14
Des
11

Album Review: Kasabian – Velociraptor

Kasabian

Velociraptor

Sony Music – 2011

 

Entah apa yang akan dilakukan oleh Tom Meighan dan Serge Pizzorno, jika mereka tidak melewati masa remajanya di tahun 90-an. Jika mereka melewatinya di dekade ini, mungkin mereka akan seperti remaja kebanyakan lainnya yang menggilai casting show, melakukan dansa kolektif anthem pesta, dan kecanduan dengan kehidupan sosial dalam 140 karakter. Untungnya, mereka berdua adalah anak – anak 90-an. Masih punya Liam & Noel Gallagher untuk diidolakan, masih punya cukup waktu untuk menggilai musik dari Ennio Moriccone. Untungnya buat kita semua, dalam Kasabian setelah bubarnya Oasis, kita masih memiliki sebuah band yang patut untuk diidolakan serta memiliki gudang amunisi yang jauh dari memadai untuk memasok kita dengan indie anthem tanpa batasan.

Sesudah mengantarkan “West Ryder Pauper Lunatic Asylum” yang dapat dibilang adalah Kasabian dalam puncak penampilannya, mereka memberikan kita “Velociraptor” yang terdengar lebih garang daripada pendahulunya, tanpa mengurangi unsur-unsur estetika.

Dibuka dengan Morricone-eske “Let’s Roll Like We Used To”, lagu ini adalah sebuah pembuka yang menggambarkan Meighan & Pizzorno muda sedang mengkhayalkan diri mereka melewati horizon yang mereka kenal. Dengan membawa Kasabian sebagai salah satu band terbesar Inggris saat ini, mereka bukan hanya sudah melewati khayalan itu, tapi juga menghidupinya dengan segala kemungkinan yang ada.

Bukti dari hal itu adalah lagu bombastis yang berada di urutan kedua album ini “Days Are Forgotten”. Diawali dengan beat yang seperti berasal dari ghetto blaster sebuah block party di sudut terganas New York, lagu ini menjadi pembuktian kebesaran Kasabian dengan 2 belah lagu yang terbagi dalam sisi indie rock berkualitas nomor satu dan sisi unsur r ’n’ b berkelas. Bahkan dalam salah satu versi remixnya, di mana LL Cool J turut menyumbangkan lontaran rapnya, lagu ini tetap terdengar seperti lagu Kasabian, bukan sebuah lagu indie rock yang ingin merambah pasar baru.

“Goodbye Kiss” yang menyusulnya merubah suasana album ini seperti sebuah grand ballroom di mana setiap orang yang berada di sana ingin melakukan indie waltz ala Kasabian, sedangkan “La Fe Verte” yang versi lainnya juga pernah tampil dalam soundtrack “London Boulevard” membawa suasana khas Inggris yang sebelumnya hanya kita kenal dalam lagu-lagu The Kinks.

“Re-Wired” dengan aliran lagu yang sudah menjadi ciri khas Kasabian seperti dalam “Where Did All The Love Go” dan “Processed Beats” di album – album sebelumnya membuat “Velociraptor” semakin dapat menemukan jati dirinya sebagai salah satu album terbaik yang pernah diproduksi Kasabian. Kemudian “Switchblade Smiles” dengan pola lagu yang aneh penuh dengan suara synthesizer, dan teriakan teriakan di sana – sini membuktikan bahwa Kasabian tidak hanya berdiam di zona nyaman mereka tapi tetap berani melakukan eksperimen dalam lagu – lagu mereka.

Secara keseluruhan “Velociraptor” mensemenkan posisi Kasabian sejajar dengan band papan atas Inggris lainnya seperti Arctic Monkeys. Bila mereka tetap terus mengerjakan pekerjaan rumahnya, bukan tidak mungkin kita akan cepat melupakan hari – hari di mana nama Gallagher bersaudara pernah begitu dominannya menguasai planet musik Inggris.

David Wahyu Hidayat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2011
S S R K J S M
« Okt   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: