Archive for the 'Bloc Party' Category

26
Des
16

Favorit 2016

photogrid_1482687460277

 

 

Kebahagiaan musikalis saya tahun ini berawal di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016, ketika saya menyaksikan megahnya Efek Rumah Kaca mengantarkan lagu-lagunya pada Konser Sinestesia. 3 bulan setelahnya di penghujung April, saya menjadi saksi di mana lapangan parkir Senayan diubah menjadi lantai dansa psikedelik masal oleh Tame Impala dalam kunjungannya ke Jakarta.

 

Di paruh kedua tahun ini, tanah air dibanjiri dengan banyak pertunjukkan musik, tak luput juga perhelatan festival. Saya beruntung dapat datang di 2 kesempatan yaitu Soundrenaline Festival di GWK, Bali dan Synchronize Festival di Kemayoran (Dengan menyaksikan Rhoma Irama sebagai salah satu momen paling berkesan yang saya rasakan tahun ini). Satu hal yang saya simpulkan dari mendatangi 2 festival itu adalah betapa kayanya negeri ini akan band/artis berkualitas, dan di tengah-tengah segala pertanyaan akan apa artinya menjadi Indonesia, musik yang dibawakan dari band-band tanah air itu yang membuat saya bangga menjadi warga negara Nusantara dan merasakan bersyukurnya menjadi bagian dari nasion yang sangat kaya dan beragam ini. Di dua festival itu, musik mempersatukan keragaman penonton tanpa memandang latar belakangnya, dan kita semua bisa merasakannya dalam atmosfir penuh kebahagiaan.

 

Dalam format trek dan album, tahun ini kembali dipenuhi dengan segala hingar bingar yang membuat kita terpana penuh keheranan, karena musik sekali lagi menyulap hari-hari kita menjadi sesuatu yang istimewa, tak peduli kita sedang berada di rumah, maupun sedang tenggelam dalam tuntutan pekerjaan, sedang sendiri atau bersama orang-orang yang kita kasihi. Di bawah ini, adalah para trek dan album favorit saya tahun ini yang mengubah dan memberi arti hari-hari saya di tahun 2016 ini.

 

 

Trek:

 

Beat The Ordinary – Elephant Kind

 

Lagu ini adalah sebuah pembuktian bahwa Elephant Kind adalah sebuah unit (indie) pop berbakat yang ada di Indonesia saat ini. Setiap hook-nya menyiratkan keoptimisan masa muda dan harapan bahwa dunia bisa ditaklukkan di bawah kaki mereka tanpa harus menaklukkan siapa pun.

 

 

Aviation – The Last Shadow Puppets

 

Ketika Arctic Monkeys sedang tidak menghibur kita dengan apapun yang mereka rilis, Alex Turner menyibukkan diri dengan sahabatnya Miles Kane sebagai The Last Shadow Puppets. Aviation adalah trek tipikal duo tersebut dengan gitar berefek retro serta lirik yang membuat para wanita turun berdansa dan para pria berdiri terpana mengaguminya.

 

Find Me – Kings of Leon

 

13 tahun sejak Youth & Young Manhood dirilis, Kings Of Leon tetap konsisten memainkan rock americana yang mampu diterima oleh masyarakat arus utama. Find Me adalah nomor yang punya daya tarik karena lick berkesinambungan Matthew Followill terlalu manis untuk dilewatkan dan suara vokal Caleb Followill masih tidak dapat ditolak oleh semua orang yang punya selera bagus dalam bermusik.

 

 

Gimme The Love – Jake Bugg

 

Ini adalah lagu paling terus terang dari Jake Bugg. Menyanyi seakan dirinya adalah rapper paling begundal dan dengan semangat seorang Mike Tyson, Gimme The Love adalah pernyataan seorang artis yang tidak kenal kata takut untuk berevolusi.

 

Like Kids – Suede

 

Salah satu kritikus musik menyebutkan Night Thoughts adalah album di mana Suede menemukan keseimbangan antara sisi gelap Dog Man Star dan keseksian Coming Up. Trek ini mencerminkan yang terakhir, ketika Brett Anderson menjadi androginous sejati diiringi binalnya suara gitar Richard Oakes.

 

Million Eyes – The Coral

 

Setiap kali The Coral mengeluarkan album, setiap kali itu pula saya terpana karenanya. Distance Inbetween adalah sebuah album ajaib, dan trek seperti Million Eyes adalah buktinya. Para sonic scouser itu menukar pop-folk mereka dengan psikedelia berat namun harmonis di lagu itu. Memasuki 14 tahun karir bermusik mereka hal itu adalah sebuah konsekuensi yang sangat logis untuk diambil, sekaligus patut diacungkan jempol sebagai tanda betapa briliannya mereka.

 

Serigala – Indische Party

 

Entah atas alasan apa, menurut saya Analog adalah album yang sangat identik dengan The Velvet Underground dengan Serigala sebagai trek andalannya. Trek  itu membakar semangat, seperti layaknya  seorang pemuda yang akan menerkam dan menaklukkan CBGB di malam menuju Minggu.

 

Threat Of Joy – The Strokes

 

Lagu ini adalah sebuah pertanda bahwa The Strokes masih dapat dengan mudah menciptakan lagu yang sangat melodis seandainya mereka mau sepakat untuk melakukannya. Tanda-tanda akan kecintaan mereka terhadap musik yang mudah dipasarkan seperti waktu mereka menghantarkan Is This It, terdengar dengan gamblang di lagu ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi barometer untuk lagu-lagu mendatang yang akan dikirimkan The Strokes ke planet ini.

 

Candu Baru – Zatkimia

 

Ketika mendengarkan Zatkimia pertama kali di Soundrenaline, saya terhenyak karena melihat sebuah band yang sangat menyegarkan dan tanpa rasa takut menguasai panggung di GWK waktu itu. Band ini adalah pahlawan baru pulau dewata, dengan musik yang kental akan aroma grunge dan rangkaian musik alternative yang kita kenal di tahun 90-an. Walaupun belum mengeluarkan album secara penuh, lagu yang bertemakan kecanduan manusia akan segala piranti digital ini, menjadi semacam pertanda bahwa semesta akan menyertai masa depan band ini.

 

The Journey Starts Tonight – Rumahsakit

 

Anak indie atau bukan, penggemar Rumahsakit atau bukan, lagu ini wajib menjadi soundtrack baru mereka yang sedang kasmaran serta mencintai kehidupan. Daya tarik pop lagu ini terlalu besar dengan lirik yang sangat optimis “’Cause you are so bright And now I’m blinded by The magic in your smile” dan riff gitar apik yang akan membuat kita bersiul bahagia setiap pagi. Jika semuanya tergantung kepada saya, lagu ini seharusnya berada di setiap siaran tv dan radio yang mempromosikan lagu Indonesia, karena ini adalah lagu bagus dan setiap orang harus mengetahuinya.

 

 

Wave – Heals

 

Tradisi bahwa Bandung selalu memproduksi band beraliran shoegaze yang tidak kalah kualitasnya dengan band yang berasal dari Oxford maupun Stockholm dilanjutkan dengan Heals. Merilis beberapa single di tahun ini, dengan Wave adalah salah satunya, Heals adalah badai suara yang tidak dapat dilewati. Kualitas band dan lagu ini terlalu baik, sehingga sudah seharusnya kerajaan shoegaze itu di kudeta, dan ibukotanya dipindahkan ke Bandung.

 

Stunt Queen – Bloc Party

 

Lagu ini adalah definisi Bloc Party MK II, di mana saat mereka bercumbu dengan aroma elektronika tidak menjadikan keluaran band ini menjadi janggal tetapi merupakan sesuatu yang patut dipeluk dan dinikmati. Saya beruntung menyaksikan Bloc Party dengan komposisi personil baru di Bali, September lalu. Yang saya saksikan adalah sebuah band yang kembali menikmati posisinya sebagai salah satu band berpengaruh di dekade lalu dan itu terasa dan terdengar dalam Stunt Queen.

 

Beautiful Thing – The Stone Roses

 

Tahun ini dua kali saya bangun dini hari bukan untuk sepakbola, tetapi untuk mendengarkan pemutaran perdana lagu terbaru dari The Stone Roses. Lagu yang dirilis kedua, seperti judulnya adalah sesuatu yang indah. Jika hiatus panjang itu tidak pernah terjadi, dengan wah-wah yang mendominasi dan hook-hook psikedelik dari John Squire serta vokal biblikal Ian Brown, lagu ini tidak bisa tidak merupakan penerus yang sah dari Fools Gold.

 

Finally First – Beyond The Wizard Sleeve

 

Hentakan drum repetitif itu sukses menghanyutkan kita ke dalam era di mana definisi musik elektronik adalah Chemical Brothers dan Everything But The Girl, serta acid house adalah musik yang kita cintai kala berpesta di pesisir Ibiza pada puncak dekade 90an.

 

Extra Mile – Kimokal

 

Sebenarnya ketukan-ketukan yang mengawali lagu ini terasa janggal ritmenya namun kaki tidak bisa diam untuk berdansa dengannya. Sementara itu vokal Kallula yang meramban otak kita membentuk sebuah halusinasi nyaman dalam alam pikiran. Sesaat kita lupa akan dunia nyata, dan memasuki kemayaan indah versi Kimokal.

 

Identikit – Radiohead

 

“Broken hearts make it rain” kata-kata itu diulang Thom Yorke di lagu ini seperti mantra. Apakah ini lagu patah hati Radiohead yang pertama? Sesungguhnya tidak peduli ini lagu patah hati atau bukan. Dengarkan musik yang mengiringinya; ketukan-ketukan ganjil itu, suara synth yang menghantui ketika Yorke menyanyikan kata-kata di atas dan rentetan gitar yang membentuk klimaks di akhir lagu. Mendengarkan semua itu, kita tahu bahwa Radiohead tetap dan masih sebuah band jenius yang tidak ada tandingannya di abad ini.

 

 

Monumen – The Trees and The Wild

 

The Trees and The Wild benar-benar membangun sebuah monumen yang dilapisi tembok-tembok suara menakjubkan di lagu ini. Ia seperti ledakan emosi paling hebat dalam tubuhmu dengan vokal yang menghantui, hentakan drum yang konsisten mendeterminasi jiwa dan serangan gitar penuh dengan efek yang menyeruak dan berkoloni di dalam alam pikiran.

 

Merdeka – Efek Rumah Kaca

 

Efek Rumah Kaca merilis single mereka ini menjelang hari kemerdekaan RI yang ke 71. Sungguh, saat mendengarkan Efek Rumah Kaca, salah satunya melalui lagu ini, kita selalu diingatkan terus menerus akan makna menjadi manusia seutuhnya dan menjadi Indonesia sepenuhnya. Lagu ini adalah sebuah harapan.  

 

Pekerja – Bangkutaman

 

Lagu latar buat para pekerja-pekerja di metropolis Nusantara. Memang perjalanan menuju dan dari tempat bekerja bisa saja berbuat kejam kepada kita. Tuntutan atasan dan pekerjaan bisa membuat lupa bahwa kita seorang manusia. Lagu dengan nuansa folk ini mengingatkan kita bahwa sesekali tidak ada salahnya menghela nafas sesaat dan menjadi rileks sejenak, sebelum meneruskan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

 

Modern Soul – James Blake

 

Menjelang tengah malam dan jam-jam setelahnya adalah waktu yang tepat untuk mendengarkan musik James Blake, tak terkecuali lagu ini. Musiknya akan menyelimuti kita dengan kegundahan yang menyenangkan, ia akan mengambil porsi kekuatiran yang dibawa oleh kegelapan malam, sambil memberi sedikit nyawa kepada fajar yang sebentar lagi akan datang.

 

Cahaya – Tulus

 

“Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya, aku pastikan jalanmu terang”, begitulah janji Tulus kepada kita. Di tahun  2016 ini, bintang penyanyi yang satu ini masih bersinar terang benderang, dan turut bercahaya bersamanya adalah segenap planet pop tanah air.

 

 

Album:

 

Zaman, Zaman – The Trees & The Wild

 

Sesungguhnya dan secara instan album kedua The Trees & The Wild ini adalah sebuah candu yang takkan habis masa pengaruhnya setelah lama didengarkan. Siapapun yang beruntung pernah menyaksikan penampilan band ini secara langsung di tahun yang penting bagi mereka ini, akan merasa pengar musikalis untuk waktu yang berkepanjangan setelahnya. Karena seperti albumnya, mereka telah memberikan sesuatu yang terlalu atmosferik untuk dilepaskan, magis dan monumental sekaligus.

 

A Moon Shaped Pool – Radiohead

 

Album brilian dan menghantui sanubari yang mendeskripsikan Radiohead dalam fase terbaiknya. Mungkin mereka tidak lagi membuat sebuah opera rock seperti Paranoid Android, ataupun mengantarkan trek bernuansa Stanley Kubrick seperti Idioteque, namun silahkan dengarkan Daydreaming dan Identikit, keduanya adalah bagian dari keajaiban yang hanya dapat dihantarkan oleh Radiohead.

 

Analog  – Indische Party

 

Mendengarkan album ini, pikiran lantas teringat kepada New York, Velvet Underground serta musik latar mini seri HBO Vinyl, dan itu adalah sebuah komplimen! Mendengarkan Babe You Got A Hold On Me Somehow seperti mendengarkan Lou Reed sedang berkontemplasi, vokal Tika Pramesti di Ingin Dekatmu mengalun adem dan mengingatkan akan keseksian Nico, sedangkan Serigala mempersiapkanmu menerkam malam minggu paling liar di CBGB!!!

 

Distance Inbetween – The Coral

 

Tidak ada yang berani memperkirakan bahwa The Coral masih sanggup mengeluarkan album, dan betapa sungguh dasyhatnya gelombang yang dikirimkan oleh Distance Inbetween. Serangan-serangan psikedelia kelas berat bertubi-tubi dipancarkan album ini dalam lagu seperti Chasing The Tail Of A Dream maupun Million Eyes. Selayaknya pembaruan yang telah dilakukan oleh seorang Juergen Klopp dalam tubuh tim bola merah kota asal band tersebut, sudah saatnya pula kita balik percaya bahwa The Coral telah kembali dan merestorasi kejayaan mereka.

 

The Soft Bounce – Beyond The Wizard Sleeve

 

Beyond The Wizard Sleeve adalah sebuah kursus bagaimana membuat musik elektronik terdengar sangat organik, dengan mencampurkan elemen psikedelia dan acid house. Ada elemen nostalgia tahun 90-an di sana, mendengarkan album ini seperti mendengarkan The Chemical Brothers dicampur oleh Everything But The Girl yang sedang diet mayo. Jika tidak percaya dengarkan saja Diagram Girl, Creation ataupun hantaman drum penuh ekstase itu dalam Finally First.

 

O – Kimokal

 

Kimokal adalah bukti bahwa geliat musik (indie) Indonesia tidak melulu harus menampilkan gitar sebagai senjata utamanya. Dibalut dengan untaian bit elektronika dan sentuhan post-dubstep, album debut mereka O akan memberikan abstraksi multi warna ketika kita mendengarkannya. Kadang bayangan itu tentang kilau lampu ibukota yang mempesona, kadang tentang sebuah metropolis entah di mana yang memanggil kita untuk berdansa.

 

Walls – Kings Of Leon

 

Setelah album ini dirilis, segala perdebatan dan perbandingan tentang siapa yang lebih baik dan lebih besar antara Followill bersaudara dan lima pemuda dari New York yang menamakan dirinya The Strokes, sudah dan harus diakhiri untuk selamanya. Jika The Strokes seringkali kehilangan arah antara ingin meneruskan warisan Is This It atau membuka dimensi baru di album-album setelahnya, Kings Of Leon mendirikan dinasti yang dibangun dari setiap rilisannya. Walls adalah buktinya.

 

City J – Elephant Kind

 

Terlepas dari sumpah serapah yang bertebaran dengan joroknya di sudut-sudut album ini, dan lagu-lagu yang dipotong dengan janggal ketika kalian sedang asyik-asyiknya mendengarkan (itu mungkin disengaja demikian), City J adalah karya debut pop yang sangat sukses. Album itu diawali dengan Beat The Ordinary yang menebar harum keadaan indie pop Indonesia 2016, dan kemudian dituntaskan dengan pamungkas dengan trek seperti Montage dan The Saviour.

 

Hymns – Bloc Party

 

Sejujurnya setelah mencintai band ini dengan sangat semenjak pertengahan dekade lalu, saya sempat skeptis menyambut album pertama Bloc Party sepeninggalan Gordon Moakes dan Matt Tong yang digantikan dengan Justin Harris & Louise Bartle. Hymns bukanlah album yang menjatuhkan bom seperti Silent Alarm atau bahkan Four sekalipun, tetapi mendengarkannya seperti bertemu seorang teman lama yang selalu tahu cara mengusir kegundahan dengan cara yang lebih dewasa dan menenangkan. Euforia dekade lalu telah berakhir, dan di tengah waktu yang tak kenal arah ini, Hymns datang sebagai penyembuhan agar kita tetap waras.

 

Night Thoughts – Suede

 

Dengan banjirnya layanan streaming musik termasuk di tanah air ini, tahun ini adalah waktu yang dinyatakan sebagai tahun matinya format album. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Di genre yang lebih dekat dengan arus utama dikatakan Beyonce, Drake dan Kanye menjadi penyelamat format tersebut, sedangkan untuk kita yang terjebak dengan musik dari 2 dekade lalu, Suede menjadi penyelamat dengan merilis Night Thoughts yang dikemas dalam musik yang tidak terputus antar treknya dan bertautan dalam cerita satu sama lain serta didukung oleh sebuah film yang menjadi visualisasi musiknya. Night Thoughts adalah album matang dari Suede yang mengkombinasikan kegelapan Dog Man Star dan keseksian Coming Up dalam album ini. Jika semua band/artis yang reuni setelah bubar memproduksi karya seperti Suede, maka kita semua akan menjadi orang yang lebih bahagia di dunia ini.

 

David Wahyu Hidayat

13
Nov
16

Impresi 2 hari di Soundrenaline Festival 2016

Di awal September lalu, tepatnya pada 3 & 4 September 2016, melalui sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Rolling Stone Indonesia tentang konser terbaik yang pernah disaksikan, saya berkesempatan menyaksikan Soundrenaline Festival setelah terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang kompetisi tersebut. Pemenang lainnya adalah: Tantan Rahmatullah (https://konstelasikata.wordpress.com/) & Adam Muslihat Santika Putra (https://sayabercengkerama.wordpress.com/).

Kami bertiga diberangkatkan oleh Rolling Stone Indonesia dan selama dua hari memiliki pengalaman tak terlupakan menyaksikan festival terbesar negeri ini sekaligus berkenalan sedikit tentang sisi jurnalisme musik dari teman-teman Rolling Stone Indonesia yang menemani kami. Sebagai “reporter tamu” kami pun diberikan pekerjaan rumah untuk menulis liputan dari Soundrenaline 2016. Di bawah ini adalah impresi saya dari dua hari menghadiri festival terbesar Indonesia itu.

kolase-soundrenaline

Liputan saya tentang Soundrenaline 2016 yang dimuat di situs rollingstone.co.id :

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/26/140509678/1093/binar-hidup-bergelora-dalam-balutan-adrenalin-suara-soundrenaline-2016

rolling-stone-indonesia-binar-hidup-bergelora

Liputan dari Adam dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509679/1093/soundrenaline-2016-gagasan-bersejarah-kancah-musik-indonesia

Liputan dari Tantan dapat dilihat di tautan berikut ini:

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/30/140509680/1093/di-bawah-bendera-musik

Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2016 yang menampilkan kami bertiga sebagai pemenang kompetisi menulis tersebut:

rsi-oktober-2016-soundrenaline-2016

David Wahyu Hidayat

11
Okt
16

Sampul album favorit pilihan pribadi

photogrid_1474687482965

 

 

Di dekade yang telah silam, ketika koleksi musik belum berupa untaian megabit di peternakan data yang mengawang di awan ataupun sekumpulan data di ponsel pintar kita, adalah sebuah kepuasan tersendiri memegang sebuah karya musik di tangan. Dalam diri saya, konteks kepuasan mengkoleksi itu awalnya berupa kaset yang kemudian berganti menjadi CD. Rasa pemuasan diri itu dimulai dari saat membuka kotak CD, menaruh piringan plastik yang sebagian besarnya berwarna perak ke dalam pemutar musik pribadi, lalu tenggelam dalam gelombang pemuasan indra: di telinga dengan musik, di hidung dengan bau lembaran sampul album yang sangat khas dan mata dengan karya seni yang ditampilkan pada sampul albumnya.

 

Ya, sampul sebuah album ataupun single berperanan cukup besar dalam diri saya untuk mengenal sebuah band/artis yang saya gilai. Hal itu menjadi pintu gerbang menguak misteri artistik yang dipersembahkan sang artis selain musiknya sendiri. Saya ingat ketika membeli album Dangerous, Michael Jackson dalam bentuk kaset, sebagai salah satu musik yang pertama kali saya konsumsi; puluhan mungkin ratusan jam saya habiskan untuk menatap setiap detil sampul album itu, padahal album itu saya beli dalam bentuk kaset yang besarnya jelas kalah dibandingkan dengan besar layar ponsel pintar yang saya gunakan untuk memulai menulis tulisan ini.

 

Sadar atau tidak sampul album menjadi bagian penting dalam mengkoleksi musik, bahkan di era digital ini, koleksi musik di piranti digital saya wajib memiliki sampul yang benar. Dosa rasanya jika musik tidak disertai gambar muka yang benar. Berangkat dari hal-hal tersebut, di bawah ini adalah 9 dari banyak sampul album yang meninggalkan kesan mendalam pada alam pikiran saya.

 

 screenshot_20160924-101403

 

The Stone Roses – The Stone Roses
Guratan artistik itu, didampingi dengan triwarna bendera Perancis dan 3 buah lemon adalah pembuka jalan saya mengenal Jackson Pollock; Seorang pelukis berpengaruh Amerika dengan gaya abstrak ekspresionis. Nafas sampul album itu melengkapi kesempurnaan debut album band asal Manchester itu. Seperti musiknya ia memberikan aura magis, multi dimensional sekaligus menebarkan keindahan.

 

 screenshot_20160924-101246

 

Pure Saturday – Pure Saturday
Satu hal yang disayangkan dari album ini, baik dari musik maupun wujud fisiknya adalah ia tidak berbekas di era digital ini. Ketika Pure Saturday mengeluarkan album retrospektif mereka, nomor dari album itu direkam ulang dan tidak pernah menyamai keajaiban versi aslinya. Untungnya seorang teman sempat membuat kopi digital album ini dari kaset yang saya miliki, dan siapapun di luar sana mengkonservasi kovernya juga dalam bentuk digital. Melihat mainan kapal api oranye di bawah tulisan Pure Saturday itu, selalu membangkitkan memori balik ke tahun 1996 ketika 5 pemuda asal Bandung memberikan Indonesia sebuah definisi baru: Indie.

 

screenshot_20160924-100115

 

 

Is This It –  The Strokes
Band ini selalu menjadi bayangan ideal tentang New York, segala sesuatu dalam album itu adalah fantasi sempurna saya tentang kota itu. Sampul album yang dalam rilisan di beberapa negara digantikan dengan karya lukisan abstrak karena dianggap terlalu vulgar, bagi saya seperti teropong akan kehidupan di NY. Ia menelanjangi indera dengan pencitraan artistik bokong seorang perempuan, ia bisa dianggap liar dan menggairahkan sekaligus juga ia adalah penerjemahan paling gamblang dari sesuatu bernama “rock ‘n roll” di milenium yang baru.

 

screenshot_20160924-100708

 

Ode Buat Kota – Bangkutaman
Ini adalah salah satu album di mana saya jatuh cinta dari melihat sampulnya saja, sebelum mendengar satu nada pun di album itu. Sampul album ini dengan jalanan protokol Jakarta yang sunyi dan nyaris asri adalah kerinduan akan sebuah kota yang kita cintai, hanya karena kita tinggal di kota itu; sambil berharap bahwa sampul album itu adalah keadaan yang sebenarnya. Ideal, untuk selamanya.

 

screenshot_20160924-100509

 

(What’s The Story) Morning Glory – Oasis
Jika saya anggota sebuah band, dan berhak menentukan sendiri sampul albumnya, maka desain album itu akan seperti desain Brian Cannon untuk 3 album pertama Oasis. Ia dapat menampilkan aura sebuah band dengan sempurna sekaligus menangkap era yang mendefinisikan musik band tersebut. Mungkin ini hanya nostalgia belaka sebagai anak yang tumbuh-kembang di era itu, tapi desain album Oasis dari masa tersebut terutama Morning Glory dengan potret Berwick Street di pagi hari memiliki citra klasik yang tidak akan punah dimakan waktu.

 

screenshot_20160924-100404

 

A Weekend In The City – Bloc Party
Sampul hasil karya fotografer Jerman Rut Blees Luxemburg ini adalah penerjemahan sempurna dari judul album kedua Bloc Party, A Weekend In The City. Kota di sampul album itu boleh saja adalah London, namun foto itu berbicara kepada semua orang yang mendengarkan album itu terlepas ia tinggal di London atau tidak. Jalan layang itu, lapangan sepakbola itu; semuanya terlihat begitu tenang sebelum datangnya akhir pekan menakjubkan yang akan menggulung jiwa dan pikiran.

 

screenshot_20160924-100327

 

Kasabian – Kasabian
Tampak depan sebuah album, selain musiknya sendiri, adalah pernyataan pertama sebuah band terhadap jatidiri mereka, dan itu yang terpampang pada sampul debut album Kasabian. Saya suka sekali dengan sampul album itu, karena terlihat berbahaya sekaligus misterius seperti seorang demonstran yang hendak menantang tatanan kemapanan. Persis seperti itulah Kasabian, dan saya pun takluk kepada mereka.

 

screenshot_20160924-095354

Whatever People Say I am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys
Hype dan hype adalah yang mengawali eksistensi Arctic Monkeys. Saya sempat skeptis mulanya terhadap band ini. Namun kemudian saya mendengar musiknya dan semuanya terjustifikasi. Pria merokok yang ada di sampul album ini (konon adalah seorang teman band tersebut) adalah personifikasi keresahan sebuah generasi, katakanlah itu generasi milenium, di britania khususnya. Sampul itu cocok dengan segala yang dinyanyikan Turner di album itu, dan seperti musiknya ia memberikan pernyataan bahwa Arctic Monkeys sudah hadir dan mereka adalah band terbesar Inggris saat ini setelah Oasis.

 

screenshot_20160924-100549

 

Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band – The Beatles
Pertama kali melihat sampul album ini, saya dengan seru menelusuri satu-persatu tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Pengalaman melihat tokoh-tokoh seperti Bob Dylan, Oscar Wilde, Marilyn Monroe maupun Marlene Dietrich di sampul album it seperti berada dalam sebuah sirkus publik figur paling berpengaruh planet ini. Musiknya pun terasa seperti itu. Memperdebatkan mana sampul album The Beatles terbaik (apakah seharusnya Revolver yang ada di posisi itu) akan sama panjangnya seperti meributkan mana album The Beatles terbaik (favorit saya tetap The White Album). Tidak penting sebenarnya memusingkan hal itu, yang penting adalah menenggelamkan diri ke dalam musik band paling berpengaruh sepanjang masa ini dan menjadi bahagia karenanya.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

Tulisan ini diinspirasi setelah saya membaca artikel serupa di The Guardian beberapa pekan yang lalu.

 

The greatest record sleeves – as chosen by the designers:

http://www.theguardian.com/artanddesign/2016/sep/22/the-greatest-record-sleeves-as-chosen-by-the-designers?CMP=Share_AndroidApp_Copy_to_clipboard

 

14
Feb
15

Panduan Pemula: Bloc Party

Panduan Pemula - Bloc Party

 

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca artikel-artikel lama di Guardian di mana tajuk artikel tersebut adalah Beginner’s Guide to [Nama artis/band]. Saya tertarik dengan ide artikel tersebut yang memperkenalkan sebuah band untuk khalayak yang mungkin belum mengenal atau sangat minim mengetahui karya-karya band tersebut dengan membuat daftar 10 lagu dari keseluruhan karya mereka. Terinspirasi dari artikel tersebut, saya mencoba untuk membuat artikel yang sama, dimulai dengan Bloc Party.

 

Band asal London tersebut merilis debut album mereka Silent Alarm tepat 10 tahun yang lalu. Album tersebut kemudian menjadi salah satu album penting di dekade ’00. Sulit memang menjustifikasi keseluruhan karir sebuah band dengan hanya 10 lagu, tetapi saya mencoba memilih lagu dari setiap album ditambah 1 atau 2 b-side. Jika kalian tidak menemukan Banquet atau Helicopter di daftar ini, tidak perlu kuatir karena dengan 10 lagu yang ada di sini, menyukai Banquet atau Helicopter adalah konsekuensi logis yang datang setelahnya. Jika bertanya mengapa setengah dari lagu-lagunya datang dari Silent Alarm, jawabannya adalah karena setelah 10 tahun album tersebut masih tetap relevan dan tapal batu dekade yang lalu. Dan Silent Alarm adalah sebuah perayaan.

 

Panduan Pemula: Bloc Party

So Here We Are (dari album Silent Alarm):
Gema yg datang dari petikan gitar itu terlalu mengawang untuk ditolak oleh telinga kita. Kita tidak bisa mendefinisikan band ini, terlalu di luar arus untuk menjadi U2, terlalu sederhana untuk menjadi Coldplay. Inilah pelajaran pertama indie pop ala Bloc party

 

The Marshals Are Dead (dari single She’s Hearing Voices/Bloc Party EP/So Here We Are):
Attention/Unbelievers/Fashion Victims/Opportunities/Blood Sport/Cop Killer/Don’t Trust Art/Don’t Trust Culture. Jika bukan pernyataan seni, tidak tahu lagi definisi apa yang harus diberikan untuk lagu ini.

 

She’s Hearing Voices (dari album Silent Alarm):
Sumbu yang meledakkan Bloc Party di awal karirnya ada di lagu ini. Eklektik, eksplosif dan menggairahkan, semuanya bercampur satu di sini. Dan dengar solo gitar Russell di akhir lagu ini; seperti ledakan orgasme yang memuaskan telinga kita.

 

The Prayer (dari album A Weekend In The City):
Pertama kalinya Bloc Party membelokkan arah mereka dengan memasukkan elemen R ‘n’ B dan gegap gempita hip-hop ke lagu ini. Namun mereka menyisakan sebersit solo gitar mumpuni yang menyayat bagai sebersit laser.

 

Ares (dari album Intimacy):
Apakah kita mendengar The Chemical Brothers di awal lagu ini, atau Bloc Party yg sedang menuangkan amarahnya di lagu perang antara music electronic dan gitar indie yang saling berusaha menerkam satu sama lain? Yang jelas lagu ini membuat kita semua menyerah untuk berdansa di bawah raungan sirene.

 

We Are Not Good People (dari album Four):
Salah satu keahlian Bloc Party adalah memainkan riff-riff yang membahayakan jiwa. Hanya saja kali ini tidak dipenuhi alunan delay dan reverb tapi hanya riff-riff yang menghujam ganas, beringas tanpa ampun.

 

Like Eating Glass (dari album Silent Alarm):
Matt Tong adalah seorang monster di balik perangkat drum. Lagu ini mengawali Silent Alarm, dan menghempaskan kita kepada sebuah band brilian yang mendefinisikan dekade ‘00.

 

The Present (dari album amal Help!: A Day In The Life – War Child):
Lapisan lapisan melodi itu, menggulung bagai ombak yang akan membawa kita ke tepian. Di atasnya adalah suara Kele setengah berteriak setengah berkontemplasi dengan nyanyian penuh harapan “.. time is a healer, time will look after you..”

 

This Modern Love (dari album Silent Alarm):
Selain Banquet dan Helicopter, mungkin ini adalah lagu Bloc Party yang paling dikenal massa. Salah satu alasannya mungkin karena lagu ini pernah melatarbelakangi satu skena sebuah sitkom yang juga mendefinisikan dekade ‘00, mengenai sebuah clique di NY dan pencarian seorang istri yang penuh dengan intrik kehidupan modern. Lagu yang tepat untuk era yang tepat, yang mendasari sekian banyak hal untuk diawali dan diakhiri: persahabatan, cinta, kehidupan.

 

Pioneers (dari album Silent Alarm):
Segala tensi positif dari Bloc Party memuncak di lagu ini. Tidak hanya memuncaki Silent Alarm, tapi lagu ini memuncaki awal karir Bloc Party. Dimulai dengan delay gitar yang bersahutan, harmonisasi vokal dilatarbelakangi drum yang mendentum, lagu ini mencapai klimaksnya dengan teriakan “We will not be the last”. Epik.

 

David Wahyu Hidayat

24
Mar
13

Ulasan Konser: Bloc Party – Tennis Indoor Senayan Jakarta, 20 Maret 2013

Bloc Party

Tennis Indoor Senayan, Jakarta

20 Maret 2013

 

Setlist:

So He Begins To Lie, Trojan Horse, Hunting For Witches, Positive Tension, Real Talk, Waiting For The 7.18, Song For Clay (Disappear Here), Banquet, Coliseum, Day Four, One More Chance, Octopus, We Are Not Good People

Encore 1:

Kreuzberg, Ares, This Modern Love, Flux

Encore 2:

Sunday, Like Eating Glass, Helicopter

Bloc Party JKT

Ulasan:

Hari berganti hari, hal-hal di sekitar kita digantikan dengan modernisme fana. Sejak 2005; kita menunggu bahwa segala kemegahan yang ada di “Silent Alarm” boleh disaksikan di hadapan mata kita, menantikan soundtrack kenihilan kehidupan urban dekade “00” di “A Weekend In The City” didengarkan langsung dengan telinga sendiri, merasakan intimasi dalam balutan lagu-lagu “Intimacy” dengan jarak tidak kurang lebih dari 5 meter. Semuanya itu kita tunggu dari tahun 2005, untuk menyaksikan Bloc Party langsung di kota kita sendiri, bersama ribuan fans lainnya. Hiatus yang terjadi sejak akhir 2009 tidak menolong itu semua akan menjadi kenyataan. Tapi puji pada pencipta langit, darat dan lautan, band tersebut menelurkan “Four” tahun lalu, dan penantian 8 tahun itu berakhir pada 20 Maret 2013.

The Adams live at BlocPartyJKT

Pakaian yang kita kenakan masih terasa lembab akibat hujan yang mengguyur Senayan malam itu, ketika kita mendapatkan perlakuan menyenangkan lainnya, sebelum Bloc Party mengambil alih panggung Tennis Indoor Senayan. The Adams, band yang hampir mengukuhkan dirinya sebagai band mitos, tampil malam itu sebagai band pembuka. Lupakan sejenak kalau mereka terasa kaku setelah lama tidak mencicipi panggung ibukota, atau bentuk ruangan Tennis Indoor yang terkutuk untuk selalu menghadirkan suara yang tidak maksimal. The Adams yang malam itu membawakan lagu-lagu indie favorit seperti “Waiting”, “Konservatif” dan “Hallo Beni” adalah sesuatu yang menghangatkan udara sejuk Jakarta malam itu. Senang melihat mereka kembali ke atas panggung setelah sekian lama.

Lepas pukul 22:00, diiringi lagu yang terdengar seperti soundtrack “The Dark Knight Rises”, hadirlah 4 sosok yang dinantikan itu: Matt Tong, Gordon Moakes, Russell Lissack dan Kele yang malam itu berbalutkan kaus hitam bertuliskan “Support Your Local Artist”. Dengan instan, berakhir pulalah penantian 8 tahun di bawah riuh rendah suara penonton di Tennis Indoor. Set mereka diawali dengan gebrakan sunyi “So He Begins To Lie”, yang berubah menjadi liar ketika gitar Russell, bas Gordy dan gebukan maha dashyat Matt  meledakkan erupsi di akhir lagu. Lagu berikutnya adalah sesuatu yang tidak diduga, karena mereka kemudian memainkan “Trojan Horse”. Dengan tempo yang sedikit lebih lambat dari versi studionya, lagu ini mulai menunjukkan supremasi gitar seorang Russell Lissack.

Bloc Party Live At Tennis Indoor Senayan Jakarta - 1

Dari situ suasana pesta menguasai Tennis Indoor Senayan, karena Bloc Party kemudian memainkan “Hunting For Witches” dan “Positive Tension”. Didukung pencahayaan yang sempurna dan suara yang brilian mereka memborbardir kita dengan ketajaman sonik suara gitar, bas dan drum yang berpadu secara epik di “Hunting For Witches”, dan tanpa sempat membiarkan kita bernafas mereka menyambungnya dengan “Positive Tension”, diawali dengan teriakan Kele yang hari itu ada dalam penampilan vokal terbaiknya. Ketika ia meneriakkan “Something Glorious Is About To Happen” tidak ada orang yang di ruangan itu yang tidak percaya kepadanya, karena malam itu sebuah keagungan berjaya untuk selama-lamanya.

Selang mereka memainkan “Real Talk” yang menurunkan suhu sedikit saja di Tennis Indoor malam itu, Gordy memainkan glockenspiel-nya yang menjadi tanda dari intro “Waiting For 7.18”. Lagu ini kemudian diteruskan dengan “Song For Clay (Disappear Here)”, lagu ini adalah pelepasan mereka yang resah terhadap generasi orangtuanya yang hidup di tahun 80-an, dan orang-orang yang merindukan korupsi di jaman keemasaannya yang disimbolkan dengan Kele waktu menyanyikan “Live the dreams like the eighties never happened…how we longed for corruption in these golden years”. “Banquet” kemudian menyambung tanpa jeda, dan lagu generasi “00” ini meledak, membuat Tennis Indoor bagaikan terkena gempa bumi lokal karena keseluruhan manusia di dalamnya baik yang berada di atas tribun dan di arena festival, melompat naik turun berdansa dengan Bloc Party.

Tidak hanya nomor-nomor lama yang disambut dengan gegap-gempita oleh hadirin Jakarta, lagu-lagu dari album “Four” yang mereka mainkan malam itu juga dapat direspon dengan baik. Dimulai dari “Coliseum” yang diawali Russell dengan ritem gitar americana dari Gibson SG putihnya, yang lalu berubah menjadi ganas di akhir lagu, “Day Four” yang menobatkan Bloc Party sebagai salah satu band yang selalu handal bermain dengan perasaan kecintaan akan kota yang kita tinggali, ataupun “Octopus” yang diterjemahkan dengan baik malam itu, terlebih ketika jari-jari Russell memainkan solo lagu tersebut seperti layaknya seorang virtuso gitar sejati.

Setelah lagu tersebut Russell kembali mengambil Gibson SG putihnya, lalu mereka meluncurkan “We Are Not Good  People”, dan Bloc Party pun berubah bagaikan band metal yang terlepas dari kendalinya, ditambah lagi dengan gebukan drum Matt yang bertubi-tubi seperti gelombang tsunami indie terhebat yang pernah menghantam Jakarta. Lagu itu pula yang menandakan berakhirnya set utama mereka malam itu.

“Kreuzberg” mengawali encore pertama mereka malam itu. Dengan versi yang boleh dibilang melucuti versi aslinya, lagu itu terdengar menyejukkan, menghanyutkan setelah dibanjiri dengan ekstase di set utama Bloc Party. Tetapi hanya sampai lagu tersebut saja ketenangan itu dapat dinikmati. Karena “Ares” menyusulnya dan lagu itu seperti sebuah panggilan perang, dengan serangan gitar Russell yang merobek keheningan dan teriakan Kele untuk berdansa di bawah iringan sirene bernama “Ares” dan publik Tennis Indoor pun mengikutinya dengan taat.

Bloc Party Live At Tennis Indoor Senayan Jakarta - 2

Lalu, momen yang mungkin paling ditunggu-tunggu fans Bloc Party selama 8 tahun pun tiba, ketika Kele mengganti gitarnya dengan sebuah Gretsch Tenesse Rose berwarna merah cherry. Dengan gitar itu ia mengawali intro “This Modern Love” dan penonton pun kembali meledakkan emosinya. Ini adalah bukti mengapa Bloc Party menjadi band indie paling hebat selama 10 tahun terakhir, karena mereka bukan hanya dapat memainkan lagu-lagu penuh ekstase tapi dapat juga menampilkan sisi popnya dalam lagu seperti “This Modern Love”. Sisi pop itu ditampilkan kembali dalam “Flux”. Diawali dengan intro yang diambil dari lagu Rihanna “We Found Love”, lagu tersebut berhasil membuat koor massal orang-orang di Tennis Indoor, dan membuat “Flux” menjadi sebuah nomor klasik Bloc Party, dan itu menjadikannya lagu terakhir yang mereka mainkan di encore pertama.

