27
Mei
12

Album Review: Bangkutaman – Love Among The Ruins (Re-Release)

 

Bangkutaman

Love Among The Ruins (Re-release)

Blossom Records – 2012

 

Rekaman musik seringkali merupakan pembatas waktu yang sangat akurat untuk menandai sebuah rentang waktu. Sebuah rentang waktu yang seringkali bermakna berbeda untuk setiap orang.

 

Beberapa waktu lalu, Bangkutaman merilis ulang album pertama mereka “Love Among The Ruins” dalam bentuk CD. Bagi banyak orang yang mengikuti band ini sejak awal mungkin ini merupakan mesin waktu untuk nostalgia ke waktu di mana album tersebut pertama kali dirilis, bagi saya pribadi, dirilis ulangnya album ini merupakan kesempatan untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi ketika album ini dikeluarkan melalui musik mereka.

 

Akhir dekade 90-an dan paruh pertama dekade 00-an saya habiskan di luar tanah air, dikarenakan studi saya. Ingatan pribadi saya tentang album indie hebat dari tanah air waktu itu, berhenti sampai dengan album pertama Pure Saturday dan In (No) Sensation dari Pas. Setelahnya lagu-lagu hebat dari Indonesia saya dengar dari cerita-cerita teman atau paket kiriman kaset/CD yang dikirimkan oleh saudara saya/salah seorang teman saya. Sekembalinya ke tanah air tahun 2005, teman saya menyarankan saya untuk membeli “Garage Of The Soul” EP dari Bangkutaman, dia menambahkan kalau band ini adalah “Stone Roses-nya Indonesia”.

 

Bergegas saya membeli album itu dan sekejap menyenangi apa yang saya dengar. Terutama “Satelit” yang menurut saya seperti “I Am The Resurrection”-nya versi Bangkutaman. Ketika mereka menelurkan “Ode Buat Kota” tahun 2010 saya pun salut, karena mereka tidak lagi melulu berpakem kepada nada-nada Roses-eske tapi dapat mengeksplorasi genre musik lain, kadang terdengar Dylan-eske kadang terdengar tetap sangat Britpop. Album itu kemudian menjadi salah satu favorit saya di tahun itu.

 

Mendengar mereka akan merilisi ulang album pertama mereka, saya sangat antusias untuk memilikinya, karena ini akan membuat rasa penasaran terpuaskan terhadap cikal bakal band ini. Sejak mendengarkan “Kera” sebagai lagu pertama album ini, saya langsung menyadari bahwa ini adalah sebuah pernyataan. Tidak terbayangkan apa rasanya jika saya tetap berada di tanah air kalau saya pertama kali mendengarkan lagu ini di dekade 00 yang lalu. Mungkin antusiasme tiada batas.

 

Nada-nada Roses-eske sangat kental di album itu. Jika saya pada waktu itu membayangkan sebagai seorang pecinta The Stone Roses, dan tidak punya bayangan sama sekali kapan saya akan menyaksikan mereka, saya akan merasa sangat bangga bahwa ada band dari negeri sendiri yang setidaknya berusaha untuk meraih semua yang pernah diraih The Stone Roses.

 

“Kabut” menerbangkan kita dengan efek wah-wah dan sapaan melodik “Pa..Paaa.. Pa..Paaa..Pa..Paaa..Paaa” sebelum kita diberikan suguhan melodik lainnya. Salah satu puncak di album ini menurut pandangan pribadi saya adalah mendengarkan “Soul Of A Shoemaker”. Permainan gitar J.Irwin yang berat dan kasar bukanlah bertujuan untuk mengkopi permainan John Squire tetapi seperti hendak berkata, kalau kalian mau dan berusaha seorang pemain gitar dari band indie kecil dapat menjadi seorang pahlawan gitar baru kalian. Dan ia melakukannya persis seperti itu tanpa cela sedikitpun.

 

“Bunga Matahari” dengan nada optimismenya membangkitkan perasaan yang nyaman sekali rasanya. Istimewa sekali mendengarkan lagu seperti itu dari band dalam negeri. Lalu ketika nada-nada riang “Catch Me When I Fall” menangkap kesederhanaan hari kita semua, kita hanya tersenyum membayangkan akan keadaan sempurna tanpa sedikitpun rasa kuatir di mana mentari bersinar untuk kita semua.

 

“Love Among The Ruins” bukan sekedar rekaman musik pemuas nostalgia saja, namun  seperti tulisan Felix Dass di sleeve note album rilis ulang itu, memang merupakan sebuah penanda jaman. Sebuah tapal batu yang hanya dapat terjadi pada waktunya ketika itu, dan sekarang kita yang menjadi saksinya langsung maupun tidak langsung hanya dapat tersenyum bahagia mendengarkan semua nada-nada di dalamnya yang selalu menghiasi hidup ini.

 

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Album Review: Bangkutaman – Love Among The Ruins (Re-Release)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2012
S S R K J S M
« Des   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: