Archive for the 'Kasabian' Category

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

14
Des
11

Album Review: Kasabian – Velociraptor

Kasabian

Velociraptor

Sony Music – 2011

 

Entah apa yang akan dilakukan oleh Tom Meighan dan Serge Pizzorno, jika mereka tidak melewati masa remajanya di tahun 90-an. Jika mereka melewatinya di dekade ini, mungkin mereka akan seperti remaja kebanyakan lainnya yang menggilai casting show, melakukan dansa kolektif anthem pesta, dan kecanduan dengan kehidupan sosial dalam 140 karakter. Untungnya, mereka berdua adalah anak – anak 90-an. Masih punya Liam & Noel Gallagher untuk diidolakan, masih punya cukup waktu untuk menggilai musik dari Ennio Moriccone. Untungnya buat kita semua, dalam Kasabian setelah bubarnya Oasis, kita masih memiliki sebuah band yang patut untuk diidolakan serta memiliki gudang amunisi yang jauh dari memadai untuk memasok kita dengan indie anthem tanpa batasan.

Sesudah mengantarkan “West Ryder Pauper Lunatic Asylum” yang dapat dibilang adalah Kasabian dalam puncak penampilannya, mereka memberikan kita “Velociraptor” yang terdengar lebih garang daripada pendahulunya, tanpa mengurangi unsur-unsur estetika.

Dibuka dengan Morricone-eske “Let’s Roll Like We Used To”, lagu ini adalah sebuah pembuka yang menggambarkan Meighan & Pizzorno muda sedang mengkhayalkan diri mereka melewati horizon yang mereka kenal. Dengan membawa Kasabian sebagai salah satu band terbesar Inggris saat ini, mereka bukan hanya sudah melewati khayalan itu, tapi juga menghidupinya dengan segala kemungkinan yang ada.

Bukti dari hal itu adalah lagu bombastis yang berada di urutan kedua album ini “Days Are Forgotten”. Diawali dengan beat yang seperti berasal dari ghetto blaster sebuah block party di sudut terganas New York, lagu ini menjadi pembuktian kebesaran Kasabian dengan 2 belah lagu yang terbagi dalam sisi indie rock berkualitas nomor satu dan sisi unsur r ’n’ b berkelas. Bahkan dalam salah satu versi remixnya, di mana LL Cool J turut menyumbangkan lontaran rapnya, lagu ini tetap terdengar seperti lagu Kasabian, bukan sebuah lagu indie rock yang ingin merambah pasar baru.

“Goodbye Kiss” yang menyusulnya merubah suasana album ini seperti sebuah grand ballroom di mana setiap orang yang berada di sana ingin melakukan indie waltz ala Kasabian, sedangkan “La Fe Verte” yang versi lainnya juga pernah tampil dalam soundtrack “London Boulevard” membawa suasana khas Inggris yang sebelumnya hanya kita kenal dalam lagu-lagu The Kinks.

“Re-Wired” dengan aliran lagu yang sudah menjadi ciri khas Kasabian seperti dalam “Where Did All The Love Go” dan “Processed Beats” di album – album sebelumnya membuat “Velociraptor” semakin dapat menemukan jati dirinya sebagai salah satu album terbaik yang pernah diproduksi Kasabian. Kemudian “Switchblade Smiles” dengan pola lagu yang aneh penuh dengan suara synthesizer, dan teriakan teriakan di sana – sini membuktikan bahwa Kasabian tidak hanya berdiam di zona nyaman mereka tapi tetap berani melakukan eksperimen dalam lagu – lagu mereka.

Secara keseluruhan “Velociraptor” mensemenkan posisi Kasabian sejajar dengan band papan atas Inggris lainnya seperti Arctic Monkeys. Bila mereka tetap terus mengerjakan pekerjaan rumahnya, bukan tidak mungkin kita akan cepat melupakan hari – hari di mana nama Gallagher bersaudara pernah begitu dominannya menguasai planet musik Inggris.

David Wahyu Hidayat

16
Agu
09

Album Review: Kasabian – West Ryder Pauper Lunatic Asylum

Westryderpauperlunaticasylum

Kasabian

West Ryder Pauper Lunatic Asylum

Sony Music – 2009

Siapapun yg pernah berhadapan langsung dengan Tom Meighan akan menyadari kalau ia adalah sosok seorang rockstar abad 21, terlebih di era album pertama Kasabian yang dilengkapi dengan kemegahan suara, telah memberikan terobosan sekaligus mengingatkan kita akan akselerasi rock Primal Scream, psikedelia The Stone Roses, dan justifikasi arogansi Oasis, dalam musik Kasabian.

Sayangnya, dalam langkah mereka merebut mahkota rockstar sejati Britania Raya, yang terakhir dipegang oleh Liam Gallagher, mereka terpeleset dengan mengantarkan album kedua yang tertebak langkahnya dan hanya memuaskan hasrat Laddism dalam sebuah euphoria elektrik rock yang fana.

Dengan “West Ryder Pauper Lunatic Asylum”, album ketiga Kasabian, mereka telah kembali ke jalan yang benar. Merobek keheningan dengan “Underdog”, ini adalah sikap kepercayaan diri yang kita kenal dari Kasabian, lagu ini langsung memicu adrenalin, seperti pukulan bertubi-tubi seorang petinju yang tidak diperhitungkan, menumbangkan sang juara di kelasnya melalui vokal sengau Tom Meighan dengan porsi arogansi yang tepat dan suara akselerasi bas yang mengiris mengelilingi kita.

Lagu kedua album ini “Where Did All The Love Go” pantas dijadikan nomor klasik Kasabian, ini adalah plot untuk sebuah nomor rock dansa di abad 21 dilengkapi dengan suara tepuk tangan, synthesizer serta alat musik gesek yang menghantui dan melodi yang manis. Ini adalah lagu Kasabian terbaik sejak “L.S.F” dari album pertama mereka. “Fast Fuse” akan mengklaim semua omongan Tom Meighan dan Sergio Pizzorno kalau mereka adalah salah satu band rock ‘n’ roll besar di Inggris. Nomor ini dihantarkan dengan sangat jujur, pertimbangan yang dilakukan dalam “Empire” untuk memadukan rock dan beat untuk berdansa tanpa peduli dengan melodi seakan tidak pernah terjadi. Kali ini mereka tidak lupa memasukkan apa yang penting dari sebuah lagu, yaitu melodi dan hook untuk menjadikan lagu itu pantas diingat dan dilantunkan.

Kemegahan “Vlad The Impaler” bertumpu kepada pukulan bas Chris Edwards, membuat lagu ini berteriak dengan sendirinya di depan muka untuk meminta reaksi dari pendengarnya. Sedangkan “Fire” adalah Kasabian dengan visualisasi layar lebar musikalis yang meneropong unsur psikedelia, suara latar ala Enio Morricone dan penerjemahan perebutan buah terlarang yang selalu diinginkan manusia.

Melalui “Thick As Thieves” Sergio Pizzorno membuktikan kalau Kasabian tidak hanya handal mengantarkan lagu-lagu antemik untuk dinyanyikan di bawah langit cerah dikelilingi oleh pagar stadion sepak bola. Melalui lagu ini mereka membuktikan, kalau mereka bisa membuat sebuah nomor akustik manis yang akan sangat pantas untuk dinikmati di bawah langit Minggu sore yang sendu. Sebuah formula yang kemudian dimantapkan lagi keampuhannya dalam “Ladies And Gentleman, Roll The Dice” dan lagu penutup album ini “Happiness”.

“West Ryder Pauper Lunatic Asylum” adalah senjata Kasabian yang dilengkapi dengan amunisi memadai, yang mungkin masih belum cukup untuk melakukan kudeta terhadap posisi Oasis sebagai band terbesar di Inggris, tapi yang jelas akan meledakkan kepala kita dengan kemegahan dan ambisi dan akan menjadikan mereka menjadi teroris rock ‘n’ roll nomor satu abad 21.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Kasabian – Empire

kasabian_empire.jpg

Kasabian
Empire
Sony/BMG – 2006


Apa yang akan dirasakan oleh seorang anak kecil, jika ia telah mengetahui apa yang akan ia dapatkan sebagai hadiah Natalnya di bulan November? Ketika hari Natal tiba, dan ia mendapatkan hadiah yang sebenarnya, momen mengejutkan itu telah hilang. Semuanya terasa seperti terantisipasi. Biarpun hadiah itu adalah seusatu yang menakjubkan, tapi keajaibannya telah hilang. Karena anak itu telah mengetahui sebelumnya.

Di tahun 2006 ini, di mana akses ke musik menjadi sebegitu mudahnya dengan situs seperti myspace.com, tanggal rilis album baru dari sebuah band tidak lagi menjadi sesuatu yang membuat penasaran. Seringkali dikehendaki oleh band itu sendiri, mereka menaruh musik yang akan mereka rilis di myspace. Mungkin dengan tujuan promosi, di lain sisi untuk menunjukkan “F*ck You – attitude” kepada perusahaan rekaman mereka. Yang diuntungkan adalah kita sebagai penggemar musik, yang dapat menikmati itu semua secara gratis.

Sedihnya, momen penasaran itu telah terambil sendirinya dari kita, yang sebagai seorang fans tidak tahan untuk tidak mendengarkan sebuah bentuk musik baru entah dari myspace atau dalam bentuk lainnya.

Dalam hal album baru Kasabian yang berjudul Empire, band asal Leicester tersebut telah menaruh album ini dalam versi lengkap mungkin kurang lebih sebulan sebelum album itu sendiri dirilis. Setelah pendegaran pertama, yang ada hanyalah sebuah perasaan bahwa semuanya telah terantisipasi. Tidak ada yang baru.

Yang salah dari Empire bukanlah myspace. Didengar pertama kali, kemegahan Kasabian yang pernah ada di “Club Foot” dipaksa untuk tampil lebih “grandious” di album ini, entah dengan tambahan permainan “string quartet” atau alat musik tiup, atau hanya dengan sesederhana efek synth yang ada di setiap lagu di album ini. Kesan pertama adalah kekecewaan, karena album ini tidak mengejutkan. Seperti ditulis oleh salah satu majalah musik, album ini adalah kopi dari kopi dari kopi. Masih adakah kemegahan yang tersisa di sana?

Baru ketika kita mencoba mendengarkan album ini berulang – ulang, kita merasakan ada sesuatu yang patut disorot lebih teliti lagi di sini. Tak sengaja, “hook” yang dinyanyikan Tom Meighan dalam “By My Side” kita nyanyikan sambil menghirup kopi kita di pagi hari. Ketika kita mengendarai mobil kita di malam hari, tangan kita tak sadar mengetuk-ngetukkan jari ke setir mengikuti ritmus dari “Stuntman”. Kaki kita dihentakkan ke lantai mengikuti dentuman bas Chris Edwards di “Shoot The Runner” dan “Last Trip (In Flight)” ketika kita mempersiapkan malam minggu dengan diiringi album ini. Ketika kita memandang ke belakang hari yang telah kita lewati diiringi dengan biusan melodi dari “British Legion” dan “The Doberman”, tanpa disadari album ini berubah menjadi sesuatu yang lebih mengagumkan dari kesan pertamanya.

Jika saja mereka tidak terlalu berambisi untuk membuat album terhebat setelah “Definitely Maybe” dan lebih berkonsentrasi ke diri mereka sendiri, mungkin album ini bisa menjadi sesuatu yang mencengangkan. Mungkin album ini tidak akan membawa kita ke tanah perjanjian yang dijanjikan Tom Meighan dan Sergio Pizzorno, tapi ini masih cukup untuk menuntun kita menuju sebuah oasis dari tengah gurun yang kita tinggalkan.

David Wahyu Hidayat

06
Nov
07

Konser Review: Kasabian – Wuppertal, 21.01.2005

nb_rk_kasabian_14_g_wdr.jpg

Kasabian
EinsLive Radiokonzert
Rex Theater, Wuppertal, 21.01.2005

Penonton: 200
Setlist: I.D, Cutt Off, Reason Is Treason, Running Battle, Processed Beats, Fifty Five, Test Transmission, Night Workers, L.S.F, Club Foot

“Those who find ugly meanings in beautiful things are corrupt without being charming. This is a fault.
Those who find beautiful meanings in beautiful things are the cultivated.For these there is a hope.”
Oscar Wilde

Review:
Apakah pop? Bagi diri penulis artikel ini, itu ialah saat pertama kali melihat “Roll With It” di MTV, ketika mendengar lantunan hedonism Brett Anderson dalam “Trash”, dan mengagumi “swagger” Richard Ashcroft dalam video “Bittersweet Symphony”. Di tahun yang masih muda ini, pop ialah Kasabian di Rex Theater Wuppertal, 21.01.2005.

Kuartet asal Leicester yang beranggotakan Tom Meighan (Vox), Sergio Pizzorno (Guitar/Synth, Backing Vox), Christopher Karloff (Guitar/Synth), dan Chris Edwards (Bass) ini, akhir tahun lalu berhasil mengeluarkan sebuah debut album yang sukses memadukan unsur elektro – rock dalam lagu – lagu mereka. Mendengarkan album tersebut seperti merasakan kalau tahun 90-an tidak pernah berakhir. Semua optimismus yang pernah terdengar dan terasa di dekade lalu, dapat ditemukan kembali di setiap bleeps, gitar, dan beat di debut album Kasabian ini.

nb_rk_kasabian_27_g_wdr.jpg

Satu jam sebelum konser dimulai, Rex – Theater, salah satu theater tertua di Wuppertal yang konon pernah menjadi tempat pertunjukan Harry Houdini itu, sudah dipenuhi oleh beberapa fans yang tidak sabar untuk melihat penampilan band yang menurut pernyataan mereka sendiri, akan mengembalikan arti musik di britannia raya. Di atas panggung sebuah bendera dengan lambang Kasabian dipadu dengan garis diagonal seperti layaknya bendera Tibet, dipadu nuansa serba merah ruangan Rex Theater, seperti hendak berkata kalau sesuatu yang mempesonakan akan terjadi sebentar lagi.

nb_rk_kasabian_19_g_wdr.jpg

Tepat pukul 21.00, lampu pun dipadamkan. Yang terdengar ialah keintesifan sebuah ‘loop’ yang menjadi intro di awal setiap konser Kasabian. Tak lama kemudian Pizzorno, Karloff, dan Edwards memasuki arena tanding mereka, dan mulai memainkan intro dari “I.D”. Dentuman drum menghantam setiap telinga manusia di Rex Theater, dan ketika musik mulai dimainkan, Tom Meighan memasuki panggung, mengenakan sweater tipis berwarna gelap dan kacamata hitam. Berpenampilan seperti itu, ia seperti campuran antara Richard Ashcroft dan Ian Brown. Ketika ia mulai menyanyi, jelaslah semuanya bahwa vokalis Kasabian yang berdiri di atas panggung tersebut ialah seorang popstar yang ditunggu – tunggu, di era di mana musik sebagian besar hanya merupakan sebuah data di komputer pribadi kita masing – masing, dan anak berusia 17 tahun menemukan popstar mereka dalam wujud sebuah acara televisi berquota tinggi.

Popstar seperti itu hanyalah kemayaan industri musik sekarang ini. Popstar sebenarnya berdiri di atas panggung Rex Theater, dan bernama Meighan, Pizzorno, Karloff, dan Edwards. Bukan sekumpulan “idols” hasil tv – casting. Bagi Kasabian musik ialah urusan jiwa, dan mereka menanggapi semua itu dengan serius. Lirik “Music is my whore” terdengar seperti “Music is my soul” dinyanyikan oleh Meighan. Intesitas drum di “I.D” dan loop yang diciptakan oleh Karloff dengan synthezisernya, seperti membawa mereka yang mendengar lagu tersebut dalam suasana “trance”.

Repertoir mereka malam itu disambung dengan “Cutt Off”, single aktuel mereka. Seperti juga dengan “I.D”, “Cutt Off” adalah sebuah nomor physchedelic yang menimbulkan kesan magis. Backing vokal Pizzorno membuat bulu kuduk kita berdiri, di sisi lain Meighan sudah tidak terkontrol lagi melakukan “monkey dancing” – nya. Yang indah dari Kasabian ialah mereka begitu sempurnanya memadukan elemen rock dan elektronik dengan tidak menimbulkan kesan bahwa salah satu elemen tersebut akan melahap elemen lainnya.

nb_rk_kasabian_20_g_wdr.jpg

Setelah “Cutt Off” mereka menaikkan tempo dengan “Reason Is Treason”. Lagu ini seperti melakukan perjalanan dengan “bullet train”. Semua yang di belakang kita berlalu cepat, tapi semuanya itu menggairahkan, karena apa yang ada di depan ialah mahkota dari perjalanan kita. Dengan gitar Pizzorno meraung dari segala arah dan teriakan Meighan seperti seorang Mancunian kelahiran Leicester “Reason Is Treason” ialah Kasabian di salah satu form terbaik mereka. MEGA!

nb_rk_kasabian_01_g_wdr.jpg

“Running Battle” menyusul “Reason Is Treason”. Karloff yang berdiri di ujung sebelah kiri panggung, hampir tidak terperhatikan sepanjang konser, memproduksi sejumlah suara aneh dan mengagumkan yang dibuat bukan hanya dengan keyboard dan synthezisernya tapi juga dengan gitar. Hal itu juga dilakukannya dalam “Processed Beats” lagu yang merupakan single pertama mereka dan membuat nama Kasabian naik di Jerman. Di tengah lagu tersebut, untuk 3 detik lamanya Kasabian membiarkan sebuah “R2-D2 bleeps” berjalan terus, di mana instrumen lainnya berhenti sekejap. Sebuah momen untuk tersenyum.

Lagu berikutnya ialah sebuah nomor yang belum dirilis berjudul “Fifty Five”. Lagu ini bisa digambarkan sebagai usaha Kasabian melangkah ke Stadion – Rock. Kalau suatu waktu Kasabian akan pernah melakukan “homecoming gig” mereka di Walkers Stadium, Leicester, maka hampir dipastikan 32.000 orang di stadion tersebut akan meloncat seperti orang gila diiringi lagu tersebut. Percaya atau tidak.

Sergio Pizzorno mengambil alih vokal dalam “Test Transmission”. Suaranya yang lebih tinggi daripada Meighan merupakan kontribusi yang menguntungkan Kasabian, karena mereka seperti mempunyai 2 “frontman” yang dapat saling mengisi. Tepukan tangan Meighan dan petikan bas Edwards di akhir lagu menambah “groove” tersendiri lagu tersebut.

Sebuah B-Sides berjudul “Night Workers” melanjuti “gig” mereka malam itu. Lagu ini ialah lagu Kasabian paling offensif dari segi rock. Dengan 3 gitar yang menyerang, mendengarkan lagu tersebut di Rex – Theater malam itu, ialah seperti disengat tinjuan Muhammad Ali yang sedang menari di atas ring. Lagu itu hanya bertujuan untuk membuat kita bertekuk lutut, menyerah tidak berdaya ke dalam musik Kasabian.

nb_rk_kasabian_03_g_wdr.jpg

“L.S.F” ialah lagu yang membuat Rex – Theater malam itu mengerti, mengapa Kasabian oleh press musik selalu dibandingkan dengan The Stone Roses, Happy Mondays dan Primal Scream. Musik mereka hanya mengambil sedikit arti dari perbandingan tersebut. Siapa yang melihat Kasabian malam itu, mengerti kalau perbandingan itu berdasarkan “attitude” yang ditawarkan Kasabian dalam musik mereka. Singkatnya, Kasabian telah mengembalikan “swagger” 90-an yang hilang ke dalam musik yang kita dengar sekarang ini. “L.S.F” ialah lagu untuk mengepalkan tangan kita ke udara, sambil memandang optimis semua yang ada di depan kita.

Kasabian menutup “pesta” mereka dengan “Club Foot”. Di lagu ini Karloff memainkan bass seperti layaknya memainkan riff gitar paling megah yang pernah didengar manusia. Ini ialah lagu untuk berdansa. Lagu untuk mengembalikan kepercayaan akan diri sendiri. Lagu untuk dimainkan di setiap “indie – night” untuk generasi yang hampir hilang ini. Kalau mereka tidak pernah mengenal sebuah band bernama “The Stone Roses”, maka semuanya itu dimaafkan bila mereka menemukan penggantinya di Kasabian. Bila tidak, maka kutipan Oscar Wilde di awal artikel ini berlaku untuk mereka.

David Wahyu Hidayat

Foto: EinsLive




April 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Categories

Blog Stats

  • 139,513 hits