31
Des
12

Musik Favorit 2012

Favorit 2012

Di tahun-tahun sebelumnya, tulisan ini dinamakan daftar terbaik. Tetapi tahun ini saya merasa tidak tepat untuk menamakan daftar ini terbaik. Karena yang saya anggap baik, belum tentu kalian anggap baik. Yang saya anggap brilian bisa saja kalian anggap memusingkan. Karena itu, daftar lagu-lagu keluaran tahun 2012 ini saya sebut sebagai pilihan favorit. Lagu-lagu di bawah ini bukalah lagu-lagu yang paling nge-hip, nge-hit atau menjual paling banyak. Lagu-lagu ini adalah suara latar kehidupan saya di tahun ini, dari suara sengau Jake Bugg, sampai suara rakyat dalam tiga bahasa yang dihentakkan Jogja Hip Hop Foundation. Beberapa di antaranya terdengar sangat jujur, tanpa polesan, menghias kalbu yang paling dalam. Ini adalah track favorit saya tahun ini, dan 2012 adalah tahun yang baik. Sampai jumpa di tahun 2013!

Breezeblocks – Alt-J

Cara bernyanyi dan instrumen yang unik berhasil mengantarkan Alt-J meraih mercury awards tahun ini. Breezeblocks adalah perwakilan segala keunikan itu, menghentak-hentak, memenangkan sanubari kita untuk menyukai mereka.

R U Mine – Arctic Monkeys

Ini adalah lagu terbaik Arctic Monkeys, entah sejak kapan. Ini adalah suara sebuah band yang sedang menikmati segalanya, dan bila di album berikutnya kita disuguhkan sebuah untaian riff seperti ini, silahkan. Saya rasa kita akan menikmati cita rasa seperti ini.  Tajam, kasar dan brilian.

Day Four – Bloc Party

Bloc Party kembali setelah 4 tahun hiatus. Lagu ini mengingatkan kita akan “So Here We Are”, ketika kita jatuh cinta pertama kali dengan Bloc Party. Mengalun pelan, mengalir memasuki ruang kosong di dalam kepala kita, mengisinya dengan endorphine, dibawa melayang dalam tengunan. Entah ke mana, mungkin ke hari keempat, kapan pun itu.

Two Fingers – Jake Bugg

Ini adalah lagu paling sederhana tahun ini, tapi paling memiliki kekuatan melodik. Dengan nada-nada Beatles-eske yang sangat gemilang, sulit dibayangkan bahwa Jake Bugg belum menginjak umur 20, karena ini adalah penulisan lagu yang sangat dewasa dan memukau.

Song Of Sabdatama – Jogja Hip Hop Foundation

Kesmrawutan membawa kepenatan, kepenatan membawa kegelisahan, kegelisahan disuarakan oleh rakyat, tidak peduli apapun medianya. Dalam hal ini kegelisahan itu disuarakan oleh hip-hop kolektif yang menamakan dirinya dengan Jogja Hip Hop Foundation (JHF). Perlu membiasakan kuping mendengarkan konsep hiphop dicampur dengan musik tradisional Jawa, tetapi begitu kita mengerti akan intinya, hal-hal seperti ini yang akan membuat kita cinta akan negeri ini, bukan sesumbar di atas panggung politik atau apapun yang mengatasnamakan rakyat.

Suara Kita Suara Tuhan – Max Havelaar

Beda JHF, beda pula dengan Max Havelaar. Tapi ini adalah suara keresahan yang sama. Siapa yang peduli dengan mereka yang klimis berdasi mengatasnamakan manusia negeri ini. Dengan alunan piano tajam mengiris, seperti hendak memotong semua kebohongan dan mengatakan yang terpenting adalah suara kita, suara rakyat, dan suara rakyat adalah suara Tuhan, bukan suara kalian di sana.

Panic Station – Muse

Muse ingin seperti The Clash, atau Matt Bellamy sedang kesurupan dubstep waktu menggarap 2nd Law? Saya tidak peduli. Panic Station adalah terobosan segar dari Muse, menolak menggunakan pakem yang sama, menyegarkan dan menyenangkan.

Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan – Payung Teduh

Untuk menjadi tekenal di masa sekarang diperlukan paling sedikit 3 hal: Aksi joget ala binatang yang dapat ditiru massal, membuat video kontroversial, atau menjadi artis yang mencalonkan diri jadi presiden. Payung Teduh tidak memiliki semua itu. Tapi kalian dengarkan lagu ini, dan akan menemukan ini adalah lagu teradem tahun ini. Jujur, langsung berkata menuju sasarannya, membuai serta menaklukan sekaligus. Tidak perlu pernak-pernik lainnya. Kesederhanaan itu yang menyelamatkan kita.

Starlight – Pure Saturday

Saya tidak mengerti progrock atau apapun yang coba dibawakan Pure Saturday dalam album baru mereka Grey. Saya hanya mengerti, Pure Satuday telah mendefinisikan hidup saya ketika mereka merilis debut album mereka, dan tetap mempunyai arti sampai sekarang. Ketika Grey dirilis, saya menyaksikan mereka di GKJ, dan dari sekian lagu baru yang mereka tampilkan, lagu ini adalah yang paling tertancap di kepala, telinga, dan hati saya.

Leave Your Body Behind You – Richard Hawley

Pelajaran psikedelia nomor satu tahun 2012. Beranikan diri bermain gitar sekasar mungkin, hantam pikiran pendengar seperti hendak mendobrak barikade polisi di G20, tempatkan sesi middle 8 penuh dengan reverb, diisi dengan hanya suara vokal yang diulang-ulang tanpa instrumen, sisakan hanya gaungan gitar, lalu hantam kembali pendengar dengan sebuah solo gitar yang kasar, dobrak barikade itu jangan ada yang dibiarkan berdiri, kombinasikan dengan suara vokal berulang-ulang yang menghipnotis itu, dan mereka semua, tanpa terkecuali akan tersungkur di akhir lagu.

Bernyanyi Menunggu – Rumahsakit

Saya tidak berada di tanah air ketika Rumahsakit dideklarasikan sebagai penguasa planet indie. Rasa penasaran saya besar ketika mereka dikabarkan mengemas kedua album mereka dalam rekaman baru. Mendengarkan 1+2 adalah kenikmatan, seperti membaca sejarah lahirnya Superman, dan Bernyanyi Menunggu adalah reboot kisah baru mereka.

Feels Like We Only Go Backwards – Tame Impala

Pelajaran psikedelia nomor dua tahun 2012. Comot vokal Lennon di puncak psikedelia The Beatles, cabik bas seperti McCartney bermain di album Sgt. Pepper, campur dengan rhodes/mellotron dan alat musik melodik lainnya yang bukan gitar. Pastikan panjang lagu tidak lebih dari tiga setengah menit. Dijamin lagu ini akan diputar-putar seperti pecandu yang nagih, dan mereka yang mendengar akan terbang melayang tinggi dan tidak ingin kembali.

Sleep Alone – Two Door Cinema Club

Tidak ada cela yang dilakukan Two Door Cinema Club dalam Beacon. Semua nada-nada keriangan itu kembali lagi, sepasti matahari yang terbit setiap pagi. Sleep Alone adalah pembuktian janji bahwa mereka adalah kelas.

Sunset – The XX

Kenyamanan monokrom itu datang lagi. Dibalut dengan dentuman elektronik racikan Jamie, dalam suara Romy dan Oliver yang saling berbalasan. Suara itu, dentuman itu, selamanya, ingin selamanya tetap berada di dalam kenyamanan itu, tidak pernah beranjak lagi ke mana-mana.

We Should Be Swimming – Zulu Winter

 

Entah mengapa judulnya We Should Be Swimming, tetapi lagu ini saya bayangkan sangat cocok untuk didengarkan dengan naik kereta keliling eropa. Menembus abu-abunya musim dingin, sehamparan mata hanyalah putih, dipadu dengan sedikit kelabunya pabrik-pabrik yang sudah tidak terproduksi, sampai akhirnya tiba di kota gemerlap, dan kita pun berdansa.

Mixtape untuk track di atas dapat didengar di tautan berikut ini:

http://8tracks.com/supersonicsounds/supersonicsounds-2012-favorite-tracks

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Musik Favorit 2012”


  1. Februari 2, 2013 pukul 11:31 pm

    haha selera musik kita 11 12 ternyata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2012
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: