08
Nov
12

Album Review: Jake Bugg – Jake Bugg

Jake Bugg

Jake Bugg

Universal Music Indonesia – 2012

 

Yang mendorong manusia menjalankan kehidupannya adalah sebuah tujuan. Yang menghembuskan sebuah tujuan adalah harapan. Tanpa kedua hal itu, hidup manusia mendekati nadir, mati tanpa denyut nadi. Jika itu semua telah diraih di usia yang sangat muda, mungkin banyak orang akan kehilangan arah. Atau sebaliknya malah semakin bertekad memiliki tujuan baru untuk menembus horizon.

Bagi Jake Bugg yang berlaku adalah yang terakhir. Sebelum mempunyai kontrak rekaman ia sudah bermain di atas panggung talen Glastonbury Festival. Saat itu ia bahkan baru berumur 17 tahun. Bagi banyak orang itu adalah puncak momen kehidupannya. Tapi tidak buat dirinya. Ia melanjuti tujuan hidupnya. Membuat debut album spektakuler, untuk pertama kalinya keluar dari kota kelahirannya Nottingham atas nama gig keliling Eropa, serta tur bersama Noel Gallagher & The Stone Roses.

Penampilannya yang campuran rambut Alex Turner dan dagu Keith Richards jelas membantunya membuatnya seperti seorang klon pemuda dari tahun 50-an, tetapi di balik semuanya itu adalah bakat, kepercayaan diri dan determinasi luar biasa yang membawanya ke posisi sekarang ini. Teman-teman sekolahnya sempat menyarankannya untuk mengikuti Britain’s Got Talent, tapi dia menolaknya karena menurutnya acara pencari bakat tersebut tidak menunjukkan sesuatu sedikitpun yang mendekati orisinil. Ia tetap pada jalurnya dan itu semua terbukti pada saat yang tidak terduga.

Debut album Jake Bugg adalah sebuah karya klasik modern. Ia berhasil mencapai puncak tangga album Inggris ketika album ini dirilis, mengalahkan album Leona Lewis, penyanyi jebolan X-Factor.

Sulit dibayangkan jika Bugg mengaku ia tidak pernah intensif mendengarkan Bob Dylan, karena lagu yang mengawali album ini “Lightning Bolt” adalah definisi Dylan baru yang paling bisa kita bayangkan. Dengan lirik seperti pencerita kelas yahud, kocokan gitar folk dan kejutan gitar elektrik, kita dibawa masuk ke dunia Jake Bugg, eklektik seperti sebuah pagi yang ingin diisi dengan berbagai macam petualangan baru.

“Two Fingers” adalah lagu esensial yang akan menggambarkan kejeniusan Jake Bugg. Dengan melodi Beatles-eske, ini akan membuat kalian selalu berada di pesta perpisahan SMA, berdansa dengan perempuan pujaan kalian, berdansa meninggalkan masa lalu, tidak peduli akan masa depan, menghirup setiap momen. Sekarang. “Taste It” dengan suara sengaunya dan tempo cepat, membawa kita kepada sebuah adegan kejar-kejaran menghindari kejaran polisi, memasuki sebuah klab, meneriakkan kemenangan akan kemapanan.

Tanpa banyak efek macam-macam, keseluruhan album ini hanya bertumpu pada kekuatan melodi Jake Bugg, seperti campuran antara irama nostalgia The Coral dalam “Someone Told Me” dan kepercayaan diri Miles Kane seperti yang tedengar pada “Simple As This”. Di lagu lainnya suasana perkampungan Inggris ditebarkan dengan sangat nikmat, seperti yang dapat didengarkan pada “Country Song” dan “Broken”. Pada “Slide” ia melantunkan eleginya dengan parau, menjadikannya lagu penghantar musim gugur yang sempurna, saat tidak ada lagi yang dapat menyembuhkan hati yang resah selain sebuah lagi dengan melodi yang kuat. Perbandingan dengan Dylan tidak akan pernah lepas dari diri Jake Bugg jika ia terus memainkan lagu seperti “Trouble Town”, namun entah kenapa kita merasa tidak peduli terhadap hal tersebut.

Mereka yang berada di kalangan umur Bugg berada saat ini, akan merasa menemukan pahlawan baru pada dirinya dengan dirilisnya album ini. Untuk mereka yang lain, album ini menandakan kembalinya orisinalitas dan kesuksesan komersil masih bisa diraih tanpa harus melewati segala macam acara pencari talen yang terlalu cepat kadaluwarsa tanpa sempat dicicipi kenikmatannya. Dan, Jake Bugg juga menandakan kembalinya musik pop tanpa basa-basi. 14 lagu dikemasnya hanya dalam 39:17 menit,  hampir semua lagu yang ada di sini tidak lebih dari 3:30 menit dan ia dapat menyampaikan apa yang ia ingin sampaikan dalam kurun waktu tersebut yaitu; lirik yang menceritakan kisah dan melodi penuh kejayaan. Ini adalah saatnya untuk seorang pahlawan baru, dan namanya adalah Jake Bugg.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Album Review: Jake Bugg – Jake Bugg”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2012
S S R K J S M
« Sep   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: