17
Des
11

Album Review: Coldplay – Mylo Xyloto

Coldplay

Mylo Xyloto

Parlophone – 2011

 

Perjalanan karir Coldplay adalah perjalanan yang diimpikan oleh semua orang yang memimpikan menjadi terkenal melalui musik. Dimulai dengan “Parachutes” satu dekade silam, mereka mungkin masih menjadi favorit kaum indie yang menunggu datangnya sesuatu yang baru. Tapi 11 tahun setelahnya, semua orang, benar-benar semua orang dari semua kaum: indie, emo, orang-orang yang melakukan shufflin’ setiap hari, goth, hiphop, r’n’b, pecinta k-pop, penikmat dangdut, homo-, hetero-, biseksual, fashionista, semua mencintai Coldplay dengan tarafnya masing-masing. Untuk hal itu, Coldplay sebagai band bisa dibilang sangat-sangat berhasil. “Mylo Xyloto” album terbaru mereka adalah pembuktian akan dogma tersebut.

Diawali oleh titel track album tersebut yang merupakan snippet singkat dengan suara xylophone yang memberikan suasana damai album ini kemudian benar-benar dibuka dengan “Hurts Like Heaven”. Sama dengan judul yang diberikannya, lagu ini seperti suara yang datang dari Atas sana, dengan permainan gitar Jonny Buckland tercurah bagaikan melodi terindah yang pernah kita dengar. Suasana ini segera disambung dengan “Paradise”. Dari surga kita pun melangkah ke keindahan firdaus. Dengan nyanyian “Para..Para..Paradise” yang mau tidak mau mengingatkan kita pada irama “…Ella…Ella..Ella” dalam lagu “Umbrella” yang dinyanyikan Rihanna beberapa tahun silam, ini adalah bukti bahwa Coldplay adalah band poptunist sejati yang tahu bagaimana mengkomposisikan sebuah lagu pop dan memenangkan massa itu untuk mereka.

Kesamaan “Paradise” dengan lagu yang dinyanyikan perempuan yang bernama asli Robyn Rihanna Fenty itu bukanlah sebuah kebetulan belaka, karena nona Fenty menyumbangkan suaranya dalam “Princess Of China” dalam sebuah lagu yang dipenuhi dengan hantaman synthesizer yang akan memabukkan kita seperti setetes abisnth di tengah musim dingin. Ekspedisi pop Coldplay di album ini berlanjut dalam “Us Against The World” sebuah nomor syahdu yang hanya menampilkan suara Chris Martin, gitar dan alunan lembut organ.

Untung bagi mereka yang menyukai Coldplay seperti di dalam “Viva La Vida Or Death And All His Friends” terdapat lagu – lagu semacam “Charlie Brown”, “Major Minus” dan “Don’t It Let Break Your Heart” yang  merupakan Coldplay ketika mereka menjadi diri mereka yang terbaik. Suara falsetto optimistis Martin, bergabung dengan delay gitar Jonny Buckland yang di album ini nampak terdengar kalau ia meningkatkan satu tingkat lagi dalam mengeksplorasi gitarnya, adalah sesuatu yang sangat pintar dan layak disandingkan dengan karya – karya Coldplay terbaik sebelumnya.

“Mylo Xyloto” adalah pengukuhan bahwa Coldplay dimiliki oleh semua orang. Mereka tidak lagi memiliki genre. Melalui resep perambahan dunia pop dengan motto “Bila kita tidak dapat melawan, lebih baik kita bergabung dengan mereka” dipadukan dengan sentuhan enoxification yang tersebar di album ini, “Mylo Xyloto” penuh dengan percikan kembang api yang memuaskan semua kalangan di atas. Biarkan telinga dan jiwa kita berbinar dan berwarna seperti sampul album ini yang penuh dengan hingar bingar dan corak warna-warni. Biarkan keceriaan album ini menyelimuti kita.

 

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Coldplay – Mylo Xyloto”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2011
S S R K J S M
« Okt   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: