17
Des
11

Album Review: Noel Gallagher’s High Flying Birds – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Noel Gallagher’s High Flying Birds

Noel Gallagher’s High Flying Birds

Sour Mash – 2011

 

Segala sesuatu yang pernah diraih oleh Oasis dan sebesar apapun ego yang dimiliki seorang Noel Gallagher, tidak cukup untuk membuat Noel merasa dirinya patut disebut sebagai seorang singer/songwriter terbaik generasinya. Dalam salah satu interview, ia menyebutkan merasa nyaman dengan posisinya sebagai lead gitaris yang menyanyikan nomor-nomor akustik aneh waktu sang vokalis tidak berkeinginan menyanyikannya. Berdiri di sisi kiri panggung, ia merasa seperti bagian dari penonton karena dapat menyaksikan rekan-rekannya memberikan waktu terbaik yang pernah dimiliki seseorang dalam sebuah gig Oasis. Julukan yang ia berani berikan kepada dirinya sendiri saat ini adalah seorang songwriter/singer. Berbeda dengan seorang singer/songwriter di mana suara adalah pusat dirinya, bagi Noel lagu yang ia ciptakan dan mainkan adalah sentral dari pertunjukan, bukan dirinya atau suara yang ia keluarkan sambil berdiri di tengah-tengah panggung.

 

Ini adalah pernyataan yang sangat merendahkan hati, mengingat statusnya dan lontaran yang sering ia berikan dahulu, bahwa dirinya dan bandya adalah terbesar yang pernah ada. Ia bahkan tidak ingin disebut Noel Gallagher. Proyeknya adalah Noel Gallagher’s High Flying Birds, seakan ini semua adalah sebuah band dan bukan sebuah karya solo dirinya.

 

Debut album ini adalah sebuah gambaran Noel Gallagher yang sedang berusaha kembali menemukan kesenangannya kembali menciptakan musik yang kita dengarkan pada saat kita sedang jatuh. Sebuah musik yang akan membangkitkan semangat kita, ketika tidak ada yang percaya lagi dengan kita. Musik yang lebih retrospektif dan jauh dari hingar bingar stadion rock.

 

“If I Had A Gun” adalah nomor klasik seorang Noel Gallagher dengan lirik sarkasme omong kosong yang pelan-pelan sudah menjadi ciri khas dirinya, “If I had a gun, I’d shoot a hole into the sun, and love would burn this city down for you”. Apa artinya semua ini? Kita tidak perlu memikirkannya jauh-jauh karena melodi lagu ini adalah sebuah hook mematikan yang akan membuat kita mencintainya. “The Death Of You And Me” yang menyusulnya merupakan perpaduan dari dua band yang sangat dipuja Noel yaitu The La’s dan The Coral. Akhir lagu yang diisi oleh suara trumpet seperti suasana sebuah perayaan di New Orleans adalah sesuatu yang tidak akan kita pernah temukan dalam rekaman Oasis manapun.

 

Kejeniusan seorang Noel Gallagher pun lalu menapaki puncaknya pada lagu yang sebelumnya sudah banyak dikenal ketika muncul sebagai demo dalam sesi rekaman “Don’t Believe The Truth”, yaitu “(I Wanna Live In A Dream In My) Record Machine”. Lagu yang di album ini sudah mencapai kesempurnaannya dengan latar belakang suara koor Crouch End Festival yang agung dan liriknya yang berkata “Help me defining the light that’s shining on me…Show me the path’s that leads to all glory” menempatkan album ini kepada suasana semi epik, dan untuk sesaat lamanya kita kembali dibawa kepada suasana stadion penuh dengan pemantik api yang menyala mengiringi solo gitar psikedelia singkat di akhir lagu ini. “AKA…What A Life” adalah sebuah aransemen yang sangat layak dan kembali keluar dari teritori kenyamanan seorang Noel Gallagher, dengan piano yang menjadi instrumen utamanya dan betempo cepat, nyaris seperti irama lagu dansa akhir 80-an/awal 90-an.

 

Koor Crouch End Festival kembali membahana di lagu terakhir album ini “Stop The Clocks”. Berawal juga dari sesi rekaman “Don’t Believe The Truth” ini adalah tipikal Noel Gallagher mengakhiri sebuah album. Dengan rentetan gitar backwards dan berbagai macam kebisingan menyudahi lagu ini dengan klimaks, seperti bertolak belakang dengan awal album ini yang tenang dan menapak pelan pada “Everybody’s On The Run”.

 

Dan di sinilah kita berpijak setelah 42:27 menit mendengarkan karya pertama seorang songwriter/singer yang sangat berpengaruh selama 2 dekade terakhir. Adalah sebuah kelegaan yang sangat, dapat mendengarkannya kembali berkarya dan memberikan lagu – lagu yang berarti kepada kita walaupun di beberapa tempat ia terdengar dapat dikira dan tidak memberikan sesuatu yang baru. Tetapi seperti layaknya berbicara kembali kepada seorang sahabat yang sudah lama tidak kita jumpai, album ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan, bukan karena ia memenuhi nostalgia di diri kita, karena ia memberikan kita cerita-cerita baru yang memang ingin kita dengar darinya. Selamat datang kembali Noel Gallagher.

 

David Wahyu Hidayat

 

 


1 Response to “Album Review: Noel Gallagher’s High Flying Birds – Noel Gallagher’s High Flying Birds”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2011
S S R K J S M
« Okt   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: