04
Agu
12

Konser Review: The Stone Roses – Singapore Indoor Stadium, 22 Juli 2012

The Stone Roses

Singapore Indoor Stadium

22 Juli 2012

 

Setlist:

I Wanna Be Adored, Mersey Paradise, (Song For My) Sugar Spun Sister, Sally Cinnamon, Bye Bye Badman, Ten Storey Love Song, Where Angels Play, Shoot You Down, Fools Gold, Something Burning, Waterfall, Don’t Stop, Love Spreads, Made Of Stone, This Is The One, She Bangs The Drums, I Am The Resurrection

Review:

 

Dari sekian banyak band yang berkeliaran di semesta pop ini, hanya sedikit yang dengan menyebutkan namanya terkonotasikan sebuah fabel/mitos. Sebuah nama yang hanya terekam dalam kepingan album-album mahakarya, terlebih jika mahakarya tersebut hanya berupa dua album: Yang satu kesempurnaan pop-psikedelik, yang satu lagi kemegahan gitar dalam balutan riff ala Jimmy Page; dan sekumpulan b-sides lainnya yang dipelajari satu persatu, karena band tersebut telah tiada, terkubur dalam keabadian pop dengan sempurnya.

Namun semuanya berubah sejak tanggal 18 Oktober 2011. Band tersebut, The Stone Roses, memutuskan untuk bangkit dari kuburnya, menghapus segala dendam pribadi di antara anggotanya, dan kembali aktif sebagai band yang kita cintai dan sudah terlanjur terpatri sebagai sebuah cerita legenda pop 90-an. Sampai saat itu pun, tidak akan terbersit pikiran sekecil apapun, kalau kedua mata dan sepasang telinga ini akan menyaksikan kebangkitan mereka secara langsung, sampai sebuah berita di awal bulan April 2012 mengubah semuanya, dengan mengatakan kalau tur reuni mereka akan singgah di Singapura pada tanggal 22 Juli 2012.

Setelah euforia berbulan-bulan, ketika malam tersebut datang, dan badan mortal ini memasuki arena konser di Singapura Indoor Stadium, dan menyaksikan lemon double drum bas milik Reni terpampang dengan kidungnya di atas panggung, pelukan sudah terbagi antara kedua sahabat yang menunggu konser ini sejak 2 dekade lebih, senyum sudah terbersit tanpa batas, jantung sudah berdegup kencang, seakan semua ini terlalu sempurna untuk hadir dalam ruang realita waktu kehidupan ini.

Pukul 20:30 waktu Singapura, dengan diiringi beat “Stoned Love” dari The Supremes, keempat sosok itu: Ian dengan training jaket berwarna ungu, John yang mengenakan kemeja putih lengan panjang, Reni dengan jersey sepakbola berwarna kuning, dan Mani yang memakai kemeja bercorak paisley memasuki panggung dengan penuh elegan, dan dimulailah konser impian itu dengan dentuman bas “I Wanna Be Adored”. Keempatnya bagaikan pahlawan perang yang baru pulang dari medan perang, magis, memberikan arti, seperti sebuah kemenangan terhadap sesuatu yang kita sendiri sebenarnya tidak tahu apa, tapi momen itu tampak seperti mengecap obat penawar yang memberikan kesembuhan ultimatif.

Atmosfir konser tersebut sangat mengalir, dengan permainan gitar John yang sering memberikan riff-riff tambahan di setiap lagunya, rasanya seperti berada dalam dejavu mimpi terindah kita. “Mersey Paradise”, “Sugar Spun Sister”, “Sally Cinamon” mengalun satu persatu menyusul “Adored”, dan semuanya seperti dalam sebuah film. Melihat sosok seorang John Squire memainkan melodi-melodi yang telah menjadi musik latar belakang masa remaja penuh kenaifan dan optimisme, ia adalah seorang pahlawan gitar, dan malam itu seharusnya semua yang hadir di sana menyadari sepenuhnya akan hal itu.

Peneguhan seorang John Squire sebagai seorang pahlawan gitar terlihat jelas pada, “Fools Gold”. Seharusnya ini adalah lagu di mana Reni dan Mani menjadi bintangnya dengan beat dansa-psikedelik yang menjadi tandatangan lagu ini, tetapi John seperti mencuri kilat mereka di lagu ini, di bagian belakang lagu ini, di mana ia memainkan riff-riff ala Zeppelin, bahkan sempat menyelipkan “Daytripper” membuatnya sebagai seorang dewa gitar pendiam yang berbicara hanya melalui 6 senar di gitarnya. Sebuah momen yang akan dikenang sepanjang masa, karena malam itu John Squire benar-benar sebuah wujud nyata seorang legenda yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan dari footage-footage terbatas The Stone Roses selama 20 tahun terakhir.

Semenjak “Fools Gold”, The Stone Roses tidak membiarkan suasana di Singapore Indoor Stadium turun, mereka menghantam dengan nomor klasik satu disusul nomor klasik lainnya. “Waterfall/Don’t Stop” dibawakan dengan sangat psikedelik, “Made Of Stone” adalah perwujudan akan kemajestikan band tersebut, “Love Spreads” dibawakan dengan sangat solid, ditambah kejutan dari Ian Brown yang melakukan rap di akhir lagu tersebut, kemudian “She Bangs The Drums” membuat arena itu menjadi arena pesta indie terbesar Asia Tenggara untuk malam itu. Sampai akhirnya kita semua sampai pada klimaks mimpi indah itu. “I Am The Resurrection” menebus semua kerinduan akan pahlawan musik yang sesungguhnya, yang memberikan sebuah arti dalam musik yang kita dengarkan. Hampir 20 tahun lamanya kita menyanyikan lagu itu, menemani dalam setiap fase kehidupan, lalu ketika kita mendengarkannya secara langsung lagu itu dibawakan oleh Ian, John, Reni & Mani meledaklah setiap sumbu kebahagiaan dalam hati kita, kedua tangan terkepal ke atas, penuh senyum merayakan kebangkitan musik bersama mereka.

Awal saya mencintai The Stone Roses adalah ketika menemukan dan memutar berulang-ulang album kompilasi “The Complete Stone Roses” di walkman butut warisan orang tua. Seorang musik jurnalis asal Inggris bernama John Harris menulis sleeve note di album kompilasi tersebut, dan saya akan mengutip 2 paragraf terakhirnya. Begini bunyinya:

“So, when those funeral catalogues that pass for music magazines talk about Dylan at the Albert Hall, and Jimi at the Monterey, and the Velvets playing the Exploding Plastic Inevitable, and The Pistols at the Screen On The Green, aching to convince us that rock music last shot its bolt several hundred years ago and we should all go home and resign ourselves to historical defeat. Think again.

The Stone Roses created as much magic as any of them. Tell your grandchildren”.

Dan saya akan melakukan hal itu. Saya akan menceritakan sampai ke anak-cucu saya, bahwa pada malam 22 Juli 2012 di Singapore Indoor Stadium, saya menyaksikan sesuatu yang magis, sesuatu yang berarti untuk sebuah momen kehidupan. Sebuah momen di mana musik menemukan bentuk terbaiknya. Sebuah momen di mana saya hidup dan hadir untuk menyaksikan keajaiban yang diciptakan The Stone Roses. Itu semua adalah sebuah kebangkitan.

David Wahyu Hidayat   

 

 


0 Responses to “Konser Review: The Stone Roses – Singapore Indoor Stadium, 22 Juli 2012”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2012
S S R K J S M
« Mei   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: