01
Agu
11

Album Review: The Brandals – DGNR8

 

The Brandals

DNGR8

Sinjitos Records – 2011

 

Semua manusia memerlukan perubahan. Setiap perubahan memerlukan proses. Menjadikan sesuatu lebih baik adalah misi setiap perubahan, apakah itu dalam bentuk cepat dan instan seperti dalam sebuah revolusi atau bergerak lamban tapi pasti seperti sebuah evolusi. Dalam diri The Brandals, perubahan itu datang dalam album keempat mereka yang berjudul “DNGR8”.

 

Boleh dibilang perubahan ini adalah perubahan radikal, bukan hanya mereka mempunyai 2 personil baru: Radhit di bas, dan PM di gitar, tapi juga dari musik yang mereka sajikan. Sebagai sebuah album “DNGR8” akan membelah kutub para fans The Brandals, selain memenangkan beberapa fans baru dengan album ini. Meski tetap mengusung keliaran rok ‘n’ rol, tetapi menampilkan jiwa yang berbeda. Hilang sudah tandatangan stones yang melekat di banyak lagu pamungkas The Brandals. Suara gitar kasar condong ke blues digantikan dengan unsur akselerasi rock ala Primal Scream di era “XTRMNTR”. Jika saja Mani & Bobby Gillespie berkesempatan mendengar album ini, sudah pasti mereka akan bangga, kalau musik mereka bisa sampai dalam bentuk lain, dari latar belakang budaya lain, dan dengan penikmat-penikmat lain yang mungkin belum pernah mendengar nama Primal Scream.

 

Entah apa yang dipikirkan The Brandals membuat album ini, yang jelas “DGNR8” terdengar mengejutkan. Telinga kita digebrak dari awal dengan “Start Bleeding”. Baik pendengar yang mengerjakan PR-nya dan tidak, akan segera bereaksi sama “Musik siapakah ini?”. Kelompok yang satu merasa mereka pernah mendengar ini sebelumnya, kelompok yang lain merasa tidak percaya, mengapa band kesayangan mereka berubah menjadi seperti ini. Lagu pembuka album ini adalah salah satu lagu dengan enerji akselerasi pop yang pernah disajikan Primal Scream. Lagu yang mengikutinya “Dryland” seperti sebuah perjalanan kelimpungan melayang seorang pecandu yang mencoba membersihkan tubuhnya dari substansial terlarang dengan raungan elektronika yang tertata berserakan di lagu ini. Pecahan berikutnya “Love Detox” seperti ratusan tinju yang mencoba meruntuhkan sebuah tembok keangkuhan dengan dentuman bas terdistorsi dan gitar yang mengaum menggema berulang-ulang. Sedangkan “The Last Laugh” adalah lagu pengantar akhir pekan dasyhat yang akan memecahkan malam minggu.

 

Seperti juga album-album The Brandals sebelumnya, “DGNR8” tidak terlepas dari perpaduan lagu-lagu dengan lirik bahasa Inggris dan Indonesia. Seperti “Awas Polizei” yang mencolok telinga, “Perak” dengan suara gitar dan vokal yang gloria hedonis atau “Abrasi” yang industrialis bercerita tentang kebuntuan kelamnya menjadi besar di sudut-sudut ibukota.

 

Terlepas apakah ini hanya sebuah idolisasi gila atas nama eksperimen atau bentuk baru sebuah kreatifitas, kita semua bersyukur The Brandals memilih jalan penuh menantang ini. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, ada juga band yang berani keluar dari pakem mereka, sambil tetap menjaga kehebatan sebuah esensi musik. Semuanya atas nama rok ‘n’ rol. Tuhan memberkati The Brandals.

 

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Album Review: The Brandals – DGNR8”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2011
S S R K J S M
« Mei   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: