Archive for the 'MixTape' Category

19
Apr
15

SupersonicSounds’ MixTape Series: The Songs That Saved Our Lives

https://8tracks.com/supersonicsounds/songs-that-saved-our-lives

Supersonic Sounds’ MixTape Series: Songs That Saved Our Lives

Selain kepercayaan yang kita anut masing-masing, kita semua diselamatkan dari kepenatan kehidupan ini dengan cara-cara lain yang unik. Bagi saya hal itu adalah musik. Ketika merasa bahwa tidak ada lagi yang akan berfungsi di kehidupan ini, atau saat kita merasa paling bahagia, musik selalu ada di sana untuk mengiringi kita.

Berbagai cara dilakukan manusia untuk menikmati musik. Beberapa orang cukup dengan koleksi digital bagaimanapun cara mereka memperolehnya. Sebagian orang lagi mengoleksi rilisan fisik tanpa mempedulikan biayanya. Sebagian besar dari kita mengikuti band favorit kita dan menyaksikannya jika waktu dan tempat mengijinkan.

Dalam langkah kehidupan saya, saya cukup beruntung dapat menyaksikan pahlawan-pahlawan musikalis saya. Ketika menyaksikan band-band tersebut seringkali saya terkesima, seringkali saya kagum, tetapi setiap saat saya bersyukur. Bersyukur karena mereka boleh hadir dalam kehidupan kita, dan saya boleh diberikan kesempatan sang empunya langit untuk menikmati mereka secara langsung.

Tulisan ini, sekedar membagi pengalaman saya tersebut. Mixtape yang mengiringi tulisan ini diharapkan mampu menjustifikasi bayangan latar belakang di kepala kalian ketika membacanya. Mixtape ini diambil dari beberap bootleg band-band tersebut. Lokasi di mana bootleg tersebut direkam, ada di keterangan dalam tanda kurung setelah judul lagu, di bawahnya adalah keterangan di mana saya boleh menyaksikan mereka. Di beberapa kesempatan saya cukup beruntung, karena konser yang saya lihat juga terdapat bootlegnya dari konser yang sama (Pearl Jam, Kasabian, Kings of Convenience). Jika kualitas bootlegnya beragam, karena tidak semua didapatkan dalam kualitas soundboard tetapi mudah-mudahan itu semua tidak terlalu mengganggu.

Selamat mendengarkan dan membaca, tidak lupa saya ucapkan Happy Record Store Day!

1. Phoenix – Funky Squaredance (Live at Rockefeller, Oslo 2004)

Disaksikan di: Cologne Tanzbrunnen 2004 – 2 kesempatan, Bengkel Jakarta 2009

Saya mau membuat pengakuan. Jika pacar saya waktu itu tidak memaksa saya untuk menemaninya nonton Dido, mungkin saya tidak akan pernah menonton Phoenix. Karena entah untuk alasan aneh yang tidak bisa dimengerti, band asal Perancis tersebut didaulat menjadi band pembuka perempuan manis asal London tersebut. Menyaksikan Phoenix adalah sebuah pencerahan, mereka adalah band yang sangat kompak dan solid, sepertinya komunikasi antara anggota band tersebut terjadi melalui instrumennya dan tanpa kata-kata. Terlebih Thomas Mars adalah seorang vokalis yang bukan hanya memukau kaum hawa tetapi juga membuat kagum pria-pria yang menyaksikannya. Setelah konser tersebut untungnya saya masih dua kali lagi berkesempatan berdansa bersama Phoenix: sekali di Koeln di tempat yang sama, sekali di Jakarta; kalau tidak mungkin saya akan selalu mengasosiasikan Phoenix dengan Dido.

2. Doves – Pounding (Live at Eden Session, 2010)

Disaksikan di: Stahlwerk Duesseldorf 2002

Sepopuler apapun Doves di tanah Inggris, di belahan dunia lainnya mereka tetap adalah underdog. Saya beruntung sempat menyaksikan mereka di sebuah malam musim gugur yang lembab dan dingin di Duesseldorf pada 2002. Mereka sangat eksplosif dan dengan nada-nada eterealnya sanggup mengangkat kaki kita menjauhi lantai arena konser itu. Yang mengagumkan dari hal tersebut, suara-suara itu hanya dihasilkan oleh 3 orang anggota band: Si kembar Williams dan Jimi Goodwin ditambah dengan satu kibordis. Mendengarkan keseluruhan karya Doves adalah sebuah pelepasan, dan musik mereka adalah bagian penting dari kehidupan saya di dekade yang silam.

3. Kasabian – LSF (Live at Prime Club, Cologne 2005)

Disaksikan di: Rex Theatre Wuppertal 2005, Prime Club Cologne 2005

Adalah sebuah hal menyenangkan menyaksikan sebuah band baru yang datang dengan musik penuh gairah dan pernyataan. Saya 2 kali berkesempatan menyaksikan Kasabian di 2 buah klub kecil pada tur yang mempromosikan debut album mereka. Melihat Tom Meighan dalam tur tersebut seperti melihat perpaduan antara kharisma Richard Ashcroft dan swagger seorang Ian Brown muda. Dalam 2 konser yang kapasitasnya tidak lebih dari 200 orang itu, saya menyaksikan sebuah band penuh ambisi, dan itu semua kemudian menjadi kenyataan ketika Kasabian selalu membuat penuh stadion dan arena Eropa dalam setiap konser mereka.

4. Suede – Metal Mickey (Live at Brixton Academy, 2011)

Disaksikan di: Koenig-Pilsener Arena Oberhausen 1998, Stahlwerk Duesseldorf 2002, JIEXPO Jakarta 2011

Keterkaguman saya terhadap Suede sebenarnya cukup absurd, tidak peduli di tahun berapa Suede melakukan konser, entah itu di tengah-tengah kegilaan sesuatu bertajuk britpop, ataupun bertahun-tahun setelahnya, dalam konser mereka saya selalu merasakan bahwa mereka merupakan simbolisasi hedonisme seksi yang tertuang dalam dansa Brett Anderson dan raungan gitar Richard Oakes yang mencakar tiap penonton di pinggiran panggung. Suede adalah kontra dari budaya ladism Oasis dan pop intelek dari Blur, dan mungkin karena itu saya selalu menyukai mereka.

5. Bloc Party – She’s Hearing Voices (Live at Bristol Academy, 2007)

Disaksikan di: Live Music Hall Cologne 2005, EinsLive Koenigstreffen Herzogenrath 2005, Tennis Indoor Jakarta 2013

Waktu pertama kali mendengarkan Kasabian, saya pikir inilah jawaban musik saya di dekade ’00. Lalu saya mendengarkan Bloc Party dan itu mengubah segalanya. Saya pertama kali menyaksikan Bloc Party dalam tur Silent Alarm. Bloc Party yang saya saksikan waktu itu adalah band yang penuh dengan trik pada pedal efek mereka, angular art rock yang seperti ombak menggulung akal pikiran kita. Sejak album dan konser pertama itu, Bloc Party adalah soundtrack dekade yang telah lalu. 8 tahun berikutnya, dikelilingi oleh orang-orang seperti istri dan sahabat saya yang saya racuni dengan sadar musik dari Bloc Party, saya menyaksikan mereka lagi di atas panggung ibukota. Dan tidak ada yang lebih baik dari perasaan mendengarkan gulungan ombak itu kembali di tengah-tengah dekapan kota kita sendiri.

6. Muse – Plug In Baby (Live at Glastonbury Festival, 2004)

Disaksikan di: Westfallenhalle Dortmund 2000, Rock am Ring 2000, Istora Jakarta 2007

Masih ingat hujan lebat yang mengiringi perjalanan ke Istora untuk menghadiri konser Muse di tahun 2007 itu? Masih ingat ketika Matt Bellamy seperti seorang profesor gila menyayat gitarnya dengan penuh keyakinan pada setiap lagunya malam itu? Masih ingat ketika semua orang yang menghadiri konser itu histeris menyaksikan penampilan Muse lagu demi lagu? Masih ingat hentakan drum dan detail pada piano yang membuat konser itu adalah konser terbaik yang pernah didengar Jakarta dari segi tata suara sampai pada saat itu? Di Istora, tahun 2007 kita menyaksikan salah satu penampilan Muse yang terbaik. Menurut saya, entah kalian semua mau berpendapat apa.

7. Pearl Jam – Alive (Live at Rock am Ring, 2000)

Disaksikan di: Rock am Ring 2000

Sejak saya mendapatkan sebuah mixtape berisikan lagu-lagu Pearl Jam di pertengahan tahun 90-an, adalah sebuah impian untuk menyaksikan band tersebut secara langsung. Ketika diumumkan bahwa mereka akan main di Rock am Ring tahun 2000, saya yang waktu itu berkesempatan kuliah di Jerman tanpa ragu-ragu membeli tiketnya pada kesempatan pertama. Walaupun teman yang berjanji menemani saya ke festival itu membatalkan niatnya, saya tidak pantang mundur. Berbekal tenda pinjaman, tiket di tangan dan sejuta harapan akan menyaksikan Pearl Jam langsung, saya pergi ke festival itu seorang diri. Pearl Jam memuncaki festival itu di hari pertama, dan betapa panjangnya hari itu terasa. Sore pun lalu, Oasis yang sedang dalam fase tanpa Noel, tampil sebelum mereka. Aneh menyaksikan Oasis tanpa Noel, dan lebih aneh lagi 85.000 orang yang ada di sana seperti tidak peduli, hanya saya dan sepasang orang Jepang di depan saya yang loncat-loncat seperti orang gila diiringi Roll With It. Sisanya berteriak “Pearl Jam, Pearl Jam” mendaulat band tersebut untuk muncul di atas panggung. Lalu penantian itu berakhir. Diiringi kilat dan guntur di belakang kita, mereka pun berdiri di atas panggung: Ed, Jeff, Mike, Stone dan Matt. Ketika Alive dimainkan, rasanya seperti ingin menangis terharu. Bagi saya lagu tersebut dimainkan dengan penuh kesempurnaan malam itu, Mike bahkan memainkan solonya dengan mengangkat gitar ke balik kepalanya. Pearl Jam kemudian merilisi seri bootleg mereka pada tur itu, dan saya pun memiliki dokumenter ofisial dari sebuah salah satu konser terbaik yang pernah saya hadiri.

8. Morrissey – First Of The Gang To Die (Live at Earls Court, 2005)

Disaksikan di: Tennis Indoor Jakarta 2012

Jika Morrissey tidak pernah konser di Jakarta, mungkin saya tidak pernah akan memaafkan diri saya karena melewatkan kesempatan menyaksikan dirinya ketika memiliki kesempatan itu pada masa kuliah saya di Jerman. Untungnya, ia lalu datang ke Jakarta, dan selamatlah saya dari penyesalan itu. Tidak peduli, banyak yang bilang kondisinya sudah tidak lagi seperti dulu, bahwa ia sudah menjadi seorang yang penuh kesinisan dan kepahitan akan dunia sekeliling, bahwa setlist yang dibawakan di Jakarta malam itu tidak sesolid yang diinginkan banyak orang. Tetapi Morrissey adalah Morrissey, yang menyelamatkan diri dari kekikukan masa muda dan pada sebuah malam tahun 2012 di Tennis Indoor, ia kembali menyelamatkan saya.

9. Kings Of Convenience – I’d Rather Dance With You (Live at Collegium Leoninum, Bonn, 2004)

Disaksikan di: Collegium Leoninum Bonn 2004, Zakk Duesseldorf 2004, Upper Room Jakarta 2006, Pacific Place Jakarta 2010

Mengapa saya bisa sampai empat kali menyaksikan Kings of Convenience sampai hari ini tetap merupakan misteri bagi diri saya. Tetapi yang jelas, tiap kali menyaksikan mereka kita masuk ke dalam dunia ketenangan yang diciptakan Eirik dan Erlend. Paling berkesan adalah ketika saya menyaksikan mereka untuk pertama kalinya di dalam rangkaian tur mempromosikan album kedua mereka. Konser itu direkam langsung oleh sebuah radio regional. Tempat konsernya adalah sebuah gereja yang dialihfungsikan menjadi tempat pelaksanaan budaya. Menyaksikan Eirik dan Erlend malam itu sambil duduk termenung di gereja semi modern itu menimbulkan kesan intim. Dan entah karena pengaruh ruangan gereja, atau pengaruh lainnya, kedua gitar akustik itu begitu merasuk ke dalam jiwa dan pikiran, memberikan kesejukan.

10. Vampire Weekend – Giving Up the Gun (Live at Bonnaroo Festival, 2014)

Disaksikan di: Bengkel Jakarta 2010

Menyaksikan Vampire Weekend di Bengkel, Jakarta pada tahun 2010 adalah bukti bahwa tempat itu sebenarnya bisa menjadi tempat konser ideal untuk ibukota ini: dengan ruang yang lapang, lokasi mudah dicapai dari setiap sudut Jakarta, dan yang terpenting adalah tata suara yang baik di tempat tersebut. Saya hanya mengingat konser yang menyenangkan jika mengingat konser Vampire Weekend malam itu. Tidak melulu konser itu harus selalu dipenuhi euforia tanpa batas, sebuah suasana seperti yang dibawakan musik Vampire Weekend yang memberikan efek pelarian dari sumpeknya kota, dan membawa kita masuk ke dalam alam liburan bawah sadar, juga adalah sebuah pengalaman konser yang membahagiakan jiwa.

11. The Stone Roses – She Bangs The Drums (Live at Fuji Rock Festival, 2012)

Disaksikan di: Singapore Indoor Stadium 2012, Lapangan D Senayan Jakarta 2013

Sejak saya menyukai band ini, saya selalu berpikir hari di mana saya menyaksikan The Stone Roses tidak akan pernah menjadi kenyataan. Konser Ian Brown di tahun 2010 seperti menjadi obat atas luka yang tidak pernah sembuh itu. Tetapi reuni mereka di tahun 2012 mengubah segalanya. Di sebuah malam pertengahan tahun yang hangat di tahun 2012, di negeri singa, mimpi itu menjadi kenyataan. Melihat Ian, Mani, Reni, dan John memainkan musik bersama dalam panggung yang sama adalah kemagisan tiada tara. Seperti berada dalam wonderland-nya Alice, memukau sekaligus absurd, nyata sekaligus maya. Sampai saat itu, saya cukup beruntung bisa menonton hampir semua pahlawan musikalis saya, tetapi hanya setelah malam itu saya bisa berkata pada diri saya sendiri “Kalau saya sewaktu-waktu meninggal, saya bisa meninggal dengan tenang karena sudah pernah menyaksikan The Stone Roses dengan mata kepala sendiri”. PS: Sehari setelah konser tersebut, saya terjangkit demam berdarah, mungkin bukan pengalaman yang paling mendekati kematian, tetapi nampaknya memang kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan.

12. Oasis – Morning Glory (Live at River Plate Stadium, 2009)

Disaksikan di: Haus Auensee Leipzig 2000, Rock am Ring 2000, Phillipshalle Duesseldorf 2003, Singapore Indoor Stadium 2009

Keempat konser Oasis yang saya saksikan merupakan momen – momen penting dalam kehidupan saya. Bukan hanya musik mereka membentuk kehidupan masa muda saya, tetapi karena setiap kali menyaksikan mereka langsung, saya merasakan kebebasan. 2 kesempatan pertama menyaksikan Oasis adalah 2 kesempatan aneh, karena Noel absen dalam tur tersebut. Tetapi pada konser yang pertama, mengertilah saya akan arti euforia, sewaktu terhimpit testoterone pria-pria kaukasus yang kehilangan kontrol saat mendengar F*ckin In The Bushes. Dan untuk pertama kalinya saya benar-benar starstruck ketika melihat seorang rockstar tepat berjalan hanya 30 cm dari diri saya. Bukan, bukan Liam Gallagher yang saya lihat, tetapi seorang Johnny Marr yang malam itu membuka konser Oasis. Konser ketiga dengan formasi lengkap dan Alan White masih pada drum, adalah formasi Oasis paling ideal dalam definisi saya. Highlight malam itu adalah mendengarkan lagu-lagu seperti Bring It On Down dan Columbia yang merupakan reinkarnasi dari Oasis era 94, semangat yang dirasakan hampir seperti punk rock. Terakhir kali menyaksikan Oasis juga adalah pengalaman berkesan, karena berkesempatan melihat keseluruhan band di hotel mereka semalam sebelum konser. Konsernya sendiri, yang tidak akan pernah kita sadari sebagai tur perpisahan Oasis dari dunia musik karena mereka lalu bubar beberapa bulan sesudahnya, secara setlist merupakan konser Oasis terbaik yang pernah saya saksikan, walaupun mereka tidak memainkan Live Forever malam itu. Oasis akan selalu menjadi bagian dalam kehidupan saya, sebuah bagian yang memberikan kebebasan dan harapan tanpa batas.

13. The Strokes – New York City Cop (Live at Carling Academy, Birmingham, 2002)

Disaksikan di: E-Werk Cologne 2002

The Strokes digadangkan menjadi penyelamat rock ‘n’ roll ketika mereka muncul di akhir tahun 2001. Debut album mereka Is This It menjustifikasi hal itu. Menyaksikan mereka di Cologne pada musim dingin 2002 lebih dari sekedar menjustifikasi tetapi mengukuhkan status mereka sebagai mesias. Seingat saya konsernya sendiri berdurasi tidak lebih dari satu jam, tetapi belum pernah saya berada dalam konser lebih intens dari malam itu. Musik, aksi panggung dan imaji mereka pada periode itu adalah sempurna, tidak ada band yang lebih cool dari The Strokes pada masa itu, dan saya beruntung pernah menyaksikannya.

14. REM – Losing My Religion (Live at Roncalliplatz, Cologne 2001)

Disaksikan di: Koenig-Pilsener Arena Oberhausen 1998, Roncalliplatz Cologne 2001

Epik adalah ingatan saya ketika menyaksikan REM untuk kedua kalinya di Cologne. Bagaimana tidak, di panggung Michael Stipe menyampaikan eleginya dengan menyanyikan Losing My Religion, di belakangnya Katedral Cologne berdiri dengan megahnya seperti menyaksikan bahwa band yang sedang tampil di depannya itu menyiratkan keagungan yang sama dengan dirinya sendiri. Ketika itu, musim panas segera tiba, 09/11 belum terjadi dan dunia menikmati sisa-sisa terakhir kemurnian kenaifannya yang telah berlangsung sejak tahun 90-an.

15. U2 – The Fly (Live at Spartan Stadium, Michigan, 2011)

Disaksikan di: Cologne Arena 2001

Pada waktu saya SMA, ada 3 band terbesar pada masa itu: U2, Radiohead, dan REM. Di antara ketiganya yang paling dipuja oleh siswa sekolah khusus pria di kawasan Kebayoran Baru itu adalah U2. Setiap pensi diadakan ada saja band dari sekolah tersebut yang dengan sangat religius membawakan lagu-lagu U2, lengkap dengan kacamata the fly ala Bono. Sadar atau tidak, U2 lalu menjadi penting dalam kehidupan saya. Waktu menyaksikan panggung berbentuk hati, dan mendengar suara Bono bertarung dengan raungan gitar The Edge diiringi drum dan bas Larry Mullern Jr dan Adam Clayton dalam Elevation tur yang digelar U2 di Eropa pada tahun 2001, nostalgia akan masa sekolah di Kebayoran Baru itu kembali seperti film yang menghiasi latar belakang konser yang saya saksikan. Ketika semua indra kita dikelilingi oleh hal-hal seperti itu, dikuasai oleh band terbesar dari generasi kita, hanya satu yang dapat dilakukan, tersenyum tenang menyaksikan kesempurnaan di depan kita.

 

16. Radiohead – Idioteque (Live in Oxford, 2001)

Disaksikan di: (Koenig-Pilsener Arena Oberhausen 2003

The Bends adalah album yang memenangkan hati saya untuk menyukai Radiohead. Namun album Kid A yang mensemenkan band tersebut untuk menjadi salah satu band favorit saya sepanjang masa. Momen di mana saya dapat menyaksikan mereka tiba di sebuah malam bulan November tahun 2003. Khususnya ketika mereka memainkan Idioteque, saya terpukau akan kelima personil Radiohead, tentang bagaimana mereka dapat membuat musik yang menghempaskan kepala saya ke bulan dan kembali lagi, tidak hanya dengan alat musik band tradisional (gitar, drum,dll) tetapi dengan instrumen-instrumen aneh, yang entah apa namanya. Johnny Greenwood bahkan hanya memindah-mindahkan kabel dari satu lobang ke lobang lainnya pada awal lagu ini seperti layaknya operator telefon dari tahun 50-an. Malam itu di Oberhausen saya menyaksikan keajaiban bernama Radiohead.

17. Polyester Embassy – Polypanic Rooms (Live at Rock The Region, Singapore 2013)

Disaksikan di: Dago Tea House Bandung 2011

Sejak pertama kali menemukan Polyester Embassy dalam album Tragicomedy, saya hanya menemukan kesempurnaan dalam musik mereka. Dan wujud kesempurnaan itu saya saksikan sendiri ketika mereka menggelar Silent Yellow Ensemble konser di Dago Tea House pada Oktober 2011. Malam itu kesempurnaan mereka dihantarkan bukan hanya dengan musik yang mereka mainkan tetapi juga dalam tata cahaya panggung yang menghipnotis mata. 4 tahun setelahnya jika mengingat konser itu, seperti layaknya menjalani perjalanan antar ruang dan waktu dalam film Interstellar, cahaya dibalut dengan suara, suara menembus ruang dan waktu, dan kita kembali ke awal segala sesuatu sebelum semuanya diciptakan, sebuah kesempurnaan.

 

18. Two Door Cinema Club – Something Good Can Work (Live at Brixton Academy, 2012)

Disaksikan di: EX Park Jakarta 2011

Dari pertengahan tahun 2000-an sampai dengan sekarang, ketika konser tidak lagi menjadi barang langka di negeri tercinta ini, puluhan mungkin ratusan konser digelar setiap tahunnya. Dari artis indie, elektronik, popstar sampai band-band kadaluarsa semua didatangkan untuk memenuhi kehausan kita akan hiburan. Konser pun menjadi lebih dari hanya sekedar konser. Konser menjadi tempat bertemunya individu-individu berpikiran sama, pencipta ruang kreatif dan awal baru sebuah skena. Konser Two Door Cinema Club di awal 2011 lalu, unik karena berlangsung di sebuah tempat parkir pusat perbelanjaan di jantung ibukota. Ketika band itu memainkan suara gitar yang bersahut-sahutan, kita pun berdansa bebas di lapangan parkir tersebut, di sekeliling kita gedung-gedung pencakar langit, simbol prestise Jakarta tersenyum bangga melihatnya.

19. Coldplay – Yellow (Live in Sydney, 2003)

Disaksikasn di: Palladium Cologne 2002

Coldplay yang saya saksikan di Cologne tahun 2002, adalah Coldplay sebelum Gwyneth Paltrow, sebelum stardom dan stadion tur menjadi bagian alami dalam diri mereka. Coldplay yang saya saksikan waktu itu adalah Coldplay yang hanya ingin membuktikan bahwa mereka bisa melanjutkan album pertama mereka dengan lebih hebat. Saya beruntung menyaksikan Coldplay pada masa transisi itu. Palladium adalah sebuah tempat konser yang berada di bekas tempat industri Cologne dan berkapasitas “hanya” 4000 orang. Coldplay berhasil menjalankan misinya di konser itu, mereka membuktikan bahwa mereka adalah band yang hebat dan bisa mengantarkan melodi yang membuat lebih banyak orang lagi menggumamkannya. Saya beruntung menyaksikan masa-masa naif terakhir dari Coldplay. Karena sesudahnya, konser mereka akan dipindahkan ke stadion, bis tur diganti dengan jet pribadi, dan nama mereka dibicarakan di dalam setiap rumah tangga planet ini.

 

20. Blur – The Universal (Live at Hyde Park, London 2012)

Disaksikan di: Palladium Cologne 2003, Lapangan D Senayan Jakarta 2013

Setiap konser yang saya saksikan di lapangan D Senayan selalu berkesan. Entah itu konser penuh lumpur The Lightning Seeds, magisnya The Stone Roses, atau bahagianya ribuan orang menyaksikan Blur di sana. Siapa yang menyangka kalau band yang disebut terakhir itu akan reuni dan mengunjungi negara paling selatan dari Asia ini? Ketika konser itu diakhiri dengan The Universal, saya mengadah ke langit, kedua tangan di atas, tidak percaya kalau semua ini bisa terjadi. Sementara di atas panggung sana, Damon bernyanyi “It really, really, really could happen…..just let them go”. Di atas lapangan D itu, di bawah jembatan layang Senayan itu, kita semua tersenyum, begitu juga dengan langit Jakarta.

David Wahyu Hidayat

Iklan
17
Feb
13

SupersonicSounds’ mixtape series: Tomorrow Not Today, Yr City’s A Sucker

Mixtape for a city neurotic feat. The Jam, LCD Soundystem and C’mon Lennon

10
Jan
13

SupersonicSounds’ MixTape Series: Tomorrow Not Today, The German Years 1997-2005

http://8tracks.com/supersonicsounds/tomorrow-not-today-the-german-years-1997-2005

SupersonicSounds’ MixTape Series: Tomorrow Not Today

The German Years 1997 – 2005

 

Kata orang, salah satu yang menjadikan tahun baru berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya adalah karena resolusi yang dibuatnya. Saya setengah percaya akan hal itu, karena baru atau tidaknya semangat tergantung dari setelan pikiran kita terhadap apa yang kita jalani hari demi hari sampai membentuk sebuah tahun. Tapi yang saya percaya sepenuhnya adalah setiap momen yang dilewati itu berarti karena ada sesuatu yang signifikan yang kita ingat. Sesuatu yang signifikan itu dapat berupa seseorang, dapat berupa sebuah peristiwa mengejutkan, dapat berupa benda, dan benda dapat berupa lagu. Kumpulan lagu atau dulu yang dikenal dengan nama mixtape, dibuat di atas kaset berdurasi 60 atau 90 menit adalah definitif tapal batu pengingat rentang masa seseorang. Dulu saya cukup religius menikmati dan membuat mixtape. Di era digital, mixtape menjadi kehilangan arti, dengan segala budaya instan yang mengelilingi. Untungnya saya menemukan 8tracks tahun lalu, dan bagi saya pribadi ini seperti mendefinisikan kembali arti mixtape. Di blog ini, sebisa mungkin saya akan membuat serial mixtape yang saya namakan “Tomorrow Not Today”. Ini adalah usaha membangkitkan arti dalam bentuk sebuah soundtrack, karena musik memberikan memori dan memori adalah untuk selamanya. Edisi perdana “Tomorrow Not Today” adalah kumpulan lagu-lagu yang memberikan soundtrack kehidupan saya sewaktu menjalani kehidupan di Jerman semasa kuliah. Di dalamnya terdapat musik dari band-band Hamburger Schule, elektropop Jerman yang berbau seperti tanah di musim panas, dan beat menghanyutkan hiphop Stuttgart. Selamat menikmati Tomorrow Not Today: The German Years 1997-2005.

 

Pretty Day – Miles

Bila saya harus menyebut band Jerman favorit saya, maka jawabannya adalah Miles. “Pretty Day” menggapai saya seketika saat saya pertama kali mendengarkan lagu itu. Tipikal indie rock, yang berbeda dengan skema band-band di Jerman pada waktu itu. Tobias Kuhn & Co. dengan lihai menelurkan irama dan melodi yang dasyhat pada debut album Miles. Ini adalah tautan terhilang yang saya cari setelah terdidik dengan britpop ketika meninggalkan tanah air. Di album keduanya mereka menggapai saya lagi dengan pop beroktan tinggi dengan sentuhan beach boys, dan album ketiga mereka merupakan perpisahan sunyi salah satu band indie terbaik di Jerman. Untuk band ini, saya pernah menginap di stasiun kereta, di tengah-tengah kehampaan, setelah menyaksikan gig mereka di sebuah bekas tambang di Jerman Selatan. Miles selamanya.

Wellenreiter ’54 – Sportfreunde Stiller

Let There Be Rock – Tocotronic

Big In Berlin – Die Sterne

 Musim panas 1999 saya sedang menjalani praktek kerja di sebuah dusun, 30 menit jaraknya dari Stuttgart menggunakan kereta. Lepas jam 15:00 pekerjaan saya di perusahan elektronik itu selesai, kadang saya menikmati musim panas di Stuttgart, jika terlalu malas, saya mendekam di kamar guest house saya, menyalakan MTV yang waktu itu masih memainkan musik, dan menemukan ketiga lagu itu sedang menjadi heavy rotation. Di musim panas di mana Eropa menyaksikan gerhana Matahari adalah perkenalan saya dengan trio fans Bayern Muenchen bernama Sportfreunde Stiller dan apa yang dikenal publik musik Jerman dengan Hamburger Schule dalam musik Tocotronic & Die Sterne. 1999 adalah salah satu musim panas terpanjang yang pernah saya rasakan, dan saya merasa semakin ditarik ke dalam lingkaran pop kultur di Jerman, dalam kemagisan sosok Dirk Van Lotztow dan kenaifan Die Sterne, dalam kekolektifan Sportfreunde Stiller. Dua polar berbeda yang saling tarik-menarik.

Landungsbrücken Raus – Kettcar

 Dortmund sudah menjadi rumah sementara saya ketika saya mendengarkan lagu ini di Eins L1VE, radio yang menjadi barometer musik saya dengan salah satu programnya Heimatkult, yang membahas musik-musik lokal. Terus terang saya tidak mengerti apa sebenarnya Landungsbrücken ketika baru pertama kali mendengarkan lagu itu. Baru setelahnya saya menyadari Landungsbrücken adalah nama halte di St. Pauli Hamburg. Mungkin ini adalah lagu tentang kecintan terhadap sebuah kota, terhadap sesuatu yang kita namakan rumah, mungkin juga saya salah, yang jelas lagu ini magis.

Graue Wolken – Blumfeld

Adalah seorang teman yang membuat saya memberikan perhatian saya pada lagu ini. Liriknya yang berkata Arbeit, Fernsehen, Schlafen gehen, so macht das Leben kein Sinn* sering membuat saya tertawa sendirian, karena lagu itu telah berkata hal yang sejujurnya. Dan hebatnya lagi, ini adalah lagu yang sangat ngepop, dilantunkan dengan bahasa Jerman yang sangat kaku. Orang yang membuatnya pasti seorang jenius.

*Kerja, nonton tv, tidur, itu semua membuat hidup tidak berarti

Pilot – The Notwist

Setiap kali mengingat Notwist, entah kenapa saya selalu terbayang para kutu buku yang membuat musiknya dengan laptop, berkacamata besar dan rambut kacau semrawut. Mungkin karena rangkaian blips itu, mungkin karena suara mengambang itu yang membuat kita juga gamang mengambang. Ah, sesungguhnya ini lagu yang bisa membuat kita senang sederhana, dengan atau tanpa bayangan para kutu buku itu.

Somerregen – Die Fantastischen Vier  

Untuk beberapa alasan tertentu saya selalu membayangkan grup hip-hop kolektif asal Stuttgart ini adalah ekivalennya Beastie Boys di Jerman. Hip-hop bukanlah musik standar yang akan beredar di balik earphone saya, tapi ada sesuatu pada Die Fantastischen Vier yang membuat saya terpesona. Terlebih di hari-hari musim panas yang basah oleh hujan itu setelah Yunani memenangkan Piala Eropa dengan sangat spektakuler, lagu ini menyejukkan, menenangkan.

ANNA – Freundeskreis

 Mungkin lagu ini perkenalan saya pertama kali dengan pop kultur Jerman. Baru beberapa hari mendarat di Jerman, di sebuah malam ketika saya tidak bisa tidur, saya menonton tv dan melihat rambut gimbal Max Herre yang menyanyikan lagu ini. Pengetahuan bahasa Jerman masih sangat terbatas, yang saya mengerti hanya 4 huruf itu yang dibaca sama dari depan maupun di belakang, diucapkan berulang-ulang, seperti mantra yang menancap di kepala saya.

Erriner Dich – Klee

Klee adalah bau musim panas yang berkepanjangan. Kelebatan gedung-gedung industri yang kita lihat melalui jendela kereta. Ini seperti versi ringan New Order, namun 5 kali lebih pop. Selalu bahagia mendengarkan lagu ini, ketika bas Hook-eske itu bercampur dengan suara malaikat Suzie Kertsgen yang ada hanyalah ekstase, tidak lebih, tidak kurang.

Wir trafen uns in einem Garten – 2Raumwohnung

 Elektropop dari Jerman adalah sesuatu yang unik. Siapapun yang mengenal Stockhausen & Kraftwerk tidak akan memungkiri bahwa Jerman adalah biangnya musik elektronik. Tapi elektropop yang diusung band yang jika diartikan bernama apartemen2kamar ini sangat jauh dengan apa yang diusung dedengkotnya itu, karena yang terdengar adalah keriaan dalam keringanan melodi-melodi dan yang menjadi senjata pamungkanya adalah alunan suara kenes itu.

Als Es Passierte – Paula

 Kolektif elektropop dengan suara vokal perempuan nampaknya memang menjadi pakem tidak tertulis di Jerman, dan Paula bukanlah sebuah pengecualian. Saya teringat menyaksikan Paula (Duo, bukan nama penyanyi) di semacam gedung karang taruna, yang letaknya hanya 50 langkah dari tempat saya tinggal. Waktu mereka memainkan irama funk itu, gedung yang konon juga pernah menjamu The White Stripes itu, pecah sepecahnya, euforia memenuhi setiap sudut dan langit-langit tempat itu tanpa menyisakan rasa malu dan keraguan.

Komanda – Mediengruppe Telekomander

 Genre musik Mediengruppe Telekomander mungkin lebih cocok disebut elektropunk daripada disebut elektro pop atau hanya elektronik saja. Beat yang ada di lagu itu terdengar kasar dan jorok, dan tenaga di balik teriakan – teriakan di lagu itu punya semangat yang sama dengan genre musik yang lahir tahun 1977 itu. Setelah dipikir, mungkin ini alasannya bertahun-tahun setelahnya saya juga menyukai LCD Soundsystem, karena mereka punya benang merah yang sama.

Teardrops – Slut

Band Jerman seperti punya tendensi untuk menamakan bandnya secara ajaib (lihat 2Raumwohnung di atas). Saya rasa tidak ada band di manapun di muka bumi ini yang akan menamakan bandnya Slut, kecuali beraliran, mungkin death metal. Tapi apalah arti sebuah nama, jika lagu yang disuguhkan adalah indie rock klasik seperti “Teardrops”. Perlu dimengerti, walaupun banyak band Indie bagus, namun planet pop di Jerman pada saat itu tetap sangat sarat dengan artis-arits karbitan, terlebih dengan melejitnya acara tv seperti Idol. Menemukan Slut adalah pelampiasan, terhadap hasrat musik sebenarnya yang akhirnya terpenuhi.

Die Schönheit der Chance – Tomte

 Di hari-hari penuh kefrustasian, saya sering mengutarakan bahwa Thees Uhlman, vokalis Tomte menyelamatkan saya. Band Hamburg yang juga memegang komando indie label Grand Hotel Van Cleef, tempat band seperti Kettcar bernaung, berfungsi dengan mengubah cerita – cerita kehidupan sederhana menjadi sebuah kemenangan, dan di situlah letak kejeniusan seorang Thees Uhlman. Walaupun kejeniusan itu diperolehnya dengan mencuri inspirasi dari band berbahasa Inggris. Seperti lirik …das ist nicht die Sonne die unter geht, aber die erde, die sich dreht…* yang jelas dicolong dari “Do You Realize”-nya Flaming Lips. Tomte pernah manggung di acara kampus di universitas Dortmund, dan setelahnya seluruh anggota band beserta krunya bercengkerama di salah satu klab indie yang mengadakan Britpop Party malam itu. Thees Uhlman sudah mabuk ketika ia masih saja berdansa diiringi lagu Oasis yang keluar dari speaker di klab tersebut. Saya berdiri di hadapannya, menatapnya lama, seakan ingin berkata, “Lo si bangsat yang udah mencuri lirik itu, tapi lo ngebuatnya jadi sangat keren dan bikin hidup gw jadi berarti di sini”. Akhirnya saya tidak mengatakan itu kepadanya. Saya hanya tersenyum, lalu mengepalkan tangan ke udara, tenggelam di tengah suara Liam menyanyikan “Live Forever”, merayakan masa muda.

*…bukan mentari yang terbenam, itu hanya bumi yang sedang berputar…”

David Wahyu Hidayat




Juli 2018
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

Blog Stats

  • 147,628 hits
Iklan