10
Jan
13

SupersonicSounds’ MixTape Series: Tomorrow Not Today, The German Years 1997-2005

http://8tracks.com/supersonicsounds/tomorrow-not-today-the-german-years-1997-2005

SupersonicSounds’ MixTape Series: Tomorrow Not Today

The German Years 1997 – 2005

 

Kata orang, salah satu yang menjadikan tahun baru berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya adalah karena resolusi yang dibuatnya. Saya setengah percaya akan hal itu, karena baru atau tidaknya semangat tergantung dari setelan pikiran kita terhadap apa yang kita jalani hari demi hari sampai membentuk sebuah tahun. Tapi yang saya percaya sepenuhnya adalah setiap momen yang dilewati itu berarti karena ada sesuatu yang signifikan yang kita ingat. Sesuatu yang signifikan itu dapat berupa seseorang, dapat berupa sebuah peristiwa mengejutkan, dapat berupa benda, dan benda dapat berupa lagu. Kumpulan lagu atau dulu yang dikenal dengan nama mixtape, dibuat di atas kaset berdurasi 60 atau 90 menit adalah definitif tapal batu pengingat rentang masa seseorang. Dulu saya cukup religius menikmati dan membuat mixtape. Di era digital, mixtape menjadi kehilangan arti, dengan segala budaya instan yang mengelilingi. Untungnya saya menemukan 8tracks tahun lalu, dan bagi saya pribadi ini seperti mendefinisikan kembali arti mixtape. Di blog ini, sebisa mungkin saya akan membuat serial mixtape yang saya namakan “Tomorrow Not Today”. Ini adalah usaha membangkitkan arti dalam bentuk sebuah soundtrack, karena musik memberikan memori dan memori adalah untuk selamanya. Edisi perdana “Tomorrow Not Today” adalah kumpulan lagu-lagu yang memberikan soundtrack kehidupan saya sewaktu menjalani kehidupan di Jerman semasa kuliah. Di dalamnya terdapat musik dari band-band Hamburger Schule, elektropop Jerman yang berbau seperti tanah di musim panas, dan beat menghanyutkan hiphop Stuttgart. Selamat menikmati Tomorrow Not Today: The German Years 1997-2005.

 

Pretty Day – Miles

Bila saya harus menyebut band Jerman favorit saya, maka jawabannya adalah Miles. “Pretty Day” menggapai saya seketika saat saya pertama kali mendengarkan lagu itu. Tipikal indie rock, yang berbeda dengan skema band-band di Jerman pada waktu itu. Tobias Kuhn & Co. dengan lihai menelurkan irama dan melodi yang dasyhat pada debut album Miles. Ini adalah tautan terhilang yang saya cari setelah terdidik dengan britpop ketika meninggalkan tanah air. Di album keduanya mereka menggapai saya lagi dengan pop beroktan tinggi dengan sentuhan beach boys, dan album ketiga mereka merupakan perpisahan sunyi salah satu band indie terbaik di Jerman. Untuk band ini, saya pernah menginap di stasiun kereta, di tengah-tengah kehampaan, setelah menyaksikan gig mereka di sebuah bekas tambang di Jerman Selatan. Miles selamanya.

Wellenreiter ’54 – Sportfreunde Stiller

Let There Be Rock – Tocotronic

Big In Berlin – Die Sterne

 Musim panas 1999 saya sedang menjalani praktek kerja di sebuah dusun, 30 menit jaraknya dari Stuttgart menggunakan kereta. Lepas jam 15:00 pekerjaan saya di perusahan elektronik itu selesai, kadang saya menikmati musim panas di Stuttgart, jika terlalu malas, saya mendekam di kamar guest house saya, menyalakan MTV yang waktu itu masih memainkan musik, dan menemukan ketiga lagu itu sedang menjadi heavy rotation. Di musim panas di mana Eropa menyaksikan gerhana Matahari adalah perkenalan saya dengan trio fans Bayern Muenchen bernama Sportfreunde Stiller dan apa yang dikenal publik musik Jerman dengan Hamburger Schule dalam musik Tocotronic & Die Sterne. 1999 adalah salah satu musim panas terpanjang yang pernah saya rasakan, dan saya merasa semakin ditarik ke dalam lingkaran pop kultur di Jerman, dalam kemagisan sosok Dirk Van Lotztow dan kenaifan Die Sterne, dalam kekolektifan Sportfreunde Stiller. Dua polar berbeda yang saling tarik-menarik.

Landungsbrücken Raus – Kettcar

 Dortmund sudah menjadi rumah sementara saya ketika saya mendengarkan lagu ini di Eins L1VE, radio yang menjadi barometer musik saya dengan salah satu programnya Heimatkult, yang membahas musik-musik lokal. Terus terang saya tidak mengerti apa sebenarnya Landungsbrücken ketika baru pertama kali mendengarkan lagu itu. Baru setelahnya saya menyadari Landungsbrücken adalah nama halte di St. Pauli Hamburg. Mungkin ini adalah lagu tentang kecintan terhadap sebuah kota, terhadap sesuatu yang kita namakan rumah, mungkin juga saya salah, yang jelas lagu ini magis.

Graue Wolken – Blumfeld

Adalah seorang teman yang membuat saya memberikan perhatian saya pada lagu ini. Liriknya yang berkata Arbeit, Fernsehen, Schlafen gehen, so macht das Leben kein Sinn* sering membuat saya tertawa sendirian, karena lagu itu telah berkata hal yang sejujurnya. Dan hebatnya lagi, ini adalah lagu yang sangat ngepop, dilantunkan dengan bahasa Jerman yang sangat kaku. Orang yang membuatnya pasti seorang jenius.

*Kerja, nonton tv, tidur, itu semua membuat hidup tidak berarti

Pilot – The Notwist

Setiap kali mengingat Notwist, entah kenapa saya selalu terbayang para kutu buku yang membuat musiknya dengan laptop, berkacamata besar dan rambut kacau semrawut. Mungkin karena rangkaian blips itu, mungkin karena suara mengambang itu yang membuat kita juga gamang mengambang. Ah, sesungguhnya ini lagu yang bisa membuat kita senang sederhana, dengan atau tanpa bayangan para kutu buku itu.

Somerregen – Die Fantastischen Vier  

Untuk beberapa alasan tertentu saya selalu membayangkan grup hip-hop kolektif asal Stuttgart ini adalah ekivalennya Beastie Boys di Jerman. Hip-hop bukanlah musik standar yang akan beredar di balik earphone saya, tapi ada sesuatu pada Die Fantastischen Vier yang membuat saya terpesona. Terlebih di hari-hari musim panas yang basah oleh hujan itu setelah Yunani memenangkan Piala Eropa dengan sangat spektakuler, lagu ini menyejukkan, menenangkan.

ANNA – Freundeskreis

 Mungkin lagu ini perkenalan saya pertama kali dengan pop kultur Jerman. Baru beberapa hari mendarat di Jerman, di sebuah malam ketika saya tidak bisa tidur, saya menonton tv dan melihat rambut gimbal Max Herre yang menyanyikan lagu ini. Pengetahuan bahasa Jerman masih sangat terbatas, yang saya mengerti hanya 4 huruf itu yang dibaca sama dari depan maupun di belakang, diucapkan berulang-ulang, seperti mantra yang menancap di kepala saya.

Erriner Dich – Klee

Klee adalah bau musim panas yang berkepanjangan. Kelebatan gedung-gedung industri yang kita lihat melalui jendela kereta. Ini seperti versi ringan New Order, namun 5 kali lebih pop. Selalu bahagia mendengarkan lagu ini, ketika bas Hook-eske itu bercampur dengan suara malaikat Suzie Kertsgen yang ada hanyalah ekstase, tidak lebih, tidak kurang.

Wir trafen uns in einem Garten – 2Raumwohnung

 Elektropop dari Jerman adalah sesuatu yang unik. Siapapun yang mengenal Stockhausen & Kraftwerk tidak akan memungkiri bahwa Jerman adalah biangnya musik elektronik. Tapi elektropop yang diusung band yang jika diartikan bernama apartemen2kamar ini sangat jauh dengan apa yang diusung dedengkotnya itu, karena yang terdengar adalah keriaan dalam keringanan melodi-melodi dan yang menjadi senjata pamungkanya adalah alunan suara kenes itu.

Als Es Passierte – Paula

 Kolektif elektropop dengan suara vokal perempuan nampaknya memang menjadi pakem tidak tertulis di Jerman, dan Paula bukanlah sebuah pengecualian. Saya teringat menyaksikan Paula (Duo, bukan nama penyanyi) di semacam gedung karang taruna, yang letaknya hanya 50 langkah dari tempat saya tinggal. Waktu mereka memainkan irama funk itu, gedung yang konon juga pernah menjamu The White Stripes itu, pecah sepecahnya, euforia memenuhi setiap sudut dan langit-langit tempat itu tanpa menyisakan rasa malu dan keraguan.

Komanda – Mediengruppe Telekomander

 Genre musik Mediengruppe Telekomander mungkin lebih cocok disebut elektropunk daripada disebut elektro pop atau hanya elektronik saja. Beat yang ada di lagu itu terdengar kasar dan jorok, dan tenaga di balik teriakan – teriakan di lagu itu punya semangat yang sama dengan genre musik yang lahir tahun 1977 itu. Setelah dipikir, mungkin ini alasannya bertahun-tahun setelahnya saya juga menyukai LCD Soundsystem, karena mereka punya benang merah yang sama.

Teardrops – Slut

Band Jerman seperti punya tendensi untuk menamakan bandnya secara ajaib (lihat 2Raumwohnung di atas). Saya rasa tidak ada band di manapun di muka bumi ini yang akan menamakan bandnya Slut, kecuali beraliran, mungkin death metal. Tapi apalah arti sebuah nama, jika lagu yang disuguhkan adalah indie rock klasik seperti “Teardrops”. Perlu dimengerti, walaupun banyak band Indie bagus, namun planet pop di Jerman pada saat itu tetap sangat sarat dengan artis-arits karbitan, terlebih dengan melejitnya acara tv seperti Idol. Menemukan Slut adalah pelampiasan, terhadap hasrat musik sebenarnya yang akhirnya terpenuhi.

Die Schönheit der Chance – Tomte

 Di hari-hari penuh kefrustasian, saya sering mengutarakan bahwa Thees Uhlman, vokalis Tomte menyelamatkan saya. Band Hamburg yang juga memegang komando indie label Grand Hotel Van Cleef, tempat band seperti Kettcar bernaung, berfungsi dengan mengubah cerita – cerita kehidupan sederhana menjadi sebuah kemenangan, dan di situlah letak kejeniusan seorang Thees Uhlman. Walaupun kejeniusan itu diperolehnya dengan mencuri inspirasi dari band berbahasa Inggris. Seperti lirik …das ist nicht die Sonne die unter geht, aber die erde, die sich dreht…* yang jelas dicolong dari “Do You Realize”-nya Flaming Lips. Tomte pernah manggung di acara kampus di universitas Dortmund, dan setelahnya seluruh anggota band beserta krunya bercengkerama di salah satu klab indie yang mengadakan Britpop Party malam itu. Thees Uhlman sudah mabuk ketika ia masih saja berdansa diiringi lagu Oasis yang keluar dari speaker di klab tersebut. Saya berdiri di hadapannya, menatapnya lama, seakan ingin berkata, “Lo si bangsat yang udah mencuri lirik itu, tapi lo ngebuatnya jadi sangat keren dan bikin hidup gw jadi berarti di sini”. Akhirnya saya tidak mengatakan itu kepadanya. Saya hanya tersenyum, lalu mengepalkan tangan ke udara, tenggelam di tengah suara Liam menyanyikan “Live Forever”, merayakan masa muda.

*…bukan mentari yang terbenam, itu hanya bumi yang sedang berputar…”

David Wahyu Hidayat


1 Response to “SupersonicSounds’ MixTape Series: Tomorrow Not Today, The German Years 1997-2005”


  1. 1 Aga
    Januari 10, 2013 pukul 12:14 pm

    Ha, gue masih nyimpen semua mp3 dari most of the names yang ada di tracklist ini, yang lo kasih ke gue pas lo liburan ke Jakarta, medio 2004-an dulu. Some–seperti Paula & Klee–bahkan jadi keterusan denger dan beli album2nya. Krautpop rules!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Januari 2013
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: