01
Mei
16

Ulasan Konser – Tame Impala, Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016

Tame Impala

Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016

 

Band Pembuka: Barasuara

 

Setlist:

Intro, Let It Happen, Mind Mischief, Why Won’t They Talk To Me, It Is Not Meant To Be, The Moment, Elephant, Yes I’m Changing, The Less I Know The Better, Eventually, Alter Ego, Oscilly, Why Won’t You Make Up Your Mind, Apocalypse Dreams. Encore: Feels Like We Only Go Backwards, New Person Same Old Mistakes

 

Tame Impala - Jakarta 2016

 

Jakarta. Jumat malam di akhir bulan April. Hujan mengguyur sebagian ibukota menjelang jam usai bekerja. Seakan tidak rela membiarkan warganya bersenang-senang, lalu-lintas mengunci, menhancurkan harapan akan kejayaan Jumat malam. Namun segelintir manusia dengan persistensi tahap pecandu, nekat menembus semuanya itu menuju Senayan. Sebagian dari mereka adalah pemburu tiket murah pameran perjalanan sebuah maskapai, sebagian lainnya adalah pemadat musik yang mengharapkan ekstasenya pada sebuah band bernama Tame Impala.

Di atas sebuah area yang sehari-harinya merupakan lahan parkir beraspal, perjalanan menggapai ekstase itu dimulai. Sekitar setengah delapan malam, dalam nuansa merah, band terbaik nusantara saat ini, Barasuara menguasai panggung yang dibangun di atas lapangan parkir itu. Dengan memainkan lagu-lagu seperti Menunggang Badai, Api dan Lentera serta dituntaskan dengan Bahas Bahasa, mereka tidak hanya sekedar memanaskan suasana tapi memainkan musik laksana timnas PSSI sedang bermain di final piala dunia: enerjik, mempesona dan majestik. Barasuara memang sudah ditakdirkan untuk bermain di arena konser megah dan besar, bahkan Kevin Parker kemudian mengatakan dengan jujur bahwa sebuah pekerjaan yang sulit memainkan konsernya setelah band hebat seperti Barasuara.

Usai Barasuara, para penonton dibiarkan menunggu agak lama, sampai akhirnya menjelang pukul sembilan sang jenius Kevin Parker bersama Tame Impala menyapa langit Senayan yang sudah hampir memuncak kegelisahannya menunggu agar dahaga mereka dipuaskan. Dari sejak Intro kita semua tahu bahwa ini akan menjadi malam luar biasa, dan sejak Let It Happen dimainkan, semua yang ada di parkir selatan Senayan tahu bahwa mereka telah memenangkan peperangan terhadap jahanamnya kekacauan ibukota di hari Jumat. Tempat parkir itu berubah menjadi sebuah perayaan akan sebuah kehidupan yang memang patut dirayakan, jiwa seakan melayang meninggalkan tubuh yang penat. Di atas panggung, Tame Impala membius dengan musik mereka dan visualisasi yang membuat mimpi psikedelia kita menjadi nyata.

Masih dihujani konfeti yang disebarkan menjelang akhir Let It Happen, kita pun dihajar dengan Mind Mischief. Entah apa yang lebih memabukkan kita saat itu, musik Tame Impala dengan tata suara yang nyaris sempurna atau tayangan visual di panggung yang menari-nari indah menggoda khayalan kita. Pada pertengahan set ketika Elephant dihantarkan, euforia itu sudah tidak terbendung, dahaga selama 5 tahun akan tampilnya kembali Tame Impala di atas panggung Jakarta terbayar sudah, dan kita ikut berpesta bersama mereka yang memainkan musik di atas panggung.

Elephant disusul dengan Yes, I’m Changing, dan visualisasi di panggung untuk kali ini berubah dari psikedelia menjadi pemandangan menyejukkan seorang gadis mengenakan gaun musim panas mengendarai sepeda menelusuri pedesaan. Sejuk, menyaksikan lagu itu dibawakan di dalam area konser terbuka yang sudah seperti area sauna massal sejak lagu pertama. Namun, kita tidak dibiarkan terlena berlama-lama, karena kemudian Tame Impala membawakan The Less I Know The Better. Di sinilah momen itu datang, momen ketika aspal Senayan berubah menjadi lantai dansa dan langitnya menjadi luminasi psikedelia yang paling menghipnotis.

Why Won’t You Make Up Your Mind dan Apocalypse Dreams menutup mimpi kita di set utama Tame Impala malam itu. Tak lama berselang, mereka kembali ke panggung dan mengatakan bahwa ini adalah rangkaian konser terakhir mereka di Asia dan berterima kasih untuk publik Jakarta, sambil mengajak kita semua berpesta untuk terakhir kalinya. Feels Like We Only Go Backwards pun dikumandangkan di Senayan menjadi sebuah himne, balutan konfeti kembali beterbangan bagaikan kunang-kunang mimpi kita, seperti sebersit cahaya pencerahan yang kali ini datang dalam musik Tame Impala dan kita pun berdansa menyerahkan diri dalam balutan musik tersebut.

Malam itu pun berakhir dengan New Person, Same Old Mistakes, dan para pecandu musik yang sorenya berjuang melawan kekacauan Jakarta telah berada di puncak ekstasenya. Mereka tahu, malam itu adalah sebuah perjalanan istimewa yang tidak dapat didefinisikan secara jelas. Yang jelas musik mendapatkan kemenangannya, seperti yang selalu terjadi. Sebut ini sebuah pengalaman psikedelia, sebut ini sebuah pengalaman pop berbalutkan disko, semua itu tidak berarti. Yang berarti adalah Tame Impala telah datang dan memainkan konser mereka pada 29 April 2016 di bawah langit Senayan, dan kamu berada di sana untuk menyaksikan keajaiban itu.

David Wahyu Hidayat

 

 


1 Response to “Ulasan Konser – Tame Impala, Parkir Selatan Senayan, 29 April 2016”


  1. 1 agung
    Juni 7, 2016 pukul 1:10 pm

    jangan berhenti menulis mz! saya suka gaya bahasanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2016
S S R K J S M
« Des   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: