minggu sebelumnya, semua muda-mudi Jakarta berpesta tanpa kuatir sedikitpun akan ada sesuatu yang akan berjalan salah.

Perayaan malam itu dimulai dengan penampilan Naif, yang disusul dengan suguhan bombastis dari The S.I.G.I.T. Makin sering melihat penampilan mereka, sepertinya mereka semakin matang dari segala sisi. Mereka beraksi seperti layaknya seorang rock star sejati, memainkan lagu rock yang memukau semua orang. Seakan mereka sudah terlalu besar untuk negeri ini, dan tidak ada lagi yang dapat menahan sepak terjang mereka. Memainkan lagu – lagu antemik seperti “Did I Ask Your Opinion”, “Clove Doper”, dan “The Party” mereka memberikan segalanya, dengan aksi panggung maksimal yang berporos di permainan gitar Rekti dan Farri. Di lagu “Midnight Mosque Song” mereka mempersembahkan sebuah homage kepada pahlawan musikalis pribadi mereka, Led Zeppelin, dengan Farri yang mengambil tungkai gesek biola dan memainkannya pada gitarnya disusul dengan riff gitar yang mengingatkan kita dengan sangat pada “Babe I’m Gonna Leave You”. Menutup set mereka dengan “Black Amplifier”, Bengkel Night Park terpana dengan kedashyatan The S.I.G.I.T malam itu.

Tak lama setelah penampilan Rock ‘n’ Roll Mafia, band pemuncak malam itu, Phoenix,  tampil di atas panggung Bengkel Night Park. Menggebrak dengan “Lisztomania”, semua orang yang hadir di Bengkel malam itu membuktikan bahwa Jakarta bukanlah tempat yang perlu ditakuti, tetapi tempat paling menyenangkan yang pernah dimiliki negeri ini. Semua orang berdansa tanpa terkecuali. Disusul dengan “Long Distance Call” dan sebuah nomor Housemartin-esque “Consolation Prize” menaikkan kadar endorphine semua orang di Bengkel. Bagai sebuah kejutan yang menyenangkan, Phoenix di set utamanya cukup banyak memainkan lagu dari album “It’s Never Been Like That”, selain 2 lagu yang disebut di atas mereka juga memainkan “Napoleon Says” dan “Rally” yang diselingi oleh sebuah versi singkat mencengangkan dari “Funky Squaredance”.

Salah satu pemuncak malam itu adalah waktu band asal Perancis tersebut memainkan “Love Like A Sunset”. Dengan penataan cahaya yang memukau, yang terkadang memperlihatkan Phoenix sebagai sebuah siluet majestik di atas panggung, lagu tersebut berfungsi dengan maksimal untuk menghinoptis penonton yang terpukau oleh keagungan sosok band tersebut. “Sometimes In The Fall” yang juga dari album “It’s Never Been Like That” dimainkan di penghujung set utama mereka yang lalu dipungkasi dengan “Rome”.

Setelah secara obligatoris Phoenix menghilang dari atas panggung, Thomas Mars kembali dengan hanya ditemani oleh Christian Mazzalai. Mereka lalu meluncurkan sebuah nomor dari Air “Playground Love”, yang menjadi soundtrack film “Virgin Suicides”, sebuah film yang disutradai oleh pasangan hidup Mars, Sofia Coppola. Ada sesuatu yang magis dalam keheningan suara waktu mereka memainkan lagu tersebut. Keheningan itu tapi tidak dibiarkan lama, karena dengan susunan penuh Phoenix memberikan segalanya dalam “If I Ever Feel Better” dan “Too Young”. Tak pelak lagi semua orang di bengkel juga berdansa seakan di negeri ini tidak pernah ada ancaman bom, seakan negeri ini adalah negeri yang paling mengagumkan di seluruh bumi, dan mungkin pada momen itu, hal tersebut adalah fakta.

Suara sonar yang mengawali “1901” adalah permulaan dari sebuah akhir. Sebuah pamungkas dalam suguhan yang terasa terlalu singkat. Malam itu generasi Twitter negeri ini mendapatkan pestanya. Malam itu mereka menjadikan negeri ini menjadi sebuah kesatuan, melalui musik. Melalui sebuah perayaan, tanpa mengenal rasa takut. Dan sudah seharusnya kita selalu bersikap seperti itu.

David Wahyu Hidayat

04
Jul
09

Album Review: Phoenix – Wolfgang Amadeus Phoenix

PhoenixWolfgang

Phoenix

Wolfgang Amadeus Phoenix

V2 Records – 2009

Jika kalian sebuah band, bagaimana kalian mau menggambarkan keriangan musim panas? Lengkap dengan segala keceriaannya, dan perasaan untuk selalu bahagia menghadapi hari. Melakukannya secara konstan mungkin akan terasa sulit, kecuali kalian adalah 4 orang Perancis muda bernama Thomas Mars, Deck D’Arcy Laurent Brancowitz, dan Christian Mazzalai atau yang dikenal dunia sebagai sebuah band bernama Phoenix.

Band itu, sejak dari awal sepertinya mengagungkan harumnya suasana musim panas, dari “Too Young” pada debut album “United”, sampai pada “Long Distance Call” di album “It’s Never Been Like That”, Phoenix tidak lain dan tidak bukan adalah suara – suara yang menggoda kita pada sebuah musim panas yang paling ideal, sewaktu kita naif bercanda, ketika ide kita masih perawan belum digerogoti komersialisme, waktu kita jatuh cinta paling dalam. Empat pemuda itu, mengulanginya lagi di album yang mereka namakan “Wolfgang Amadeus Phoenix”.

Dengan vokal dinyanyikan berulang-ulang yang menjadi ciri khas Mars selama bertahun-tahun, “Lisztomania” membuka lembaran musim panas ala Phoenix. Lagu ini sebegitu indahnya sampai membuat kita lupa diri dan mengajak kita untuk berdansa sambil berjingkat-jingkat kecil seperti anak kecil menyambut sebuah liburan panjang. Perasaan itu dilanjutkan dengan sebuah suara seperti sonar kapal selam yang mendahului intro “1901”, sebelum lagu ini akhirnya menyinari kita dengan kehangatan pop dari Phoenix.

Satu saat dalam musim panas terbaik kita, waktu langit mulai senja dan kita duduk termenung, memandang horizon dalam terpaan angin sejuk menyapa pipi kita. Diam tanpa pikiran, tidak mempercayai diri, betapa beruntungnya diri ini, boleh berada dalam keadaan terbaik, dalam pelukan orang yang dicintai, tidak kekurangan suatu apapun. Perasaan ini dituangkan Phoenix dalam “Love Like A Sunset Part I” dan “Love Like A Sunset Part II”. Tak lama setelahnya, dengan beat yang nakal dalam “Lasso”, Phoenix menggoda kita kembali untuk menenggelamkan diri dalam sebuah malam yang harus dinikmati tanpa asa sedikitpun.

Menjelang fajar, ketika mentari masih malu menunjukkan wajahnya, waktu kita dalam keadaan setengah sadar setelah menikmati kefanaan sebuah malam memabukkan sebuah musim panas, ketika kita masih melayang seakan tidak ada beban dari dunia ini yang akan menahan telapak kaki kita di tanah, Mars merasukkan “Rome” ke telinga kita. Sepertinya semuanya ini semu, tapi pada saat yang sama semuanya seperti masuk akal.

Pagi hari menyingsing. Kali ini mentari tidak lagi malu menunjukkan sinarnya. Kita tersadar dari mimpi kita. Di kepala kita terngiang “For lovers in a rush, for lovers always, foreign lovers in a rush, keeping promises, for lovers in a rush, for lovers always”, itu adalah suara Mars menyanyikan lagu terakhir di “Wolfgang Amadeus Phoenix”. Sesaat lagi setelahnya, semuanya terasa berakhir. Benarkah semuanya ini berakhir? Musim panas ini, segala keceriaan dan semua yang memabukkan? Belum, semuanya masih ada di sana, karena setiap kali kita mendengarkan album ini, kita akan selalu dapat membawa musim panas ini bersama kita, dengan segala kesempurnaannya dan segala kenangannya, yang akan membuat kita tersenyum dan berdansa seperti seorang anak kecil.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Phoenix – It’s Never Been Like That

its_never_been_like_that.jpg

Phoenix
It’s Never Been Like That
Virgin Music – 2006

Sinar mentari pagi yang cerah menembus korden kamar kita, burung berkicau dengan riang, tangan kita masih mengusap mata kita, belum dapat menyambut datangnya sebuah hari yang indah. Hari yang akan kita lalui ini adalah hari terindah yang akan pernah datang, suatu hari yang sempurna.

Secara refleks, tangan kita meraih sebuah kotak CD, bergambarkan 4 orang Perancis muda yang menamakan diri mereka Phoenix, lalu memainkannya di CD player kita. Suara gitar dari “Napoleon Says”, lagu pertama dari album yang berjudul “It’s Never Been Like That” itu mengajak kita menyambut mimpi yang sebelumnya kita temui di tidur kita. Kita pun terbangun dan siap menghadapi hari tersebut.

Dengan gitar “Housemartin”-esque dan sentuhan pop paling manis tahun ini, kita pun keluar dari rumah kita ditemani lagu-lagu seperti “Consolation Prize” dan “Rally”. Melihat ke kiri dan ke kanan, kita melihat orang – orang tersenyum, seakan dunia ini tidak pernah diliputi oleh masalah, dan kita pun tersenyum, mengingat kembali ke belakang apa yang telah terjadi di hidup kita. Mungkin sebuah kecupan di pipi yang akan membuat kita tersenyum, mungkin sebuah gol indah yang membuat kita tertawa puas, atau mungkin itu hanya perasaan kepuasan akan hidup yang kita punya.

Ketika kita duduk, sambil menikmati kopi di kedai kopi favorit kita, kita pun kembali tersenyum melihat langit terbuka lebar di kota yang kita cintai ini. Tersenyum mendengarkan “Long Distance Call” yang berkumandang dari speaker kedai kopi tersebut, membuat kita berada pada perasaan yang menyenangkan di pagi hari.

Lalu kembali ke kendaraan kita masing –masing, masih ditemani dengan suara Thomas Mars dalam “One Time Too Many” kita menyusuri setiap jalan yang kita lalui, menikmati setiap saat pagi hari yang akan hilang sebentar lagi. Sampai ketika nada – nada instrumental “North” datang menyentuh hati kita, dan nada terakhir di album tersebut dilantunkan dalam “Second To None”, hati kita merasakan kesempurnaan. Akan indahnya hari yang baru yang telah diberikan untuk kita.

“It’s Never Been Like That” adalah sebuah album ultimativ untuk melewati musim panas tahun ini, sebuah soundtrack untuk menyambut hari – hari indah, dan melewatinya dengan perasaan berbunga. Percaya atau tidak, album ini seindah perasaan tersebut.

David Wahyu Hidayat




Oktober 2017
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

Blog Stats

  • 141,585 hits