Kemudian, kita publik Jakarta yang beruntung ini, dihadiahi sebuah kejutan ketika Bloc Party memasuki encore-nya yang kedua. Dalam setlist asli mereka tertera “Ratchet” dan “Truth” sebagai lagu yang seharusnya dimainkan. Tetapi begitu Kele kembali di atas panggung, ia mengatakan “This one is for your hangover tomorrow morning”, dan dimulailah “Sunday”. Di tengah dentuman drum Matt, permainan gitar Russell yang menusuk pelan tapi pasti, Rabu malam itu berubah menjadi Minggu pagi yang menenangkan dikelilingi orang yang kita cintai. Lalu, ketika lagu itu usai, satu persatu seperti berbaris kejutan kedua datang. Diawali dengan delay gitar Kele dan Russell, lalu gebukan drum Matt yang bermain seperti monster, dan bas Gordy yang membuat semuanya menjadi solid, “Like Eating Glass” pun dimainkan. Dan itu adalah sebuah prelude dari klimaks sebuah malam yang fantastik. Malam yang luar biasa itu diakhiri dengan luapan kebahagiaan semua orang di gedung Tennis Indoor Senayan; yang lupa diri melompat atas-bawah, kiri-kanan, bermain dengan 2 kubus plastik raksasa yang dilemparkan dari atas panggung, muka tersenyum puas, mulut berteriak berbalasan dengan lagu yang dinyanyikan, hati diliputi kebahagiaan tanpa batas. Dan dari atas panggung, dengan penuh kemajestikan, Matt, Gordy, Russell dan Kele memainkan lagu yang paling mendefinisikan karir mereka, “Helicopter”. Tuhan memberkati mereka, Tuhan memberkati Bloc Party.

David Wahyu Hidayat

06
Sep
12

Album Review: Bloc Party – Four

 

Bloc Party

Four

Frenchkiss – 2012

 

Dalam budaya tertentu angka empat melambangkan kematian, seringkali angka tersebut tidak akan nampak dalam kehidupan sehari-hari, tidak dalam nomor lantai, tidak dalam penentuan tanggal penting seperti pernikahan, ataupun hal kecil seperti pemilihan nomor punggung seorang atlet. Namun untuk Bloc Party, angka tersebut seperti angka yang sakral. “Four” adalah judul album keempat mereka, setelah 4 tahun berada dalam hiatus, dengan mempertahankan 4 anggota yang sama, bahkan hanya 4 album yang didengarkan Kele Okereke dalam proses pembuatan album ini, yaitu: Deftones’ White Pony, Led Zeppelin IV (menyadari paralel ini?), Nicky Minaj’s mix tape Beam Me Up Scotty dan Al Green’s Greatest Hits.

 

“Four” membawa perubahan drastis dalam musik Bloc Party. Atau seperti Kele ungkapkan ketika diwawancara di sela-sela pagelaran Melt Festival tahun ini, “Four” akan membawa pendengar band ini ke arah yang sama sekali berlawanan dari 3 album mereka sebelumnya. Singkatnya, jika diibaratkan sebuah hubungan persaudaraan, dibandingkan dengan 3 pendahulunya, “Four” adalah seorang anak durhaka.

 

Dan itu dibuktikan dengan kelas dan presisi sonik yang keterlaluan ampuhnya. Dimulai dari “So He Begins To Lie”, band ini terdengar berbeda namun menyegarkan. Hilang sudah suara delay dan reverb yang menjadi ciri khas Russel, yang ada adalah riff tebal dan berat mengelilingi suara Kele dengan drum Tong yang seperti kalap setelah 4 tahun tidak bermain bersama Bloc Party. “3×3” menvisualisasikan duel gitar menyayat-nyayat, seperti Zorro sedang berduel dengan Aragon menggunakan light sabre.

 

Single pertama dari album ini “Octopus” menyempurnakan suara laser yang diciptakan gitar Russel pada “The Prayer”. Rumus yang sama diterapkan pada “Team A” yang seakan seperti saudara kembar dari “Octopus” dilengkapi dengan solo gitar terlayak dari seorang Russel Lissack. Sedangkan di penghujung “Real Talk” kita akan merasakan aroma OK Computer dengan lentingan gitar yang menghipnotis berulang-ulang.

 

Pengaruh Kele mendengarkan Deftones’ White Pony mulai terasa efeknya dalam “Kettling” ataupun “Coliseum” yang diawali dengan ritem gitar ala americana namun seketika berubah menjadi hujaman gitar seperti sebuah senapan mesin memburu teroris, sehabis Kele meneriakkan “The empire never ended”. Kemudian lagu yang memungkasi album ini “We Are Not Good People” seperti memberikan pesan bahwa Bloc Party telah berubah menjadi monster yang tidak hanya mengacak-ngacak klab indie dengan lagu dansa elektropunk yang kita kenal selama ini, tetapi juga dengan riff gitar terbangsat seperti yang pernah kalian dengar dari band alternative/metal tahun 90-an.

 

Di antara semua serbuan maut tersebut, terdapat nomor-nomor yang menetralkan polar seperti “Day Four” yang mengenangkan kita akan sebersit “So Here We Are” dari Silent Alarm, dan “The Healing” di mana Kele dengan indahnya memberikan sentuhan falsetto menyanyikan “Just shut the devil out/Let these arms embrace/You know I’m down/You will heal”. Sementara “V.A.L.I.S” dan “Truth” merupakan prasasti peninggalan 3 album sebelumnya dengan suara gitar yang jauh lebih ringan dan sesekali terdengar seperti keturunan ketujuh hasil perkawinan silang “Banquet” dari Silent Alarm dan “Ion Square” dari Intimacy.

 

Perubahan seringkali tidak menyenangkan. Buat yang terbiasa dengan suara Bloc Party dalam Silent Alarm, mungkin tidak akan menyukai album ini. Yang berhasrat untuk mendengarkan single-single melodik di album ini, akan kecewa, karena album ini hanya berfungsi ketika didengarkan secara keseluruhan bukan track per track. Tetapi  yang mengharapkan bahwa band ini masih mempunyai dinamit, untuk sekali lagi meledakkan dirinya, tidak ada yang lebih baik daripada mendapatkan album ini, karena “Four” adalah sebuah kemenangan. Sekali lagi Bloc Party datang untuk menghempaskan segala yang kita kenal dari mereka.

 

David Wahyu Hidayat

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.




Februari 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Categories

Blog Stats

  • 138,718 hits